PARADOKS

(Part 1)

Disclaimer: All the character are Masashi Kishimoto's.

AU/Crack pair/ItaHinaSasu
.

.

.

"Jadi, akhirnya kau mengambilnya, dariku?"

Suasana hening, namun jika seseorang jeli membaca, ada bara api tersimpan rapi dari kakak-adik yang tengah bercengkerama. Sasuke macam kucing kecil yang menolak tunduk pada Itachi, singa pengasih yang menunggu waktu untuk menerkam. Mereka memperdebatkan buruan yang sama, daging merah kualitas terbaik bernama Hinata. Hyuga Hinata.

Itachi tersenyum miring, mengirimkan dingin ke tengkuk Sasuke yang berderak marah. Tak adil, pria ini jauh dari layak untuk Hinatanya yang hangat.

"Tahu dirilah. Sejak awal, Hyuga Hinata digariskan menjadi istri Uchiha Itachi, baik menurut hukum klan maupun hukum alam. Kau boleh mendebat Tuhan untuk itu."

Sasuke benci aturan, tapi lebih benci lagi diingatkan betapa ia akan selalu kalah dari Itachi. Kakaknya benar, ia harus mendebat Tuhan atas takdir yang setimpang.

"Lagipula, kau sudah melangkahi garis," lanjut Itachi. Ia mengambil mistar di meja dan menepuk ringan bibir Sasuke. "Tidak sopan calon adik ipar mengotori bibir kakak iparnya.

Sasuke terkekeh, tiba-tiba memiliki ide membakar Itachi dari dalam.

"Jangan lupa, Hinata menyukai semua orang kecuali kau. Pikirkan, bagian mana yang mungkin tersisa untukmu jika dia berpacaran sejak sekolah dasar."

Pegangan Itachi pada meja mengetat. Brengsek! Sasuke tahu betul memilih diksi secara jahanam. Terlebih apa yang dikatakannya memang fakta. Itachi merekam semua jejak asmara Hinata, mengetahui benar barisan para mantan. Mulai dari yang berambut blonde, pirang hingga merah, pria dari seluruh spektrum warna dipacari Hinata. Kecuali dirinya.

Itu membuat bertanya-tanya, apa yang salah pada Itachi? Tanya kualitas apa yang tidak ia check-list. Pintar? Mapan? Tampan? Tsah, bukankah Uchiha adalah gudang pesona, dan terutama Itachi, merupakan impian kaum hawa? Tapi Hinata menafikkan semua, mencacah harga diri Itachi jadi remah-remah biskuit. Luruh digenggaman gadis yang terpaut delapan tahun darinya, sebab, dia tahu pasti menaksir harga sebuah martabat.

Itachi menarik nafas, menyadari bahwa kata harus dibalas kata, bukan dengan gebrakan meja. Ia kelewat lembut pada sang adik rupanya.

"Tidak masalah." Dengan ekspresi yang sangat dibenci Sasuke—ekspresi orang tua yang memaklumi kenakalan anaknya—Itachi berujar. "Seksualitas sebelum menikah adalah urusan Hinata dengan dirinya. Tapi setelah itu—boom—setiap inci tubuhnya menjadi kuil bagiku. Dan perkawinan kami akan jadi aksesku menguasai Uchiha dan Hyuga." Telunjuk Itachi menunjuk muka adiknya. "Kau, Sasuke, akan semakin kabur di bawah bayang-bayang Uchiha Itachi. Behave."

Wajah Sasuke mengeras, menahan tangannya tetap di sisi. Persoalan Hinata adalah sesuatu, dan Itachi yang terus mengingatkan posisinya sebagai Uchiha cadangan, bagai pedang virtual yang menghunus tepat di jantung. Sakit tak terlihat.

Mengapa persaudaraan mereka seperti ini?

"Baiklah kakak, nikmati saja pernikahanmu nanti. Aku akan makan popcorn sambil menonton rumah tangga yang seperti neraka."

.

.

.

"Uchiha Itachi-san, apakah kita akan membicarakan pernikahan atau aku menontonmu bermain ponsel?"

Itachi menghentikan jemarinya yang menggulir layar, tatapan beralih pada Hinata. Dress motif bunga dengan panjang selutut membuat wanita itu nampak dewasa. Sudah cocok jadi pengantin. Sekilas pemandangan tersebut membikin Itachi berdebar, membayangkan tangannya menyusuri betis Hinata ke paha. Ia berdeham, mengusir kelebat nafsu yang berkelindan.

Di mata Itachi, Hinata merupakan dirinya versi perempuan: Feminin, tenang, berkelas. Bedanya, ia terlalu keras membuktikan diri, berlari jauh dari identitasnya sebagai Hyuga yang biasa. Pun begitu, tak bisa ia mementahkan darah bangsawan yang mengalir di darah. Tetap, Hinata membawa aura aristokrat yang membuat orang segan dekat-dekat. Sepanjang pengetahuan, teman perempuannya yang melekat hingga dewasa hanyalah Yamanaka Ino, perempuan peripheral yang jika Itachi kejam mengatakan, adalah dayang setia Hinata.

"Jadi, Uchiha-san, mengapa akhirnya setuju menikah denganku? Secara tiba-tiba pula?"

Pertanyaan bodoh. Itachi bersyukur Tuhan menyematkan tabir atas isi hati manusia. Kalau tidak, Hinata pasti menyingkirkannya dalam sekali tepuk. Persis lalat berupa pria-pria yang selama ini mengerumuni. Termasuk—sedih sekali—adiknya, Uchiha Sasuke. Bagaimana mungkin Hinata ringan meloloskan diri dari relationship dengan sang adik, hanya manusia tanpa perasaan yang bisa begitu. Itu membuat Itachi senang sekaligus bimbang, kemanakah hati wanita Hyuga tersebut menetap?

Ada suatu godaan bagi Itahi mempecundangi Hinata. Bagaimanapun, mereka telah bertunangan sejak Hinata sepuluh tahun dan dirinya delapan belas. Sejak itu pula, gadis yang pernah menyapu bersih posisi juara di ajang pageant remaja, berbalik arah darinya. Hinata seperti benci, ketika seharusnya bersyukur mendapat Itachi—yang bagai tropi di dunia perjodohan.

Itahi mengiris steak di hadapannya, berpura mengabaikan Hinata. "Bukankah aku selalu setuju?" Garpu bekas dagingnya menunjuk wajah Hinata. Tak sopan memang, tapi ia gemas pada perempuan cantik yang sok jagoan. "Kau yang membuat drama dengan memacari adikku."

Hinata meletakkan peralatan makan, memangku wajah di kedua jemari yang ditautkan. Biasanya lelaki akan tergagap bila ditatap begitu. Tapi Itachi berbeda, dia bergeming, menyaingi fokus dari matanya. Bagus, calon suaminya harus memiliki kualitas itu, biar sepadan.

"Sasuke ya, dia tampan dan tergila-gila padaku. Kebetulan aku menyukai perhatian."

Panas menyengat Itachi dari dalam. Sasuke masih Uchiha, atas nama kasih sayang, ia tak rela adiknya dianggap enteng. Masih dimaklumi bila Hinata bilang menyimpan rasa, tapi mengambil keuntungan dari perhatian orang adalah manipulatif.

Itachi benci realita bahwa calonnya ini picik. Tapi ia hendak menunjukkan Hinata bagaimana realita itu membungkuk padanya. Jika menjadi ayah dan ibu Sasuke sejak belia saja sanggup, maka sekadar menghandle Hinata bukan masalah.

"Sudah cukup main-mainnya? Karena aku tidak ada waktu meladeni gadis muda yang gemar bermain hati. Rumah tangga tak sebercanda itu. Lepaskan topeng kanak-kanakmu jika mau pernikahan ini berlanjut."

Ouch! Mata Hinata nyaris berair mendengar kalimat-kalimat yang dilesakkan bagai panah, merobek-robek hati. Itachi selalu seperti ini, menganggap Hinata anak-anak yang tak mampu. Betapapun ia membuktikan diri: Masuk Top University, menggenggam popularitas sebagai artis muda, menjadi Hyuga pertama yang namanya bergaung sampai ke luar negeri, tak pernah cukup.

Parahnya Itachi mengingatkan bila pernikahan ingin dilanjut Hinata harus jaga sikap. Terlihat sekali menilai rumah tangga sebagai penggenap megahnya nama Uchiha, harus bersih skandal, bercitra harmonis tapi melupakan pondasi penting bernama cinta. Yang penting jadi kesayangan media.

Itachi layaknya berkah bagi Hyuga dan pernikahan mereka akan jadi senyuman Hiashi. Ayahnya itu menjunjung Itachi setinggi langit, kagum terhadap tanggung jawab yang luar biasa. Bukan sekadar menantu idaman, lebih dari itu, Itachi bagai raja yang meminang keluarga resi. Di dunia kapitalis, bangsawan hanya pajangan rapuh, bukan kelas bagi pengusaha adi daya. Makanya Itachi di atas angin, merasa berhak melayangkan pembatalan nikah.

Suasana hening. Hinata memikirkan kalimat yang seimbang untuk membalas Itachi. Ah, ketemu, sebilah pernyataan yang akan menggores ego Uchiha.

"Tenang, calon suami, Hyuga ini artis yang mampu bermain peran. Kau akan mendapat istri teladan di hadapan media, tapi jangan harap memiliki hatiku secara utuh, apalagi mengatur untuk tunduk padamu."

Pelipis Itachi berdenyut. Siapa gadis ini? Kenapa berani sekali tawar-menawar soal hati. Sasuke benar, ia tak mengenal Hinata. Dia teka-teki di dalam tindak-tanduk yang seolah mudah ditebak. Tindak-tanduk mengecoh dan bikin pusing pria lurus sepertinya.

Dia bukan lagi gadis cilik umur tujuh tahun yang ditolongnya dari ayah abusif. Gegabah, terlalu serampangan menilai Hinata mudah. Dia akan jadi pekerjaan menarik bagi Itachi. Pekerjaan sampingan yang ditekuni sejak usia delapan belas tahun, dan akan lebih intens karena segera menyandang nama Uchiha.

Hinata yang senang lantaran Itachi kehabisan kata, dipaksa menelan pil pahit kedua. Mulutnya kembali mengatup karena tangan Itachi menghentikan, diinterupsi ponsel yang berdering tak sopan.

"Halo, ya, Izumi-chan."

Pang!

That -chan feels like a stab in the chest. Kemudian pria itu menyingkir tanpa repot permisi. Membenamkan Hinata pada asumsi tentang hubungan istimewa keduanya.

Uchiha Izumi bukan nama asing. Keberadannya bagai embun pagi untuk cahaya terang Itachi. Tak heran panggilan –chan disematkan, bahkan Hinata yang calon istri tak istimewa itu. Singkatnya, Izumi ini teman dekat Itachi, dengan tingkat kedekatan yang membawa tanda tanya.

Hinata mengamati calon suaminya dari kursi. Itachi jelas tak serupawan Sasuke, tapi dengan kecerdasan yang sulit dibuatkan analogi, ia melesat di antara tataran pesona. Makanya Hinata berusaha keras menjadi bintang, agar layak membersamai Itachi, sebab sebagai matahari, tempat pria itu di langit.

Bila lelaki biasa, Hinata menghitung tindakan Itachi sebagai hinaan. Tetapi siapa dia untuk Uchiha itu? Diabaikan bukanlah hal baru dari pria yang memperlakukannya bak angin lalu.

Ia menarik nafas. Perempuan yang hendak meraih hal besar tak boleh membiarkan hal kecil mengganggunya. Uchiha Izumi hanya kerikil dan ia berlian. Pengabaian Itachi takkan mengurangi nilai Hinata,

Aha!

Lantas Itachi yang selesai telepon kembali ke meja, mendapatinya kosong. Ck, sekadar menunggu telepon saja tak mau, bagaimana bisa ia menyerahkan hati pada perempuan macam itu?

Lebih menjengkelkan lagi menemukan seluruh pesanan dibayar Hinata, yang secara lancang turut menitip ongkos taksi pada waitress. Kelakuannya hampir sama bangkai dengan Sasuke. Melalui secarik kertas Hinata membuat Itachi kian mendidih.

.

.

Saya nggak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan orang yang tidak menghargai keberadaan saya.

.

.

"Oke, Princess, tunggu caraku menghargaimu di dalam kamar."

.

.

.

To be continue

Cuma mau bilang, saya pengin suami kayak Itachi yang genius dan berbudi luhur.