UNTITLE

Wiell

Disclaimer :

Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan.

Baekhyun tak menduga jika pertemuannya dengan Chanyeol akan membuat hidupnya jungkir balik. Hal terjadi diluar rencananya dan mengubah perasaannya bagai telapak tangan. Pernikahan dadakan hingga tetek bengek warisan yang memuakkan.

[CHANBAEK]

.

Sebagai putra sulung keluarga Byun, Jongin hanya ingin yang terbaik untuk sang adik, Byun Baekhyun. Apalagi selepas kepergian ibunya yang mendadak ia merasa lebih bertanggung jawab. Adiknya itu masihlah seorang mahasiswa yang bebas, enggan memikirkan hal lain yang membuatnya pusing selain tugas kuliahnya. Mungkin kekasih saja Baekhyun tak punya padahal dengan jelas Jongin tahu jika banyak diluar sana yang begitu menginginkan adiknya sebagai teman kencan atau mungkin pendamping hidup dalam fase yang serius.

"Aku hanya ingin menikmati hidupku tanpa banyak masalah cinta."

Jongin bahkan ingat perkataan Baekhyun dulu.

Hingga hari ini, tepat dua minggu setelah kematian sang ibu, ia kembali bertandang ke rumah mewah itu. Rumah yang akan menjadi miliknya tak lama lagi.

Pintu gerbang dibuka, mobil putihnya dengan cepat melaju ke pelataran yang asri dengan banyak mawar putih disetiap sisinya. Ah, ia jadi ingat dengan sang Ibu yang gemar menanam dan menyiram bunga kesayangannya ini. Tak peduli dengan titik darah akibat duri yang menusuk jari miliknya, sang Ibu hanya sangat menyukai mawar.

Jongin mengetuk pintu asal, pintu rumah telah dikunci sehingga ia tak dapat masuk. Tak lama Baekhyun membuka pintu dengan wajah datarnya, melipat kedua tangan begitu mendapati sang kakak yang mengganggu jam tidurnya.

"Kau memang kakakku, tapi kau tahu kalau aku benci seseorang mengganggu jam tidurku."

Baekhyun menyingkir tanpa kata, mempersilahkan sang kakak masuk ke rumah. Ia menghela napas kasar. Hubungan keduanya tak begitu baik, selalu bertengkar mempertahankan ego masing-masing dan semakin memburuk kala mendengar tentang hak waris setelah beberapa hari lalu seorang pengacara datang. Kali terakhir mereka bertemu adalah dua minggu lalu, tepat saat acara pemakaman dilangsungkan. Jongin yang ada di Busan segera bergegas datang ke rumah membawa serta istrinya yang tengah mengandung lima bulan.

"Sudahlah Baekhyun, lagipula ini masihlah terlalu sore untukmu tidur. Aku hanya ingin kau memikirkan kembali tentang pembagian harta waris."

"Aku tidak punya hak untuk membagikannya. Lagipula itu bukan milikku. Belum."

Jongin menghela napas, "hei? Bukankah kau bisa membaginya ulang? Setidaknya berikan aku 30 persen dari seluruhnya. Kau mendapat 80 persen sedangkan aku hanya 20 persen ditambah rumah ini. Inipun jika kau segera menikah. Namun mengingat sifatmu itu, kau belum punya kekasih kan?"

Nyaris tengah malam dan Jongin kemari untuk harta warisan. Kepala nya kembali pusing. Hal ini menyangkut hubungan keduanya sebagai saudara. Lagipula Baekhyun tak mau tahu, tak begitu ambil pusing dengan warisan dan apapun itu, ia hanya ingin kuliahnya segera berakhir dan ia mendapat gelar sarjana.

"Kau harus menikah untuk mendapat harta warisan tersebut dan hanya kau yang bisa merubah nominalnya Baekhyun," ucap Jongin. Matanya menatap penuh Baekhyun yang kesal padanya, "cepatlah menikah Baekhyun. Apa kau perlu aku mencari seseorang untuk kau nikahi?" tanya jongin seraya meremas tangannya. Ia membutuhkan uang dengan segera.

"Aku tidak punya bayangan untuk menikah hyung. Dan kenapa kau mendesakku? Kita bisa membaginya nanti dan tidak sekarang."

Final.

Baekhyun berdecak kecil, "pulanglah atau kau mau menginap disini terserah. Aku akan tidur."

Baekhyun menaiki tangga menuju lantai dua. Ia sangat kesal dengan sang kakak yang bertindak egois dan mendesaknya untuk segera menikah. Hell no. Baekhyun masih berumur 21 tahun dan ia tak berencana menikah dalam waktu dekat. Sedikit banyak ia penasaran dengan alasan sang kakak yang mendesaknya, bahkan ini baru dua minggu dan Baekhyun masih berduka atas sang Ibu. Jongin memang gila.

Baekhyun mengambil ponsel nya, mengetik beberapa baris kata dan membacanya ulang sebelum benar-benar mengirimnya. Ia menghembuskan napas lega, sedikit cemas dan kembali memikirkan kalimatnya yang mungkin salah.

Fr : Hyeri

Tentu. Ayo makan siang bersama besok. Bagaimana jika di restoran La Vie? Aku punya janji juga besok disana.

Baekhyun segera menyetujui usulan itu. Ia membaringkan tubuhnya diranjang, menatap langit-langit kamarnya kosong. Rasanya sangat sepi. Biasanya sang ibu akan mendatangi kamarnya lalu mengelus pucuk kepalanya hingga ia tertidur atau sekadar mengucapkan selamat tidur. Baekhyun bukan anak manja yang menggantungkan segalanya pada sang ibu. Mengawasinya dari jauh dan menegur ketika Baekhyun terlalu jauh melampaui batas.

Baekhyun hanya sangat menyayangi sang Ibu.


UNTITLE CHAP 2


Pukul 11 siang Baekhyun keluar dari kelasnya. Ia meregangkan tubuhnya yang kesemutan setelah dua jam duduk mendengar ceramah panjang Mr. Nam tentang manajemen konstruksi. Mata kuliah tentang perencanaan bangunan dengan segala perhitungan anggaran biaya juga penjadwalan proyek yang membuatnya pusing.

"Mr. Nam benar-benar banyak bicara hari ini," ucap Xiumin mengeluh. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal mengingat tugas yang diberikan tadi.

Baekhyun mengangguk kecil, "mungkin moodnya sedang bagus." ia kemudian merogoh tasnya, mencari ponselnya yang tertimbun beberapa kertas.

"Aku harus pergi hyung, dan bisakah aku minta tolong hyung? Beritahu jongdae untuk mampir ke rumahku."

Baekhyun segera menjauh begitu xiumin menyetujui permintaannya. Ia akan bertemu dengan Hyeri sesuai janji mereka semalam.

Baekhyun berjalan menuju parkiran, cepat-cepat ia menjalankan civic putihnya menuju restoran yang hanya 10 menit dari kampusnya. Ketika Baekhyun sampai, ia belum mendapati Hyeri untuk itu Baekhyun memilih tempat duduk di pojok restoran dengan pemandangan taman juga jalan raya yang ramai.

Ping.

Dengan sigap membuka lockscreen dan mendapat pesan dari Hyeri jika gadis itu mendadak tidak bisa menemuinya.

"Sialan!" umpat Baekhyun pelan.

Ia menghembuskan napasnya kasar. Sebenarnya tidak ada alasan khusus yang benar-benar penting sehingga mereka bertemu. Baekhyun hanya mengajak Hyeri makan bersama karena telah membantu tugasnya sebelum deadline sebagai wujud terima kasih. Dan jika berhasil ia mungkin akan mulai melakukan pendekatan pada si gadis manis itu. Beruntung jika Hyeri mau menerimanya sebagai kekasih, walau ia tak benar-benar menyukainya.

Sebelum Baekhyun benar-benar melangkah untuk pulang, tangannya telah lebih dulu di tarik mengikuti langkah kaki panjang didepannya.

"Apa yang kau lakukan!" ujar Baekhyun kesal, ia menarik tanganya agar terlepas dari genggaman tangan besar yang mencengkram tangannya erat.

Mendadak kaki panjang didepannya berhenti, dan menatapnya penuh. Wajah itu tampak tak asing bagi Baekhyun dan seketika ingatannya kembali pada beberapa minggu lalu. Seorang lelaki yang mendekatinya dan Baekhyun sedikit lupa namanya, "siapa kau?"

"Kau sudah lupa dengan ku? Aku Chanyeol."

Ah, namanya Chanyeol. Aroma parfumnya kembali membuat Baekhyun kepayang.

"Hei manis, bisakah aku minta tolong padamu?" ucap Chanyeol memohon.

Lelaki itu memasang wajah memelas yang menurut Baekhyun sangat tak cocok. Sangat berbeda dengan Chanyeol yang ia temui di club malam itu, Chanyeol yang begitu memesona dengan aroma yang begitu memabukkan juga mulut manis dengan rayuan ulung. Yang ada didepannya adalah Chanyeol dengan wajah memelas yang dibuat-buat dan ia menyebalkan.

Baekhyun mendengus, "aku tidak dalam situasi untuk menolong orang lain." Ia kemudian melipat kedua tangannya. Menatap sengit pada lelaki yang baru sekali ditemuinya.

"Aku membayarnya. Berapapun."

"Aku juga punya uang asal kau tahu."

"Baiklah, apapun yang kau mau. Aku akan menurutinya, semuanya," ucap Chanyeol menekan kesabarannya. "Apapun."


UNTITLE CHAP 2


"Ya Tuhan."

Pekikan seorang wanita membuat Baekhyun reflek mendongak. Matanya menyipit pada seorang wanita paruh baya yang terlihat awet muda dengan potongan model rambut yang kekinian. Disampingnya seorang lelaki yang mungkin adalah suami si wanita menatap Baekhyun antusias.

"Apa mereka orang tuamu?" bisik Baekhyun seraya tersenyum.

"Begitulah."

Baekhyun membungkuk ketika mereka telah sampai dimeja makan dengan kedua orang tua Chanyeol. Ia hanya perlu naik dua lantai untuk mendapat suasana yang lebih tenang sehingga cocok untuk sebuah pertemuan penting. Chanyeol melepas rangkulannya pada Baekhyun, membiarkan lelaki manis itu menyapa kedua orang tuanya.

"Kau sangat manis, duduklah," ucap Nyonya Park berbinar. Ia mencubit kecil pipi Baekhyun yang tembam. Menyeret Baekhyun untuk duduk disampingnya dan merangkulnya gemas.

"Chanyeol benar-benar pintar memilih calon istri."

"Ya?"

Apa tadi, calon istri? Mungkin Baekhyun salah dengar.

"Tentu, aku sudah punya Baekhyun jadi jangan mendesakku dengan mencari jodoh yang sudah jelas aku punyai."

"Jadi namamu Baekhyun? Mulai sekarang panggil Ibu dan Ayah, kau kekasih Chanyeol yang berarti calon mantu kami."

Elusan disurainya begitu lembut, Baekhyun menatap Chanyeol di sebrang meja. Lelaki itu hanya mengangguk dengan maksud agar Baekhyun menyetujui apapun yang orang tuanya katanya.

"Eh, aku –"

"Maaf, aku datang terlambat."

Suara yang familiar membuat Baekhyun lekas mendongak, matanya membulat terkejut mendapati seseorang yang berdiri disamping mejanya, "Shit!"


Bersambung


Note Chapter 2 :

Aku sedikit melakukan perubahan pada chapter 1, karena ada beberapa yang enggak aku sukai dalam penulisannya tapi intinya sama kok. Selamat membaca dan semoga kamu suka~ silahkan kotak reviewnya ya '-'

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan.

Thank's