UNTITLE
Wiell
Disclaimer :
Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan.
Baekhyun tak menduga jika pertemuannya dengan Chanyeol akan membuat hidupnya jungkir balik. Hal terjadi diluar rencananya dan mengubah perasaannya bagai telapak tangan. Pernikahan dadakan hingga tetek bengek warisan yang memuakkan.
Warning!
Typo bertebaran. BL. Bahasa campuran. OOC.
[CHANBAEK]
.
Baekhyun tersenyum paksa. Melirik tak nyaman pada Hyeri yang menatapnya tajam. Sekarang ia tengah duduk diantara keluarga Park, disamping lelaki yang mengaku bernama Chanyeol.
"Jadi kau teman Hyeri, Baekhyun?"
Baekhyun mengangguk pada Nyonya Park. Fakta yang membuatnya kesal. Ia hanya sangat terkejut sekaligus menyesal mengetahui jika Hyeri adalah adik seorang Chanyeol.
"Berapa usiamu? Kupikir jika kau sekelas Hyeri pasti 21 tahun?"
"Benar, tapi aku akan merayakan ulang tahun ke 22 tahun pada Mei nanti."
"Bagaimana dengan ayah dan ibumu? Mereka pasti sangat hebat, memiliki putra yang sangat manis sepertimu."
Wajahnya berubah kecut dan Chanyeol cukup peka, namun tak berusaha untuk mencegah kalimat lain keluar dari mulut ibunya. Jauh dalam dirinya ia sedikit penasaran pada lelaki manis yang mencuri perhatiannya pada pandang pertama itu,
"Ibuku meninggal beberapa minggu lalu dalam kecelakaan mobil sedangkan ayahku meninggal ketika aku berumur 15 tahun. Kakakku pergi dengan istrinya dan aku tinggal sendiri," jawab Baekhyun, tanpa sadar wajahnya berubah sendu dan usapan Chanyeol di punggungnya sedikit menenangkan, "aku tidak apa-apa. Sudah cukup terbiasa."
"Aku turut berduka Baekhyun. Maaf, kami telah mengingatkanmu pada hal yang membuatmu sedih," ucap Nyonya Park, ia mengigit bibir tak nyaman. Merasa bersalah pada sang calon mantu yang baru ditemuinya. "Dimana rumahmu? Jika kau tak keberatan, tinggallah dengan Chanyeol. Apartemennya cukup luas untuk kalian berdua."
SebelumBaekhyun sempat menjawab Chanyeol telah lebih dulu berbicara, "aku sudah mengajaknya bu, hanya saja ia ingin tinggal dirumahnya."
Dia pintar bicara.
"Ya Tuhan, besok berkemaslah. Aku akan menyuruh seseorang membantumu membawa beberapa barang. Lagipula kalian akan menikah tak usah sungkan Baekhyun."
Kali ini Tuan Park berucap, sedangkan Baekhyun meremat ujung bajunya menahan gemas. Kenapa ia harus ikut dalam sandiwara ini? Tak ingat banyaknya penyesalan yang dilakukannya dalam sehari.
"Aku pikir aku masih –"
"Aku tidak menerima penolakan. Final. Lagipula Chanyeol tinggal sendiri, ia akan sangat senang mendapati kekasihnya menyambut sepulang kerja."
"Tapi ayah, aku pikir ini masih terlalu dini menyuruh Baekhyun untuk tinggal dengan kakak –" ucapan Hyeri terputus, mencembik kesal pada plototan sang Ibu yang menyuruhnya diam. Tak peduli, ia kembali melanjutkan, "dan lagi kenapa kau tidak bilang apapun padaku, Baekhyun?"
Baekhyun gelagapan, ia tak tahu hendak menjawab apa ketika Chanyeol menyela, "hanya ingin memberi sedikit kejutan dan yeah, kami berhasil."
Hyeri mengumpat, memakan steak yang dipesan dengan perasaan dongkol. Baekhyun adalah pacar kakaknya. Sebuah fakta yang tidak pernah terpikir sekecil apapun, lagipula bagaimana mereka saling mengenal masihlah aneh dan setahunya Baekhyun bukan orang yang gampang membuka hatinya.
"Jadi bisakah kalian menceritakan tentang bagaimana bisa kalian menjadi sepasang kekasih."
"Kami sudah berpacaran sejak 5 bulan lalu," jawab Chanyeol santai. Baekhyun mengigit bibirnya, hampir melepas tawanya. Ia berpura-pura mengusap bibirnya, mengangguk menghayati sebuah cerita mengharukan milik Chanyeol.
Kedua orang tua Chanyeol mendengarkan dengan seksama, sesekali menyuapkan potongan daging sedangkan Hyeri, gadis itu berdecak, menatap tak percaya pada pernyataan sang kakak yang sedikit tak masuk akalnya.
"Kami bertemu di sebuah club malam, saat itu Baekhyun tengah patah hati dan ia mabuk karena tidak tega aku membawanya pulang ke apartemen. Dan dari sana aku mengenalnya lalu aku jatuh cinta dan mengajaknya pacaran. Sesimple itu."
Karangan macam apa itu?
Bahkan Baekhyun yakin jika ia bisa membuat sebuah karya yang lebih baik dari itu. Sedikit banyak ia sangat menyesal, membohongi mereka yang sangat baik kepada Baekhyun, memperlakukannya seolah ia adalah anaknya. Ia tak siap ketika nantinya mereka akan menyatakan kebenaran, pasti sangat mengecewakan.
"Kalau begitu nikahi Baekhyun secepatnya," ayah Chanyeol menatap Baekhyun, seolah meminta persetujuan pada sang empu,
"Aku rasa tidak dalam waktu dekat," ucap Baekhyun, menyelipkan senyum palsu yang manis.
"Sayang sekali, padahal kami sangat menginginkan seorang cucu."
Baekhyun masih terlalu muda untuk seorang anak, ia bahkan tak sabar ketika mendengar keponakannya, Yeo Reum menangis, menutup telinganya kesal saat bocah 3 tahun itu meronta dan merengek tentang permintaan sebuah mainan.
"Ya, kami belum merencanakannya. Mungkin setelah Baekhyun lulus nanti. Dan Hyeri, panggil dia kakak, walaupun kalian berada di kelas yang sama, tapi dia akan menjadi iparmu."
Hyeri mencibir walaupun ia tetap mengangguk paham.
UNTITLE CHAP 3
Pagi itu Baekhyun bersantai, menghabiskan hari liburnya dengan menonton televisi yang menayangkan serial kartun makhluk berbentuk sponge yang tinggal dalam lautan. Ditemani dengan sebotol cola yang baru diambilnya dari kulkas juga setoples cookis coklat kesukaannya. Hari sabtunya sangat menyenangkan.
"Jadi kemana saja kau kemarin?"
Jongdae melompat, menarik toples cookis yang tersisa setengah kepangkuannya, turut menyaksikan serial sponge di layar besar rumah Baekhyun.
"Gagal. Dan sesuatu yang lebih buruk malah menghampiriku. Mungkin ini karma."
"Kenapa?"
"Hyeri adalah adik dari Park Chanyeol."
"Uh!? Bukankah dia seorang pengusaha. Ia cukup sukses diusianya yang terbilang muda. Jadi intinya?"
"Chanyeol adalah kekasihku," jawab Baekhyun tak yakin. Mungkin naik menjadi calon suami? Pura-pura.
"What the fu*k."
Umpatan jongdae menggema di rumah Baekhyun yang besar, Baekhyun bahkan mengusap telinganya yang berdenging karena umpatan si kerempeng itu. Semalam bahkan Baekhyun tidak dapat berpikir jernih. Ia telah gila menyetujui ajakan Chanyeol dengan kalimat 'apapun' dari bibirnya.
"Bagaimana bisa, lalu bagaimana dengan Hyeri?"
Baekhyun mengendikkan bahunya, "mungkin menyerah mungkin tidak. Entahlah aku tak tahu."
"Ini sedikit mengejutkan," gumam jongdae. Baekhyun sendiri bahkan tak paham.
Ketukan pintu brutal, membuat keduanya menoleh bersamaan. Baekhyun melangkah malas, membuka pintu pada tamu yang membuatnya jengkel, ia bersiap mengumpat ketika mendapati seseorang disana, "Chanyeol, apa yang kau lakukan disini?"
UNTITLE CHAP 3
Chanyeol melirik seseorang disampingnya, bibirnya membentuk segaris lurus yang menandakan jika sang pemilik tengah kesal. Saat ini mereka berada dijalan, menuju apartemen milik Chanyeol yang 30 menit dari rumah Baekhyun.
"Aku tidak bercanda ketika mengatakannya kemarin. Apapun."
Itu adalah kalimat pertama yang keluar setelah 20 menit dalam keheningan. Sedang Baekhyun nampak tak tertarik, ia bahkan tak mengalihkan pandangan dari luar jendela.
"Bisakah kita membatalkannya?" ucap Baekhyun, ia menatap Chanyeol yang menyetir.
"Kenapa?"
"Aku ... sepertinya kurang sehat saat menyetujui ajakanmu."
Chanyeol menghela napas, memelankan laju mobilnya ketika nampak gedung apartemen miliknya. Melewati lorong gelap menuju basment untuk memarkirkan kendaraanya.
"Tidak."
Lelaki jangkung itu melepas sabuk pengamannya, menatap penuh pada Baekhyun yang tidak juga berajak keluar, sibuk berkirim pesan entah pada siapa. Tiba-tiba atensinya beralih pada bibir merah yang mengkilat.
"Ingat sesuatu?" tanya Chanyeol tak jelas, ia tak benar-benar menginginkannya.
"Aku tidak meninggalkan apapun."
"Kau berhutang satu janji padaku," Chanyeol mendekat hingga Baekhyun mengangkat wajahnya dari ponsel, "dan aku akan mengambilnya sekarang."
Chanyeol menarik tengkuk Baekhyun mendekat, memiringkan kepalanya sedikit hingga bibir penuhnya menempel pada milik Baekhyun yang terasa manis dan lembut. Bibirnya kembali mengecup lembut, kecupan kecil beberapa kali sebelum melumatnya atas bawah bergantian, membelai bibir tipis Baekhyun dengan lidah panas miliknya.
Chanyeol rasa ia kecanduan dengan bibir pink milik Baekhyun.
Bersambung –
Note Chapter 3:
Bagaimana? apakah ini cukup mengecewakan? aku tahu kalau cerita ini pasaran dan udah ketebak bagaimana endingnya nanti hanya saja mohon apresiasinya untuk kalian yang meluangkan waktu membaca sampai sini. aku masih dalam proses belajar dan enggak mungkin langsung jreengg jadi karya yang bagus, setidaknya apresiasi kalian dapat menambah semangat juga sebagai koreksi jika terdapat banyak kesalahan yang bisa membantuku memperbaikinya. mohon maaf jika menyinggung,
Thank's
