The Fiends in My Dreams

A jimsu fanfiction

BTS belongs to BigHit, characters belong to themselves

rampung pada Juli 2021

written by Kuncenkasur

beta-ed by Rminyoon

DLDR!

.

The Fiends in My Dreams

.

November 1973, aku bermimpi memelihara seekor kucing berbulu panjang. Dalam mimpiku, kucing itu suka duduk menghadap jendela, bermandikan cahaya dari sang Surya. Yang kulakukan saat itu adalah memandanginya dari kejauhan; melihat helai-helai bulunya yang riap-riapan. Ia tidak mengeong, tidak pula banyak bergerak.

Kemudian di suatu pagi, di sudut yang sepi di kampus, aku melihat seekor kucing liar sedang tidur dalam sebuah kardus butut. Si Kucing berbentuk seperti roti kasur yang padat berisi. Dari hidungnya keluar balon ingus berwarna putih.

Aku seperti melihat diriku sendiri. Aku gendut dan sedang pilek. Syal merah yang Ibu lilitkan di leher membuat pipiku kelihatan penuh. Hidungku berair dan sulit rasanya untuk bernapas. Aku memperhatikan balon ingus si Kucing dan perutnya yang kembang-kempis itu selama beberapa menit, sampai Jimin datang. Dia berdiri sekitar satu setengah meter di sebelahku dan memandang kucing itu dalam kebisuan.

Waktu itu aku belum mengenal Jimin. Aku sama sekali belum pernah melihatnya selama tiga tahun aku berkuliah di situ. Jimin adalah orang asing yang tiba-tiba muncul secara misterius seperti si Kucing.

Senyap. Si Kucing menggeliat. Diam-diam aku melirik ke samping. Jimin masih memandanginya. Sekilas tatapannya tampak suntuk, tetapi kalau diperhatikan lebih seksama, sorotnya juga terasa begitu lembut. Ada sesuatu di wajahnya yang membuat aku ingin terus memandangi, tetapi aku sendiri tidak tahu apa itu.

"Kemarin tidak ada ia di situ."

Tahu-tahu dia berbicara. Aku mengulum bibir. Tak kusangka kata-katanya persis seperti apa yang tak terucap dari bibirku.

Tidak ada percakapan apa-apa setelah itu. Aku cenderung canggung kalau harus berhadapan dengan orang asing, jadi aku tidak mengeluarkan kalimat apapun dari mulutku. Dia yang kemudian lebih dulu pergi ketika mahasiswa lain sudah mulai berdatangan ke kampus dan membuat sudut itu menjadi ramai. Sosoknya menghilang begitu saja, entah berbelok ke mana. Mungkin baginya aku tidak menarik untuk diajak berbicara. Namun, aku sendiri juga mengakui itu. Aku memang seorang pemalu yang membosankan.

Keesokan paginya, secara kebetulan kami bertemu lagi di tempat yang sama, ketika si Kucing tengah menjilati pantatnya. Kali ini aku melihat Jimin membawa tabung hitam di punggung dan buku gambar ukuran A3 yang diapit di ketiak. Dia berdiri dengan jarak yang tidak terlalu dekat denganku, sama seperti sebelumnya.

Kemudian dia menceletuk, "Enak sekali hidup kucing itu, ya. Pasti sehari-hari dia hanya makan, tidur, berak, kawin, tidur lagi, makan lagi, berak lagi, kawin lagi …."

Setelah berkomentar seperti itu, dia langsung pergi tanpa memberikan kesempatan padaku untuk memperhatikan wajahnya. Aku tidak sempat mencerna maksud dari kata-katanya yang bernada sinis itu. Hanya sungging senyum remehnya yang bisa kutangkap.

Sosok Jimin terbayang-bayang di benak. Suaranya yang raspy dan cara bicaranya yang lamban juga terngiang-ngiang di telinga ketika dia tak terlihat selama beberapa minggu. Aku tidak tahu dia menghilang ke mana. Setiap pagi aku selalu berhenti di tempat yang sama, menonton si Kucing tidur, tetapi kegiatan itu terasa menjemukan.

Mulanya aku tak sadar apa alasannya, tetapi lama-lama aku tahu bahwa ketiadaan Jimin yang membuatku seperti itu. Seperti secara naluriah aku tahu kalau aku harus menunggunya di situ.

Aku harus terus menunggunya sampai dia kembali.

"Kamu sedang jatuh cinta?"

Itulah yang Hoseok tanyakan padaku ketika aku sedang mengorek-ngorek bagian tengah dari gundukan spageti di piringku. Dia menaruh nampan makanannya, kemudian duduk. Ketika aku mendelik kepadanya, Hoseok mengedikkan badan kemudian menggeser pantatnya sedikit supaya duduknya tidak lagi persis di depanku.

"Kenapa, sih? Padahal aku makannya rapi, lo."

"Enggak. Bukan itu masalahnya."

"Iya, iya."

Hoseok tampak tidak mau mendengar alasanku sebab dia lekas mengambil kotak susunya dan menusukkan sedotan ke lubang di kotak itu dengan kencang, kemudian menyedot isinya sampai pipinya kempot. Dia batuk dua kali sebelum meraih sendok.

"Selamat makan," tukasnya.

Aku hanya merasa risi ketika ada orang lain yang melihat bagaimana aku melahap makananku.

Sejak kecil, aku memang tidak terbiasa makan berhadap-hadapan dengan orang lain kecuali orangtuaku. Di kampus pun, aku selalu sengaja mengambil tempat yang sepi supaya bisa makan sendirian. Kalau diajak untuk makan semeja ramai-ramai, aku selalu menghindar. Lama-lama orang-orang—yang tadinya mau berteman denganku—itu menjauh dan hubungan kami menjadi sebatas teman sekelas biasa yang begitu jam bubar sudah tak saling kenal.

Hanya Hoseok yang bebal. Acapkali dia sengaja mengganggu waktu makan siangku dengan datang tiba-tiba dan mengajakku bicara seperti itu, meski seringnya aku yang mengabaikan dia.

Kemudian, setelah aku bosan mengorek—sebab tak kutemukan apa-apa selain cincangan bawang bombai yang begitu kecil di situ—aku melihat pada Hoseok yang sedang mengunyah.

"Hoseok, kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Apanya?"

"Apakah aku kelihatan seperti orang yang sedang jatuh cinta?"

"Enggak juga, sih. Kamu hanya kelihatan agak … apa namanya? Mengawang. Kamu kelihatan mengawang akhir-akhir ini. O, atau kamu bukan sedang jatuh cinta, tetapi sedang dalam pengaruh obat—"

"Diamlah. Aku mana mungkin berani melakukan itu."

Kekehnya membuatku sebal. Aku baru sadar kalau gundukan spagetiku telah berubah menjadi seperti kawah gunung. Ia berlubang cukup luas, tetapi tidak berisi lahar, melainkan hanya kekosongan; warna putih piring dan sedikit merah oranye dari saus bolognese. Aku mendapati Hoseok melihat padaku yang sedang melihat pada spageti itu.

"Apa, sih?"

"Katakan saja, kamu betulan sedang jatuh cinta, 'kan?"

Aku mendengkus. Memang ada seseorang yang melulu muncul di pikiranku. Namun, tentu saja aku tidak akan mengatakannya pada Hoseok. Dia tidak perlu tahu. Lagipula aku tidak merasa kalau aku sedang jatuh cinta pada siapapun, termasuk Jimin.

Kalau soal dia, pada waktu itu aku hanya merasa penasaran saja padanya. Aku tidak berani mengambil kesimpulan seperti Hoseok, sebab baru dua kali aku bertemu dengan Jimin. Apa yang bisa kudapatkan? Kalau diibaratkan sebuah buku, sama sekali belum ada dari lembarannya yang dapat kubaca.

Di pertengahan Desember, di masa ujian semester sebelum kami mendapat libur Natal dan Tahun Baru, barulah Jimin terlihat lagi. Ketika aku datang, dia sedang berdiri tak jauh dari tempat di mana si Kucing biasanya tidur. Akan tetapi, aku menemukan bahwa kardusnya kosong. Jimin hanya diam saja di situ, membiarkan angin menderu dan salju berjatuhan di pundaknya. Entah mengapa hawanya terasa mellow.

Aku memutuskan untuk pergi saja karena kupikir tak bagus kalau aku memperhatikan dia secara diam-diam. Namun, tak sengaja aku membuat bunyi berisik ketika aku hampir terpeleset jatuh di atas es. Buku di pelukanku jatuh berserakan, dan sudah kuduga kalau Jimin bakal seketika menoleh ke arahku.

"Kamu baik-baik saja?"

Dia berjalan ke arahku, kemudian memungut buku-bukuku, sementara aku hanya bisa diam terpaku, menunduk malu.

"Jalannya licin, pakailah sepatu yang solnya bergerigi."

Lalu dia berdiri dan menyerahkan buku-buku itu padaku. Saat dia melakukan itu, aku masih memandang sepatunya. Dia pakai sepatu bot.

"Si Kucing pergi," kata Jimin.

Aku menerima buku-bukuku, kemudian mengangkat kepala, dan tatapan kami pun berserobok. Dadaku berdebar-debar. Aku berusaha meredam debaran itu dengan meneguk ludah, tetapi tidak berguna. Mereka tidak nyambung. Aku tidak tahu kalau Jimin seaneh itu. Maksudku, fitur wajahnya lengkap, tetapi dia tampak begitu aneh. Aku belum pernah bertatap muka dengan seseorang yang bahkan kalau mesti dijelaskan apa keanehannya aku tidak sanggup.

"Padahal aku kira ia akan tinggal di situ untuk waktu yang lama," sesalnya. Ada seraut sedih di wajah itu.

Karena lama-lama lidahku gatal, aku pun memberanikan diri untuk membuka mulut. Lalu dengan agak gemetaran aku bertanya, "Mungkin … ia sedang mencari makan?"

Jimin menggeleng. "Kurasa kucing itu enggak bakal kembali sampai kapanpun."

"Kenapa kamu begitu yakin?"

"Entah."

"Apa kamu menyukainya?"

"Siapa? Kucing itu?"

"Hu-um."

"Enggak. Biasa saja. Kamu suka kucing?"

Aku terlebih dulu menyedot ingus sebelum menjawab pertanyaannya. Ini benar-benar tidak keren, tetapi aku tidak bisa menahannya.

"Aku … bukan pecinta kucing. Aku datang ke tempat ini untuk melihatnya pun bukan karena suka, tetapi karena … apa, ya? Entah, lah."

"Kadang-kadang memang ada saja hal yang pengin kita lihat lama-lama padahal kita sendiri enggak tahu alasannya apa," ujarnya sembari mengekeh.

Aku bisa saja menyebut kalau aku mengunjungi si Kucing karena aku merasa risi, atau aku memang suka padanya, atau aku mau tahu sampai kapan kardus butut itu dapat melindunginya dari cuaca musim dingin. Akan tetapi, bukan itu alasan spesifiknya. Sesuatu yang entah juga termasuk sebuah alasan. Terkadang kita menyebut macam-macam karena terpaksa memilih; karena entah dianggap salah.

Kupikir Jimin termasuk kepada orang yang bakal menyalahkan si Entah, tetapi dia justru menerimanya dengan santai.

"Padahal aku kepengin melihatnya. Jadi sedih."

"Tunggu saja besok."

"Enggak. Tadi, 'kan, sudah kubilang kalau dia enggak bakal kembali."

"Kenapa kamu begitu yakin, sih?"

"Koneksi dengan alam."

Saat itu aku heran karena ternyata debaran di dadaku bisa teredam dengan sendirinya dan aku bisa berbicara begitu lancar di hadapan Jimin. Dia membawa suasana yang begitu kasual sehingga tidak butuh waktu lama bagiku untuk merasa nyaman. Itu merupakan suatu hal yang menakjubkan bagiku. Ternyata Jimin tidak aneh-aneh amat.

Aku memandang tanah yang tertutupi lapisan es tebal. Tidak ada jejak apa-apa. Es mengubur langkah si Kucing yang mungkin pernah tercetak di situ. Secara tidak masuk akal, aku juga merasa kehilangan, padahal kami tidak punya keterikatan apa-apa.

"Kamu anak mana?" tanyanya.

"Ilmu Komunikasi."

Dia menggosok hidung. "O, pantas, tetangga. Aku pernah main ke kompleks Ilmu Komunikasi, dan aku merasa telah memasuki dunia lain. Orang-orangnya begitu gaya."

"Aku enggak."

"Meski begitu, kamu tetap manis, kok."

"Jadi kamu mengakui kalau aku memang enggak gaya, ya?"

"Bukan aku yang bilang, lo, ya!"

Dari situlah aku mengenal Park Jimin, mahasiswa Seni Rupa Murni. Kami berada di tingkat yang sama, tetapi usianya setahun lebih tua dariku. Aku menyampaikan padanya tentang kenapa aku tidak pernah melihat dirinya padahal kami bertetangga. Akan tetapi, dia bilang yang dekat tidak selalu terlihat, apalagi jika kita tidak menaruh perhatian sama sekali.

.

.

The Fiends in My Dreams

.

.

Aku lupa meminta nomor teleponnya waktu itu. Jadilah di masa liburan yang begitu panjang, aku mesti tersiksa dengan keinginanku sendiri. Aku ingin bertemu dengannya; melihat wajahnya, mendengar suaranya, mengobrol dengannya. Aku bahkan sempat berikir bahwa mendapat ucapan "Selamat Natal dan Tahun Baru!" darinya bakal terasa amat membahagiakan. Akan tetapi, itu tidak terwujud sebab aku tidak punya nomor teleponnya, dan dia juga tidak punya nomor teleponku.

Kemudian di suatu malam, aku bermimpi memelihara kucing lagi. Namun, kalau diingat-ingat, bentuk kucingnya kabur. Adegan dalam mimpi itu pun tidak terlalu jelas. Aku hanya ingat kalau kucing itu tidak sedang berjemur melainkan berlari. Siluetnya mirip. Bulunya panjang. Aku tidak tahu apakah ia adalah kucing yang sama dengan yang pernah kulihat dalam mimpiku waktu itu atau bukan. Kalau mau diibaratkan sesuatu, ia seperti sebuah pemandangan yang kaulihat dari jendela yang berembun.

Aku tidak punya agenda apa-apa pada liburan semester kali itu selain berkegiatan dengan orangtuaku; seperti mengunjungi kerabat atau komunitas gereja, atau juga piknik. Namun, semuanya terasa hambar, sebab aku hanya jadi buntut. Ayah dan Ibu yang tentukan mau ke mana dan mau apa. Bukan aku. Aku hanya bisa mengikuti mereka.

Aku pikir gejolak masa mudaku mulai terasa di situ, sebab, ada keinginan untuk menyudahi segala kepatuhan ini. Aku ingin bermetamorfosis menjadi sesuatu, kemudian melakukan segala hal atas kemauan sendiri.

Sudah sangat lama aku bertahan dalam dekapan orangtuaku. Mereka begitu kolot sehingga aku kesulitan untuk berkembang; baik dalam aspek emosi atau sikap. Aku tidak diperbolehkan pergi ke luar lewat jam sepuluh malam. Ketika remaja lain diberi fasilitas mobil sendiri, aku tidak. Aku bahkan tidak pernah diberi izin untuk ikut kursus mengemudi. Aku tidak boleh menonton konser atau festival. Aku juga tidak boleh pergi ke pesta. Apa yang hendak kulakukan, mereka harus tahu. Alasannya, mereka mau menjagaku dari keburukan dunia, karena aku anak mereka satu-satunya. Kalau aku rusak, mereka tidak lagi punya harapan. Mereka bilang di luar sana banyak orang jahat. Banyak anak nakal yang tidak beretika. Banyak orang dewasa yang tidak bermoral. Banyak setan. Aku tidak boleh bersentuhan dengan keburukan-keburukan itu, jadi aku didekap dengan begitu erat.

Aku merasa iri ketika melihat orang lain bisa pergi ke bioskop dengan pacarnya, atau sekedar berkendara dan menyimpang untuk membeli setengah lusin donat. Aku iri mereka bisa berkencan. Aku iri mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau. Astaga! Aku ingin punya pacar.

Di suatu malam, ketika aku dan orangtuaku berkumpul di meja makan untuk menikmati kalkun yang Ibu masak, aku mengutarakan keinginanku yang satu itu pada mereka.

"Bu, Yah, aku kepengin berpacaran juga seperti anak-anak lainnya."

"Kamu enggak boleh berpacaran kecuali dengan seseorang yang sudah pasti bakal menikahi kamu."

"Kalau kamu memang ingin punya pacar, Ayah bisa carikan untukmu. Teman-teman dari Gereja punya anak-anak yang pendidikannya bagus. Mereka juga alim."

Jawaban mereka tidak memuaskan. O, sialan, aku sangat ingin berjumpa dengan Jimin. Mungkin Hoseok benar tentang aku yang sedang jatuh cinta. Aku bahkan berpikir kalau hanya Jimin yang kumau untuk kujadikan pacar; dengan mengabaikan kemungkinan bahwa aku hanya dianggap kawan selewat oleh lelaki itu karena kami tidak pernah berbicara lebih jauh ketimbang berbasa-basi di pagi hari sebelum masuk kelas.

Setelah dengan sangat sabar menanti liburan berakhir, akhirnya tibalah hari di mana aku bisa kembali berkuliah di semester baru. Musim dingin sudah tiada. Ia tergantikan oleh musim semi yang membawa mekar bunga dan hangat mentari.

"Hai, lama tak jumpa."

Jimin menyapaku pagi itu, di tempat yang sama seperti waktu kami bertemu pertama kali. Kardus si Kucing sudah tidak ada lagi. Spasi kosong itu diisi oleh sebuah bangku panjang. Aku mengambil tempat di sebelahnya, tetapi tidak terlalu rapat. Jimin mendelik sambil menahan tawa. Aku baru sadar apa yang baru saja kuperbuat. Untuk apa aku turut duduk di bangku itu? Harusnya aku langsung pergi saja setelah membalas sapaannya.

Aku merasa sangat bodoh, tetapi tidak apa-apa. Sebab dengan begitu, aku dapat melihat Jimin secara lebih dekat. Jujur saja aku sangat senang, sampai-sampai aku merasa kalau aku ingin menerjang dia dan memeluknya. Hanya saja aku mengubur fantasi itu dalam-dalam lantaran tahu kalau itu kurang ajar.

Jimin bertanya, "Bagaimana liburanmu?"

"Biasa saja. Kamu?"

"Entahlah. Aku juga lupa. Tahu-tahu di penghujung liburan aku sudah mendapatkan tiga belas lukisan dan beberapa dari mereka membuatku seperti … ha, kok, bisa, ya, hasilnya sedahsyat ini?"

"Oke, seniman hebat. Kamu luar biasa."

"Apakah kamu sedang mengejekku?"

"Enggak, kok," bantahku. "Omong-omong, kenapa kamu malah duduk di sini? Enggak masuk kelas?"

"Butuh sesuatu untuk dipandangi."

"Pohon?"

"Iya. Tetapi, gara-gara kamu, pohon itu enggak menarik lagi."

Dia mengubah posisi duduknya menjadi menyamping, menghadap aku. Sebelah lengannya diangkat dan ditaruh di sandaran bangku, sementara di bibirnya tersungging senyum yang begitu manis.

"Pipimu merah, tuh," katanya.

Sehabis mengatakan itu dia bangkit dari duduknya, kemudian berpamitan. Sepatu botnya berdecit-decit. Aku ditinggalkan dengan perasaan yang bercampur aduk; antara kaget, malu, juga kesal. Kupegang pipiku sendiri. Rasanya begitu panas membakar.

Siang harinya, aku punya tiga jam kosong sampai kelas berikut dimulai. Aku tidak tahu harus apa, maka dari itu aku hanya berdiam di kantin, memandang langit biru yang tak berawan, menyatukan diri dengan ruang yang berubah hening setelah ditinggal oleh keramaian jam makan siang.

Tiba-tiba Hoseok menepuk pundakku dari belakang seraya berkata, "Astaga, kamu ini sudah berubah jadi penunggu kantin, apa? Dari tadi kamu di sini?"

Kulihat dia memegang sebotol air mineral dan sebungkus roti.

"Iya, memangnya kenapa?"

"Kasihan, kamu. Mau ikut denganku, enggak? Aku diajak main basket di lapangan punya Seni Rupa."

"Aku enggak bisa main basket."

"Aku enggak mengajakmu untuk main, nonton saja, maksudku."

O, sebentar, Seni Rupa? Aku teringat Jimin. Apakah ini sebuah kesempatan bagiku untuk bertemu dengannya lagi? Aku membatin sambil mendengung agak lama, sampai kudengar Hoseok mendecak. Dia menggamit tanganku dan menuntunku keluar dari kantin itu.

Terkadang aku merasa bahwa perlakuan Hoseok amat tidak biasa ketimbang teman-teman lain yang menganggapku bukan bagian esensial dari lingkaran pergaulan mereka.

Lantas aku pun bertanya, "Hoseok, kamu punya pacar, enggak?"

"Enggak. Aku enggak tertarik untuk berkomitmen dengan orang lain," jawabnya. Kemudian dia balik bertanya, "Enggak ada angin, enggak ada hujan, kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal yang seperti itu padaku?"

"Ingin tahu saja."

Hoseok mungkin memang orang yang seperti ini.

Aku belum pernah menginjakkan kaki di kompleks Seni Rupa sama sekali. Rasanya seperti memasuki dunia lain. Orang-orangnya begitu cuek, bahkan kulihat ada yang hanya mengenakan celana pendek dan sandal. Hoseok berpakaian rapi dan gaya, sehingga menarik perhatian beberapa perempuan yang berpapasan dengan kami. Aku yang tidak percaya diri ini hanya berjalan di belakangnya; berbelok ketika dia berbelok, berhenti ketika dia berhenti.

Sewaktu kami memasuki area belakang, Hoseok disambut oleh teman-temannya. Dia mengenalkan aku pada mereka, tetapi reaksi yang kudapat tidak terlalu bagus. Mungkin karena aku kelihatan seperti seseorang yang tidak asyik. Aku terima saja karena aku tahu kalau aku tidak bisa seperti Hoseok yang begitu ceria, ramah, dan mudah disukai.

"Enggak masuk, lo! Bodoh kamu!"

Perhatianku teralih pada anak-anak lelaki yang sedang mengejek dan memukuli temannya, ketika kudengar ledak tawa dari suara yang mirip Jimin.

Lelaki yang tertawa itu rambutnya pirang. O, dia benar Jimin! Senyumku mengembang, tetapi dalam sekejap luntur ketika dia melepas jaketnya dan menyisakan kaos oblong tanpa lengan. Dia mengambil bola yang menggelinding, kemudian berdiri di depan ring dan bersiap untuk melempar. Teman-temannya menyoraki. Yang duduk di tribun ikut-ikutan.

Hoseok menyenggol lenganku seraya berujar, "Katanya dia itu populer di kalangan cewek-cewek, lo. Tetapi, banyak juga yang enggak suka karena penampilannya. Aku pun enggak tahu, sih, orangnya seperti apa. Enggak kelihatan dia itu seorang berengsek atau bukan. Ah, baiklah, aku bertaruh dia berengsek. Lihatlah senyumnya yang manis itu. Sungguh memikat. Tetapi, aku juga mau bertato seperti dirinya. Kalau ayahku bukan guru, dia pasti mengizinkan aku untuk mencorat-coret tubuhku dengan gambar-gambar yang keren."

Kalimat-kalimat Hoseok masuk ke telinga, bercampur dengan rasa yang tidak keru-keruan dalam dadaku. Aku benar-benar sedang melihat Jimin dalam bentuk yang tidak pernah kukira bisa seperti itu. Ketika dia membalik badan, aku bisa melihat gambar-gambar di punggungnya yang tampak dari balik kaosnya yang tipis. Tubuhnya … penuh tato.

Aku tidak peduli bolanya akan masuk atau tidak. Pikiranku mendadak kusut seperti kaset rusak. Aku terganggu. Perutku jadi sakit.

"Hoseok, aku mau kembali saja."

"Lo, kenapa?"

Aku benar-benar meninggalkannya di situ dan pergi tanpa menjelaskan apa-apa.

.

.

The Fiends in My Dreams

.

.

Aku berhenti melewati jalan yang biasa kulalui untuk sampai ke tempat kuliahku setelah mengetahui fakta tentang itu. Aku merasa takut dan kecewa. Kupikir berjalan memutar—meski cukup jauh—tidaklah mengapa daripada aku harus berpapasan dengan Jimin. Akan tetapi, seperti memang sudah takdirnya bagi kami untuk bertemu lagi, satu bulan kemudian, di suatu sore yang mendung, aku melihatnya berdiri di pintu keluar Ilmu Komunikasi, dan dia pun langsung menghampiri ketika menemukan aku di antara keramaian.

Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Itu sebatang cokelat. Aku tidak mengambil cokelat yang dia sodorkan. Lalu dia pun mendengkus. Hari itu dia mengenakan turtleneck hitam yang mencekik leher. Gelapnya sangat kontras dengan rambutnya yang pirang.

"Apakah kamu keberatan kalau aku mengajakmu untuk duduk di suatu tempat?"

Aku ingin pergi, tetapi tatapan Jimin memerangkapku.

"Kenapa, memangnya?"

"Em … ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"Kenapa enggak di sini saja?"

"Aku kurang suka suasana yang seperti ini."

Dengan setengah hati, aku pun mengikutinya walau entah dia mau membawaku ke mana. Perasaanku tak enak saat itu. Aku hanya bisa menunduk sepanjang jalan.

"Memangnya kamu mau membicarakan apa denganku?"

Dia tidak menjawab pertanyaan itu sampai langkahnya terhenti karena seekor kucing abu-abu yang melintas di depan kami. Begitu mengangkat kepala, aku baru sadar kalau kami telah sampai di tempat di mana kami biasanya bersapaan setiap pagi. Kucing abu-abu itu hilang entah ke mana. Jejaknya tak kelihatan di tanah. Ia seperti angin, ada, lalu lenyap begitu saja. Sesuatu mulai menjalar di dadaku. Rasanya sakit dan mengesalkan.

Jimin membalik badan tanpa berkomentar apa-apa tentang kucing itu. Sebelum berbicara, dia menghela napas yang begitu panjang.

"Terima cokelatnya. Aku enggak bisa terus-menerus menggenggamnya seperti ini."

"Kenapa?"

"Tanganku panas, seperti anjing. Jadi daripada ia meleleh dalam genggamanku, lebih baik kau terima saja. Lalu kaumakanlah ia."

Aku diam saja. Mungkin Jimin lelah menunggu sehingga dia melempar cokelatnya ke tong sampah. Itulah kali pertama aku melihat seraut kecewa yang begitu kentara di wajahnya.

"Aku melihatmu waktu itu, di lapangan basket. Mungkin aku terlalu berlebihan, tetapi … aku merasa kalau kamu menghindari aku."

Aku menunduk; tidak bisa mengelak, karena memang benar apa yang dia tuduhkan itu.

"Kenapa? Apa karena … tato-tato di tubuhku ini?"

Kugigit bibir, menahan getar. Kudengar Jimin mendengkus.

"Kalau kamu pikir aku adalah seorang tukang bikin onar, atau anggota geng berandalan, kau salah. Tato-tato ini terukir di tubuhku atas alasan estetika semata. Lihatlah," katanya, sembari menggulung lengan bajunya sampai tato berbentuk bebungaan itu kelihatan. "Aku juga bukan orang yang punya krisis eksistensial dan merasa perlu menggambari tubuhku dengan tato untuk menunjukkan bahwa aku ada, lo. Enggak. Enggak seperti itu. Aku enggak butuh pengakuan siapa-siapa dengan ini. Kautahu, lah, maksudku. Kamu suka, lalu kamu menginginkannya untuk kamu miliki. Dalam kasus ini, aku ingin mengabadikan mereka di sini. Itu saja," tutur Jimin sembari memeluk dirinya sendiri.

Dari kata-katanya, tiada sirat kebohongan. Entah mengapa dia kelihatan begitu menyedihkan. Akan tetapi, aku melihat suatu bentuk keindahan dalam kesepian yang tergambar dari gestur itu.

"Aku senang berteman denganmu. Tetapi, jika memang kamu ingin berhenti menjadi temanku karena aku yang seperti ini, enggak apa-apa, kok. Hanya saja, aku agak sedih. Begitu, deh, pokoknya."

Aku merasa malu ketika dia secara blakblakan mengoreksi pola pikirku yang begitu dangkal dan sempit. Aku telah salah menilai seseorang hanya lewat penampilannya.

Darinyalah aku mendapatkan penglihatan yang lebih luas tentang keindahan. Ternyata wujud keindahan itu banyak. Manusialah yang mengelompokkan mereka dan menyepakati mana yang bisa disebut layak mana yang tidak.

Waktu itu aku baru meminta maaf pada Jimin setelah kami saling mendiamkan selama kurang lebih lima belas menit. Aku jujur padanya mengenai ketakutan dan ketidaktahuanku terhadap banyak hal di dunia, salah satunya orang bertato.

Kemudian, dia bertanya tentang seperti apa kehidupanku sehari-hari. Kuceritakan saja tentang aku yang tidak gaya, tidak populer, tidak punya banyak teman, dan tidak punya hobi ini. Setelah mendengar ceritaku yang membosankan, dia menguap, dan dengan senyumnya yang tipis, dia mengajakku berkenalan untuk yang kedua kali.

"Ya, sudah, deh. Ayo, jabat tanganku. Aku Park Jimin, 21 tahun, mahasiswa Seni Rupa Murni tingkat tiga yang masih enggak tahu mau memutuskan untuk jadi apa di masa depan. Senang berkenalan denganmu, wahai Tuan Puteri dari antah-berantah."

Aku menjabat tangannya. Perkenalan kedua ini terasa menggelikan sehingga aku melepaskan tawa yang puas. Kami duduk di bangku itu dan Jimin membelikanku kopi panas. Aku memegang papercup-nya sembari melihat ke langit yang makin gelap. Aku baru ingat kalau aku tak bawa payung.

"Yoongi."

"Iya?"

"Kurasa aku suka padamu."

Aku tercenung, kemudian hanya bisa meneguk ludah. Jimin menertawakan itu.

"Kok, kaget? Apakah kamu belum pernah ditembak orang sebelumnya? Kenapa mukamu mengerut begitu, sih?"

"Aku belum pernah ditembak orang … makanya kaget."

"Padahal kupikir banyak yang bakal menembakmu, lo."

"Enggak."

Aku meneguk kopiku dengan canggung. Rasanya susah untuk ditelan. Seperti ada sesuatu yang menyekat kerongkongan, tetapi tidak tahu apa.

"Jadi, apakah aku boleh menyukaimu? Kalau enggak—"

"Jimin." Aku menyela. Kemudian aku menatap lurus ke kedua matanya. Dengan segala keberanian yang kupunya, aku berkata, "Kalau kamu memang suka aku, apa kamu mau jadi pacarku?"

Gerimis mulai turun. Kami menengadah bersama untuk melihat titik-titik yang berjatuhan dari awan. Dalam sekejap, hujan menjadi deras. Jimin menggandeng tanganku dan buru-buru membawaku pergi ke tempat yang berkanopi. Sambil lari, dia berseru, "Apa kamu gila?! Tentu saja aku mau!"

.

.

The Fiends in My Dreams

.

.

Sejuk sehabis hujan tidaklah selalu ada. Kenyataannya, sore itu udara kembali menghangat dan dalam sekejap menjadi panas seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. September mempermainkan kami. Ini bulan berhujan yang penuh dengan omong kosong.

Jimin yang bertelanjang dada itu sedang melukis. Kaus oblong putih tipisnya tergeletak di lantai dan menjadi pengganti kain bal. Dia mengelap tangannya yang kotor ke situ, seperti tidak peduli kalau kausnya bakal susah dicuci. Noda dari saus dan kecap saja sulit dicuci sampai benar-benar bersih, apalagi cat; kalau catnya dibiarkan selama berhari-hari sampai kering berkerak. Suatu kali aku pernah melihatnya berkuliah dengan kaus butut yang ketempelan kerak cat, dan tampaknya dia tidak masalah dengan itu.

Dari tempatku berbaring, aku dapat melihat tato yang terukir di punggung dan lengannya secara keseluruhan. Bentuk mereka beraneka ragam, tetapi tampak seperti satu kesatuan yang bila dipisah tidak lagi menarik. Misalnya saja kata illecebra dan arcanus yang masing-masing tertulis di atas gambar sayap di punggungnya, atau juga kata young dan forever yang dikitari bebungaan bersulur duri di lengan kanan dan kirinya. Bagiku mereka tidak akan jadi apa-apa kalau berdiri sendiri, atau juga kalau mereka berkumpul dengan sesamanya; tulisan dengan tulisan, gambar dengan gambar. Mereka kelihatan indah karena mereka bersatu terlepas dari jenisnya yang berbeda. Di tubuh itu, mereka membentuk suatu pesona magis yang sempurna.

Aku telah menontonnya melukis selama kurang lebih empat jam. Terhitung sudah dua kali Jimin bertanya apakah aku mengantuk atau tidak.

Aku tidak tahu alasannya apa, tetapi secara tiba-tiba dia meletakkan kuas dan paletnya, kemudian pelan-pelan menoleh ke arahku. Kulihat kulitnya terkena sorot matahari sore dari jendela. Rambutnya yang pirang pucat juga jadi kekuningan gara-gara cahaya itu. Rambut-rambut jagung yang tipis dan pendek mencuat-cuat dari kepalanya. Dia seperti dandelion. Hanya saja aku tidak akan meniupnya. Nanti dia lenyap.

Hujan benar-benar tak lagi berbekas. Jimin mengecap-ngecap. Aku mungkin saja sedang berada dalam keadaan setengah sadar saat itu, sebab aku tidak tahu kalau dia mengatakan sesuatu sampai kulihat alisnya yang menukik.

"Hei, kamu keberatan enggak kalau kuminta buatkan teh?" tanyanya merepetisi. "Ya, ampun. Kamu mengantuk, iya, 'kan?"

"Enggak, kok," sargahku.

Aku bangun, kemudian berjalan malas ke tempat di mana dia duduk. Kursi kayu kecil itu pendek dan sempit. Tidak semua bagian pantatnya terwadahi. Aku heran kenapa dia betah duduk di situ selama berjam-jam. Apa pantatnya tidak gepeng?

Kulihat lukisannya yang kurasa belum jadi, tetapi menurut dia sudah. Dari kejauhan aku memang dapat menangkap sebentuk bebungaan, rerumputan, dan lumut yang tumbuh liar di sebuah ruangan yang terang, tetapi setelah didekati dan ditelisik, ternyata mereka tidak benar-benar realistik. Objeknya tidak detail, cenderung kabur. Tidak ada garis tegas.

Jimin pernah bilang padaku kalau gaya seperti ini namanya impresionisme, tetapi dia juga tidak mau melabeli lukisannya dengan nama-nama seperti itu. Katanya, ada ekspektasi yang melekat pada sebuah nama, dan belum tentu dia dapat memenuhinya jika nama itu telah disebut. Makanya, dia lebih percaya bahwa dirinya adalah seorang seniman yang tidak punya aliran.

"Kotor, nih," ucap Jimin sambil menunjukkan tangannya padaku.

"Kamu enggak mau istirahat?"

"Mau, makanya aku minta buatkan teh."

"Kamu terlalu malas untuk mencuci tangan dan membuat teh sendiri."

"Tadi, 'kan, kutanya, kamu keberatan, enggak? Kalau keberatan, ya, sudah, jangan."

Sambil tertawa, aku menggenggam rambutnya. Jimin hampir saja membelai pipiku, tetapi aku terlebih dahulu menegakkan badan. Dia sendiri lupa kalau tangannya kotor.

"Kamu tiduran dulu sana, selagi aku membuat teh. Kasihan pantatmu."

"Kok, pantatku?"

Sambil berjalan, aku melihat ke belakang untuk memastikan apakah dia meninggalkan kursi mini itu atau tidak.

"Tolong beri gula, tetapi jangan terlalu banyak, ya!" serunya sambil membanting diri dan bersandar punggung di sofa.

Dia menatap tangannya sendiri, dan kelihatan seperti punya niat untuk mengusap mukanya, tetapi tidak jadi. Pemandangan itu cukup lucu untuk ditertawakan. Hanya saja aku memilih untuk menyimpannya dalam senyum.

Aku berhenti di depan rak piring, mencari gelas. Rupanya tidak ada gelas bersih yang tersisa di situ. Semua gelas yang dia punya berada di wastafel bersama piring dan mangkuk yang bertumpuk. Mereka kotor, belum dicuci.

Jimin adalah bukti bahwa seniman itu cuek bukan hanya sekadar stereotipe. Dia benar-benar cuek pada banyak aspek dalam kehidupannya. Contohnya adalah pakaian dan alat makan. Barangkali dia tidak akan protes kalau harus hidup bersama laba-laba dan serangga. Sungguh lain dengan aku yang terbiasa dengan segala keteraturan. Aku bakal risi kalau menemukan sesuatu yang buatku tidak rapi.

Aku lalu ngomel padanya sebelum memasak air. Yang kudengar hanya kekehnya yang garing.

Kugulung lengan kemejaku sampai ke siku, kemudian aku mulai memilah gelas yang bakal paling mudah dicuci. Ada dua yang sepertinya sudah sangat lama teronggok di situ. Satu berkerak kopi hitam, satunya lengket sampai-sampai kantung teh menempel begitu erat di dinding bagian dalam gelasnya. Sendok-sendoknya masih selamat, tidak teralu mengkhawatirkan. Aku berniat untuk mencuci yang kubutuhkan saja. Piringnya kubiarkan.

Kudengar musik yang samar-samar sampai ke telinga. Ternyata Jimin memutar radio. Dia tidak sedang duduk di sofa melainkan berdiri menghadap jendela. Jimin mendorong daun jendela sampai semilir angin masuk lewat celahnya. Matanya terpejam. Dia menjadi oranye. Kupikir dia mungkin saja sedang menikmati kelelahannya, atau justru sedang memikirkan sesuatu yang entah apa.

Lukisan yang dia buat hari itu sebetulnya pernah dia kerjakan dua bulan lalu, tetapi, katanya, karena tugas dan lainnya—termasuk mood—dia tidak menuntaskannya. Barulah ketika aku berkunjung ke apartemennya di hari berhujan itu, dia mendapat ilham untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Kata Jimin, aku bisa melakukan apa saja yang kumau selagi dia melukis. Entah itu mendengarkan radio, menonton teve, membaca buku, atau ikut melukis. Namun, aku tidak memilih kesemuanya. Aku lebih memilih untuk duduk di sofanya; memandangi bagian belakang kepalanya, punggungnya, juga jari-jari gemuknya yang sesekali menggantikan kuas untuk menyapukan cat di kanvas. Meski aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, tetapi aku bisa merasakan bahwa dia sangat serius.

Ada yang bilang bahwa seniman tidak suka diganggu bila mereka sedang bekerja. Bahkan percakapan sederhana dapat merusak intimasi mereka dengan lukisan yang sedang mereka buat. Maka aku diam, meski itu berarti aku harus diabaikan. Dan setelah lukisannya selesai, dia juga masih tidak banyak bicara kepadaku.

Teh yang dia minta kusuguhkan sepuluh menit kemudian. Aku juga membuat segelas untukku. Orang mungkin menganggap kami aneh karena minum teh panas di hari yang panas pula. Namun, aku suka melakukannya. Aku terbiasa melakukan ini di rumah; mencontoh dari keluargaku. Jimin ketularan setelah dia mengenal aku. Sebelumnya, dia lebih suka minum kola atau bir dingin untuk menghilangkan dahaga.

"Kamu masih belum mau cuci tangan?"

"Aku enggak bakal dengan sengaja menempelkan jempolku ke bagian yang tersentuh bibir."

Aku memicing.

"Ayo, lah," bujuknya.

Matanya yang suntuk itu tertutup dan menjadi segaris saja ketika dia tersenyum. Dia tahu aku tidak yakin.

Kadang-kadang aku merasa aneh karena Jimin hampir selalu bisa membaca aku walau hanya dari gelagat. Misalnya saja ketika aku banyak mengedip, memicing, mengerling, mendengkus, menatap sepatu, mengadu-adukan kuku, atau juga mencukil-cukil makanan. Dia tahu apa yang kupikirkan dan kurasakan saat itu.

"Maaf, ya, kalau aku membuatmu bosan. Kamu kemari untuk menghabiskan waktu bersamaku, tetapi malah kuabaikan begitu," sesalnya. "Kautahu, lah, kalau seorang seniman sedang punya ide, dia akan gelisah seperti orang kebelet kencing. Harus dituntaskan segera."

"Enggak apa-apa."

Aku mengatakan itu sembari memandangi rambutnya yang riap-riapan.

"Omong-omong, kenapa kamu melukis rumah bunga itu? Maknanya apa?"

"Enggak ada alasan khusus, ingin saja. Enggak semua hal juga mesti dimaknai."

"Kamu bukan filosofis, ya?"

Dia mengedikkan badan. Ketika kutanya makna dari lukisan-lukisan lain yang tertumpuk di sudut ruangan, yang masing-masingnya begitu apik terbungkus koran, dia hanya memberiku senyum yang kering. Kupikir dia memang tidak mau membicarakannya. Bagi seseorang yang tidak mengerti akan seni seperti aku, jawabannya itu justru meninggalkan rasa penasaran yang lebih besar.

"Nanti kuantar pulang saja, ya? Takut hujan lagi," katanya. Dia buru-buru menambahkan, "Tenang saja, aku bakal berhenti di persimpangan sebelum rumahmu, jadi orangtuamu enggak bakal tahu."

"Kamu seperti sedang mengusirku sekarang."

"Enggak seperti itu, Sayang. Aku malah ingin kamu menemaniku makan malam di sini sebelum pulang."

Waktu itu aku masih belum berani untuk mengatakan pada Jimin bahwa aku menginginkan sebuah perubahan. Lima bulan berpacaran, Jimin tetap setia untuk mengingatkanku pulang sebelum terlambat. Kami belum pernah melakukan apa-apa. Maksudku, kami belum pernah bercumbu seperti anak-anak muda di film-film. Aku sempat berpikir bahwa mungkin Jimin tidak tertarik untuk melakukan hal semacam itu; meski dengan pacarnya sekalipun. Akan tetapi, dia yang tiap-tiap memandangku tanpa kata itu membuatku ingin mengetahui apakah dia memang benar seperti yang aku kira, atau justru tidak.

.

.

The Fiends in My Dreams

.

.

Akhir Desember, tepatnya tanggal 31, kira-kira jam 9 malam, kami menyimpang setelah membeli kopi karamel. Jimin bilang kopi itu terlalu manis di lidahnya, jadi dia tidak meminumnya sampai habis. Tiga perempatnya masih tersisa, tetapi Jimin tampak tidak lagi mau memedulikannya. Dia menaruh papercup itu di atas dashboard, kemudian memutar radio.

Kami sengaja memilih tempat itu karena ia berada di titik yang cukup tinggi dan dari situ lanskap kota kelihatan dengan jelas. Tengah malam nanti langit akan dipenuhi kembang api dari berbagai penjuru. Kami berniat untuk menontonnya.

Jimin sengaja membawa kembang api dan pemantik dalam tasnya supaya kami bisa ikut meramaikan malam pergantian tahun. Aku bertanya padanya apakah dia diam-diam suka merokok, karena kulihat ada sebungkus rokok juga di situ.

"Iya, tapi jarang banget," jawabnya santai.

Aku memang belum pernah melihatnya merokok di depanku, dan kalau aku berdekatan dengannya, belum pernah tercium bau rokok dari mulut atau bajunya. Mungkin dia benar-benar jarang merokok sampai-sampai keabsenannya membuat jejak-jejak rokok yang khas itu menghilang sama sekali.

Jimin menyapu anak-anak rambutnya yang berantakan karena terpaan angin yang masuk lewat jendela. Kesiurnya kedengaran di telinga. Dia merangkulku, kemudian menarik aku supaya bisa bersandar di pundaknya. Setelah itu, jari-jarinya dibenamkan di rambutku. Kaca dinaikkan. Anginnya diganti AC.

"Kamu bilang apa, sih, pada orangtuamu sampai boleh kelayapan di malam tahun baru begini?"

"Aku bilang kalau aku akan berkencan dengan pacarku."

Jimin menunjukkan mimik kaget yang dibuat-buat. "Hah? Apakah mereka akan membunuhku?"

"Enggak, lah," kataku sembari mencubit lengannya. "Aku bohong. Kukatakan pada mereka kalau aku akan pergi ke tempat sepupuku karena aku diminta untuk menemaninya merayakan malam tahun baru. Dia sendirian di kota ini. Aku membayarnya dengan uang supaya dia mau berbohong pada orangtuaku. Mereka percaya karena keluarganya termasuk kerabat yang paling akrab dengan kami."

"Serius?"

"Hu-um."

"Aku tak mengira kalau kau sekeren itu. Sudah pandai jadi tukang ngibul, ya, sekarang?"

"Mungkin kadar keculunanku sudah berkurang sejak aku bertemu denganmu."

"Aku enggak tahu harus merasa senang atau sedih, nih!"

Kelap-kelip bintang dan lampu kota Murias tidak lantas membuat penerangan menjadi lebih layak. Ada satu lampu jalan, tetapi itu agak jauh dari tempat mobil Jimin terparkir. Jadi di jalanan itu hanya ada mobil yang kami tumpangi, dan kekosongan. Aku memikirkan soal kenapa orang lain tidak memilih tempat ini untuk menonton pesta kembang api. Akan tetapi, mungkin saja mereka memang punya pilihan yang lebih bagus.

Entah bagaimana, radio FM yang sedari tadi anteng-anteng saja tiba-tiba menjadi buruk suaranya. Jimin memutar tombol untuk mengganti stasiun radio. Dia terus melakukan itu selama kurang lebih lima menit.

"Stop, stop."

Aku mengambil tangannya supaya dia berhenti. Katanya dari kesemua yang sedang diputar saat itu, tidak ada lagu yang membuatnya senang, jadi dia tidak henti-hentinya mencari yang cocok.

"Selera musikmu agak susah, ya?"

"Memang."

Kugamit jari-jari yang pendek-pendek dan gemuk itu. Jimin mengekeh, kemudian membalasku dengan usapan di kepala.

"Kita putar kaset saja, deh."

Dia mengulurkan tangannya untuk meraih tas lain yang ada di belakang kursi kemudi. Isinya kaset semua. Kemudian dia memilih kaset Lou Reed. Katanya ada satu lagu favoritnya di side B, yaitu; Walk On The Wild Side. Aku pernah mendengarkan lagu Lou Reed yang itu dan aku tidak terlalu suka. Namun, aku tidak protes. Sebab aku merasa, kadang-kadang kita memang perlu menahan ego supaya orang lain bahagia. Dan, dengan memutar kaset itu, senyum Jimin mengembang.

Aku bertanya, "Apa resolusimu untuk tahun 1975 yang akan datang dalam beberapa jam ke depan ini?"

Dia mendengung sejenak, sambil menggosok-gosok dagunya dengan telunjuk dan ibu jari.

"Entah. Mungkin lebih kepada menikmati hidup. Jujur saja aku bukan seseorang yang punya konsep atau rencana hidup yang jelas dan terperinci. Intinya, aku hanya ingin hidup bebas dan bahagia; menikmati hal-hal yang kusuka. Terkadang aku melukis terus-terusan sampai seluruh tubuhku sakit, karena aku merasa kalau semenit ke depan aku enggak tahu apa yang bakal terjadi. Bisa saja aku tiba-tiba lumpuh, atau tiba-tiba mati. Maka dari itu, aku memanfaatkan waktu yang kupunya untuk melakukan segala yang membikin aku senang," tuturnya. "Dan, kalau bisa, aku ingin kamu ada di momen-momen itu … bersamaku."

Sehabis mengatakan itu, dia berdeham dua kali. Mulanya dia tidak mau menatapku, tetapi setelah kupegang tangannya, dia menoleh. Aku menatap matanya yang jernih. Lampu dalam mobil membuat rambut pirangnya bercahaya. Pelan-pelan, aku memegang pundaknya, kemudian mengecup bibirnya. Dan, entah mengapa, ternyata dia menerimanya begitu saja.

Setelah aku memberinya kecupan, dia berbisik, "Je t'aime, ma princesse. Je t'aime vraiment." (Aku mencintaimu, my princess. Aku sangat mencintaimu.)

"Kamu bisa bahasa perancis?"

"Non, pas vraiment." (Tidak juga. )

Kami tertawa sebentar, kemudian berciuman. Aku memegang pipinya, sembari mengganyang bibirnya yang tebal dan kenyal. Namun, saat tengah menikmati candu yang seperti itu, aku terjengit karena kaget. Jimin baru saja meremas dada bagian kiriku. Ciuman kami terlepas. Kami saling menatap selama beberapa saat dan kulihat matanya yang berkedip-kedip cepat. Dia mungkin menganggap bahwa tindakannya sudah berlebihan, tetapi, sebetulnya aku tak keberatan. Aku hanya merasa terkejut karena inilah kali pertama Jimin menyentuh tubuhku di bagian yang sensitif.

"Enggak apa-apa," kataku padanya.

Jimin terlihat tidak yakin. Aku tidak mau percumbuan ini berakhir canggung gara-gara reaksiku sendiri. Maka kusingkirkan perasaan itu dengan cara menarik kerah kausnya dan melahap bibirnya duluan. Aku mau membuat Jimin tahu bahwa aku juga menginginkan ini.

Kubelit lidahnya, kuperas salivanya, kugenggam rambutnya kuat-kuat. Kurasakan sunggingan senyumnya ketika bibir kami masih saling menempel. Dia berubah menjadi lebih rileks. Kecanggungan itu sudah sirna terganti nafsu yang perlahan-lahan mulai membual dari dalam diri kami. Tangannya merayap lagi, sebelah ke belakang punggungku, dan sebelahnya lagi kembali ke dada kiriku yang tadi sempat dia remas. Detak jantungku menjadi cepat karena adrenalin. Namun, aku tidak berniat untuk menyembunyikannya. Aku mau Jimin merasakannya juga dengan tangan itu.

Ketika kami mengambil jeda untuk bernapas, Jimin menceletuk, "Apa kamu enggak sakit punggung?"

"Apa kamu mau melanjutkannya di kursi belakang?"

Matanya membulat. "O, oke. Tawaran bagus."

Kami pun pindah ke kursi belakang. Jimin sempat mengekeh sebentar sebelum melumat bibirku. Bagian belakang kepalaku dipegangi sehingga ketika dorongannya membuatku mesti mundur, aku tidak sampai terantuk ke kaca jendela mobil. Saat aku merebah, dan dia membungkuk di atasku, kupegangi pundaknya, dan secara naluriah aku menghimpit badan itu dengan kedua kakiku. Bibir Jimin pindah ke leherku kemudian. Dia menyesap-nyesap, menggigit-gigit, mengecupinya bolak-balik sampai aku merasa kalau kulit leherku penuh oleh air liurnya yang basah dan hangat.

Aku memindahkan tanganku ke dadanya, untuk meraba bagian yang selalu kelihatan kokoh dan padat itu. Kemudian aku berpindah ke perutnya yang juga kencang. Lalu satu tanganku melingkar di pinggangnya, dan satunya berhenti di bagian tengah selangkangannya. Aku menemukan benda yang pejal, dan itu membuatku takjub, sebab, ya, ampun, ternyata dugaanku adalah salah. Dia mungkin saja menahan diri dengan bersikap lembut dan sopan di depanku selama ini. Pertahananya begitu hebat. Akan tetapi, sedikit banyak aku merasa bersalah karena aku mungkin saja telah membuatnya menderita. Aku merasa bersalah karena tidak pernah bergerak duluan sejak awal.

Kupijat-pijat benda itu dan kudengar Jimin mengeluarkan suara seperti geraman. Ketika bendanya kuremas agak keras, Jimin berhenti mengecupi leherku.

"Aw, Yoongi. Apa itu tadi?"

"Aku hanya penasaran. Aku belum pernah meremas kemaluan orang lain seumur hidupku."

"Aduh, kamu ini."

Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Lantas aku berinisiatif untuk mengintip benda itu dengan cara membuka kancing celananya dan menarik turun ritsletingnya. Sambil melakukan itu, aku tidak memutus pandanganku dari mata Jimin. Aku baru mengalihkannya ketika ritsleting yang kutarik sudah mentok di ujung. Kemudian aku baru sadar kalau aku baru saja melakukan suatu hal yang cukup berani.

"Apa yang mau kamu lakukan, Yoongi?"

Ketika kutatap lagi, kulihat ada semburat merah di pipinya. Sudah tanggung kalau mau mundur. Kupikir tak apa kalau aku jadi binal sekalian malam itu.

"Apakah kamu akan merasa senang kalau aku menyedot benda itu? Atau kamu lebih senang kalau kamu memasukkan benda itu ke dalam … ah, aku malu mengatakannya."

"Kamu benar-benar lucu. Kamu ini sebetulnya setan yang menjelma menjadi seorang mahasiswa kikuk dari jurusan Ilmu Komunikasi, 'kan?"

"Aku belum pernah melakukan ini."

"Melakukan apa? Ini?" tanyanya sembari menarik pinggangku, sampai-sampai pantatku bertubrukan dengan paha dan kemaluannya yang pejal itu.

Aku tidak sengaja mengeluarkan suara nista. Jimin mendecak.

"Kamu membuatku nervous."

"Baiklah, aku akan bersikap biasa saja."

Aku mengatakan itu dengan yakin, padahal aku sendiri tidak yakin bersikap biasa saja itu yang bagaimana.

"Apa benar kamu menginginkan ini?"

Ada nada khawatir dari pertanyaannya. Aku si culun yang tak pernah sekalipun berhubungan seksual ini memang sepertinya tampak begitu mengkhawatirkan di mata Jimin. Akan tetapi, aku telah memantapkan hatiku. Seperti yang dia katakan sebelumnya, bahwa kita tidak tahu apa yang bakal terjadi semenit ke depan; bisa saja tiba-tiba lumpuh, atau tiba-tiba mati.

"Iya. Jika besok aku dibunuh orangtuaku, aku akan menghabiskan malam ini dengan bersenang-senang bersamamu. Supaya tidak ada penyesalan."

Kata-kataku disambut tawa. Dia memegangi kepalaku dengan kedua tangannya, kemudian menghujaniku dengan kecupan; di dahi, di hidung, di kelopak mata, di pipi, terakhir di bibir. Aku sengaja balik memegangi kepalanya supaya kecupan itu tak putus. Namun, dengan sangat menyesal aku harus mengakhirinya duluan karena aku tidak begitu pandai menahan napas terlalu lama.

"Aku akan membantumu menanggalkan pakaian."

"Baik sekali."

Jimin mencecih, tetapi tertawa kemudian. Dia betul-betul membantuku melepas sepatu, kaos kaki, jaket, kemeja, dan celanaku, sehingga tidak ada sehelai benangpun yang menempel di kulit. Setelah telanjang, aku memeluk diriku sendiri; mendadak sadar kalau mungkin Jimin tidak akan senang melihat bentuk badanku yang tidak ideal seperti ini.

"Kamu putih banget."

Begitulah komentarnya. Aku agak lega karena setidaknya masih ada poin bagus yang bisa dia terima.

"Selanjutnya kita mesti ngapain?"

"Kemari."

Dia memintaku menggeser duduk, lebih merapat. Aku mengalungkan tanganku di lehernya, dan mungkin Jimin sengaja untuk merebah sehingga separuh badanku jatuh di atasnya.

"Sungguh hangat."

Dia berkata seperti itu seraya memeluk pinggangku dan mengecup pundakku agak lama. Rambutnya menggelitik. Aku menggeliat karena geli. Aku bangun hanya untuk melihat ekspresi wajahnya. Matanya masih sama mengantuk seperti biasa, yang sebelah bahkan lebih parah; hampir tertutup. Kendati demikian, aku tetap menyukainya. Ada sesuatu dari kombinasi mata yang asimetris dan senyumnya yang lembut itu, yang membuatku ingin berlama-lama memandanginya.

"Kita enggak bakal berhenti di sini, bukan?" tanya Jimin.

"Enggak, lah!"

Aku berani sumpah, aku akan memukulnya kalau sampai semuanya berakhir begitu saja setelah aku telanjang. Maka kukecup bibirnya supaya keintiman yang sempat melonggar itu kembali intens. Kuembuskan napasku di gendang telinganya. Kubisikkan kata-kata yang sekiranya dapat membangkitkan berahinya seperti "Ah, ya, Sayang, ayo cepat …." atau "Ah … engh … sudah enggak sabar …." dan Jimin pun bergidik. Tangannya mulai bergerilya lagi di tubuhku. Kemaluannya yang sempat melunak itu pun kembali menjadi pejal.

"Aduh ... kamu ini memang lucu, Yoongi."

Dia bangun dan menyelipkan tangannya di ketiakku supaya aku bangun juga. Setelah menyuruk ke dadaku dan mengekeh di situ, dia mendorongku mundur sehingga punggungku menyentuh pintu.

"Tekuk kakimu," katanya.

Aku memerosotkan badan, menekuk kaki, sehingga dia bisa melihat kemaluanku dari tempatnya duduk. Jimin membungkuk begitu rendah untuk membuka kakiku dan mengecup perutku. Kemudian bibir itu diseret ke titik yang lain seperti pinggang, pinggul, juga bagian tengah dadaku. Dia membenamkan mukanya di sana selama beberapa detik sebelum kurasakan tangannya yang memegangi kemaluanku. Tangannya hangat sekali. Aku merinding.

"Apa kamu percaya kalau tadinya aku orang jenius yang pontensi otak kanan dan kirinya hampir seimbang? Aku menguasai seni dan sains, tetapi aku memilih untuk meninggalkan sains untuk menggapai kebebasan."

Aku tidak tahu kenapa dia menceritakan tentang masa lalunya ketika dia tengah memberikan sentuhan yang intim kepadaku. Meski begitu, aku berhasil mencapai orgasme pertama karenanya. Dia berkata kalau dia sangat senang bertemu dengan aku yang mau menyambut keabstrakan dirinya yang seperti itu.

"Aku enggak punya pelumas. Pakai ludah saja, deh, ya?"

Selanjutnya dia benar-benar meludah di tangannya. Kemudian jari-jarinya mulai meraba-raba lubang senggamaku. Dia mengusap-usapnya sebelum mencukil-cukil dengan seujung jari.

"Kamu boleh memelukku kalau kamu takut."

Aku benar-benar memeluknya ketika dia membenamkan jari itu ke sana.

"Ah …."

Kupikir itu akan terasa mengerikan, tetapi tubuhku justru menerimanya dengan baik. Bahkan untuk jari yang kedua dan ketiga. Dia mengoyak lubang senggamaku. Rasanya sakit tapi nikmat. Aku terus-terusan mengeluarkan desahan yang pendek-pendek sampai-sampai Jimin tertawa karenanya.

Sebelum aku menggapai puncak, Jimin telah lebih dulu menarik jari-jarinya keluar. Kenikmatan yang tahu-tahu sirna itu membuatku kesal. Aku pun memukul pundaknya.

"Kenapa, sih?!" teriakku.

Dia tidak menanggapinya dengan serius, malah tertawa saja sampai matanya tidak kelihatan.

Ceritanya, aku mau menunjukkan padanya kalau aku betulan bisa marah. Jadi aku bangun, mengangkanginya, dan mendorong dia sampai punggungnya menempel di sandaran kursi. Kemudian aku memerosotkan celana jeans berikut celana dalamnya sampai ke paha. Aku memasukkan penisnya ke dalam lubang senggamaku seraya mendudukkan diri. Ada bunyi becek yang lucu ketika aku mencoba menabrak-nabrakkan pantatku ke pangkuannya. Jimin yang mulanya hanya menyunggingkan senyum remeh lama-lama berubah raut mukanya. Dia mengeluarkan desahan yang parau. Ketika aku mempercepat ritme, dia mulai merapalkan namaku.

"Yoongi … aah! Yoongi …!"

Lalu dengan sengaja aku berhenti menghujam. Kugoyangkan saja pantatku ke kanan dan ke kiri, memutar-mutar, meregang, menjepit, meregang lagi.

"Anjing! Setan! Yoongi!"

Aku mau tertawa ketika Jimin mengumpat seperti itu. Rupanya dia sangat kecewa karena telah kupermainkan. Mungkin saja tadi dia hampir menjemput orgasmenya, tetapi gagal. Aku berpikir bahwa aku tidak boleh membiarkan dia mendapatkan itu cepat-cepat. Aku suka permainan ini. Kupikir jika aku diberi kesempatan menunggang kuda, aku bakal lebih memilih untuk menunggangi Jimin.

"Jangan berhenti!" protesnya.

Karena kasihan, aku pun kembali menumbuk penisnya. Kedua tangan Jimin memegangi pahaku, hampir ke pantat. Aku yang tadinya masih bisa sadar lama-lama mulai terbawa suasana. Kurasakan benda itu mulai membengkak lebih besar di dalam lubangku. Ketika aku mulai goyah, Jimin yang kemudian menegakkan badan dan menopangku dengan pelukannya. Di kursi mobil yang sempit itu, kami sama-sama bergerak untuk mencapai kepuasan.

"Ahhahh … penuh, Jimin … penuh …."

Aku tidak tahu kapan air mani itu ditembakkan, sebab tiba-tiba saja aku merasa kalau lubangku sudah terisi begitu penuh. Mungkin aku melewatkannya. Mungkin aku telah lebih dulu dibawa terbang ke surga sepersekian detik sebelum itu terjadi. Meski air maninya jatuh berceceran, Jimin tak lantas berhenti. Dia masih mengais sisa-sisa orgasme tadi dengan menyodok-nyodokkan batang penisnya secara pelan tetapi konstan ke dalam lubang senggamaku.

Aku menaruh kepala di pundaknya. Kubelai rambut pirangnya yang sudah lepek. Kucium pipinya. Kemudian, kupeluk dia erat-erat.

Kami mengakhirinya dengan gaya misionari, meski agak memaksa karena spasi yang begitu sempit. Tubuh kami sudah banjir peluh. Lubang kemaluanku sudah terkoyak, basah, panas, perih. Jimin mencium keningku tepat sebelum letusan kembang api pertama terdengar. Orang-orang yang tadinya tidur sudah bangun kembali. Yang belum tidur sudah mulai menyiapkan pesta. Aku dan Jimin terengah-engah di dalam mobil yang sempat bergoncang-goncang karena pergumulan kami yang begitu hebat. Mobil itu sudah tidak lagi berbau kopi karamel, melainkan berbau keringat kami, dan air mani yang meleleh dan muncrat ke mana-mana.

Dengan suara yang serak, Jimin berbisik, "Selamat tahun baru 1975."

Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku menangis begitu parah dan lama setelah dia mengatakan itu.

.

.

The Fiends in My Dreams

.

.

Dua bulan kemudian, aku sakit. Saat aku dalam keadaan demam parah, aku bermimpi memelihara kucing lagi untuk yang ketiga kali. Akan tetapi, dalam mimpi ini kucingnya ada banyak. Mereka mirip semua. Dari kesemua kucing itu, hanya satu yang melihatku. Namun, ia melengos setelah aku tahu kalau tatapan itu terarah kepadaku. Kemudian di adegan selanjutnya, tahu-tahu aku membuka pintu dan kucing itu tergeletak di lantai. Kucing yang lain tak terlihat di mana-mana.

Ketika aku belum terpikirkan untuk membeli alat tes kehamilan, aku sudah yakin apa penyebab sakitku. Katanya, memang ada saja hal-hal yang sudah bisa kita yakini bahwa itu adalah benar bahkan sebelum kita dapat membuktikannya. Dan ketika aku benar-benar membuktikan itu dengan dua testpack yang kubeli diam-diam di apotek dekat kampus, aku tidak begitu terkejut.

Inilah hasil perbuatanku dengan Jimin. Mau apa lagi?

Yang aku takutkan saat itu adalah orangtuaku yang tidak tahu-menahu soal aku yang tidak lagi sepolos dan sesuci yang mereka kira. Aku telah diam-diam berpacaran dengan seorang lelaki dan hamil karenanya. Aku hanya takut kalau mereka akan sangat kecewa padaku. Saat itu, aku belum siap menghadapinya, sehingga aku memutuskan untuk terlebih dulu menghubungi Jimin dengan harapan aku dapat menentukan apa yang mesti kulakukan ke depannya setelah berembuk dengan dia.

Jam dua pagi, aku mengenakan jaket, kemudian menyelinap keluar rumah untuk menelepon Jimin menggunakan telepon umum di seberang jalan. Aku memasukkan koin dan menekan nomornya dengan gemetaran. Angin memang membuat hawa tambah dingin, tetapi gemetar tanganku juga berasal dari rasa cemas dan tegang.

Telepon itu diangkat setelah dering yang keenam. Aku menggenggam gagang telepon dengan lebih erat. Ada sedikit kelegaan yang menggelenyar.

"Jimin, ini Yoongi."

"Kenapa kamu meneleponku subuh-subuh begini?"

Aku terdiam sejenak ketika mendengar nada bicaranya yang begitu dingin. Namun, aku berpikir bahwa dia mungkin sedang melukis, atau sedang tidur jadi agak kesal karena telah kuganggu, jadi aku mencoba menerimanya.

"Aku mau mengatakan sesuatu padamu."

"Apa?"

"Aku … hamil," kataku sembari menahan dingin. "Aku harus bagaimana, dong?"

Tidak terdengar apa-apa dari sana selama beberapa saat. Aku menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Dia telah berhasil membuatku takut dan memikirkan jawaban terburuk yang mungkin saja bakal keluar dari mulutnya.

Aku tidak tahu apa yang Jimin pikirkan, tetapi setelah mendesah panjang, dia berkata, "Aku enggak menginginkan bayi dalam perutmu." Lalu dengan ketus dia menambahkan, "Kita putus saja, deh."

Aku bengong. Imaji itu terwujud. Telepon berbunyi tuut, tuut, tuut.[]

.

.

.

The Fiends in My Dreams

SELESAI

.

.

.

.

A/N: The Fiends in My Dreams adalah kulit dari inti cerita yang akan saya sampaikan dalam sebuah project fanbook Jimsu yang akan (dan semoga bisa) tayang dalam waktu dekat. STAY TUNE!