Dalam tidurnya, Solar bin Amato merasa ada yang mencubitnya keras sekali. Dia mengaduh, membuka mata, dan terkejut setengah mati.

Ada sesosok wajah asing di hadapannya, rambut dan bibirnya berwarna pink menyala—seorang wanita yang sedang menyeringai—membuat Solar seketika berteriak dan berusaha menjauh. Namun, lengan dan kakinya terikat. Solar menengok ke atas dan mendapati kedua tangannya diborgol ke dua sudut—dia sedang diikat di tempat tidur! Kedua kakinya juga bernasib demikian, dibelenggu dengan borgol ke dua sudut terentang.

"Jangan takut, Anak Manis ..." gumam si wanita, seringai dan sorot matanya yang seperti hewan kelaparan malah mengindikasikan sebaliknya.

"Apa kau selalu menyebut semua anak laki-laki 'Manis'?" balas Solar sarkastik, entah mengapa kalimat itu yang pertama terpikirkan olehnya. Jantungnya saat ini berdebar-debar mengerikan dan Solar sadar dirinya berkeringat banyak sekali. Sekujur tubuhnya terasa panas padahal pakaiannya sudah minim.

Otak Solar dengan cepat memahami apa yang sedang terjadi—dan yang akan terjadi.

.

.

.

.

.


.

.

.

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Through the Darkness (c) Roux Marlet

-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-

Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers

Family, Drama, Angst, Hurt/Comfort, Crime, Suspense

.

.

.


.

.

.

.

.

Bab Delapan: Kakak dan Adik

.

.

.

! ! !

Chapter warning:

RAPE, VIOLENCE, BLOOD

! ! !

.

.

.

"Kamu manis, persis kakakmu yang biru itu ..." Wanita itu terkikik sambil menatap Solar tepat di matanya. "Namaku Ayu Yu, salam kenal."

Solar balas menatap, agak menyesal barusan sempat merasa sedikit bersimpati. Perempuan ini, ada zat kimiawi di otaknya yang memang agak tak beres. "Mau apa kau?" tanyanya, retoris.

"Main-main denganmu." Senyum Ayu Yu makin lebar, matanya masih lekat.

"Aku nggak mau main denganmu," balas Solar datar.

"Begitu, ya? Aku mau main dan kamu harus mau. Kamu sedang terikat, lho."

Solar mencoba menarik tangannya tanpa hasil. "Lepaskan aku!"

"Kamu harus main denganku dulu," sahut Ayu Yu lagi. Dia berdiri dan mulai melepaskan cardigan-nya dengan gesit, membuat Solar langsung tutup mata dan berpaling.

"Malu, ya …? Padahal kamu sendiri tinggal pakaian dalam begini."

Solar bisa merasakan wajahnya memerah, napasnya mulai memburu selagi ia yakin Ayu Yu sedang menelanjangi diri. Solar merutuk, siapa juga yang tadi melepas semua pakaiannya dengan paksa, sih?! Jantungnya masih berlarian di dalam dada dan rasanya ada sesuatu yang lain yang tak beres. Selain berkeringat, seluruh tubuhnya terasa aneh …

Ayu Yu mendekat, menyingkapkan kaus dalam Solar pelan-pelan sampai ke lehernya lalu mencubit dadanya. Si pemuda tersentak, rasanya seperti disetrum, dan baru sadar bahwa cubitan seperti barusanlah yang tadi membangunkannya.

"Manis sekali," bisik perempuan itu di telinga Solar sambil memainkan dada pemuda itu dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lain membelai pipinya. Solar menggeliat, berusaha menghindar tanpa daya. Rasa geli dan panas menjalari tubuhnya, tapi dia tidak mau membuka mata—terlalu takut dengan apa yang akan dilihatnya, merasa tak siap terhadap apa yang akan terjadi berikutnya.

Dengan segala sensasi yang dirasakannya, Solar menduga dirinya diberi obat perangsang. Sial betul! Semua sentuhan Ayu Yu membuatnya berdebar tak keruan sampai kedengaran di telinga dan Solar bisa merasakan sendiri ketegangan mulai terbangun di bawah sana …

"Kulihat kamu menikmatinya," lantun Ayu Yu dengan nada lembut, kedua tangannya masih beraksi. "Kamu belum pernah pacaran?"

Solar bertekad untuk tidak bicara apa pun. Ayu Yu tiba-tiba naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya di atas Solar.

Matilah aku! batin Solar tersiksa ketika merasakan dada mereka saling bersentuhan. Tubuhnya lebih kecil dari Ayu Yu yang menindihnya, Solar memang punya alasan untuk mendadak megap-megap.

"Ini pengalaman pertama, ya?" Si wanita bersuara lagi.

Solar masih tak mau menjawab dan berusaha menarik napas lagi, tapi tiba-tiba mulutnya dibungkam sesuatu. Dia terpaksa membuka mata meskipun tahu Ayu Yu sedang mencium bibirnya tanpa izin—yah, semua yang dilakukan wanita itu tanpa seizinnya! Jeritan Solar tertahan dan dia berusaha melawan. Sambil meronta, Solar menyadari, celana dalamnya sudah turun sampai ke paha, membuatnya makin panik. Ayu Yu mengakhiri ciuman itu dengan bunyi keras yang memalukan. Solar hampir pingsan kehabisan napas dan karena pemandangan vulgar di depan matanya.

"Aduh!" pekiknya lagi saat Ayu Yu kembali mencubitnya keras-keras.

"Sensitif ... Manis dan imut."

Solar menggelengkan kepala putus asa. "Kak Haliiii!" jeritnya minta tolong.

"Halilintar tidak ada di sini. Hanya ada Solar dan Ayu Yu."

"Jangan!" seru Solar keras kepala, melotot pada Ayu Yu yang dekat sekali di wajahnya. "Apa pun yang mau kaulakukan, JANGAN LAKUKAN!"

"Tapi aku mau," balas Ayu Yu dengan nada menggoda, "dan kamu harus mau juga."

Solar bisa merasakan sesuatu bergesekan dengan alat kelaminnya. Masya Allah, wanita ini betul-betul berniat memaksanya bersetubuh dan Solar merasa ingin meledak. Seluruh neurotransmitter dan hormon dalam dirinya sudah kena pengaruh obat, sedangkan pikiran dan hatinya berusaha keras menolak semua itu. Sambil menutup mata kembali, digigitnya bibir untuk mencegah suara apa pun yang memalukan lolos dari mulutnya.

"Kalau mau keluar, keluarkan saja."

Solar menggeleng kuat-kuat. Ayu Yu makin menjadi-jadi menggoda tubuhnya di berbagai titik. Solar mulai tak bisa berpikir jernih, sensasi geli dan sakit menjadi satu, semuanya semakin mendorong peredaran darah dan hawa nafsu bergegas menuju ke bawah sana.

"Tenang saja, kalau obatnya berhasil, kamu akan melupakan semua ini besok. Sangat disayangkan, sebetulnya."

Jadi benar dirinya diberi obat, 'kan ...? Tapi tunggu, apa maksudnya? Saat Solar memikirkan itu, tangan Ayu Yu mampir di alis kirinya yang pitak. Suaranya melembut,

"Kasihan, kamu pernah luka apa di sini?"

Tak ada jawaban dari Solar, matanya masih terpejam. Seketika dia teringat Duri di rumah dan masih bisa bersyukur bahwa bukan kakaknya itu yang ada di posisinya saat ini.

"Uuuuh," keluh Solar saat Ayu Yu tiba-tiba meraih pinggangnya dan mulai bergerak-gerak. Solar menelan ludah, tangan dan kakinya gemetaran hebat. Sebentar lagi rasanya ... dia tak tahan lagi, tak bisa menahan lagi ...

Klimaksnya tiba diiringi lenguhan panjang dari mulut Solar. Sesuatu seperti baru saja terlepas dari dirinya, ada yang terasa basah di bawah sana dan wajahnya juga basah oleh air mata. Solar dihantam rasa bersalah ketika memikirkan keluarganya.

Ayah … Ibu … Tok Aba … Kak Duri ...

Lenguhan Solar segera digantikan isakan yang keras. Mimpi buruk macam apa ini, diperkosa seorang perempuan jahat? Harga dirinya diinjak-injak perempuan kurang ajar yang kini malah memeluknya untuk menenangkannya. Kalau bisa pengin ditamparnya orang itu, tapi dia merasa lemas sekali. Kalau tidak sedang diikat pun rasanya dia sudah tak punya tenaga.

"Jangan menangis, Anak Manis ..."

Ayu Yu mendekapnya erat, tak lagi bermain tangan kali ini. Wanita itu mendengarkan saja Solar yang sesenggukan tak terkendali.

Solar tak sanggup berpikir lagi saking kalutnya. Dadanya sakit sekali, bukan hanya karena cubitan-cubitan Ayu Yu di bagian papilla mammaria miliknya tadi, dan bukan hanya di situ saja yang sakit akibat orgasme yang dipaksakan. Solar masih menangis ketika Ayu Yu kembali melahap bibirnya, memangkas perlahan-lahan pasokan udara di paru-paru serta kesadarannya, lalu pemuda itu pingsan. Dia sudah tak sadarkan diri ketika dahinya dikecup oleh Ayu Yu.

"Selamat tidur, Matahari-ku ..." kikik si wanita.

.

.

.

.

.

BRUKKK!

Solar tersentak bangun ketika ada bunyi keras persis di sampingnya. Seseorang mengerang kesakitan disusul bunyi pintu besi dibanting.

"Kak Hali ...?" panggilnya perlahan. Ruangan itu remang-remang dan Solar merasa agak pusing, posisinya berbaring miring di lantai. Terasa ada borgol dingin di tangannya di belakang punggung, serta di kedua kakinya.

"Solar," sahut si empunya nama, suaranya terdengar tegang. "Kamu nggak apa-apa?"

Si bungsu tidak langsung menjawab, kepalanya terasa berat. "Jam berapa sekarang?"

"Aku nggak tahu. Coba lihat di arlojiku, kalau bisa." Halilintar, yang juga terbujur miring di lantai, membalik badannya agar Solar bisa melihat tangannya yang juga diborgol di punggung.

"Jam setengah tujuh … ini sudah malam?"

"Nggak, Solar ..." gumam Halilintar sambil menahan rintihan. "Tadi sebelum dilempar ke sini aku sempat lihat sinar matahari. Ini sudah pagi ... sudah lewat semalam kita diculik."

Solar mengerjap. "Ya ampun. Waktu aku dan Kak Gem diculik, hari masih siang … dan waktu kita dibawa naik mobil, aku masih dengar suara azan Asar."

"Iya, itu sudah kemarin sore. Kamu di sini terus dari kemarin?" balas sang kakak.

Yang ditanya merenung agak lama. "Kayaknya begitu … berarti aku tidur lama banget."

"Alhamdulillah, Solar, kalau kamu di sini terus. Kukira kamu … juga ... disiksa."

Perkataan Halilintar membuat sang adik terbelalak kaget. "Kak Hali … diapain?"

"Semalam aku dikasih makan, tapi aku nolak, terus mereka paksa aku makan … jangan tanya gimana … Lalu semalaman sampai pagi ditantang bertarung lawan Retak'ka."

"Dengan tangan kosong?"

"Dengan tangan kosong."

"Kukira kamu diikat dan dipukuli, Kak," ujar Solar, mencoba mengamati tubuh kakaknya yang bisa dilihat. Di pergelangan dan punggung tangannya yang tidak tertutup jaket banyak luka memar. "Berarti, kamu kena pukul? Tapi kamu dikasih kesempatan melawan, 'kan?"

"Iya," dengus Halilintar.

"Kenapa dia memintamu begitu?" selidik Solar, mulai menganalisis.

"Dia ..." desis si sulung, "dia mau menguji coba sebuah obat."

Keingintahuan Solar tersulut. "Obat apa?"

"Katanya bisa membuat kuat."

"Hah?"

Halilintar mendecih kesal, berbalik menghadap adiknya. "Jahanam itu … dia memberiku penawaran. Kita berdua akan dibebaskan kalau aku berhasil membuatnya tak bisa bangun lima detik dalam pertarungan. Aku boleh pilih mau dibantu obat darinya atau tidak. Gila apa?"

Solar menatap kakaknya tanpa berkedip. Halilintar terlihat murka.

"Karena aku tetap nggak mau pakai obat, Retak'ka memberiku kesempatan untuk mencoba bertarung melawannya. Aku belum menang. Tapi aku nggak akan menyerah, Solar, meski sudah jelas dia jauh lebih kuat daripada aku. Masih ada Gempa dan yang lain … aku masih bisa bertahan."

Sorot di mata si sulung penuh determinasi, meski di wajahnya juga banyak lebam. Merasa terharu tapi enggan menunjukkannya, Solar berusaha duduk dan mengutarakan pendapat,

"Kita nggak tahu Kak Gempa kemarin didorong seperti apa. Harus kita pikirkan kemungkinan terburuk, tapi aku berharap Kak Gem baik-baik saja, dan dia sudah di rumah saat ini. Kalaupun amit-amitnya dia kenapa-kenapa … Kak Taufan dan yang lain pastinya nggak diam saja. Harusnya sudah ada yang mencari kita dari semalam."

Halilintar teringat sesuatu. "Solar, kalau kamu tidur terus … apa berarti kamu belum makan semalam? Berarti makan terakhirmu sudah sahur kemarin pagi?"

Ditanya begitu, Solar baru sadar perutnya memang terasa kosong. "Iya juga, ya. Aku nggak ingat makan dan minum apa pun." Selain hal itu, dia merasa aneh karena celananya terasa lembap. Apa saking tidur terus dia sampai mengompol semalam? Malu kalau hal itu disampaikannya pada Halilintar. Diedarkannya pandangan pada ruangan kecil yang remang-remang itu dan ditemukannya sebuah jamban di pojok. "Tapi kok bisa ya aku tidur selama itu ...? Dua belas jam lebih?"

"Di mobil kemarin, kita dibius pakai gas."

"Iya, tapi masa sampai dua belas jam lebih?"

Si sulung ikut duduk dan mendekati Solar. Ditempelkannya dahinya ke dahi sang adik.

"Badanmu agak demam," keluh Halilintar. "Kamu kedinginan?"

Solar mengangguk, tampak malu dengan perhatian kakaknya yang tak pernah dekat dengannya itu. Halilintar duduk merapat di sebelah Solar, berharap bisa membagi kehangatan. Kalau diikat begini, dia tidak bisa melepas jaketnya untuk menyelimuti adiknya. Nanti saat dia dilepaskan lagi oleh Retak'ka, dia harus ingat untuk menyimpan jaketnya.

Halilintar bicara lagi, "Sialan mereka, kenapa bajumu nggak dikembalikan? Bisa sakit kamu kalau begini terus."

Solar masih merenung sebentar. "Kak Hali … apa artinya tiap hari kamu akan melawan Retak'ka?"

"Sepertinya begitu," balas yang ditanya. "Sampai bantuan datang atau sampai aku yang menang."

"Kita … coba kabur, gimana? Harusnya ada cara."

"Rumah ini ada di puncak tebing, Solar."

"Apa iya?"

"Ya. Ruangan tempat bertarung, dindingnya dari kaca, aku bisa lihat ke luar."

Solar menghela napas. "Kalau gitu … yang punya kesempatan kabur ya cuma kamu, Kak. Waktu kamu dilepaskan untuk bertarung, kamu bisa lari."

"Aku juga sempat kepikiran itu kemarin. Tapi kalau aku kabur, apa untungnya? Ini pasti sudah jauh dari rumah dan daerah yang bertebing seperti ini pasti di dekat gunung. Lagipula," Halilintar menjeda, "aku nggak mungkin tinggalin kamu di sini."

"Tapi Kak Taufan dan yang lain nggak tahu kita ada di mana," balas Solar, berlogika. "Pencarian polisi akan makan waktu. Beda cerita kalau Kak Hali bisa keluar dan melaporkan lokasi ini."

"Dan saat polisi sampai di sini, kamu sudah dibawa pergi," sahut Halilintar gusar. "Nggak bisa. Kita tetap bersama."

Tiba-tiba terdengar bunyi kunci diputar. Kedua remaja itu terdiam. Sesosok pria bertubuh kecil membuka pintu dan mendorong masuk sebungkus kresek.

"Sarapan," ujarnya singkat, sebelum membanting lagi pintu itu lalu menguncinya.

Solar segera beringsut mendekat, tapi Halilintar mencegahnya.

"Jangan dimakan. Kalau ada apa-apanya gimana?"

"Kak Hali semalam, makananmu ada apa-apanya nggak?"

Si sulung merengut. "Ya nggak tahu."

"Obat yang ditawarkan Retak'ka itu …?"

"Dia menunjukkan jarum suntik. Obatnya disuntikkan, bukan diminum."

Solar melirik ke Halilintar yang pakaiannya masih lengkap sampai dengan sepatunya, lalu meraih bungkusan itu dengan jari-jari kakinya. "Maaf ya Kak, pakai kaki." Dia mendapati isinya adalah beberapa bungkus roti dan dua botol air mineral. "Bungkusnya masih tersegel, Kak. Aman. Ayo, makan saja. Aku butuh makan biar bisa mikir. Kamu juga harus makan kalau mau tarung lagi."

Logika Solar biasanya memang benar. Halilintar menyerah dan ikut mendekat. Sehabis ini dia mau tidur karena habis begadang, tapi dia cemas memikirkan kalau-kalau Solar dibawa keluar selama dia tidur. Mereka berdua melahap roti dalam diam, menjepitnya di antara lutut karena tak bisa menggunakan tangan. Solar mengambil tiga bungkus dan habis duluan, dia lapar sekali kelihatannya. Sejurus kemudian Halilintar juga selesai makan dan minum. Mereka mengemasi semua sampah kembali ke dalam kresek.

"Kak Hali … aku mau tidur lagi, ya."

"Ya. Sini, biar hangat."

Tanpa malu-malu lagi si bungsu menyandarkan kepalanya ke bahu Halilintar dan langsung terlelap. Dahinya yang panas bersinggungan dengan leher sang kakak.

Pasti Halilintar tidak akan tertidur nyenyak … dan kalau Solar sedekat ini padanya, dia pasti tahu kalau adiknya tiba-tiba dibawa keluar. Dia punya firasat tak enak tentang itu. Pelan-pelan Halilintar menyempatkan diri melantunkan zikir.

.

.

.

.

.

Waktu Solar membuka mata lagi, ruangan tempatnya berada sangat terang sampai membuatnya pusing. Sambil menyipitkan mata, dipelajarinya ruangan yang berbeda dan lebih luas itu—lalu kaget karena dirinya tak lagi bersama Halilintar, melainkan bersama seorang perempuan berambut pink menyala yang sedang duduk di kursi di dekatnya.

Solar berusaha bangun tapi kedua tangannya terborgol di atas kepalanya, disatukan ke salah satu tiang tempat tidur. Dia ada di tempat tidur entah milik siapa. Kedua kakinya bebas dari ikatan, tapi itu tidak banyak membantu, dan lagipula ada yang lebih penting—ke mana lenyapnya celana dalam miliknya. Bagian bawah tubuh Solar telanjang sama sekali.

"Sudah bangun?" tanya si perempuan, bangkit dari kursi.

"Lepaskan aku!" seru Solar sambil meronta-ronta.

"Kalau kamu jadi anak baik, akan kulepaskan."

Solar menarik-narik dengan gusar, tapi perangkap besi di tangannya begitu kuat. "Lepaskan aku! Di mana Kak Hali?!"

"Halilintar sedang sibuk dengan Bos. Kenapa kamu marah? Kemarin kamu begitu penurut."

Solar tertegun. Kemarin? Apa maksudnya kemarin?

Senyum Ayu Yu terkembang sambil mendekati Solar. "Tidak ingat, ya? Padahal kemarin itu seru sekali."

Apakah …? Seketika wajah Solar memerah. Apa yang dia lakukan dan dia tidak ingat?

"Kita main ronde kedua," seringai Ayu Yu. Solar menjerit sejadi-jadinya.

.

.

.

.

.

Sekali lagi Halilintar ambruk dengan keras. Retak'ka terbahak-bahak.

"Sampai kapan mau keras kepala seperti itu? Keburu tamat duluan nanti. Padahal kau akan sangat membantuku kalau mau mencoba obatnya."

Dalam pertarungan kali ini, Retak'ka banyak menyasar bagian kepala, dan dengan riwayat susah tidur dalam kondisi begini, Halilintar yakin hanya tinggal menunggu waktu saja sampai vertigonya kambuh. Sepertinya dia harus istirahat dulu …

"Ternyata kau itu lemah, ya."

Halilintar tersentak. Dia menengadah dan menatap Retak'ka dengan sorot penuh amarah.

"Lihat itu. Kau itu sudah lemah, sombongnya tidak ketulungan. Orang yang benar-benar kuat tidak akan marah ketika dibilang lemah."

Apa-apaan kalimat Retak'ka barusan? Sakit hati Halilintar mendengarnya.

"Kau melarang adik-adikmu pergi ke luar rumah seorang diri? Tapi kau sendiri sah-sah saja berkeliaran di luar rumah sendirian? Sombong sekali … mentang-mentang kau anak sulung dan sudah bisa berkendara ..."

Halilintar tak bisa menjawab. Kalau perkataan bisa menampar orang, pasti pipi Halilintar sudah sakit sekali.

Karena yang dikatakan Retak'ka sesuai dengan kenyataannya. Setelah tertusuk sakit karena tersinggung, sekarang hati Halilintar terasa pedih. Dia bukan anak sulung yang baik, bukan contoh kakak yang baik …

Dia tidak mau kalah dari Gempa yang lebih dipercaya kedua orang tua mereka. Bukan salah Halilintar kalau dia sering sakit waktu kecil. Sekarang setelah tumbuh besar dia lebih jarang sakit-sakitan, tapi tetap Gempa yang memegang kas rumah tangga dan keputusan-keputusan penting dalam keluarga. Dan perkataan Retak'ka barusan, sungguh membuat koyak kepercayaan diri Halilintar.

"Bawa dia, Gogobi," perintah Retak'ka.

Pria besar bernama Gogobi mengangkat tubuh Halilintar tanpa usaha yang berarti. Di tangannya tersedia borgol untuk kembali membelenggu si sulung yang berdiri dengan sempoyongan.

"T-tunggu," ujar Halilintar susah payah. "Jaketku … aku mau lepas jaketku."

"Ooh, kau kepanasan?" balas Retak'ka.

Halilintar diam saja. Dilepasnya jaket lalu disampirkannya ke bahu, kemudian membiarkan Gogobi memasang borgol di tangannya.

"Jaketnya buat adikku," ujar Halilintar pada Gogobi yang sedang memasang borgol di kakinya. "Tolong simpankan."

Retak'ka tertawa-tawa. "Oooh … Kakak yang baik. Apa jadinya kalau kamu tahu perbuatan adikmu kemarin dan hari ini? Hahaha!"

Kalimat itu membuat Halilintar terpaku. "Apa—?"

Gogobi tidak memberi kesempatan Halilintar membalas, dia menjunjung pemuda itu dan segera berlalu ke ruangan tempat saudara kembar itu disekap.

"Apa? Apa yang kalian lakukan pada adikku?" tuntut si sulung pada Gogobi. Mereka sudah sampai di pintu besi itu.

Gogobi mendengus kasar. "Biar dia cerita sendiri … kalau dia ingat."

Pintu dibuka dan Halilintar sekali lagi dilempar ke dalam. Kali itu dia jatuh persis di atas Solar yang menjerit kaget.

"Gyaaaaah! Ja-jangaaaan!"

"Solar! Maaf!" Halilintar berguling menyingkir.

"... Kak Hali?"

"Jaket … mana jaketku tadi. Oh, ini dia. Pakai ini, biar nggak kedinginan ..." Halilintar tertegun melihat sesuatu, lalu mengedik ke arah jamban di pojokan. "Solar, apa kamu habis pipis di sana?"

"Eh? Nggak?"

Halilintar mengerutkan dahi dalam-dalam. Ada yang hilang dari adiknya itu—celananya, dan borgol di kakinya. Buru-buru diamatinya sekujur tubuh Solar. Leher, lengan, kaki. Kausnya masih di tempatnya. Semua tampak masih utuh dan tak bercacat kecuali satu hal. "Mana celanamu?"

Solar menunduk, sepertinya baru sadar karena ditanya, lalu merapatkan lututnya. "Alamaaak. Kak Hali lihat punyaku ..."

"Bukan masalah itu!" bentak Halilintar. "Kamu habis apa?"

"Ng-nggak tahu. Aku tidur terus ..."

"Tidur terus?" ulang Halilintar.

"I-iya ..." Suara Solar terdengar penuh keraguan. "Kayaknya," tambahnya tak meyakinkan. Dia sendiri bingung sejak kapan celananya raib dan kenapa dia tak menyadarinya.

Halilintar masih menyelidiki lengan Solar di belakang punggung. Ditemukannya bekas suntikan di tengah lengan kanan. Ada dua, dan yang satu sudah memudar. Halilintar memutar tubuh dan ditekannya bekas membiru di lengan adiknya itu. Solar berteriak kesakitan.

"Sakit?"

"Sakit lah, Kak! Pakai tanya lagi!"

"Kamu disuntik di sini."

"Hah?"

"Nggak kerasa?"

"Kapan aku disuntik ...?"

Halilintar memutar bola mata. "Ya, mana kutahu, Solaaar. Ngapain aku nanya kalau aku tahu?"

"Biasanya kalau aku disuntik, karena tanganku kurus, pasti sakit waktu jarumnya masuk. Aku nggak sadar … kapan?"

"Solar," panggil Halilintar dengan serius. "Apa yang kamu rasakan sekarang?"

Karena adiknya tak segera menjawab, Halilintar beringsut ke depan dan menatap matanya tajam-tajam. Sorot mata Solar tampak takut dan penuh keraguan.

"Solar ..." Sadar dirinya malah mengintimidasi sang adik, Halilintar melembutkan suaranya.

"Rasanya detak jantungku meningkat," balas Solar akhirnya, mencoba menganalisis tubuhnya sendiri. "Ini, sekarang saja masih berdebar-debar. Kepalaku agak pusing. Badanku terasa lengket, sepertinya aku banyak berkeringat."

Indera penciuman Halilintar masih berfungsi baik, dia membenarkan fakta bahwa adiknya ini bau keringat bercampur cologne yang biasanya. "Ada lagi?"

"Aku masih ngantuk."

"Obat tidur?" Halilintar coba menebak, meski ada tebakan lain yang sepertinya lebih masuk akal, tapi dia tidak mau menebak ke arah itu. "Kamu beneran tidur terus?"

"Iya, Kak. Jangan-jangan aku diperkosa waktu tidur?"

Solar ternyata malah menyuarakan kecurigaan Halilintar yang tidak mau diutarakannya. Dasar adik yang terlalu terus-terang. Jadi Halilintar tak punya pilihan kecuali melanjutkan penyelidikan, sambil menggigit bibir menahan amarah yang bergejolak. "Di bagian bawah situ … sakit nggak?"

Solar menggeleng. "Cuma, rasanya memang kebelet pipis."

"Solar, kamu …" Halilintar menghela napas dengan berat, agak takjub dengan kekuatan mental adiknya, "kamu nggak apa-apa dengan kemungkinan itu?"

Yang ditanya mengerjap beberapa kali, air matanya agak membayang. "Apa lagi kemungkinannya, Kak?" Solar mulai gemetaran memikirkan kenyataan, tapi karena dia tidak ingat, belum tentu itu yang terjadi. Hanya saja membayangkan dirinya betulan di … ah …

Dengan susah payah, Halilintar memasangkan jaketnya di sekeliling bahu sang adik.

"Tenang, Solar. Kita pasti bebas."

"Ya, Kak."

"Kamu mau tidur? Ayo sini."

Solar memaksakan senyum sambil mengatur posisinya. "Nggak pernah kebayang bakal tidur berdua sama Kak Hali kayak begini … Kak Duri bakalan iri, nih."

Halilintar telanjur membiarkan Solar kembali bersandar di bahunya yang sakit. Sudahlah, biar saja … Solar tak perlu tahu tadi Retak'ka mulai menggunakan senjata dalam bertarung—dia sendiri dipinjami tongkat, tapi karena tidak ahli, maka banyak terkena. Termasuk bahunya itu.

Dalam beberapa detik, Solar sudah mendengkur. Dahinya masih terasa panas. Halilintar berdoa dalam hati, semoga apa pun yang terjadi pada Solar bukanlah apa yang mereka duga ...

.

.

.

.

.

"Dia betulan tidak ingat?"

"Kau dengar sendiri percakapan mereka tadi, Cakada."

"Berarti sukses, Bos. Khekhekhe."

"Apakah dua kali sudah cukup?" tanya Ayu Yu dengan nada penuh harap.

"Selama kita masih di sini, puaskan saja nafsumu, dasar pedofil. Toh dia tidak ingat. Kau justru senang kalau bocah itu merasa masih suci setiap kalinya, 'kan?"

"Aku tak butuh nasihatmu, Gogobi. Sebetulnya aku pengin coba kakaknya juga."

"Oooh, jangan, Ayu Yu. Halilintar bagianku."

"Tapi kalau dia tetap keras kepala begitu, kita tak akan maju, Bos."

"Kau benar, Kechik. Harus ada sesuatu yang memaksanya untuk mau diuji coba."

"Kenapa tidak langsung menyuntiknya saja, sih? Memangnya yang satunya kautawari dulu, Ayu Yu?"

"Tidak, dong. Kusuntik dia waktu masih tidur cakep."

"Nah, kenapa tidak melakukan hal yang sama ke kakaknya?"

"Aku mau lihat reaksi obatnya dalam kondisi orang sadar, bukan tidur," sela Retak'ka.

Lima orang di ruangan itu diam sejenak. Kemudian ada usulan baru,

"Bagaimana kalau perkosa adiknya di depan matanya?"

"Ide bagus, Gogobi," sambar Ayu Yu segera.

"Maksudku, bukan olehmu."

"Lalu siapa? Oleh pria? Tapi kalian tidak ada yang belok."

"Nanti dulu," sergah Retak'ka sembari menyeringai. "Aku punya ide yang lebih baik … lagipula bocah itu, dia masih bisa menggunakan akalnya selagi tidak dalam pengaruh obat. Otak dan badannya sama-sama bagus. Harga jualnya pasti tinggi sekali."

.

.

.

.

.

Halilintar diseret keluar oleh Gogobi setelah hari malam. Solar masih tidur, dan kalau sang kakak tidak di situ, dia berbaring miring di lantai.

"Apa yang kalian lakukan pada adikku?" Halilintar coba bertanya setelah pembelenggu kakinya dilepas dan dia didorong untuk berjalan sendiri. Gogobi diam saja.

"Mana pakaiannya?" tanya Halilintar lagi. "Dia bisa sakit kalau sepanjang waktu hanya berpakaian dalam."

"Entahlah. Bukan urusanku."

"Apa mau kalian sebenarnya?"

"Masih tanya lagi? Bos mau kau jadi kelinci percobaannya. Dia masih bertindak halus saat ini. Kalau dia habis sabar, entah apa jadinya."

"Kalau Bosmu hanya perlu aku, bebaskan adikku."

"Wah, tidak bisa begitu. Sudah, jangan tawar-menawar denganku. Percuma."

Sebuah pintu yang kini familier didorong terbuka oleh Gogobi, Halilintar kembali dipaksanya untuk maju meski masih mau bicara dengan pria itu. Menurutnya dari semua orang, Gogobi sebetulnya hanya menjalankan perintah saja, tampaknya bukan keinginannya sendiri untuk berbuat kasar pada kedua tawanan. Saat melangkah masuk, Halilintar merasakan kepalanya berputar. Dia terhuyung sedikit.

"Makan," perintah Gogobi sambil mendudukkannya ke kursi di hadapan sebuah meja. Di hadapannya sudah terhidang sepiring spagetti lengkap dengan sausnya. Melihat warna merah cerah begitu membuat pusaran di kepala Halilintar makin menjadi dan dia memejamkan mata. Gogobi mencengkeram rambutnya.

"Perlu kupaksa seperti kemarin?"

Halilintar menggeleng, "Aku tak selera."

"Begitu juga jawabanmu waktu itu." Gogobi mendorong kepala pemuda itu, membenamkan wajahnya dalam hidangan. Halilintar meronta sambil tersedak, tangannya masih terbelenggu, tenaga pria ini kuat sekali.

"Makan," perintah Gogobi lagi.

Halilintar benci sekali keadaan ini dan dia sudah mengulanginya untuk ketiga kali. Dipaksa makan seperti anjing tanpa boleh menggunakan tangannya—tangannya hanya dilepas dari ikatan saat akan bertarung saja. Dilahapnya sedikit makanan itu dan Gogobi agak melonggarkan cengkeramannya.

Halilintar mengoreksi pendapatnya terhadap pria besar itu. Mereka semua biadab.

Pandangan di depan mata Halilintar berputar lagi hingga dipejamkannya mata. Vertigonya kumat. Dia tak sanggup meneruskan makan. Apalagi kalau harus bertarung. Halilintar gemetar, menahan diri untuk tidak muntah di tempat. Mualnya terasa parah sekali.

"Kau sakit?" Suara Gogobi terdengar jauh sekali. "Lemah."

Tangan Halilintar di belakang punggungnya menggenggam erat sandaran kursi agar dirinya tidak jatuh. Bisa didengarnya Gogobi seperti memanggil-manggil. Kemudian tubuhnya ditarik berdiri dan diseret keluar. Halilintar hanya bisa pasrah dibawa entah ke mana, rasanya lebih baik dirinya pingsan saja.

Dia didorong sampai tersungkur di lantai, lalu semuanya hening. Kepalanya masih terasa berputar, matanya masih terpejam sambil berdoa agar penderitaannya yang satu ini segera berlalu.

Beberapa menit kemudian, ketika serangan vertigonya sudah mereda, barulah Halilintar membuka mata. Rupanya dia dikembalikan ke ruangan semula tempatnya ditahan bersama Solar.

Tapi Solar tidak ada di situ. Halilintar sendirian, jaket miliknya teronggok di lantai. Dia buru-buru duduk, matanya melotot. Selama ini kalau Halilintar dibawa keluar, Solar ada di sini. Kalau dia kembali, Solar juga di sini. Jangan-jangan selama ini mereka membawa Solar keluar ketika dia sedang bersama Retak'ka. Halilintar beringsut mendekati pintu dan menendang dengan kaki terbelenggu.

"Solaaaaaaar!"

Teriakannya bergema, beberapa kali diulangnya sampai suaranya serak. Tak ada siapa pun yang menyahut. Halilintar merasa putus asa, penderitaannya belum berakhir.

.

.

.

.

.

Pintu itu dibuka lagi sekitar tengah malam. Kira-kira hanya beberapa jam setelah Halilintar kembali ke ruangan itu, dia sendiri tak bisa melihat arlojinya dan jelas tak bisa tidur dalam kondisi demikian.

Yang masuk adalah sebuah sosok ramping yang belum dilihat Halilintar selama ini. Seorang wanita, dia menggendong Solar yang tidur meringkuk seperti bayi, lalu membaringkan pemuda itu dengan lemah-lembut di sisi Halilintar.

"Oh, kau sudah di sini, ya," ucap si wanita.

"Kau apakan dia?" sembur Halilintar.

"Cuma main-main sedikit," balas Ayu Yu dengan kikikan mengerikan. "Main masuk dan keluar. Kau tahu?"

Bulu kuduk Halilintar meremang. "Jalang!" makinya.

"Adikmu sama saja," balas wanita itu. "Dia sudah main denganku tiga kali, lho. Tiga momen yang luar biasa. Oh, ya, aku baru tahu soal ini di permainan yang ketiga. Apa dia punya trauma di bagian leher? Dia panik sekali waktu kusentuh lehernya. Uh, jadi tampak makin imut dia, panik seperti itu tadi."

Tubuh Halilintar bergetar hebat, menatap Solar yang tertidur pulas dalam kondisi terikat. "Kalian beri obat apa dia, hah?!"

"Ssst. Nanti dia terbangun, kasihan."

"Jahanam!" Halilintar berseru, darahnya mendidih sementara hatinya perih.

"Siapa yang jahanam?" balas Ayu Yu. "Kau punya kesempatan untuk menolongnya dari kemarin, tapi kau tidak mau. Kau yang jahanam."

Halilintar tersentak. "Itu bukan kesempatan namanya!"

"Kau tidak mau dirimu dicemari obat, egois sekali. Padahal adikmu sudah tercemar sejak kali pertama, baik secara harfiah maupun kiasan, hihihi."

"Jangan bicara seolah Solar itu barang!" seru Halilintar.

"Memang bukan barang. Dia anak yang manis. Selalu menyenangkan mencemari anak manis."

"Orang gila," desis si sulung dengan napas memburu.

"Obat yang kami buat, selain meningkatkan gairah, bisa menghilangkan memori secara selektif dan rasa nyeri sekaligus. Bagus 'kan sebenarnya, dia tak perlu ingat apa pun, tak perlu ada trauma. Lebih baik kehilangan memori yang menyakitkan bukan, demi kebaikan bersama? Aku juga diuntungkan. Jadi setiap kali rasanya seperti buka kado baru."

"Orang gila," ulang Halilintar.

"Kalau diizinkan, aku juga mau melahapmu. Tapi Bos melarangku. Jadi, setelah kau tahu apa rutinitas Solar setiap kali kau bertanding melawan Bos, kau masih bersikeras bertahan dengan prinsip konyolmu itu?"

"KALIAN GILA!" pekik Halilintar, merasa pita suaranya nyaris putus.

Napas Solar di sampingnya tersentak. Dia terbangun.

"Solar ..." Halilintar memanggil perlahan, suaranya sudah serak sekali.

"Kak Hali ..." balas adiknya lirih dengan pandangan linglung, ada kerutan dalam di dahinya. "S-sakit, Kak ..."

Ayu Yu memperkeruh suasana yang memang sudah keruh, "Kasihan … tadi terlalu cepat, sih, jadi belum sempat pemanasan dulu."

"Keluar kau, wanita gila!" bentak Halilintar.

"Sayang sekali dia terbangun sekarang. Obatnya jadi gagal bekerja. Kasihan, kasihan." Ayu Yu masih sempat menatap Halilintar yang syok mendengar penjelasan itu. "Kakak Halilintar yang urus ya, Solar pasti masih ingat kejadian tadi dan kesakitan sekarang."

"KELUAR!" Belum pernah Halilintar sebegini inginnya meninju seorang perempuan.

Diiringi lebih banyak kikikan, Ayu Yu keluar dan mengunci pintu. Terdengar suara-suara lelaki di luar yang bicara dengan wanita itu, tapi Halilintar tak peduli lagi. Solar sedang menangis sambil meringkuk.

"Sakiiit … Kak Hali … sakit, Kak."

Sang kakak tak mampu berucap dan ikut meneteskan air mata dalam diam.

"Aku … aku … sudah bikin dosa ..."

Isakan Solar begitu mengiris hati. Tampaknya kali ini dia memang ingat apa yang terjadi dan Halilintar merasa tak perlu bertanya apa yang sakit.

"Ayah, Ibu, Atok … Solar bukan anak baik-baik lagi ..."

Si bungsu terisak-isak hebat. Halilintar ikut terisak, hatinya hancur dan dia merasa harus bicara,

"Solar, Solar … jangan bilang begitu. Sssst, tenang dulu."

"Dia," Solar bicara lagi, "dia bilang ini yang ketiga. Aku nggak ingat. Sudah tiga kali ..."

Halilintar menyela, "Nggak akan ada yang keempat, Solar."

"Solar yang keren berhubungan seks sebelum menikah, tiga kali, dengan tante-tante pula ..."

"Solar ...!" Halilintar berseru tertahan, "Hentikan ..."

Solar memang berhenti bicara sambil berusaha meredakan isakannya sendiri. Selama bermenit-menit kemudian, ruangan itu hanya diisi suara napas keduanya yang sama-sama menangis.

"Solar … aku … minta maaf. Sebetulnya aku nggak layak untuk minta maaf kalau ternyata aku penyebabmu jadi menderita."

Si bungsu tidak bersuara. Halilintar bertanya-tanya apakah Solar mengerti apa yang dimaksudnya.

"Sudah nasibku," komentar Solar, nadanya mengandung logika. "Mereka mau mencobakan dua macam obat, yang satu obat perangsang dan satunya doping. Betul begitu, Kak?"

"Aku nggak tahu soal obat perangsang," sahut Halilintar dengan hati perih sekali lagi.

"Nggak mungkin kalau aku yang di-doping lalu disuruh bertarung lawan Retak'ka," ujar Solar, "jadi jelas aku yang dicobakan obat satunya. Yah, setidaknya Kak Hali nggak tercemar sepertiku."

Halilintar berjengit mendengarnya. "Solar!"

"Untung bukan Kak Duri yang hari itu pergi dengan Kak Gempa, iya 'kan Kak?"

Halilintar tertegun. Solar tertawa kecil.

"Kalau memikirkan itu, setidaknya, aku masih bisa bersyukur. Bukan Kak Duri yang mengalami semua ini."

Halilintar masih ingin menangis, tapi ada kelegaan yang menjalar. Solar sendiri sudah berhenti menangis. Betapa ajaibnya penguasaan diri adiknya itu. Dia memang sempat terpuruk tapi bisa bangkit lagi dengan memikirkan orang yang paling disayanginya.

"Besok puasa hari terakhir ya, Kak?" Solar bersuara lagi. "Puasaku bolong tiga hari dong tahun ini."

Masih sempat-sempatnya si bungsu memikirkan hal itu, Halilintar jadi terharu. "Mending tiga hari. Aku kalau ditotal dengan waktu vertigoku kumat di rumah sakit itu, jadi enam hari."

"Hehehe, ada yang lebih parah dariku rupanya." Solar tersenyum lemah.

Halilintar sudah memutuskan. Besok akan diterimanya tawaran Retak'ka, kalau memang itu satu-satunya cara menyelamatkan Solar. Dia harus menyiapkan mental sejak sekarang kalau memang akan menerima barang haram itu di tubuhnya … tapi ...

"Kak Hali ..." Solar memanggil, suaranya terdengar mantap dan menggebu seolah baru saja mendapat ide baru. Sekali lagi Halilintar dibuat heran dengan si adik bungsu.

"Hmm?" balasnya.

"Aku punya dugaan. Kupikir, mereka akan bawa kita keluar dari sini pakai helikopter."

"Daerah ini dataran tinggi … betul juga. Ke pantai terlalu jauh."

"Lagipula sejak kasus Kak Blaze dan Kak Ice, mestilah pengawasan di sekitar pantai jadi lebih ketat."

"Kalau betul dengan helikopter … apa yang bisa kita buat untuk menundanya?"

"Bukan menunda, Kak. Tapi kita akan ada di udara dengan helikopter. Aku pernah bikin kembang api ..."

Mendadak Halilintar jadi bersemangat. "Mau buat pesan SOS di langit?"

"Yup. Setidaknya ada yang akan melihat. Tapi, bahannya mungkin akan sulit … Soda kue, kalau ada, belerang ..."

Solar tiba-tiba merintih dan memejamkan mata.

"Eh, kenapa?" tanya kakaknya.

"Aku pusing banget, Kak ... kepalaku rasanya berdenyut terus sejak tadi."

Halilintar kembali menempelkan dahinya pada dahi Solar, lalu terkejut mendapati demamnya makin tinggi.

"Sial," umpat si sulung. Ayu Yu tak mungkin tidak tahu kalau Solar demam tinggi. Jadi mereka membiarkan saja anak ini sakit? Segera diraihnya jaket dengan susah payah lalu menyelimuti Solar yang meringkuk sambil menggigil.

"Kak Hali," gumam Solar yang sudah setengah sadar. "Aku tahu adrenalin itu bikin orang yang sedang jatuh cinta berdebar-debar. Ini aku berdebar-debar, tapi aku nggak lagi jatuh cinta. Bisa juga ya ternyata?"

"Solar, kamu bicara apa?" balas Halilintar miris.

"Kak Hali ..." panggil Solar lagi, seolah kakaknya tidak baru saja bicara. Sorot di netra kelabu itu tampak redup. "Kak … Halilintar ..."

"Aku di sini, Solar. Aku di sampingmu."

Solar tersenyum lega mendengarnya, tapi dengan cepat memudar. "Kalau … kalau perempuan itu sampai hamil karena aku, apa aku harus tanggung jawab? Apa aku akan dikeluarkan dari sekolah? Bagaimana kalau … kalau dia punya HIV? Apa aku bakal ketularan? Tampaknya jam terbangnya tinggi sekali ... nggak tahu sudah berapa anak lelaki yang dia—"

"Sst, Solar, tidurlah," sela Halilintar sebelum adiknya makin meracau. "Jangan terlalu banyak mikir, nanti kepalamu tambah sakit."

"Kalau aku nggak mikir sekarang … nanti terlalu terlambat, Kak ..."

"Biar aku aja yang mikir. Kamu tidur," tegas Halilintar. "Begini-begini aku pernah masuk ranking di kelas, tahu, meski nggak setinggi ranking-mu tentu saja ..."

"Terbaik … Kak … tapi jangan … jangan sampai ..."

Solar sudah menutup mata, kalimatnya tidak selesai, dia jatuh tertidur.

Halilintar masih memikirkan sebentar apa yang mau diucapkan Solar tadi. Dia juga harus tidur, kalau tak mau vertigonya kembali menyerang.

.

.

.

.

.

Rasanya Solar memang banyak tidur dan semua tidurnya itu tanpa mimpi.

Tapi kali itu dia bermimpi, dia ada di kamar dan ada Duri yang duduk di tempat tidurnya. Solar hendak memanggil, tapi rupanya ada satu orang lagi … Ayu Yu ada di dalam kamar juga, sedang menatap kakak Solar itu dengan penuh minat.

'Anak Manis …' Solar tak perlu mendengar suara perempuan itu untuk tahu apa yang diucapkannya. Bagaimana bisa dia ada di sini? Solar menerjang maju, tapi anehnya dia tidak bisa bergerak. Oh, bagus, jadi dia sedang diikat lagi?

'Kak Duri …' Solar mencoba memanggil. Ayu Yu mendekati kakaknya, Duri hanya tampak bengong dengan senyuman polos.

'Jangan sentuh Kak Duri!' pekik Solar tanpa suara. Lalu dia terbangun dengan napas terengah.

"Selamat pagi, Pangeran Tidur. Atau harus kubilang, selamat siang?"

Solar bertemu mata dengan sosok yang terbawa dalam mimpinya barusan.

"Alamak, kau lagi?" gumam Solar pedas. "Apa kau nggak capek, tiap dua kali sehari memaksaku main?"

"Untuk kali ini aku nggak akan main. Cuma, kucuri kesempatan menciummu barusan. Dan eh, kamu beneran terbangun, kayak di dongeng."

Ayu Yu mendekatinya, wanita itu masih berpakaian lengkap. Solar dengan cepat melirik ke tangan dan kakinya yang terikat di keempat sudut ranjang. Pakaian yang menutup tubuhnya masih sama, hanya tersisa sepotong kaus dalam saja.

"Kali ini aku nggak diberi obat?" Solar bersuara. Dia sadar rasanya berbeda dengan yang terakhir kali diingatnya. Jantungnya tidak berdebar menggila, tubuhnya tidak berkeringat, rasanya hanya seperti baru bangun tidur biasa.

"Oh, jadi kamu yang pengin main sekarang?" goda wanita itu, yang sudah duduk di tepi ranjang.

"In your dreams," maki Solar.

"Selain manis, kamu sangat pintar," sahut Ayu Yu sambil membelai rambut si pemuda. Solar memalingkan muka. "Dengar, untuk kali ini aku nggak akan main … main yang seserius kemarin-kemarin. Kita main-main yang aman saja."

"Mana Halilintar?" balas Solar tanpa mau melihat ke arahnya.

"Ah, aku baru mau membicarakan itu. Dia sedang digarap oleh Bos."

Solar menoleh cepat. "Bertarung dengan bosmu, maksudnya?"

Ayu Yu mengangkat bahu, senyumannya merekah.

"Halilintar sedang dalam masalah. Kau mestinya sudah tahu apa yang akan terjadi tentang tawaran itu, 'kan?"

"Obat doping buatan kalian?"

"Benar."

"Kak Hali terima disuntik obat itu, dia akan menang, lalu kami dibebaskan. Tapi Kak Hali akan kembali pada kalian karena efek adiksinya," ujar Solar gusar. "Dari awal kalian memang mengincar Halilintar."

Ayu Yu sampai merasa perlu bertepuk tangan. "Hebat, anak jenius memang beda, ya."

"Kalian sudah mencemariku. Jangan Kak Hali juga, dasar serakah."

"Ini bukan serakah, tapi sekali tembak dapat dua burung," balas Ayu Yu sambil terkikik. "Sepertinya selagi kita bicara sekarang, obat itu sudah masuk ke tubuhnya."

Solar menyembur, "Kalian semua setan busuk."

"Aduh, anak manis nggak boleh ngomong kotor. Sini kubersihkan."

Ayu Yu mengecup bibir Solar dalam-dalam, ada penolakan yang keras pada awalnya, tapi lalu pemuda itu menyerah daripada dirinya kehabisan napas.

"Warna matamu beda dengan kakakmu, ya," ujar Ayu Yu setelah selesai dengan ciumannya. "Padahal kalian kembar identik, bukan begitu?"

Karena Solar tak menjawab, Ayu Yu memain-mainkan poni pemuda itu dan bergumam lagi, "Rambut kalian juga, ada sejumput yang warnanya aneh begini."

"Rambut Ayah juga seperti ini," komentar Solar datar.

"Kau mau menolong Halilintar, 'kan, Solar? Aku juga punya penawaran untukmu. Kau pasti menyukainya."

"Apa obatmu juga ada efek adiksinya? Apa aku akan jadi budak seksmu?"

"Wah, wah, imajinasimu mengerikan juga. Aku nggak sejahat itu, meski karena kamu ucapkan, aku jadi kepengin sih. Tapi, tidak, bukan itu penawarannya. Bos butuh asisten penelitian. Kau itu jenius, sayang sekali kalau kau terkurung di pulau terpencil seperti Pulau Rintis."

Solar menyipitkan mata ke arah lawan bicaranya. "Terkurung?"

"Dengan jadi asisten Bos, kau bisa pergi ke banyak tempat, bertemu orang-orang yang jenius sepertimu dan menjadi populer, bukankah itu impianmu?"

Solar tertegun sejenak. "Bukan, aku pengin jadi dokter."

"Di Pulau Rintis mana ada sekolah kedokteran."

"Ya, sekolahnya di luar tentu saja. Tapi aku akan kembali ke Pulau Rintis. Banyak rumah sakit."

"Kau akan jadi kaya-raya dengan ikut Bos."

Solar angkat bahu. "Aku sudah cukup bahagia dengan jatah uang saku dari Kak Gempa."

Ayu Yu tiba-tiba meraih kepala Solar dan berbisik dekat sekali di telinganya,

"Dengarkan aku. Semua yang kita lakukan dan perbincangkan di sini, diawasi Bos."

Setelah bicara begitu, Ayu Yu mulai mengecup telinganya seolah sedang dikuasai nafsu, lalu turun menuju lehernya …

Solar merintih, sekujur tubuhnya gemetar. "Ja-jangan ..."

Ayu Yu menghentikan aksinya dan kembali menatap Solar dari jarak yang agak terlalu dekat. "Oh, aku penasaran, ada apa dengan lehermu?"

Yang ditanya tak mau menjawab. Dia masih bertanya-tanya tentang bisikan yang tadi dan merasa cara yang aman adalah dengan berkomunikasi sedekat mungkin dengan si wanita. Solar menelan rasa malunya dan balas mengecup pipi Ayu Yu.

Mendapat balasan, Ayu Yu menarik tubuh Solar ke dalam pelukannya, erat dan bergairah—tapi Solar merasa itu hanya akting saja, karena berikutnya wanita itu bicara lagi persis di telinganya,

"Kakakmu, Ice, dia masih hidup?"

Solar mengangguk dan Ayu Yu melumat bibirnya lagi. Jadi ini yang wanita itu maksud 'main-main yang tidak seekstrem kemarin' …? Tiba-tiba Solar bisa mencecap rasa asin di dalam mulutnya. Ayu Yu sedang menangis ...?

"Syukurlah," Ayu Yu bicara sepelan desau angin setelah ciuman itu selesai.

"Pelampung karet itu ...?" Solar berbisik di telinga Ayu Yu, rambut panjang wanita itu terurai menutupi kiri-kanan wajahnya.

"Ya, itu aku," desah Ayu Yu lirih, kemudian memperkeras desahannya. Solar menggeliat sedikit untuk mendukung suasana, meski sebetulnya dia memang jadi agak deg-degan juga dengan Ayu Yu sedekat ini padanya. Yah, dia toh masih remaja laki-laki normal.

"Mereka pikir Ice sudah mati, mereka mau menenggelamkannya ke laut," bisik Ayu Yu lagi. "Aku tak sanggup membiarkannya ..."

Solar tersentak, menyadari bahwa wanita itu ternyata masih punya kebaikan dalam dirinya. "Terima kasih," balasnya, masih ikut berbisik. Berikutnya Solar merinding hebat ketika Ayu Yu kembali menyerang lehernya.

"Jangan ..." gumam Solar sambil berusaha menghindar.

Ayu Yu mundur sedikit. "Kamu … menurutlah padaku, Solar … tolong."

"Apa—aaaaaaaah!"

Barusan jemari Ayu Yu mendarat di leher Solar dan membuatnya menjerit keras sekali. Seluruh tubuh Solar gemetaran dan dia tampak seperti mau menangis.

"J-jangan ..." Solar berbisik, lirih sekali, tapi Ayu Yu masih bisa mendengarnya. Wanita itu kini membelai rambutnya dengan lembut.

"Jadi benar kamu punya trauma di leher ya … kali ini tak ada pilihan lain, kau tahu?" desis Ayu Yu sekali lagi sebelum kemudian menaikkan volume suaranya. "Astaga! Baru kali ini kutemukan anak lelaki manis semulus ini. Kau ikut skin care, ya? Dasar anak manja."

Solar tak sempat merasa tersinggung, masih syok karena lehernya disentuh dan karena kalimat Ayu Yu yang pertama. Buat apa Ayu Yu memberi tahunya semua itu? Apa Ayu Yu sebetulnya mau menolong mereka seperti dulu dia menolong Ice? Wanita itu membungkuk lagi dan menciumnya di pipi, lalu berbisik,

"Maaf, kali ini aku tak bisa apa-apa ..."

Solar terhenyak. Ayu Yu kini menangis terang-terangan sambil meraih tangan Solar. Ada yang membuka pintu saat dia melepaskan ikatan di tangan pemuda itu.

"Tetap keras kepala?" Suara berat seorang pria mengisi ruangan. Retak'ka si bos berdiri di ambang pintu. "Jangan cengeng, Ayu Yu."

"Mending dia ini buatku saja, Bos ..." pinta si wanita dengan berlinang air mata.

"Kau tidak berhasil menundukkannya. Dia lebih kuat dari dugaanku."

Ikatan di kaki Solar juga sudah dilepas oleh Ayu Yu, tapi pemuda itu tak beranjak. Dia menatap Retak'ka dengan pandangan benci, yang balas mengamatinya dengan ekspresi tertarik dari ujung kepala sampai ujung kaki, sengaja berhenti agak lama di bagian selangkangan yang tak tertutup pakaian. Bos penjahat itu tiba-tiba menegurnya,

"Mau sampai kapan kau tidur terus? Bangun!"

Solar mendudukkan diri di tempat tidur. "Mana Halilintar?" balasnya dingin.

"Dia menunggumu." Retak'ka menyeringai. "Sepertinya Ayu Yu tadi sudah memberimu penawaran, tapi kau tidak mau ya? Bagaimana kalau kuberi tahu sebuah rahasia?"

Solar masih duduk di tempatnya, hanya menatap Retak'ka tepat di matanya.

"Apa pernah ada di dunia ini, anak kembar tujuh?"

Tak ada tanggapan dari Solar, Retak'ka meneruskan,

"Kembar tujuh identik, wajah sama persis, tapi warna mata berbeda-beda? Ini pasti pernah terlintas di benakmu, Solar bin Amato. Kau itu jenius."

Solar masih tak menjawab.

"Kau dan semua saudaramu … kalian bertujuh tak lebih dari sebuah rekayasa genetika oleh ayah kalian."

Kalimat itu membuat Solar tersentak dan matanya membola. Retak'ka tersenyum, menikmati perubahan ekspresi lawan bicaranya.

"Dulu waktu kalian tinggal di Kuala Lumpur, kalian disekolahkan di rumah, 'kan? Kalian bahkan tidak tahu siapa tetangga kalian, tak punya teman dari luar. Rumah besar eksklusif dan kau punya enam kakak kembar, tapi tetap saja rasanya sepi, bukan? Amato berhasil dengan percobaannya, tapi ada satu yang gagal sejak awal karena cedera kepala saat masih bayi."

Solar mengernyit, dadanya mulai terasa nyeri.

"Kalian bertujuh dibuat dengan keunggulan masing-masing. Tapi seiring jalannya waktu, tak ada yang jadi cukup menonjol di antara kalian, kecuali kau seorang. Tapi kau terlalu sayang pada kakakmu yang produk gagal itu, dan kau sendiri tidak berkembang seperti yang diinginkan Amato. Namanya … siapa si produk gagal itu … thorn? Duri?"

Mata kelabu Solar mengerjap. Apa-apaan semua ini …?

"Lalu kalian bertujuh dipindahkan ke Pulau Rintis, ke rumah kakek kalian untuk hidup 'berdikari'. Amato meninggalkan kalian. Buat apa kalian saling panggil 'kakak' dan 'adik' kalau sebenarnya kalian bukan … saudara betulan? Tapi manusia-manusia kloning?"

Retak'ka memberi jeda sambil masih mengamati ekspresi Solar yang mengeruh.

"Kau merasa berdosa karena berhubungan seks sebelum menikah? Padahal eksistensimu di dunia ini saja, sudah merupakan dosa di agamamu?"

Untuk sejenak ruangan itu diisi keheningan yang menyesakkan.

"Kau mengenal ayahku?" Solar akhirnya menemukan suaranya dan balik bertanya, tapi bergetar saat dia mengucapkannya.

"Bisa dibilang … aku kenal dia, tapi mungkin dia tak kenal aku." Seringai Retak'ka terkembang, lalu menoleh pada si hawa yang dari tadi berdiam diri. "Ayu Yu, gendong dia kalau perlu. Dia jauh lebih ringan daripada yang dua kemarin, 'kan?"

"Aku bisa jalan sendiri," tukas Solar dengan hati pedih, beringsut ke tepi ranjang. Ayu Yu tetap menghampirinya dan memegangi tangannya. Solar hanya menunduk dan mencoba berdiri dengan bantuan wanita itu, kemudian merasa bersyukur ada yang memeganginya. Kedua kakinya ternyata lemas dan dia pasti langsung jatuh kalau tidak ada Ayu Yu. Apa dia diberi obat bius di kaki seperti Blaze waktu itu? Dasar penjahat tidak kreatif. Tapi bukan waktunya lagi Solar memikirkan itu.

"Kugendong saja?" Ayu Yu menawarkan dengan suara lirih.

Solar menggeleng lalu berkata, "Apa percuma kalau aku minta pakaianku kembali? Kalian mau menyuruhku jalan telanjang begini?"

Ayu Yu tidak menjawabnya dan Retak'ka sudah bicara lagi,

"Nanti kau akan dapat pakaianmu. Sebentar lagi kau boleh menonton kakakmu beraksi, karena dia tadi sudah menonton aksimu."

Solar kepengin sekali melempar sesuatu ke kepala Retak'ka yang menjulang seperti puncak menara. Tapi dia ingat lagi, menembakkan bola basket ke ring saja dia meleset jauh. Solar tidak lihai pada hal-hal yang berkaitan dengan fisik. Dia diam saja selama dipapah oleh Ayu Yu berjalan ke sebuah ruangan. Retak'ka membuka pintu dan masuk.

"Solar!" Halilintar berseru, membuat si adik mendongak. "Jangan percaya apa pun yang diucapkan bedebah itu! Ayah punya alasan—"

BUKKK!

Solar tersentak, matanya terbelalak. Halilintar sedang dirantai di tengah ruangan dan barusan pria yang berbadan besar meninju wajahnya. Di lantai di sekitarnya banyak ceceran darah, membuat Solar langsung diserang rasa pusing. Dia merosot jatuh dan Ayu Yu terlambat menangkapnya sehingga pemuda itu ambruk ke lantai.

"Ukh. Solar!" Suara Halilintar terdengar lagi.

"Borgol lagi tangannya, Ayu Yu. Biarkan kakinya."

Perintah dingin dari Retak'ka dilaksanakan dalam diam sementara Solar sedang mencoba menguasai dirinya untuk tidak pingsan karena melihat darah—darah kakaknya sendiri, pula. Kedua tangannya kembali terbelenggu, pandangannya mulai berkunang-kunang melihat banyak warna merah di wajah dan tubuh Halilintar.

Seketika Solar sadar, kakaknya itu belum disuntik obat. Dia juga sedang menjalani tawar-menawar dengan para penjahat. Halilintar bukan orang bodoh, dia pasti tahu apa akibatnya kalau diterimanya obat itu sekarang. Dia masih mau berjuang tanpa barang haram itu sampai sebegini.

Ayu Yu menggendong Solar ke pinggir ruangan dan membaringkannya di lantai dengan gemetar. Wanita itu langsung pergi ke pintu dan lenyap dari ruangan itu. Solar setidaknya ingin berucap terima kasih tapi urung ketika melihat seseorang di dekatnya.

Seorang pria tinggi besar dengan tubuh kekar berotot, wajahnya kemerahan dan tampak garang. Dia lebih besar daripada Retak'ka dan sorot matanya terlihat …

"Santapanmu, Vargoba."

Dengan gerakan cepat, pria bernama Vargoba itu mendorong kedua kaki Solar membuka dan menembus lubang anusnya tanpa peringatan. Rasa sakit yang demikian hebat menghunjam bagian bawah tubuh Solar sampai dia menjerit keras,

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAGH!"

Halilintar juga menjerit, "Solaaaaaaar!"

Vargoba menindih tubuh si bungsu, mendorong masuk kuat-kuat di bawah sana dan memerkosanya tanpa ampun, sampai Solar mengira ususnya bakalan robek karenanya. Bahkan tanpa Solar mencoba meronta saking lemasnya, siksaan itu sangat menyakitkan. Dia berharap sebentar lagi dirinya hilang kesadaran agar sakitnya hilang, tapi ternyata ada yang duluan hilang daripada keduanya.

Kerongkongan Solar mendadak tercekat seperti tercekik. Suaranya tak mau keluar lagi. Dengan napas satu-satu dan bibir yang gemetar Solar menangis tanpa suara, tubuhnya terhentak-hentak seiringan dengan gerakan penyerangnya.

"So-solar ..." panggil Halilintar yang juga menangis. Dia berpaling saat Vargoba mencapai klimaks dan baru menoleh lagi saat pria itu membenahi celananya sambil tertawa puas.

Halilintar memaki masih sambil menangis, "Jahanam kalian ..."

Retak'ka membalasnya, "Kalau kau merasa cukup satu kali saja adikmu mendapatkannya, terima penawaranku."

Halilintar mengumpat lagi. Dia sendiri sudah tak bertenaga dan merasakan sakit di mana-mana, tapi dadanya lebih sakit lagi. Dia menyaksikan sendiri Solar diperkosa seorang pria di depan mata … dan apa itu yang berwarna merah pekat di antara kedua kaki adiknya? Adiknya itu berdarah ...?

Solar harus segera dibawa ke rumah sakit. Tak ada waktu lagi. Si sulung menunduk, membalikkan tangannya yang terikat rantai sehingga pembuluh darah di bawah kulitnya kelihatan.

"Kalau aku menang, kami berdua boleh pergi," gumam Halilintar di sela kertak gigi.

"Tentu saja, aku tak lupa janjiku ..." gumam Retak'ka, mengeluarkan kembali alat suntiknya dan mulai mencari pembuluh vena di lengan Halilintar yang tidak mau melihat prosesnya. Pemuda itu hanya menatap ke seberang ruangan, di mana adiknya terbaring dengan mata melotot dan isakan tanpa suara.

Jarum suntik itu sudah menemukan pintu masuknya dan Retak'ka mendorong seluruh isinya masuk. Napas Halilintar mulai patah-patah karena seluruh beban mental dan fisik yang sudah dialaminya sampai detik ini dan dia perlu mempersiapkan diri untuk efek apa pun yang akan ditimbulkan obat yang sedang memasuki tubuhnya itu.

Retak'ka mundur sedikit dan membuang jarum suntiknya sambil masih menyeringai. "Dalam semenit akan muncul ..."

Halilintar merasakan detak jantungnya perlahan-lahan menguat. Sejurus kemudian dia merasa tenaganya datang kembali berlipat-lipat ganda—disentakkannya kedua tangan keras-keras, dan rantai di tangan kanannya betul-betul terputus. Dengan itu segera dilayangkannya pukulan ke arah Retak'ka.

"Bagus sekali," sahut Retak'ka yang berhasil menangkap tangan Halilintar sebelum mengenainya. Dari otot lengannya yang menegang terlihat bahwa pria itu berusaha keras menahan tangan Halilintar yang lebih kecil darinya. Halilintar menggeram dan memaksa tangan kirinya juga bebas. Rantai itu putus sepenuhnya, menyisakan borgol di kedua pergelangan tangan yang tidak menghalangi pergerakan. Halilintar mundur, menyiagakan kuda-kuda, lalu mulai menyerang.

Satu hal yang sudah Halilintar coba berkali-kali, dengan kenyataan bahwa tinggi badan Retak'ka hampir dua kali tingginya, menyerang bagian kaki seharusnya akan membuatnya lebih mudah dikalahkan. Tapi kedua kaki pria itu begitu kokoh dan sepertinya tidak bisa ditumbangkan hanya dengan tendangan biasa. Maka kali ini Halilintar mengincar bagian abdomen—dimanfaatkannya borgol yang ada di pergelangan tangan dan menghantam perut pria itu keras-keras. Retak'ka terdorong mundur dan terbatuk, tapi kemudian terkekeh.

"Belum cukup. Masa hanya segini?"

Pria itu mengayunkan kakinya, mengincar kepala Halilintar yang segera menunduk. Kaki yang sebelah lagi berayun cepat, tak memberi kesempatan si pemuda untuk mengunci kaki yang tadi. Berikutnya tangan Retak'ka ikut maju bertubi-tubi dan Halilintar masih bisa mengelak. Tampaknya obat itu juga membuatnya jadi lebih gesit.

"Tunjukkan kemampuanmu, Halilintar bin Amato."

Mendengar namanya disebut dengan lengkap membuat amarah si sulung berkobar lagi. Kecepatannya dalam mengayunkan pukulan dan tendangan meningkat, tapi Retak'ka masih selalu bisa menahannya.

Orang ini terlalu kuat … bagaimana kalau dia tetap tidak menang? Apa jadinya dengan Solar?

Halilintar lengah dan tendangan Retak'ka mengenai kepalanya dengan telak. Pemuda itu terdorong ke samping diiringi erangan, menahan jatuhnya dengan sebelah lutut. Retak'ka sedang terbahak keras. Dengan cepat Halilintar melontarkan dirinya ke depan dan mengincar leher pria itu. Gerakan ini hanya pernah dicobanya pada Taufan yang lebih tinggi darinya, dan saat itu sang adik sampai kesakitan dan wajahnya membiru.

Dapat! Retak'ka lengah kalau ia sedang puas diri begitu dan Halilintar berhasil mengunci leher dan bahunya, keduanya jatuh dengan punggung Retak'ka yang menghantam lantai.

"Urghhh ..." si bos penjahat kali ini benar-benar terkunci oleh tangan dan kaki Halilintar.

Lima detik … cukup lima detik saja … tapi murka dalam diri Halilintar belum mau surut. Kalau Taufan saja membiru dalam lima detik dikunci seperti ini, apakah kalau diteruskannya lebih lama Retak'ka bisa mati di tangannya? Sepertinya itu ide yang bagus …

Retak'ka meronta di dalam kunciannya, tahu apa yang dipikirkan Halilintar. Gogobi menginterupsi kehendaknya dengan mendekat dan menarik leher bajunya.

"Cukup."

Dilepas dengan paksa begitu, Halilintar ganti menyasar kaki Gogobi. Pria besar gemuk itu rupanya juga cukup tangkas menghindar dan balas mengayunkan tangan. Retak'ka yang sudah bebas, menyeringai senang sambil pelan-pelan mencoba duduk.

"Sudah cukup, Halilintar. Kau boleh bawa adikmu pergi."

Halilintar langsung menghentikan serangannya dan menoleh tak percaya. Gogobi buru-buru mundur ke pinggir ruangan.

"Begitu saja?" geram si sulung.

"Begitu saja. Kau berhasil menahanku bangun lima detik, kau menang."

Halilintar tampaknya masih ingin meledak. "Tak ada tipuan kali ini?"

"Tipuan apa?" Retak'ka tersenyum lugas. "Kau dan Solar boleh pulang ke rumah Atok. Tidakkah itu yang kauinginkan?"

"Setelah semua yang kalian perbuat padanya ..." geram Halilintar lagi. Dia melangkah mendekati Solar yang tergolek dengan posisi ganjil di lantai, mata dan mulutnya terbuka dengan gemetaran yang amat sangat. Dengan lembut ditariknya tangan Solar yang terborgol dan bergumam,

"Solar, maaf … akan sakit sedikit."

Halilintar menyentakkan tangan adiknya dan borgol itu terpisah. Solar tidak bereaksi apa-apa. Darah masih mengalir di bawahnya …

"Pintu keluar ada di situ," Gogobi menunjuk ke seberang jendela dengan wajah datar.

Halilintar tidak bicara apa-apa lagi sementara dia berusaha memindahkan tubuh kaku Solar ke atas punggungnya. Dilingkarkannya kedua tangan Solar melewati bahunya, lalu kaki si adik ke kiri-kanan pinggangnya, terakhir disangganya bagian pantat menggunakan jaket miliknya.

"Mana Ayu Yu? Dia tidak mau memberi ciuman perpisahan?" ujar Retak'ka.

"Dia kabur tadi. Tak tega ..." balas Cakada yang dari tadi diam saja dan mengamati.

Halilintar pergi dari ruangan itu tanpa bicara. Dia merasa ini semua belum berakhir. Dengan Solar dalam kondisi demikian, dia harus terus menggendong sang adik sampai mereka bisa menemukan bantuan terdekat. Ketika sudah keluar dari rumah itu, dia melihat bahwa betul-betul hanya ada hutan di sekitarnya. Sial. Dicobanya mencari jalan setapak yang mengarah turun, tapi tak ada di mana-mana. Halilintar harus menerobosnya sendiri. Untungnya dia masih punya cukup tenaga dan dengan sebelah tangan menyingkirkan dahan-dahan pohon yang menghalangi jalan sementara tangan satunya menahan tubuh Solar di gendongan. Luka-lukanya sendiri tidak lagi terasa sakit.

Halilintar berjalan dan terus berjalan secepat kakinya bisa membawanya, hanya Solar yang ada di pikirannya sekarang. Bisa dirasakannya Solar masih menangis. Punggung Halilintar terasa hangat kena rembesan air mata dan lama-lama terasa bahwa di bawahnya juga ada yang merembes—dari jaketnya. Halilintar terkejut mendapati Solar berdarah cukup banyak yang bahkan tidak bisa ditahan oleh kain jaket. Tapi astaga, bagaimana coba, caranya menghentikan perdarahan dari dalam situ? Si sulung menurunkan adiknya pelan-pelan lalu menyobek sebagian kain celana panjangnya, berpikir akan membuat semacam perban untuk bagian selangkangan adiknya.

"Solar … maaf ..."

Halilintar yang berjongkok tertegun mendapati mata Solar terpejam. Wajahnya begitu pucat.

"Solar?" Diguncangnya bahu sang adik, tak ada respon. Tangan Halilintar bergetar mencari denyut nadi adiknya. Lemah sekali. Halilintar tahu bahwa sangat berbahaya kalau orang kehilangan banyak darah terus-menerus.

Tiba-tiba kepala Halilintar sendiri terasa sangat sakit. Bukan, ini bukan serangan vertigo. Dia belum pernah sakit kepala yang seperti ini … kepalanya seperti dihantam godam panas dari dalam, membuatnya berkeringat dingin, dan seluruh tubuhnya gemetaran. Dia tidak boleh tumbang di sini. Solar dalam bahaya. Tapi Halilintar sendiri tak sanggup bangkit lagi, dia ambruk ke depan dan merasakan otot-ototnya seperti kejang.

Berikutnya ada suara-suara.

"Serangan putus obat?"

Mata Halilintar membelalak. Itu suara Retak'ka. Habislah sudah … pria itu muncul kembali di hadapannya dengan seringai lebar.

"Cepat sekali timbulnya … lebih cepat dari dugaanku."

"Rencana berhasil, Bos?" gumam seorang pria.

"Oh, tidak ..." terdengar gumaman seorang wanita.

"Harusnya kau tunggu di helikopter saja, Ayu Yu." Suara pria yang satu lagi juga terdengar.

Retak'ka menyahut, "Dia sendiri yang bilang mau menggendongnya untuk terakhir kali. Biarkan saja."

Halilintar tak bisa bergerak, tak bisa melawan maupun bersuara apa-apa, ketika tubuhnya diangkat dengan mudah oleh Retak'ka. Rasanya sungguh menyiksa—seluruh tubuhnya meneriakkan sesuatu, mengharapkan sesuatu, yang adalah efek dari turunnya kadar obat yang tadi ada di peredaran darahnya.

Ayu Yu menggumamkan kata-kata yang tak jelas sebelum mendekati Solar, menggendongnya lalu memberinya suntikan di lengan kiri. Halilintar masih bisa mendengar Solar merintih pelan saat jarum suntik itu menusuk lengannya, lalu ada yang menyebut 'Bangkok' dan nama pria jahanam yang satu lagi, 'Vargoba'. Dari percakapan yang hanya bisa ditangkapnya sebagian itu, sepertinya Vargoba yang membawa helikopter ke sini, bahwa dia sudah sepakat dengan Retak'ka mengenai harga Solar yang mahal untuk bekerja pada keduanya, dan Halilintar juga akan dibawa Retak'ka untuk melanjutkan percobaan obatnya. Mereka dibawa kembali ke tempat semula, seluruh perjalanan yang telah ditempuh Halilintar tadi percuma saja.

"Siang hari kaupakai otaknya … malam hari kupakai badannya. Mahal memang, padahal harus kubagi dia denganmu, tapi kuakui badannya bagus sekali. Aku tak sabar membuat tato di kulit mulus itu, dan itu baru permulaan saja. Hahaha!"

Sekujur tubuh Halilintar gemetaran hebat, perutnya terasa mual mendengar Vargoba membicarakan Solar seperti itu. Ia bisa melihat Solar dipindahkan dari gendongan Ayu Yu ke sepasang lengan kekar Vargoba yang menyeringai seperti setan. Pria besar itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kalung rantai, membuat Halilintar melotot marah. Benda seperti kalung untuk hewan peliharaan itu hendak dipasangnya di leher Solar, tapi Vargoba tak langsung melakukannya.

"Hmm? Ayu Yu? Beraninya kau memberinya cupang di leher?"

Ayu Yu terbelalak. "Apa? Bukan aku! Dia tidak mau kusentuh lehernya."

"Hooo begitu … lihat ini, ada memar di lehernya … kurasa aku tahu kenapa. Siapa kira-kira yang membuatnya?"

Vargoba menyeringai sambil menatap lekat-lekat Solar yang matanya terpejam.

"Ada kakakmu yang belok, eh? Kau sudah pernah disodomi sebelum ini? Adik paling kecil mesti jadi mainan kakaknya. Hahaha."

Masya Allah, apa-apaan tuduhan tak berdasar itu? Halilintar marah mendengarnya, tapi dia sudah tak sanggup bergerak. Dia sendiri menduga bahwa bekas memar di leher Solar masih ada sejak cekikan Blaze waktu itu—eh, bukannya sudah tiga minggu lebih? Dan masa Ayu Yu tidak melihatnya sebelum ini? Apa Solar menutupinya dengan make-up sebelum pergi belanja? Halilintar sendiri tahu betapa menakjubkan kualitas make-up Solar yang awet bahkan meski kena keringat, tapi ini bukan saatnya memikirkan itu.

Sambil masih tertawa mesum, Vargoba memasangkan kalung itu kepada Solar, yang ternyata masih sadar dan meronta-ronta karena merasakan benda asing di lehernya. Vargoba menampar pipinya keras-keras, membuat kepala Solar terkulai ke kanan, anehnya kemudian pria besar itu malah mengelus-elus pipi yang ditamparnya barusan. Dengan kedua tangannya yang sudah bebas, Solar menyingkirkan tangan Vargoba dari wajahnya dan mencoba melepaskan diri. Vargoba melepasnya, Solar terjatuh ke tanah dan segera berusaha merangkak kabur. Dengan mudahnya Vargoba menarik rantai itu dan Solar kembali mendengking panik. Dia meronta dalam keputusasaan dan ketakutan yang nyata tercermin di matanya. Vargoba membungkuk di atasnya dengan seringai mengerikan.

"Kau tak bisa ke mana-mana … kau milikku sekarang!"

Halilintar dipaksa melihat Vargoba memerkosa adiknya sekali lagi. Pria itu tampak tak peduli bahwa Solar masih berdarah-darah, seolah menghukumnya dengan sadis karena barusan berusaha kabur. Erangan beruntun yang makin melemah dari Solar membuat anak sulung Amato itu menyerah.

Secercah cahaya, segenggam harapan kecil yang tadinya ada, kini sirna sama sekali.

.

.

.

.

.

bersambung.

.

.

.


.

.

.

Catatan Penulis:

*Berulang kali menguatkan hati dan akhirnya publish bab ini T.T*

Kritik dan saran sangat sangat diterima, apalagi nulis dengan tema seperti bab 8 ini bisa dibilang pertama kali buat Roux. I'm trying not to be explicit but, at the same time, specific. Gimana tuh :")

Untuk Zeya, guest reviewer: Thanks a bunch sudah membaca karya saya dan memberi review! Karena saya nggak bisa PM kamu, jadi saya balas di sini ya. Spekulasimu sudah terjawab sebagian di bab ini, tapi masih akan ada pembahasan lebih lanjut.

Rencananya cerita ini mau ditamatkan di bab sepuluh alias tinggal dua bab lagi, tapi kalau masing-masing terlalu panjang mungkin akan saya bagi dua salah satu atau dua-duanya (bisa jadi tiga atau empat bab lagi).

Di bab berikutnya kita tengok dulu nasib Gempa dan kabar mereka yang masih di rumah. Kapan update? Pertengahan atau akhir November, semoga?

Terima kasih pada semua yang sudah membaca, yang sudah berkenan meninggalkan jejak berupa fave maupun review. Kalau ada jejaknya, Roux akan sempatkan untuk menyapa kalian satu-satu.

Salam sehat.

[30-31.10.2021]