Heaven; sebuah club malam yang sudah berdiri sejak tujuh tahun lalu itu menyimpan banyak misteri di dalamnya. Sebuah club malam biasa yang berkedok sebagai Gay Club tetapi pada kenyataannya menyediakan surga dunia bagi para manusia-manusia biadab.

Heaven dibangun oleh tiga kandidat penerus dunia bawah; Hyuuga Hinata, Inuzuka Kiba dan Aburame Shino. Kiba dan Shino yang notabennya sebagai putera dari kedua pria yang saat ini masih bertahta di singgasana sebagai ketua yakuza, dan Hinata yang sudah menjadi anak angkat dari kedua klan tersebut.

Tidak semua orang bisa keluar masuk dan berlalu-lalang dalam club tersebut.

Heaven memiliki aturan keanggotaan bagi mereka yang ingin bergabung dan merasakan fasilitas yang diberikan. Syarat untuk bisa masuk dan bergabung dalam keanggotaan pun tidaklah mudah. Ada beberapa proses serta perjanjian yang akan diberikan; yang tentunya akan menguntungkan kedua belah pihak.

Anggota Heaven mayoritas terdiri dari para pejabat negara, pengusaha kaya raya, dan kalangan selebritas.

Tentu saja publik tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam Heaven, mengingat tempat itu adalah tempat minum dan clubbing seperti tempat lain pada umumnya. Namun berbeda untuk mereka yang sudah menjadi anggota bagian dari Heaven. Mereka akan diarahkan ke dalam elevator khusus yang turun menuju ruangan bawah tanah yang sangat luas.

Disanalah Heaven yang sesungguhnya; tempat dimana orang-orang akan mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

Prositusi, narkoba, pembunuh bayaran, dan senjata api adalah beberapa bagian yang disediakan Heaven untuk para anggotanya. Tak heran banyak orang yang rela melakukan apa saja agar bisa bergabung ke dalamnya.

Hinata bertugas dibagian senjata kimia dan prostitusi serta menjadi kepala divisi dibagian tersebut.

Hinata bertugas untuk mengatur penjualan dan penyelundupan senjata kimia serta budak sex. Selain menyalurkan budak sex, Hinata juga menyediakan layanan prostitusi di dalam club; layanan seperti biasa maupun layanan panggilan seperti rent boy dan rent girl.

Semua anggota prostitusi yang dimilikinya adalah orang-orang khusus yang sudah Hinata pilih secara langsung. Mereka semua sudah melalui tahap pengecekkan kesehatan secara intensif. Hinata juga merawat dan memastikan para prostitusinya dalam kondisi yang sehat dan prima, bahkan dirinya juga mengadakan pelatihan khusus jika nanti mereka dihadapkan pada klien yang tidak biasa.

"oh, Ma'am. Anda disini? Tuan Kiba dan Shino sudah menunggu anda."

Salah satu pelayan menyapa Hinata dan Gaara saat memasuki club. Hinata hanya mengangguk kemudian menyerahkan mantel dan tasnya pada pelayan tersebut.

"Tunggulah di ruanganku, Jack dan Sakura pasti ada disana."

Hinata berlalu meninggalkan Gaara di tengah kerumunan.

Kedua manik jade miliknya memandang punggung Hinata yang semakin menjauh dan menghilang dibelokan. Sepertinya dirinya harus menyerah sekarang. Gaara tidak ingin membuat hubungan persahabatannya dengan Hinata retak atau hancur begitu saja hanya karena keegoisan keduanya.

Gaara memilih mengalah dan menikmati sisa-sisa waktunya bersama Jack selama mungkin.

Gaara berjalan ke arah yaang berlawanan dengan Hinata. Salah satu pelayan yang tadi menyambut mereka di depan pintu menuntun dirinya menuju ruangan Hinata.

Ada beberapa perubahan yang terjadi.

Ruangan Hinata tidak lagi berada di tempat terakhir kali dirinya mengunjungi tempat ini. Sepertinya ada beberapa perubahan tata letak dan juga interior yang nampak berbeda.

Gaara memasuki elevator yang membawa dirinya turun menuju ruang bawah tanah.

Ruangan luas menjadi pemandangan yang terlihat saat pintu elevator terbuka. Ada tiga meja billiard, satu set sofa berwarna hitam dengan meja kaca berbentuk persegi panjang, satu konter bar, satu papan Roulette berukuran lumayan besar tegantung di salah satu sisi ruangan.

Russian Roulette.

Gaara tersenyum tipis, selera Hinata belum berubah.

Pelayan yang mengantar Gaara sudah kembali. Kini hanya tersisa dirinya di ruangan yang cukup luas itu. Gaara melanhkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu yang ada di ujung ruangan. Sepasang pintu kayu yang cukup besar dengan ornamen naga yang terlihat mencolok.

Satu tangannya yang terulur terhenti dan mengambang di udara.

Gaara yang hendak membuka pintu terdiam saat pintu itu terbuka dari dalam. Jade dan emerald bertatap beberapa detik.

"oh. Kau disini?"

Sakura yang mendapati kehadiran Gaara tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Hm.. dimana Jack?"

"Ada beberapa urusan," Sakura berjalan melewati Gaara; menekan tombol pada telpon yang terletak tak jauh dari bar konter, "tolong kirim bartender ke ruangan Hinata." Sakura kemudian berjalan dan duduk di salah satu kursi bar, "minumlah sebentar. Jack akan kembali dalam beberapa menit."

Tidak ada respon yang berarti.

Gaara menerima ajakan minum dari Sakura dan duduk di samping wanita itu. Dua menit selanjutnya seorang bartender tiba diikuti dengan Jack yang juga datang.

"Babe!"

Jack mempercepat langkahnya saat kedua maniknya menanggap sosok Gaara. Satu kecupan mendarat di sudut bibir Gaara.

"Gaara, aku minta maaf-"

"Duduklah. Aku tidak apa-apa." Gaara memotong kalimat yang hendak diutarakan oleh Jack.

Pria bersurai kuning itu tersenyum kemudian duduk di samping Gaara.

Bartender yang sudah berdiri di depan mereka mulai menawarkan minuman. Tidak ada percakapan yang berarti di antara mereka bertiga. Hanya obrolan ringan dan topik seputar pekerjaan masing-masing menjadi pelengkap acara minum dadakan itu. Tidak ada seorang pun yang menyinggung dan memulai percakapan mengenai Hinata.

Satu jam berlalu dengan begitu cepat.

Sakura mengeluarkan ponsel dari saku long coat yang ia kenakan saat merasakan getaran beberapa kali.

"Luna?"

Sakura hanya mengangguk saat Jack menebak siapa yang mengirim pesan padanya.

Sakura menyeringai, "Mau bergabung?"

.

.

.

Hinata menatap sosok pria bersurai cokelat yang kini duduk dengan borgol melingkari kedua pergelangan tangannya.

Gekko Hayate.

Seorang aktor muda kenamaan yang telah berani mencampuri bubuk perangasang ke dalam minumannya kemarin malam. Pria yang sudah menghuni Heaven selama dua tahun terakhir. Seorang aktor yang sedang berada dalam puncak karirnya dalam dunia hiburan.

Hinata tidak menyangka jika ajakan minum yang dilakukan oleh Kiba akan berujung menjadi insiden yang memalukan.

"Kalian disini?"

Hinata mengalihkan pandangannya saat Kiba menyambut ketiga orang yang kini memasuki ruangan tempat mereka berada.

Sakura beregegas menghampiri Hinata. Gaara dan Jack menyusul dari belakang.

"haha, lihatlah tikus yang mencoba mencuri berlian. Aku tidak menyangka dia pelakunya."

Jack tertawa kemudian berjalan menuju Hayate yang duduk tidak jauh dari mereka. Gaara duduk di samping Hinata. Sakura yang semulanya sudah duduk kini beranjak dan menghampiri Jack.

Satu bogem mentah mendarat tepat di pipi sebelah kanan; membuat ringisan keluar diri bibir Hayate yang terbungkus oleh lakban. Jack tertawa saat melihat pria itu meringis setelah mendapat serangan dadakan dari Sakura.

"Hentikan, Naruto."

Kepalan tangan yang hendak dilayangkan kini terhenti. Hinata menghentikkan Jack saat pria itu hendak memberikan pukulan kedua. Jack dan Sakura mundur saat beberapa orang masuk dan langsung memasang beberapa peralatan yang dipakai untuk merekam.

Lima orang pria bertubuh besar dengan kepala plontos menyusul dan langsung berdiri di depan Hinata.

"Nikmatilah sebisa mungkin."

"Yes ma'am!"

Kelima pria itu menjawab dengan kompak layaknya seorang prajurit.

Sakura yang sudah mengerti apa yang akan terjadi menyeret tubuh Jack dan kembali duduk di sofa.

Hinata menyerahkan satu jarum suntik dan satu botol kaca berukuran sedang pada Sakura, "ini dosis baru yang dibuat oleh Orochimaru. Kita lihat seberapa dahsyat efek yang bisa ditimbulkan."

Sakura menerima jarum suntik dan botol yang berisi cairan bening itu, "apa ini produk baru yang akan kau jual?"

Hinata bergumam pelan, "suntikan sekarang."

Sakura mengangguk, sementara Jack yang menerima kunci borgol dari Kiba langsung bergegas mengahampiri Hayate dan melepaskan borgolnya.

"Berikan tuan kami tontonan yang menarik. Jika kau menurut, nyawamu masih aman."

Sakura berbisik kemudian menyuntikkan cairan itu di lengan kanan Hayate. Jack yang melihat raut wajah panik Hayate hanya menyeringai. Kelima pria yang akan mengeksekusi Hayate sudah berdiri melingkari pria itu. Sakura dan Jack kembali dan bergabung bersama Hinata, Gaara dan Kiba.

Kelima pria plontos itu mulai menurunkan celana mereka saat obat yang telah disuntikkan mulai menunjukkan reaksi. Hayate berteriak saat lakban yang menutupi mulutnya dibuka. Pria itu merintih, meminta ampun dengan tubuhnya yang mulai bergetar. Satu pria melucuti pakaian bagian atas, satu pria yang lain membuka celana yang dikenakan Hayate, dan pria yang lainnya mulai menyodorkan benda kebanggaan mereka yang mulai mengeras.

Hinata menggigiti kuku ibu jarinya. Kerlipan khas seorang bocah terpancar dari kedua manik amethystnya saat melihat Hayate yang menggeliat seperti cacing karena reaksi dari obat itu.

Sepertinya Orochimaru dan Kabuto berhasil membuat apa yang dia inginkan.

Jack dan Kiba tampak menikmati teriakan dan penolakan yang dilakukan oleh Hayate. Sementara Gaara hanya menatap datar karena ini bukanlah hal yang baru baginya.

Hinata menghentikkan gigitannya saat Sakura berbaring dan menempatkan kepalanya di pangkuan Hinata. Hinata mengelus kepala Sakura tanpa mengalihkan pandangannya dari kelima pria yang kini tengah menggauli Hayate dengan brutal.

.

.

.

Sasuke mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.

Suasana kota Tokyo di malam hari memang pemandangan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Jam dinding yang terpasang di salah satu sisi tembok apartemennya menunjukkan pukul sebelas malam.

Hembusan angin malam di musim dingin tidak membuat Sasuke beranjak dari balkon. Pria itu kembali mengambil dan menyalakan batang rokok yang kesekian untuk kembali ia hisap.

Hinata.

Wanita yang menghuni satu unit apartemen di gedung ini. Wanita yang ia temui secara tidak sengaja kemarin malam.

Rasa penasaran yang menggerogoti dirinya begitu menyebalkan. Sasuke baru saja menerima satu amplop berisi dokumen mengenai identitas dari Hinata.

Hyuuga Hinata, genap 26 tahun pada bulan Desember yang lalu. Anak ketiga dari pasangan Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hikari. Memiliki dua orang kakak; Hyuuga Neji dan Hyuuga Hanabi. Hyuuga, adalah salah satu keluarga konglomerat. Memiliki bisnis di bidang medis, farmasi, properti, media elektronik, dan pertambangan. Hyuuga Hikari dikabarkan meninggal saat Hinata berusia delapan tahun.

Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai wanita itu.

Semua artikel yang ia baca di internet hanya menampilkan kedua saudaranya dan juga ayahnya. Foto-foto Hinata yang beredar di internet hanya sampai saat wanita itu berusia sepuluh tahun.

Tidak ada kabar lebih lanjut mengenai Hinata.

Tidak ada kabar mengenai institusi tempat wanita itu mengemban pendidikan. Tidak ada kabar jika wanita itu terjun ke dunia bisnis sama seperti kedua saudaranya. Salah satu kabar yang menegaskan keberadaan dirinya hanyalah satu artikel saat Hyuuga Hiashi menjawab pertanyaan salah satu wartawan dan mengatakan jika puteri bungsunya; Hinata, sedang berada di Rusia.

Ini terlalu janggal.

Tidak.

Bisa saja Hinata sengaja menghindar dari publik demi menjalani kehidupan yang wanita itu inginkan. Mengingat wanita itu berasal dari keluarga konglomerat; tidak ada yang mustahil jika uang yang berbicara.

Seperti yang dikatakan oleh manager gedung ini; jika Hinata memang tidak terjun langsung untuk mengurusi bisnis propertinya. Semua bisnis yang dimiliki oleh Hinata dikelola oleh mantan pengawal sekaligus mantan pengasuhnya; Kou.

Sasuke bisa menyimpulkan hal tersebut dengan jelas.

Tapi mengapa?

Bukan hanya itu. Sasuke juga tidak bisa menemukan keterkaitan antara pria bernama Jack dengan Hinata. Hanya ada artikel mengenai Sakura; yang merupakan spesialis bedah hebat yang dimiliki rumah sakit utama Hyuuga.

Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Sasuke tidak menampik jika dirinya memang tertarik pada sosok Hinata hingga nekat mencari informasi pribadi mengenai wanita itu.

Mungkin jika ini adalah karya tulis sampingannya yang fokus dalam romansa; Sasuke akan mengatakan jika pertemuannya dengan Hinata adalah sebuah takdir. Takdir yang akan menuntun dirinya pada jalan cerita yang tidak bisa ia prediksi sama sekali. Persis seperti yang di alami para tokoh utama.

Jika dirinya ingin menafsirkan pertemuan mereka seperti dalam fiksi romansanya; maka hal yang harus ia lakukan selanjutnya adalah mendekati Hinata.

Berkenalan bukanlah hal yang buruk. Sasuke memiliki alibi yang bagus karena kejadian kemarin malam saat dirinya menolong Hinata, dan yang lebih penting; mereka bertetangga. Sasuke juga bisa menggunakan alasan 'penyewa dan tuan tanah (pemilik gedung)' jika pendekatannya tidak berjalan dengan lancar.

Mengingat pihak manager gedung apartemen yang dia huni tidak pernah memberikan kepemilikan atas hunian yang disediakan. Hunian-hunian yang ada dalam gedung ini hanya untuk disewakan; dan Sasuke sudah menyewanya selama sepuluh tahun. Mungkin Sasuke akan merundingkan hal itu dengan Hinata; agar dirinya bisa membeli dan memiliki apartemen itu untuk dirinya sendiri.

Ada satu hal yang harus Sasuke lakukan terlebih dahulu; menyelesaikan deadline untuk karya terbarunya.

Sasuke ingin mendekati Hinata, ingin mengenal wanita itu lebih jauh, dan ingin menghabiskan waktu bersama –dan hal itu akan terwujud jika dirinya disiplin dengan menyelesaikan deadline sebelum weekend.

Semua yang ada dalam pikirannya seperti akan terlihat berjalan dengan lancar hanya dengan deadline pekerjaannya. Sasuke begitu naif, kepercayaan dirinya tidak berkurang dan cukup yakin jika dirinya memang bisa mendekati Hinata. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dirinya merencanakan sesuatu untuk mendekati seorang wanita.

Sasuke tidak merasa khawatir. Dia masih memiliki kharisma dan pesona dalam dirinya. Darah Uchiha yang mengalir dalam dirinya tentu menjadi salah satu yang membuat kepercayaan dirinya meningkat –karena para pria dalam keluarga Uchiha hampir tidak memiliki cacat sedikitpun.

Namun, akankah Hinata menyadari keberadaannya?

Akankah wanita itu menggubris dan menanggapi dirinya?

Sasuke meremat bungkus rokok saat dua pertanyaan itu muncul dalam benaknya.

Sasuke tidak tahu apakah Hinata sama seperti wanita yang pernah ia dekati sebelumnya. Sasuke tidak tahu apakah Hinata akan luluh dengan perhatian-perhatian kecil dan sederhana seperti yang ia berikan pada teman kencannya dulu.

Mungkin Sasuke melewatkan hal yang penting; namun eksistensi Hinata sudah menyedot seluruh atensi yang ada dalam dirinya. Sasuke akan memanfaatkan pengalaman menulisnya yang sudah bertahun-tahun; meski dirinya sadar betul jika alur fiksi yang selalu ia tebak atau yang ia buat tidak akan sama dengan apa yang terjadi.

"Hinata Hyuuga ..."

Sasuke berbalik meninggalkan balkon dan bergegas masuk untuk menghubungi seseorang.

.

.

.

To be continued