PARADOKS
Chapter 5
Disclaimer: All chara belong to Masashi Kishimoto.
AU/Itahina/Family/Drama
.
.
"Aku mau anak sebagai hadiah ulang tahun."
Itachi menoleh, meletakkan berkasnya di meja dan memberi sepenuh perhatian pada Hinata. Siapa sangka di sela kerja begini ada yang melempar granat. Keduanya menghitung waktu untuk meledak jadi nyala kembang api, memercik indah dan panas dalam satu.
"Anak bukan benda, mereka tidak bisa diminta sebagai hadiah."
Hinata manggut-manggut. Itachi pasti tidak tahu, perempuan yang dikira hanya ahli berlenggak-lenggok depan kamera ini telah mempelajari konsep unconditional love hingga child free. Anak-anak adalah tempatnya repot, berantakan dan cranky. Mereka hampir tidak membawa manfaat apapun selain lucu, dan justru itulah kemanusian seseorang diukur.
"The true measure of a man is how he treats someone who can do absolutely no good."
Menghadapi anak kecil akan mengeluarkan segala yang terpendam di diri kita. Luka batin, sikap baik dan buruk bahkan secara menyeramkan, kita bisa menjadi versi terburuk dari orang tua kita. Karena pengasuhan orang tua adalah pola parenting terbesar yang kita ketahui, yang secara tidak langsung diadopsi alam bawah sadar. Posisi kita terhadap anak juga vertikal, yang kalau semena-mena bisa menjadi power abuse. Bagaimana pun, mereka inferior, menggoda sekali untuk melukai manusia menyusahkan, rewel dan bergantung pada kita. Bukankah seharusnya mereka tunduk dan patuh lantaran sejak lahir disuapi kehidupan dari orang tuanya, mulai dari popok hingga pelaminan? Salah kalau memberi sedikit pelajaran dengan memukul?
Itulah tantangan sesungguhnya. Hinata telah berguru ketika volunteer di panti asuhan bayi terbuang, isinya bukan cuma bayi melainkan batita yang sedikit-sedikit menyulut emosi. Awalnya demi proyek advokasi pageant, ternyata program volunteer tersebut malah lebih bernilai dari seluruh kontes yang Hinata jalani. Platform sosial kalah berharga dibanding memberikan pengaruh nyata di kehidupan bayi-bayi itu. Sumbangsih yang jauh dari sorot kamera, panggung yang sepi penonton, Hinata belajar banyak dari sana.
"Justru itu. Kalau pernikahan kita berakhir, satu-satunya yang tidak pernah berakhir adalah cintaku pada anak itu. Aku akan mencintai anak yang keluar dari rahimku tanpa kondisi, siapapun ayahnya."
Dalam hati Hinata optimis, anak dari suaminnya pasti yang terbaik. Ia tidak mengizinkan siapapun mengisi rahimnya kecuali yang dicinta. Bayi itu akan menjadi cahaya hidup, cinta berbalas dan kasih tak terhingga. Hinata pantas dan ingin merasakan fase hidup lengkap seorang mamalia.
"Oh ya? Apa yang membuatmu merasa pantas?"
Suara Itachi kalem namun terdengar bagai cemoohan di telinga Hinata. Dan jujur, ia tidak tahu jawaban atas pertanyaan mendasar dari suaminya ini. Pertanyaan yang seperti mengekspose dirinya telanjang, melenyapkan keyakinan yang tadi sempat berkobar.
"Dengar," Itachi menyandarkan punggung di kursi namun matanya kian fokus seolah Hinata objek tunggal di ruangan. "Kau artis yang bahkan tidak punya waktu untuk diri sendiri. Lalu bagaimana akan mengurus makhluk kecil yang 24 jam bergantung padamu?"
Lelaki ini, dia tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan Hinata. Lebih dari itu, meneliti ekspresi wajahnya, memandang lurus di kedua mata, mengawasi bahasa tubuh bahkan memperhatikan pilihan kata yang digunakan Hinata. Dia menangkap yang tak terkatakan, mengartikan segala sesuatu termasuk jeda hening antara mereka. Tiada yang luput. Percuma Hinata mengarang bebas seakan ia wanita paling reliable di dunia.
Lantas Hinata mengatur sirkulasi nafas, itu yang selalu dilakukan bila gelisah. Menyadari udara yang keluar-masuk tubuh membantu kontrol pikiran. Semua akan lewat, termasuk pertanyaan Itachi yang mirip sidang tesis. Selain itu, Hinata juga tak mau
"Pekerjaanku adalah pekerjaan yang punya opsi pilih dan tolak, tidak sepertimu. Tenten-nee akan membantuku menyelesaikan kontrak sebelum masuk bulan ke tujuh, seandainya aku hamil nanti. Dan as for your information, aku punya pengalaman volunteer di panti asuhan." Hinata terpaksa sekali menyebutkan itu, rasanya bagai orang melamar kerjaan pamer pengalaman, ah sekalian. "Di beberapa proyek juga ada yang melibatkan anak kecil, jadi saya jamin saya dapat bertanggung jawab atas apa yang menjadi peran saya. Mohon pertimbangannya, Paduka." Ia membungkukkan badan sembilan puluh derajat.
Kali ini Itachi menatap seolah Hinata makhluk yang salah planet. Namun ekspresinya melentur, sudut bibirnya tertarik ke atas mirip senyuman.
"Kau tahu kekuatan persepsi? Otak manusia bisa memanipulasi panca indera dan seluruh tubuh untuk bergerak mengikuti asumsi, bahkan ketika itu di luar kemampuan fisik. Semacam suplemen tambahan. Jadi kalau kau merasa mampu, be it."
"Apa?" Hinata berusaha menerjemahkan kalimat panjang suaminya. Sedetik kemudian matanya melebar. "Serius?"
Sebagai balasan atas Hinata yang kini memeluk dirinya sendiri, Itachi berujar, "Aku cuma berkata iya, bukan mengumumkan kehamilanmu."
Namun yang mengejutkan adalah lelaki itu mengurai tangan Hinata lalu mengganti dengan tangannya, melingkupi tubuh ramping tersebut dengan pelukan.
"Kita latihan dulu."
Hinata tidak mengantisipasi saat Itachi mendekat begitu rapat.
Jantungnya.
.
.
"Selamat ulang tahun, Hinata."
Hari H yang mereka tentukan, di beranda depan kamar Hinata dikejutkan oleh bisikan Itachi, piyama satinnya yang tertiup angin menabrak tubuh pria itu. Sebuah kalung berbandul permata direntangkan, Itachi melingkarkannya pada leher Hinata. Satu langkah mundur diambil, menggeleng sambil berdecak, tanpa diduga Itachi mengecup liontin yang telah menempel di dada.
Hinata menahan nafas, lelaki di depannya manis dengan sangat berbahaya. Gerakannya tak tertebak, simple tapi menimbulkan efek luar biasa. Sejak dulu.
Namun Hinata sedang diliputi biru. Ulang tahun selalu menjadi titik flash back, waktu untuk meriew hidup. Keberadaan Itachi di sini melemparnya pada masa paling sunyi, ketika ia merasa tak punya siapapun bahkan diri sendiri.
"Selamat ulang tahun, Hinata."
Tak bergeming, Hinata mengabaikan Itachi yang menyodorkan kue ulang tahun dan Sasuke yang berbisik lirih., "Ni-san ngapain sih. Dia bisu tauuu."
Itachi menjawab kalimat Sasuke dengan 'ssstt' dan satu jari ditumpukan di bibir. Tanpa mempedulikan dua manusia Uchiha tersebut, Hinata bangkit menuju kamarnya, mengunci diri untuk kesekian kali.
Kenapa orang merasa perlu membuatnya bicara? Sedang dulu Hinata menerima bentakan untuk kalimat-kalimat yang diajukan pada ayahnya. Tidakkah mereka Hyuga Hiashi yang lain? Sasuke terlihat iya. Bocah itu memelototi Hinata sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah Uchiha. Dia tak sopan, kelihatan sekali belum pernah dipukul pakai sendok makan, atau dilempar keluar rumah jika menangis. Hidupnya pasti enak, bungsu dan tampan, tak pernah disalahkan gara-gara adik yang menangis, padah kan memang tugas bayi adalah rewel.
Membicarakan Sasuke lalu merambat pada Itachi, berbeda sekali. Lelaki ini seperti berasal dari tempat berbeda, tukang handle atas masalah yang dibuat orang lain. Tuhan begitu pas menempatkannya sebagai anak pertama, sekaligus nomor satu dalam segala sesuatu. Dengar-dengar Itachi yang delapan tahun lebih tua darinya ini sudah ditraining mengurus bisnis Uchiha. Dia seperti dewa di rumah, Sasuke yang sombong saja nampak takzim.
Uchiha sulung ini berkeras agar Hinata dan Sasuke berteman, yang mana keduanya ogah. Tiap kali Sasuke mengajak bermain, selalu syaratnya adalah mengajak Hinata.
"Ni-san menyuruhku mengajakmu bermain. Jangan menolak, kau cuma penumpang di sini." Paksa Sasuke.
Tangan Hinata diseret ke arah Itachi, dalam hati menggerutu atas Sasuke yang tidak mengenal belas kasih.
"Nah, Sasuke, kau yang jaga. Aku dan Hinata akan sembunyi." Perintah Itachi.
Sasuke sudah membuka mulut, kemudian urung dan hanya menatap Hinata kesal. Ia menghadap tembok seraya berhitung mundur.
Itachi sudah menghilang entah kemana, hitungan bocah sombong itu semakin mendekati satu. Hinata panik, terengah-engah berlari ke persembunyian paling mungkin: Di bawah meja. Baru tubuhnya lesap ke kolong, Sasuke sudah berbalik. Jantung Hinata berdebar cepat, jauh lebih kilat, dari celah kursi kaki Sasuke terlihat dan itu makin membikin gila. Keringat dingin muncul di sela pori-pori, tubuhnya lemas dan kepala pusing, Hinata mau pingsan.
"Si bodoh malah sembunyi di sini," seru Sasuke sambil menyingkirkan kursi-kursi.
"Kena kau!"
Telinga Hinata berdegung, tidak dapat lagi merasakan sekeliling, tubuhnya gemetar saat kontak dengan Sasuke yang kini menyeret kakinya.
"Aaaakkk."
"Jangan teriak bodoh."
Namun Hinata tetap berteriak sambil menangis bahkan ketika Sasuke sudah melepaskan kakinya. Tangisannya seperti berasal dari luar permainan.
"Aku tidak menyakitinya." Sasuke bersumpah pada Itachi yang berderap dengan muka emosi.
Itachi masuk ke kolong, tidak memaksa Hinata yang terus menendang-nendang dan berteriak.
"Hinata, tidak apa-apa." Dipegangnya bahu perempuan itu. "Sasuke hanya bermain. Ayo, ikut ni-san."
Barulah Hinata mau digendong. Itachi meletakkannya di sofa lalu berbicara dalam kalimat pendek-pendek. "Tarik nafas Hinata sayang. Nah, begitu, hembus pelan-pelan."
Ketenangan Itachi laksana obat, membius dan menenangkan bahkan terkadang meredakan sakit. Dia mungkin tidak ditenggelamkan oleh air yang sama dengan Hinata, tapi membimbingnya keluar. Memberikan cahaya ketika di sekeliling Hinata hanya ada gelap. Karena itulah ia percaya, termasuk menyerahkan miliknya yang paling berharga sebagai perempuan: Hati dan perasaan.
.
.
Hidup mungkin bukan pabrik pengabul keinginan, tapi di satu titik bisa memberi kejutan yang indahnya jauh melampaui harapan. Seperti pagi ini, siapa sangka Hinata mendapat pemandangan surga setelah malamnya dibawa ke nirwana. Punggung Itachi yang lebar dan melengkung saking tingginya, membelakangi pintu dapur karena sibuk bergulat dengan kompor. Ia tidak repot-repot mengenakan apron, membiarkan kaos putih ketatnya diberangus asap masakan. Tiada pemandangan ini di mimpi terliar Hinata, terlalu bagus hingga dirinya merasa perlu menepuk pipi. Nyata. Ia kira memakai baju Itachi tadi sudah harapan paling tinggi.
Hinata mendapat senyum kecil dari suaminya yang kini berjalan ke meja.
"Sudah bangun?"
Dalam hati Hinata tertawa, ada dengan Itachi yang menanyakan perkara retoris? But she smiles anyway, she doesn't want to ruin this heavenly sight.
Mereka makan dalam hening. Hanya sendok beradu yang menjadi pengisi suara, kemudian Hinata mendapati tambahan chicken katsu di piringnya, oleh Itachi yang menatap di antara sela kunyahan. Hinata sudah hampir mengembalikan sebelum tangannya digenggam lembut. Sial, tangannya yang digenggam kenapa jantungnya berdebar.
"Makan." Itachi mengarahkan matanya pada piring. "Kau sering menerima makanan dari Sasuke, kenapa tidak dariku."
"Oke."
Gila, Hinata tidak menyangka akan seawkward ini bersama pria paling diharapkannya di dunia. Ada banyak kupu-kupu berkeliaran di perut namun di luar terasa canggung. Kondisi kian ripuh saat Itachi melempar mesiu berupa tanya.
"Tadi malam apa sakit?"
Hinata menelan makannya susah payah. Berniat mengeluhkan betapa sakit inti dirinya dikoyak benda asing, rasa teriris, pirih, dan nyeri untuk sekedar jalan. Sempat heran kenapa ada manusia kecanduan seks. Lalu benaknya mengingat Itachi yang menatap disela hunjaman, telapaknya yang mengelus lembut, kulitnya yang gelap jika bersanding dengan kulit Hinata, menutup segala perih yang diterima tubuh.
Lantas Hinata memilih jalan lain, flirty, membiarkan Itachi mencicipi godaan.
"Sakit. Bayangkan saja dikoyak, kemudian dimasuki, ditusuk-tusuk," terang Hinata dramatis. "Ugh. Kau harus tahu berat sekali jadi perempuan. Belum kalau spermanya jadi bayi. Tapi—"
"Tapi?"
"Tapi lama-lama enak. Nanti malam aku mau lagi ya. Yang banyak."
Itachi tak tahan untuk tidak terkekeh, Hinata menatapnya seperti kucing di depan aquarium. Penuh ingin, bernafsu sekaligus lucu. Ia mengusak rambut perempuan di depannya.
Momen saat Itachi tertawa sambil mengusap rambutnya menyadarkan Hinata akan satu hal: Bahagia memang sederhana. Hanya terdiri dari gestur kecil tapi memekarkan bunga-bunga di hati.
Hinata mau hidup di taman bunga yang diciptakan Itachi.
-TBC-
