Disclaimer : All Characters belong to Sunrise, but this story is mine

Ocean Lullaby

By

LaNiinaViola

Warning: Au, OOC, Typos, and Similar plot


Samudra luas yang membentang hingga ke ujung horizon menyimpan banyak rahasia. Di dalam air laut sebening kristal ada kehidupan yang tidak pernah diketahui para manusia yang tinggal diatas. Samudra menyimpan rahasianya hingga tidak ada yang bisa mengetahui, menjaganya tetap aman tanpa perlu ada yang tahu.

Dalam sunyinya laut, hidup seorang gadis cantik yang bagi manusia dunia atas adalah makhluk mitos yang keberadaannya merupakan sebuah dongeng. Gadis cantik dengan surai keemasan dan mata permata seindah topaz menyelami sunyinya samudera luas sendirian, mencari rahasia lain yang disembunyikan Samudra untuk dirinya sendiri.

Samudra memang menyimpan banyak rahasia yang tidak terjamah bahkan untuk penghuninya seperti gadis cantik ini, birarpun begitu rasa penasarannya tentang dunia atas sangat besar. Apa saja yang ada diatas sana? Apakah kehidupan disana menarik? Berbagai pertanyaan sering muncul di dalam benak gadis ini. Ketika malam tiba, angin laut akan membawa cerita tentang dunia atas, gadis cantik ini kan naik ketas permukaan dan mendengarkan cerita yang dibawanya bersama dengan para bintang. Mendengarkan gemerisiknya dengan seksama sambil terus mendamba pada daratan. Suatu hari nanti ia ingin sekali bisa melihat daratan dengan mata kepalanya sendiri. Putri duyung akan kembali menyelami Samudra ketika sudah puas memandangi daratan.


Suatu hari permukaan tidak seramah biasanya, angin berhembus sangat dingin dan tidak membawa cerita apapun malam itu. Sebagai gantinya ia membawa badai yang mengamuk bersamanya. Permukaan menjadi sangat membahayakan, Putri duyung hanya bisa menatap permukaan dari dalam gelapnya Samudra malam itu, berharap badai segera berakhir dan membiarkan laut kembali tenang.

Saat sedang mengarungi laut, putri duyung mendapati banyak sekali benda yang berjatuhan dari permukaan. Berbagai macam benda turun ke bawah permukaan air, mulai dari yang ukurannya kecil hingga besar. Bentuknya juga bermacam-macam ada yang bulat seperti mutiara tapi dalam ukuran yang sangat besar sampai ada yang berbentuk panjang dan tajam seperti tanduk Narwhal[1]. Ini pertama kalinya putri duyung melihat benda-benda aneh ini, apakah ini benda dari daratan? Tanya putri duyung dalam hatinya.

Badai masih terus mengamuk diatas sana, penyebab benda ini berjatuhan pasti karena salah satu benda milik manusia daratan yang sering berlayar di permukaan, benda yang sangat berbahaya untuk didekati oleh para duyung dan juga penghuni laut dalam lainnya. Putri duyung pernah ingin mendekat, tapi sangat berbahaya karena kehadiran mereka adalah rahasia sang Samudra tidak boleh ada yang mengetahuinya kecuali Samudra itu sendiri. Akhirnya sang putri duyung hanya bisa memandangi benda itu dari kejauhan.

Setelah menunggu lama, akhirnya badai mulai mereda. Benda yang berjatuhan juga sudah tidak sebanyak tadi tapi diantara benda yang berjatuhan, putri duyung melihat sesosok manusia. Ia tahu karena makhluk itu memiliki sesuatu yang berbeda dengan mereka para duyung, bukan sirip melainkan sepasang alat gerak yang jenjang. Mengabaikan perintah Samudra, putri duyung mendekati tubuh yang terus tenggelam masuk kedalam dinginnya air laut.

Dengan sekuat tenaga putri duyung menarik dan membawa manusia itu ke permukaan, tapi ia tidak menunjukkan tanda akan sadar. Matanya terus tertutup dan tidak bergerak. Putri duyung tidak kehabisan akal, ia membawa tubuh itu menuju daratan, pasti ada yng bisa ia lakukan untuk manusia itu. Dengan susah payah putri duyung berenang hingga ke bibir pantai dan menarik tubuh itu hingga terbaring ke hamparan pasir putih. Mengabaikan sakit pada siripnya saat bergesekan dengan pasir, ia terus menarik tubuh tak berdaya itu lebih jauh dari ombak air laut.

Putri duyung berusaha membangunkan manusia itu. Berbagai cara dilakukan mulai dari mengguncangkan tubuhkan hingga memukul dengan cukup keras. Tapi tidak ada tanda-tanda tubuh itu akan bangun. Bagaimana ini? Sebentar lagi matahari akan menyingsing dan manusia darat lain pasti akan datang dan melihat sosoknya. Ini percobaan terakhir, jika tidak berhasil ia akan meninggalkan tubuh itu begitu saja di pantai. Ia mendekatkan mulutnya dengan mulut manusia itu dan menghembuskan udara kedalam. Satu kali, dua kali, dan akhirnya ada reaksi. Tubuh itu menunjukan gerakan, manusia itu terbatuk dan mengeluarkan air yang memenuhi paru-parunya. Belum sampai manusia itu membuka mata, putri duyung mendengar suara yang mendekat kearah mereka. Ahh tidak, akan ada banyak manusia yang tahu tentang keberadaannya. Ia harus segera pergi meninggalkan pantai dan kembali pada Samudra.


Penasaran, keingintahuan akan daratan menjadi semakin besar. Setiap malam ia akan naik ke permukaan dan mendekat ke arah pantai, mengawasi batas laut itu dengan keingintahuan yang besar sambil terus mendengarkan angin malam membawakan cerita tentang daratan.

Rasa penasaran yang sudah sangat memuncak, membuat putri duyung mencari cara agar dirinya bisa melihat daratan tanpa membuat rahasia Samudra terbongkar. Terpikir sebuah ide, mungkin dia tahu, ya mungkin penyihir laut tahu cara ia bisa melihat daratan. Mengumpulkan keberanian, putri duyung pergi ke laut dalam dimana cahaya matahari tidak dapat menyentuhnya untuk pergi ke tempat penyuhir laut berada.

Jalan kesana tidak pernah mudah, ada banyak makhluk laut menyeramkan dan juga arus laut kuat yang melindungi tempat itu. Tapi berbekal rasa ingin tahu yang kuat, putri duyung berusaha menerobos semua rintangan untuk sampai ke tempat penyihir laut.

Setelah melalui perjalanan yang sangat sulit, sang putri akhirnya sampai ke tempat penyihir laut, sebuah gua laut yang gelap dan sunyi. Tidak ada arus laut ataupun tanda-tanda kehidupan di sekitar gua ini, hanya ada kesunyian. Putri duyung lalu berenang masuk ke dalam gua yang tidak terlihat isinya dari luar sana.


Rumah penyihir laut memang di dalam gua laut ini, hanya saja ada banyak lorong yang harus dilalui untuk sampai ke sana. Penyihir laut membuatnya jadi sulit agar tidak sembarang makhluk bisa menemuinya. Hanya yang memiliki keinginan kuat saja yang mempu menembus semua rintangan dan menemuinya.

Masuk ke dalam gua, putri duyung mengambil arah ke kiri, masuk ke dalam lorong gelap yang tidak terlihat ujungnya. Satu, dua, putri duyung mulai berhitung. Butuh sekitar dua puluh lima kali mengayunkan siripnya untuk tahu dimana ia harus berhenti dan berbelok ke dalam Lorong lainnya. Selanjutnya putri duyung berbelok kearah kanan. Sama halnya dengan Lorong sebelumnya, putri mulai berhitung kembali. Kali ini hanya sampai angka tujuh saja, karena setelahnya ia harus berenang ke atas melawan gravitasi menuju rumah penyihir. Ya, ini adalah Lorong terakhir yang harus ia lewati. Berenang keatas sejauh tiga puluh delapan ayunan ekor, sang putri mulai melihat cahaya. Itu adalah rumah penyihir laut.

Rumah penyihir laut tidak seseram yang dibayangkan, ruangan gua yang ditinggali itu dipenuhi oleh alga yang dapat bersinar di seluruh dindingnya sebagai sumber penerangan di laur dalam ini. Kelap-kelip alga api terlihat seperti ribuan bintang yang sering menemani putri duyung saat mendengarkan cerita yang dibawa angin tentang daratan.

"Apa yang membuat seorang putri dari dewa laut pembawa pesan[2] datang ke kediaman penyihir laut?" suara berat yang terdengar sangat dingin langsung menyambut putri duyung setibanya di dalam rumah penyihir laut.

Putri duyung memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya, "A.. Aku memiliki permintaan padamu, penyihir laut." Suara putri yang merdu terdengar seperti nyanyian para Nereid.

Dari dalam ruangan lain keluarlah penyihir laut, ia memiliki kulit yang pucat karena jarang tersentuh sinar matahari dan membawa sebuah botol sewarna koralin.

"Apakah ini karena badai besar yang mengamukkan permukaan beberapa hari lalu?" Tanya penyihir lagi.

Bagaimana penyihir bisa tahu? Pikir putri duyung. Ah, benar juga ia seorang penyihir laut tentu saja ia bisa mengetahui maksud kedatangan putri duyung. "Iya, aku ingin melihat daratan."

Penyihir laut tertawa mendengar keinginan putri duyung. "Daratan? Bukankan kau selalu melihatnya setiap malam, putri?"

"Aku ingin melihat yang ada di balik coastal[3] sana, penyihir."

"Tidak cukupkah cerita yang dibawa angin untuk memenuhi rasa keingintahuanmu?" Penyihir laut mengatakannya seolah mereka sama-sama mendengarkan cerita yang dibawa angin bersama.

"Aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri." Putri membalas tatapan dingin penyihir yang mencelanya.

"Karena manusia itu bukan? Yang kau selamatkan dari badai?" Putri duyung hanya bisa diam, tidak menanggapi dugaan si penyihir laut.

"Ada harga dari sebuah permintaan, kau tahu itukan putri?" penyihir pergi berenang menuju salah satu rak yang ada di rumahnya.

"Aku akan menerima semua konsekuensi atas permintaanku." Ujar putri duyung.

"Bahkan itu artinya kau kehilangan suaramu?" penyihir kembali bertanya.

Terkejut, bagaimana caranya ia mengarungi daratan tanpa suaranya?

"Lupakan saja, putri. Daratan tidak sebaik yang diceritakan angin padamu."

"Aku akan menerimanya." Ujar sang putri. Matanya menyiratkan kesungguhan dalam kilauannya, penyihir laut melihat itu. Ia mendekat pada putri duyung dan memandangnya lebih dingin dari sebelumnya.

Meletakkan botol kecil seukuran liontin kalung ke hadapan putri duyung, penyihir laut kembali berkata. "Harga keinginanmu sangat besar putri, sebelum bulan purnama berikutnya kau harus bisa membuat pangeran menyatakan cintanya padamu atau kau akan kembali ke asal."

Kembali ke asal? Menurut legenda, mereka berasal dari buih yang memenuhi lautan. Samudra kemudian mengubah mereka seperti sekarang ini untuk menjaga lautan dari daratan yang selalu ingin merusaknya. Apa itu artinya ia akan kembali menjadi buih ketika syarat yang diberikan penyihir tidak bisa terpenuhi?

"Kau ragu?" penyihir bersiap menarik kembali ramuannya tapi sang putri dengan tekat kuat menarik botolnya.

"Aku akan menerimanya." Ujar sang putri.

Dengan demikian, perjanjian telah disepakati.


Di belakang garis pantai berdiri sebuah kerajaan yang megah dan juga mengagumkan. Kerajaan yang terkenal akan perdagangannya karena bisa menaklukan laut yang sangat menakutkan. Mereka berhasil pergi mengunjungi kerajaan lain dan menjadi kuat. Tapi belakangan mereka menjadi lemah, karena kekuatan yang selama ini mereka agungkan telah dibungkam oleh Samudra. Kapal mereka baru saja dihantam badai, bahkan sang penerus takhta hampir saja direnggut oleh Samudra.

Bagai keajaiban, sang pengeran ditemukan di pinggir pantai setelah kapalnya karam. Tidak ada satupun yang selamat kecuali dirinya. Kerajaan sangat bersyukur akan hal itu biarpun kerugian yan ditanggung sangat besar bahkan sampai melemahkan reputasi mereka. Mereka akan mencari cara lain untuk bertahan.

Setiap hari setelah sang pangeran sembuh, ia akan datang ke pantai. Untuk beberapa saat dirinya akan berdiam diri disana tanpa ada yang tahu maksudnya. Bagi mereka, mungkin pangeran hanya mengenang awak kapal yang menjadi korban dan rasa bersalah karena hanya dirinya saja yang selamat. Padahal bukan, ada alasan lain kenapa sang pangeran selalu memandang lautan luas setiap harinya.

Hari dimana ia diselamatkan oleh orang yang berada di pantai, ia melihat silut seorang gadis cantik. Tidak jelas, hanya rambut pirang keemasan yang basah dan suaranya yang sangat indah seperti nyanyian para Nereid. Dalam pandangan yang buram ia bisa mendengan suara gadis itu pergi kearah lautan. Ia sangat yakin gadis itulah penyelamat hidupnya. Ia berharap suatu hari nanti mereka biasa berjumpa lagi di tempat yang sama. Itu sebabnya sang pangeran selalu menunggu gadis penyelamatnya di pantai ini.


Putri duyung keluar dari laut dalam rumah penyihir laut dan berenang menuju zona neritik[4] dengan membawa sebuah botol kecil seukuran liontin, didalam botol itu terdapat ramuan yang berisi mantra untuk mengubah sirip ekornya menjadi alat gerak manusia. Putri duyung sudah membulatkan tekat untuk bisa berjalan di daratan. Segala ketakutan juga kekhawatiran yang ada di pikirannya mendadak hilang setelah membayangkan bagaimana dirinya bisa melihat daratan dengan mata kepalanya sendiri. Setelah membulatkan tekat, putri duyung bersip memulai ritual mengubah ekornya menjadi kaki.

Ritual harus dilakukan pada malam hari. Saat langit cerah dan bulan menampakkan wujudnya, berenanglah ke bawah cahayannya dan minum ramuan dalam botol sambil terus membayangkan apa yang diinginkan. Putri duyung melakukan semua yang dikatakan oleh penyihir laut. Dan setelah beberapa saat, dadanya terasa sangat sesak. Napas yang biasanya sangat mudah juga menjadi berat. Putri duyung tidak kuasa dengan rasa sakitnya, ia ingin berteriak,tapi tidak ada jeritan yang ia dengar. Ah iya putri duyung baru ingat, suara indahnya akan hilang saat matra sang penyihir berhasil. Putri duyung merasa sangat kesakitan, pandangannya mulai kabur dan tak lama setelahnya semua menjadi gelap.


Seperti pada malam sebelumnya, pangeran sedang berada di pantai mengamati deburan ombak yang menerpa pantai. Bulan bersinar terang dan tanpa malu menunjukkan kehadirannya. Suasana malam terasa lebih hangat karena angin tidak berhembus dengan kencang. Pangeran mengambil tempat duduk di atas batu karang yang berada tidak jauh dari pasir pantai. Dalam diam ia berdoa semoga ia bisa segera berjumpa lagi dengan gadis penyelamatnya.

Malam semakin larut, angin yang mulanya hangat perlahan menjadi semakin dingin menusuk tulang. Pangeran pun memutuskan untuk kembali ke istana. Ia melompat turun dari atas batu karang dan mendarat di hamparan pasir pantai. Ia kemudian berjalan mengitari karang tersebut kemudian menelusuri pantai untuk kembali ke istana. Belum jauh dari gugusan karang tempatnya duduk tadi, ia melihat sesuatu. Sepertinya itu sepasang telapak kaki, pangeran berusaha menajamkan penglihatannya di gelapnya malam. Benar itu sepasang kaki, oh tidak.. apakah ada yang butuh bantuan? Sang pangeran tanpa berpikir panjang segera menghampirinya.

Pemilik kaki yang dilihat pangeran tadi adalah seorang gadis. Ia tergeletak tak sadarkan diri diantara karang. Pangeran segera bangun dari keterkejutannya dan berusaha menolong gadis itu. Pertama pangeran mengecek tanda vital kehidupan gadis itu, napasnya yang teratur menandakan hal baik. Selanjutnya pangeran segera menyelimutinya dengan pakaian yang ia kenakan untuk memberikan kehangatan pada gadis itu lalu membawanya pergi untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut oleh ahlinya.

Pangeran membawa gadis yang tidak sadarkan itu ke istana. Ia tidak memikirkan tempat lain yang lebih baik selain istana untuk menolong gadis itu. Ia segera memanggil seorang ahli dalam pengobatan untuk memeriksa gadis itu setelah sebelumnya meminta pelayan menyiapkan sebuah kamar dan baju bersih untuknya. Tidak lama dokter datang dan memeriksa sang gadis. Tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu terancam. Dokter berpikir ia hanya kelelahan dan butuh istirahat saja. Pangeran mengucapkan terimakasih dan dokter pergi.

Pangeran memperhatikan wajah gadis yang ia tolong dengan lebih seksama sekarang. Ia tidak terlalu memperhatikannya tadi karena terlalu panik. Gadis itu memiliki rambut pirang bagai benang emas yang berkilau. Wajahnya juga dapat dikatakan cantik, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung juga bentuk wajah yang kecil. Tanpa sadar hati pangeran berdesir saat melihat kecantikan gadis yang ditolongnya.


Gadis yang ditolong pangeran bangun saat fajar menyingsing keesokan harinya. Istana pagi itu dibuat gempar karena sang pangeran mebawa seorang gadis pada malam hari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah gadis itu sadar, pangeran segera menuju kamar gadis itu untuk melihatnya langsung. Pangeran memasuki kamar tamu yang banyak dilapisi perabotan berwarna kayu dan juga putih gading. Gadis yang ditolongnya terlihat masih duduk di ranjangnya bersama seorang pelayan yang siap membantu segala kebutuhannya. Pangeran segera menghampiri gadis itu.

"Selamat pagi, apakah kau sudah merasa baikan?" tanya sang pangeran.

Tidak ada satupun kata yang terucap oleh gadis cantik itu. Sang pangeran yang bingung kemudian menatap pelayannya dan meminta penjelasan.

"Maafkan saya yang mulia, nona ini tidak mengatakan apapun sejak ia bangun." Ujar sang pelayan.

Merasa ada yang salah, sang pangeran meminta pelayan itu memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan gadis itu yang telah sadar.

Dokter segera datang dan memeriksa gadis itu. Menurut beliau tidak ada yang aneh pada gadis itu. Tidak ada luka atau tanda-tanda trauma yang dialami gadis itu. Hanya ada satu kesimpulan yang diambil sang dokter atas keadaan gadis itu, yaitu bisu. Sang pangeran sangat sedih dengan keadaan gadis itu, ia tidak bisa mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya tentang gadis itu. Setelah mengucapkan terimakasih, sang dokter pamit undur diri dan meninggalkan pangeran bersama gadis itu sendiri.

Melihat pangeran berwajah sedih, putri duyung mengulurkan tangannya dan membelai lembut wajah sanga pangeran. Berusaha menenangkannya tanpa kata. Pangeran yang tertunduk sedih langsung menatap gadis cantik di depannya dan tersenyum.

"Aku tidak tau siapa namamu, bolehkan aku memanggilmu putri, nona?" tanya sang pangeran pada putri duyung.

Tidak ada jawaban, tapi seolah mengerti, gadis itu menganggukan kepalanya.

Karena butuh waktu lama untuk mengusut tentang asal-usul gadis itu, maka sang pangeran memutuskan untuk memberinya izin tinggal di istana hingga semuanya terjawab. Pangeran telah memita izin pada raja dengan alasan untuk memantau gadis itu karena sedikit banyak ada juga pihak yang mempertanyakan apakah gadis itu berbahaya atau tidak. Sang raja yang mendengar alasan itu mulanya tidak setuju, tapi sang pangeran kembali memberikan alasan. Ia mengatakan bahwa gadis itu mirip dengan orang yang menolongnya saat badai tempo dulu. Dengan alasan itu akhirnya sang raja memutuskan untuk menyetujui ide sang pangeran.


Kehidupan putri duyung di kerajaan tidaklah mudah, ia tidak terbiasa menggunakan kakinya untuk berjalan sehingga sangat susah untuknya bergerak pada awalnya. Orang istana mengira ia mengalami trauma tertentu yang membuatnya susah bergerak. Pangeran yang baik hati dengan sabra mengajari putri duyung berjalan menggunakan kedua kakinya. Putri duyung akan sering terjatuh tapi ia tidak menyerah. Dalam beberapa hari akhirnya putri duyung sudah bisa berjalan dengan benar tanpa membuat orang lain khawatir ia akan terjatuh.

Jika kau berpikir masalah sudah selesai, maka kau salah. Putri duyung sangat awam dengan tata krama dunia manusia. Sehingga prilakunya cenderung sembarangan dalam berbagai hal. Ini menjadi masalah lain bagi pangeran dan juga penghuni istana lainnya. Cara berjalan mungkin dapat dimaklumi karena ia baru saja bisa melangkah tanpa terjatuh, tapi berbeda dengan etika yang lainnya. Tidak hanya itu putri duyung juga tidak mengetahui cara memakai alat-alat untuk kegunaan sehari-hari. Tidak mudah hidup di dunia manusia, tapi ia berjuang sekuat tenaga untuk bisa mempelajarinya dengan cepat.

Putri duyung belajar dengan sangat baik, di hari ke 10 ia sudah mengetahui dasar tata krama dan juga cara menggunakan alat-alat sederhana dengan baik. Sebagai bentuk apresiasi, pangeran membawanya jalan-jalan keluar istana untuk melihat kerajaan. Sebelum pergi putri duyung diminta mengenakan jubah tudung yang panjang untuk menutupi identitasnya dan begitu juga dengan sang pangeran. Bagaimanapun juga berjlaan di tengah keramaian publik bisa menimbulkan kehebohan untuk mereka.


Pangeran membawa putri duyung ke pasar yang ada di dekat ibu kota. Suasana pasar yang ramai pada umumnya adalah hal baru bagi putri duyung. Ia melihat banyak sekali benda aneh yang dijual, mulai dari makanan hingga benda lain seperti sutera juga pernak-pernik lainnya. Ah benar, ia ingat, angin pernah membawakan cerita tentang tempat ramai orang berkumpul. Apakah ini tempatnya? Senang sekali ia bisa melihat secara langsung tempat yang angin ceritakan.

Putri yang pangeran selamatkan memang tidak bisa berbicara tapi ia bisa mengeluarkan berbagai macam ekspresi yang menarik bagi pangeran. Seperti kagum, ceria, senang dan juga sedih. Biarpun ekspresi terakhir bukan kesukaannya, tapi ia senang karena dengan melihat ekspresinya pangeran bisa tahu apa yang putri bisa rasakan. Hari ini ada banyak sekali ekspresi kekaguman yang ditunjukkan putri pada pangeran. Matanya seolah berbinar tiap kali melihat sesuatu yang menarik baginya. Kilauan di manik putri membuat hati pangeran kembali berdesir. Tanpa sadar putri sudah memiliki tempat tersendiri di hati pangeran.

Mereka pergi mengunjungi banyak toko seperti buah, makanan dan juga aksesoris. Pangeran membelikan putri beberapa makanan kecil yang sejujurnya juga baru pertama kali ia coba. Pangeran tidak punya banyak kesempatan keluar istana mengunjungi pasar biasa sehingga baginya,makanan disana juga adalah hal baru. Pangeran membelikan makanan yang terlihat menarik dimata gadis itu, pangeran bisa melihatnya dari antusiame putri ketika melihat benda yang ia inginkan.

Hari mulai menjelang sore, orang di istana pasti mengkhawatirkan mereka karena sudah pergi cukup lama. Mereka harus segera kembali sebelum gelap. Mereka kembali berjalan ke arah istana, tapi mereka berhenti sebentar ketika melewati toko aksesoris dan perhiasan. Putri duyung berbinar kagum saat melihat sebuah kalung yang memiliki liontin batu panna[5] yang dibingkai sedemikian rupa dengan logam emas sehingga menampilkan kecantikan yang sangat indah. Pangeran yang menangkap kekaguman sang putri pada kalung itu segera membelinya dan menghadiahkan kalung tersebut pada putri. Pangeran membantu memakaikan kalung tersebut pada leher jenjang putri duyung. Liontin batu panna itu tampak cocok dengan sang putri. Sebagai terimakasih putripun memberikan senyuman cantiknya pada pangeran.


Setelah kunjungan pangeran dan putri duyung ke pasar di ibu kota, pangeran jadi sering mengajak putri keluar untuk melihat daerah di luar istana. Tidak jauh memang, hanya tempat-tempat yang bisa diakses pulang pergi secara langsung saja karena pangeran tidak bisa meninggalkan istana dalam waktu yang lama. Tapi biarpun begitu, putri sangat senang, ia bisa kembali melihat hal baru di luar sana.

Beberapa hari yang lalu mereka pergi ke hutan di sebelah timur istana, disana ada air terjun yang sangat cantik tersembunyi dibalik rimbunnya hutan. Biarpun jalan kesana tidak mudah karena harus menanjak tapi putri sangat senang. Ada undakan pada tebing tempat air terjun itu berada yang membuat air turun perlahan ke sungai di bawahnya. Dalam perjalanan pulang mereka berjumpa dengan beberapa hewan hutan seperti rusa dan juga kelinci. Putri duyung memiliki kesempatan memegang hewan lucu ini. Seharian mereka bermain disana dan kembali pulang sebelum gelap. Hari berikutnya pangeran membawa putri berkeliling taman bunga yang ada di istana dan menunjukkan berbagai jenis bunga yang di rawat di rumah kaca kesayangan ratu.

Putri duyung sangat senang, ia kembali menemukan sesuatu yang diceritakan angin. Ia melihat berbagai jenis bunga yang sangat indah di taman istana. Pangeran juga memetik beberapa tangkai untuk diberikan kepada sang putri. Mereka menghabiskan sisa sore dengan minum teh dan menikmati bunga yang ada di rumah kaca kesayangan ratu. Hari-hari yang dilalui putri duyung di istana menjadi sangat menyenangkan dan tanpa terasa bulan purnama selanjutnya bentar lagi tiba.


Sudah beberapa hari pangeran tidak datang mengunjungi putri duyung. Biarpun tidak mengatakan apapun, pelayan yang sering membantu putri duyung memberitahukan jika sang pangeran sedang ada beberapa urusan mendesak hingga dirinya tidak bisa datag menemui putri. Putri duyung hanya bisa mengangguk tanda bahwa dirinya paham dengan apa yang pelayan itu katakan. Selama pangeran tidak ada dirinya hanya menghabiskan waktu berkeliling ke kebun istana atau menikmati sore dari balkon kamarnya.

Kamar yang di tempati putri duyung berada di tebing yang dekat dengan lautan, sehingga dirinya dapat melihat Samudra langsung dari kamarnya. Ombak yang terus menderu memecah tebing juga selalu terdengar, membuat putri duyung lebih tenang karena merasa Samudra selalu ada untuknya. Setiap malam sebelum tidur ia akan menatap Samudra dan menceritakan apapun yang dilaluinya kepada angin yang berhembus, bermaksud membagikan kisahnya pada siapapun di luar sana.

Ini sudah hari ke lima pangeran tidak kunjung datang menemui putri, sebagai gantinya ada berita yang menyebar di seluruh penjuru istana jika sang pangeran akan bertunangan dalam waktu dekat dengan seorang putri dari kerajaan seberang. Kondisi kerajaan sedang tidak stabil karena jalur perdagangan kerajaan menjadi terputus akibat badai tempo hari yang merenggut kapal dagang kerajaan. Dalam peristiwa ini juga hampir saja nyawa pangeran juga direnggut Samudra. Setelah kejadian ini tidak ada orang yang mau mejadi anak buah kapal untuk berangkat berdagang ke negeri lain melintasi Samudra. Karena keadaan itulah diperlukan pernikahan politik untuk memperkuat lagi kondisi kerajaan.

Bulan purnama sebentar lagi tiba tapi berita tentang pertunangan pangeran justru datang disaat putri duyung harus membuat sang pangeran mengatakan cinta padanya. Jangankan membuat pangeran jatuh cinta, mereka saja sudah lama sekali tidak bertemu. Dalam kebingungan itulah putri duyung hanya bisa bercerita pada angin dan juga Samudra. Meratapi nasibnya yang malang.

Lama sekali rasanya pangeran tidak bertemu dengan putri yang ia selamatkan. Selama ini ia sibuk mengurus tentang kerajaan karena kondisinya yang tidak stabil. Banyak yang harus dikerjakan termasuk maslah pertunangannya dengan putri dari negeri seberang. Sebenarnya pangeran sudah menolak karena sudah ada seseorang yang ia cintai. Ya, orang itu adalah putri yang ia bawa ke istana tempo hari. Raja jelas saja tidak memberikan restu bagi pangeran, karena asal usul gadis itu tidak jelas dan juga kekurangan lain yang dimilikinya.

Pangeran berusaha sekuat tenaga mencari cara lain agar kerajaan dapat stabil tanpa harus menikahi putri dari negeri seberang. Tapi tetap saja tidak ada jalan terbaik yang minim resiko selain menikahi putri itu. Pangeran memang mencintai putri duyung tapi cintanya pada kerajaan ini juga sama besarnya. Pangeran menjadi sangat bingung sementara hari pertunangan semakin dekat.


Malam itu setelah berhari-hari tidak datang, akhir pangeran pergi menemui putri duyung di kamarnya. Pangeran mengetok pintu beberapa kali sebelum masuk. Ia melihat putri sedang berada di balkon kamarnya sambil menatap Samudra dengan pandangan yang sangat sedih. Hati pangeran terasa teriris saat melihatnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat pujaan hatinya tetap bersamanya.

Putri duyung menyadari ada yang masuk ke dalam kamarnya, kemudian berbalik dan menemukan pangeran yang selama ini ditunggu akhirnya datang menemuinya. Putri dengan tenang menghampiri pemuda itu yang sepertinya tidak dalam keadaan baik. Pangeran yang datang tidak mau menatap matanya, rasanya sedih melihat pangeran bersikap seperti ini.

Malam itu pangeran datang dan meminta maaf karena sudah lama tidak menemui putri. Ia juga mengabarkan tentang pertunangannya yang akan di selenggarakan beberapa hari lagi, tepat setelah bulan purnama berikutnya datang. Nada sedih nan lirih terdengar sepanjang lantunan kalimat yang diucapkan pangeran. Putri duyung meraih wajah tampan pangeran, berharap ia mau menatapnya. Dengan ragu, pangeran mengangkat wajahnya setelah merasakan tangan lembut putri menyentuh wajahnya. Kesedihan jelas terpancar dalam maniknya, putri hanya bisa tersenyum untuk menenangkan pangeran.

Setelah mengabarkan semua informasi yang perlu ia beritahukan, pangeranpun pergi meninggalkan kamar putri duyung dan kembali ke ruangannya.


Hari pesta pertunangan semakin dekat, putri duyung sudah menerima bahwa dirinya akan menjadi buih saat purnama berikutnya tiba. Ia kembali menceritakan kisahnya yang malang pada angin yang berhembus ditemani taburan bintang di angkasa. Dalam sedih putri duyung kembali menatap Samudra.

Malam semakin larut saat tiba-tiba saja ombak laut yang memecah tebih menjadi lebih kencang dari sebelumnya. Air laut seolah bergejolak tidak ramah dengan tebing karang yang kuat itu. Putri duyung yang merasa aneh tidak bisa melepaskan pandangannya dari air laut yang terus mengamuk padahal tidak ada awan badai. Dari hamparan Samudra yang luas, putri duyung melihat ada sesosok makhluk keluar dari dalam air. Biarpun malam gelap tapi putri duyung tahu dengan jelas siapa itu. Putri duyung merasa ia harus menemui sosok itu, jadi dengan tergesa-gesa putri pergi ke arah pantai yang tidak jauh dari istana.

Sampai di pantai telah ada yang menunggunya di balik karang yang tersembunyi. Sosok itu adalah penyihir laut, ia datang menemui putri duyung malam itu. Putri duyung hanya bisa menatap penyihir laut dalam diam. Sosoknya penyihir laut yang mirip dengan dirinya sebelum ke daratan membuat putri jadi teringat tentang laut tempat tinggalnya.

Tanpa banyak kata penyihir memberikan sesuatu pada putri duyung.

"Ambil ini, aku tahu kau kisah malangmu dengan pangeran itu." Ujar penyihir laut sambil memberikan sebuah belati perak pada putri duyung.

Bagaimana kau tahu tentang kisahku? Tanya putri duyung dalam gerakan bibirnya.

"Angin yang menceritakannya padaku." Jawab sang penyihir laut. Ia kemudian melanjutkan, "Kau akan kembali ke asal saat purnama berikutnya tiba, tapi kau punya pilihan lain. Tusuk jantung pangeran dengan belati itu dengan demikian kau bisa mematahkan mantranya."

Aku tidak mungkin membunuh pangeran. Ujar putri duyung dalam keheningan malam.

"Itu adalah cara lain agar mantranya hilang, tapi itu semua terserah padamu." Penyihir kembali menjelaskan.

Putri duyung hanya bisa diam menatap belati perak yang dipegangnya. Tidak perlu berbasa-basi penyihir laut kemudian masuk kembali ke dalam laut dan menghilang dari pandangan putri duyung.


Setiap hari putri duyung terus berpikir. Biarpun ada cara lain agar mantranya hilang tapi tetap saja cara itu bukan yang ia inginkan. Menusukkan belati itu sama saja dengan merenggut kehidupan sang pangeran, kehidupan yang susah payah pernah ia selamatkan. Pangeran juga adalah orang yang baik ia dengan sabar mengajari semua tentang daratan dan membawanya melihat semua yang diceritakan angin padanya.

Tidak bisa, mengingat semua kebaikan dan juga perhatian pangeran padanya, putri duyung tidak bisa membunuh pangeran. Akhirnya putri duyung sudah dalam keputusan bulat. Tidak peduli dengan cara lain yang ditawarkan penyihir, putri duyung memilih untuk menerima mantranya dan kembali ke asal.

Putri duyung yang baik hati itu kemudian mengucapkan perpisahan pada pangeran. Dirinya pergi menemui pria itu dan memberikan kecupan singkat di dipinya sebagai perpisahan. Pangeran yang tidak mengerti hanya bisa memerah dengan tindakan putri padanya. Hati pangeran berbunga-bunga malam itu tanpa tahu jika itu adalah kali terakhir ia bisa berjumpa dengan putri duyung.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada pangeran, putri duyung kemudian masuk ke dalam kamarnya lagi. Dari balkon kamar ia bisa melihat bulan purnama bersinar terang seolah menerangi jalan yang ia pilih. Dengan menggenggam belati yang diberikan penyihir, putri duyung menerima mantra untuk kembali ke asal dan menceburkan dirinya kembali ke dalam Samudra.

Air laut malam itu terasa dingin menusuk, tidak hangat seperti terakhir kali ia ingat. Sambil terus menggenggam belati yang diberikan penyihir laut, putri duyung membiarkan dirinya tenggelam dalam Samudra. Sesak, sesak sekali.. putri duyung tidak bisa bernapas, mungkin karena sekarang ia bernapas dengan paru-paru dan itu tidak bisa digunakan di dalam air. Perlahan putri duyung kehilangan kesadarannya. Hal terakhir yang dilihatnya adalah buih-buih lautan. Ah, tubuhnya sekarang pasti sudah mulai melebur kembali ke asal. Putri duyungpun menangisi nasib malangnya.


"Eh, sepertinya Ace sudah terlelap lebih dulu sebelum ceritanya selesai." Ujar Cagalli saat mengalihkan pandangannya pada putra dari buku dongeng yang sedang ia bacakan.

Putranya, Axel Zala yang berumur empat tahun, sudah mendengkur halus menandakan bahwa bocah kecil itu sudah masuk ke alam mimpinya. Cagalli tersenyum melihat replika kecil suaminya sudah tertidur pulas sambil memeluk tubuh ibunya. Dengan perlahan, Cagalli turun dari kasur dan membetulkan letak selimut untuk putranya.

"Selamat malam." Ujar cagalli sambil mendaratkan kecupan di dahi Axel dan kemudian pergi meninggalkan kamar itu dengan langkah pelan agar putranya tidak terbangun lagi.

Setelah membacakan cerita, Cagalli pergi ke kamarnya dan menemukan suami tercintanya sedang berada di balkon sambil menatap ke arah bulan purnama yang bersinar terang malam ini.

"Bukahkah angin malam tidak baik untuk kesehatan, pak dokter?" Cagalli bertanya sambil memeluk tubuh suaminya dari belakang.

"Tentu aku tahu, Cagalli. Aku baru sebentar di luar karena melihat bulan bersinar sangat cantik malam ini." Athrun membela diri.

Cagalli mengangkat wajahnya dan melihat bulan purnama hari ini di langit. "Kau benar, bulannya bersinar sangat cantik."

"Sudah selesai membacakan cerita untuk Axel?" Tanya Athrun pada istrinya sambil membalikkkan badan dan balas memeluk istrinya.

"Ya, Ace tidur sebelum ceritanya selesai." Jawab Cagalli, mereka berdua berjalan masuk ke dalam kamar sambil terus berpegangan tangan.

"Memang cerita apa yang kau bacakan malam ini?" Athrun kembali bertanya saat mereka sudah naik ke tempat tidur.

"Kisah tentang putri duyung." Cagalli menjawabnya sambil merangkak naik ke atas tempat tidur mereka.

"Oh, putri duyung malang yang akhirnya kembali ke asal itu bukan?" Athrun memastikan dongeng yang diceritakan Cagalli sama dengan kisah yang ia maksud.

"Iya, tapi ceritaku belum selesai sampai disana."

"Benarkah? Seingatku tidak ada lanjutannya lagi." Tanya Athrun dengan heran.

Cagalli menarik selimut hingga sebatas pinggang untuk mereka berdua. "Masih ada lanjutannya, tidak hanya sampai disitu saja kisah putri duyung ini."

"Coba ceritakan padaku, aku ingin mendengar kisah yang belum pernah aku dengar ini." Pinta Athrun pada Cagalli.

"Baiklah, aku akan menceritakan kelanjutan kisahnya."


Srek srek srek, sesuatu memasuki pendengaran putri duyung, dengan perlahan ia berusaha membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah kumpulan alga api bercahaya yang memenuhi langit-langit tempat ia berada. Dimana ini? Bukankah seharusnya ia telah menjadi buih di lautan? Tapi kenapa ia bisa melihat seperti ini? Berbagai pertanyaan muncul di benak putri duyung.

"Kau sudah sadar?" Tanya sebuah yang sangat familiar bagi putri duyung.

Berusaha mencari asal suara, putri duyung bisa melihat penyihir laut tengah berenang membelakanginya sambil menggerus sesuatu di meja ramuan kesayangannya. "Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di rumahmu?" Tanya putri duyung saat sudah sepenuhnya sadar.

"Aku membawamu ke rumah saat kau tidak sadarkan diri setelah mantranya hilang." Jawab penyihir laut sambil terus melakukan aktivitasnya.

"Tapi aku tidak menjadi buih? Kenapa siripku malah kembali?" Putri duyung masih belum mengerti apa yang terjadi padanya.

"Kenapa kau harus menjadi buih?" Kali ini penyihir laut yang balik bertanya, ia membalikkan tubuhnya dan memandang putri duyung dengan mata sewarna batu panna.

"kau bilang jika mantranya hilang, maka aku akan kembali ke asal? Bukankah menurut legenda kita para duyung berasal dari buih di lautan?" Entah kenapa mereka jadi saling melempar pertanyaan seperti ini.

Penyihir laut memiringkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak pernah bilang kau akan kembali menjadi buih."

"Lalu apa yang kau maksud dengan kembali ke asal?" Putri duyung diliputi kebingungan.

"Kembali kepada Samudra dan memiliki sirip seperti semula sebelum mantra itu diaktifkan." Penyihir laut menjawab sambil mengambil sesuatu yang digerusnya tadi dan memberikannya pada putri duyung.

"Makan ini, itu akan membuat tenagamu cepat pulih." Suruh sang penyihir.

Tanpa bertanya lebih jauh tentang makanan apa yang diberikan penyihir, putri duyung segera melahapnya. Ia kemudian kembali bertanya. "Tapi bukankah mantra itu sama saja tanpa konsekuensi?"

"Tentu saja ada, kau ingin hidup di dunia atas bukan? Jika mantranya hilang kau jelas tidak bisa bertemu pria yang kau cintai dan kembali menjadi rahasia Samudra, itu konsekuensinya." Jeda sebentar kemudian penyihir laut kembali melanjutkan penjelasannya.

"Aku sudah menawarkan cara lain agar kau tetap bisa menjadi manusia tanpa harus membuat pangeran mengatakan cintanya padamu, tapi kau malah memilih kembali ke asal. Apa kau sangat mencintainya sehingga tidak ingin dia mati demi impianmu tinggal di daratan?"

Putri duyung terdiam, seperti kaku untuk beberapa saat ketika penyihir laut selesai menjelaskan.

"Aku.. aku tidak pernah mencintai pangeran dan alasanku ke daratan bukan ingin tinggal disana." Kini penyihir laut yang menjadi bingung karena apa yang ia pikirkan ternyata salah.

"Lalu, kenapa kau ingin sekali ke daratan setelah menyelamatkan pangeran itu?" Tanya penyihir laut.

"Aku mendengarkan angin bercerita tentang permata yang ada di daratan dan angin menceritakan itu tepat setelah aku menyelamatkan pangeran pada hari berikutnya." Penyihir laut tahu bahwa putri duyung belum selesai bercerita, jadi ia hanya diam menunggu putri duyung melanjutkan ceritanya.

"Permata bernama panna yang memiliki warna hijau jernih, aku ingin sekali melihatnya."

"Kenapa kau ingi sekali melihat permata itu?" Apa arti permata itu begitu penting? pikir penyihir laut.

Putri duyung dengan malu-malu menjawab. "Karena permata itu sewarna dengan manik matamu." Jawaban yang tidak pernah disangka oleh penyihir laut bersurai sekelam malam itu.

"Selama ini aku selalu melihat daratan karena disana banyak sekali pohon hijau yang mengingatkanku akan matamu. Kemudian saat angin menceritakan tentang permata ini aku jadi penasaran seberapa indah benda itu? Apakah sama indahnya dengan manik matamu yang berkilau ketika sedang menemukan sesuatu yang baru di lautan yang luas ini?" putri duyung berhenti sejenak.

"Dan ternyata, permata itu memang sangat indah, berkilauan seperti mata indahmu." Penyihir laut tidak bisa menemukan suaranya, ia hanya bisa diam terkejut dengan penjelasan putri duyung.

"Aku tidak pernah mencintai pangeran, karena cintaku ada di laut dalam ini." Putri duyung mengatakannya dengan serius sambil menatap langsung kedalam kedua manik kesukaannya.

Ditatap seperti itu membuat penyihir laut salah tingkah. Ternyata.. ternyata dirinya tidak bertepuk sebelah tangan. Sudah lama sekali ia menyukai putri duyung. Ia rela melakukan apapun demi sang pujaan hati, termasuk membuat mantra terlarang yang dapat mewujudkan keinginan sang putri duyung. Ia sangat sedih ketika mengetahui putri duyung ingin ke daratan karena mengira ia ingin hidup di daratan dan jatuh cinta dengan pangeran manusia itu. Tapi ternyata semua itu salah, ada hal lain yang diinginkan gadis ini dari daratan dan itu berhubungan dengannya. Penyihir laut tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

"Apa itu artinya kau mau tinggal di laut dalam bersamaku?" Tanya penyihir laut.

"Laut dalam terlalu dingin, bagaimana jika di perbatasan zona neritineritik dan batial[6]? Aku masih bisa merasakan hangatnya matahari dari sana." Putri duyung membuat negosiasi.

Penyihir laut kembali tersenyum, "Itu terdengar bagus."

Kemudian putri duyung hidup bahagia bersama penyihir laut. Kini mereka menjelajahi indahnya lautan bersama.

-Selesai-


Glosarium:

[1] Ikan paus bertanduk

[2] Dewa yang dimaksud adalah Triton

[3] Merujuk kepada daerah pantai atau pesisir

[4] Laut dangkal dimana sinar matahari masih bisa masuk

[5] Emerald

[6] Laut dalam dimana sinar matahari sudah tidak bisa masuk


Note:

Haii semua, dipenghujung tahun ini Niina membawakan cerita klasik yang pasti semua udah pernah dengar. Masih dalam format sama seperti cerita dongeng sebelumnya, dimana cerita ini adalah kisah yang Cagalli ceritakan sebagai pengantar tidur untuk anaknya. Jika menilik dari timeline berarti cerita ini dulu baru dongeng yang diupload sebelumnya. Karena disini Cagalli menceritakan untuk Axel kecil, sementara di cerita sebelumnya untuk Carina adiknya. Penjelasan yang tidak penting sekali hahaha, tapi adakah yang sadarsadar kalau cerita ini masih satu timeline dengan dongeng sebelumnya?

Anyway, Happy new year, semoga tahun ini bisa membawa keberuntungan dan kebahagiaan untuk kakak-kakak semua. Terima kasih sudah berteman dengan Niina disini, mari berteman lagi untuk tahun-tahun berikutnya. Terimakasih juga sudah mampir ke cerita ini, bolehkah Niina minta pendapat kakak-kakak tentang tulisan ini? Eheheheh terimakasih, sampai jumpa di cerita lainnya.