CIGARETTE AND LIQOUR

SASUKE X HINATA FANFICTION

PRESENTED BY

H E X E

SMOKE II

Malam yang semakin larut diselimuti dengan kesunyian. Suara denting jarum jam terdengar jelas bersahutan dengan suara dengkuran halus khas seekor anjing. Hinata mengerjapkan kelopak matanya dengan perlahana; berusaha menyesuaikan penglihatannya di ruangan yang cukup gelap. Locco terlihat bergelung nyaman dengan kepalanya yang menyentuh perut Hinata yang tertutup dengan jubah sutera halus berwarna putih tulang. Satu lengan kekar milik Jack melingkar erat di pinggangnya.

Hinata menarik napas dalam kemudian mengeluarkannya dengan pelan. Dengan perlahan, Hinata melepaskan rangkulan tangan Jack, pria itu bergumam tidak jelas kemudian berbalik memunggungi Hinata dan kembali tidur. Hinata beranjak dari ranjang, berjalan menghampiri meja rias yang berada di sebelah kanan tempat tidur kemudian mengambil ikat rambut dari laci. Hinata menyalakan lampu meja riasnya, mengikat rambut panjangnya dengan asal kemudian memandang pantulan wajahnya dalam cermin.

Kedua maniknya yang berwarna putih keunguan terlihat begitu kontras dengan ruangan kamarnya yang lumayan gelap. Sepertinya Jack sudah melepaskan lensa hitam yang sering ia gunakan jika bepergian. Tubuhnya juga tidak terasa lengket atau lembap setelah apa yang sudah mereka lakukan beberapa jam yang lalu.

Jack memang cekatan.

Pria yang ia temui tiga belas tahun yang lalu itu memang selalu mengurusi dirinya. Baik itu dari makanan, pakaian, ataupun hal yang lainnya.

Tiga belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tiga belas tahun adalah waktu yang ia habiskan bersama Jack. Hidup satu atap, terkadang satu ranjang. Hinata memutuskan untuk membawa Jack dan menjadikan pria itu sebagai pelayannya.

Tidak.

Hinata membawa Jack dari pelelangan manusia tiga belas tahun lalu di Rusia. Jack adalah budaknya. Jack adalah peliharaannya. Jack adalah pelindung sekaligus perwatnya. Hinata memutuskan untuk menggantikan pengawal sekaligus pelayannya tepat setelah dirinya membeli Jack dari tempat pelelangan. Meski sampai sekarang, Kou; mantan pengawalnya sejak kecil masih terus mengawasi dirinya dari jauh.

Kou adalah pelayan yang ditugaskan oleh ayah Hinata secara khusus. Mengingat masa kecil dirinya yang ia habiskan dengan menjadi penyendiri.

Suara getaran ponsel yang terletak di atas meja terdengar, Hinata mengalihkan pandangannya ke arah ponsel itu berada. Hinata menyalakan ponsel kemudian membuka pesan yang baru saja ia terima.

Ah, sudah waktunya?

Hinata menutup pesan itu kemudian mengecek tanggal dalam ponselnya. Benar saja, acara temu keluarga akan dilaksanakan satu minggu dari sekarang. Hinata rasa baru kemarin ia menghadiri acara itu dan sekarang waktu berjalan terasa sangat cepat baginya.

Jika bukan karena sang ayah, Hinata sangat enggan untuk mampir ke kediaman utama keluarganya. Bertemu dengan kedua kakaknya bukanlah hal yang menyenangkan bagi Hiinata. Apalagi bertemu dengan kakak perempuannya, Hanabi.

Mau tidak mau, suka tidak suka, Hinata harus datang dan menghadiri acara rutin yang sudah diadakan selama sepuluh tahun terakhir oleh ayahnya.

Hinata kembali membuka pesan yang sudah masuk beberapa jam yang lalu.

'I am sorry dear, lets talk tommorrow'

Nama Kiba tertera dengan jelas dipojok kiri atas layar ponselnya. Hinata langsung mematikan ponsel kemudian berjalan keluar dari kamar. Kedua kaki telanjangnya melangkah dengan perlahan, menuruni tangga melingkar kemudian tiba di meja konter tempat biasa untuk makan dan minum.

Hinata membawa satu botol liquor jenis vodka, Russo Baltique Vodka dari lemari kayu khusus penyimpanan minuman. Vodka mewah yang baru saja ia beli dua minggu lalu saat berkunjung ke Rusia. Tidak mudah untuk mendapatkan satu botol liquor ini; hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membeli dan memilikinya.

Warna emas yang berasal dari botol vodka itu berkilau di tengah remangnya pencahayaan. Hinata tidak tahu pasti berapa karat emas yang terkandung dalam tutup botolnya. Hinata mengambil gelas kemudian berjalan ke arah lematri pendingin untuk mengambil beberapa batu es.

Waktu menunjukkan pukul 04.00 dini hari, dan Hinata sering menikmati minumannya di pagi buta seperti ini.

Setidaknya, Hinata sering menghabiskan dua atau tiga botol liquor saat sendiri. Entah itu jenis apa saja, Hinata pasti meminumnya.

Cairan yang keluar dari dalam botol mewah itu perlahan turun di atas batu es yang sudah ada dalam gelas. Suara khas yang dihasilkan terdengar jelas dalam keheningan. Hinata meminum vodka itu dalam satu tenggak, cairan beralkohol itu melewati tenggorokannya dengan meninggalkan jejak seperti terbakar.

Tidak buruk untuk harga mahal yang ia keluarkan demi memboyong vodka itu dari Rusia. Hinata menyukainya.

Waktu berjalan, tidak terasa dua botol liquor sudah kosong melompong.

Hinata berjalan ke arah sofa dan membaringkan tubuhnya secara telentang.

'kau tidak apa, nona?'

Kedua kelopak mata Hinata kembali terbuka saat kilasan itu melintas dalam pikirannya.

Benar. Tadi malam ia bertemu dengan pria tidak dikenal yang mengaku sebagai tetangganya. Hinata kembali mengingat apa yang terjadi sebelum Jack dan juga Sakura datang ke apartemen.

Wajah pria itu kini terlihat jelas dalam bayangannya. Dua iris sehitam jelaga, rambutnya yang jabrik dan sedikit acak-acakan, juga struktur wajahnya yang terlihat kaku di beberapa bagian. Pria itu memiliki bibir yang tipis, berbeda dengan Jack. Pria itu condong terlihat menawan dibanding manly dan tampan.

Manly dan ketampanan tentu saja milik Jack.

Hinata belum pernah melihat dua kombinasi itu pada pria laing yang pernah ia temui saat ini.

Namun visual pria itu seolah terlihat jauh menarik daripada ketampanan yang dimiliki oleh paras Jack.

Benarkah pria itu tetangganya?

Jika iya, Hinata harus datang dan berterima kasih karena telah membantunya semalam.

Meski mungkin Sakura sudah menyampaikan ucapan terima kasih, setidaknya Hinata harus menyampaikannya secara langsung. Hinata peranasaran dengan sosok pria itu.

Mengapa mereka baru bertemu meski tinggal di gedung yang sama dan bersebrangan pula?

Sepertinya pria itu pria yang sibuk, sama seperti dirinya yang jarang menghabiskan waktu di apartemen.

"Bagaimana kondisimu?"

Suara Jack yang tiba-tiba menggema membuyarkan pikiran Hinata. Pria itu terlihat berdiri menjulang di anak tangga kedua dengan kedua lengannya terlipat di dadanya yang telanjang. Kedua kaki panjangnya melangkah dan menghampiri Hinata yang masih telentang di atas sofa.

"Minum di pagi buta, huh? Sepertinya kondisimu baik-baik saja."

"Diamlah." Hinata memiringkan tubuhnya; memunggungi Jack yang kini berlutut di atas karpet.

Jack mencebik lalu menempatkan tubuh besarnya dibelakang tubuh Hinata; memaksa agar wanita itu merapatkan diri pada sandaran sofa.

"Menyingkirlah."

Sikutan yang hendak diberikan oleh Hinata langsung ditahan Jack dengan satu telapak tangannya.

"tch! Anjingku sering membantah akhir-akhir ini." Hinata berdecak pelan.

Tidak ada respon apapun dari Jack. Pria itu hanya berbaring dan memeluk Hinata dari belakang dengan menempelkan dagunya di atas kepala Hinata.

"Bagaimana kabar Gaara?"

Kelopak mata Jack yang semulanya tertutup kini kembali menampilkan safir birunya. "Dia baik-baik saja."

"Kau harus menemuinya lagi."

Jack mengeryitkan kedua alisnya, "Kenapa?"

"Karena kalian adalah sepasang kekasih."

Jack tersenyum tipis, "Kau mengijinkanku keluar lagi?"

"Mmm... bersenang-senanglah Naruto."

Hanya ada gumaman pelan. Hinata memejamkan kedua matanya, sepertinya tidur selama beberapa jam ke depan bukan ide yang buruk.

Jack yang sedikit terkejut kembali mengulas senyum tipis. Pria itu mengeratkan pelukannya dan mencoba untuk tidur kembali.

Sepertinya, mood Hinata sedang bagus.

.

.

.

Sasuke menghela napas panjang. Buku-buku tebal yang ia gunakan sebagai referensi karya tulis terbarunya berserakan hampir memenuhi ruang tamu. Bungkus rokok dengan merek Mild Seven ikut berserakan dan tidak kalah banyak dengan buku-buku. Ashtray air purifier yang terpasang di salah satu sisi tembok membantu mengurangi asap yang dihasilkan dari puluhan batang rokok yang sudah terbakar.

"Bagaimana? Apa kau butuh refensi yang lain lagi? Kalau iya aku akan segera mencarikannya untukmu –oh Tuhan, berhentilah merokok Sasuke!"

Karin, wanita yang bertugas sebagai editor Sasuke mengibaskan tangannya untuk menjauhkan asap rokok yang baru saja Sasuke keluarkan dari mulutnya.

"Sepertinya kau sangat teliti dalam menulis karya ini." Karin mengambil satu buku dan membuka halamannya secara acak.

Sasuke mematikan rokok yang sudah habis, "bahkan seorang jenius pun perlu membaca."

Karin mencebik, "ya ya, sensei. Oh, minggu depan akan diadakan acara di kantor penerbitan dan kau harus hadir karena acara itu diselenggarakan untuk merayakan penjualan bukumu yang laris dipasaran sekaligus merayakan atas terpilihnya karyamu di Hugo Award. Karya fiksi yang terakhir itu sangat menakjubkan."

Senyuman lebar dari Karin merekah seperti bunga di musim semi.

"Kau saja-"

"Kau harus pergi. Itu pekerjaanmu."

Sasuke menutup buku yang sedang ia baca, memangdang sebal ke arah wanita yang sudah ia kenal sejak bangku kuliah. Karin hanya menjulurkan lidah kemudian kembali mengambil buku yang lain.

Keduanya kembali larut pada kegiatan masing-masing. Membuka buku, membacanya, dan menandai halaman yang akan digunakan untuk referensi. Hingga beberapa menit kemudian, perhatian keduanya teralihkan saat suara bel pintu apartemen Sasuke berbunyi.

"Biar aku saja."

Karin meletakkan buku di atas meja kemudian beranjak dari sofa sambil memperbaiki letak kaca matanya yang sedikit bergeser. Karin langsung membukakan pintu tanpa melihat siapa yang ada di luar.

"Ada yang bisa saya ban .. tu?"

Kedua alis Karin mengeryit saat melihat sosok perempuan dengan kaca mata hitam berlabel Gucci yang kini berdiri di hadapannya. Wanita itu terlihat wah dengan penampilannya. Pakaian yang mengingatkan dirinya dengan film-film China terpasang dengan pas di tubuh si wanita.

Wanita itu melepaskan kaca matanya, "Apa pria yang menghuni tempat ini ada?"

Untuk sejenak Karin merasa takjub dengan kedua iris wanita itu yang terlihat unik; putih keunguan yang sangat cocok dan kontras dengan dressnya yang berwarna hitam.

"ah,,, pria? Maksud anda Sasuke? Uchiha Sasuke?"

Wanita itu terlihat bingung,

"ya, Sasuke. Bisa saya menemuinya?"

Karin mengangguk kemudian mempersilahkan wanita itu untuk masuk. Dilihat dari sudut manapun, wanita yang kini tengah membuka stiletto berwarna hitamnya itu bukanlah wanita biasa.

Siapa wanita itu? mengapa ia mencari Sasuke?

Karin berjalan di depan, membawa si wanita ke ruang tamu tempat Sasuke berada. Kedua wanita itu berhenti dan berdiri tidak jauh dari tempat Sasuke yang kini tengah fokus dengan bukunya.

"Ada tamu untukmu, Sasuke."

"Temui aku nanti. Bukankah kau yang membuatkan jadwal temu? Mengapa sekarang ada tamu dadakan?"

Sasuke masih fokus dengan bacaannya, tidak memperdulikan Karin yang kini melongo melihat tingkah tidak sopan Sasuke di depan wanita itu.

Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh Sasuke memang benar. Selama ini Karin selalu mengatur jadwal temu untuk tamu-tamu yang ingin bertemu dengan Sasuke diluar teman dan kerabat dekat atau keluarga. Karin juga merasa heran mengapa ia mempersilahkan wanita itu begitu saja untuk masuk dan menemui Sasuke sekarang. Karin yang tidak tahu harus apa dan sudah merasa malu atas reaksi Sasuke hanya tersenyum kaku pada wanita itu.

"Sasuke, aku sudah-

"Tidak apa nona, saya akan kembali lagi dan mengatur jadwal temu dengan anda."

Tubuh Sasuke menegang saat suara halus itu terdengar. Kedua alisnya mengeryit saat melihat sosok wanita yang kini berdiri tepat di samping Karin.

"Kau ..." Sasuke beranjak dari sofa, menutup buku kemudian melepas kaca mata bacanya, "Hinata?"

Hinata tersenyum tipis saat pria yang kini ia tahu sebagai Sasuke bisa mengenalinya.

"Ya, saya Hinata."

Sasuke mengerjap saat menyadari betapa kacaunya keadaan di sekitar mereka. Sudah berapa hari semenjak kejadian malam itu? enam hari? Tidak, mungkin ini sudah tepat satu minggu setelah dirinya menolong Hinata kala itu.

"mm,, silahkan duduk. Ah –maaf karena tempat ini sangat kacau."

Sasuke tampak gugup; pria itu salah tingkah saat Hinata yang secara mengejutkan datang dang berkunjung ke kediamannya. Karin yang melihat gerak-gerik aneh dari Sasuke hanya terheran-heran.

"Karin siapkan minuman untuk-

"Tidak, terima kasih. Saya hanya mampir sebentar untuk berterima kasih dan meminta maaf atas kejadian waktu itu."

Sasuke terdiam masih dengan kedua matanya yang tidak beranjak dari sosok Hinata.

Hinata menyodorkan kantung kertas pada Sasuke, "Ini ada sesuatu untuk anda, anggap saja sebagai tanda terima kasih."

Sasuke menerima kantung itu, "liquour?"

"Ya. Itu adalah vodka dengan kualitas tinggi. Saya harap anda menyukainya." Senyum itu kembali terulas.

"Maaf nona, tapi Sasuke tidak-"

"Terima kasih. Saya tidak sabar untuk mencicipinya." Sasuke membalas senyuman Hinata dengan senyum menawan andalannya.

Karin yang menyaksikan adegan itu hanya terdiam.

"Kalau begitu saya pamit. Maaf sudah mengganggu waktunya tuan-

"Sasuke. Panggil saja hanya dengan itu. Mari saya antar."

Hinata kembali tersenyum, "baiklah, Sasuke."

Karin yang masih terpaku dengan apa yang terjadi terus mengikuti kepergian mereka sampai depan pintu dengan kedua matanya.

Demi dewa matahari yang menyinari bumi, siapa wanita cantik dan seksi itu? mengapa dia bisa mengenal Sasuke? Kapan mereka bertemu? Bagaimana mereka bertemu?

Sampai saat ini, Karin mengetahui orang-orang yang juga Sasuke kenal. Namun tidak dengan wanita yang satu ini, bahkan dirinya tahu daftar wanita yang pernah kencan dengan Sasuke semenjak bangku kuliah

"Menyingkirlah, kau menghalangi jalan."

Karin mengerjap saat Sasuke menyenggol bahunya, kedua maniknya masih mengawasi pergerakan Sasuke yang kini berjalan ke arah dapur dan meletakkan bingkisan yang berisikan minuman keras itu di atas meja konter.

"Sejak kapan kau minum vodka, Sasuke?" Karin berjalan membuntuti Sasuke.

Sasuke hanya terdiam sejenak kemudian mengangkat kedua bahunya. "Sekarang?"

Karin memijit pelipisnya dengan gemas.

"Kau menyembunyikan sesuatu kan? Siapa wanita itu?"

"Hinata." Sasuke menjawabnya dengan enteng.

Karin melipat kedua lengannya di dada, memasang gestur seolah-olah dirinya sedang menginterogasi anaknya, "Hinata? Dan siapa itu Hinata."

"Tetanggaku. Terkejut bukan? Aku baru bertemu dengannya seminggu yang lalu; tanpa sengaja. Dan kau tahu apa yang lebih menarik? Dia sudah menghuni gedung ini selama dua belas tahun, dan aku baru bertemu dengannya seminggu yang lalu setelah menghuni gedung ini selama sepuluh tahun."

"Dua belas tahun? bagaimana kau-"

"Aku menanyakannya pada manager gedung ini dua hari yang lalu. Dan kau tahu apa yang lebih gila? Dia yang memiliki gedung ini."

Mulut Karin terbuka saat mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Sasuke.

.

.

.

to be continued.