"Gem .. Gempa, bangun, Nak. Dengarkan Ayah baik-baik."

Gempa bin Amato berusia enam tahun mendongak terbangun sambil mengusap mata.

"Kita akan pindah. Malam ini juga. Kemasi barangmu, secukupnya saja. Kita akan beli lagi nanti."

Gempa menguap. Apa yang ayahnya barusan bilang? Dia masih sangat mengantuk dan mengira itu hanya mimpi, lagipula suasana kamar masih gelap. Tapi berikutnya Gempa mendengar suara tangisan. Ada adiknya yang menangis ...

Lamat-lamat dikenalinya suara itu: yang menangis adalah Duri.

Mata Gempa langsung membelalak terbuka. Baru beberapa jam sebelumnya Duri berhenti menangis setelah Cattus mati berdarah-darah. Kenapa dia menangis lagi malam ini? Belum sempat Gempa beranjak dari tempat tidur, lampu kamar sudah dinyalakan.

"Hoaaaaaahm." Taufan di ranjang sebelahnya menguap lebar-lebar.

"Apa sudah pagi?" Terdengar suara Halilintar, dari nadanya dia juga masih dilanda kantuk.

"Ayah, kita mau ke mana?" tanya Blaze yang kedengaran bersemangat. "Oi, Ice! Bangun! Kita mau jalan-jalan!"

"Mmm ..." Hanya gumaman malas yang keluar dari mulut Ice.

"Duri sayang, jangan menangis lagi …" Suara seorang perempuan terdengar. Gempa menoleh, melihat ibu mereka sedang memeluk bocah berpiyama hijau daun.

"Sudah bangun semua?" Amato mengedarkan pandangan. Solar sudah beranjak dari tempat tidurnya di dekat jendela. "Ice sudah bangun?"

Blaze mengguncang-guncang bahu adiknya yang berpiyama biru laut dan dibalas dengan erangan malas.

"Sudah, Ayah!" jawab Blaze dengan nada riang, tampaknya dia satu-satunya yang tidak terganggu dengan agenda dadakan bangun tengah malam ini.

Amato menghela napas. "Kita akan pindah rumah. Ke rumah kakek. Di sana kalian akan punya banyak teman, juga ada banyak kucing."

.

.

.

.

.


.

.

.

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Through the Darkness (c) Roux Marlet

-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-

Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers

Family, Drama, Angst, Hurt/Comfort, Crime, Suspense

.

.

.


.

.

.

.

.

Bab Sembilan: Gagal

.

.

.

Pada dasarnya Gempa menyukai perannya sebagai pemimpin dan pengatur rumah tangga 'kecil' yang dipasrahkan kepadanya oleh orang tua mereka. Berkat didikan Pak Guru Kokoci dia memang menjadi pemimpin yang baik bagi saudara-saudaranya yang bereaksi berbeda-beda terhadap kepindahan yang sangat mendadak saat mereka berumur enam tahun. Halilintar banyak diam setelah mabuk laut di perjalanan, Taufan dan Blaze kecewa mendapati rumah Tok Aba kecil sekali (dalam konteks untuk digunakan main bola atau kejar-kejaran), Ice tampak tak terlalu peduli tapi mengeluh soal kasur kapuk yang membuat punggungnya sakit, Duri masih murung karena kehilangan kucing piaraan, dan Solar juga ikut murung karena alasan yang sama.

Tok Aba sendiri sangat baik hati. Di hari kedatangan mereka ke Pulau Rintis, sang kakek membuatkan minuman cokelat hangat dan cake cokelat besar untuk semuanya—termasuk Ayah dan Ibu. Kamar-kamar dibagi dan dirapikan dalam hari itu juga, ranjang tingkat dan kasur kapuk dipesan dan datang di hari yang sama. Halilintar, Taufan, dan Gempa diberikan kamar di sebelah kamar Tok Aba di lantai satu. Blaze bersama Ice, lalu Duri dan Solar, berbagi kamar di lantai dua.

"Kamar Ayah dan Ibu di mana …?" Gempa bertanya soal pembagian ruang di kamar mereka.

Amato menggeleng. "Ayah dan Ibu nggak tidur di sini ..."

"Ayah, kita pindah kenapa?" Halilintar bertanya dengan suara lemah, masih menyiratkan sisa efek mabuk laut.

"Di Kuala Lumpur banyak orang jahat," sahut Amato singkat.

"Oi Blaze! Kamu buat apa?" Taufan tiba-tiba lari ke luar kamar. Suara tawa terdengar menyusul. Sepertinya Blaze menemukan mainan di gudang Tok Aba di belakang rumah.

Amato menatap ke ambang pintu yang baru saja dilewati putra keduanya, pandangannya menerawang. "Orang-orang itu membunuh Cattus."

"Apa itu benar?" tanya Gempa sambil terbelalak. "Orang-orang yang kemarin sengaja melindas Cattus?"

Amato mengerutkan dahi, membiarkan kalimat berikutnya lolos dengan helaan napas berat, "Benar, Gempa. Kalian hati-hatilah terhadap wartawan, jurnalis, atau siapa pun yang kepengin tahu tentang kehidupan kalian. Jaga adik-adik kalian baik-baik."

Halilintar sudah merebahkan diri di kasur, tampaknya tak terlalu mendengarkan. "Ibu, aku masih pusing," ujarnya agak manja. Sang ibu membelai kepala si sulung dengan lembut dan Halilintar memejamkan mata, wajahnya masih pucat sehabis menumpahkan isi perut di atas kapal sebelumnya.

"Gempa," Amato berujar dengan serius. "Titip saudara-saudaramu, ya. Ingat pesan Pak Guru Kokoci."

Gempa melirik sekilas ke arah Halilintar yang berbaring, lalu ke arah Taufan yang bermain dengan Blaze, lalu mengangguk.

Tak ada harapan lain selain dirinya, rupanya.

Pemimpin itu melayani dan memberi teladan. Kalau kamu mau saudara-saudaramu menuruti permintaanmu, pertama kamu sendiri harus melakukannya, memberi contoh.

Diajari Tok Aba, Gempa belajar mencuci baju, membersihkan perkakas makan, menyapu, mengepel, memasak, sampai belanja. Mereka bertujuh mulai masuk sekolah umum, berangkat ke sekolah dengan seragam dan berjalan kaki. Taufan dan Blaze yang memang karakternya extrovert dengan cepat punya banyak teman di sekolah dan Solar yang memang pintar langsung melejit menjadi peringkat kelas. Teman-teman bahkan guru di sekolah sempat takjub mengetahui mereka kembar tujuh, tapi tak ada yang terlalu meributkannya.

Mulanya Gempa seorang diri yang mengerjakan semua tugas rumah tangga, tapi seiring waktu dia membagi tugas pada yang lain. Gempa masih ingat apa yang mula-mula membuatnya mengandalkan Halilintar, saudaranya yang pertama kali menawarkan bantuan secara sukarela. Waktu itu tahun pertama mereka tinggal di Pulau Rintis dan Gempa sedang menyapu seisi rumah sepulang sekolah. Tok Aba menjaga kedainya; Taufan, Blaze, dan Duri bermain di halaman belakang; sedangkan Solar ada tugas kelompok di klub sains sehingga belum pulang. Ice sudah pasti sedang terkapar di kasur. Hanya Halilintar yang ada, tepatnya mengerjakan pe-er di dalam kamar. Gempa sudah turun dari menyapu di lantai dua ketika dihadang Halilintar persis di dasar tangga.

"Sini sapunya."

"Eh?"

"Tanganmu lecet 'kan? Aku lihat waktu kamu pegang sendok di meja makan tadi. Sini, aku saja yang nyapu lantai satu."

Gempa melongo saja ketika sapu di tangannya ditarik oleh sang kakak.

"Huuh. Kita minta Tok Aba beli sapu baru, ini tongkatnya ada bagian yang pecah. Lain kali jangan memaksakan diri, Gem. Kalau sakit itu bilang, jangan dipendam sendiri."

Lain waktu rupanya Duri berinisiatif sendiri merapikan pot-pot tanaman Tok Aba di teras belakang (dan berakhir dengan membuat pupuk berceceran sampai ke dapur, tapi Gempa tak sanggup memarahi adiknya yang lugu itu). Lalu Solar yang ikut merapikan perkakas dapur berbekal busur derajat dengan akurasi dan presisi yang membuat Gempa tak habis pikir ("Yang ini masih miring dua puluh derajat ke kiri. Tenang saja Kak Gem, aku bisa mengukurnya dengan tepat, kok. Nanti pasti rapi!") Kadang-kadang didapatinya Ice yang tiba-tiba memijat bahunya saat dia sedang beristirahat di sofa ruang tamu. Biasanya kejadian ini disusul Blaze yang pulang dari supermarket membawa es krim dan Gempa tentu saja ditawari. Gempa senang mendapati adik-adiknya mulai bisa diberi tanggung jawab, dengan porsi masing-masing tentunya.

Benar kata Pak Guru Kokoci. Pemimpin bukan asal mengatur dan main perintah saja, Gempa harus mencontohkan dulu baru bisa mendelegasikan tugas. Lagipula pemimpin tak ada artinya kalau tidak ada orang-orang yang dipimpin. Dia dengan iseng menamai diri manajer rumah tangga dan mengangkat Halilintar, kakak sulungnya, sebagai wakilnya—karena Halilintar lebih berwibawa (atau seram) daripada dirinya, yang kadang diperlukan untuk menundukkan saudara-saudara mereka yang troublemakers. Taufan, kakaknya yang nomor dua, termasuk salah satu biang kerok yang tidak bisa diandalkan.

Bertahun-tahun tinggal di Pulau Rintis, Gempa menyadari. Ayah dan Ibu memindahkan mereka ke tempat ini untuk menjauhkan media massa dari kehidupan mereka—anak kembar tujuh yang langka, yang belum pernah ada di dunia. Mereka bisa menjalani masa kecil dengan gembira layaknya anak-anak pada umumnya, tumbuh besar seperti remaja yang lain, dan kini mereka semua berumur tujuh belas tahun. Usia yang sudah mendekati dewasa dan dalam beberapa hal sudah memenuhi syarat, seperti Halilintar yang pertama kali mengambil surat izin mengemudi.

Gempa dan Halilintar selalu berperan sebagai pengatur rumah tangga dan mereka saling melengkapi. Kalau Halilintar emosi, Gempa sering menjadi remnya. Saat Gempa bingung atau panik dan tidak bisa memutuskan sesuatu, Halilintar bisa mengisi kekurangannya dengan pembawaannya yang tegas dan pemikir.

Namun, kasus kali ini berbeda. Halilintar diculik sebagai ganti dirinya dan Solar yang dibebaskan. Halilintar tidak ada untuk dimintainya pertimbangan, selain itu sang kakak pasti kecewa padanya. Bagaimana bisa Gempa dan Solar sampai diculik orang, apalagi orang yang sama dengan penculik Blaze dan Ice belum ada sebulan yang lalu? Gempa tidak tahu seperti apa ekspresi kakaknya saat dia dilepaskan.

Dengan pikiran kalut Gempa didorong untuk berjalan dengan mata tertutup oleh penjahat, kakinya yang telanjang bisa merasakan rumput dan bebatuan di perjalanan.

"Nah, selamat tinggal."

Dengan satu dorongan kuat, Gempa jatuh tanpa bisa melihat apa pun.

"Waaaaaaaah!"

Jatuhnya nyaris vertikal ke bawah, tubuhnya terguling-guling, rasa sakit menderanya akibat goresan dan tumbukan dengan entah apa saja. Gempa menyebut nama Tuhan dalam hati, berdoa minta perlindungan dan pasrah akan apa pun yang terjadi setelah ini. Saat sudah sangat yakin ajalnya bakalan tiba sebentar lagi, Gempa menabrak sesuatu dengan keras dan tubuhnya berhenti berguling. Dengan tangan yang sudah bebas dan sambil mengaduh, direnggutnya kain penutup matanya. Penglihatannya tak langsung diserbu cahaya—banyak pohon lebat di sekitarnya. Gempa mendongak. Astagfirullah, dia didorong jatuh dari atas tebing! Dan di bawah sana, menurun semakin dalam, ada jurang yang saking gelapnya tak tampak dasarnya.

Gempa gemetaran sambil mengucap syukur. Para penjahat itu mau membunuhnya? Untung saja Gempa menabrak pohon yang satu ini, yang batangnya paling besar, sedangkan di sekitarnya adalah pepohonan dengan batang tipis, tapi punggungnya jadi sakit sekali.

Satu hal lagi ... kalau Solar juga didorong seperti dirinya tadi, apa adiknya itu cukup beruntung tertahan oleh pohon atau langsung jatuh ke bawah situ ...?

"Solar!" panggil Gempa sambil berusaha bangkit dengan limbung. "SOLAR!"

Suara Gempa menggema dalam kesunyian. Dia tidak bisa berdiri dengan benar lalu terjatuh di atas lututnya, sekujur badannya sakit dan kaku seperti habis ditusuk ribuan jarum. Gempa tidak tahu apakah itu syok akibat disetrum tadi atau karena tahu dirinya hampir terbunuh. Dia memaksa dirinya untuk merangkak dan terus memanggil nama adiknya.

"Solar ...!"

Tidak ada suara di sekitar Gempa.

Halilintar tadi datang untuk menolong mereka dan merelakan diri ganti ditahan demi bebasnya Gempa dan Solar. Gempa harus bisa menemukan adiknya itu, kalau tidak, pengorbanan Halilintar akan sia-sia saja. Sambil terus merangkak dengan berpegangan ke belukar-belukar di sekitarnya, Gempa mencoba memanjat tebing itu pelan-pelan. Napasnya tersengal-sengal menahan sakit dan tangis yang hampir pecah. Gempa tak boleh jadi cengeng di saat begini!

Salah satu belukar itu tajam sekali dan menggores telapak tangan Gempa sampai berdarah, membuatnya terpekik pelan. Gempa berhenti merangkak, air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Perihnya luka itu membuatnya teringat bahwa Duri tadi juga berdarah seperti ini. Apa jadinya kalau Duri tahu semua ini? Di mana Solar saat ini dan apakah dia masih hidup kalau didorong jatuh ke jurang? Bagaimana caranya dirinya bisa keluar dari sini? Bagaimana nasib Halilintar nanti? Gempa berbaring di tanah, menangis tersedu-sedu memikirkan semua itu.

Gagal.

Gempa gagal menjadi manajer rumah tangga. Dia gagal menjaga Solar di luar rumah. Dia gagal menjalankan himbauan Halilintar.

Dia gagal ...

Selama bermenit-menit Gempa menumpahkan air matanya, sesenggukan seorang diri meratapi kegagalannya. Langit sudah semakin gelap ketika Gempa berhenti menangis karena kehabisan tenaga.

Memangnya kau itu siapa, Gempa bin Amato? Ada suara yang berseru di dalam pikirannya sementara rasa dingin dari tanah yang basah mulai menjalari tubuhnya. Kau itu manusia, yang diciptakan penuh kelemahan …

Gempa tersentak.

Mana ada manusia yang sempurna! Kesempurnaan hanya milik Allah.

Seketika Gempa teringat sebuah kutipan dari pengajian beberapa hari yang lalu,

"Allah memberimu cobaan berat karena Dia tahu kamu sanggup mengatasinya ..."

Gempa menggigit bibir, air matanya hampir jatuh lagi, tapi bukan untuk meratapi nasib atau mengasihani diri sendiri. Dia tidak boleh diam saja dan menangisi diri di sini. Nasib Halilintar, dan mungkin juga Solar, bergantung pada dirinya. Dia harus sanggup—dia harus bisa keluar dari masalah ini. Tuhannya tidak akan memberinya cobaan seberat ini kalau Dia tahu Gempa tidak sanggup.

Gempa berusaha bangkit sekali lagi dan kali ini dia berhasil berdiri, tapi saat mencoba menegakkan punggung dia kesakitan. Gempa berjalan setengah membungkuk, kali ini bisa berpegangan pada dahan-dahan pohon yang rendah. Daripada coba memanjat ke atas tebing, Gempa kini memilih berjalan ke arah horizontal, berharap bisa menemukan jalan tembus yang aman.

"Solaaaar!" Gempa kembali memanggil nama adiknya. Tetap tak ada suara di sekitarnya. Sekian menit atau jam sudah berlalu dan Gempa masih belum menemukan hal yang berbeda. Hanya ada pohon, semak belukar, lalu pohon lagi, belukar lagi. Dia bahkan tidak tahu dia ada di sebelah mana dari rumah. Makin lama langkahnya makin terseok-seok, putus asa kembali melanda. Semangat juangnya mengendur lagi. Kemudian sebuah akar yang menonjol membuatnya tersandung dan terjerembab mencium tanah.

Habislah … punggungnya sakit sekali, kakinya lecet, tangannya perih, pandangannya berkunang-kunang, dan kini dahinya benjol ... tapi tidak, Gempa belum mau berhenti di sini. Perlahan dia merangkak lagi dengan segenap kekuatan yang tersisa. Kepalanya terasa berat, jadi Gempa menunduk dan terus menatap ke tanah sembari merangkak.

Kemudian, terdengar suara-suara.

"Hooooooi."

Awalnya Gempa tidak menyadarinya saking sudah di perbatasan antara sadar dan tidak. Sampai suara-suara itu makin keras dan ada yang menyentuh bahunya. Gempa berjengit kaget dan mendongak.

"Bang Gembul?"

Badan kurus dan rambut dicat warna ungu itu ...

"... Probe?" Gempa bergumam serak.

.

.

.

.

.

Taufan menghela napas lega ketika Duri sudah tenggelam dalam tayangan video lucu dari laptopnya. Anak nomor enam itu duduk di kursi belajar milik Taufan di dalam kamar, sudah bisa tertawa-tawa dan melupakan rasa sakit di jarinya yang tadi teriris.

Sudah satu jam sejak Gempa dan Solar pergi belanja dan kelihatannya tidak ada keributan berarti di lantai dua. Pastilah Tok Aba dan Ice berhasil menenangkan Blaze. Barusan ada chat dari Gempa di grup kembar tujuh tentang pulang terlambat. Taufan maklum kalau supermarket ramai, toh meski pandemi tak bisa dihindari orang akan berbelanja lebih banyak saat menjelang hari raya begini. Dia ingat harus menghubungi Tok Kasa untuk berkonsultasi. Karena merasa tak sopan kalau langsung menelepon, Taufan mengetik pesannya, menceritakan sesingkat mungkin peristiwa yang baru saja terjadi. Sambil kembali ke dapur untuk membereskan masakan yang terbengkalai, Taufan sudah selesai mengirim pesannya.

Untuk pesan Gempa di grup, dijawabnya, "Oke Gem. Banyak diskonan nggak? Solar diawasi ya, nanti bisa kalap belanja make-up." Tentu saja konteksnya bercanda. Taufan selalu bercanda kalau situasi memungkinkan (bahkan jika situasi tidak memungkinkan). Entahlah, selera humornya beda sendiri di antara yang lain. Biasanya yang bisa memahaminya hanya Blaze, tapi ...

Ah, Gempa sudah berkabar soal Blaze ke Halilintar belum, ya? Dengan iseng diteleponnya nomor sang kakak. Apotek yang dituju, tempat membeli obat Tok Aba, memang jauh dan Taufan nyengir sendiri membayangkan Halilintar yang pasti kesal kalau ponselnya bergetar-getar terus dalam saku selagi dia berkendara. Apalagi kalau yang menelepon adalah Taufan yang memang sering iseng, tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba telepon.

Namun, ponsel Halilintar tidak aktif. Agak aneh, mengingat kebiasaan si sulung yang saat sedang galau saja mematikan ponsel. Saat berangkat tadi mood-nya baik-baik saja. Apa mungkin ada kabar terbaru dari Ayah dan Ibu yang membuat Halilintar kesal? Sampai hari ini belum ada kepastian apakah orang tua mereka akan pulang untuk hari raya.

Tiba-tiba Taufan bergidik. Dia sendiri heran karenanya. Tidak ada angin berhembus dari jendela dapur, jadi barusan itu perasaan apa?

Kenapa rasanya ada yang tidak beres?

Taufan pergi ke ruang tamu dan melayangkan pandang ke kamarnya. Duri masih asyik menonton. Dibukanya lagi ponsel dan dikirimnya chat ke nomor Ice, yang rupanya sedang daring.

'Blaze gimana?'tanya Taufan.

'Aman, Kak. Dia nangis tadi, sekarang tidur. Sementara di ranjangku.'

'Kamu sama Tok Aba apain dia?'

'Ajak bicara.'

Dahsyatnya kedua orang ini, Taufan takjub dalam hati. Blaze tadi betulan mengamuk dan mereka berdua bisa menenangkannya hanya dengan bicara. Tidak bisa dibayangkan kalau tidak ada Tok Aba dan Ice tadi. Bisa-bisa tidak hanya Duri yang terluka.

Sekarang Duri sudah kembali ceria dan Blaze sudah tenang. Untuk sementara Taufan tidak perlu khawatir, tinggal menunggu balasan dari Tok Kasa saja. Taufan merasa malas mengetik panjang lebar ke Halilintar, jadi mau ditunggunya saja kakaknya itu pulang baru bercerita. Saat akan kembali ke dapur lagi, Tok Aba rupanya sudah turun dari lantai dua.

"Halilintar masih di apotek atau tidak ya? Atok ingat pernah beli minyak aromaterapi yang bagus untuk menenangkan pikiran, biasanya beli di sana. Coba kau hubungi dia, Taufan, biar dibelikan sekalian, untuk Blaze."

Taufan mengacungkan ponselnya. "Ponsel Kak Hali nggak aktif, Tok. Mungkin dimatikan."

Sang kakek tertegun. "Oh, begitu. Coba kutelepon saja apoteknya."

Jawaban dari sang pemilik apotek di telepon sejurus kemudian membuat Tok Aba dan Taufan terkejut.

"Haiya, Halilintar sudah pulang dari tadi, ma. Mestinya sudah sampai rumah."

"Tok Aba, semoga saja ini bukan seperti yang kupikirkan ..." gumam Taufan, mulai panik setelah telepon ditutup.

Pria lanjut usia itu mengerutkan dahi dengan sorot khawatir. "Gempa dan Solar … coba telepon mereka."

Taufan menunggu nada sambung di ponselnya dengan hati berdebar sementara Tok Aba naik ke lantai dua untuk memanggil Ice.

"Kak Hali nggak bisa ditelepon?"

Cepat sekali si anak nomor lima turun ke lantai satu, parasnya juga tegang dan khawatir seperti Tok Aba.

Taufan menggeleng. "Nomornya Gempa dan Solar nggak aktif juga."

"Atok telepon polisi," ujar sang kakek sambil beranjak ke arah telepon.

"Kak Taufan coba share location," usul Ice sambil mengeluarkan ponselnya sendiri. "Kakak ke Kak Gempa, aku ke Solar."

"Udah, Ice. Ponselnya Gempa mati."

Ice menunduk menatap layar gawainya sambil menggigit bibir. "Solar juga. Tadi ada chat dari Kak Gempa di grup ya? Jam berapa itu?"

"Dua puluh menit yang lalu."

Duri menjengukkan kepala dari kamar, mungkin videonya sudah habis. "Ada apa, Kak?"

Taufan dan Ice saling bersitatap tegang, saling melempar tanggung jawab dalam diam tentang siapa yang akan bercerita ke Duri. Laporan Tok Aba ke polisi melalui telepon menjelaskan semuanya.

"Cucu-cucu saya pergi belanja dan belum pulang … tiga orang, yang satu berkendara motor, yang dua jalan kaki, ponsel mereka mati semua ..."

Duri terkesiap. Berikutnya suara Tok Aba meninggi, sesuatu yang belum pernah terjadi.

"Sudah satu setengah jam yang lalu … terlalu dini untuk dilaporkan sebagai kasus orang hilang? Dua cucu saya baru diculik orang tiga minggu yang lalu, yang benar saja!"

.

.

.

.

.

"BANG GEMBUL!"

"Adu Du ..." gumam Gempa lirih. Dia dipapah berjalan oleh Probe menuju daerah yang agak lengang di dekat puncak tebing. Pemuda berambut hijau itu menghampirinya dengan mata mendelik.

"Kau apakan dia, Probe?!"

"Eh? Aku tolong dia lah!"

"Mana ada? Kenapa Bang Gembul nggak pakai baju dan luka-luka begini?"

"Pak Bos, aku ketemu dia sudah seperti ini!"

"Ceritanya panjang," sela Gempa. "Aku mau minta tolong kalian."

"Cerita dulu!" sergah Adu Du.

"Ehhh Pak Bos, Bang Gembul harus segera ke kantor polisi."

"Buat apa?"

"Saudaranya diculik!" Probe berseru sambil membelalakkan mata.

"APAAA?! Kenapa tidak bilang dari tadi, Probe?!"

"Ish ish, aku datang Pak Bos langsung main tuduh saja, sih."

"Tunggu. Kalian kok bisa di sini?" tanya Gempa yang pusing dengan pertengkaran dua gelandangan itu.

"Berburu kayu bakar, Bang," sahut Adu Du dengan nada bangga.

"Mencari, bukan berburu, Pak Bos. Memangnya hewan?"

"Diam kau Probe! Ehhh kau tahu tak, aku menemukan apa di sebelah sana?"

"Apa? Apa?" Probe membeo.

Gempa kaget dan berjengit ketika tangannya ditarik oleh Adu Du, persis di bagian yang berdarah pula.

"Ikut aku, Bang Gembul!"

"Adu Du … tanganku sakit ..." Gempa meringis sambil tertatih. Probe segera memegangi bahunya.

"Pak Bos, pelan-pelan! Bang Gembul terluka lho!"

Adu Du tampak sangat bersemangat sampai tak memedulikan Gempa yang kesakitan. "Sini cepat. Tadi aku sudah mengira pasti ada kau atau saudaramu di dekat sini."

Gempa tersentak. "Apa kau melihat kembaranku?"

"Tidak," sahut Adu Du, "tapi ini seru sekali! Ternyata Bang Gembul betulan ada di sini! Lihat itu ..."

Belasan meter di depan mereka, jalan terbuka ke arah menurun. Jalan beraspal itu tidak lebar dan memang berakhir di situ, tepat ketika susunan pohon dan belukar mulai merapat, dan di salah satu pohon berdiri bersandar …

"... sepeda motor kakeknya Bang Gembul!" sorak Adu Du.

"Astaga, Halilintar ..." Gempa tersungkur di tanah sehabis mengucapkan itu, membuat Probe kaget kemudian heran karena Gempa malah terkekeh.

"Alhamdulillah ya Allah …" Gempa masih sempat berbisik sebelum mendongak lagi. "Mesinnya masih menyala pula!"

"Iya, ada yang lupa mencabut kuncinya?" ujar Adu Du. "Kalau aku tidak ingat ini sepeda motor kakekmu, pasti sudah kubawa ke markas dari tadi."

"Mencuri motor itu tak patut, Pak Bos," celetuk Probe, yang dihadiahi jitakan di kepala oleh Adu Du sementara Gempa berdiri dan melangkah tertatih ke arah kendaraan itu.

"Apa di sini jauh dari rumahku?" tanya Gempa.

Kedua pemuda itu saling berpandangan. "Jauh, Bang," sahut mereka kompak.

Gempa sudah menduganya. "Ada kantor polisi di dekat sini?"

Adu Du mengernyit. "Ada, sih."

"Tunjukkan jalannya."

Probe ragu-ragu. "Pak Bos, biasanya kita menghindari polisi 'kan ...?"

"Ish, kau ini! Bang Gembul butuh bantuan kita! Ayo!"

Gempa sudah sampai di sepeda motor Tok Aba sambil menatap takjub. Halilintar meninggalkan sepeda motor dengan mesin menyala dan kunci menancap—dia pasti sudah memperkirakan bahwa dia tidak bisa pulang dan akan ada yang membutuhkan kendaraan itu, mengambil risiko besar dan untungnya kendaraan itu aman—bahkan bungkusan obat Tok Aba masih ada di gantungan. Gempa meraih setang dengan ragu-ragu. Dia agak menyesal karena tidak pernah minta diajari mengendarai sepeda motor, lagipula dia belum legal untuk berkendara karena belum punya driving license. Tapi ini bukan saatnya keras kepala dengan prinsip dan moral. Kakak tertuanya dan adik terkecilnya dalam bahaya. Saat dia sedang memikirkan itu, Adu Du sudah melompat ke atas jok.

"Ayo naik, Bang! Aku pernah jadi pebalap, tahu!"

Gempa terbelalak. Probe mendorongnya mendekat dan membantunya naik.

"Ayo Bang Gembul. Percaya pada Pak Bos. Dia jagoan balap!"

"Eh, tapi ..."

"Kita pasti sampai dalam sekejap!" Adu Du berseru bangga sambil memutar tuas setang, membuat mesin kendaraan itu menderu-deru.

"Kita bonceng tiga?" Gempa sudah duduk terjepit di antara Adu Du dan Probe.

"Tenang saja Bang, kami 'kan kurus, joknya muat kok," sahut Probe.

"Bukan masalah muat atau enggak ..." Belum selesai Gempa berucap, sepeda motor itu sudah meluncur turun dengan cepat—bukan hanya karena jalanan memang menurun, tapi juga karena sengaja dipacu sampai maksimal. Dia memekik kencang ketika sadar Adu Du tidak main-main soal 'sampai dalam sekejap'.

"Mwahahahahaha!" Adu Du terbahak kegirangan sambil bermanuver menghindari batu-batu di jalan.

"Wiiiiii~" Probe ikut-ikutan girang.

"Alamak, alamak!" Gempa memejamkan mata sambil mencengkeram erat pinggiran baju Adu Du yang lusuh, mengernyit ketika bau keringat yang kotor menusuk hidung. Dia hanya berharap mereka bertiga bisa sampai di kantor polisi dengan selamat—lebih utama daripada cepat, tapi sebetulnya dia juga perlu cepat—dan semoga saja sepeda motor Tok Aba, juga Gempa sendiri, masih utuh ketika mereka sampai.

.

.

.

.

.

"Kali ini bertiga ..." gumam Ice di ruang tamu sambil memeluk Duri. Taufan berdiri di depan televisi, Tok Aba duduk di kursi dekat telepon.

"Kak Blaze gimana …?" seloroh Duri, mengerut takut di pelukan Ice.

"Dia masih tidur. Lebih baik begitu," sahut Ice. "Kak Taufan, ada rencana apa?"

Kerutan di wajah Taufan masih ditambahi bunyi gigi yang mengertak menahan marah. "Belum lama mereka hilang kontak. Gempa masih bisa mengirim pesan. Harusnya mereka belum terlalu jauh."

"Taufan … harusnya Amato pulang tepat di hari raya besok."

Kalimat Tok Aba barusan membuat ketiga anak kembar tersentak kaget.

"Atok kenapa baru bilang?" Taufan bersuara tak percaya.

"Mereka mau bikin kejutan. Aslinya mereka sudah di Malaysia sejak sepuluh hari yang lalu, tapi harus dikarantina di Kuala Lumpur dulu. Dan Blaze … Amato mau membawanya ke rumah sakit jiwa kali ini. Tapi ..."

Ice terbelalak. "Kak Blaze nggak sakit jiwa!"

Tok Aba menggeleng. "Atok juga tidak menyebutnya begitu. Ada banyak alasan yang membuat orang berobat ke rumah sakit jiwa, Ice."

"Kak Blaze janji nggak akan mengulangi yang tadi ..." gumam Ice dengan mata berkaca-kaca.

"Sulit untuk menjamin hal itu. Bisa-bisa berikutnya ada di antara kalian yang terluka."

"Apa Blaze akan mau diajak ke rumah sakit jiwa, Tok?" tanya Taufan lugas. "Kalau dia tidak mau, apa Ayah akan menyeretnya ke sana?"

"Atok sedang memikirkan cara terbaik. Kupikir keputusan Amato terlalu terburu-buru karena dia belum melihat kondisi Blaze secara langsung, tapi setelah apa yang terjadi tadi …"

"Tidak bisa kita diskusikan sekarang, Tok," sela Taufan sambil mengacak rambutnya sendiri. "Kak Hali, Gempa, dan Solar belum pulang."

"Ya, benar." Tok Aba menghela napas dalam-dalam. "Mestinya bukan kebetulan ponsel mereka bertiga mati semua. Sudah tiga jam sejak Halilintar pergi, dua jam sejak Gempa dan Solar pergi."

"Apa mereka diculik …?" seloroh Duri yang sudah meneteskan air mata diam-diam.

"Kita belum tahu, Duri," sahut Ice, mengeratkan pelukannya dan berdoa di dalam hati. Dia teringat lagi percakapannya dengan Blaze di kamar beberapa menit sebelumnya, saat Blaze sudah tidak lagi agresif dan hanya mengeluh soal tangan yang sakit karena dipuntir Gempa.

Blaze berhasil diajak duduk oleh Ice lalu diajari sang adik untuk menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan, sebuah teknik dasar meditasi. Dalam klub ekstrakurikuler, Ice sering meditasi sebelum berlatih memanah, karena itu membantunya untuk fokus—meski seringnya dia malah kebablasan tidur.

Tok Aba menyimak di kursi belajar milik Ice sementara kedua anak kembar itu berdialog di ranjang bawah.

"Menurut Kak Blaze, aku ini apa?"

Untuk pertanyaan Ice barusan, Blaze tidak langsung menjawab dan malah mengernyit.

Ice mencoba usul, "Beruang kutub mungkin, karena hibernasi terus?"

"Ish, bukan lah!" Blaze mendengus. "Kamu adikku! Adik yang paling kusayang."

"Yakin? Yang paling kamu sayang, Kak?"

"Kenapa sih?" balas Blaze sewot sambil menatap mata biru adiknya. "Kok kamu meragukan hal itu?"

Ice balas menatap, lalu melanjutkan, "Kak Blaze ingat waktu kita sekolah dasar dan pelihara ayam di sekolah?"

Blaze mengangguk, "Ha'ah, kenapa?"

"Kakak sayang ayam-ayam itu?"

"Sayang, dong. Kesayangan-kesayangan aku semua~" Wajah merengut Blaze berubah cerah ketika dia menyebutkan satu per satu nama-nama ayam peliharaan mereka dulu. "Si Petok, si Jago, si Merah ..."

"Eum, Kak Blaze ngapain kalau sama ayam-ayam?"

"Main, kasih makan-minum, bersihin kandangnya, elus bulunya ..."

"Apa ayamnya dipegangin terus atau nggak dibolehin ke mana-mana?"

"Enggak lah." Blaze sewot lagi, seketika paham arah pembicaraan ini. "Ice, kamu bukan ayam."

"Berarti Kak Blaze lebih sayang ayam daripada aku?" Ice bertanya, pura-pura polos.

"Aku nggak mau kamu keluar rumah karena aku sayang kamu, Ice."

"Kak Blaze ... rasa sayangmu padaku membuat Duri terluka. Kalau seperti itu sudah bukan sayang lagi namanya."

"Memangnya tadi Duri kenapa, sih?"

"Aku juga nggak paham karena nggak lihat. Mungkin tangannya teriris pisau."

"Jadi salahku gitu, Duri terluka?"

Ice menggeleng. "Nope, aku nggak bilang begitu, Kak. Begini … aku tahu Kak Blaze tahu bahwa yang kamu lakukan ini berlebihan. Duri bahkan cuma bilang mau mengajakku pergi, belum pergi betulan, dan reaksimu tadi ..." Ice membiarkan kalimatnya tidak selesai.

Sang kakak merengut lagi. "Aku nggak mau kamu celaka di luar rumah, Ice."

"Tapi Kak Blaze mau Duri terluka di dalam rumah?"

Blaze hanya diam.

"Apa Kak Blaze nggak sayang Duri?"

"Bukan begitu ...!" Blaze kesulitan mencari kata. "Aku sayang kalian semua ... tapi kamu yang paling kusayang, Ice."

"Aku juga paling sayang Kak Blaze dari antara semuanya," ujar Ice tulus.

"Jadi harusnya kamu tahu kayak apa rasanya … nyaris kehilangan orang yang paling kamu sayangi." Suara Blaze melirih di akhir kalimat.

Mata Ice berkaca-kaca. "Kalau kamu menyayangi seseorang, kamu juga harus siap untuk melepasnya suatu saat, Kak Blaze. Di dunia ini nggak ada yang abadi." Sebelum Blaze bisa membantah, Ice menoleh ke arah kakek mereka. "Tok Aba, Atok sayang Nenek, 'kan?"

Tok Aba agak kaget ketika tiba-tiba pembicaraan beralih kepadanya. Pria tua berpeci putih itu tersenyum sedih. "Tentu saja. Sangat sayang."

"Nenek meninggal waktu kami semua masih kecil sekali. Aku juga nggak ingat wajahnya," gumam Ice. "Apa Atok masih sedih?"

Sang kakek menggeleng, senyumnya tetap di sana. "Atok percaya Nenek masih ada, di hati kita semua yang mengenalnya."

"Betul, Tok. Begitu ya, Kak Blaze?" Ice membelai rambut kakaknya. "Kak Blaze waktu dulu si Petok mati saja, nangisnya sampai berhari-hari. Aku nggak kebayang kalau ..."

"Ice bukan ayam," potong Blaze ngotot dan dia merangkul Ice dengan sebelah tangan. "Kamu adikku dan aku kakakmu."

"Benar. Kita saling memiliki dan menyayangi, tapi bukan berarti kita harus selalu bersama-sama. Kak Blaze 'kan mau sekolah bisnis untuk Kokotiam, sedangkan aku mau kuliah biologi maritim. Tempat kuliah dan tempat kerja kita nanti berbeda. Jalan hidup kita akan berbeda, tapi itu nggak mengubah fakta bahwa kita saudara."

Blaze terdiam cukup lama setelahnya. Ice tidak bergerak dari posisinya, demikian pula Tok Aba yang mengamati dalam diam, senyum haru kini terbit menggantikan sepercik kesedihan yang sempat muncul di wajahnya yang renta. Tiba-tiba Blaze menangis.

"Kak Blaze …?"

Blaze menarik Ice ke dalam pelukannya. Erat-erat. Terlihat jelas Blaze menahan-nahan tangisannya agar tidak terlalu keras. Ice menepuk-nepuk punggung sang kakak.

"Maaf," gumam Blaze pelan tapi jelas di antara tangisnya.

"Dimaafkan," balas Ice tenang.

"Aku sudah jahat padamu, Ice. Dan aku bikin Duri terluka. Nggak akan kuulangi ..."

Ice bertahan dalam pelukan Blaze yang perlahan mengendur. Didengarkannya sang kakak menangis sampai puas lalu pelan-pelan menggeser tubuhnya. Blaze jatuh tertidur, kecapekan sehabis meluapkan emosi yang berlebihan. Tok Aba sudah duluan turun ke lantai satu.

Saat mereka mengira satu masalah genting sudah beres, ada masalah lain muncul ...

.

.

.

.

.

BRAKKKK!

"Astaga!"

"Apa itu?"

"OI!"

Seruan-seruan pria dewasa dari dalam kantor polisi itu membahana menyusul bunyi keras yang menghantam pagar.

"Ayo cepat, Probe!"

"Siap Pak Bos!"

Dengan gerakan cepat, kedua gelandangan itu menurunkan tubuh Gempa yang lemas dari sepeda motor yang rodanya melesak sepuluh sentimeter ke pagar kantor polisi itu. Setelah memastikan Gempa aman bersandar ke bagian pagar yang tidak tertabrak, detik berikutnya mereka berdua lari tunggang-langgang.

"BERANDAL!" seru salah seorang polisi yang berhamburan keluar kantor.

"Masya Allah. Adik kenapa …?" Polisi lain berjongkok di dekat Gempa yang merintih dengan mata terpejam.

"Oi! Telepon dokter terdekat!"

"Dia ini … cucunya pemilik Kokotiam, bukan?"

"Iya, yang kembar tujuh itu?"

"Tadi Pak Aba sempat telepon … dia bilang cucunya hilang. Tiga orang."

"Tiga orang …? Dua yang kabur tadi jelas bocah gelandangan!"

"Memang bukan mereka, anak-anak ini 'kan kembar. Berarti yang dua lagi memang hilang. Laporkan segera!"

Bisa dibilang Gempa kini tinggal seperempat sadar. Dia hampir tak bisa merasakan ketika tubuhnya diangkat dan dipindahkan, juga tidak bisa menangkap pembicaraan para polisi di sekitarnya. Berikutnya terasa perih di mana-mana saat luka-lukanya dibersihkan.

"Solar ..." Gempa bergumam pelan, mulai menangis lagi. "Kak Halilintar … Tolong polisi … saudaraku diculik … Retak'ka ..."

Gempa tak bisa mendengar balasan dari para polisi saat dia jatuh pingsan.

.

.

.

.

.

Berikutnya Gempa bermimpi berjalan di sebuah lorong sendirian. Lorongnya nyaris gelap total, tapi dia masih bisa melihat bahwa bentuk lorong itu lurus dari ujung ke ujung dan kedua ujungnya sendiri tidak kelihatan. Secuil rasa takut menyergap hatinya, tapi apa boleh buat karena dia sendiri yang memilih jalan ini.

Sejak pindah ke Pulau Rintis Gempa tahu, tidak ada jalan untuk kembali menjadi dirinya yang dulu. Gempa yang suka main-main, Gempa yang tidur-tiduran di waktu santai, Gempa yang bebas melakukan apa pun tanpa beban. Dia tidak bisa main-main karena perannya adalah manajer—apa jadinya kalau manajer tidak serius dan malah main? Dia tidak bisa terlalu lama tidur karena harus bertanggung jawab atas pekerjaan rumah. Gempa banyak berkegiatan di luar rumah, karena dia ingin lari dari semua beban itu dan menghajar dirinya sendiri sampai lelah agar tidak perlu banyak berpikir. Pekerjaan rumah tangga adalah rutinitas dan Gempa bisa melakukan semuanya hampir otomatis.

Kenapa harus dirinya yang tahu tentang kebenaran di balik kematian Cattus? Kenapa malah dirinya dan bukan kedua kakaknya yang diserahi tanggung jawab sebesar ini di usia sekecil itu? Meskipun itu juga amanat Pak Guru Kokoci dan di kemudian hari Halilintar dan yang lain juga membantunya, tetap saja Gempa merasa dirinya seorang yang ketiban gunung raksasa.

Jadi apa boleh buat. Dia sudah membuat dinding penghalang yang tinggi antara dirinya yang sekarang dengan yang dulu, dan dia harus jalan terus. Di lorong yang gelap, sendirian.

Gelap? Sendirian? Sesungguhnya tidak benar begitu.

Hari ini, di saat Gempa berada pada titik terendah kepercayaan dirinya, dia ditolong.

Oleh pertolongan tak terduga dari kemurahan hati yang bertahun-tahun dicurahkan tanpa pernah mengharapkan balasan. Bantuan tak terduga (lagi) dari sang kakak sulung. Juga berkat dari orang-orang di sekitar mereka yang sudah sejak lama mengenal Tok Aba ...

"Gempa ..."

Seseorang memanggil namanya dan Gempa membuka mata. Sosok berwajah identik, bermata biru langit, tanpa cengiran jahil yang biasanya ada—selain karena tertutup masker, sorot matanya sedih dan cemas.

"Kak Taufan ...?" Suara yang keluar dari mulut Gempa serak sekali.

Kakaknya itu menyodorkan segelas air. "Minum dulu."

Kepala Gempa masih pusing dan dia memejamkan mata sejenak, berdeham sebelum menjawab, "Puasa, Kak."

Taufan menggeleng. "Ini sudah hampir Isya, Gem."

"Alamak?" Gempa buru-buru duduk lalu mengerang kecil ketika badannya didera rasa sakit. "Kak Hali dan Solar ..."

"Polisi sedang melakukan pencarian. Mereka mau menanyaimu setelah ini."

Gempa mengamati ruangan yang tak terlalu luas dengan dinding berwarna pastel pucat dan perabotan sederhana itu. "Ini di kantor polisi?"

"Iya. Minum dulu, Gem. Kamu akan banyak bicara nanti. Mau makan kurma dulu? Tenang aja, aku dijemput polisi ke sini. Tok Aba dan Ice jaga Blaze dan Duri di rumah."

Gempa masih diam. Di badannya kini sudah melekat jaket dan celana panjang, entah oleh siapa dan kapan dipakaikan padanya. Taufan menepuk bahunya dengan lembut.

"Gem, kalau mau nangis, menangislah … kamu itu bukan raksasa batu yang nggak boleh nangis."

Berikutnya tangisan itu memang pecah. Semua beban sebesar gunung yang ada di bahu Gempa selama bertahun-tahun seolah runtuh karena sentuhan Taufan barusan, ikut meluruh bersama air mata yang mengalir deras.

Kali ini, barangkali Gempa perlu belajar untuk lebih mengandalkan Taufan sebagai kakaknya.

.

.

.

.

.

Sekitar lima kilometer dari kantor polisi, di sebuah klinik dekat rumah Tok Aba, seorang pria sepuh melepas jas putihnya. Seseorang yang jauh lebih muda dan bertubuh gempal menyambutnya.

"Guru Gaharum! Guru sudah pulang!"

"Halo, Qually. Bagaimana kabar klinik kita?"

"Sepi, Guru. Pandemi begini orang tidak akan pergi berobat kalau tidak terpaksa."

Gaharum, sang dokter senior, tersenyum sembari melepas maskernya lalu mencuci tangan.

"Bagaimana seminarnya, Guru?" tanya Qually sambil mendekat.

"Lumayan," sahut Gaharum sambil membuka lemari di dekat dispenser. "Itu modul-modulnya ada di tasku. Banyak materinya yang pasti cocok buatmu."

"Siap, Guru! Selama ditinggal olehmu, aku selalu belajar kok!"

Gaharum terkekeh selagi Qually membongkar tasnya dan mengeluarkan kumpulan kertas dari sana. Dokter muda berbadan gempal itu berbinar-binar gembira melihat berbagai judul yang tertera.

"Oh iya Guru, tahu anak kembar tujuh yang kakeknya punya Kedai Kokotiam?"

Gaharum sedang menyeduh tehnya. "Tentu saja. Pemilik kedai itu sahabat lamaku."

"Oh, begitu rupanya?"

"Begitulah. Kenapa memangnya?"

"Anak yang paling kecil, yang nomor tujuh, bulan lalu dia jatuh dari tempat tidur tingkat dan alisnya berdarah. Katanya dia pingsan lihat darahnya sendiri. Lucunya, dia minta sulam alis setelah selesai kujahit lukanya. Dasar anak zaman sekarang."

Gaharum tersenyum simpul. "Qually, bukannya kamu sendiri juga anak muda?"

Dokter muda itu terkekeh. "Ya, Guru, aku 'kan belum kepala tiga. Tapi beneran deh, anak itu betul-betul definisi generasi milenial. Penampilannya trendi abis! Dia punya kacamata model visor dan bajunya ada efek bling-blingnya!"

Gaharum tertawa tertahan. "Lha, dia anak band?"

"Sepertinya bukan juga. Gayanya saja yang mencolok begitu. Tapi, ada yang aneh waktu aku menangani lukanya, Guru ..."

"Apa itu?"

"Dari cerita kakaknya, anak itu pernah menjalani kraniotomi karena cedera kepala waktu masih kecil. Saat aku mau menjahit lukanya kemarin, darahnya terus keluar, padahal sudah kuberi hemostatik. Untung saja lukanya kecil, tapi saat kutanya apa dia punya riwayat darah sulit membeku alias hemofilia, dia bilang tidak. Lagipula kalau dia memang mengidap hemofilia, pastinya saat kraniotomi dulu bisa jadi sangat fatal, bukan?"

Gaharum tampak merenung.

"Qually … ada yang disebut late-onset hemophilia. Pernah dengar?"

"Hmmm … hemofilia yang baru muncul sewaktu orang sudah dewasa? Bukan sejak kecil?"

"Iya. Berapa umur anak itu waktu kraniotomi?"

"Entahlah, yang jelas katanya mereka semua masih sekolah dasar ..."

"Dan umurnya sekarang …?"

Qually menarik lacinya dan mencari-cari berkas atas nama Solar bin Amato. "Tujuh belas tahun."

Sang dokter senior tertegun. "Jarang ada kasus late-onset hemophilia pada remaja, tapi bukan berarti mustahil. Kamu berbuat apa lagi soal itu, Qually? Bisa berbahaya kalau yang bersangkutan tidak tahu dirinya menderita late-onset hemophilia."

"Aku mengetes APTT-nya, Guru … tapi tidak masuk kriteria hemofilia."

"Barangkali baru-baru ini saja penyakit itu mulai bergejala. Apa kau sudah tanya, jangan-jangan dia sering mengalami luka memar yang lama sembuhnya?"

"Emm, aku tidak tanya hal itu, Guru." Qually memain-mainkan jarinya dengan kikuk. "Memar yang sembuhnya butuh waktu lama … benar juga, itu salah satu gejala hemofilia, ya. Maaf Guru, harusnya aku lebih banyak tanya."

Gaharum mengernyit. "Hati-hati, kau bilang tadi anak itu pingsan melihat darahnya sendiri. Apa dia fobia darah? Apa jadinya kalau dia tak sengaja terluka dan berdarah terus …? Bisa kaubayangkan?"

Qually menelan ludah. "Pasti bikin panik ..."

"Bukan hanya panik. Kalau lukanya besar dan dia tidak segera ditolong karena ketidaktahuan … kau tahu apa yang akan terjadi. Untuk jaga-jaga, sebaiknya hubungi keluarga mereka sekarang."

Sebelum Qually sempat menelepon rumah Tok Aba, telepon dari kantor polisi sudah duluan mampir. Untung saja dia menerima telepon sambil duduk, tapi rasanya dia bisa terjengkang pingsan sebentar lagi.

"Qually? Dari mana telepon barusan?" Gaharum keheranan mengamati perubahan ekspresi juniornya yang memucat setelah menutup telepon.

"Guru … ada yang gawat … tadi itu kantor polisi ..."

"Ada yang kecelakaan?" Gaharum dengan sigap meraih tas dan jas putihnya, sudah terbiasa dengan telepon dari kepolisian karena klinik mereka memang yang paling dekat.

"Bisa dibilang begitu … sepertinya kasus penculikan ... korbannya salah satu dari anak kembar tujuh cucu Pak Aba itu, dan sepertinya ..."

"Sepertinya?"

"Sepertinya dia tidak diculik sendirian. Dia sempat menggumamkan nama dua saudaranya sebelum pingsan, dan salah satu yang disebut adalah nama anak itu."

Jemari Qually bergetar menunjuk meja, yang di atasnya masih tergeletak berkas rekam medis yang dibahasnya tadi. Air mata dokter muda itu menetes penuh penyesalan.

"Tunggu apa lagi, Qually? Ayo kita berangkat."

"A-aku tak layak, Guru. Aku gagal jadi dokter. Aku sudah membuat kesalahan ..."

"Kau ini bicara apa?" bentak Gaharum, membuat Qually terlompat dari duduknya. "Apa tugas seorang dokter?"

Qually tersentak, matanya membola. "Menyelamatkan orang."

"Jadi, selamatkanlah. Kita belum terlambat."

Semoga, tambah Gaharum dalam hati, mengangguk melihat muridnya bangkit berdiri, mengusap air mata dengan wajah penuh determinasi. Sang guru masih ingat apa yang pernah diucapkannya bertahun silam,

"Ketika kau menyerah, saat itulah kau gagal, Qually ..."

.

.

.

.

.

bersambung.

.

.

.


.

.

.

Catatan Penulis:

Karena istrinya Amato belum dimunculkan secara official, anggap saja di sini original character, ya? /maksa

Qually dan Gaharum – tokoh baru yang lain lagi (!) dan kali ini nuansa tegang sisa bab 8 kembali hadir :")

.

Kraniotomi adalah operasi pembedahan otak dengan membuka tengkorak kepala—dalam cerita "Thorn in the Flesh", Solar menjalani operasi ini di umur sepuluh tahun.

Hemostatik adalah obat untuk menghentikan perdarahan. Caranya bagaimana? Dengan memicu agen pembekuan darah, trombosit dan teman-temannya, untuk membentuk sumbatan di pembuluh darah yang robek dan menyetop darah keluar.

APTT atau activated partial thromboplastin time adalah waktu yang diperlukan untuk pembekuan darah, tes ini berfungsi dalam diagnosis penyakit hemofilia.

Masih ada unsur "hemo"-nya, hemofilia adalah suatu penyakit di mana penderitanya memiliki kelainan pembekuan darah. Kalau terluka, darah bisa menetes terus dan sulit berhenti, atau kalau terhantam sesuatu biasanya mudah memar, dan memarnya akan susah hilang.

.

Jadi? :")

Jadi ... cerita ini jadinya akan tamat di bab 11, sedangkan bab 10 yang mendahuluinya (dan pasti penuh ketegangan) akan dominan Taufan-centric. Sudah nggak ada lagi warning berbahaya mulai bab ini sampai yang terakhir, sudah cukup :")

Terima kasih telah membaca, kritik dan saran sangat diterima.

13.11.2021