CIGARETTE AND LIQUOR
SASUKE X HINATA FANFICTION
PRESENTED BY
H E X E
SMOKE III
Jack kembali melihat tampilannya di cermin. Sepertinya pakaian yang ia pakai hari ini sangat pas dan trendi, cocok untuk menggambarkan kepribadiannya.
Hoodie berwarna hitam polos dipadu padan dengan jaket jeans over size, low rise jeans menggantung idah di pinggangnya; membungkus kedua kaki panjangnya yang tampak kuat.
Jack menyisir rambut cepak pendeknya menggunakan jari-jarinya yang panjang; sekadar untuk merapihkan meski sebenarnya tidak ada pengaruh sama sekali.
Hinata sudah memberinya izin untuk kembali bertemu dengan Gaara. Mengingat pertemuannya kemarin dengan pria yang sudah ia kenal sejak dua belas tahun lalu itu sedikit terganggu karena insiden yang menimpa Hinata. Jack harus bergegas kembali menemui majikannya saat Sakura menelpon dirinya dan memaki-maki dirinya karena tidak menemani Hinata saat berkunjung ke Heaven.
Sakura yang memang sejak pagi kemarin melakukan operasi bedah di rumah sakit tempat wanita itu bekerja tidak bisa menemani Hnata karena proses pembedahan yang berlangsung selama 18 jam. Wanita dengan surai pendek itu langsung bergegas saat mengetahui kondisi Hinata.
Sepertinya Hinata akan bertemu dengan Kiba hari ini. Jack tidak tahu apa yang akan Hinata lakukan pada pria yang sudah berani mencampurkan bubuk perangsang pada minumannya kemarin. Membayangkannya saja sudah membuat Jack antusias; Hinata pasti akan melakukan sesuatu yang sangat menarik.
Haruskah ia membatalkan acaranya hari ini?
Haruskah ia ikut saja dengan Hinata dan Sakura?
Mungkin dirinya bisa menyuusul saat malam tiba. Jack akan menemui Gaara di kantor pria itu bekerja. Sepertinya menghabiskan waktu sampai sore hari tidak akan membuat Gaara puas dan senang. Namun dirinya ingin pergi dan bergabung bersama Hinata dan Sakura di Heaven.
Jack berbalik kemudian berjalan keluar dari kamar Hinata.
"Sampaikan salamku pada Gaara."
Jack yang sudah sampai ujung tangga berhenti saat Hinata berdiri di depannya masih dengan jubah sutera yang membungkus tubuhnya.
"Tidakkah kau ingin menemuinya?"
Jack mengekori Hinata yang berjalan menuju meja konter. Pria tinggi besar itu membuntuti Hinata seperti anak bebek yang sedang berjalan mencari makan. Hinata duduk setelah mengambil satu botol brendy dari rak kayu, "aku tidak ingin melihat wajah cantiknya. wajah itu selalu berkata 'berikan Jack padaku. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan.'
Bibir Jack berkedut karena berusaha menahan seringaian yang akan muncul, "benarkah?"
Hinata menenggak satu gelas, "aku lebih memilih membunuhmu daripada harus memberikanmu pada Gaara. Meski dia adalah sahabatku sendiri. Jadilah anjing yang baik, Naruto. Aku tidak suka mengulangi perkataanku dua kali."
Hinata meninggalkan Jack yang kini terdiam membisu. Baru kali ini Hinata berbicara seperti itu padanya.
Jack mencintai Gaara, namun pria itu juga menyayangi dan menghormati Hinata selaku pemilik dan majikannya; sama halnya seperti Sakura. Namun wanita sinis itu hanya mencintai majikannya. Sakura mencintai Hinata dalam artian yang berbeda; wanita itu mencintai Hinata seperti dirinya yang mencintai Gaara. Jack sadar jika suatu hari hubungannya dengan Gaara pasti akan berakhir. Entah itu karena Hinata atau karena Gaara yang memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita demi meneruskan bisnis keluarganya.
Kalimat yang keluar dari mulut Hinata memang membuat Jack termenung.
Tidakkah majikannya itu mempercayai dirinya?
Tidakkah Hinata percaya jika dirinya tidak akan pernah meninggalkan kaki Hinata?
Jack sudah mendedikasikan sisa hidupnya hanya untuk Hinata. Jack sudah membuang sisi egois yang selama ini sempat menguasai dirinya karena sosok Gaara. Jack sudah memberikan dirinya saat Hinata datang dan membelinya dengan harga fantastis.
Wanita itu adalah dewi penyelamat baginya.
Mana mungkin Jack menggigit tuannya yang telah menyelamatkannya dari kejinya dunia?
Jack merasa senang namun sesak, dan kalimat itu mengurungkan niatnya untuk menemui Gaara.
.
.
.
"Sepertinya kau punya banyak waktu, anjing bodoh."
Sakura memicingkan mata saat mendapati sosok Jack kini tengah duduk di ruang kerjanya. Jack tidak menggubris sapaan sinis dari Sakura, pria itu hanya diam kemudian berbaring di atas sofa empuk sambil memegang colar yang terpasang di lehernya.
"Kau tahu? Luna menyelematkanku tiga belas tahun lalu dari para pria tua bangka kaya raya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun dan aku tertangkap oleh pemburu anak dan remaja untuk di lelang di acara khusus waktu itu."
Sakura menghentikan kegiatannya saat hendak menuliskan sesuatu dalam dokumen, "jika kau kesini hanya untuk mendongeng kisah menyedihkanmu di masa lalu, lebih baik kau temui kekasihmu saja."
Jack mendecakan lidah, "kau memang menyebalkan."
Sakura terdiam sejenak. Kedua tatapan mereka saling bertemu, seolah saling memahami satu sama lain. Sakura beranjak dari kursinya kemudian ikut duduk di sofa, "lanjutkan."
Jack bangkit kemudian duduk dan menyandarkan punggung, "sepertinya Luna tidak memberitahumu, sudah kuduga. Dia juga tidak memberitahukan masa lalumu padaku, meski aku sudah merengek seperti anjing kelaparan."
Sakura tersenyum simpul, "Itulah mengapa aku mencintainya."
"Ibuku adalah seorang pelacur di salah satu distrik kumuh di kota Rusia. Dia meninggal karena dibunuh oleh salah satu pelanggannya yang sedang mabuk. Aku yang waktu itu menyaksikan kejadiannya hanya terdiam kemudian tanpa sadar sudah menghajar pria itu sampai mati. Tanpa pikir panjang, aku kabur dan berjalan tanpa arah dan tujuan. Saat itu yang ada dipikiranku hanya lari dan menghindari kejaran polisi. Hingga suatu waktu, aku dihajar oleh segerombolan orang dan tiba-tiba aku berada di tempat pelelangan manusia."
Jack tersenyum miris saat mengingat momen itu, "saat itu banyak sekali anak-anak di bawah umur dan remaja yang seusia denganku. Mereka dijual seperti barang, para peserta yang hadir berteriak kegirangan saat mereka mendapat apa yang mereka inginkan. Aku tidak bisa melihat wajah para bajingan itu dengan jelas, mereka menutupi wajah menjijikannya dengan topeng setengah wajah. Hingga pada saat giliranku tiba, pria yang membawakan acara lelang itu menjelaskan hal yang menjijikan, membuat para pria tua bangka bersorak sorai dan mulai menawarkan harga. Aku yang memiliki darah Asia yang diwariskan ibuku menjadi hal unik saat itu. Tawaran tertinggi saat itu diberikan oleh pria buncit yang menawarku seharga dua juta dolar, hingga pada saat-saat terakhir; aku mendengar suara melengking khas seorang remaja perempuan yang meneriakan nominal fantastis. Remaja itu adalah Luna, dia memasang harga lima juta dolar yang membuat semua orang dalam ruangan itu terdiam." Jack terkekeh sejanak, "Luna menyelematkanku dari neraka. Saat itu tidak ada lagi yang menaikan harga tawaran, hingga pada akhirnya aku jatuh dan resmi terjual."
"Jika saat itu kau berusia enam belas tahun, berapa usia Hinata?" Sakura menyela.
"Saat itu Luna berusia tiga belas tahun. Dia bersama Kiba dan Shino, juga bersama kedua ayah mereka. Kau tahu latar belakang Luna bukan? Semenjak usianya sepuluh tahun, Luna di asuh oleh keluarga Inuzuka dan Aburame; di bawah asuhan Yakuza yang paling berkuasa di Jepang."
Sakura mengangguk pelan. Memang benar, Luna dibesarkan di bawah dua klan yakuza. Sakura juga sudah mengetahui seluk beluk kehidupan Hinata dengan keluarganya.
"Mengapa kau menceritakan hal ini padaku?"
Jack terdiam sejenak, "Aku rasa Luna meragukan kesetiaanku."
Sakura menaikkan satu alisnya, "kau berulah lagi?"
"Tidak. Hanya saja dia berkata dia lebih baik membunuhku daripada harus memberikanku pada Gaara."
Sakura mendengus kemudian memukul kepala Jack, "kau memang anjing bodoh.", Jack meringis sambil mengusap kepalanya.
"Kau tahu? Hinata menganggap kita hanya sebatas anjing peliharaan, mainan hidup, dan juga pesuruh. Sejak aku bertemu dan mengenal Hinata, aku tahu jika dia tidak ingin kehilangan apa yang sudah ia miliki. Hinata hanya seorang anak perempuan yang kesepian. Anak perempuan yang terlihat merengek dan haus akan perhatian. Itulah sebabnya aku semakin ingin berada di sampingnya, melindungi, menemani, dan merwatnya selama sisa hidupku. Aku juga memiliki pemikiran yang sama, jika aku dihadapkan dengan situasi yang mengharuskanku untuk meninggalkan Hinata –aku akan memilih untuk mati saja."
Jack kembali menyentuh bandul colarnya, "kau benar."
"Seharusnya kau bersyukur, Hinata sudah membelimu saat itu."
Kalimat itu menusuk dengan tepat di dada. Tidak seharusnya Jack merasa gundah seperti ini. Hinata menyayanginya, Hinata menyayangi dirinya dan Sakura. Hinata mempercayai kesetiaan yang diberikan Jack padanya.
"Kau tidak pergi menemui Gaara?"
Sakura mengalihkan topik pembicaraan karena dirinya merasa sudah cukup dengan pembicaraan sentimental yang baru saja terjadi. Jack kembali berbaring, "tidak. Aku akan pulang dan ikut kalian ke Heaven."
Sakura beranjak dari sofa, mengambil gelas kemudian menuangkan air putih untuk ia minum, "kau yakin? Bukankah Hinata sudah memberimu izin?"
"Aku ingin melihat wajah bajingan yang telah mencampuri minuman Luna." Jack menyeringai dengan lebar.
Sakura yang melihat seringaian itu hanya menghela napas. Sepertinya Jack sudah kembali dan suasana hati pria itu sudah seperti sedia kala.
.
.
.
Hinata sudah menghubungi Sakura jika dirinya akan pergi terlebih dahulu; sehingga wanita itu tidak perlu datang untuk menjemputnya. Hinata sudah meninggalkan apartemen satu jam setelah Jack pergi untuk menemui Gaara. Namun siapa yang sangka, pria bersurai merah agak gelap itu kini tengah berdiri di sebrang jalan tempat butik Yamanaka berada. Tubuh jangkungnya yang tampak proporsional bersandar pada mobil hitam yang terparkir dan terlihat mencolok. Setelan suitnya yang berwarna hitam melekat dengan indah di tubuhnya. Hinata menghela napas di depan pintu kaca butik; enggan untuk keluar dan menemui sahabatnya.
Apa Jack tidak datang untuk menemui Gaara?
Hinata bahkan bisa mendengar dengan jelas saat pria itu berpamitan pada Locco karena ingin bertemu dengan Gaara.
'Stupid dog'
Hinata sudah tidak bisa menghindar. Selama dua tahun ini ia selalu menghindar dan tidak ingin bertemu dengan Gaara semenjak pria itu mengoceh tentang keinginannya untuk memiliki salah satu anjingnya. Dengan terpaksa, Hinata melangkah keluar dari butik dan berjalan menyebrangi jalan agar sampai tepat di depan Gaara.
"It's been two years. How you have been, Hinata Hyuuga?"
Hinata tidak bergeming, kedua manik mereka saling bertatapan. Hinata menyodorkan kemudian menekankan paper bag yang ia bawa ke dada Gaara, tidak ada satu patah kata yang terucap. Hinata berjalan menuju kursi penumpang dan memasuki mobil Gaara dalam diam. Gaara menerima paper bag itu kemudian menuyul Hinata untuk masuk dan duduk di kursi kemudi.
Manik jade miliknya kini memperhatikan Hinata yang sedang sibuk dengan ketikan di ponselnya. Gaara menyimpan paper bag di kursi belakang, memasang sabuk pengaman kemudian kembali melirikan matanya ke arah Hinata.
"Sebentar lagi jam makan malam. Kau ingin makan apa?"
Hinata melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya; waktu menujukkan pukul setengah delapan malam. Hinata masih terdiam, tampak berpikir untuk menerima ajakan makan malam Gaara atau menolaknya dan langsung pergi ke Heaven bersama.
"Jjampong." Hinata memasang sabuk pengaman setelah mengeluarkan satu kata.
Gaara tersenyum tipis, "my treat.". Hinata berdecak pelan, "just drive this fucking car."
Gaara tertawa dengan lumayan keras, menggelengkan kepala kemudian menghidupkan mobil dan meninggalkan area butik; menuju ke salah satu restoran chinesse langganan mereka berdua.
Acara makan malam dadakan mereka sudah selesai. Kini mobil berwarna hitam yang dikendarai oleh Gaara melaju menuju Heaven. Sudah cukup lama Gaara tidak berkunjung ke tempat itu. Jujur saja, sejak perdebatannya dengan Hinata dua tahun lalu; dirinya enggan untuk sekedar mampir. Biasanya Gaara mengunjungi tempat itu untuk bertemu dengan Jack, kekasihnya. Jack yang pada kenyataannya adalah budak Hinata, mengharuskan pria itu untuk bekerja juga di bawah perintah Hinata.
Gelap malam semakin terlihat indah dengan beberapa bintang yang menghiasi; mobil itu terus melaju membelah jalan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tidak ada perbincangan yang berarti; bahkan kalimat basa-basi pun tak kunjung terdengar dari keduanya.
"Dua hari yang lalu, paman Hiashi mengundangku untuk makan malam di kediaman utama Hyuuga. Kau sudah tahu bukan apa maksud beliau?"
Gaara memutuskan untuk angkat bicara. Sebenarnya pria itu ingin membicarakan hal ini saat mereka makan tadi. Namun saat melihat Hinata yang sepertinya masih kesal atas perdebatan saat itu membuat Gaara mengurungkan niatnya.
"Aku tahu. Kemarin malam sudah ada pemberitahuan mengenai acaranya." Hinata menyenderkan sisi kepalanya di jendela mobil.
Gaara mengangguk pelan, "sepertinya paman Hiashi menginginkan kita untuk menikah."
Hinata terkekeh pelan, "you are a bottom, Gaara."
"Just for him. and I am a bi, tidak ada yang mustahil melakukannya dengan perempuan."
"Dan aku adalah pengecualian."
Benar. Gaara merenung saat mendengar kalimat itu dari Hinata. Memang opsi menikah dengan Hinata adalah langkah yang paling tepat dan menguntungkan bagi dirinya. Gaara tidak perlu memikirkan tentang pernikahannya dengan wanita lain. Gaara tidak perlu merasa merasa bersalah karena menikah tanpa didasari dengan cinta. Namun menikahi Hinata; dirinya harus melakukan salah satu tujuan keluarganya –mempunyai seorang anak untuk pewaris. Bukan hanya Hinata, semua wanita akan berdampak sama dengan dirinya.
Hanya saja, jika Gaara menikah dengan Hinata; maka Jack akan selalu ada di sisinya. Dan Hinata yang sudah mengetahui hal itu menolak mentah mengenai ide pernikahan antara keduanya.
Garaa memarkirkan mobilnya di basemen club.
"Hyuuga tidak bisa mengikatku. Lagipula, tidak ada darah Hyuuga yang mengalir dalam tubuhku, Gaara. Dan aku sudah memimjamkan Jack padamu. Aku menyayangimu. Jadi berhentilah menjadi serakah."
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Hinata itu menghempaskan dirinya ke bumi.
Jack tidak akan pernah jadi miliknya.
Jack hanya setia dan patuh pada Hinata,
dan Jack akan meninggalkannya sampai waktu pernikahan dirinya tiba.
Entah itu kapan, tapi waktu itu pasti akan tiba.
.
.
.
To be continued
