PARADOKS

Disclaimer: All the chara are Masashi Kishimoto's.

Itahina/AU/Drama

.

.

.

Hinata harap Itachi adalah orang biasa. Ia tidak ingin melihat pria itu sebagaimana karya seni hidup: Rumit tetapi indah. Itachi serumit teka-teki yang membawanya ke rumah Uchiha. Mengapa Hiashi tak lagi muncul semenjak insiden Hinata dipukul hingga jatuh dari tangga? Mengapa bukan Hizashi yang merawatnya dan bagaimana nasib Hyuga Hanabi? Mengapa Uchiha?

Namun pertanyaan-pertanyaan tersebut redam oleh kasih sayang Itachi. Semenjak membuka mata di rumah sakit, hingga ia nyaman berebut mainan dengan Sasuke, Itachi senantiasa menghujani perhatian. Kadang sampai beradu mulut dengan Uchiha Mikoto karena membela Hinata.

"Anak laki-laki harus sayang perempuan, Sasu." Ujar Itachi sambil menggendong Hinata menjauh.

Hinata dewasa pasti takkan menyangka dirinya pernah merebahkan kepala di pundak Itachi, membiarkan pria yang lebih tua delapan tahun itu mengelus rambutnya. Kasih sayang dan perhatian tanpa batas dikenalnya melalui Itachi, jauh melampaui hubungan darah. Makanya Hinata menolak keras-keras frasa yang mengatakan "Keluarga adalah tempat pulang." Nyatanya Uchiha lah pengertian tempat pulang paling dekat.

Segala perlakuan Itachi membangun definisi pria ideal di kepala Hinata. Lembut namun tegas, berani tapi bersedia mengalah, tanggung jawab dan murah hati. Perlahan Itachi menciptakan ruang di hati Hinata, entah apa namanya. Keluarga bukan, kakak apalagi, yang Hinata tahu Itachi memberinya naungan yang hangat dan nyaman, seperti rumah.

Manisnya rasa sayang dikecap Hinata dengan menjadikan Itachi gula-gula kehidupan. Semua sempurna hingga ia menginjak sepuluh tahun, kepercayaan bahwa lelaki adalah makhluk mengerikan mulai terkikis. Setidaknya sampai Itachi ulang tahun ke delapan belas dan Uchiha mengadakan pesta besar-besaran. Sebab mereka percaya delapan belas tahun adalah titik kemerdekaan, usia ketika orang boleh ikut campur urusan dewasa.

Di tengah megahnya pesta, Hinata kesulitan mencari Itachi sementara Sasuke terus-terusan mengajaknya latihan dansa. Gila bocah itu, apa terlalu buta untuk melihat satu-satunya manusia yang Hinata puja untuk apapun adalah kakaknya sendiri, Uchiha Itachi? Lantas di antara rentetan pikir dan kekesalan pada Sasuke, Hinata menemukan Itachi melalui pintu kamarnya yang terbuka kecil. Dia bersama seseorang, bicara sayup-sayup soal kado ulang tahun.

"Aku tidak membawa apapun, tapi ada satu hal yang ingin kuberikan padamu."

"Kau tidak perlu memberi apapun Izumi-chan, lihat kado bertumpuk di depan. Mungkin sebagian akan kubagi pada Hinata atau Sasuke."

"Tapi aku benar-benar ingin memberikannya."

Hening, dengusan keras Itachi mengisi ruang. "Terserah kalau itu maumu."

Dari celah pintu Hinata menyaksikan Izumi mendesak Itachi, menempelkan bibir mereka. Kejadian itu mengagetkan hingga seolah jantungnya ditonjok semakin ke dalam. Sesaat detaknya berhenti untuk kemudian meningkat gila-gilaan.

Apakah itu yang dinamakan ciuman? Hinata menggeleng, ingin rasanya menorobos masuk dan mendorong Izumi menjauh lantas mengamuki mereka berdua. Kenapa Itachi diam saja? Kan bibir itu sering dipakai mengecup pipi Hinata, atau pelipis dan rambut. Kenapa berbagi?

Tahu-tahu air mata sudah mengalir, entah kenapa tapi Hinata jijik dan benci sekali. Ia mempercayai Izumi sebagaimana kakak perempuan, kenapa malah berbuat seperti itu dengan orang paling berharga di hatinya. Dia sudah besar dan bisa memiliki lelaki manapun, tapi kenapa Itachi?

Dan Itachi…Hinata kira hanyalah ia satu-satunya yang bisa terlalu dekat dengan sulung Uchiha itu. Kenapa dia membolehkan Izumi, bahkan tak memberi perlawanan sama sekali. Oh ya, mungkin Hinata cuma anak kecil baginya, sama seperti Sasuke, sebatas adik perempuan.

Memikirkan itu membuat kepala Hinata sakit dan menangis sangat keras. Di tengah pesta seseorang menghadang.

"Hinata kau kenapa?"

Ini dia, adiknya Uchiha Itachi.

"Kenapa menangis? Ada yang sakit?"

Ya sakit sekali, kepala dan juga hatinya sakit melihat Itachi dengan Izumi. Kenapa malah si bodoh Sasuke yang muncul, apa pedulinya.

"Hinata jangan menangis. Berisik."

Emosi Hinata bagai disulut. Ia benci melihat muka yang mirip Uchiha Itachi jadi ditamparnya Sasuke. Tampang kaget itu semakin membuat muak, jadi Hinata memukul dadanya. Lantas menjambak hingga rambut hitam jabrik tersebut terbawa. Ia baru lega ketika Sasuke menangis, impas karena sudah lancang bertanya Hinata kenapa.

Teriak kesakitan Sasuke mengundang perhatian. Bocah itu juara satu lomba berlebihan, termasuk tangisnya yang mengalahkan suara musik.

"Kalian bertengkar kenapa lagi?" Tanya Uchiha Madara.

Orang-orang dewasa bingung menghadapi Hinata dan Sasuke yang menangis. Pesta heboh dua kali lipat. Dan yang membuat Hinata semakin menjerit Itachi datang bersama Izumi, pura-pura peduli. Dia langsung menatap bengis Sasuke, mungkin murka karena tangisnya menganggu aktivitas enak mereka.

"Kau apakan Hinata, hah?" Itachi menjewer Sasuke.

"Itachi!" Tegur Mikoto.

Sasuke yang langsung berlari ke belakang Mikoto, mengadu. "Ibu, Hinata sudah gila. Dia tiba-tiba menjambakku," ujarnya sambil mengelus kepala.

"Sudah-sudah." Lerai Fugaku.

Seperti biasa, Itachi berada di pihak Hinata dan berniat menggendong gadis kecil terkasihnya. Tak boleh ada yang menyakiti Hinata, tidak pula Sasuke. Dia sudah mengangkat perempuan Hyuga tersebut ketika si cantik itu malah histeris.

Hinata meronta sampai lepas, lalu berlari ke belakang Sasuke dan memeluk leher bocah itu erat. Semua heran oleh kelakuan Hinata yang bagai wanita PMS, mereka berusaha mengurai pelukannya pada Sasuke yang lebih mirip cekikan.

.

.

Pesta Itachi bubar karena pertengkaran tersebut, tapi semua melewatkan bagaimana sang birthday boy terluka oleh penolakan Hinata yang pertama. Padahal, Hinata selalu takluk padanya bahkan ketika tak satupun berhasil menyentuh. Keadaan berbalik, seterusnya Hinata tak mau didekati Itachi bahkan saat seluruh dunia memuja.

.

*Paradoks*

.

Jadwal Hinata terbilang ketat, harus tidur pukul sekian, selesai makan pada menit ke berapa pun telah diatur manajer. Namun di sela padatnya lompatan dari satu acara ke acara, ia menyempatkan waktu untuk seseorang yang berharga, Uchiha Sasuke. Lelaki itu satu tingkat di bawah Itachi perihal "Yang Teristimewa".

Rabu malam Hinata mengajak Sasuke dine di salah satu restaurant mewah, sengaja memilih yang privat sebab ia sadar dirinya magnet perhatian. Di resto biasa, Hinata berpotensi mengubah tempat makan jadi lahan fan meet, sebentar-sebentar diminta foto atau tanda tangan.

"Hai bestie." Hinata memangku wajah di tangan, memandang Sasuke yang berjalan ke arahnya. Mengenakan polo-shirt warna krem dipadu dengan jeans hitam, jam tangan rolex coklat tua tetapi gelang tali murahan di tangan kiri, Sasuke sungguh tak butuh apapun untuk terlihat menawan. Ketampanannya mencolok dan itu membantu apapun jadi menarik dikenakan.

"Halo Hyuga Hinata-ku yang super sibuk. Ada angin apa mengundangku kemari?" Sasuke membalas sapaan sambil membuka-buka buku menu. Ia sudah hampir memanggil waitress saat Hinata menghentikan.

"Sabarlah dulu. Kita masih menunggu seseorang."

"Ni-san? Bukannya di antara kita cuma ada manusia itu?" Sasuke berdecak risih.

Ekspresi malas Sasuke bisa Hinata tebak. Ia mengenal lelaki di depannya sebaik diri sendiri, Sasuke yang agresif dan berambisi menguasai perhatiannya. Tetapi sungguh Hinata sayang, sebagaimana kakak kepada adiknya atau perempuan terhadap sahabat karib.

"Nope. Akan ada satu lagi." Hinata mengobservasi pintu masuk. "Nah itu dia."

Kepala Sasuke menengok ke arah tatapan Hinata. Seorang gadis berambut pink dengan baju yang Sasuke yakin tidak mencapai 20% harga baju Hinata, berjalan ke meja mereka. Wajahnya yang dibingkai potongan rambut pendek familiar di ingatan Sasuke, namun entah siapa.

Hinata berbinar setelah gadis itu duduk di depan Sasuke, menunduk demi menghindari tatapan interogatif sang Uchiha.

"Maaf terlambat."

"Tidak apa-apa. Si jabrik ini juga baru datang." Hinata tersenyum lalu berpaling pada Sasuke. "Benarkan, Uchih-kun? Kau pasti ingat dia, teman SMA kita loh."

"Siapa?" Sasuke melempar tatapan sengit pada Hinata, mencium bau amis yang coba wanita itu sembunyikan.

Barulah ketika si rambut pink mendongak tak sengaja bertabrakan pandang, Sasuke ingat. Haruno Sakura. Satu-satunya gadis lancang yang menembaknya padahal seluruh sekolah tahu hati Sasuke untuk siapa.

"Saya Ha—"

"Haruno Sakura. XII IPA 3, satu dari sedikit sekali perempuan yang Hinata ajak bicara. Kenapa kau di sini? Apa Hinata membayarmu?" interupsi Sasuke.

Tajam, sangat Uchiha. Hinata sudah memperingatkan Sakura untuk mengeraskan hati jika menginginkan Sasuke. Kendati ia sendiri belum tahu sanggup sekeras apa menghadapi Uchiha senior.

"Easy on her." Hinata mengelus lengan Sasuke, melas pada gadis yang kini makin menunduk. "Dengar ya Sasuke, untuk apa aku membayar gadis yang sudah seperti berlian. Kau akan berterima kasih padaku nanti."

Urat di dahi Sasuke muncul tegas, aba-aba bahwa Hinata menyenggol macan tidur.

"Lalu kau ingin aku melakukan apa? Menidurinya sampai hamil sekarang juga?"

Hati perempuan manapun pasti tergores, bahkan Hinata. Tapi ia kenal Sasuke, si keras yang merindukan sisi lembut wanita, sejenis kasih sayang ibu. Selama ini hanya Hinata yang diizinkan mendekat, tapi, perempuan macam Sakura lah yang sesungguhnya dibutuhkan Sasuke.

"Kalau kau tidak mau denganku, ya sudah, cukup di situ. Jangan coba menyeret perempuan lain yang bahkan tidak sepadan."

Sekali tembak dua hati disakiti. Jangan lupa, Sasuke mantan atlit pemanah, tepat sasaran adalah jalan ninjanya. Semua diam, Sakura tampak akan menangis, Hinata ingin memukul Sasuke tapi sibuk merasa bersalah. Bunyi kursi berderak kasar, Sasuke berdiri tiba-tiba, menatapi wanita di semejanya satu persatu.

"Berhenti membuatku merasa tidak diinginkan lebih dari ini." Ucap Sasuke lirih.

Tepat ketika langkah pertama diambil, Sasuke menemukan sosok Uchiha lain. Otak cerdiknya langsung menemukan cara membalas Hinata.

"Pucuk dicinta ulam tiba." Ia melambaikan tangan antusias. Meneriakkan nama mereka dari sudut mejanya.

"Oni-san. Izumi-nee chan" dan Shisui Uchiha.

Sesaat terbersit sesal. Hinata di antara Itachi, Izumi dan Shisui adalah kesalahan fatal. Sasuke membayangkan kondisinya akan segetir apa. Namun terlanjur, tiga orang itu menjawab panggilannya dengan berderap untuk duduk bersama.

Hinata menelan ludah, mengutuki Sasuke yang sengaja mengundang bencana ke meja. Sumpah, ia ingin sprint sejauh mungkin dari orang-orang ini. Tetapi ia Hyuga Hinata, perempuan yang telah menghadapi lebih dari sekadar rasa tak nyaman. Jika lolos dari maut pun mampu, apalagi cuma Uchiha Itachi dan duri di rumah tangga mereka.

"Waw kebetulan sekali." Shisui berseru ceria.

Hinata tahu Itachi sedang menatap, mungkin bertanya-tanya motif pertemuannya dengan Sasuke. Ia pun tak segan melawan tatapan itu. Berlari bukan jati dirinya, justru, Hinata senang menikmati tanda bahaya.

"Dan siapa nona cantik ini?" Izumi sudah menarik kursi, tersenyum hangat ke arah Sakura.

Cantik. Selalu anggun dan lemah-lembut. Izumi persis wanita yang diidam-idamkan kebanyakan Uchiha. Tenang, mudah dikendalikan namun pantas digandeng supaya tetap menjaga marwah. Klan berlambang kipas merah-putih tersebut memuja wanita submisif yang tidak membahayakan nama baik. Sesuatu yang tak dimiliki Hinata.

Orang luar lingkaran mungkin menilai mereka kawan akrab yang kebetulan bertemu. Tapi di dalam hati, masing-masing menyimpan ketidaknyaman yang bersiap meledak.

Sasuke menjawab pertanyaan Izumi. "Dia calon pacarku." Si sumber masalah itu lberdiri, menawarkan tangan pada Sakura untuk digandeng. "Ayo, Sakura, bukankah kita harusnya jalan berdua?"

Keduanya minggat, meninggalkan Hinata di tengah manusia-manusia paling tak diinginkannya di dunia. Dengan luwes Izumi memesan makanan, menawarkan pada semua yang di meja. Hinata mempelajari gerak-geraknya, mencari alasan mengapa wanita ini begitu dicintai Itachi. Haruskah Hinata belajar jadi telaten untuk merendahkan diri, mengelap alat makan lalu meletakan di piring Itachi? Mengganggu sekali melihat suaminya dilayani.

"Sasuke akhirnya belajar move on. Padahal dia kayak cinta sekali dengan Hinata yang direbut kakaknya." Shisui memulai. "Kau juga seharusnya move on Itachi. Biarkan aku dan Izumi damai menjalani hubungan."

Izumi menyodok perut Shisui sebagai aba-aba bahwa ini rahasia. Hinata sendiri kalem, ia dengar dari Sasuke mengenai Shisui. Si mulut lebar yang bicara seperti berak, kotor.

"Aku akan membiarkan Izumi dengan siapapun. Asal bukan pria brengsek sepertimu."

Hinata tak melewatkan Izumi yang sejenak berhenti menyendok. Kemudian mendapati Itachi menatap tajam Shisui. Saking tajam seolah ada pisau tak kasat mata merobek-robek pria yang malah cengengesan.

"Oh ya? Lebih brengsek mana, pria bersuami yang mengurusi relationship mantannya, atau pria bersuami yang berpelukan dengan wanita lain? Yah walaupun dua-duanya adalah kau hahaha."

Hinata seperti disodok, makanan yang dikunyahnya tertelan lewat jalur salah, tenggorokannya pedas. Berpelukan ya. Catat, Hinata akan membalas itu dengan lawan mainnya nanti.

Kini Shisui beralih ke arahnya. Sesaat Hinata mengamati, muka pria ini tidak setajam lelaki Uchiha lain. Mungkin lebih dominan paras ibunya.

"Eh Hinata, ngomong-ngomong kapan kau hamil? Mungkin bayi bisa mengikat lelakimu ini. Daripada dia keburu menghamili wanita lain."

"Rumah tangga kami bukan urusanmu." Itachi langsung menjawab, tanpa melepas tatapan pada Shisui. Otot di pelipisnya berdenyut pertanda menahan geram.

"Tapi menjadi urusan seluruh netizen Jepang? Siapa sih yang tidak tahu kalau Itachi masih suka jalan dengan mantannya. Kau juga pasti tahu kan Hinata?"

Hinata mengangguk-angguk.

Tidak diragukan, di mana ada Izumi di situ ada Itachi, sepaket bagai gula dan semut. Mungkin Shisui belum tahu fakta yang lebih menghebohkan, Izumi memakai kemeja suaminya. Apa perlu dibeberkan?

Ah buat apa, bau bangkai akan menguar dengan sendirinya. Apapun yang Itachi-Izumi simpan, akan sampai ke permukaan.

Kemudian Shisui menanyakan hal tak terduga. Sesuatu yang membuat Itachi mematung bagai salju, indah tapi dingin.

"Katakan Itachi, jika Hinata dan Izumi hamil bersamaan, siapa yang akan kau dampingi?"

"Shisui!" Gertak Izumi.

Hinata menyadari temperature naik di hati masing-masing. Satu-satunya hal enak tersisa adalah makanan yang ia hadapi. Bisa suaminya diam saja dan menghabiskan pesanan?

"Hmm…steaknya enak sekali, yang masak harus masuk surga." Hinata bergumam keras, macam anak kecil yang menyumpal omelan orangtua dengan nyanyian.

Itachi buka mulut. Seharusnya diam saja, suara baritone yang dalam itu membuat Hinata berdebar dan menebak kesakitan apa yang mungkin ditebar.

"Dengar ya, aku akan melakukan apapun agar Izumi tidak berakhir denganmu." Tegas Itachi. "Kau cuma menggunakannya untuk merampas perhatianku. Kau ingin perusahan dan pengakuan Uchiha bukan? Kheh, ingatlah dari mana kau berasal. Sesuatu yang illegal selamanya disembunyikan karena merupakan aib."

Shisui tersenyum licik. "Kalau begitu aku boleh menjajal Hinata?"

Itachi mengguyur minuman ke muka Shisui,

Fatal sekali. Hinata pun marah pada Shisui untuk ini. Lancang, dipikiranya Hinata mau diewe bandot tua macam dia? Jangan bercanda, ia artis dengan rate card yang mampu membeli harga diri Shisui.

Hinata menggebrak meja sambil berdiri. Muak dengan manusia-manusia yang lebih tua bertahun-tahun darinya tapi ngobrol seperti anak TK pendendam.

"Cukup!" Akhirnya semua diam. "Aku sudah kenyang dan mau pulang." Hinata menepuk pundak Itachi. "Sayang, tolong bayarkan makananku."

Hinata melenggang, bukannya menghindar dari masalah tapi karena benci berada di antara orang-orang yang tak menghargai keberadaannya. She worth million dollars. Ia actor utama, takkan mengizinkan siapapun mencuri panggung, apalagi ini, beradu mulut untuk perempuan yang bukan dirinya. Jika orang memperlakukan bagai sampingan, maka ia pun, akan menepis agenda mereka bagai debu.

Lantas Hinata menelepon Tenten, menanyakan jadwal seolah kejadian tadi tak ada.

.

.

*TBC*