Memori itu tidak kekal, Taufan bin Amato tahu itu. Manusia bisa saja lupa, bisa saja salah ingat. Anehnya, apa pun yang dilihat oleh Taufan, tidak bisa dilupakannya.

Pertama kali Taufan menyadari keanehan ini adalah saat dia melihat adik bungsunya, Solar, bermain puzzle yang rumit. Taufan ingat mereka berumur empat tahun saat itu, karena puzzle itu adalah kado ulang tahun yang keempat untuk Solar dari orang tua mereka.

"Habis kena air, kah?"

Solar mendongak dari posisinya yang duduk di lantai, kebingungan. "Apanya Kak?"

"Warnanya lebih pudar. Itu lihat, kemarin warna birunya nggak seperti itu."

Solar mengernyit sambil mengamati kepingan puzzle-nya lekat-lekat. "Sama aja sih Kak."

"KAK TAUFAAAAAAAN!"

Blaze menyambar Taufan dari samping, membuat keduanya jatuh berguling di lantai. "Ayo maiiin!" Tanpa menunggu lagi, si anak nomor empat bergegas bangkit dan lari ke seberang ruangan.

"BLAAAAAZE! Sini kau!" Taufan mengejar, mengabaikan Solar sepenuhnya, yang juga kembali menekuni permainannya sendiri.

Tapi Taufan tidak lupa. Dia yakin warna biru di kepingan puzzle itu berbeda dari yang pertama, lebih pudar atau lebih muda. Saat dilihatnya kembali foto mereka bertujuh pada hari ulang tahun yang keempat, Taufan mendapat konfirmasi. Warna birunya lebih cerah dan tajam dibanding yang dipegang Solar tadi.

Anehnya, Solar yang paling pintar di keluarga mereka saja tidak menyadari perubahan warna itu. Saat Taufan bertanya pada Ayah dan Ibu, mereka juga bilang bahwa tidak ada perubahan.

Lain waktu, Taufan bermain bola-bola karet dengan Blaze dan Duri di kolam bola di ruang tamu, tapi saking hebohnya gerakan Blaze dia membuat bola-bola itu tercecer keluar. Mereka bertiga menghabiskan sore dengan mencari semua bola yang tercecer di ruang tamu. Blaze sudah mendapatkan lima, Duri empat, dan Taufan tujuh, tapi Taufan bersikeras masih ada satu bola lagi yang tercecer.

"Tadi bola yang keluar ada tujuh belas. Kurang satu."

"Ummm," Duri masih menghitung dengan bingung karena melebihi kapasitas jarinya. "Empat tambah lima tambah tujuh ..."

"Masa Kak Taufan bisa ingat bolanya tujuh belas?!" tukas Blaze yang sudah penat. "Huuuh. Aku pengen mandi ..."

Ketika akhirnya satu bola lagi ditemukan di kolong sofa, Blaze dan Duri sudah lelah sekali dan tidak mau membahas pencarian mereka.

Taufan melihat dan dia ingat ada tujuh belas bola yang dikeluarkan Blaze dari kolam, lalu menggelinding ke mana-mana. Seolah ada yang memotret adegan di detik itu dan mematrinya dalam kepala Taufan.

Beberapa tahun berikutnya Taufan baru tahu istilah untuk keanehan pada dirinya itu: photographic memory.

Ketika Taufan tahu bahwa keanehan itu sebenarnya adalah sebuah anugerah, Taufan malah mengutuknya.

Dia tidak bisa melupakan gambaran Cattus yang dilindas. Dia selalu ingat sosok Duri yang menangis histeris sambil memeluk jasad kucing malang itu. Taufan melihat kejadiannya dan dia tidak bisa lupa.

Jadi ketika didapatinya Duri menangis sehisteris waktu itu—kali ini karena jarinya teriris pisau—Taufan kembali berkeringat dingin dan disergap rasa takut. Kalau bukan karena jeritan Gempa yang panik, keributan yang ditimbulkan Solar, dan pergulatan Blaze yang ditahan oleh Ice, Taufan pasti sudah mengalah pada rasa takutnya dan kabur dari dapur.

Bertahun-tahun Taufan berhasil menyembunyikan semuanya di balik canda tawa. Dia tidak bisa menyerah sekarang. Diraihnya tubuh Duri yang gemetaran lalu dipeluknya erat—dan dengan demikian bisa menyamarkan gemetarnya tubuh Taufan sendiri.

.

.

.

.

.


.

.

.

BoBoiBoy (c) Animonsta Studios

Through the Darkness (c) Roux Marlet

-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-

Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers

Family, Drama, Angst, Hurt/Comfort, Crime, Suspense

.

.

.


.

.

.

.

.

Bab Sepuluh: Keajaiban

.

.

.

.

.

Taufan tahu dirinya orang munafik. Dia mengatai Gempa suka menyimpan rahasia, padahal dia sendiri juga membohongi semua orang selama ini. Taufan membenci kemampuan ini, jadi dia menyembunyikannya dari yang lain, bahkan dari orang tuanya sendiri. Dia minta dibelikan kamera dan laptop, untuk bisa beralasan bahwa ketika dia bisa ingat sesuatu sampai detail, itu karena dia memotretnya. Mengerikan sekali saat tak bisa mengenyahkan gambar yang begitu jelas di dalam kepala, bahkan terbawa sampai tidur.

Bahkan kemampuan ini tak ada gunanya ketika pada akhirnya Cattus mati, dibunuh oleh orang-orang yang sudah menguntit keluarga mereka sejak beberapa bulan sebelumnya.

Di bulan Januari sebelum ulang tahun mereka yang keenam, Solar menjadi juara lomba matematika tingkat nasional—mengalahkan peserta lain yang lebih tua. Itu adalah prestasi pertama Solar yang menghadirkan sebuah piala di dalam rumah mereka. Waktu itu, Solar yang sedang bersama Pak Guru Kokoci didatangi sekelompok wartawan. Amato segera menengahi, menyuruh semua wartawan itu mundur, meminta Kokoci membawa Solar ke minibus yang mereka sewa, sementara sang ayah sendiri yang menjawab pertanyaan. Taufan melihat semuanya itu dari dalam minibus selagi Blaze dan Duri berlomba makan makaroni goreng.

Taufan tak bisa lupa ekspresi ayahnya waktu kembali ke kendaraan sewaan. Awalnya Amato terlihat murka dengan dahi berkerut dalam dan bibir melengkung ke bawah, tapi kemudian dia masih bisa membelai kepala Solar dengan senyum manis, membuat si bungsu ikut tersenyum bangga. Entah apa saja yang ditanyakan kepada sang ayah. Yang jelas, rombongan keluarga mereka segera pulang dari gedung tempat perlombaan.

Sepertinya Taufan sudah tahu dari mana dia belajar memalsukan senyum.

Pada peristiwa yang berikut, yaitu di hari ulang tahun mereka yang keenam, mereka berlibur ke wahana laut. Tempat itu berupa sebuah akuarium besar dengan lorong bagai terowongan di bawahnya, jadi mereka bisa melihat semua makhluk air itu dari balik kaca.

Ice adalah yang paling terpukau. Dia bahkan sampai lupa untuk tidur—bermenit-menit dia menempel di kaca, mengamati hewan-hewan yang hanya pernah dilihatnya di buku sains dengan mata terbelalak lebar. Ketika akan pulang, Ice merengek minta dibelikan bantal berbentuk paus, salah satu mamalia laut terbesar.

Yang tidak diketahui semua orang, Taufan melihat orang-orang yang sama. Mereka, para wartawan yang hari itu mau mewawancara Solar. Tersebar di beberapa titik dan pura-pura sibuk dengan kamera terarah ke hewan-hewan, tapi Taufan ingat wajah mereka semua. Delapan orang keseluruhannya, tapi Taufan tidak mau merusak kesenangan hari itu jadi dia tidak bilang apa-apa pada Amato. Dia masih sempat menggoda Blaze dan Duri dengan mengepak-ngepakkan jaketnya seolah sirip yang lebar.

"Lihat aku! Aku ikan pari~~~"

Kedua adiknya ikut tertawa-tawa dan menirukan gerakannya. Taufan berlari di lorong, Blaze dan Duri mengikutinya, sudut matanya mengawasi dua orang wartawan yang baru saja mereka lewati. Keduanya tampak salah tingkah dan buru-buru pindah.

"TAUFAN!" Amato berseru. Yah, dia malah kena marah. Biar saja, deh. Taufan berbalik arah mendadak dan berlari ke sisi satunya. Di sana ada tiga wartawan sekaligus.

"HUWAAAA! Aku monster ikan pari!" pekiknya keras-keras. Ketiga wartawan itu terlonjak kaget dan langsung memisahkan diri. Salah satu dari mereka melotot ke arah Taufan, yang balas melotot.

"Oi, nggak boleh lari-lari," ujar seseorang, yang ternyata adalah kakak Taufan, Halilintar, yang meraih leher bajunya lalu menjewer telinganya.

"Ampun, Kak Hali ..." Taufan meringis memohon selagi dirinya diseret menuju ayah mereka. Blaze dan Duri juga sudah kena jewer oleh Amato dan Gempa.

Taufan tidak pernah lupa wajah orang yang melotot itu. Apalagi jambul besar di atas kepalanya. Jadi ketika dilihatnya lagi orang itu di halaman rumah mereka beberapa bulan setelahnya, seluruh insting Taufan berteriak waspada. Sayangnya posisi Taufan tidak menguntungkan. Dia sedang main petak umpet dengan Blaze, menyembunyikan diri di paralon di sisi balkon lantai dua—tempat berisiko tinggi untuk jatuh tapi sangat aman dari penyelidikan petak umpet. Dan dari situ Taufan bisa melihat segalanya di halaman.

Duri sedang bermain dengan Cattus di dekat rumpun bunga matahari, sementara Solar di dekatnya membaca buku. Keduanya menoleh saat si wartawan jambul membuka pagar dengan hati-hati. Taufan tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, tapi Solar berdiri dari kursinya dan menarik tangan kakaknya ke arah rumah. Cattus mengeong keras sekali menyadari ada orang asing, dia tak mau digendong Duri pergi. Saat itu Amato berderap dari pintu depan dan menggandeng Duri serta Solar masuk ke dalam rumah. Cattus berlari sembunyi di balik rumpun tanaman.

Si wartawan jambul berjongkok mencari si kucing. Berikutnya ada pekikan keras dan suara geraman hewan. Sepertinya si jambul kena cakar, Taufan jadi pengin tertawa keras-keras tapi takut ketahuan Blaze. Kemudian sosok kucing hijau itu melesat keluar pagar.

Mata Taufan membola. Pagar itu terbuka, ada mobil di sebelah luarnya. Pastinya milik si wartawan jambul atau teman-temannya. Taufan merosot dari paralon dan mendarat dengan aman di teras lantai satu, hanya untuk menyaksikan pembunuhan yang mengerikan.

.

.

.

.

.

Beradaptasi di tempat baru itu tidak merepotkan, asalkan hati senang. Begitulah prinsip Taufan. Gempa sangat sibuk belajar urusan rumah tangga di awal-awal kepindahan mereka ke rumah Tok Aba. Duri dan Solar masih murung karena kematian Cattus. Blaze tetap banyak lari-lari di dalam rumah yang jauh lebih kecil, bikin Halilintar teriak-teriak karena kesal. Ice tetap banyak tidur.

Dari semua orang, Gempa adalah yang terlihat paling stres dan berbeban berat. Waktu itu Taufan tidak paham kenapa Gempa dan bukan Halilintar yang diberi kepercayaan orang tua mereka—bahkan diizinkan Tok Aba memegang rekening tabungan orang tua mereka di kemudian hari. Gempa tidak terlihat senang diberi kepercayaan itu meski menjalankannya dengan patuh. Halilintar juga tidak terlihat senang karena tidak mendapat kepercayaan Ayah dan Ibu. Taufan menghela napas melihat kakak dan adiknya. Dua orang ini … duh, sama-sama kepala batu. Kalau begitu kenapa Halilintar tidak mengambil alih tongkat kepemimpinan yang pasti dengan sukarela diserahkan oleh Gempa karena dia pun sepertinya tak mau memimpin? Barangkali gengsi yang menahan Halilintar dan rasa sungkan yang mencegah Gempa menawarkan opsi itu pada si sulung. Taufan sebagai anak kedua, si oknum penggembira yang terjebak di tengah, bisa apa? Ya dia bisanya mengerjakan perannya sebaik mungkin: jadi badut di rumah.

Hei, jangan salah. Badut sekalipun bisa berjasa, lho. Taufan tahu kapan saja Gempa terlalu tertekan dan dengan satu-dua kalimat sederhana bisa disuruhnya Duri membantu membereskan pot tanaman biar kerjaan Gempa agak ringan sedikit. Dengan iming-iming satu-dua photoshoot gratis, Solar mau disuruh merapikan perkakas dapur. Mengutus Blaze beli es krim di supermarket sangatlah mudah. Mendorong Ice untuk jadi tukang pijat, Taufan harus merogoh uang sakunya untuk beli pernak-pernik binatang laut. Malah Halilintar satu-satunya yang tidak perlu disogok untuk membantu Gempa. Sang kakak sulung memang berhati baik di balik sikap yang garang. Taufan justru tak punya akal kalau harus menyogoknya. Salah-salah malah dipiting.

Halilintar itu kadang bisa bertingkah ekstrem. Bukan, bukan definisi ekstrem seperti Blaze yang mencoba pasang kembang api di dalam rumah. Menurut Taufan, si sulung itu tak takut apa pun. Pernah ada yang mem-bully Duri yang terlihat jelas berbeda dari anak lain waktu mereka SMP, alat tulisnya sering hilang saat jam istirahat. Kejahilan itu berhenti setelah anak-anak itu ditemui oleh Halilintar, entah apa yang diperbuat. Dia juga memilih klub bela diri di sekolah. Saat umurnya baru tiga belas tahun, Halilintar minta pada ayah mereka untuk diajari mengendarai sepeda motor. Saat itu masih terlalu awal tiga tahun, karenanya sang ayah menolak pada awalnya. Tapi terbukti bahwa argumen Halilintar waktu itu yang menang, karena Amato juga tidak bisa menjanjikan:

"Belum tentu waktu aku umur enam belas nanti, Ayah ada di sini?"

Jadilah hanya Halilintar satu-satunya yang diajari bersepeda motor, karena dia sudah memintanya tiga tahun sebelum usia mereka memenuhi syarat berkendara. Taufan masih berpikir keputusan Halilintar waktu itu ekstrem sekali, tapi sangat berguna pada akhirnya. Siapa yang menyangka bahwa orang tua mereka ternyata tidak pulang ke Malaysia sampai empat tahun kemudian?

Dan berikutnya, alasan orang tua mereka banyak bepergian. Taufan tahu ayahnya adalah orang penting di mata negara. Bisa dibilang kenalannya banyak, sama-sama orang penting semua. Ibarat panggung pentas drama, Amato itu termasuk tokoh utama di lakon Malaysia. Lampu sorot sering terarah padanya. Apalagi sejak dia menikah dan punya anak—kembar tujuh! Taufan pernah tak sengaja membaca arsip di kantor Pak Guru Kokoci tentang sejarah kelahirannya dan keenam saudaranya. Dia cukup membacanya sekali saja dan akan terus mengingatnya.

Belum pernah ada anak biologis kembar tujuh di dunia ini.

Dengan sudah adanya perhatian dari banyak pihak kepada Amato, pasti anak-anaknya yang ajaib juga akan menjadi sorotan. Rumah mereka diburu wartawan—dan sudah sempat terjadi, sebelum Amato membuat keputusan untuk memindahkan mereka ke rumah Tok Aba di Pulau Rintis.

Sepertinya hanya Taufan yang tahu sejarah yang terukir di tanggal tiga belas Maret itu, tapi Gempa pernah bertanya padanya kenapa Ayah dan Ibu tidak ikut tinggal di rumah Tok Aba dan jarang pulang ke Malaysia.

"Ayah itu sekarang duta Malaysia untuk PBB, jadi harus bepergian ke negara-negara anggota PBB." Jawaban Taufan terdengar diplomatis.

"Tapi 'kan Ayah mesti dapat jatah cuti setiap tahun?" Gempa balik bertanya. "Kak Taufan, menurutku Ayah seperti sengaja nggak pulang karena sesuatu ..."

"Iya, Gem. Dia orang terkenal. Kau bisa bayangkan betapa tidak tenang hidupmu kalau dibayangi paparazzi dan wartawan yang kepengin tahu tentangmu? Bahkan sebelum kita lahir, Ayah pasti sudah sering menghadapi yang seperti itu. Apalagi setelah ada kita kembar tujuh."

"Lalu kenapa kalau ada kita kembar tujuh?"

"Coba kamu cari di internet, apa pernah ada anak kembar tujuh?"

Gempa meluncur dengan ponselnya dan sejurus kemudian menjawab,

"Belum pernah ada."

"Bisa bayangin betapa hebohnya kalau orang tahu Amato bin Aba si duta Malaysia punya anak kembar tujuh?"

Gempa meringis. "Kayaknya hidup kita nggak akan sama. Lagian kasihan Tok Aba kalau sampai begitu di rumah ini ..."

Gempa itu simpatinya pada orang lain sangat tulus dan kelihatan jelas sekali. Taufan sendiri bahkan tidak kepikiran tentang repotnya Tok Aba kalau kemungkinan itu sampai terjadi—yang dia pikirkan adalah dirinya dan saudara-saudaranya. Barangkali itu satu dari sekian bakat emas Gempa yang membuatnya dipercaya orang tua mereka. Si anak nomor tiga tampak yang paling terpukul ketika tahu Blaze dan Ice diculik dan apa saja yang sudah terjadi pada mereka. Gempa biasanya mudah terharu terhadap banyak hal (contohnya saat nonton film Les Miserables), tapi 'kan tangisan haru dan sedih itu berbeda. Gempa ketika menangis sedih, itu sangat membuat Taufan sedih.

Oh, astaga. Taufan tak mau melihat ekspresi itu lagi di wajah Gempa. Apalagi karena kali ini Gempa sendiri yang menjadi korban, dengan tambahan adanya dua korban: si sulung dan si bungsu.

Sepanjang Gempa bercerita di kantor polisi, Taufan memejamkan mata. Dia tidak mau dan tidak sanggup kalau harus melihat penderitaan di wajah adik pertamanya. Apa yang bisa dia simpulkan dari situasi sekarang adalah: Halilintar diculik oleh komplotan Retak'ka entah ke mana dan Solar mungkin ada di bawah jurang. Atau Solar ikut diculik bersama Halilintar, karena Gempa sama sekali tidak mendengar suara adiknya saat dia didorong jatuh—tapi Gempa sendiri tak yakin soal itu. Taufan sangat berharap Solar tidak jatuh ke jurang. Pakaian dan barang-barang Gempa hilang, termasuk ponsel, dompet, dan kartu ATM.

"Nanti dimarahi Ayah kalau kartunya hilang."

Taufan hanya menggeram singkat.

"Kak ..."

Sayangnya Taufan tidak sedang berada di masa kini. Pikirannya melayang-layang ke masa lalu dan pada seseorang di seberang lautan.

"Kak Taufan!" Gempa berseru.

Taufan membuka matanya dan membalas agak gusar, "Gem, Kak Hali diculik dan Solar hilang, lalu kamu malah bahas kartu ATM?"

"Kalau kartunya dibawa para penjahat dan dipakai transaksi, posisi mereka bisa dilacak, Kak ..." Gempa menjelaskan pelan-pelan. Taufan mengangguk setuju lalu mengedarkan pandangan. Lho, sejak kapan para polisi itu pergi dari ruangan? Apa Gempa sudah selesai cerita? Yang sekarang hadir di hadapannya malah dua pria asing dengan jas putih.

"Kak Taufan … mereka berdua ini adalah dokter di klinik dekat rumah. Solar harus segera ditemukan. Ada yang gawat …."

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

"Cih. Lemah."

Vargoba menarik-narik kalung rantainya tanpa mendapat respon. Solar diam tak bergerak dengan mata terpejam, perdarahannya belum berhenti, wajahnya sepucat mayat. Tubuhnya yang kurus bergeser beberapa sentimeter karena tarikan Vargoba barusan, tapi selebihnya tidak ada pergerakan apa pun.

"Hentikan itu, Tuan Vargoba … jangan harap dia bisa merangkak dan mengikutimu. Dia pingsan karena seranganmu barusan, apa kau tidak paham?!"

Pria besar itu mendengus ke arah sosok yang barusan bicara dengan suara melengking.

"Kau berisik sekali, Ayu Yu. Masih tak rela dia jadi peliharaanku, ya?"

"Orang memperlakukan hewan pun tidak sebiadab itu!" pekik Ayu Yu.

"Retak'ka, kenapa sih ada betina cerewet ini dalam kelompokmu?" Vargoba berganti lawan bicara.

"Kau tak berhak menanyakan itu padaku," balas Retak'ka dengan tenang sambil menurunkan Halilintar yang dibawanya ke tanah. "Ayu Yu benar. Anak itu sudah pingsan, jangan kauseret dia seperti itu. Atau kesepakatan kita batal."

Vargoba mencoba sekali lagi menyentakkan rantai yang terhubung ke leher Solar dan kembali tak mendapat respon aktif, lalu melempar rantainya dengan kesal. Ayu Yu memekik lagi,

"Astaga, lihat darahnya!"

Vargoba geleng-geleng kepala sambil mendecak. "Inilah kenapa aku tidak tahan hidup bersama perempuan …."

Ayu Yu sudah membungkuk di samping Solar. "Padahal sudah kuberi Traneksamat tadi!"

Retak'ka mengangkat alis keheranan dan ikut membungkuk, mencoba mengamati perdarahan Solar. "Beri satu ampul lagi, hemostatik yang lain kalau begitu."

Ayu Yu mendebatnya, "Tadi itu sudah dua ampul karena darahnya banyak sejak awal, Bos!"

Vargoba tertawa. "Aduh … rapuhnya bocah ini, apa dia bisa bertahan seminggu saja di rumahku?"

"... kalau begini terus dia bakalan tewas duluan sebelum sampai di rumahmu, Tuan Vargoba," balas Ayu Yu yang mulai menangis.

Gogobi berceletuk, "Beri dia pembalut milikmu, Ayu Yu. Atau kau tidak bawa?"

Ayu Yu makin sebal. "Itu nggak menyelesaikan masalah, Gogobi bodoh! Dia sudah kehilangan banyak darah!"

Retak'ka menyeringai dan bangkit berdiri, melirik ke arah Halilintar yang masih kejang-kejang dengan mata yang membuka-tutup. "Masih ada kakaknya … dia tak akan mati syok kekurangan darah."

Ayu Yu menoleh, terbelalak tak percaya. "Bos … yang benar saja, transfusi darah langsung? Di sini?"

"Setidaknya anak itu jangan sampai mati dulu."

"Anda mau mengambil darah Halilintar—tanpa persetujuannya—lalu memberikannya pada Solar—tanpa menghentikan perdarahannya dulu?" Ayu Yu masih skeptis.

"Kau sendiri bisa lihat anak itu sekarat. Dia butuh darah, kita tak tahu apa golongan darahnya, tapi mestinya sama dengan kakaknya. Mereka kembar identik! Kita bisa lakukan tes cross-match dengan cepat. Dan Halilintar, kalau dia tahu adik kecilnya hampir mati, pasti rela saja menyumbangkan darahnya. Sambil jalan kita akan hentikan perdarahan itu. Kechik, carikan transfusion set dan kateter vena di kotak perkakas. Cakada, ambilkan object glass dan alkohol tujuh puluh persen."

"Siap, Bos," sahut dua pria yang diperintah.

"Vargoba, kau ada ide?"

Yang ditanya mengerutkan wajah tak senang. "Aku belum pernah menemui kasus begini. Biasanya ada yang berdarah, tapi lima menit juga berhenti. Dan tidak sebanyak ini."

"Anak ini sepertinya punya kelainan darah," gumam Ayu Yu sambil masih menangis. "Tiap kali aku menyuntiknya, darahnya menetes keluar."

"Wah, wah … begitu rupanya? Semacam hemofilia?" balas Retak'ka, tertarik.

"Tuan Vargoba, kau yang membuatnya berdarah sebanyak ini! Brutal sekali caramu!" pekik Ayu Yu keras-keras.

Yang disebut namanya hanya mengerling merendahkan. "Kalau tidak begitu, mereka tidak akan tunduk dan menurut."

"Sialan kau," geram sang hawa, bangkit berdiri.

"Hmm? Jadi kau menyalahkanku, Ayu Yu? Sementara kau sendiri sudah memerkosanya tiga kali?"

Ayu Yu mendengus. "Aku tidak membuatnya berdarah-darah."

Vargoba mengedikkan bahu. "Makanya dia tidak mau menurut padamu. Anak pintar biasanya keras kepala. Menaklukkannya tidak cukup hanya dengan ciuman dan cubitan."

Sebelum Ayu Yu bisa menonjok Vargoba, Retak'ka sudah menarik tangan wanita itu. "Diamlah Ayu Yu, bantu aku memasangnya."

Ayu Yu mengentakkan kaki tak sabar lalu berlutut lagi di sisi Solar. Retak'ka membawa Halilintar mendekat sementara Kechik dan Cakada membawakan peralatan yang diminta. Retak'ka bertitah,

"Gogobi, kau tahan tangan bocah ini. Jangan sampai bergerak-gerak, nanti kita malah jadi punya dua korban perdarahan."

Halilintar mengerang keras ketika Retak'ka menyayat pergelangan tangan kanannya yang dicengkeram Gogobi. Retak'ka membuat darah itu menetes ke kepingan kaca, lalu dia juga membuat sayatan kecil di tangan kiri Solar.

"Match," gumam Retak'ka sambil mengamati kepingan kaca. "Pasangkan pada Halilintar dulu, masukkan sedalam sepuluh sentimeter. Pakai stopper itu."

Dengan gerakan terlatih, Ayu Yu menyisipkan ujung jarum dari alat mirip selang panjang yang disiapkan Kechik ke luka terbuka di tangan Halilintar. Pemuda itu berteriak makin keras dan Ayu Yu berhenti setengah jalan dari yang diminta sambil meringis.

"Bos, kita tidak mau membiusnya dulu?!"

"Terlalu lama."

"Ini tangan orang, bukan kantong darah, Bos!"

"Biarkan saja dia teriak."

"Sepuluh sentimeter itu terlalu dalam … lukanya bisa permanen."

"Kau sendiri tahu kalau tidak segitu, nanti alirannya tidak bagus. Kau juga tidak mau anak ini meninggal, 'kan."

Ayu Yu mengernyit dan mendesis, berusaha menulikan telinga sambil memasukkan perangkat itu lebih dalam ke lengan Halilintar yang berteriak lagi,

"AAAAAARGHHH!"

"Stopper-nya, Ayu Yu. Pompanya juga … nah, bagus, seperti itu. Sekarang tangan Solar. Gogobi, kau tahan Halilintar."

Instruksi Retak'ka hampir tenggelam oleh teriakan Halilintar yang tak putus-putus. Ayu Yu menggigit bibir saat melakukan prosedur serupa pada lengan kiri Solar, yang tetap tidak merespons apa pun.

"Bagus … terakhir, plesternya. Lalu buka stopper Halilintar duluan."

"Wow," komentar Gogobi ketika melihat darah mengalir di dalam selang kecil itu, keluar dari tangan Halilintar dan masuk ke tangan Solar. "Ternyata bisa juga seperti ini."

"Bagus sekali. Kemampuanmu belum menumpul rupanya, Ayu Yu."

Ayu Yu tak membalas perkataan bosnya. Gogobi memegangi tangan kiri Halilintar yang meraih-raih ke arah selang yang kini tertanam dalam di pergelangan tangan kanannya dan ujung satunya berakhir di bagian dalam siku kiri Solar yang tak bergerak.

"Bisa-bisanya kau bawa set transfusi, Retak'ka," komentar Vargoba cuek. "Paling tidak dalam satu jam kita bisa sampai di tempat transit. Aku akan hubungi dokter yang biasa."

"Dia perlu dioperasi, tahu!" Ayu Yu mendongak dan merepet.

"Berisik. Nanti bisa kuatur. Bantu bawa bocah itu ke helikopter." Vargoba menghilang di balik pintu pengemudi.

"Aku bukan pembantumu," Ayu Yu mendengus, tapi dia meraih tubuh Solar ke dalam gendongan dengan hati-hati, sementara Gogobi membawa Halilintar.

"Kakaknya harus lebih di atas. Baringkan saja adiknya di lantai. Cakada, geser kotak itu ke sebelah sini. Kechik, kausiapkan hemostatik lagi." Retak'ka membagi-bagi perintah di dalam kendaraan udara itu. Semenit kemudian, mereka sudah lepas landas.

Solar tak bergerak dan Ayu Yu duduk di dekatnya di lantai sambil mengawasi napasnya. Halilintar masih kejang-kejang sambil mengerang, tubuhnya terus-menerus berguling gelisah dan membuat Gogobi kewalahan menahan tangan si pemuda untuk tidak menarik lepas selang transfusi itu. "Bos, kita apakan dia biar diam?"

"Borgol lagi saja tangannya yang sebelah."

"Ketinggalan, Bos," gerutu Gogobi. "Kududuki saja tangannya, bagaimana?"

"Kalau tak ada cara lain, ya sudah."

Halilintar mengerang makin keras saat tangan kirinya ditindih sesuatu yang berat. Napasnya tersengal-sengal, kelopak matanya berkedip-kedip cepat, pandangannya buram. Sesuatu di tangan kanannya juga terasa sakit sekali dari tadi. Kesadarannya kian menipis tapi dia tidak kunjung pingsan dan kini gerakannya terbatas karena tangannya ditindih. Dia tetap berusaha bergerak, mencari posisi yang nyaman, meski sia-sia saja karena sumber ketidaknyamanan itu adalah dari dalam tubuhnya sendiri. Rasanya sungguh menyiksa dan Halilintar tidak tahu harus berapa lama dia menjalani penyiksaan ini.

Setelah rasanya waktu berlalu lama sekali penuh penderitaan, mendadak saja tempatnya berbaring berguncang keras dan tindihan itu terangkat. Tangan kiri Halilintar dengan cepat bergerak ke sumber rasa sakit di pergelangan tangan kanannya dan menarik benda apa pun itu. Sesuatu terciprat ke wajahnya, baunya anyir … ada yang berteriak keras sekali, tangannya malah terasa semakin sakit lalu basah. Ada satu lagi bunyi yang sangat keras disusul teriakan seorang pria. Lebih banyak lagi guncangan dan teriakan menyusul. Kemudian suara perempuan menjerit. Halilintar menutup mata karena pandangannya mulai berputar. Vertigonya kumat lagi.

Yang Halilintar tahu berikutnya, lebih banyak suara-suara asing, semua bernada tegang dan panik. Ada selang oksigen yang dipasang di depan hidung dan mulutnya. Satu tusukan kecil masuk di lengan kirinya dan kejang Halilintar berangsur mereda. Perlahan, kesadarannya juga pulih.

Wajah seseorang berhenti di atasnya.

"Kak Hali!"

Wajah itu identik dan bermata biru. Halilintar sudah akan menyebut satu nama ketika sadar itu warna biru yang berbeda. Suaranya juga berbeda. Yang ini bukan adiknya si troublemaker.

"... Ice?"

.

.

.

.

.

Satu jam sebelumnya, Taufan terbelalak ketika disambut seorang pemuda albino di kantor polisi. Orang itu kira-kira tak sampai sepuluh tahun lebih tua darinya dan dia mengenakan seragam militer warna biru langit.

"Namaku Maripos! Yo, salam kenal!"

Taufan dan Ice yang menginap di kantor polisi langsung bilang mau ikut serta ketika pos pemantauan mendapatkan informasi bahwa sebuah helikopter baru saja lepas landas sekitar dua puluh kilometer dari tempat itu, dan di landasan helikopter milik aparat mereka bertemu Maripos.

"Siap lepas landas," ujar Maripos lagi sambil memberi hormat. "Fuiyo, kalian kembar! Siapa namamu? Dan kamu?"

"Taufan."

"Ice."

"Wah, nama-nama yang unik. Dan kalian persis sekali!" Maripos berbinar-binar sambil mengamati wajah identik keduanya. "Tapi kau lebih tinggi, ya, Taufan? Kau kakaknya Ice?"

"Begitulah ..." Ice yang menyahut karena dilihatnya Taufan balas menatap Maripos dengan sorot waspada.

"Kamu! Kamu bisa panahan?" Maripos masih antusias.

"I-iya," sahut Ice, mengayunkan kantong anak panahnya ke belakang punggung, terlihat enggan.

"Ayo bersiap, Marsekal Maripos," sebuah suara berat menggelegar dari pintu kendaraan udara itu. Sesosok pria tinggi besar dengan wajah penuh bekas luka yang barusan bicara. Di bahunya tersampir sebuah kantong senapan laras panjang.

"Laksamana Tarung! Siap laksanakan!"

"Ayo, Ice." Taufan beranjak cepat dengan paras tegang. Mereka akhirnya mendapatkan kemajuan. Betul-betul ada sebuah helikopter di sekitar arah yang diperkirakan, yaitu tenggara dari arah rumah mereka. Halilintar dan Solar barangkali ada di sana.

Sejak Gempa pulang ke rumah, Taufan sudah menginap di kantor polisi dan menunggu setiap laporan yang datang dengan cemas. Dan mulai kemarin, Ice ikut menginap bersamanya. Tadinya Taufan kaget mendapati Ice datang ke kantor polisi itu lengkap dengan busur dan anak panah miliknya, membuat Taufan tersadar bahwa di rumah mereka ada satu jagoan lagi selain Halilintar. Dia sempat khawatir terjadi keributan karena Ice pergi keluar rumah meski dijemput oleh aparat, tapi cerita Gempa via chat membuatnya lega.

Blaze benar-benar menepati janjinya pada Ice. Dia tak keberatan dan membiarkan Ice pergi, bahkan berinisiatif mengajak Duri tidur bertiga di kamar bawah. Gempa di ranjangnya sendiri, Blaze di ranjang Taufan di atasnya, dan Duri di kasur milik Halilintar. Gempa masih sakit punggung dan tidak bisa berdiri lama-lama, jadi Blaze dan Duri yang membantu Tok Aba menyiapkan masakan dan sebagainya.

"Kalian semua pulanglah dengan selamat, Kak Taufan." Pesan Gempa barusan masuk, membalas kabar darinya yang meneruskan laporan ditemukannya sebuah helikopter. Teori tentang helikopter itu pertama kali asalnya dari Ice dan salah satu polisi menyetujuinya.

"Itu adalah hal paling logis dan paling mungkin dilakukan pada saat ini, karena jelas para penjahat itu tak mungkin menempuh jalur laut sekali lagi." Pria itu menyeringai ke arah Ice. "Namaku Tarung. Siapa namamu, Nak?"

Laksamana Tarung bukan warga negara Malaysia, tapi dia fasih bicara bahasa Melayu. Dia anggota interpol yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan kepolisian Malaysia, dan spesialisasinya adalah sebagai penembak jarak jauh alias sniper. Geng Kristal, yang menculik Halilintar dan mungkin juga Solar (karena dia belum ditemukan), adalah buronan polisi internasional. Jejaring para buronan itu di luar negeri cukup luas dan interpol juga sudah menandai beberapa orang yang dicurigai terlibat sebagai bandar narkoba relasi Geng Kristal.

Selain Tarung, ada dua lagi petinggi interpol yang akan ikut dalam penyergapan dan memimpin pertarungan. Panglima Pyrapi, pria kecil yang kurus dan lincah, serta Satriantar, perwiranya yang tinggi kekar. Dengan tiga orang aparat, tim itu juga dilengkapi dua orang tenaga medis—satu perawat dari Rumah Sakit Yong Pin dan satu dokter dari Klinik Gaharum. Taufan ingat suara si perawat yang dari Yong Pin dan mengenalinya sebagai tim tracer untuk kasus Covid Blaze waktu itu.

"Namaku Nut, salam kenal."

Perawat laki-laki itu masih muda, barangkali baru awal dua puluhan umurnya.

"Dan aku Dokter Qually. Kemarin kita sudah bertemu di kantor polisi, Taufan."

Taufan mengangguk dan dalam hati merasa kagum. Kedua lelaki itu tidak jauh lebih tua darinya tapi pancaran sinar di mata mereka menunjukkan determinasi yang teguh. Apalagi karena mereka sudah mengantisipasi kalau Solar juga ada dalam pengejaran ini.

"Kalau dengan helikopter, kalian akan butuh sniper," Tarung mengutarakan rencana.

"Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Ice deg-degan.

Satriantar menimpali, "Menembak pilot helikopternya? Tidak, itu hal terakhir yang akan dilakukan kalau semua serangan tidak berhasil. Kita tidak mau helikopternya jatuh, bukan begitu?"

"Jadi bagaimana?" Taufan ganti bertanya.

Pyrapi menjelaskan, "Kita tembak dengan jangkar, lalu tarik helikopternya mendekat. Lumpuhkan satu per satu penumpangnya dan ringkus semua penjahatnya. Baru setelah itu kita bisa memaksa pilot menurunkan kendaraannya dengan aman."

Kenyataan yang mereka dapati adalah, rupanya si pilot helikopter musuh mereka juga penjahat, bahkan tampaknya lebih jahat dari semua yang lainnya. Kendaraan udara itu berhasil dikejar, Maripos memacu helikopter mereka untuk semakin memperpendek jarak. Pyrapi menggunakan teropong untuk memeriksa, apakah betul itu gerombolan penjahat—dan mendapati wajah Retak'ka yang sudah populer di kalangan penegak hukum ada di sana. Saat jangkar berhasil ditembakkan dan tersangkut di kaki helikopter, Tarung sudah menyiagakan senjatanya di ambang jendela. Dalam helikopter milik polisi berkapasitas delapan orang itu, dua tenaga medis dan dua warga sipil diminta tetap tinggal bersama si pilot. Hanya Satriantar dan Pyrapi yang akan bersiap masuk ke kendaraan musuh setelah Tarung berhasil melumpuhkan satu atau dua orang dari jauh.

Tetapi Maripos terlonjak di kursinya ketika mendapat desingan peluru di dasbor kemudinya. "Laksamana! Mereka bersenjata api!"

Taufan dan Ice dengan sendirinya langsung menunduk, demikian pula Qually dan Nut. Taufan bertemu pandang dengan adiknya—sorot mata ketakutan yang pasti juga ada di matanya. Gila sekali, ternyata musuh mereka juga berani menembak di atas awan-awan begini.

Tarung membidik dari jendela dan menyasar ke arah satu-satunya jendela yang terbuka di kendaraan musuh—di bagian kemudi juga.

"Tarik jangkarnya!" Pyrapi berseru pada Satriantar dan keduanya menggerakkan katrol yang terhubung pada jangkar yang barusan ditembakkan oleh Tarung.

Helikopter milik musuh itu mendekat perlahan-lahan sementara Tarung menembakkan senapannya beberapa kali.

"Maripos! Belokkan ke utara! Mereka sembunyi di belakang!"

"Aku berusaha, Laksamana! Kompasnya pecah tadi!"

"Tarung! Hati-hati! Kita tidak tahu di mana posisi anak yang diculik!" Pyrapi mengingatkan sambil bersama Satriantar masih berjibaku dengan katrol yang semakin berat karena kendaraan musuh berusaha melawan tarikan itu.

"Ada sosok yang terbujur di lantai," ujar Tarung. "Anak yang diculik tidak bisa mereka bawa ke atas entah karena apa. Mereka tak bisa menjadikannya sandera! Ini kesempatan kita!"

"Jaraknya masih terlalu jauh!" sergah Satriantar. "Sabarlah Tarung, sedikit lagi kalau mau melompat ke sana!"

Taufan mendongak dan hendak bertanya pada Tarung, tapi Qually menahannya tetap di bawah. "Bahaya, jangan berdiri dulu." Taufan bisa melihat butiran keringat menetes di dahi gemuk sang dokter. Sebaiknya Taufan tidak menambahi beban si tenaga medis dengan menjaga diri tidak terluka kena tembakan kesasar. Tepat saat itu ada desingan peluru yang sangat dekat dengannya dan Nut memekik keras.

"Astaga!" Qually menarik Taufan dan Ice menjauh dari si perawat yang bahu kirinya kini berdarah. Nut segera mengambil kain perban dari perbekalannya dan sang dokter membantunya setelah memastikan kakak-beradik itu aman di bawah kursi penumpang.

"Jahanam, mereka berani menyasar tenaga medis dan warga sipil!" Tarung menyumpah-nyumpah. "Kena kau! Satu lagi! Sudah dua orang kutembak kakinya!"

"Ada berapa semuanya?" Pyrapi bertanya sambil menyiagakan senjata. Helikopter musuh semakin dekat.

"Enam orang termasuk pilot! Pilot juga berkomplot, hati-hati Panglima!"

"Menunggu instruksi, Panglima," ujar Satriantar yang juga menyiapkan senjatanya.

"Lumpuhkan satu atau dua lagi, baru kita masuk," perintah Pyrapi. "Tarung, kau ikut juga."

"Dapat! Tiga orang sudah dilumpuhkan. Sisanya dua yang badannya besar, satu lagi perempuan."

"Bersiap menembak engsel pintunya," Pyrapi memberi aba-aba, jarak mereka hanya tersisa dua meter dan semakin dekat. "Sekarang, Tarung!"

Sang laksamana menembakkan senapannya ke tepi pintu helikopter musuh bertubi-tubi dan pintu itu pun terlepas dari engselnya. Satriantar melompat ke seberang lebih dahulu, disusul Pyrapi, dan terakhir Tarung yang berseru pada pilot,

"Maripos! Jaga mereka semua!"

Di dalam helikopter musuh, ketiga aparat itu dihadang oleh dua pria yang tinggi besar—yang satu mereka kenali sebagai si buronan Retak'ka, dan yang satunya tampaknya pilot kendaraan itu. Salah satu pria yang sudah terduduk di lantai, badannya juga besar dan agak gemuk, mencoba menyerang Pyrapi yang tampak paling ringkih. Panglima interpol itu langsung mengayunkan senjatanya sendiri—sebuah nunchaku.

Gogobi mendorong dirinya mundur melihat senjata asing itu dan ganti mengambil sebuah tongkat untuk membela diri, tapi kondisi kakinya yang berdarah jelas membuatnya kalah lebih dulu. Tarung yang selain sniping juga menguasai martial art maju menyerang Retak'ka sementara Satriantar melawan Vargoba, dan masing-masing mendapat lawan yang seimbang.

Duduk di pojok adalah Ayu Yu yang menangis, di sampingnya ada dua anak kembar dalam kondisi yang sulit diamati oleh para aparat. Tanpa terduga, perempuan itu mengambil pistol yang tergeletak di dekatnya dan menembak dengan gemetaran ke arah depan.

"Aaaargh! Goblok! Kau tembak ke mana?!" pekik Retak'ka yang terkejut, pinggangnya berdarah kena tembakan barusan. Tarung mengambil kesempatan sempit itu dan menghantam kepala si penjahat kuat-kuat. Retak'ka tumbang ke lantai dan si laksamana segera memborgol tangannya, dibantu Pyrapi yang juga sudah menumbangkan Gogobi dengan nunchaku-nya di detik yang sama.

"Ayu Yu, bawa sini bocah itu!" teriak Vargoba yang mendadak melompat ke arah si perempuan. Pyrapi juga melontarkan diri ke arah yang sama, berusaha menyelamatkan kedua tawanan dari entah rencana apa yang dimaksud si pilot. Tarung dan Satriantar tak secepat keduanya ….

Vargoba berhasil mencapai Halilintar lebih dahulu dan menendang perut Pyrapi kuat-kuat sampai si panglima terlempar ke dinding helikopter. Tarung berusaha merangsek maju tapi Satriantar menahannya, karena Vargoba sudah mengambil pistol dari tangan Ayu Yu dan mengarahkan pucuknya ke pelipis Halilintar yang setengah sadar.

"Pergi kalian atau kubunuh—"

DUK!

Kalimat Vargoba tidak selesai karena tiba-tiba sesuatu menabrak kepalanya. Tak sampai menumbangkannya, tapi jelas membuatnya terdistraksi dan melepaskan Halilintar—sebuah anak panah yang segera jatuh ke lantai. Tarung menendang tangan Vargoba yang memegang pistol dan Satriantar segera memiting pria itu.

Dengan banyak teriakan dan baku hantam, Tarung serta Satriantar berhasil memborgol Vargoba dan membanting pria itu ke sebelah Retak'ka yang juga sudah terbelenggu.

"Anak itu … Ice … dia berbakat," komentar Tarung, memungut anak panah yang tadi sudah berjasa sementara Satriantar juga memborgol Ayu Yu yang tidak melawan.

"Kapten Sai, Panglima Pyrapi melapor untuk mendarat," ucap Pyrapi yang menghubungi tim kepolisian di jalur darat. "Satriantar, kau dan aku ikut mengawal para penjahat ini bersama tim Kapten Sai. Tarung, panggil tenaga medis sekarang. Sepertinya yang satu ini darurat."

.

.

.

.

.

Mungkin ini semua karena bakat memori fotografis yang tak pernah diinginkannya, atau karena memang level empati Taufan yang kelebihan kadar.

Astaga, mereka itu kembar tujuh identik dan Taufan melihat wajah-wajah yang sama persis dengannya setiap hari. Tak bisa dipungkiri bahwa Taufan juga suka memandangi wajahnya sendiri di cermin seperti adik bungsunya. Bagaimana mungkin dia bisa tahan melihat dirinya sendiri menderita? Dulu Taufan ikut merasa ngilu waktu melihat sosok Blaze yang babak belur dan Ice yang terbaring koma sehabis diculik. Dia juga ikut merasa perih melihat Duri yang jarinya berdarah dan Gempa yang luka-luka.

Sekarang Taufan tak tahu lagi dengan apa dia mendefinisikan hatinya saat melihat Halilintar, lalu Solar...

Wajah dan tubuh Halilintar penuh lebam, lengan kanannya berdarah banyak sekali, dia berguling-guling tak terkendali dengan erangan yang tak terputus. Pakaiannya robek di sana-sini dan Taufan tidak melihat jaket merah-hitam khas sang kakak. Tapi itu tak seberapa dibandingkan Solar …

Adik bungsunya itu nyaris telanjang bulat, ada rantai di kedua lengan dan lehernya, dan dia juga berdarah di bawah pantatnya. Solar tak bergerak sama sekali, matanya terpejam, wajahnya demikian pucat. Kedua tenaga medis segera mendekat dan memeriksa—Qually menangani Solar, sedangkan Nut berlutut di sisi Halilintar.

Taufan jatuh bersimpuh. Tampak jelas sekali di matanya apa yang sudah terjadi pada Solar. Seseorang menjerit dengan begitu pilu bercampur lolongan tangis, dan butuh beberapa detik bagi Taufan untuk menyadari bahwa suara itu berasal dari mulutnya sendiri. Tarung merengkuh tubuhnya dan menariknya mundur, tapi semua sudah telanjur. Pemandangan mengerikan itu sudah terekam di kepala Taufan.

Seharusnya dia bersyukur bahwa Solar ditemukan di sini, bukan di kaki jurang, tapi melihat sang adik seperti ini membuat Taufan harus berpikir ulang …

Qually tiba-tiba menyobek satu-satunya kain penutup tubuh Solar. Taufan memekik,

"Dokter! Apa yang kaulakukan—"

Sang dokter muda tak menjawab, dia mengubah posisinya menjadi berlutut dan menekan dada telanjang Solar berulang kali dengan kedua telapak tangan yang saling bertumpuk.

"Nut!" panggilnya. "Faktor VIII-nya! Intravena!"

Si perawat, yang bahunya masih berdarah kena tembakan dan sudah selesai memberikan pertolongan pertama untuk Halilintar, bergegas ke sisi sang dokter sambil membuka kotak perbekalannya.

"Masukkan," Qually memberi instruksi.

Nut menyuntik lengan Solar dengan gerakan lihai. "Faktor VIII masuk, intravena!"

Taufan kehabisan kata-kata. Dia pernah melihat adegan seperti ini di drama-drama medis … pijat jantung, resusitasi jantung paru … itu artinya Solar saat ini sudah tidak bernapas dan jantungnya berhenti berdetak!

"Siapkan Epinefrin dan defibrilator." Suara Qually terdengar tegang namun berwibawa. Nut bergegas membongkar kotak yang lebih besar.

Ketika Ice mencengkeram lengan Taufan keras-keras, barulah sang kakak sadar. Dari tadi Ice sudah menangis dalam diam—harusnya tak dibiarkannya Ice melihat semua itu. Wajah si anak nomor lima bersimbah air mata dan Taufan menarik si adik ke dalam pelukannya supaya tak berlama-lama melihat raut identik yang sama terpukulnya.

"Maripos! Bersiap untuk lepas landas!" Tarung berseru.

"Siap Laksamana!" Maripos bergegas memposisikan diri di kursi kemudi kembali.

Sang dokter meneruskan, "Epinefrin satu miligram!"

"Bantuan hidup dasar … Tuan bisa melakukannya?" Nut yang agak pucat bertanya pada Tarung sambil masih menyiapkan instruksi Qually selanjutnya. "Epinefrin satu miligram, masuk! Dokter Qually tak mungkin terus-menerus melakukannya, dia harus digantikan sebentar lagi. Kalau aku yang melanjutkannya, mungkin tidak bisa maksimal karena bahuku terluka."

Tarung menatap sambil mengernyit. "Aku akan coba, anak ini badannya kecil sekali … apa seperti RJP pada bayi? Harus hati-hati sekali, telapak tanganku besar."

"Izin melapor, Laksamana Tarung! Ada yang menguasai bantuan hidup lanjut di antara tahanan!"

Suara seorang petugas dari tim polisi lokal membuat semua orang menoleh. Qually melirik sekilas dan bertanya,

"Bantuan hidup lanjut? Apakah tenaga medis?"

"Perawat klinis," jawab si petugas.

"Sertifikat Advanced Life Support?"

"Katanya ada. Tahun 2015."

"Tolong bantuannya," sergah Qually cepat tanpa melihat lagi, pandangannya fokus pada Solar. "Bawa ke sini orangnya, lalu lepas landas! Ke rumah sakit!"

Taufan tidak terlalu menyimak semua percakapan bernada tegang itu, sekujur badannya lemas. Ice pelan-pelan berpindah dari pelukannya dan mendekati Halilintar.

"Kak Hali!"

"... Ice?"

Yang dipanggil langsung memeluk sang kakak. "Alhamdulillah … Kak Hali … kamu—"

"Solar," sela Halilintar dengan napas memburu. "Mana dia?"

Ice belum sanggup menjawabnya dan masih menangis.

"Semua siap!" Tarung berseru sambil membanting pintu menutup. "Maripos!"

Helikopter itu terangkat ke udara dengan limbung dan Halilintar segera merasa pusing, tapi dia masih bisa berteriak,

"Kenapa setan itu ada di sini?!"

Ice menoleh dan ikut terkejut. Tenaga bantuan dari para tahanan yang dimaksud rupanya …

"Perempuan jalang!" jerit Halilintar sekeras ia bisa sambil melotot ke arah Ayu Yu yang berlutut di samping Solar.

"Defibrilatornya, Nut! Dua ratus Joule!" teriak Qually mengalahkan suara si sulung. "Everybody, clear!"

Halilintar tertegun menyaksikan semuanya. Ada bunyi debam yang keras ketika aliran listrik dikirim ke tubuh Solar. Dengan cepat suara Qually terdengar lagi, "Nadi belum teraba, lanjutkan RJP!"

Dan Ayu Yu yang melanjutkannya. Dia memompa dada Solar dengan tekanan yang kuat dan konstan, telapak tangan kiri ditumpu tangan kanan dengan jemari saling bertaut, sementara Qually menyiapkan sebuah alat berbentuk balon, satu selang pendek, dan satu pipa logam dengan senter kecil di ujungnya.

"Epinefrin satu miligram lagi!" seru si dokter sambil membuka mulut Solar dan memasukkan ujung pipa senter itu.

"Epinefrin satu miligram, masuk!" balas Nut.

Qually sudah berhasil memasukkan selang bantu pernapasan pada Solar dan menghubungkannya ke alat berbentuk balon. "Intubasi berhasil. Kau—Taufan, minta tolong tekan benda ini kuat-kuat setiap enam detik. Bisakah?"

Taufan mengerjap dan dengan cepat mengambil alih 'balon' itu dari tangan Qually. Dihitungnya satu sampai enam lalu menekan kuat. Satu sampai enam lagi. Kemudian lagi dan lagi. Taufan mulai memahami ini bagian dari resusitasi jantung paru—sementara fungsi jantung yang berhenti akan ditopang oleh setruman dan pompa manual, fungsi paru biasanya dibantu oleh pemberian napas buatan. Hanya saja bantuan napas dari mulut ke mulut sepertinya sudah tidak populer, apalagi di masa pandemi begini. Saat Taufan sudah menemukan ritme yang tepat dan merasakan harapannya bangkit, didengarnya Ice terisak keras bersamaan dengan Halilintar yang berteriak,

"SOLAAAAAAAR!"

Isakan Ice semakin keras dan dia menutup wajahnya dengan tangan. Taufan menoleh kebingungan ke arah keduanya. Dilihatnya tangan Halilintar yang dibebat perban teracung ke udara.

"Solar, tolong … jangan pergi." Halilintar menangis tersedu-sedu. Seketika Taufan merinding. Sang kakak mungkin sedang melihat roh si bungsu ….

Ice beringsut mendekati Solar yang masih diberi bantuan hidup lalu meniarap di lantai. Dibelainya kepala sang adik perlahan-lahan sambil berbisik di telinganya,

"Solar, bertahanlah. Kami belum merelakanmu pergi … jangan pergi, Solar."

Taufan ikut menangis lagi, tangannya gemetaran hebat selagi masih mencoba menekan balon itu tiap enam detik. Ice yang punya pengalaman pergi ke perbatasan hidup dan mati barangkali bisa berkomunikasi dengan Solar saat ini. Qually mengusir Ice dengan lembut, memasang kembali alat kejut jantung dari listrik itu dan menyetrum dada Solar satu kali lagi.

"Nadi belum teraba."

Ayu Yu kembali memberikan pijat jantung dalam diam. Beberapa saat kemudian, defibrilator kembali diberikan.

"Sudah lewat lima menit," ujar Nut perlahan. Qually bertukar posisi dengan Ayu Yu dan melanjutkan tindakan mereka.

"Kenapa kalau lewat lima menit? Apa harus berhenti?" bentak Halilintar sambil menangis.

"Kematian otak atau brain death," gumam Tarung.

"Apa maksudnya …?" tanya Taufan, suaranya lirih. Otak sebrilian Solar, kalau mati otak apa artinya?

Qually sempat ragu sejenak sebelum menjelaskan, "Dia masih mungkin untuk hidup, tapi akan ada fungsi tubuhnya yang terganggu."

Tiba-tiba Ice memekik, "Kak Hali!"

Taufan menoleh lagi dan terkejut mendapati Halilintar ambruk dan kejang-kejang kembali.

"Argh … Sss-solar ..." gumam si sulung susah payah selagi berperang dengan impuls tak terkendali dari dalam tubuhnya.

"Nut! Diazepam satu ampul lagi!" seru Qually.

"Antidotnya tidak tepat?" gumam Tarung sambil menyingkirkan barang-barang agar tidak ditabrak Halilintar.

Nut membalas sambil mematahkan sebuah ampul kaca yang lain dari yang sudah-sudah, "Kita tak tahu obat apa yang diberikan kepadanya tadi, Laksamana!" Dengan cekatan dicengkeramnya lengan kiri Halilintar dan disuntiknya cepat.

"Hei, kau mestinya tahu sesuatu!" teriak Taufan berang pada Ayu Yu. "Apa obatnya?!"

Perempuan itu menggeleng. "Belum ada penawarnya. Kurasa Diazepam sudah yang paling baik untuk sekarang."

"Persetan kalian!" Taufan membalas, sebelah tangannya terangkat, dan Ice harus menahannya untuk tidak menghajar Ayu Yu.

"Kak Taufan, dia juga sedang coba menolong Solar! Tahan dirimu!"

.

.

.

.

.

Beberapa tahun sejak tinggal di rumah Tok Aba, Taufan punya segudang stok film aneka rupa di dalam laptop. Kalau Halilintar atau Blaze minta mengulang menonton suatu film yang mereka suka, Taufan biasanya pura-pura ikut menonton sambil main ponsel karena sebetulnya dia masih ingat apa yang akan terjadi berikutnya. Taufan cukup menonton film satu kali saja, tapi khusus film horor, Taufan malah memejamkan mata karena terlalu takut adegannya akan terbayang-bayang terus seumur hidup. Genre satu itu juga tidak disukai Halilintar, dia pasti menolak kalau Taufan punya koleksi film horor baru. Fakta yang mengundang kejahilan Taufan untuk mengetes Halilintar suatu ketika.

"Kak Hali!"

Halilintar terlonjak dari kursi belajarnya seolah Taufan menyetrumnya. Kursi itu bahkan sampai terguling di samping si sulung yang berdiri dengan paras gusar. Wajahnya sepucat kertas.

"Barusan itu kamu ngapain?"

Kakak Taufan itu melotot sambil cemberut. "Bukan urusanmu."

"Aaah, Kak Hali jahaaat~"

"Berisik, aku mau tidur," gumam Halilintar sambil beranjak ke ranjangnya.

"Kamu habis tidur siang, lho."

"Ya aku mau tidur lagi. Kepalaku sakit."

"Kak Haliiiii~"

"Kepalaku makin sakit dengar rengekanmu."

Taufan menggembungkan pipi dengan kesal. Dia yakin tidak salah lihat kakaknya barusan mengacungkan tangan ke udara kosong, seolah sedang memanggil sesuatu—atau seseorang. Sudah pernah dilihatnya Halilintar bertingkah begini, lebih sering waktu mereka masih di Kuala Lumpur, dan beberapa waktu setelahnya pasti ada kabar lelayu. Dugaan Taufan adalah barangkali Halilintar itu punya indera keenam dan bisa meramalkan kematian seseorang. Hal itu terbukti lagi ketika esoknya ada kabar bahwa kakek Ying meninggal. Teman-teman sekelas di SMA turut berdukacita sementara Halilintar absen dari sekolah karena diare. Sepertinya kompensasi dari aktifnya indera keenam yang dimaksud.

Apa yang diduga Taufan mendapatkan konfirmasi ketika mereka semua berumur tujuh belas tahun, Ice terbaring koma dan Halilintar melihat roh sang adik sempat keluar dari tubuhnya di rumah sakit … yang artinya … betul bahwa kakaknya itu punya kekuatan spiritual yang unik.

Diam-diam, Taufan merasa lega. Dia tidak sendirian. Kakaknya juga punya sesuatu, kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Tapi sekaligus Taufan merasa takut. Apakah kelebihan itu juga pada akhirnya tak berguna? Seperti halnya Taufan yang sebetulnya mengenali wajah para wartawan yang jahat dan tetap tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Cattus …?

Kali ini, apa yang bisa diperbuat?

Detak jantung dan napas Solar tetap belum kembali saat mereka sudah tiba di rumah sakit. Ventilator segera dipasang untuk menunjang pernapasan dan kejut jantung sekali lagi dilakukan. Obat life saving disuntikkan kembali. Solar segera dibawa masuk ke kamar operasi darurat.

Halilintar masih kejang, bahkan mulai sesak napas, ketika dibawa ke UGD hingga perawat juga memasukkan selang ke tenggorokannya untuk membuka jalan napas. Taufan tidak terlalu ingat formulir apa saja yang ditandatanganinya, pandangannya kabur oleh air mata, pikirannya terbelah antara si bungsu yang sudah hampir berangkat ke afterlife dan si sulung yang tubuhnya diserang efek obat entah apa, hatinya tak putus memanjatkan doa mengharapkan keajaiban.

Taufan tahu kehadiran dirinya dan keenam saudara kembarnya saja sudah merupakan keajaiban bagi ilmu pengetahuan. Adalah sebuah keajaiban, dahulu Solar kecelakaan parah dan bisa siuman dua hari setelah menjalani kraniotomi di umur sepuluh tahun. Ajaib juga Duri dan Solar bisa kembali lengket seperti dulu, setelah Solar cedera kepala untuk kedua kalinya. Juga keajaiban, Blaze bisa pulang setelah diculik dan mau berusaha pulih dari traumanya. Daftar keajaiban dalam hidup mereka diperpanjang lagi dengan Ice yang siuman setelah koma empat belas hari dan Gempa yang selamat meski didorong jatuh ke jurang.

Apakah Taufan serakah dengan mengharapkan adanya keajaiban sekali lagi, satu keajaiban lagi untuk menyelamatkan nyawa Solar? Juga untuk kondisi Halilintar?

Telepon genggam Taufan bergetar-getar dan diraihnya benda itu dari saku, lalu diserahkannya pada Ice tanpa melihat layarnya. Taufan membungkuk, membenamkan wajahnya dalam telapak tangan lalu menangis tersedu-sedu.

Suara Ice setelahnya nyaris tak terdengar karena juga gemetar,

"Kak Taufan … ini Ayah telepon."

.

.

.

.

.

bersambung.

.

.

.


.

.

.

Catatan Penulis:

Kayaknya kalau dikasih warning di depan bakalan terbongkar semua suspense-nya :"D

Banyak tokoh baru yang masuk di sini, semoga adegan action-nya tidak membingungkan.

.

RJP (Resusitasi Jantung Paru) atau CPR/Cardiopulmonary Resuscitation pada kasus henti jantung-henti napas melibatkan pijat jantung yang dilakukan oleh orang yang terlatih. Semua staf rumah sakit harus belajar hal ini dalam Bantuan Hidup Dasar (basic life support), sementara tenaga medis (yaitu dokter dan perawat) perlu mempelajari level selanjutnya juga yaitu Bantuan Hidup Lanjut (advanced life support). Roux sendiri pernah belajar BHD pakai manekin, belum pernah menemui kasus sungguhan.

Eum, cukup banyak alat dan obat di bab ini, singkatnya berikut ini yang dibutuhkan untuk RJP:

-Defibrilator dikenal sebagai alat kejut jantung.

-Endotracheal tube (ETT) adalah selang untuk menunjang pernapasan. Proses memasukkannya ke trakea/batang tenggorokan disebut 'intubasi' dan dibantu oleh pipa logam bernama stylet yang kadang dilengkapi senter kecil.

-Ambubag adalah alat berbentuk balon yang dipasangkan ke ETT untuk memberikan 'napas buatan'.

Epinefrin atau Adrenalin, sebetulnya hormon dalam tubuh tapi juga obat untuk kasus kegawatdaruratan medis, bekerja menyempitkan pembuluh darah dan dengan demikian menaikkan tekanan darah serta denyut nadi.

Fakta tambahan: Kemungkinan orang bertahan hidup setelah dilakukan RJP hanya sekitar dua puluh persen. Artinya delapan dari sepuluh orang henti jantung yang di-RJP tidak tertolong, bisa karena banyak faktor seperti kondisi penyakit yang memengaruhi jantung atau sakit kronis lainnya :" meski begitu, BHD tetaplah sangat penting bagi dua dari sepuluh yang bisa tertolong itu.

.

Obat lainnya, yang bukan untuk RJP:

(Asam) Traneksamat adalah obat untuk mengurangi perdarahan.

Faktor VIII yang juga disebut anti-hemophilic factor adalah protein yang penting dalam pembekuan darah. Penderita hemofilia tidak bisa memproduksi protein ini di tubuh mereka, jadi perlu disuntikkan dari luar.

Diazepam adalah obat penenang yang biasa digunakan untuk antikejang.

.

Pada kenyataannya, transfusi darah langsung (direct blood transfusion)dari orang ke orang sangat tidak praktis dan juga berbahaya. Roux agak kesulitan cari referensinya, tapi di awal abad 20 hal ini pernah diteliti dan diterapkan, terutama pada kasus ibu melahirkan di pedesaan di mana sulit didapatkan persediaan kantong darah. Beberapa metode transfusi darah langsung lebih seram daripada yang diceritakan di sini :"

.

Akhir kata …

banyak terima kasih kepada kalian yang sudah mengikuti kisah Halilintar, Taufan, dan Gempa serta adik-adik mereka sampai sejauh ini—perjalanan kisah ini jauh juga, ya.

Satu bab lagi, nih :") Mendapati cerita ini sudah mau tamat, Roux jadi agak sedih dan cemas. Semoga Roux berhasil menamatkan cerita ini dengan baik.

Roux juga senang karena cerita ini bisa lolos ke tahap polling di Indonesian Fanfiction Award, untuk subkategori Mature. Jadi apakah memang cerita ini lebih pas dikasih rate M? :"D

.

Kritik dan saran sangat diterima. Salam sehat :)

11.12.2021