Paradoks
II
Disclaimer: The chara belong to Masashi Kishimoto's.
AU/Itahina/Sasuhina
.
.
.
Kepulan asap dari pipa rokok menciptakan kabut, dua orang masing-masing menyesap batang nikotin di antara percakapan mendalam. Mereka bukan kawan, tetapi percakapan dapat berlari jauh melampaui generasi. Bagi Itachi sendiri, rokok hanya layak menyentuh bibirnya dalam dua kondisi: Saat stress berat atau bergaul dengan perokok.
"Tolong jaga Hinata untukku."
Itachi menjentikkan jari pada asbak, ujung rokok yang berabu jatuh, sekilas bagai rasa bencinya pada pria ini. Hari ketika Fugaku membawa Hinata kecil ke rumah sakit lantaran luka parah, Itachi bersumpah takkan memaafkan Hiashi. Hari itu menyulut amarah tak berkesudahan, bagaimana seorang ayah tega memukuli anak perempuannya yang bahkan nol kesalahan. Dia hanya begitu sial berada di sekitar pria yang baru ditinggal mati istrinya, dengan bayi yang terus-terusan menangis. Konteks lain, Hyuga Frame, manajemen artis yang dikelola Hyuga Hiashi carut-marut diterjang bangkrut.
Namun, semakin dewasa ia mengerti. Cukup salut karena Hiashi batal gila, kendati tak memaklumi apa yang dilakukannya pada Hinata. Jika tak ada malam berdarah itu, mungkin Hinata menjadi Hyuga penurut tanpa trust issue, dan paling bagusnya, tak memiliki ketergantungan aneh pada Sasuke.
"Saya tidak melakukannya untuk siapapun, kecuali diri sendiri."
Hiashi tesenyum, kerut-kerut di matanya memamerkan senja yang tersembunyi di balik cara bicara yang seolah hendak mengimbangi Itachi. Wajah yang begitu hangat, akan disebut mustahil pernah menyebabkan putri sulungnya cedera kepala. Ah, betapa sudut hati Itachi nyeri menghadapi pria ini.
"Justru itu. Kau paling tepat bagi Hinata." Hiashi menyesap pipa, serpih api memakan kertas dan menjadikannya abu. "Hinata sudah tak teraih oleh tanganku. Betapapun aku ingin memeluknya sebagai puteri kecil, bayi perempuan yang membuatku bahagia bukan kepalang." Hiashi mengusap sudut mata yang berair. "Jangan mengulangi kesalahanku. Hinata itu kejam, dia akan membalas tanpa ampun dengan menjadikan kita asing. Selamanya."
"Anda tak perlu mengajari saya jadi pria sejati, Shuuto-Sama. Saya bukan anda," tukas Itachi.
Hiashi meringis, merasakan bisa dalam kata-kata Itachi. Terkadang ia sendiri ngeri pada menantunya ini. Tampan sih, berwibawa pula, tanggung jawab tak diragukan, tapi ia begitu dingin, siapapun akan merasa asing bersama Itachi. Lalu bagaimana nasib putrinya yang sejak kecil kehilangan cinta? Hiashi ragu Itachi sanggup memenuhi kebutuhan satu itu.
Rokok Itachi yang tinggal setengah ditekannya pada asbak, seakan membaca pikiran ayah mertua, ia berujar. "Hanya karena tidak menyukai anda, juga dijodohkan—bukan berarti saya cacat dalam mencintai Hinata. Sekali lagi, jangan mengira setiap lelaki pada akhirnya menyakiti wanita. Sedikit pun, jangan samakan saya dengan anda."
Tanpa peduli kata-katanya menyengat, Itachi bangkit membungkuk pada Hiashi. Demikian hormat sebagaimana mesti. Bah, lelaki ini juaranya bersikap ambigu. "Saya pamit dulu, Shuuto-Sama."
.
.
Beberapa tahun lalu Itachi sangat bingung terhadap asal-muasal bayi. Kenapa bisa ada manusia di dalam manusia? Apakah terjadi alamiah seperti tunas pisang?
Namun kini ia delapan tahun, belajar lebih cepat dari anak seusianya, dan selalu takjub terhadap istilah bayi. Makhluk hidup yang tadinya bagian dari perempuan dan laki-laki. Kemudian saat dibawa menjenguk paman Hiashi, junior ayahnya yang baru memiliki putri pertama, Itachi terpesona.
"Itachi, Nak, kenapa berdiam di situ?" Suara lembut Mikoto membuyarkan Itachi. Ia melirik adik kecilnya yang sudah merangkak ke crib, berdiri dengan pegangan pada besi lalu menggumam entah pada bayi di sana.
Mikoto menggendong bayi tersebut lebih hati-hati dari guci termahal di kediaman Uchiha. "Ya Tuhan, bayimu cantik sekali Hiashi-san. Aku jadi ingin anak perempuan."
Hiashi terkekeh. "Nanti juga dia jadi anakmu."
Hah? Apakah orang tuanya akan mengadopsi bayi merah itu? No please. Sasuke saja sudah ampun merepotkan.
"Maamm cacuu." Sasuke terganggu karena bayi yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya, berpindah tangan.
"Oh Sasuke mau lihat juga? Iya kan, dia indah sekali, seperti Sasuke waktu bayi dulu."
Benar. Beberapa bulan lalu, Sasuke adalah makhluk merah yang mempesona. Itachi pikir itu sudah paling unggul, ternyata yang sekarang digendong ibunya lebih lagi. Mungil, elok, seperti malaikat, Itachi bisa memandangi itu selamanya.
Ruangan jadi ramai oleh Sasuke hiperaktif yang tepuk tangan. Sebentar-bentar tertawa memamerkin giginya yang putih cemerlang. Aneh, biasanya toddler cemburu bila ibunya menaruh perhatian pada objek lain. Tapi Sasuke, bersama seluruh penghuni ruangan, sepakat mengagumi bayi Hyuga itu.
"Kemarilah Itachi." Hiashi mengangkat tubuh si sulung Uchiha ke kursi. "Berikan Hinata pada Itachi." Ia menginstruksikan Mikoto untuk mengangsurkan bayi tersebut ke pangkuan Itachi. "Nah, iya, begitu."
"Kau sedang menggendong calon istrimu. Sayang Hinata ya Nak." Fugaku mengelus rambut putranya.
Itachi tak tahu istri itu yang bagaimana. Perhatiannya disedot magnet berupa mata kelabu dari si bayi yang mengerjap lembut. Pipi yang halus, gerakan pelan dan tubuh hangat itu, membuat jantungnya berdebar-debar. Ia bahkan tak peduli pada seisi ruangan yang riuh oleh tangisan Sasuke.
.
.
"Sampai kapan kau marah padaku, Sasuke?"
Dak…Dak!
"Sampai kita tua? Atau sampai aku mati sekalian?"
Dak!
Hinata menghela nafas, menghembuskannya keras-keras. Ia tahu persis menangani Sasuke yang ini. Sasuke yang sakit hati oleh keputusannya. Hinata hanya perlu mencecar hingga objeknya lelah, sebab, pria ini akan selalu menengok padanya—sang pusat perhatian.
Tak kunjung mendapat atensi, Hinata beranjak ke arah target, memasang tantangan pada pria yang kini menurunkan tangan. Hanya sesaat, lalu Sasuke justru mengetatkan tarikan pada busur.
"Minggir." Sergahnya dingin.
Hinata mengeleng, "Tidak sampai kau bicara padaku."
Wush..
Jantung Hinata berhenti sesaat. Satu anak panak tertancap tepat di atas kepalanya, nyaris tak berjarak. Ia bahkan merasakan rambutnya tertancap saat menarik diri. Apa-apaan Sasuke!
Lalu tanpa mempedulikan gadis yang senantiasa diakuinya sebagai Love Interest, Sasuke malah menuju bangku, meraih tas untuk menenggak botol minumnya.
"Hufffttt… sabar.. sabar." Hinata menghembuskan nafas keras-keras. Ia lalu ikut duduk di bangku.
"Berhenti main-main dengan perasaanku, Hinata. Kau tahu Itachi takkan mencintaimu sebayak aku. Tapi tetap dia yang kau nikahi."
Inilah yang tidak Hinata sukai dari Sasuke. Terlalu sensitif, memperlakukan cinta sebagai hal menggelikan layaknya remaja. Hinata tak butuh itu, ia tak makan cinta untuk menjadi kuat. Makanya menerima takdir bersama Itachi, lelaki yang tak menaruh minat padanya barang sepicing.
Namun daripada menghakimi Sasuke yang mirip budak cinta, Hinata memilih ambil keuntungan. Sekali lagi menina-bobokan lelaki itu dalam manipulasi. "Key, itu tidak berarti apapun. Aku tetap Hinatamu. Sahabat, adik, tempatmu menumpahkan apapun yang mengganjal."
Hinata meraih tangan Sasuke dan menggenggamnya hangat. Tak bohong, memang ia akan selalu ada, karena Sasuke adalah go-to boy bagi Hinata.
"Ck, kau tahu aku selalu mau lebih dari itu," decak Sasuke.
"Untuk apa? Untuk akhirnya bertengkar dan saling jauh?" Hinata memaksa Sasuke menemui matanya dengan memegang kedua pipi. "Dengar, hubungan asmara bisa usai. Tapi apa yang kita miliki ini tidak, Key. Please, mengertilah."
Sasuke tercenung lama. Pada akhirnya, ia selalu kalah terhadap keyakinan yang ditawarkan mata Hyuga di hadapannya. Beruntung sekali Hinata, bisa mendapat banyak hal karena mata yang menghipnotis ini.
Tangan Hinata diturunkan, Sasuke mengganti interaksi fisik tersebut dengan pelukan. "Janji, jangan menjauh apapun yang terjadi."
Tanpa memikirkan konsekuensi, Hinata mengangguk. Hanya selalu ada kan? Bukan masalah besar. Ia menyambut pelukan sang adik ipar. "Aku selamanya menyayangimu, Key." Tangannya mengelus rambut Sasuke.
Bahkan dalam keadaan begini dekat, tiada detak jantung yang menggangu. Sasuke adalah zona nyamannya. Bukan tangkapan besar yang menantang Hinata, tidak seperti seseorang yang—tunggu—ada kelebat familiar di depan sana. Ia tidak behalusinasi kan? Terlintas sebuah nama yang hanya dengan memikirkan saja, Hinata menggila.
Itachi?
.
.
"Itachi, ayo ikut ayah."
Itachi sedang menggarap laporan asistensi kala Fugaku mengajak. Tanggap, ia mengambil jaket dan berlari ke mobil, ketergesaan ayahnya menunjukkan bahwa segala tanya bisa ditunda.
Dan benar, pemandangan di depan langsung jadi penjelasan. Mobil mereka berhenti di depan kediaman Hyuga yang ramai. Mobil polisi, ambulance dan Hiashi yang digelandang membantu Itachi menyalakan pijar di kepala. Fugaku berlari ke dalam, beberapa menit kemudian mengekori petugas berseragam putih yang menggendong anak kecil berlumur darah.
Hinata!
Melihat dari kejauhan saja membuat ngeri. Oksigen serasa dirampas dari dalam tubuh Itachi, pusing oleh anyir darah, tapi lebih dari itu—cemas pada keadaan Hinata.
Fugaku mendekat dengan raut pucat dan nafas berantakan. "Kau saja yang menyetir. Tolong ikuti ambulance."
Perjalanan ke rumah sakit diselimuti hening yang seram. Itachi dapat melihat tangan ayahnya gemetar, syok berlebih atas peristiwa yang baru disaksikannya.
"Hiashi. Aku tak percaya Hiashi melakukan ini pada putrinya."
Ya, siapa yang percaya. Hiashi dengan image budi luhur dan pria idaman, tak mungkin melukai apalagi buah hati sendiri. Tetapi kehidupan ini tempanya shock teraphy. Yang menjadi fokus Itachi adalah nasib gadis kecil sebaya Sasuke itu. Gila, adiknya yang lelaki saja menangis saat lecet. Dan Hinata, ah, betapa tubuhnya tadi bersimbah merah.
Setelah ini, ia tahu Hinata perlu disayangi secara berbeda. Itachi janji akan ambil bagian, sebagai kakak, pelindung, bila perlu—kekasih.
.
.
Panahan adalah olahraga istimewa bagi Itachi. Istimewa karena melalui itu, ia dapat memandang Hinata seperti dongeng terindah. Ya, diam-diam Itachi menjadi penonton tetap, duduk di suatu sudut bagai pungguk menyaksikan rembulannya beraksi. Cara Hinata merentang busur, meletakkan di bawah dagu, lalu mata kelabu favoritnya yang fokus memandang satu titik. Itachi harap, ada suatu masa di mana sang istri membidiknya sefokus itu, meski berarti menyerahkan diri untuk disakiti.
Namun seharusnya Itachi ingat, Hinata beririsan hobi dengan Uchiha bungsu. Kemudian, sesaat ia lupa bernafas, pemandangan di depan membuat lemas hingga mesti berpegang pada tiang.
"Aku selamanya menyayangimu, Key."
Hinata di sana, tubuhnya tertutup badan Sasuke yang memeluk erak. Tangan yang lencir mengelus rambut Sasuke berlagak sayang.
Apa-apaan!
Itachi mempertimbangkan untuk menghajar adiknya, lalu menyeret Hinata ke peraduan demi memberitahu posisinya dalam keluarga. Alih-alih, ia menghirup udara banyak-banyak, menetralisir emosi melalui respirasi. Orang bijak menganjurkan tak bertindak apapun saat dikuasai amarah, sebab segala tindakan berpotensi iblis. Pada hitungan ke lima belas, Itachi mengambil langkah pergi.
Baiklah Sasuke.
Ini kesekian kali ia memberi adiknya setetes bahagia. Bagaimana pun, Sasuke adalah kawan serahim. Jika Itachi memiliki masa kecil luar biasa, tak adil menelantarkan Sasuke tanpa hangat kasih sayang. Maka ia rela membagi, meski berupa Hinata sekali pun, meski Itachi pasti terbakar cemburu.
Tapi harus sampai kapan?
Sampai dirinya hangus?
Tanpa pikir panjang Itachi pulang. Setiba di rumah, justru merasa konyol, ia memiliki segalanya bersama Hinata sekaligus tidak sama sekali. Tubuhnya rebah di sofa, ya, sofa, seharusnya itu menjadi tempat bercinta bagi pengantin baru. Tapi semua yang liar hanya berada di kepala Itachi. Semata-mata fantasi.
Entah berapa lama, Hinata menari-nari di dalam kelopak matanya. Elok. Sesaat ia ingin berenang dalam imajinasi dan melupakan realita, melupakan fakta tubuh istrinya direngkuh Sasuke mesra.
Berjam-jam kemudian.
Itachi mendengar bunyi knop pintu dibuka. Menyadari siapa di balik suara itu, ia langsung menutup mata. Enggan berinteraksi sementara hatinya meradang. Bisa-bisa ia melukai Hinata atas kompensasi pemandangan sore tadi. Tidak Arogansi tak boleh mendapat tempat terbaik dalam hubungan mereka. Kalau ada kebakaran, Itachi harap bukan ia yang menyulut sumbu.
Ujung heels Hinata mengetuk-ngetuk lantai, semakin keras, lalu berhenti, bergabung dengan suara TV menyala. Itachi menghitung berapa detik wanita itu menatapnya. Lama. Nyaris dua menit tanpa aktivitas apapun. Kemudian bunyi heels kembali begaung, menjauh, diperkirakan naik ke lantai atas—kamar mereka.
Yeah. Siapa dia bagi Hinata? Bukanlah macam Sasuke yang diberi pelukan, Itachi hanya dilewati, dibiarkan sendiri dalam lautan asumsi. Cih, lewah pikir terhadap gadis yang pernikahannya menerima predikat patah hati nasional? Tidak akan! Itachi bukan ngengat yang membiarkan dirinya terbakar demi seberkas cahaya. Jika Hinata cahaya itu, biarlah Itachi tertidur di sofa asal tegak harga diri.
Namun salah, tebakannya atas sang istri konstan meleset. Hinata keluar kamar, kali ini dengan langkah ringan sandal bulunya yang lucu. Aroma sabun menyapa penciuman Itachi, dalam pejaman mata, dapat dirasa cahaya lampu meneduh tertutup figur Hinata. Sofa melesak sedikit oleh beban lain, jantung Itachi berekskalasi, nyaris berhenti kala disadari nafas Hinata menyapu wajahnya. Dekat, terlalu dekat, jarak paling tipis yang pernah dihadapinya dengan sang istri. Lalu jemari dingin tersebut menjamah wajah Itachi, pelan menyusuri alis, mengusap matanya lembut. Jantung Itachi hampir anfal saat tangan Hinata yang bolak-balik menyusuri hidungnya, kini menuju bibir—membelai—seolah akan tinggal di sana. Dan benar, semua kegiatan itu diulangi, namun yang jantung Itachi permasalahkan—adalah memakai bibir. Pertama di kening, kedua matanya yang tadi sore bersedih, ujung hidung, terakhir menetap lama di bibir.
Hinata, apa yang kau lakukan? Menghancurkan hatiku untuk melihatmu?
Tepat saat Itachi hendak menyesap dan membalas kebingungan yang dibebankan Hinata, wanita itu justru beranjak. Menebar lipatan selimut lalu memasangkan ke tubuh Itachi sebatas leher. Dia duduk kembali, kali ini mengelus rambut suaminya dan mencium kening. Setelahnya, kehangatan benar-benar tercerabut. Hinata kembali ke kamar.
Kelopak mata Itachi membuka, berdeham karena sedari tadi tenggorokannya kering mengantisipasi yang mungkin terjadi.
Dan yang terjadi
Hinata
Menciumnya,
Tepat di bibir.
Apakah itu tak terlalu kejam?
.
.
TBC
