CIGARETTE AND LIQUOR
SASUKE X HINATA FANFICTION
PRESENTED BY
H E X E
SMOKE V
Karin sudah meninggalkan apartemen Sasuke beberapa menit yang lalu. Liquor yang diberikan oleh Hinata tadi memanglah liquor dengan kualitas tinggi. Setidaknya seperti itulah komentar Karin saat mencicipinya tadi.
Ruangan yang terlihat berantakan saat Hinata berkunjung kini sudah rapi kembali. Buku-buku yang berserakan sudah kembali ke rak yang terpajang di satu ruangan khusus. Sasuke masih tidak bisa mengendalikan dirinya saat Hinata datang dan menghampirinya secara langsung. Jujur saja, dirinya merasa gugup dan mati gaya.
Hinata yang datang dengan tampilan memukau dan juga dalam keadaan sadar terlihat jauh lebih memesona dibandingkan dengan saat mereka pertama kali bertemu di depan pintu apartemennya.
Kedua manik amethyst milik Hinata tidak ditutup dengan lensa hitam pekat seperti malam itu; dan itu sangat terlihat indah dan membuat tubuh Sasuke berdesir tak karuan.
Sasuke tidak mencicipi liquor yang dihadiahkan Hinata padanya meski sebernanya ia sangat ingin mencicipinya. Kini liquor itu masih tersimpan di atas meja konter; Karin menghabiskan hampir setengah botol dan Sasuke langsung menghentikan wanita itu sebelum isi dari botol liquor itu kosong.
Sebenarnya Ssuke tidak menduga sama sekali akan kedatangan Hinata. Baru saja ia merencanakan akan berkunjung ke kediaman Hinata besok malam. Namun ternyata Hinata datang sendiri bahkan membawakan hadiah; meski Sasuke tidak bisa menikmatinya.
Malam semakin larut, Sasuke menerka-nerka apa yang sedang Hinata lakukan saat ini. apakah wanita itu pergi untuk menghadiri sebuah acara? Apakah Hinata pergi berkencan? Jika dilihat dari penampilannya; Hinata memang terlihat akan menghadiri acara makan malam.
Mungkin saja tidak.
Sasuke tidak tahu apa yang sedang Hinata lakukan; dan hal itu sangat mengganggu dirinya.
Apakah Hinata pergi dengan Jack?
Apakah Hinata berkencan dengan pria lain?
Sasuke menggaruk belakang kepalanya; merasa frustrasi dan jengkel dengan dirinya sendiri. Sebesar ini kan ketertarikan dirinya pada Hinata? Sasuke belum pernah bertingkah sampai sejauh ini saat ingin mendekati seorang wanita.
Apakah seperti ini perasaan tokoh utama dalam novel romansa miliknya?
Bodoh.
Sasuke terkekeh; mentertawakan dirinya sendiri yang terlihat menyedihkan. Merasa resah dan gelisah hanya karena seorang wanita yang bahkan belum berbincang banyak dengan dirinya bukanlah hal yang biasa bagi Sasuke.
Informasi yang dapat juga tidak begitu banyak dan berguna.
Terlalu banyak hal yang tidak terungkap untuk seorang anak konglomerat yang terkenal dalam dunia bisnis.
Hinata bahkan tidak memiliki satupun akun media sosial pribadi. Sasuke hanya melihat beberapa foto dalam postingan milik Sakura yang memajang foto bersama Hinata. Saat wanita berada di Rusia dan saat wanita itu mengunjungi Veligandu Huraa – Maldives.
Sasuke menutup mulut dan hidungnya saat kedua manik jelaganya kembali melihat foto Hinata saat di Maldives.
Sialan.
Lihatlah tato naga yang melingkari paha bagian kiri milik Hinata. Naga itu melilit dengan kepalanya yang terlihat menganga seperti ingin melahap perutnya. Warna tato naga itu terlihat sangat kontras dengan kulit Hinata yang putih. Set bikini yang dikenakan Hinata berwarna hitam polos dengan tali tipis yang menggantung di masing-masing pinggang miliknya.
Tubuh Hinata tidak terlihat kurus dan ramping. Tubuhnya sedikit berisi dengan beberapa bagian lebih menonjol. Perut wanita itu juga tidak terlihat rata, sedikit buncit namun tidak menghilangkan kesan sexy bagi Sasuke.
Ada berapa banyak tato yang dimiliki wanita itu? Sasuke hanya melihat tiga tato yang nampak dalam foto tersebut. Satu naga di paha bagian kiri, tangkai mawar lengap dengan duri tergambar apik melilit di sepanjang tulang selangka bagian kanan, dan satu lagi; huruf hanji tradisional di lengan kanannya.
Sasuke tidak tahu apa yang tertulis dan arti dari aksara itu, informan yang dibayar olehnya mengatakan jika tato itu merupakan aksara Tionghoa yang juga disebut aksara Han. Sang informan juga tidak mengetahui dengan pasti apa arti dan makna yang terkandung dalam tato itu.
Satu spekulasi yang dipikirkan oleh Sasuke membawa dirinya pada situasi yang tidak disangka.
Sangat jarang bagi seorang wanita memiliki tato naga di tubuh mereka. Tato berupa naga biasanya identik dengan organisasi gelap dunia bawah. Jika itu tulisan yang dikarang olehnya; maka sudah pasti seseorang yang memiliki tato bergambar naga, ular, dan harimau adalah seseorang yang bergelut dalam dunia tersebut.
Mafia atau yakuza.
Sasuke menyimpan ponselnya di atas meja, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan mulai menyalakan satu batang rokok.
Sepertinya pemikiran itu terlalu berlebihan.
Semua orang bisa mentato bagian tubuh mereka dengan gambar apa saja yang mereka inginkan.
Hinata adalah wanita kaya raya. Wanita itu bebas melakukan apa saja yang ingin ia lakukan dengan semua uang yang dimilikinya; dan tato bergambar naga adalah salah satunya.
Namun, yang menjadi perdebatan dalam dirinya adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh informan pribadinya. Pria itu mengatakan jika tato naga yang terlukis di paha Hinata sama persis dengan naga yang menjadi lambang yakuza yang menguasai seluruh negeri; dan konon katanya lambang naga itu hanya dimiliki oleh keturunan para petinggi.
Apakah ini hanya kebetulan semata?
Jika ini bukanlah sebuah kebetulan belaka; lalu bagaimana dengan Hiashi Hyuuga yang sudah dipastikan hanya seorang konglomerat yang memiliki puluhan bisnis legal?
Apakah Sasuke melewatkan sesuatu? Tetapi apa?
Jika memang Hyuuga terlibat dengan bisnis ilegal, lantas mengapa hanya Hinata yang tidak muncul ke publik? Sasuke bahkan sudah mengetahui bisnis apa saja dan darimana sumber kekayaan yang diperoleh oleh Hyuuga.
Kepala Sasuke terasa berdenyut. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Sepertinya Sasuke harus membaringkan tubuhnya dan pergi untuk tidur. Memikirkan Hinata hanya terus menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang bahkan tidak masuk dalam spekulasinya.
Sasuke mematikan rokok yang hampir habis, membawa ponselnya dan berjalan menuju tangga. Namun setelah beberapa langkah, kedua kakinya terhenti tepat di depan anak tangga. Suara bel yang berbunyi terdengar nyaring di keheningan malam.
Siapa yang berkunjung selarut ini?
Jika itu Itachi atau Karin, mereka berdua tidak akan menekan bel karena mereka tahu passcode pintu apartemennya. Gedung ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi; sedikit kemungkinan jika ada orang yang datang dengan niatan kurang baik.
Tunggu.
Sasuke mematung sesaat; beberapa detik berikutnya ia setengah berlari menuju ke depan pintu. Kedua manik jelaganya berkilat saat melihat Hinata yang kini tengah berdiri di depan pintu apartemennya.
Benarkah itu Hinata?
Sasuke memastikan hal itu dari pakaian dan juga kaca mata yang kini terpajang rapi di wajah Hinata. Itu adalah kaca mata yang tadi Hinata bawa saat bertemu dengannya di ruang tamu. Tanpa pikir panjang, Sasuke membukakan pintu dan menyambut kedatangan Hinata yang kini mengunjunginya dua kali berturut-turut.
"Hi, Sasuke. Mau minum bersama?"
.
.
.
Rasa lelah dan pening yang beberapa menit lalu menyerang Sasuke kini menguap entah kemana. Sasuke menyiapkan teh khas keluarga Uchiha untuk Hinata. Kedua maniknya terus mencuri pandang ke arah wanita itu yang kini duduk di sofa ruang tamu miliknya.
Hal ini berjalan terlalu lancar. Sasuke bahkan belum melakukan effort apapun untuk mendekati Hinata. Wanita itu datang dan menghampiri dirinya secara terang-terangan. Apakah ini hanya formalitas semata? Apakah ini hanya bentuk terima kasih karena telah menolongnya malam itu?
Bukankah kedatangannya tadi dengan satu botol liquor sudah lebih dari cukup sebagai bentuk terima kasih?
Kini Hinata mengunjunginya kembali, di malam yang sudah sangat larut.
"Minumlah. Ini akan membuatmu rileks." Sasuke meletakan secangkir teh hangat di atas meja.
Hinata terdiam sejenak kemudian menatap ke arah Sasuke yang kini duduk di seberang meja. "teh hangat? dini hari?"
Sasuke menggerakkan kepalanya ke samping; merasa tidak yakin harus memberikan jawaban seperti apa pada pertanyaan yang diberikan oleh Hinata.
"Bukankah teh adalah opsi terbaik untuk menjamu-
"liqour. Mari minum bersama. Aku membawakan sesuatu yang lebih bagus." Hinata memotong kalimat Sasuke sambil memperlihatkan kantung kertas yang berisi dua botol liquor. "kau tidak mau?"
Sasuke menyandarkan punggungnya, melipat kedua lengannya di dada kemudian menghela napas sejenak. "aku tidak minum.", paparnya.
Hinata menggulum kedua bibirnya ke dalam mulut, sedikit terkejut dengan pengakuan yang diberikan oleh Sasuke.
"kau tidak minum?" nada yang terdengar seperti memastikan itu terucap.
Sasuke hanya mengangguk satu kali.
Hinata terkekeh sejenak, mengambil secangkir teh yang masih mengeluarkan uap panas kemudian mencicipinya dalam diam.
Sasuke terpaku saat melihat gestur yang diperlihatkan oleh Hinata padanya saat ini. Kekehan halus yang diakhiri dengan satu ulas senyum manis membuat tubuhnya membeku sejenak. Sasuke bisa melihat bulu mata Hinata yang sedikit panjang dan tebal; terlihat mengering karena maskara. Riasan wajah yang dikenakan wanita itu juga sudah sedikit luntur dibandingkan dengan saat tadi berkunjung.
"teh ini terasa nikmat."
Suara itu mengalihkan perhatian Sasuke. Hinata sudah meletakkan cangkir teh itu di atas meja. "terima kasih untuk teh nya. Aku akan kembali saja."
"tunggu." Sasuke bangkit dengan satu lengannya terulur menahan lengan Hinata. Kedua alis Hinata mengeryit terlihat kebingungan.
"ah, maaf." Sasuke melepaskan lengan Hinata. "kau akan kembali sekarang?"
Hinata terdiam sejenak, "kau tidak minum. Aku tidak bisa menikmati liquor yang aku bawa denganmu."
Kelopak mata Sasuke mengerjap, "kau benar." ada nada kecewa yang terdengar; membuat Hinata menggulum senyum untuk kedua kalinya. "kau menyukaiku, Sasuke?" satu tangan Hinata terulur, menyentuh pipi Sasuke kemudian mengelusnya dengan pelan.
Sekujur tubuh Sasuke menegang. Sentuhan halus yang diberikan oleh Hinata terasa begitu nikmat hingga membuat darahnya berdesir tidak karuan.
"Sepertinya begitu." suara Sasuke memberat dan serak.
Satu ulas senyum kembali terlihat; membuat Sasuke tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik belakang kepala Hinata dan membawa wanita itu pada ciuman yang tidak terduga. Kedua bibir mereka bertemu; Sasuke mengecup dan menggulum bibir Hinata secara bergantian dengan ritme lambat.
Manis –namun sedikit pahit. Seperti itulah yang Sasuke rasakan saat dirinya mengundang Hinata agar bersedia membuka sedikit mulutnya untuk membawa wanita itu pada ciuman basah. Kedua lidah mereka bersentuhan; mengahantarkan sengatan listrik di sekujur tubuh mereka yang mulai begetar karena gairah.
Sasuke sedikit membuka mata; mengintip wajah wanita asing yang kini tengah bertukar saliva dengan dirinya. Hinata tampak rileks dan menikmati ciuman mereka yang masih berlangsung. Dalam hati, Sasuke merasa lega tidak terkira. Satu tangannya mulai berkeliaran; menyentuh dan sedikit memberi cengkraman halus saat telapak tangannya berada di area pinggul dan bokong Hinata.
Suara lengguhan halus terdengar; membuat Sasuke lebih leluasa menggunakan kedua telapak tangannya untuk menyentuh area-area yang belum ia sentuh. Hinata menerima sentuhan darinya, wanita itu membuka diri agar Sasuke lebih merapatkan lagi jarak keduanya yang sebenarnya sudah menempel satu sama lain.
Ciuman mereka belum usai; Sasuke membimbing tubuh Hinata agar duduk di atas kedua pahanya. Membuka kepangan longgar rambut Hinata yang panjang kemudian mulai menguraikan rambut itu dengan jari-jari panjangnya.
Kedua tangan Sasuke sangat sibuk untuk mengeksplor apa yang tersaji di depannya. Sementara tangan Hinata menangkup wajah Sasuke dan sesekali mengelus rahang pria itu dengan gerakan lamban.
Setelah beberapa saat akhirnya ciuman panjang itu terurai. Deru napas keduanya tercampur; menyebabkan sensasi lembap di kedua wajah mereka.
"dorong aku, Hinata." Sasuke berbisik kemudian menjilat dang mengigit telinga Hinata yang tampak memerah.
Sasuke berusaha meminta persetujuan; bagian tubuhnya yang lain sudah menyembul dan mengeras. Hinata yang merasakan bagian itu di bawah bokongnya menatap lurus dengan pandangan yang terlihat sayu; seolah menggoda dan mengundang Sasuke untuk segera membawanya ke atas tempat tidur pria itu.
"dengan senang hati." Sasuke mengangkat tubuh Hinata; menggendong sambil kembali memangut kedua belah bibir Hinata sambil berjalan menuju kamar tidurnya. Hinata sedikit menengadahkan kepala; memberikan akses lebih agar bibir dan mulut Sasuke mencumbui lehernya dengan leluasa.
"akh!" satu ruam merah berbentuk tidak beraturan menempel dengan cukup cantik di sisi leher Hinata. Sasuke membasahi bawah bibirnya; merasa puas dengan karyanya yang terlihat mencolok karena kulit Hinata yang putih.
Sasuke menendang pintu kamarnya dengan tidak sabaran, membaringkan tubuh Hinata dengan perlahan dan kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hinata.
Hinata merangkul tubuh Sasuke yang kini tengah menindihnya. Satu tangannya terulur untuk menyingkap kaos yang dikenakan Sasuke. Kulit Sasuke terasa lebih dingin dari suhu tubuhnya; Hinata yang merasa suhu tubuhnya selalu dingin kini menemukan sesuatu yang lebih dingin. Suhu tubuh Sasuke sangat berbeda dengan Jack; jika tubuh Sasuke terasa dingin, maka tubuh Jack terasa lebih hangat.
Hinata menyukai sensasi saat kedua telapaknya menyentuh kulit Sasuke yang terbuka.
Sasuke menegakkan tubuhnya; melepaskan kaos hitam polos kemudian melemparnya dengan sembarang. Satu tangannya menyentuh paha kiri Hinata yang terbuka karena potongan model dressnya. Manik jelaganya berkilat di bawah pencahayaan remang saat menyentuh dan mengelus paha Hinata yang dihiasi oleh tato bergambar naga.
"cantik ..." bisiknya.
Kedua tangan itu bergerak; menyingkap pakaian Hinata hingga bagian perut. Sasuke bisa meilhat dengan jelas kepala naga yang terlihat akan melahap area perut Hinata. Satu piercing yang terpasang di pusar nampak berkilau; mencuri perhatiannya dari kepala naga.
'diamond' pikir Sasuke.
"Sampai kapan kau akan menatapnya?"
Sasuke mengalihkan pandangan. Netra hitam miliknya memandang Hinata dengan kilatan penuh gairah saat Hinata yang kini tengah melepaskan tiga kancing yang mengunci dress pada tubuhnya. Kedua lengan Hinata terulur; melingkar di sekitar leher Sasuke kemudian membawa pria itu lebih dekat.
"come and devour me. Do as you want."
Pada detik berikutnya; Sasuke melepaskan hasrat dan mengeluarkan semua gairah yang ada pada dirinya untuk meleburkan diri bersama wanita yang sudah membuatnya hampir setengah gila.
.
.
.
to be continued
p.s
hallo, dengan hexe disini. Hanya ingin mengingatkan jika alur yang saya sajika dalam fic ini adalah alur maju mundur. Semoga kalian tidak bingung dalam membaca runtutan kejadiannya.
