Fang tidak terlalu suka harus datang ke tempat kerja Kaizo di waktu Magrib. Langit sudah remang-remang dan suasana jalanan sangat sepi dengan latar suara bersahut-sahutan dari masjid, terlebih malam itu adalah malam takbiran, tapi kalau bukan karena kabar dari abangnya itu barangkali dia baru akan tahu semuanya setelah hari raya besok. Soalnya, Blaze dan yang lain yang tinggal di rumah saja belum tahu kelanjutan cerita pengejaran para penjahat dan hasil akhir misi penyelamatan kolaborasi interpol dan tim kakak sepupunya, Sai. Pasti ada alasan tertentu kenapa Taufan dan Ice tidak segera berkabar ke rumah.
Saat pemuda berkacamata itu sampai di UGD, dia disambut lolongan tangis yang mengerikan dari seorang Taufan bin Amato.
.
.
.
.
.
"Assalamualaikum, Taufan? Halo? Taufan?"
Tangan Ice yang gemetar sudah menekan tombol untuk menjawab telepon itu, tapi dia tak sanggup bersuara. Dia takut kalau dia berusaha bicara maka tangisannya akan pecah seperti kakaknya. Suara sang ayah menerobos masuk tanpa ditanggapi sementara perawat UGD berusaha menenangkan Taufan. Seseorang berjas putih mendekat dan minta izin bicara di telepon,
"Boleh kubantu, Ice?"
Ice menyerahkan ponsel itu tanpa berkata apa-apa. Dilihatnya adik sang dokter, teman sekelasnya, baru saja sampai di pintu UGD dan bergegas menuju ke arah mereka.
"Selamat sore Paman Amato, ini Dokter Kaizo." Abang Fang itu beranjak ketika adiknya sudah sampai, lalu dijawilnya bahu Qually yang juga masih menangani rekannya yang terluka.
"Kaizo. Apa yang terjadi?"
"Maaf Paman, ceritanya panjang sekali."
"Pendekkan kalau begitu?"
"Saya oper teleponnya pada Dokter Qually. Dia yang memberikan pertolongan pertama pada Solar."
"Solar? Solar kenapa?"
Ponsel Taufan sudah berpindah tangan, Kaizo berbisik pada Qually bahwa si penelepon adalah ayah para kembar. Kaizo juga sebetulnya sudah tahu ringkasan ceritanya, karena Nut sudah menginformasikannya lewat radio sebelum helikopter itu mendarat di atap Rumah Sakit Yong Pin. Tapi dalam hal ini akan lebih baik Qually yang menjelaskan secara langsung.
"Selamat siang—eh, selamat malam." Dokter gempal itu sibuk mengelap keringat di dahinya sambil mengerling ke luar, ternyata langit memang sudah gelap. "Dokter Qually di sini … saya bicara dengan Tuan … Amato?"
Qually sendiri perlu menarik napas dalam-dalam sebelum mulai menjelaskan pertarungan antara hidup dan mati yang sekarang sedang terjadi di kamar operasi, karena detak jantung Solar kembali persis saat hampir dinyatakan bahwa anak itu meninggal.
.
.
.
.
.
.
.
.
BoBoiBoy (c) Animonsta Studios
Through the Darkness (c) Roux Marlet
-Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari cerita ini-
Alternate Universe, Elemental Siblings without super powers
Family, Drama, Angst, Hurt/Comfort, Crime, Suspense
.
.
.
.
.
.
.
.
Bab Sebelas: Cahaya
.
.
.
Dua hari setelah hari raya, Halilintar bin Amato merapikan kembali kerah bajunya yang sebetulnya sudah rapi. Dia tegang, jelas. Hari ini dia akan masuk ke gedung pengadilan untuk pertama kalinya. Dia merasa belum siap—harusnya suatu saat dia akan bekerja di situ, bukan hadir di kursi sebelah situ sebagai peserta.
Wajah tegang sang ayah tidak banyak membantu. Taufan yang biasanya cerewet pun hanya diam sepanjang perjalanan. Ice memang biasanya tak banyak bicara. Hanya Pak Guru Kokoci dan Paman Maskmana yang saling berbincang pelan-pelan.
Halilintar kembali memandangi bekas luka berupa garis memanjang di kulit pergelangan tangan kanannya, persis di lajur pembuluh darahnya; dia harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa luka ini yang telah andil menyelamatkan nyawa Solar. Kalau tidak begitu, Halilintar bisa gila.
Sebetulnya, mereka belum bisa menyebut Solar 'selamat'. Si bungsu belum sadar setelah operasi tiga hari yang lalu. Kabar baiknya dia akan terus hidup, tapi kabar buruknya belum ada yang tahu akan jadi seberapa parah kehidupannya ke depan. Perdarahan hebat, sempat henti jantung dan henti napas … biasanya tidak berarti baik untuk fungsi kognitif otak. Belum lagi tambahan fakta yang baru diketahui setelah hasil tes laboratorium ….
Air mata Halilintar menetes lagi, dia sendiri masih harus minum obat untuk sebulan penuh sebelum dinyatakan aman dari penularan penyakit karena pemakaian jarum suntik yang tak jelas kebersihannya. Taufan menyodorkan sapu tangan kepadanya. Ice menepuk bahunya dari belakang.
Halilintar harus kuat. Paling tidak, untuk hari ini saja dia harus pasang tampang tegar. Setelahnya kalau dia mau menangis meraung-raung lagi, itu dipikir nanti saja.
Karena hari ini adalah saatnya hukum bertindak.
.
.
.
.
.
Memori Taufan mundur ke dua setengah hari sebelumnya, di pagi hari raya yang mestinya penuh sukacita, dengan Halilintar di dalam ruang perawatan yang tak henti-hentinya berteriak histeris sementara Pak Guru Kokoci dan Ice sedang mencoba membantu perawat menenangkan amukan si pasien.
"Anakmu belum delapan belas tahun. Masih 'anak' menurut negara."
Pria jangkung yang duduk di hadapan sang ayah menunjuk satu dari sekian banyak kertas yang dibawanya. "Kalau dia mau mengajukan tuntutan, kau harus hadir."
Amato mengernyit. "Tentu saja aku juga akan menuntut. Halilintar tidak bisa ke pengadilan sendirian."
"Apa mereka semua bisa dihukum mati?" Pertanyaan bernada dingin dari Taufan terlontar begitu saja tanpa bisa dicegah. Dadanya berdenyut nyeri saat mengucapkannya. Taufan memejamkan mata sejenak, kilas balik yang sangat tidak enak berkelebat dalam pikiran.
Untuk pertanyaan itu, si pengacara tak langsung menjawab. "Mari kita lihat satu per satu."
Dua orang keluar dari ruang perawatan dan menggabungkan diri.
"Bagaimana?" Amato langsung menyerbu.
Kokoci menjawabnya, "Halilintar kejang lagi. Sudah diberi Diazepam. Dia akan tidur beberapa jam ke depan."
Ice mengusap air matanya dalam diam. Taufan memalingkan muka, tak mau melihat adiknya menangis.
"Jadi, Paman? Teruskan, tolong," desak si anak nomor dua.
"Hukuman untuk penculikan … tujuh tahun penjara dan bayar denda. Pelecehan seksual terhadap anak, dua puluh tahun penjara dan hukuman cambuk. Percobaan pembunuhan, atau penculikan yang bertujuan pembunuhan … pelaku bisa dituntut hukuman mati kalau korbannya meninggal."
"Astaga, jadi Paman berharap ada yang meninggal?!" pekik Taufan tak terima.
"Bukan begitu, Taufan … aku hanya membacakan apa yang tertulis."
"Lanjutkan, Paman."
"Penjara sepuluh tahun dan hukuman denda untuk tindakan penyalahgunaan obat terhadap orang lain. Pemerkosaan … maksimal tiga puluh tahun penjara ditambah hukuman cambuk; eksploitasi anak untuk prostitusi: lima belas tahun penjara ditambah cambuk dan bayar denda; jual-beli manusia sebagai budak: bisa dihukum penjara selama dua puluh tahun ditambah bayar denda …. Terakhir, peredaran narkoba … secara mandatory pelaku yang kedapatan memiliki narkoba harus dihukum mati."
"Jadi dari antara semua itu, hukuman terberat—hukuman mati—malah dari pasal pengedar narkoba?!"
"Begitulah."
"Oh, astaga, aku tak bisa bayangkan kalau Kak Hali mendengar ini. Bisa patah lehermu, Paman."
Maskmana terlihat tak senang dengan kalimat Taufan barusan. "Hukum negara Malaysia memang begini. Terdengar tak adil? Bahkan ayahmulah yang mengusulkan pasal hukuman mati untuk pengedar narkoba, dua puluhan tahun yang lalu."
"Apa itu benar, Ayah?" Ice yang bertanya kali ini.
"Benar. Tapi pasal itu saat ini juga sedang masuk moratorium atau penundaan karena dianggap tidak manusiawi." Tangan Amato terkepal. "Apanya yang tidak manusiawi? Narkoba itu pembunuh masa depan generasi muda."
"Pemerkosaan juga pembunuh jiwa, Ayah," timpal Ice lirih. Amato menatapnya dengan sorot sedih.
"Justru pelaku pemerkosaan anak di bawah umur tidak bisa dituntut hukuman mati?" ulang Taufan dengan kesal. "Kak Hali tak akan bisa menerima ini."
"Pasal ini cukup kompleks."
"Paman," dengus Taufan mencoba sabar. "Jahanam bernama Vargoba itu menyiksa adikku sampai hampir mati."
"Dia tidak mati," sela Maskmana.
"TIDAK! Dia memang tidak mati, tapi tinggal apa yang tersisa darinya?! Harga diri, akal sehat? Dia juga kena sifilis dan HIV sekaligus! Aku bahkan tak tahu mana yang lebih baik, apakah Solar mati hari itu atau tetap hidup dan menanggung semua ini."
Ice terisak pelan mendengarnya.
"Aku mau orang itu dihukum mati," geram Taufan. "Kak Hali pasti setuju denganku. Dia sendiri yang menyaksikan Solar dinistakan sebegitu parahnya."
Maskmana bertukar pandang dengan Amato dalam diam.
Taufan bersuara lagi, "Hanya karena Vargoba bukan pengedar narkoba, lantas dia terbebas dari hukuman mati? Astaga, yang dia lakukan jauh lebih buruk daripada Retak'ka."
Amato ikut berpendapat, "Taufan, justru Retak'ka yang meminta orang itu melakukannya. Dia dalangnya."
"Oh ya, Ayah, Retak'ka pun harus dapat hukuman mati."
"Sayangnya tidak semudah itu."
"Ayah! Mereka sudah membuat Solar menderita! Apa perlu kuulangi lagi? AYAH TIDAK MELIHAT SENDIRI KONDISI SOLAR WAKTU ITU! Oh, sial, air mataku keluar lagi."
Baru kali ini Amato mendapati Taufan murka—disambung langsung menangis setelahnya. Semua ikut tertunduk murung mendengar kalimat Taufan, tapi si anak kedua memejamkan mata dan menggelengkan kepala dengan gusar seolah sedang mengusir lalat di sekitarnya.
"Ayah, aku tidak bisa melupakan apa yang sudah kulihat … semuanya seperti foto di dalam kepalaku."
Amato dan Kokoci bertukar pandang terkejut, sementara Ice menatap kakaknya sambil terbelalak.
"Photographic memory …?" gumam Kokoci takjub. Taufan mengangguk, matanya masih terpejam, dahinya berkerut dalam. Ice menggenggam tangan sang kakak, berusaha menyalurkan dukungan. Selama bermenit-menit mereka semua diam sampai Taufan selesai menangis dan membuka mata lagi.
Kemudian Maskmana bicara lagi,
"Justru dari semua pasal ini … yang bisa kena hukuman terberat adalah Ayu Yu. Pengedar narkoba, penculikan, pemerkosaan anak di bawah umur, bahkan tindakan medis ilegal. Tapi kalau bukan karena dia ..."
… barangkali Solar tidak tertolong. Taufan senang Maskmana tidak menuntaskan kalimatnya, karena keseluruhan apa yang dilakukan Ayu Yu terhadap Solar adalah kontradiksi yang miris dan menyakitkan.
"Apa akan ada keringanan hukuman? Menurutku perempuan itu pantas mendapatkannya," sela Ice. "Sepertinya dia tidak jahat, tapi karena terpaksa."
"Memerkosa Solar sampai tiga kali sambil tertawa-tawa, apa itu terpaksa namanya?" sembur Taufan. "Kalau bukan jahat, berarti dia gila."
"Apa menurut Kak Taufan hukuman mati adalah yang terbaik?" balas Ice, nadanya membujuk sang kakak untuk berpikir dengan tenang. "Sekali tembak dan nyawa melayang, maka cerita tamat untuk si penjahat. Menurutku hukuman penjara dan cambuk lebih masuk akal, waktunya panjang dan bisa membuat para penjahat itu berpikir, untuk merenungkan kesalahan mereka. Kalau bisa mereka malah dipenjara dan dicambuk saja sampai akhir hayat—sayangnya pasalnya tidak berbunyi demikian."
"Untuk Vargoba, hidupnya tidak panjang lagi," ujar Maskmana perlahan. "Penyakit AIDS-nya sudah stadium empat …."
Taufan mengerang penuh penderitaan. "Jangan ingatkan aku soal itu, Paman."
Maskmana meraih sebuah map. "Yang lain juga sudah tidak muda lagi. Ayu Yu adalah anggota mereka yang paling muda, dia baru dua puluh tujuh. Juga hanya dia satu-satunya yang sudah pernah menikah di antara Geng Kristal."
Ice tertegun. "Di mana suaminya sekarang, kalau begitu?"
"Aku juga tidak tahu. Perempuan ini mungkin memang agak gila, tapi dia cukup bisa berpikir lurus saat ..." Maskmana berhenti lagi. "Kalian tahu, polisi sudah menyita semua bukti rekaman di rumah itu."
Taufan menggelengkan kepala sambil berbicara sinis, "Solar tak mungkin pernah membayangkan dirinya jadi bintang utama film porno."
"Taufan," tegur Amato. Dari tadi anak keduanya itu tajam sekali perkataannya.
"Taufan. Satu hal perlu kuluruskan sebelum kau lanjut menghakimi Ayu Yu," ujar Maskmana. "Ayu Yu dan Vargoba sama-sama pengidap HIV, tapi Solar hanya tertular dari Vargoba."
.
.
.
.
.
Gempa sama sekali tidak menduga siapa yang pertama datang ke rumah Tok Aba di hari raya yang suram. Setahunya Taufan dan Ice ikut menginap di rumah sakit, menunggui Halilintar dan Solar yang sudah diselamatkan dari penculik dengan bantuan polisi, sementara Ayah dan Ibu menyusul ke sana. Di pagi yang berkabut itu Gempa bangun lebih dulu daripada Tok Aba dan sedang membuka kunci-kunci pintu ketika matanya menangkap sosok kecil yang pernah akrab di waktu dulu. Sosok yang dulu menjadi panutannya, kini hadir dan mengundang rasa rindu yang sulit dijelaskan. Dikuceknya mata sambil terperangah tak percaya.
"Pak Guru Kokoci ...?"
"Ah, assalamualaikum, Gempa. Apa kabar? Kamu sudah besar, ya."
.
.
.
.
.
Blaze memantau ponselnya hampir lima menit sekali sejak Ice meninggalkan rumah. Meski bilang tak masalah Ice pergi, bahkan adiknya itu membawa senjata andalannya saat dijemput polisi, dalam hati Blaze masih sangat khawatir dan cemas. Pesan terakhir Ice di malam takbiran tidak juga membuatnya tenang. Duri pun gelisah sepanjang hari meski sudah diajak tidur sekamar dengan Gempa dan Blaze, yang kehabisan akal untuk membuat suasana agak ceria sedikit.
Yang bisa dilakukan Blaze hanya membuat Duri sibuk memasak di dapur (dengan pengawasan ketat darinya dan Tok Aba, tentu) biar pikirannya teralih dari Halilintar yang diculik dan Solar yang saat itu mereka tak tahu ada di mana. Blaze perlu memaksa Gempa tetap tinggal di kamar dan mengistirahatkan punggungnya, karena kalau tidak begitu sang kakak pasti bersikeras mau menyiapkan makanan dengan kondisi badan yang tidak memungkinkan.
Saat tiba hari raya dan seorang tamu tak terduga datang ke rumah, Blaze adalah yang bangun paling akhir. Suara cempreng Duri yang berlagu mampir di telinganya, membuatnya terlonjak bangun dengan kaget dan hampir berteriak karena mengira Duri memanjat ke atas tempat tidurnya tanpa pengawasan. Beberapa detik kemudian Blaze baru sadar bahwa setelah salat Subuh dia ketiduran di ranjang Halilintar di bawah.
"Kak Blaze~! Ada Pak Guru Kokoci~"
.
.
.
.
.
Yang mudah terharu itu bukan hanya Gempa, tapi juga Ice. Dia tak malu-malu menunjukkan air matanya, bahkan meski kakaknya, Taufan, tetap pasang muka datar dan dingin sepanjang Maskmana bercerita—masa bisa sih si anak nomor dua kesurupan wataknya Halilintar saat ini?
Ayu Yu menikah di usia dua puluh tahun, dijodohkan oleh orang tua—cerita klasik di daerah pelosok di mana adat-istiadat masih kuat. Dia masih sekolah perawat ketika menikah dan baru lulus setahun setelahnya, lalu bekerja di sebuah rumah sakit yang jauh dari perkotaan. Sebuah insiden terjadi ketika begitu banyaknya pasien akibat wabah difteri yang merebak, membuat semua staf kewalahan. Ayu Yu tertusuk jarum suntik bekas seorang pasien HIV. Pertolongan pertama sudah diberikan di rumah sakit dan Ayu Yu pulang ke rumah membawa obat untuk mencegah virus itu lanjut berkembang di tubuhnya, namun suaminya menemukan obat itu dan menuduhnya yang tidak-tidak.
Ice sudah mulai menangis mendengarkan bagaimana Ayu Yu dipukuli lalu dipasung di rumah oleh suaminya sendiri, dibentak dan dimaki-maki, tak peduli akan penjelasan sang istri yang putus asa. Orang tua Ayu Yu juga kurang berpendidikan sehingga tidak paham dan tak bisa apa-apa. Suami Ayu Yu mengirimnya ke rumah pelacuran, "tempat segala kemaksiatan berkumpul" dan dengan demikian menceraikannya secara tidak terhormat selain membiarkan penyakit itu merajalela tanpa penanganan.
Orang mana yang tidak jadi gila setelah itu?
Ayu Yu tahu dirinya tidak cantik, tubuhnya juga tidak seksi. Mana bisa jadi pemuas birahi laki-laki. Berkali-kali dia mencoba bunuh diri di rumah barunya tapi selalu ketahuan dan berakhir dipecut habis-habisan oleh si muncikari. Malam demi malam berlalu bagaikan mimpi buruk tiada akhir, sampai suatu ketika seorang lelaki berbadan besar bertandang ke kamarnya. Saat semua baju dan nafsu sudah dilepas, Ayu Yu melihat bahwa pria itu terluka di perutnya, dijahit dengan serampangan dan ada tanda-tanda infeksi berupa nanah di sana.
"Tuan, kau terluka."
Dengan anggur tua dalam botol dan jarum jahit serta benang pakaian seadanya, Ayu Yu merawat luka itu, sementara si lelaki diam seribu bahasa. Malam itu hanya satu kali saja mereka bersanggama dan beberapa hari kemudian pria itu datang lagi.
"Berapa hargamu?"
"Haaah, sialan. Memangnya kemarin itu kau belum membayar?"
"Bukan. Berapa harganya untuk mengeluarkanmu dari sini."
Ayu Yu tidak percaya apa yang didengarnya. Buat apa susah payah membeli pelacur jelek sepertinya? Tapi malam itu juga dia betul-betul dibawa keluar dari rumah itu oleh si pria berbadan besar.
"Siapa namamu?" Pria itu bertanya di dalam mobil yang melaju.
"Apa penting?"
"Namaku Gogobi. Kalau orang bertanya tentang namamu dan memperkenalkan namanya tanpa diminta, kau juga harus menjawabnya."
Si hawa mendengus. "Ayu Yu."
Gogobi tidak bicara lagi sepanjang perjalanan dan Ayu Yu juga tidak berniat memulai percakapan. Sudah lama harapan telah meninggalkan hati perempuan itu, maka dia tidak mau berharap, meskipun Gogobi tidak memperlakukannya dengan kasar baik di kendaraan maupun di atas ranjang kemarin. Pergi dari neraka yang satu ke neraka yang lain, barangkali … apalagi setelah sampai di tempat yang dituju, didapatinya sudah ada tiga pria lain.
"Aku tak sanggup kalau harus melayani empat pria dalam semalam," protesnya pada Gogobi.
"Kami tak butuh servis malammu," sahut seorang pria eksentrik berambut keperakan. "Kudengar kau seorang perawat. Mestinya kau terlatih menyuntik orang, benar begitu?"
.
.
.
.
.
Duri mendengarkan penuturan Kokoci sambil berkedip-kedip bingung.
"Astagfirullah … Ya Allah …."
Tok Aba mengucapkan nama Tuhan berulang-ulang, sementara Gempa bungkam dengan seluruh tubuh gemetaran. Blaze juga diam, tanpa sadar merangkul Duri ke dalam pelukan. Yang diucapkan Kokoci sebetulnya sederhana saja menurut orang awam:
Halilintar perlu rehabilitasi, dia habis disuntik narkoba oleh penjahat. Solar baru selesai dioperasi, usus besarnya robek karena disodomi.
Duri masih tak paham akan beberapa kosakata yang belum pernah didengarnya, tapi dia tahu bahwa kedua kalimat itu, kabar tentang kedua saudaranya, sangat membuat Gempa terpukul.
"Salahku … Atok … salahku semuanya jadi begini …. Ya Allah … Kak Hali, Solar …."
Belum pernah Duri melihat Gempa yang tegar dan selalu jadi panutan itu menangis dan meraung sedemikian pedihnya sampai-sampai dia sendiri jadi meneteskan air mata. Blaze ikut menangis, dia sesenggukan di belakang punggung Duri yang tetap belum terlalu memahami duduk perkaranya. Tok Aba tak tahan melihat Gempa begitu emosional, dia merengkuh sang cucu dan memeluknya erat.
"Gempa … Gempa … tenanglah ..."
"Mana bisa aku tenang, Tok?!" seru Gempa yang tak pernah berteriak pada sang kakek. "Masa depan mereka … hancur sudah … gara-gara aku!"
Duri menoleh menatap Blaze, mencoba minta petunjuk, tapi Blaze sendiri terlalu sibuk mengelap ingus dan air mata yang sudah berantakan. Kokoci bangkit berdiri dan meminta mereka berdua mengikutinya ke teras belakang, sementara Tok Aba menenangkan Gempa.
"Blaze, Duri … tentunya kalian belum pernah melihat Gempa seperti ini."
Kedua anak kembar itu menggelengkan kepala.
"Duri, apa kamu mengerti apa yang terjadi?" tanya Kokoci.
Duri ragu-ragu. "Soal Kak Hali, aku paham … tentang Solar, aku tak paham. Tapi sepertinya sesuatu yang sangat menyedihkan, Pak Guru."
Blaze meremas bahu adiknya sambil menyedot ingus. "Duri, kamu ingat pelajaran seksualitas dari Ayah? Tentang apa yang dilakukan orang jahat, memaksa orang berhubungan seks?"
Duri mengangguk perlahan. Perasaannya tidak enak.
"Itu yang dialami Solar kemarin …," ujar Blaze, bersiap-siap mendapatkan satu lagi ledakan tangis, tapi Duri ternyata tidak meledak. Apa adiknya ini belum juga paham? Blaze mencoba bicara lagi, dadanya terasa berat,
"Solar diperkosa laki-laki—"
"Kejam."
Satu kata saja yang terucap dari mulut Duri dan dia terisak-isak kecil. Pemahaman akan kenyataan itu membuat si anak nomor enam merasa gamang, tak pernah mengira bahwa sesuatu yang demikian mengerikan bakalan terjadi pada keluarganya—terlebih, pada satu-satunya adiknya, saudara yang paling disayanginya.
Kalau Duri bilang hatinya serasa dikoyak oleh duri tajam hingga berdarah, rasanya itu tak berlebihan.
.
.
.
.
.
Blaze tahu rasanya sangat menyeramkan ketika batas privasimu dilanggar orang lain. Dia masih belum bisa melupakan ketika dirinya disentuh-sentuh dan dicakar waktu diculik dulu—dan mendengar kabar bahwa adik bungsunya mengalami hal yang lebih jauh dari itu membuat hatinya tercabik-cabik. Tapi itu belum seberapa dengan menyaksikan Gempa demikian hancur. Kokoci tidak menginap di rumah Tok Aba, sebagai gantinya ibu mereka yang pulang di hari raya. Wanita bermata biru cerah itu ikut menangis bersama Gempa, yang kemudian juga mencurahkan semua bebannya selama ini. Duri juga mendengarkan semuanya dan menangis dalam diam.
Amato dan Kokoci punya banyak pekerjaan di rumah sakit—menangani Halilintar dan Taufan sekaligus, yang sama-sama 'mengamuk'. Kombinasi keduanya seolah jadi badai petir yang bahkan menahan Ice untuk tetap di rumah sakit dan membantu, meski Blaze juga yakin Ice sama saja terpukulnya.
Kokoci sudah berpesan pada Blaze, bahwa inilah saatnya dirinya yang menjadi pelindung Gempa dan Duri. Selama ini Gempa yang jadi pelindung mereka semua, tapi mereka lupa Gempa juga manusia biasa. Kokoci juga bilang terus terang bahwa dalam kepulangan ini sebenarnya Amato berencana membawa Blaze menemui dirinya.
"Menemui Pak Guru?"
"Iya. Kalian tidak pernah tahu, 'kan, aku ini seorang psikiater."
"Wow … psikiater itu dokter, 'kan?"
"Ya, benar."
"Dokter kesehatan jiwa? Pak Guru kerja di rumah sakit jiwa?"
Kokoci hanya mengangguk singkat. Blaze masih terlihat takjub dan ingin tahu.
"Kenapa kau dulu mengajar kami?"
"Dengar, Blaze. Dahulu Amato dan ibu kalian juga klienku, istriku juga seorang dokter, spesialis kandungan. Apa kau belum tahu sejarah kelahiran kalian bertujuh?"
Blaze mengerjap. "Ayah tak pernah cerita secara spesifik."
"Hmm, hmm, dasar Amato. Kau sendiri, Blaze, pernah bertanya-tanya kenapa warna mata kalian berbeda-beda?"
"Kurasa itu tak penting. Wajah kami sama semua, justru kalau warna mata kami juga sama, bakalan repot."
"Ayahmu bermata cokelat, ibumu bermata biru. Ada di antara kalian yang warna matanya mendekati cokelat, berarti gen ayahmu lebih kuat. Yang bermata biru, gen ibu yang dominan."
Blaze berpikir-pikir, mengingat-ingat warna mata saudara-saudaranya dan mendapati ada yang tidak masuk kriteria mana pun. Dirinya, Halilintar, dan Gempa mewarisi warna mata Amato sedangkan Taufan dan Ice warna mata sang ibu. "Kalau Duri dan Solar?"
"Mereka berdua punya kelainan pigmen mata. Warna hijau itu dekat dengan biru, sedangkan kelabu bentuk yang memudar dari cokelat."
Blaze termenung sejenak, kemudian sang guru meneruskan,
"Kelahiran tujuh bayi kembar belum pernah terjadi, tahu. Kapan-kapan biar kuajak Kuputeri, istriku, ke sini. Kau itu adalah salah satu keajaiban dunia, Blaze. Aku yakin kau akan jadi orang hebat."
Belum pernah Blaze mendengar ucapan serupa ditujukan kepadanya. Kalau orang bilang begitu pada Solar, sih, sudah sering. Dalam hati Blaze jadi terharu dan tiba-tiba merasa sesak.
"Pak Guru … maafkan aku. Sebelum ini sudah banyak hal yang terjadi …." Oh tidak, mana sanggup Blaze bercerita tentang semua hal buruk yang dia lakukan terhadap adik-adiknya?
Kokoci menepuk kepala Blaze. "Aku sudah tahu ceritanya dari ayahmu, Blaze. Jangan jadikan itu beban, tapi sebagai bahan bakarmu. Kamu itu mirip api, seperti arti namamu. Jaga api itu tetap menyala, tapi kau juga harus waspada agar apinya tidak terlalu membesar dan melukai orang."
.
.
.
.
.
Amato dan istrinya tidak muluk-muluk mengharapkan sambutan yang hangat. Mereka sudah bertahun-tahun tidak pulang dan anak-anak mereka sudah tidak lagi di usia untuk bermanja-manja. Mereka bertujuh sudah besar.
Tapi saat menelepon ke rumah di malam sebelum puasa terakhir dia mendapati hanya ada ayahnya dan tiga dari tujuh anaknya, Amato berpikir lagi. Harusnya dia pulang lebih cepat.
Amato masih ingat dengan jelas, kelahiran ketujuh anaknya yang menghebohkan. Istrinya menjalani caesarean section sampai satu jam penuh karena ada kesulitan, terutama pada anak keenam dan ketujuh. Mereka semua lahir prematur, baru tujuh setengah bulan dalam kandungan, dan meski berat badan kurang dari normal serta sempat diinkubasi, tak satu pun dari mereka ada yang cacat. Mengingat pekerjaan Amato yang banyak bertemu orang penting di dunia, kabar bahwa dia punya anak kembar tujuh pasti bikin geger. Dia tak mau kalau sampai anak-anaknya tumbuh besar dibayangi blitz kamera dan wartawan tiap hari, maka dia minta tolong pada ayahnya yang tinggal di Pulau Rintis. Di sana hanya ada wartawan lokal dan media massa tidak akan seheboh kota-kota besar.
Kepada ketujuh anaknya, Amato tidak pernah menunjukkan bahwa dia pilih kasih, tapi sesungguhnya dia memang paling menyayangi si bungsu. Tok Aba juga pernah bilang bahwa Solar "mirip Amato waktu kecil" dengan tingkahnya yang selalu ingin tahu dan mencoba hal baru.
Amato sendiri pernah hampir jantungan ketika mendapati Solar umur lima tahun bertengger di pinggir jendela waktu dini hari, saat di rumah mereka di Kuala Lumpur. Baru tahu ia rasanya jadi Tok Aba, yang pasti merasakan hal yang sama tiap kali Amato mencoba yang aneh-aneh. Untuk kasus jendela, Amato sendiri tak paham kenapa Solar duduk di situ, di dalam gelap, tanpa suara. Hanya kebetulan Amato terbangun jauh sebelum salat Subuh dan berniat menengok anak-anaknya yang tertidur pulas, eh dia malah menemukan si bungsu di pinggir situ. Kalau dia teriak pasti akan ada yang kaget, malah mungkin Solar sendiri terjungkal keluar jendela, jadi didekatinya anak itu pelan-pelan. Tempat tidur Solar memang yang paling dekat dengan jendela.
"Ada apa, Ayah?" Solar bertanya dengan suara pelan tanpa menoleh, saat Amato tinggal semeter dari ambang jendela. Sang ayah terbelalak.
"Kau tahu ini Ayah?" balasnya ikut berbisik.
Solar menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh. Matanya yang terpejam, pelan-pelan membuka. "Iya, aku tahu. Bunyi napas dan suara kaki Ayah hampir sama berisiknya dengan Kak Blaze."
Amato merengut. Bisa-bisanya Solar mewarisi juga sifatnya yang suka menyindir orang ….
"Aku suka duduk di sini," ucap si bungsu tanpa diminta. "Ayah lihat, sebentar lagi matahari mau terbit …. Sini, nonton denganku, Ayah."
.
.
.
.
.
Kembali ke dua hari setelah Idul Fitri di mana pengadilan diselenggarakan, Halilintar hampir tak sanggup membendung emosinya kalau tidak ada Ice yang secara harfiah membawa kantong es batu di sisinya. Begitu terpapar hawa dingin, vertigo Halilintar bisa kumat. Kurang ajar memang si anak nomor lima, tapi Halilintar bersyukur karena dengan demikian dia bisa menahan diri untuk tidak melompati balkon dan menghajar Hakim Balakung atau menempeleng kepala Vargoba yang tersenyum pongah sepanjang proses pengadilan.
Si sulung sama sekali tak puas dengan keputusan yang ada dan dia tahu Taufan merasakan hal yang sama. Tak ada yang dijatuhi hukuman mati, tapi Vargoba dan Retak'ka mendapat tiga puluh tahun penjara ditambah hukuman cambuk (kalau mereka masih hidup sampai waktu itu habis), sedangkan Kechik dan Gogobi masing-masing lima belas tahun penjara.
Tadinya Halilintar malah disudutkan dengan klausul yang menyebutkan bahwa apa yang para penjahat lakukan terhadapnya bukan penyalahgunaan narkoba karena dia "dengan sukarela minta obat itu dimasukkan". Amato dengan lihainya mematahkan argumen Retak'ka dengan menjadikan fakta bahwa Halilintar masih berumur tujuh belas tahun sebagai senjata. Di mata hukum, hanya warga negara berusia delapan belas ke atas yang dipandang sah untuk membuat keputusan seperti itu. Sama seperti ada batas umur persetujuan untuk berhubungan seksual, jika umur itu belum tercapai maka sama saja dengan pemerkosaan sekalipun si anak mengatakan iya.
Namun suasana agak memanas saat Retak'ka sempat di atas angin. Dia mengancam dengan halus bahwa seumur hidupnya Halilintar bakalan kena serangan kejang tiap beberapa waktu dan bahwa obat itu belum ada penawarnya, kecuali Retak'ka diperbolehkan meneruskan penelitian mereka. Amato jeli mendapati salah satu anggota Geng Kristal tampak gelisah di kursinya. Kemudian Cakada diminta berbicara. Sang saintis pendiam rupanya juga memilih berkata jujur, dengan harapan hukumannya bisa diperingan. Dia setuju bekerja sama dengan divisi sains interpol untuk meneliti obat baru ciptaannya itu, tentunya dengan pengawasan. Selama waktu itu, maka Halilintar akan diminta tinggal di panti rehabilitasi.
Taufan dan Ice sama-sama protes mendengarnya, tapi Halilintar sendiri berujar dengan dingin,
"Lebih baik begini, hanya beberapa bulan. Daripada terbayang-bayang terus seumur hidup? Lagipula dengan masuk ke sana bukan berarti aku sengaja menggunakan narkoba, 'kan."
Hukuman untuk Cakada adalah sepuluh tahun penjara. Sementara untuk yang lain tetap diajukan banding untuk meringankan hukuman, Maskmana dan Amato juga mengusahakan biar hukuman itu jadi seberat mungkin. Adalah tugas sang hakim untuk memutuskan jalan tengah.
Kesaksian dari Ice membantu meringankan hukuman untuk Ayu Yu dan akhirnya wanita itu hanya dihukum penjara selama lima tahun—keputusan yang tidak diprotes baik oleh Taufan maupun Halilintar. Mereka setuju orang itu tetap perlu mendapat hukuman atas perbuatannya, tapi tidak perlu seberat yang lain, apalagi karena interpol juga punya rencana terhadap mantan perawat itu. Yang harus dilakukan terhadap Ayu Yu selagi dia mendekam di dalam penjara khusus perempuan adalah rehabilitasi mental.
.
.
.
.
.
Ayu Yu samar-samar teringat malam itu, hanya beberapa hari sejak Geng Kristal meninggalkan Pulau Rintis, setelah sempat hampir membawa sepasang anak kembar ke pelelangan. Basecamp mereka di Sarawak memang tidak sebesar yang ada di pulau itu, karena yang punya rumah di Sarawak adalah Cakada, sedangkan rumah terbesar jelas punya Retak'ka yang ditinggali oleh Kechik yang bekerja di majalah setempat Pulau Rintis. Kamar Ayu Yu dipisah dari yang lain, tapi letaknya bersebelahan. Saat wanita itu sudah hampir terlelap, dia mendengar ada yang masuk ke kamarnya.
Sialan, batinnya. Masa si Gogobi bodoh mabuk lagi sampai salah masuk kamar? Hal ini sudah pernah terjadi dan Ayu Yu menendang pria itu keluar. Sejak diterima dalam Geng Kristal, Ayu Yu tak pernah lagi berhubungan seksual dengan lelaki yang lebih tua darinya, meski faktanya Gogobi sudah pernah mencobanya, waktu dia masih penghuni rumah pelacuran.
"Itu kau, Gogobi?" ujar Ayu Yu sambil mendudukkan diri. Bayangan orang yang masuk memang tampaknya besar dan bergerak dengan lamban, membuat wanita itu sebal. "Keluar kau, jangan coba-coba atau kulaporkan Bos."
"Tapi aku ini Bos," lelaki itu menjawabnya, membuat Ayu Yu terbelalak kaget karena tahu suaranya. Orang yang masuk ke kamarnya rupanya Retak'ka sendiri.
"B-bos?" Ayu Yu hendak berdiri dan meraih sakelar lampu. "Ada perlu apa—"
Retak'ka mendorongnya dengan kasar, membuatnya terhempas kembali ke tempat tidur. "Apa kau tidak senang di sini, Ayu Yu?"
"Maksud—"
Sebelum Ayu Yu sempat bertanya lebih lanjut, Retak'ka sudah menindihnya, membuatnya memekik keras.
"Kau lebih suka kukembalikan ke rumah laknat itu?"
"Bos … aku tak paham …."
Ada suara keras ketika pipi Ayu Yu ditampar, lalu tangannya diikat ke tiang tempat tidur. Si wanita tak bisa apa-apa ketika Retak'ka menyuntik lengannya lalu mulai melucuti gaun tidurnya. Baru kali ini bosnya memperlakukannya seperti binatang.
"Tak paham, hm? Bukankah kau takut, berhubungan seks dengan pria yang lebih tua darimu? Biar kuingatkan kau pada rasanya."
Ayu Yu menjerit-jerit minta tolong sampai suaranya serak, Retak'ka menyerangnya tanpa belas kasihan. Setelah klimaks beberapa kali pria itu bicara lagi,
"Yang lain sudah tahu apa yang kuperbuat padamu dan kuminta tak ada yang ikut campur. Apa kau paham di mana letak kesalahanmu, Ayu Yu?"
Sekujur tubuh Ayu Yu terasa seperti terbakar, gairahnya berada di puncak tertinggi entah karena apa. Mana mungkin dia birahi karena bosnya sendiri? Pikirannya berkabut dalam kebingungan dan debaran jantung yang menggila.
"Aku mencobakan padamu obat perangsang buatan Cakada. Sepertinya kau masih kuat beberapa ronde lagi."
Astaga, sejak kapan Ayu Yu berubah status menjadi kelinci percobaan?
"Jadi? Kau tahu bahwa bocah biru itu masih hidup dan kau diam saja?"
Mata Ayu Yu membola, tak mengira itulah alasannya diserang seperti ini.
"Namanya Ice bin Amato … kau pernah dengar nama Amato? Atau tidak?"
Ayu Yu menggeleng pasrah. Napasnya hampir habis karena Retak'ka tak memberinya jeda istirahat.
"Amato bin Aba … gara-gara dia bisnisku sempat anjlok sekitar dua puluh tahun yang lalu. Dia mendorong pemerintah melegalkan hukuman mati untuk pengedar narkoba."
"Du-dua puluh tahun yang lalu?"
"Sebelum ditunjuk jadi duta, dia menjabat Menteri Perdagangan Internasional dan Industri. Sialan memang para pengabdi negara itu. Sekarang, aku punya kesempatan membalas dendam terhadapnya …."
Ayu Yu masih tak mengerti duduk perkaranya. Kalau Ice yang diselamatkannya memang anak dari Amato yang dibicarakan si bos, lalu kenapa? Bukankah Ice sudah lepas dari mereka?
"Bocah itu kembar tujuh rupanya. Mereka berdua yang kita culik hari itu, si nomor empat dan nomor lima. Masih ada lima lagi anaknya yang lain … luar biasa memang intelnya Kechik. Tampaknya kakek mereka orang terpandang di daerah itu. Aku sudah punya nama mereka masing-masing, juga beberapa fakta yang menarik ..."
Air mata Ayu Yu membayang meski Retak'ka yang sedang bicara dengan berapi-api tak lagi melampiaskan nafsu pada tubuhnya. Bosnya ini mau apa …? Apa belum cukup mereka kadang-kadang menyekap anak-anak remaja untuk kemudian melepas mereka pulang dengan sekantong heroin?
"Kuperingatkan kau, Ayu Yu. Berikutnya kalau kau melanggar perintahku, kau akan kembali ke rumah itu."
Ayu Yu menggeleng lemah, lalu menjerit lagi. Retak'ka belum mau berhenti rupanya.
"Besok pagi, kalau obat ini berhasil, kau tidak akan ingat apa yang terjadi sekarang. Tapi kupikir tubuhmu akan mengingatnya …."
Dalam diskusi full-team Geng Kristal keesokan paginya, Ayu Yu hanya punya ingatan yang sangat samar tentang sanggama yang kasar, barangkali mimpi buruk dari masa lalu. Dia tak merasa sakit dan bisa berjalan dengan benar, tapi ketika menatap bosnya sekujur tubuhnya jadi gemetaran.
"Kedua anak yang kita culik kemarin, Blaze dan Ice, mereka belum mati. Kudengar yang namanya Ice sekarat di rumah sakit, tapi itu tak penting sekarang. Kita punya dua obat baru, perangsang gairah dan penguat stamina. Culik dua anak lagi, kita cobakan satu-satu. Ayu Yu, kau tahu tugasmu, kau pasti senang. Umur mereka tujuh belas tahun, wajah mereka sama persis dengan si bocah biru."
Entah kenapa kali ini Ayu Yu tidak bersemangat.
"Target kita si anak sulung, namanya Halilintar. Hanya dia yang bisa bela diri dan berkendara sepeda motor. Kemudian, salah satu adiknya. Kalau bisa yang satunya ini … antara Taufan si nomor dua atau Solar si bungsu … kalau dapatnya selain itu, kita ganti rencana."
"Kenapa mereka itu Bos?" Gogobi bertanya. "Si nomor dua dan si bungsu?"
"Si Taufan itu jurnalis di sekolahnya. Kalau dia sendiri pernah diculik dan diperkosa lalu menulis berita tentang kita, omzet kita bisa naik, hahaha. Sedangkan Solar itu anak jenius. Kalau Ayu Yu sudah selesai dengannya, akan kujadikan dia asisten penelitianku."
.
.
.
.
.
Ayu Yu memang tak begitu saja membuang ilmu medis yang pernah dipelajarinya dan rupanya itulah yang menuntunnya keluar dari neraka. Mau tak mau dia harus berterima kasih pada Gogobi yang di hari itu telah memilihnya, menjadi seutas benang penyelamat yang menariknya ke kehidupan baru yang sebetulnya sama saja maksiatnya—tapi kalau tidak begitu, mungkin Ayu Yu tak akan pernah bertemu Solar bin Amato.
Pemuda itu membuatnya takjub. Ayu Yu tak pernah jatuh cinta, dia bahkan tak mencintai suaminya sendiri waktu menikah dahulu, tapi yang dirasakannya terhadap Solar bukan sekadar gairah seksual seperti pada pemuda-pemuda umur belasan tahun yang pernah diajaknya bersetubuh. Ayu Yu menyukai lelaki yang lebih muda karena dirinya sendiri masih muda ketika menjadi tercemar—istilah yang selalu membuatnya tertawa histeris. Suaminya sendiri yang telah membuatnya tercemar.
Awalnya Ayu Yu mengira Solar sama saja seperti pemuda (sok) alim lainnya yang sangat terguncang ketika tahu dirinya terjerumus narkoba plus seks bebas. Solar juga sempat terpuruk, tapi berhasil bangkit—dialognya dengan Halilintar malam itu, meski sebelumnya dia memang menangis heboh, membuat Ayu Yu tertegun. Wanita itu tak bisa memahami kekuatan apa yang bisa menjaga pikiran Solar tetap waras, bahkan masih sanggup mengkritik Ayu Yu di keesokan harinya, ketika semua rencana yang melibatkan Vargoba sudah disusun dan Ayu Yu mengalami dilema luar biasa antara memberi tahu Solar apa yang akan terjadi padanya atau tidak bilang apa-apa.
Karena ternyata Solar lebih tangguh daripada yang mereka duga, dan semua harus berakhir seperti ini … hanya keterlibatan Vargoba satu-satunya hal yang disayangkan Ayu Yu. Seandainya Solar sudah cukup terpukul dengan diperkosa Ayu Yu sampai tiga kali, sehingga Retak'ka bisa mengendalikannya dengan itu, maka Vargoba tak perlu ada dalam skenario ini. Semua yang dilakukan Ayu Yu selalu penuh perhitungan. Saat obat perangsang membuat Solar ereksi, Ayu Yu memakaikan kondom kepadanya, menghindarkannya dari risiko tertular HIV. Dan dia memilih tangan kiri Solar saat menyambungkan transfusi darah Halilintar, pilihan yang tepat, karena jantung ada di sebelah kiri tubuh. Sebetulnya di antara mereka semua, termasuk Vargoba sekalipun, tak ada yang menginginkan Solar meninggal. Yang diperlukan hanya agar anak itu mau menurut—tapi ternyata yang dilakukan Vargoba melampaui batas dan kondisi hemofilia Solar yang terlambat disadari membuat nyawa pemuda itu nyaris melayang. Ayu Yu sangat bersyukur ketika di bilik penjara ia mendengar bahwa Solar berhasil selamat setelah dioperasi dan siuman di hari kelima, setelah persidangan selesai.
Sekarang, yang harus dipikirkan adalah apa yang akan dihadapi si Matahari dalam beberapa tahun ke depan, dengan fakta bahwa penyakit si setan Vargoba kini juga bercokol di tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pembagian tugas setelah persidangan kurang lebih seperti ini: Kokoci mendampingi Halilintar di panti rehabilitasi, Taufan menjaga Solar di rumah sakit, sang ibu menemani semua yang ada di rumah, sedangkan Amato bolak-balik di antara tiga tempat tersebut. Pada hari kedua setelah persidangan, Amato membawa Duri ikut serta ke rumah sakit.
"Dia merengek minta ikut," bisik Amato pada Taufan, yang ragu-ragu untuk langsung membawa Duri masuk ruang perawatan. Taufan sendiri belum cukup kuat untuk masuk lagi, hanya satu kali dia pernah ikut masuk bersama perawat dan langsung merasa tak sanggup.
Sebelumnya Solar adalah sosok yang paling bersinar di antara tujuh bersaudara—dia selalu merawat kulitnya dengan baik, entah bagaimana caranya bisa terhindar dari penggelapan akibat terbakar sinar matahari, bahkan kalau Taufan boleh mengibaratkan pasti nyamuk akan tergelincir kalau mendarat di wajah Solar. Sekarang wajah itu dipenuhi bisul-bisul kecil yang terlihat mengerikan akibat sifilis, juga masih ada sebuah noda gelap yang luas di pipi sebelah kiri. Kalau menurut cerita Halilintar, si sialan Vargoba yang membuat memar itu di sana. Yang lebih mengiris hati lagi, karena ternyata benar Solar mengidap hemofilia, semua lukanya tidak bisa begitu saja sembuh. Di leher, di tangan, dan kakinya masih ada bekas belenggu rantai. Vargoba betul-betul jahanam, pengin rasanya Taufan diperbolehkan mencambuk sendiri orang itu.
Taufan mencatat dalam hati, PENTING: Duri bisa pingsan kalau melihat Solar seperti ini.
"Nanti Duri masuk kalau Solar sudah bangun saja, ya," Taufan mengelak.
"Biar Duri panggil Solar supaya bangun, kayak Kak Blaze dulu panggil Kak Ice …."
"Ehm, Solar perlu tidur lebih lama daripada Ice. Ini baru lima hari."
"Kok Kak Taufan bisa tahu Solar perlu tidur lebih lama?"
Taufan kehabisan akal. Sejak kapan Duri bisa mengejarnya dengan pertanyaan semacam ini? Untung Amato menyelamatkannya,
"Dokter yang bilang begitu, Duri. Kita tunggu saja."
Saat itu kebetulan Taufan menjenguk lewat jendela dan mendapati, Solar di ranjang perawatan rupanya sedang membuka mata, membuat si nomor dua melotot dan segera membuka pintu.
"Allahuakbar … Solar sudah sadar!"
.
.
.
.
.
Sejak insiden lima hari yang lalu, Dokter Qually menjadi tenaga medis part-timer di Rumah Sakit Yong Pin. Dia sudah mengajukan permohonan kepada direktur rumah sakit untuk diizinkan menjadi dokter penanggung jawab pasien atas nama Solar bin Amato dengan pendampingan dokter spesialis penyakit dalam. Saat sore itu terdengar kabar bahwa si kembar bungsu sudah siuman, Qually bergegas ke ruangan.
Solar mengerjapkan mata dengan lambat, begitu pula gerakan bola matanya yang beriris kelabu. Kedua saudara kembarnya dan ayahnya begitu antusias menyambutnya bangun, tapi Solar tidak begitu responsif. Mulutnya membuka dan menutup, juga dengan perlahan.
"Biar kuperiksa dulu …," sela Qually, agak cemas di dalam hati. Sambil menyiapkan stetoskop dan peralatan lainnya, dia bersiap-siap terhadap sesuatu yang sudah diantisipasi sejak awal ….
"Solar," panggil sang dokter. "Aku Dokter Qually, yang dulu menjahit alismu waktu kau jatuh dari ranjang tingkat. Ingat aku?"
Solar tidak merespon dan hanya menatap kosong. Qually mengacungkan jari telunjuknya.
"Angka berapa ini?"
Masih tak ada tanggapan. Amato dan Taufan mengernyit.
"Hari ini tanggal tujuh belas Mei tahun 2021. Tanggal lahirmu tiga belas Maret 2004. Umur berapa kamu saat ini?"
Hanya keheningan sebagai jawaban.
"Apa kamu bisa meraih jariku di sini?"
Si bungsu sama sekali tidak bergerak, hanya kelopak matanya yang berkedip dengan kelajuan yang sangat lambat. Qually menurunkan tangannya.
"Permisi sebentar, aku perlu lihat tangan dan kakimu."
Sang dokter membuka selimut dan mengetuk perlahan anggota gerak Solar menggunakan palu kecil berujung karet. Masih tidak ada pergerakan, padahal Solar dalam kondisi sadar.
"Oh, astaga …," gumam Taufan sambil menggigit bibir.
"Solar," ucap Qually lagi. "Di sini ada ayah dan saudara-saudaramu. Bisakah kau memanggil nama mereka?"
Tatapan mata Solar tetap tidak berpindah dari Qually, hingga dokter itu harus menunjuk ke arah Taufan dan memastikan Solar mengikuti yang ditunjuk.
"Kakakmu, Taufan. Bisa panggil dia?"
Solar tetap tidak bicara. Taufan mendekat sendiri pada akhirnya dan berujar lirih,
"Solar …."
"Ayah, Solar kenapa?" bisik Duri yang cukup keras untuk didengar Taufan dan Qually. Amato sudah hampir memutuskan untuk membawa si nomor enam keluar dari situ, tapi Duri berkeinginan lain. "Coba Duri yang panggil Solar, mungkin Solar mau jawab."
Qually membiarkannya.
"Solar~ ayo bangun! Hari ini matahari cerah sekali! Kita jalan-jalan!"
Si bungsu masih menatap Taufan, lalu mengerjap sebentar dan pandangannya bergeser pada Duri. Tetap tak ada suara yang keluar dari mulut Solar yang terbuka, maupun ekspresi yang berarti di wajahnya.
"Solar … masa Solar lupa sama Duri?" Tiba-tiba Duri bertanya dengan nada takut.
"Duri, sudahlah …." Taufan memeluknya. "Solar mungkin masih kaget karena baru bangun tidur."
Duri sudah telanjur menangis dan Taufan menariknya keluar. Amato masih diam mengamati Qually yang mengulangi prosedur yang sama untuk memastikan.
"Tuan Amato … kusarankan untuk memeriksanya dengan EEG," ujar Qually perlahan.
"Elektroensefalogram? Gelombang otaknya?" gumam sang ayah.
"Saya tak yakin antara dia hilang ingatan atau memang terjadi gangguan di kemampuan berpikirnya. Obat perangsang yang sempat diberikan kepadanya juga memengaruhi ingatan. Menurut informasi, IQ-nya tinggi?"
"Seratus lima puluh waktu umur enam."
"Atau, kemungkinan lainnya … conversion disorder. Yang tadinya bisa bicara menjadi bisu karena trauma yang terlampau berat. Dan bisa Anda lihat, tangan serta kakinya lumpuh … kemungkinan karena sudah kehilangan banyak darah dan sempat henti jantung."
Amato merasa perih saat bertanya seraya memandangi si bungsu yang bergeming, "Apa semua itu permanen, Dokter?"
Qually tak tahu jawabannya. "Hanya Tuhan yang tahu …."
.
.
.
.
.
Sekarang Duri punya kesibukan baru: jadi perawatnya Solar. Adiknya itu tidak bisa bangun sendiri dari tempat tidur, tangan dan kakinya tidak berfungsi lagi. Yang mempersulit semuanya, Solar tidak bisa bicara. Pemeriksaan gelombang otak tidak menunjukkan adanya kelainan pada fungsi berpikir dan bukan gangguan ingatan yang menyebabkannya diam sepanjang hari. Kalau ada perawat perempuan yang mendekatinya, Solar menggeleng-geleng dengan gelisah. Begitu pula kalau dokter jaga atau perawat pria yang senior dan berbadan besar masuk ke kamarnya. Napasnya jadi memburu seolah panik setiap kali orang-orang seperti itu ada di dekatnya—Taufan yang mengamati hal ini.
Itu artinya Solar ingat semuanya. Dan memahami semuanya. Tapi, apakah dia bisa menerimanya?
Hanya dokter dan perawat laki-laki yang masih muda yang bisa menangani Solar tanpa memicu trauma, dan pilihannya tidak banyak. Qually masih kerja part-time di situ, dan Nut sebagai perawat UGD akhirnya diperbantukan juga untuk merawat Solar. Taufan dan Duri juga ikut turun tangan karena Solar bahkan tidak mau disentuh Ayah atau Ibu. Taufan membagi tugasnya: Duri menyuapi makanan dan obat serta menyisir rambut dan sikat gigi, sedangkan sang kakak yang mengurusi mandi, ganti baju, dan buang air. Taufan tidak mau Duri sampai melihat bekas-bekas cumbuan Ayu Yu yang lama sekali hilang dari badan.
Mereka tidak tahu bahwa suatu ketika tangan kiri Solar mengepal dengan erat.
.
.
.
.
.
Solar bin Amato merasa kosong dan kotor. Ibarat toilet umum yang habis dipakai dan ditinggalkan dengan jorok.
Sudah berapa lama kejadian itu? Solar tidak bisa mengenyahkannya dari pikiran. Sekujur tubuhnya masih selalu terasa ngilu dan dingin setiap kali Taufan membuka bajunya untuk memandikannya. Setiap kali sang kakak mengoleskan salep ke pipi dan dahinya, Solar merasa tak hanya wajahnya yang sakit. Seluruh aktivitas yang tadinya bisa dilakukannya sendiri kini harus bergantung pada orang lain. Lupakan soal privasi.
Hatinya sudah keberatan muatan sampai tak sanggup lagi bicara apa-apa.
Sore itu yang menyuapinya makan seperti biasa adalah Duri. Si kakak yang polos tampaknya tidak sadar bahwa ada sebuah garpu yang lenyap dari nampan makanan.
Esok malamnya, entah tanggal berapa, Solar sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri semuanya. Dia mendengar dirinya punya penyakit hemofilia. Kalau dia menusukkan garpu yang sudah diasahnya di pinggiran ranjang besi itu di tempat yang tepat, dalam hitungan menit dia akan tamat.
Nadi karotid di sisi lehernya sepertinya pilihan yang jitu.
.
.
.
.
.
Orang bilang ketika kematian datang, pikiran akan menayangkan kilas balik seluruh masa kecil. Kira-kira Solar juga mengalami itu, setelah tangan kirinya berhasil terangkat setinggi leher dan membenamkan perkakas makan dari logam itu di posisi yang kira-kira pas.
Solar teringat Cattus dan kakaknya, Duri. Dia ingat jendela besar di samping tempat tidurnya dan sinar matahari yang pelan-pelan merekah di cakrawala. Teringat ayahnya yang beberapa kali menemaninya menonton sunrise. Ibunya yang pandai menjahit dan membuatkannya topi tidur bergambar matahari. Ingat juga dia tentang Halilintar yang terbaring sakit dan malah didandani oleh ketiga kakaknya yang troublemakers. Juga Gempa yang suka bertandang ke perpustakaan membaca buku terjemahan. Ice yang sangat menyukai binatang laut. Lalu Tok Aba, rumahnya dan kedai cokelatnya, di Pulau Rintis.
Solar menangis pedih. Dia sudah memilih untuk meninggalkan segalanya, tak sanggup hidup dengan kenyataan yang ada.
"Apa Solar sudah siap untuk pulang ke rumah?"
Sebuah suara terdengar dalam kegelapan. Aneh sekali, bukankah harusnya pertanyaan pertama dalam kematian yang diimaninya bukan tentang itu?
"So let the sunshine in, face it with a grin~ Open up your heart and let the sunshine in …."
Mendadak malah sebuah lagu dari kartun yang pernah ditontonnya waktu kecil terngiang di kepala. Solar heran sendiri, kilas balik belum berakhir rupanya.
"So let the sunshine in …."
Pemahaman menghantam Solar dengan keras ketika dia sadar siapa pemilik suara cempreng bernada fals itu.
Kak Duri ...
"Solar, kamu tahu hari ini tanggal berapa? Tiga belas September, itu artinya kita sudah umur tujuh belas setengah tahun. Setengah tahun lagi kita umur delapan belas! Besok Kak Hali sudah boleh pulang dari panti rehabilitasi. Kalau Solar juga pulang, pasti rumah akan ramai."
Sekarang … bulan September? Bulan puasa kemarin April sampai Mei …. Waktu itu mendekati hari raya Idul Fitri … jadi sudah empat bulan berlalu?
"Kak Gempa sudah banyak cari resep masakan baru, tapi dia bakal perlu asisten masak, dan Kak Blaze siap membantunya. Asal nggak terlalu besar nyalain kompor, sih. Hihihi."
Masih dalam gelap, Solar bisa membayangkan aroma lezat di dapur Tok Aba.
"Ayah dan Ibu sedang menyiapkan kamar untuk Solar. Nanti Solar akan tidur di lantai bawah, tapi mereka akan mengatur untuk jendelanya biar dapat banyak sinar matahari!"
Hati Solar, yang sudah dingin untuk waktu yang lama, kini terasa hangat lagi.
"Kak Ice dan Tok Aba bikin peralatan yang bakal memudahkan Solar di rumah. Kamu nggak usah khawatir susah buang air, semuanya sudah diatur!"
Dia belum mati. Belum saatnya untuk mati.
"Solar, apa kamu tahu? Ternyata dulu Ayah dan Ibu nggak bisa punya anak, tapi lalu mereka berobat ke Dokter Kuputeri yang cantik itu, dan malah jadi kita bertujuh! Luar biasa bukan? Ayo Solar, semua orang menunggumu di rumah—yah, kecuali Kak Hali, tapi dia juga selalu menanyakan kabarmu."
Solar membuka mata dan mendapati sosok identik bermata hijau sangat dekat di depannya. Duri sedang tersenyum kepadanya, bukan senyum lebar yang tampak bodoh seperti biasanya. Lebih ke arah … sendu? Di sepasang netra berwarna daun itu ada setitik air mata.
"Tadinya aku nggak paham kenapa Kak Taufan minta aku pakai sarung tangan kain yang tebal. Dia juga tadi sempat bilang sesuatu tentang garpu yang kurang satu. Aku sendiri nggak ingat ada berapa jumlah perkakas makan yang disediakan rumah sakit, soalnya tiap menu ada sendok-garpunya sendiri. Yang jelas … Solar jangan mainan garpu ya, bahaya …."
Duri menarik tangannya yang ternyata sedari tadi menempel di leher Solar. Tangan itu terbungkus sarung tangan dan garpu itu menancap cukup dalam pada kainnya yang tebal.
"Aduh, garpu begini bisa sakit juga ternyata. Kalau lehernya Solar gatal, biar Duri aja yang garuk, ya?"
Solar tidak bisa berucap, betapa dia sangat menyesal akan apa yang baru saja dilakukannya … selama bermenit-menit kemudian dia menangis tanpa suara dalam pelukan Duri yang juga ikut meneteskan air mata.
.
.
.
.
.
Sepasang mata biru Taufan melotot lebar sekali saat masuk ke ruang perawatan Solar. Dia memang harus pulang ke rumah semalam karena dia dan Gempa ada ujian bahasa yang memerlukannya membuka kamus-kamus tebal. Taufan dan Gempa memang tidak beli kamus untuk per orang, melainkan patungan lalu dipakai bersama. Yah, itu salah satu serunya punya saudara yang satu kelas, jadi bisa hemat.
"Duri … apakah …?" Taufan masih melongo untuk pemandangan yang dilihatnya.
"Pagi, Kak Taufan! Solar makannya lahap sekali, dan dia kuajari makan pakai tangan kiri!"
Isi piring itu sudah habis lebih dari separuhnya—padahal selama ini Solar hanya sanggup makan seperempat dari porsi yang disediakan rumah sakit, itu pun harus disuapi pelan-pelan. Badannya yang sudah kurus makin lama makin tak berisi. Selama ini si bungsu seperti tak lagi punya keinginan untuk hidup, Taufan tahu ini istilah yang tepat. Makanya Taufan agak cemas ketika tahu salah satu garpu ada yang hilang. Dia yakin ada berapa jumlah perkakas yang dibawa masuk ke kamar Solar, sedangkan yang berjaga di dalam hanya dirinya dan Duri.
Solar menunduk, terlihat agak malu. Tangan kirinya yang memegang sendok gemetaran dan Duri membantunya.
"Tangan kirimu bisa gerak, Solar—" Taufan tak tahu harus berkomentar apa, jadi dia memilih topik yang satu ini.
Sesuap makanan masuk ke mulut Solar yang kembali mengunyah dengan lahap. Duri bicara lagi,
"Ah, aku belum memanggil dokter atau perawat, Kak. Selama ini kita kira Solar sama sekali nggak bisa gerak. Paling enggak sekarang Solar bisa garuk badannya sendiri kalau ada nyamuk menggigit, hehehe."
Sudut bibir Solar berkedut-kedut seolah menahan tawa dan Taufan menangkap gerakan kecil itu. Sang kakak tersenyum penuh haru dan berujar,
"Solar … welcome back."
Si bungsu menyedot ingus dengan suara keras, menahan tangis dari tadi rupanya. Taufan mendadak kumat jahilnya.
"Iiih! Solar, kalau ingusnya jatuh ke makananmu gimana? Euuuuh!"
Mata kelabu Solar melotot, terlihat ingin menjitak kakaknya itu dan Taufan mendekat sambil tertawa-tawa. Kapan terakhir kali Taufan bisa tertawa sebebas itu? Diraihnya tangan kiri Solar, dilepasnya sendok itu dan dibawanya tangan sang adik ke kepalanya sendiri.
"Nih Solar, sini kalau mau jitak kepala Kak Taufan. Silakan saja, tapi jangan keras-keras ya, nanti gantengku berkurang."
Gantian Duri yang meledak tertawa. Namun rupanya tangan Solar malah mengusap lembut rambut sang kakak. Si bungsu tersenyum kecil, senyum yang Taufan kira sudah tak akan pernah terbit kembali di wajah Solar yang pucat dan tirus.
Terima kasih, Kak Taufan.
"Terima kasih kembali, Solar," gumam Taufan, sangat ingat untuk menandai tanggal itu di kalender sebagai hari terakhir Solar tinggal di Rumah Sakit Yong Pin. Tiga belas September, persis empat bulan sejak keluar dari kamar operasi untuk kedua kalinya, si Matahari bersinar lagi.
"Dokter Qually datang!" Duri bersorak menyambut si dokter gempal yang masuk dengan paras takjub. Sejurus kemudian Solar memang diperbolehkan untuk pulang.
"Tapi, Solar … karena kita masih di rumah sakit, bagaimana kalau kamu divaksin sekalian?" sang dokter menawarkan.
Solar dan Duri memandangi sang dokter tak paham.
"Vaksin apa?" Taufan yang bersuara.
"Vaksin Covid-19. Anak dengan hemofilia sebaiknya divaksin di rumah sakit. Kalian yang lain, bisa ikut di Klinik Gaharum yang dekat rumah, nanti didata lewat sekolah …."
Ya, di bulan September pada tahun kedua sejak pandemi diumumkan, anak berusia di bawah delapan belas tahun sudah bisa menerima vaksin.
Sesungguhnya, harapan itu nyata dan keajaiban bisa terjadi pada siapa saja.
.
.
.
.
.
Tok Aba mengerti bahwa menjadi "ibu" bagi saudara-saudara sendiri adalah tugas berat sekaligus mulia. Sang kakek sangat paham apa yang menjadi pergulatan dalam diri cucunya yang nomor tiga. Sejak hari raya tahun itu, Gempa banyak murung dan melamun, di samping rutinitasnya mengurus rumah yang tidak luntur sama sekali meski sudah dibantu Ibu. Dari dulu Tok Aba sangat kagum pada Gempa yang patuh dan bertanggung jawab. Kalau ditanya siapa cucu kesayangannya, pemilik Kokotiam itu pastilah menyebut nama si cucu nomor tiga, tanpa tendensi pilih kasih namun berdasarkan fakta yang ada. Jadi ketika Gempa sangat terpukul mendengar kabar tentang si sulung serta si bungsu dan tak kunjung mampu menerima kenyataan, Tok Aba merasa dia harus bertindak.
Untuk menjadi sembuh, luka batin tak selalu diobati secara langsung. Tok Aba yang sangat memahami karakter Gempa merasa ada cara lain menuju kesembuhan ketika mereka tak bisa mengubah kenyataan. Dalam hal ini dia melibatkan Amato diam-diam.
"Gempa, ada yang nyari kamu, tuh." Tok Aba berujar di ambang pintu rumah saat Gempa sedang menyapu ruang tamu sambil melamun, suatu pagi di bulan Agustus. Si cucu menoleh ke arah pagar dan ekspresinya berubah.
"Bang Gembul!"
Sapu terjatuh ke lantai, Gempa berlari ke luar rumah, lupa untuk terlebih dulu memakai maskernya. Kedua anak gelandangan itu memakai masker masing-masing, penampilan mereka tampak rapi dengan baju yang tidak sobek di sana-sini.
"Adu Du! Probe!" Gempa sudah menangis sebelum mencapai pagar. "Terima kasih … kalian berdua … aku …."
Tanpa ragu-ragu lagi Gempa membuka pintu pagar dan memeluk keduanya, terisak-isak sambil mengulang-ulang rasa terima kasihnya.
"Bang Gembul," Probe berucap duluan ketika Gempa sudah tenang. "Aku dan Pak Bos mau pamit."
Gempa mundur dan membelalakkan mata. "Pamit?"
"Kami akan pindah ke ibukota," sambung Adu Du sambil menyibakkan rambut hijau terangnya.
"Kuala Lumpur?"
"Yep!" Keduanya mengangguk dengan semangat.
"Bagaimana bisa …?" Gempa belum paham.
Probe membalas dengan bingung, "Lho, ayah dan kakekmu belum cerita …?"
"Cerita apa …?" Gempa menoleh ke arah rumah. Dilihatnya Tok Aba sedang berjalan mendekat.
"Gempa, kamu tahu halaman belakang rumah direnovasi untuk kamar Solar? Amato juga membuat sendiri beberapa peralatan untuknya, contohnya kursi roda. Nah, mereka berdua ini tahu di mana saja bisa menemukan bahan bangunan yang bagus di sekitar sini, juga ikut membantu pembangunan di belakang rumah beberapa kali. Selanjutnya … Amato merekomendasikan mereka ke tempat seorang kawannya yang kontraktor bangunan di Kuala Lumpur."
Air mata si anak nomor tiga kembali menetes. Ya ampun, ke mana saja Gempa selama ini, mengurung diri seolah dunianya berhenti? Kebaikan tak pernah berhenti mengalir dan di sini dia menjebak diri dalam penyesalan sia-sia yang tak berujung ….
"Tetap semangat, Bang Gembul! Berikutnya mungkin kita bisa ketemu lewat media sosial!" sorak Adu Du.
"Titip salam untuk kakak dan adikmu. Kamu semua terbaik~" sambung Probe yang meniru gaya Tok Aba dengan acungan jempol.
Sang kakek hanya mengulum senyum, melihat Gempa yang ikut tersenyum setelah beberapa bulan terakhir tak melakukannya.
Dan ketika di bulan September mereka mendapat kabar bahwa Halilintar dan Solar akan pulang di tanggal yang berdekatan, Gempa sudah bulat tekad untuk menyambut kepulangan itu dengan meriah. Sepertinya dia perlu bantuan Blaze perihal pesta.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hal-hal terbaik dan terindah di dunia ini tidak bisa dilihat atau disentuh; semuanya harus dirasakan dengan hati. Helen Keller, seorang yang menjadi buta dan tuli di usia sembilan belas bulan, pernah menyebutkan hal ini dalam bukunya. Kecacatan bukan batasan untuk menyiarkan pesan penting kepada dunia. Persisnya itulah yang dilakukan Solar dengan akal yang melampaui semua keterbatasan.
.
Namaku Solar bin Amato dan umurku tujuh belas tahun waktu aku diperkosa.
Kalau kau berpikir aneh sekali dan apakah mungkin laki-laki sampai diperkosa, coba pikir lagi.
Aku dibius dan ditelanjangi, diikat dan diberi obat perangsang, lalu seorang perempuan memaksakan alat kelaminku untuk memasukinya. Itu saja sudah cukup membuatku terguncang, belum lagi kejadian selanjutnya. Pelaku yang satunya adalah laki-laki dan dia memasuki lubang kotoranku dengan paksa—merasa jijik mungkin adalah hal terakhir yang terlintas di pikirannya yang dibutakan nafsu. Yang jelas, karena kejadian yang terakhir terulang sampai dua kali, aku perdarahan hebat dan nyaris tewas, belum lagi rasa sakit luar biasa yang seperti mimpi buruk tapi nyata. Bayangkan rasanya seperti digergaji hidup-hidup mulai dari selangkangan. Hiiih, mengingatnya kembali saja membuatku ngilu. Tapi itu semua hanya akibat langsung dari pemerkosaan.
Akibat tidak langsungnya?
Tak hanya kesucianku yang direnggut, mereka juga merampas masa depanku. Aku mungkin tidak bisa jadi dokter bedah saraf seperti yang kucita-citakan.
Kaki dan tanganku lumpuh karena sempat kehilangan banyak darah, aku tak lagi bisa bicara karena trauma berat. Aku juga ketularan HIV dan sifilis. Kalau mendengar HIV saja sudah membuatmu mengerutkan muka dengan jijik, apalagi sifilis. Wajah dan tubuhku yang sebelumnya bersih dan mulus, yang dengan sepenuh kasih terhadap diri sendiri alias narsis kurawat baik-baik, kupelihara agar selalu bersinar dan indah, demi harga diriku dan untuk calon istriku di masa depan nanti—uhuk—dipenuhi bintik-bintik bernanah yang mengerikan. Aku juga harus minum obat terus menerus sepanjang hayat.
Solar si jenius, si juara kelas dan juara olimpiade, seorang pemuda kelebihan kadar percaya diri yang mencintai dirinya sendiri ... hancur hanya dalam tiga hari, literally and metaphorically.
Aku hancur luar-dalam.
Tubuhku hancur, hatiku lebur.
Apa aku berpikir mendingan mati saja?
Ya. Rasanya itu akan lebih baik. Aku tahu banyak cara untuk mengakhiri hidup dengan cepat dan tanpa sakit karena aku banyak membaca. Buat apa seseorang yang lumpuh dan bisu dan berpenyakit najis serta tak punya kehormatan lagi terus hidup? Aku sudah tak punya apa pun yang bisa kubanggakan, aku membenci diriku yang dahulu pernah sangat kucintai.
Tapi aku memilih untuk terus hidup, karena sesuatu yang klasik.
Aku bertahan hidup karena cinta. Cinta orang tuaku dan keenam saudaraku.
Eh, apa? Aku belum bilang ya, kalau aku ini anak ketujuh dari tujuh bersaudara kembar? Barangkali kami adalah satu-satunya (tujuh-tujuhnya?) kembar tujuh di dunia! Kau bisa menyebut kami Tujuh Keajaiban Dunia, dan dengan itulah kunamai grup medsos beranggotakan aku dengan enam kakakku. Kami bertujuh laki-laki semua.
Penjahat yang menculikku bilang kami bertujuh adalah manusia kloning. Bodohnya aku sempat percaya, tapi hanya sekian detik saja. Mana ada makhluk hasil kloning yang punya penyakit yang sama dengan orang tuanya (dalam hal ini, kakek)? Mana ada kembaran rekayasa genetik yang terikat secara batin sampai bisa melihat roh yang lain dalam kondisi koma? Saat aku teringat Kak Ice, salah satu kakak kembarku, semua kebohongan itu rasanya menggelikan. Belakangan pun aku tahu bahwa aku juga mengidap hemofilia, kelainan darah yang menurun dari pihak keluarga Ibu.
Yang jelas: kami ini manusia. Bukan makhluk hasil kloning. Kami anak kembar tujuh, betul-betul keajaiban untuk ayah dan ibu kami.
Di awal pernikahan, Ayah dan Ibu divonis tak bisa punya anak. Kecewa, tentu saja. Bertahun-tahun menjalani pengobatan dan hasilnya nihil. Kemudian seorang kenalan dokter obstetri ginekologi menyarankan mereka mencoba sebuah obat baru. Ampuh betul obatnya dan malah kebablasan. Jadilah janin kembar tujuh.
Aku bisa membayangkan seperti apa wajah ayahku waktu diberi tahu anaknya akan kembar tujuh. Dan seperti apa wajah ibuku saat tahu, di dalam rahimnya telah ada tujuh nyawa baru yang akan bersamanya sembilan bulan ke depan.
Belum pernah ada kehamilan kembar berjumlah sebanyak ini.
Kembar tiga atau empat saja cukup, kata dokter. Kembar tujuh akan terlalu berat. Orang tuaku ditawari opsi: selective reduction. Sebuah pilihan logis dengan pertimbangan kesehatan sang ibu, tapi itu artinya membunuh beberapa janin.
Ayah mengamuk di ruangan dokter (katanya sampai membuat meja terbalik). Ibu menangis. Mereka berdua tidak mau membunuh satu pun dari kami bertujuh—buah cinta mereka—bahkan meski mereka jadi kerepotan karenanya. Ibu betul-betul istirahat total di rumah selama hamil. Sekitar tujuh bulan kemudian kami bertujuh lahir ke dunia, aku yang paling akhir, dan kami semuanya masuk inkubator karena kelahiran prematur.
Dengan sejarah kelahiran seperti itu, aku tak tahu terima kasih kalau seenaknya mau mencabut nyawa sendiri.
Masa kecil kami di Kuala Lumpur sebetulnya biasa saja menurut perspektifku—tapi setelah pindah ke Pulau Rintis, ke rumah ayahnya Ayah, aku baru tahu bahwa kami yang bersekolah di rumah itu malah aneh. Di Pulau Rintis kami mengenal banyak teman—ada yang baik, ada yang jahil. Yang jelas, tidak ada wartawan-wartawan yang ingin tahu. Ayah memilih menjauh dari kehidupan kami biar kami bebas dari gangguan. Ternyata Ayah, Pulau Rintis juga tak selamanya aman dari orang jahat … tapi kalau Ayah dan Ibu selalu bersama kami, mungkin kami tidak bisa tumbuh menjadi anak yang berdikari.
Lalu ada kakekku, Tok Aba. Orang yang sangat baik hati—kami semua belajar jargon "Terbaik!" lengkap dengan acungan jempol, darinya. Beliau merintis berdirinya kedai cokelat yang terkenal sejak puluhan tahun yang lalu, bahkan ada teman sekolah kami yang ayahnya sudah jadi langganan kedai Tok Aba sejak si ayah itu usia sekolah. Ketenaran kedai Atok lintas generasi, betul begitu Gopal dan Paman Kumar? (Kalau kalian membaca ini, atau barangkali teman sekelasku Fang, atau teman-teman kelas bahasa Yaya dan Ying. Ingatkan aku anak Paman Kumar masih utang sepuluh ringgit :P)
Jangan lupakan juga guruku di waktu kecil, Pak Guru Kokoci, yang ternyata bukan guru betulan tapi seorang psikiater yang juga teman Ayah. Semua ilmu dasar tentang bahasa dan matematika diajarkan olehnya, dan beliau diam-diam menyelipkan ilmu-ilmu psikologi yang penting untuk bekal kami di masa depan. Kalau bukan berkat bimbingannya sampai kami umur enam tahun, tentunya aku akan terlambat terbit menjadi Solar si jenius (hehehe)
Selanjutnya, masih ada keenam kakak kembarku.
Kakak sulungku bernama Halilintar. Seperti yang disiratkan dari namanya, dia itu pendiam tapi sekalinya marah suaranya bisa keras sekali, menggelegar kayak dewa petir. Oh, dia juga jago pencak silat. Jangan macam-macam sama Kak Hali! Walau garang begitu, dia sebetulnya baik sekali, cuma orangnya nggak pernah mau mengaku.
Bisa dibilang Kak Halilintar berkorban banyak hal demi diriku saat kami berdua diculik. Dia literally berdarah untukku dan, di saat aku kritis, darahnya itu berhasil menyambung nyawaku. Kalau kuceritakan semua, nanti jadi novel beneran. Pendek kata, Halilintar adalah penyelamatku. Sekian. Jangan marah ya, Kak Hali, kamu 'kan orangnya irit bicara, biarlah bagian ceritamu juga irit ya. Banyak hal tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata *wink*
Taufan, kakak kedua yang selalu riang gembira, saking riangnya dia pengin kulempar dengan sandal karena suka bercanda bahkan di waktu yang tidak tepat. Oi, Kak Taufan, jangan ketawa-ketawa nggak jelas begitu selagi kau mengetik untukku. Maaf saja kupekerjakan kau jadi juru ketik, habisnya kau satu-satunya yang punya laptop di rumah.
Kak Taufan mungkin nggak pernah bisa serius, tapi dia adalah yang paling serius mengingatkanku (dan menyuapiku) minum obat. Yang selalu membantu memandikan tubuhku yang kotor dan bau dan membersihkan sisa buang airku. Yang tak pernah absen mengoleskan salep ke luka-lukaku yang menjijikkan, empat kali sehari. Dia nggak mau aku menderita karena penyakit jahanam yang tidak pernah kuminta. Dia kakak yang suka bercanda, tapi tidak main-main kalau sudah mengurusi adik bungsunya ini. Terima kasih ya, Kak Taufan. Kudoakan supaya pendekatanmu ke *a** berhasil setelah ini (aku serius!)
Kakakku yang ketiga, namanya Gempa. Dia dipanggil Bang Gembul oleh dua gelandangan yang sering dibaginya nasi bungkus, padahal Kak Gempa bukan orang yang doyan makan. Dia doyannya bersih-bersih rumah, masak, mengatur keuangan, dan belanja—calon menantu idaman, hm? Kak Gem, kau berutang padaku kalau kau sampai dapat istri karena tulisanku ini, ya (hahaha ...)
Sebelum hari nahas itu, aku dan Kak Gempa pergi belanja yang berujung petaka. Kak Gempa beruntung karena tidak ikut diculik sampai diperkosa sepertiku, double lucky karena sudah didorong jatuh ke jurang bisa selamat meski dengan cara menabrak pohon, dan triple lucky karena dia ditolong oleh gelandangan yang sering ditolongnya. Tuhan tak pernah tidur, benar 'kan? Kurasa itu memang rezeki untuk anak saleh dan baik budi sepertinya. Hei, bukan berarti aku nggak pernah belajar alim dari Kak Gempa, ya ...
Kakak yang berikutnya, Blaze. Seperti namanya, dia bisa berkobar dan menghidupkan suasana dengan menggelar party maupun kembang api (asal nggak di dalam rumah saja), tapi kalau dia tertekan maka bisa bikin 'kebakaran'. Kak Blaze adalah seorang penyintas Covid-19, satu-satunya di keluarga kami—barangkali karena dia sering gerah di luar rumah dan lalai dalam memakai maskernya. Oi Kak Blaze, jangan dikira aku nggak tahu status medsosmu di depan Kokotiam hari itu, maskermu melorot 'kan untuk pamer senyum ala iklan pasta gigimu? Statusnya kausembunyikan dari akun Kak Gempa dan karena kau sudah telanjur kena Covid, kurasa tak masalah membocorkan soal itu sekarang 'kan? :p
Kak Blaze juga pernah diculik dan dilecehkan oleh perempuan yang memerkosaku—itu salah satu alasan kenapa aku sempat takut pada kakakku yang satu ini. Efek dari traumanya membuatnya mengamuk dan menerjang apa pun bahkan adik sendiri, apalagi karena kakakku yang nomor lima sempat koma ...
Ice, kakakku yang sudah pernah tahu rasanya berjalan-jalan (atau melayang-layang?) di perbatasan antara dunia yang hidup dengan yang mati. Dari dulu Kak Ice memang hobi tidur, tapi kalau dia tidur sampai dua minggu, siapa yang nggak cemas? Dia sempat koma karena diculik dalam kondisi kesehatan yang buruk. Dia mengidap hipotiroid, seperti kakek kami, sudah komplikasi dan tidak ada di antara kami yang sadar karena gejala itu sama saja dengan kesehariannya: pelupa, lamban, malas, banyak tidur. Kak Ice beruntung, sangat beruntung, masih diberi kesempatan untuk bangun dari koma dan dengan demikian dia bisa membantu Kak Blaze yang memang butuh bantuan. Mereka berdua juga masih memulihkan diri dari trauma, sama halnya dengan Kak Halilintar dan Kak Gempa.
Duri adalah nama kakakku yang keenam. Dia itu lugunya nggak ketulungan, tingkahnya masih kayak anak kecil, dan dia paling suka nonton video Baby Shark di laptop Kak Taufan sambil nyanyi-nyanyi padahal suaranya nggak merdu. Tanyakan kepadanya apa itu kondom dan dia bakal kebingungan (kepalaku dijitak Kak Gempa waktu mendiktekan ini ke Kak Taufan dengan bahasa isyarat. Tapi Kak Taufan, please, jangan dihapus, ya.) Waktu masih bayi, Kak Duri pernah cedera kepala dan mungkin karena itulah dia jadi agak 'berbeda'. Dulu aku menganggap dia itu duri dalam daging di keluarga kami, sebuah kecacatan yang mengganggu, tapi kemudian aku sadar aku yang bodoh menganggapnya begitu. Ngaca dong, Solar, dirimu sendiri sekarang cacat sampai ngetik naskah saja harus dibantu Kak Taufan! Oke, aku bukan bermaksud menyinggung siapa pun. Yang jelas, tak ada manusia yang sempurna. Sama-sama nggak sempurna, buat apa saling tuding mengatai cacat?
Intinya menurutku Kak Duri yang mungil itu seperti duri pada tanaman mawar—dia kecil dan mungkin mengganggu, tapi tanpanya, kami tidaklah lengkap.
Di antara kami bertujuh hanya Kak Taufan dan Kak Duri yang tidak pernah jadi korban penculikan dan kejahatan lainnya. Aku bersyukur. Jangan sampai hal itu terjadi pada mereka. Sesungguhnya, aku berharap tidak ada di antara kami yang pernah mengalami semua itu. Tetapi semua telah terjadi dan tidak ada gunanya menyesalinya. Yang penting sekarang, apa yang bisa dilakukan setelahnya.
Untuk Kak Halilintar, yang adalah saksi mata pemerkosaan terhadap diriku, yang juga menjadi korban penyalahgunaan obat dan kekerasan dari para penjahat: kau sekarang tahu bahwa hukum di negara kita memang masih jauh dari sempurna. Aku yakin kau bisa membantu menyempurnakannya. Jangan biarkan dendam menguasaimu, Kak.
Untuk Kak Gempa, yang diculik bersamaku dan pulang ke rumah tanpaku: kau sudah berusaha melindungiku seperti biasanya. Kau itu begitu tabah sebagai pemimpin kami, tapi bukan berarti kau nggak boleh nangis. Aku tidak menyalahkan siapa pun, jadi jangan merasa bersalah atas nasib yang menimpaku sekarang. Tetaplah jadi Kak Gempa yang bijak dan penyayang.
Untuk Kak Blaze: kembalilah tertawa dan bikin ribut seperti dulu, Kak. Aku kangen party yang digelar Kak Blaze meski aku nggak bisa lagi ikut lompat-lompat dan kejar-kejaran. Mainkan lagi bola basketmu, untukku yang nggak pernah becus urusan melempar bola. Temani kami belajar lagi dengan semangatmu yang berapi-api seperti namamu.
Untuk Kak Ice, yang sudah bukan tukang tidur seperti dulu: bagaimana caramu tetap bisa tersenyum setelah semua yang kaualami? Ajari aku caranya, ya. Kau lebih paham termodinamika daripada aku, jadi untuk soal ini pun akan kujadikan kau guruku. Oh iya, jangan sampai lupa minum obat tiroidmu dan rajinlah berolahraga biar badanmu nggak melar lagi. Ini pesan dari seseorang yang malas berolahraga dan sekarang nggak bisa lagi berolahraga …
Untuk Kak Taufan dan Kak Duri: kalian berdualah yang paling kuat dari semuanya. Kami berlima saudaramu ini 'broken' luar-dalam, mungkin memang aku yang paling parah secara fisik, tapi entahlah kalau soal mental. Kalian hebat mendukung kami berlima biar tetap waras. Stay strong, stay healthy, stay sane. Terima kasihku pada kalian berdua lebih luas daripada tata surya (mengutip perkataan Kak Ice ke Kak Halilintar dulu. Bah, kalau Kak Ice bisa bilang terima kasihnya 'seluas samudera', aku bisa lebih hiperbolis! Hehehe). Kak Taufan, Kak Duri, kalau tidak ada kalian berdua waktu itu, barangkali aku sudah tak ada di dunia ini ….
Astaga. AKU SAYANG KALIAN SEMUA! Kalau dulu mungkin aku bakal malu meneriakkan kalimat ini, tapi sekarang betapa penginnya aku mengumumkannya dengan bantuan pengeras suara di masjid!
(Oi Solar, lama-lama tulisan ini jadi kayak surat cinta. Hentikan itu.) Barusan ini kata-kata Kak Hali. Jangan dihapus dari naskah ya, Kak Taufan :3
Pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Aku nggak tahu apakah sekolah kedokteran mau menerima calon mahasiswa sepertiku. Aku sendiri nggak mau menyerah. Kalau nggak bisa menolong orang sebagai dokter, aku bisa pakai cara lain. Hidupku sudah diperpanjang oleh Tuhan yang maha pemurah dan aku yakin bisa menyentuh hati banyak orang lewat tulisanku ini.
(Solar's overconfidence mode: on.)
Aku pernah dengar kutipan begini, judul sebuah buku dari negara tetangga: Habis Gelap Terbitlah Terang. Meski sekarang tampaknya gelap, aku percaya ada cahaya harapan di ujung jalan ini. Siapa pun kamu yang sedang membaca tulisan ini, apa pun yang sedang kamu hadapi sekarang, pertama-tama aku harus bilang: cintai dirimu sendiri. Ketika rasanya tak ada lagi cahaya di sekitar, ketika semua harapan terasa padam, cinta yang berasal dari dalam diri untuk diri bisa jadi pelita. Lebih beruntung lagi, kalau kau punya pelita-pelita kecil lainnya dari orang-orang terdekatmu.
Eh? Rupanya kami sudah dipanggil untuk berfoto. Sedikit lagi ya Kak Taufan, selesaikan dulu kalimat penutupnya, lalu tolong gendong aku ke depan rumah. Kau tahu aku paling bersemangat kalau diminta berpose di depan kamera dan sifilis toh tidak mengurangi kegantenganku karena sudah hilang dalam beberapa bulan, hahaha.
Kau bisa melihat foto kami di akhir tulisan ini. Mungkin dalam foto itu kami bisa sedikit tersenyum, tapi kau sudah tahu apa saja yang pernah terjadi di balik senyuman itu. Kalau kau bertanya-tanya kenapa kami pakai seragam sekolah di foto, itu karena kakak-kakakku akan divaksin di klinik dekat rumah dan pendataan peserta akan berdasarkan nama sekolah. Akhirnya remaja umur tujuh belas dapat jatah vaksin Covid juga! Sebetulnya aku sendiri sudah divaksin waktu akan pulang dari rumah sakit, karena kata dokter, anak dengan hemofilia harus divaksin di rumah sakit dengan pengawasan ketat. Untungnya waktu divaksin itu lukaku tidak berdarah banyak. Nah, aku ikut-ikutan pakai seragam di foto, biar tidak kelihatan beda sendiri. Bisa kautemukan yang mana aku di dalam foto? (Tentu saja yang paling bersinar! Ehehe)
Ngomong-ngomong Kak Taufan, kamu itu memang paling heboh kalau berfoto ya. Tapi kau berhasil membuat Kak Hali menampilkan senyum langkanya kali ini, jadi terima kasih ya. Sayangnya Kak Gempa terlalu kaget karena ulahmu sampai lupa senyum. Kak Blaze berpose keren dengan bola basketnya. Kak Ice terlalu sibuk ngemil biskuit. Kayaknya hanya aku dan Kak Duri yang posenya sesuai arahan, hahaha.
Cukup tentang fotonya, sekarang tolong paragraf (hidangan) penutupnya, Kak Taufan ….
Banyak sekali yang sudah terjadi dalam kehidupanku dan keenam kakakku yang belum genap dua dekade. Suka dan duka, luka-luka, tawa canda, lebih banyak luka, kami jalani bersama. Kami saling menjaga dan menguatkan karena itulah gunanya saudara.
Dan kisahku, kisah kami, belumlah—
—tamat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis:
.
Sumber inspirasi pertama saat akan menulis cerita ini yaitu lirik lagu I Believe in You (Je crois en toi) yang dipopulerkan oleh Celine Dion dan Il Divo. Judul cerita ini juga dikutip dari lirik lagu tersebut, yaitu di bagian refrain:
"Follow your heart
Let your love lead through the darkness
Back to a place you once knew
I believe, I believe, I believe in you"
.
Lagu yang dinyanyikan Duri untuk Solar berjudul Open up Your Heart (and Let the Sunshine in) dari serial animasi The Flintstones (ada yang tahu? Kita sama-sama tua kalau begitu hehehe).
Ada satu lagi kutipan terkenal Helen Keller yang sangat relatable dengan Solar, tapi saya bingung mau memasukkan ke konteks yang mana dan saya belum ketemu terjemahannya yang pas ke bahasa Indonesia. Bunyinya "Keep your face to the sunshine and you cannot see the shadows." Tetaplah optimis dan arahkan pandanganmu ke sinar matahari, bukan lihat yang gelap-gelap :")
Sebetulnya sudah lama lewat, tapi tema yang diusung dalam cerita ini sekaligus turut memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (10 September) dan Hari Kesehatan Mental Sedunia (10 Oktober).
.
Apakah di dunia ini ada anak kembar tujuh? Faktanya, ada, meski dua dari mereka menderita cerebral palsy. McCaughey septuplet adalah saudara kembar tujuh yang lahir tahun 1997 di Amerika Serikat, empat anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Latar belakang orang tua mereka yang berobat kesuburan lalu malah jadi kembar tujuh, saya adaptasi kurang lebih sama ke Amato dan istrinya di cerita ini.
.
Hukuman mati untuk pengedar narkoba di Malaysia aslinya dibuat hukum wajib atau mandatory tahun 1983. Di sini saya bikin mundur 15 tahun ke 1998 demi kesamaan timeline cerita saya /maksa. Jadi di tahun itu Amato yang menjabat sebagai menteri di bidang terkait mengajukan hukum tersebut menjadi wajib dan usulan itu diterima pemerintah, kemudian dia menikah dan pindah jabatan jadi duta di sekitar waktu itu sampai sebelum anak-anaknya lahir tahun 2004 (hitung mundur aja kalau mereka saya bikin umur 17 di tahun 2021).
Pada praktiknya di kenyataan, hukuman mati ini kadang digantikan hukuman lain yang lebih ringan seperti hukuman cambuk.
.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat menular lewat darah dan hubungan seksual. Kita tahu apa yang terjadi di antara Vargoba dan Solar, jalur penularannya jadi berganda karena lewat kedua cara ini (dua-duanya T.T) Sedangkan sifilis termasuk infeksi menular seksual akibat bakteri, jadi penularannya hanya lewat hubungan seksual. Sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotik dalam kurun waktu beberapa bulan. Antivirus untuk HIV yang ada saat ini berfungsi menekan pertumbuhan virus ke jumlah minimal, tapi tidak menghilangkannya—makanya perlu diminum seumur hidup.
Apakah dengan menderita HIV berarti end of the world? Tidak juga. Bagaimana pun sejarahnya, pengidap HIV tetap sama-sama manusia. Makan bareng dan ngobrol dengan pengidap HIV tidak akan membuatmu ketularan HIV—ini stigma yang masih susah dihilangkan. Bahkan berhubungan seksual dengan pengidap HIV bisa saja aman dari penularan, selama antivirusnya diminum teratur dan hubungan dengan menggunakan kondom.
Sebetulnya untuk kasus penculikan dan pemerkosaan, ada yang namanya post-exposure prophylaxis atau pengobatan pencegahan setelah terpapar virus, yaitu dengan minum antivirus HIV selama sebulan—sayangnya pencegahan ini hanya optimal dalam 72 jam awal terjadi paparan, dan kondisi Solar setelah operasi belum stabil :" Di cerita ini Halilintar juga mendapatkannya, karena penggunaan jarum suntik yang tidak diketahui bekas atau bersih juga perlu mendapat pencegahan.
.
Panjang sekali author's note-nya kali ini (mentang-mentang bab terakhir!)
Akhir kata ….
Special thanks to:
-Yuukisaku, yang sudah mendorong saya untuk cross-post cerita ini (dan serialnya berturut-turut) di wattpad.
-Asha Cyclone, yang karya-karya tangannya so precious make me wanna cry :") mulai dari cover Thorn in the Flesh sampai foto si kembar tujuh untuk bab terakhir ini! Komisi gambar ke Asha dijamin tidak akan kecewa, Saudara-saudara. Dia bisa dihubungi di IG, FB, maupun Twitter Asha_Cyclone.
-Shaby-chan dan Rokuna Aldebaran, sesama author dan rekan konsultasi saya soal rating cerita ini yang galau ditempatkan antara T atau M.
-Akaori dan kARImu, juga sesama author yang baru kenal dan dalam waktu singkat jadi sahabat. Saya selalu menikmati kerusuhan yang kalian buat di kotak pesan saya /mwahahahaaaa/ Ditunggu rusuh lebih lanjut setelah baca sampai bab terakhir ini ya ;D
-Dan untuk kamu semua, yang sudah membaca dan mengikuti kisah BoBoiBoy elemental siblings versi Roux Marlet sampai sejauh ini, baik yang berjejak (lalu saya kirimi PM! Maaf nggak bisa menyebutkan nama kalian satu per satu) maupun yang tidak (hanya terlihat dari jumlah view, ehehe). Bahkan, yang membuat saya terharu, ada beberapa pembaca dari luar Indonesia.
THANKS TO YOU ALL :D
.
Buat pembaca di ffnet yang penasaran foto kembar tujuh di akhir cerita, bisa cek di wattpad saya: EfanillaVivace
.
Setelah ini nggak ada omake dan nggak ada sekuel, sudah cukup :")
Salam sehat dan sampai jumpa di fanfiksi BoBoiBoy yang selanjutnya!
[25.12.2021 - Selamat Natal bagi semua yang merayakannya]
