Paradoks
III
Disclaimer: The chara belong to Masashi Kishimoto's.
AU/Itahina/Sasuhina
.
.
"Sebenarnya ada suatu tawaran, Hinata. Tapi sepertinya kau takkan tertarik." Mulai Tenten.
Hinata yang tengah memulas lipstick bergeming, alisnya yang tebal dan tertata naik sebelah. Istri dari sepupunya ini terlalu mengenal Hinata, makanya heran kenapa tidak langsung ditolak saja. Buang waktu.
"Ada brand produk kecantikan yang menginginkan kau jadi General Ambassador, jadi bukan hanya make up, kalau suatu saat mereka mengeluarkan parfum, clothing atau apalah, mereka ingin kau yang jadi ikon." Tenten menghembuskan nafas berat. "Aku yakin profitnya tinggi, tapi kau kan Hinata, artis yang paling tidak suka menjadi representasi sebuah produk."
"You know me too well Haha." Hinata tertawa tipis sambil mengangguk. "Aku tidak suka mendefinisikan cantik melalui suatu label lalu suatu saat ketahuan pakai produk lain. Ayolah. Aku munafik tapi tak ingin terang-terangan begitu."
"Tapi ini perusahaan raksasa dan kau pasti terkejut dengan siapa sosok di baliknya."
Decakan keluar dari bibir yang kini terpulas merah. "Siapapun itu. Shut it!"
"Yakin?"
"Couldn't be more sure."
Tenten mendesah, mencoret sesuatu di buku kecil miliknya. "Baiklah. Sayang sekali harus mengecewakan suamimu sendiri."
Hinata terpaku oleh kata 'suami'. Damn, istilah yang masih asing di lidah, pikiran, dan kehidupan itu senantiasa memberi efek kejut kecil.
"Wait—what?" Kini giliran Tenten mengangkat alis, memandangi tangan Hinata yang mencengkeram lengannya. "Suami? Maksudmu, Itachi?"
"Siapa lagi? Kecuali kau diam-diam menikahi Sasuke."
Sejenak Hinata berdialektika dengan pikiran. Memang benar ia paling menghindari tawaran BA, tetapi Itachi selalu menempati pengecualian. Menarik sekali jika suaminya yang maha skeptis itu akhirnya turut standing applause pada kapabilitas Hinata. Ambassador adalah pekerjaan yang tidak terlalu butuh improvisasi, asal kualitas produk oke dan dirinya konsisten menjaga reputasi, bukan hal sulit menerbangkannya ke langit.
Hinata berdeham, memasang topeng demi melindungi dirinya yang bersemangat. Kuku telunjuknya yang berpulas kutek bening mengetuk-ngetuk meja. "Itachi ya."
"Hu'uh." Tenten masih mencoret-coret buku, menambahkan sesuatu di lembar baru. "Baiklah. Besok aku akan menghubungi pihak Uchiha untuk penolakan yang kau buat."
"Tunggu!"
Tenten terperanjat, matanya menatapi jemari Hinata yang mencengkeram kain di bahunya. Khusus Itachi, Hinata adalah buku terbuka yang kau bisa membaca langsung. Tenten tertawa dalam hati, ini yang katanya National Girlfriend? Fansnya bisa ngakak melihat Hinata yang bagai anak TK minta dibelikan lollipop. Muka penuh harap nan cemas.
"Tidak mungkin kan aku merugikan suamiku sendiri. Maksudku, uangnya adalah uangku. Jadi apa salahnya diterima?"
"Yakin?" Tenten mengetes.
"Couldn't be more sure." Cengir Hinata.
"Deal!" Tenten menyalami.
Hinata pamit, sepanjang perjalanan langkahnya begitu ringan seperti mau terbang. Bayangkan ia bertemu Itachi setiap hari karena project, lalu karena dirinya sangat cantik, pria itu pun jatuh cinta kemudian mereka bahagia selamanya. Hinata terkikik geli, beberapa kali menepuk kepalanya.
Adalah rahasia tergelap bahwa Hyuga Hinata merupakan fans nomor satu Uchiha Itachi. Kebetulan saja pria itu cuek setengah mampus kendati seluruh Jepang menjadi simp Hinata. Dan justru itulah pesonanya.
Sampai di rumah Hinata menghirup udara, menanggalkan bahagianya tadi. Di balik pintu sana hanya ada sunyi dan mungkin Itachi yang berbeda dari ekspektasi di kepala. Mengingat mobil sulung Uchiha itu terparkir di garasi, kemungkinan dia sedang di ruang kerja. Begitu pintu dibuka, pandangan Hinata disapa sepatu cantik persis di depan mata. Bukan miliknya. Apakah Itachi menyaru jadi malaikat yang pemberi kejutan? Ah tapi kejutan macam apa yang tidak dibungkus dan terlihat dipakai berkali-kali.
Bunyi spatula beradu dengan wajan mendorong Hinata melangkah ke dapur. Jantungnya bak dipukul tiba-tiba. Uchiha Izumi, mengenakan kemeja Itachi yang menjulur hingga paha dan tak ditutupi apapun lagi. Kaki Hinata lemas, ia sampai harus berpegangan pada tembok. Ada apa? Kenapa rasanya ingin menangis?
Perasaan itu kembali, sesuatu yang bergolak di diri Hinata tiap kali berada di antara Izumi dan Itachi. Perasaan yang melumatnya hingga menjadi begitu kecil dan tak berarti. Seolah apapun yang telah diraih musnah jika dihadapkan pada Izumi. Ia bukan siapa-siapa.
"Oh Hinata." Izumi menyapa ramah.
Cantik sekali. Dan perempuan ini mengetahui semua tentang suaminya, bahkan mungkin ukuran dari yang paling tersembunyi. Mungkin juga mereka telah melewatkan waktu berdua, saling bicara lewat tubuh dan peluh.
"Duduklah. Aku memasak Tamagoyaki kesukaan Itachi. Semoga kau juga suka ya."
Izumi menarik satu kursi agar Hinata duduk. Lihat, lagaknya seperti nyonya rumah. Lebih menyedihkan lagi ia merasa wanita itu lebih cocok bagi suaminya.
"Aku pikir kau tidak pulang. Itachi-kun bilang kau jarang di rumah."
Lalu dia mengundangmu untuk makan berdua? Romantis sekali.
Tanpa menggubris kalimat Izumi, Hinata berujar dingin. "Kau memakai kemeja suamiku."
Izumi menengok bajunya lalu tertawa kecil sambil mengibas-ibaskan tangan. "Ah iya. Tadi pakaianku basah jadi Itachi-kun menyuruhku ke sini sekalian membawa mobilnya."
"Seperti tak ada taksi saja." Lirih Hinata yang tak didengar Izumi.
"Sebentar lagi Itachi-kun pulang kok."
Benar-benar sempurna. Izumi bertingkah seperti pemilik rumah sementara Hinata tamu. Apa yang kurang? Memakai baju suaminya, memakai dapur, memasakkan suaminya makanan, lengkap, mungkin setelah ini tidur bersama.
Atau memang begitu? Saking terbiasanya menguasai Itach, Izumi merasa semua lumrah. Jangan-jangan Hinata tidur di kasur yang biasa digunakan 'main'. Dan dengan bodohnya Hinata duduk-duduk bagai penonton. Jika ini pertunjukan, ia mau muntah.
"Tadaima!"
"Nah itu dia."
Izumi hendak menyambut Uchiha Bangsat Itachi, tetapi Hinata mendahului, sekarang berada di antara dua orang paling tak ingin dilihatnya di muka bumi. Itachi hendak membuka mulut namun urung melihat Hinata yang pucat dan dingin. Gadis itu melewati tanpa melirik dan berujar datar.
"Lakukan apapun yang kalian berdua mau. Aku tak berminat mengganggu."
.
.PARADOKS.
.
.
Blazer biru navy melapisi kemeja putih polkadot hitam, dipadu dengan jeans gelap, menguarkan hawa professional dari Itachi. Berbeda sekali dengan Sasuke yang membingkai ketampanannya dengan style penasaran dari mana suaminya mendapat gaya berpakaian macam itu. Sekilas nama Izumi melintas dan kemarahan Hinata kembali berkilat. Berapa banyak yang mereka bagi bersama? Mengingat tanpa canggung Izumi membalut tubuhnya dengan kemeja Itachi. Ugh, dada Hinata panas.
Itachi harus mendapat hukuman atas itu.
Hinata menatap penuh pria Uchiha tersebut, menelisik cara bicaranya yang 'daging' semua. Tiada kata mubazir, tiada pula kerlingan sekadar menyadari Hinata ada. She's non-exist in his eyes. Terlebih di ruangan yang Hinata direncanakan menjadi magnet bagi brand Uchiha, ia hanya deal lain.
Pengamatan Hinata semakin tajam pada visual Itachi. Hidungnya lebih tinggi dari Sasuke, sehingga matanya menjorok bahkan seperti ada bayang-bayang. Mata Itachi lebih hitam, dan karenanya, terkesan mengintimidasi. Pandangan Hinata beralih ke bibir, sesuatu yang berhasil dikecapnya beberapa malam lalu. Brengseknya, Itachi bersikap seolah tak terjadi apapun. Padahal tubuh pria itu sempat menegang, membuat Hinata menang sesaat. Jika Itachi menipu dengan tidur ayam, ia mengerjai dengan kecupan maut—yang ternyata gagal maut. Hhh..
Dada Hinata seperti dipukul kencang kala figur yang diamatinya menengok, untuk pertama kali memberi perhatian. Ia gelagapan, mengalihkan pandang ke manajer yang juga menatapnya—oh waw ternyata malah semua orang.
"Bagaimana nona Hyuga? Anda sepakat?" tanya notulen di samping Itachi.
Sial sial sial! Hinata tidak tahu apa-apa dan benci terlihat bodoh.
"Uchiha. Nyonya Uchiha." Koreksi Itachi.
Jantung Hinata berdebar kencang, entah karena ditodong pertanyaan atau revisi Itachi pada notulen rapat. Implikasinya, ia diakui sebagai istri. Ah, berbahaya sekali suaminya itu, bisa membuat senang hanya dengan pengakuan kecil. Hinata mengingatkan agar dirinya tidak terlalu haus.
"Baiklah. Bagaimana Nyonya?"
"Emmm… Itu…" Hinata meremas tangannya di bawah meja.
Dari sudut matanya ia menangkap Itachi terkekeh sambil geleng kepala. Apa itu? Hinaan?
"Kita beri deadline saja. Kukira Hinata bisa mendiskusikan dengan Tenten-san nanti." Tegas Itachi. Hinata bernafas lega karena diselamatkan begitu. Tapi lagi-lagi terdistraksi, kalau tak salah Itachi tadi memanggilnya dengan nama kecil?
Itachi melanjutkan, "Atau bisa juga berdiskusi denganku di tempat tidur."
Oh, Itachi bukan penyelamatkannya pemirsa, dia berguyon seksis. Wajah Hinata menghangat kala semua orang tertawa.
Baiklah…baiklah…
1-0
Hingga rapat dibubarkan Hinata masih memikirkan cara menumbangkan Itachi. Jika tak bisa menang, setidaknya harus seri. Ia bukan Sasuke yang menyerah begitu saja pada keagungan Itachi. Jika pria itu matahari, ia haruslah rembulan agar sepadan. Bukan groupies yang mengejar cahaya Itachi, Hinata akan memantulkan cahaya tersebut jadi pesona lain yang tak seorang Uchiha pun berhak mengatur.
Di lift hening, keberadaan Itachi membuat canggung semua orang. Ck, membosankan sekali orang-orang ini. Tiada yang berlakar untuk mengetes selera humor Hinata, maksudnya, ayolah ia selebritis, apa tidak ada yang mencoba cari perhatian? Atmosfer interaksi Itachi dan pegawainya sebelas dua belas dengan birokrat sepuh: Formal dan penuh intrik membidik laba.
Terlihat jelas Itachi tipe bos yang menjaga image sebagaimana gelas rapuh.
Aha!
Tiba-tiba Hinata punya ide menyenggolnya agar pecah berkeping-keping, atau minimal, retak. Wahai tuan yang egonya besar, lihat bagaimana istrimu bertingkah seperti kau tak punya nama baik.
Ting!
Pintu lift terbuka. Tepat sekali. Hinata mengejar Itachi yang beberapa langkah di depan, membalap orang-orang serta merebut atensi.
"Sayang…" Ia menggamit lengan Itachi, tersenyum bahagia karena beberapa orang berhenti. Hinata mencopot Headset Bluetooth dari telinga suaminya.
"Aku pulang dulu ya." Menuju telinga kanan Itachi, Hinata berbisik, lembut tetapi cukup untuk didengar banyak telinga. "Kutunggu di kamar untuk diskusi. And if you want to use me, I could be your puppet."
Kemudian Hinata menggigit kecil telinga Itachi, mengecupnya hingga meninggalkan bekas lipstick.
1 – 1. Seri.
Kemenangan diraih ketika suara menahan nafas terdengar, beberapa sampai melongo dengan mulut terbuka. Tapi yang paling menghibur adalah Itachi mematung dengan telinga merah, pasti bukan cuma bekas lipsticknya kan?
Dengan santai Hinata menggandeng Tenten menjauh. Setelah ini bagaimana image Itachi yang dijaga kuat-kuat itu? Terserah. Hinata ingin Itachi lapar lalu menyuapi.
Run, Itachi, she wanna make your heart beat like a roller coaster.
.
.
TBC
