XoXo-XoXo-XoXo

Ethereal Space © Kiriya Arecia

XoXo-XoXo-XoXo

II

"Ini indah sekali."

"Begitu? Aku sering melihatnya, jadi aku merasa terbiasa." Nada tanggapan Hajime menyentuh pendengaran dengan tegas. Ia berdiri dengan tubuh tegap. Tempuran angin pada seragam militernya tidak terasa mengganggu.

"Hehe. Kupikir aku akan senang jika dapat tinggal di tempat seperti ini."

Shun menyusuri pasir putih. Ia mengagumi birunya laut dan langit, luas tak terbatas dan terlihat begitu indah. Ada burung-burung beterbangan, hutan mangrove di kejauhan. Sesuatu yang tidak akan dapat dilihat dari tempat tinggalnya di bulan. Angin bertiup semakin kencang begitu nyata, walau langkah terasa berat, Shun semakin tertarik menantangnya. Dahulu ia hanya bisa membayangkan bagaimana rasa menyentuh air laut, menghirup udara segar bumi. Sekarang, tiap detik hatinya terasa hangat karena perasaan senang.

Gelang komunikasi milik Shun berbunyi beberapa saat kemudian, hanya perlu beberapa detik hingga terdengar seruan Kai dari alat itu, "Kalian harus cepat kembali, ada hal yang harus segera dibahas!"

"Kami akan segera kembali." Hajime mendekat dan menyahut terlebih dahulu, membuat Kai menghela napas lega disertai tanggapan syukur.

"Ayo kembali."

"Sayang sekali. Aku ingin berada di sini lebih lama!"

"Masih ada lain waktu."

Bibir Shun menampilkan lengkungan kurva yang manis, "Ku harap begitu... Aku sangat senang Hajime mau menemaniku berjalan-jalan di sini."

"Itu hanya karena aku harus memastikan kau tidak akan mengabaikan jadwal."

"Oh. Kai pasti mengatakan hal yang tidak penting padamu, karenanya kau yang menemaniku kemari. Benar kan?"

Hajime tidak menjawab dan terus berjalan. Jarak pangkalan tidak terlalu jauh, hanya perlu ditempuh beberapa ratus meter. Karena pangkalan tempat pesawat mereka mendarat berada tidak jauh dari sana.

Shun mempercepat langkah kakinya untuk menyusul, "Yaah, kau tidak harus selalu serius setiap saat. Masih ada waktu untuk menikmati masa-masa tenang ini."

"Kau bisa menikmati situasi semacam ini?"

Hajime memberikan pandangan tidak percaya, masih tidak habis pikir dengan tingkah omega satu ini. Jelas mereka mendapat misi untuk berperang dengan nyawa sebagai taruhannya. Bagaimana bisa itu ditanggapi dengan santai olehnya?

"Ya, aku bisa. Ini situasi terbaik yang bisa aku dapatkan."

Pandangannya begitu lembut ketika mengucapkannya, sehingga beberapa kata tertahan di bibir Hajime. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Shun.

Omega, biasanya berada di tempat paling aman. Menjalani hidup dengan tenang, dan nyaman jika mendapatkan pasangan yang tepat. Tapi sosok tuan muda satu ini, harus turut serta berjuang.

XoXo-XoXo-XoXo

Mereka adalah wajah-wajah baru, namun dapat dipastikan memiliki kemampuan yang diakui. Haru telah menelaah info di tablet miliknya seraya menatap profil perwira yang nanti akan muncul di tempat rapat. Orang-orang yang merupakan kandidat utama dalam tim inti misi memburu Ratu.

Satsuki Aoi, Uzuki Arata, Takamura Shiki, Izumi Shu, Etou Kouki, Fujimura Mamoru, Hazuki You dan pasangan omeganya, Nagatsuki Yoru.

Mereka memiliki orang-orang berkualifikasi memuaskan di bidangnya. Seperti Mamoru yang berada di bidang biomedis, dan Yoru di divisi logistik. Ada juga Mamiya Takaaki dan Kira Ouka, perwakilan dari Mars, yang sebenarnya tidak pada bidang militer, melainkan engineer.

Saat ini, mereka baru bertemu beberapa orang. Masih ada waktu menunggu kedatangan anggota lain sebelum semuanya lengkap berkumpul dalam rapat.

Haru dapat melihat jelas kebahagiaan Shun ketika melihat kemunculan omega lain di antara situasi berat ini. Ia segera menghampirinya, meraih lengannya dengan nada bicara akrab.

Sekarang ia mempertanyakan statusnya, karena terjebak dalam keadaan menikmati kehidupan santai ala Shimotsuki Shun.

"Yoru~ haruskah aku mencoba ini atau yang satunya?"

"Rekomendasiku yang satu ini, Shun-san."

"Oh~ aku akan mencobanya!"

"Haru-san, bagaimana denganmu?"

"Eh? Ah, ada banyak menu baru. Tapi aku suka rasa matcha, kurasa aku akan memesan itu saja."

"Haru, apa yang kau lamunkan?" Shun meletakkan buku menu perlahan, ia menyangga dagu dengan kedua tangannya.

"Bukan apa-apa," Haru menggeleng pelan, kafe yang ia rekomendasikan sebagai destinasi utama ketika berada di bumi menjadi tempat mereka berada sekarang. Cukup ramai, namun suasana damai dapat dinikmati khusus bagi pengunjung di lantai empat. Begitu banyak pemandangan hijau di sekitar mereka. Berbagai tanaman hijau menjalar menghiasi dinding, hingga atap kafe. Dekorasinya telah berubah banyak dari terakhir kali Haru kemari.

Saat ini bisa dikatakan adalah jam bebas bagi mereka. Bagi petugas seperti mereka—tidak termasuk Shun—bisa bersantai dan jalan-jalan seperti ini merupakan saat yang langka. Jika Haru ingat, sudah lama sekali semenjak liburannya dapat dijalani sedamai ini. Hari liburnya biasa berakhir dengan terkapar di kasur dorm atau kasur rumah sakit karena patah tulang. Mumpung sedang berada di bumi dalam keadaan sehat, kali ini ia memiliki waktu untuk mengunjungi rumahnya.

Tapi sebelum itu, ia harus menepati janji untuk menemani dua orang ini. Ia kembali mengecek smartphonenya untuk sekedar mengecek notifikasi setelah mengirimkan pesan pada adiknya pagi tadi. Dia lebih suka menggunakannya dibanding gelang komunikasi.

"Haru, aaa—"

Haru tidak menyadari ketika ia secara refleks membuka mulutnya. Mendapati rasa manis dari krim menyentuh indera perasanya.

Ini cheese cake.

"Bagaimana? Enak?"

"Hmm..." Haru mengangguk. Berusaha mengunyah sebelum menelan objek yang tiba-tiba dia makan.

"Hehe. Haru terlihat lucu~ Yoru, kau juga harus mencobanya."

"Uh, aku ingin menikmati parfait yang aku pesan terlebih dahulu."

Pesanan mereka sudah diantarkan, dan astaga, siapa yang bisa menghabiskan pesanan sebanyak ini? Haru ingat ia hanya memesan matcha, namun begitu tersadar, semua jenis kue yang ada di buku menu memenuhi meja mereka!

"Shun ... kau benar-benar bermaksud untuk menikmati hidup ya...?"

"Oh, kupikir kita bertiga pasti bisa menghabiskannya!"

"Kita...?"

"Haha..." Yoru berkeringat dingin. Itu berarti bahwa dirinya juga harus turut serta.

Setelah ini Haru tidak akan makan cake selama beberapa waktu.

XoXo-XoXo-XoXo

Karena pergi ke hutan tanpa persiapan bukanlah hal yang dapat direkomendasikan bagi pemula terhadap lingkungan bumi. Haru mengajak mereka berdua menuju arboretum terkenal tidak jauh dari perbatasan kota.

"Sudah lama semenjak aku bisa menikmati pemandangan seperti ini." Haru bergumam.

Kebun botani ini tampak seperti dunia dengan tumbuhan yang mekar di musim semi. Indah dan berwarna. Ia merasa kagum pada bumi setelah sekian lama jauh dari tempat asalnya.

"Aku juga," ucap Yoru. "Aku dan You telah menetap di pangkalan Moon selama setengah tahun. Jadi rasanya seperti lupa suasana sejuk seperti ini."

Nagatsuki Yoru, omega ini telah memiliki mark di belakang lehernya. Berarti dia memiliki pasangan alpha yang mengikatnya. Lulus dengan nilai memuaskan di akademi bumi, dan mengikuti pasangannya yang mendapatkan tugas di bulan. Sungguh setia sekali. Sekarang, ia juga ikut serta dalam misi level SSS ini, selain karena Hazuki You turut serta, ia memiliki banyak kecakapan. Salah satunya untuk menemani Shun yang cukup eksentrik.

"Kamu tidak mengunjungi keluargamu?"

"Ehm, besok. Bersama dengan You." Ia berucap malu-malu. Sungkan karena hanya mereka yang berstatus pasangan mate dalam tim utama ini. "Aku sudah bilang pada putriku kalau besok kami akan pulang."

"Oh..."

Hm?

"Putrimu?!" Haru tidak mengetahui detail ini.

Yoru menjelaskan kalau putrinya, Akane sekarang tinggal bersama orang tua You di bumi. Ia bahkan menunjukkan foto-foto gadis kecil manis pada Haru dengan penuh aura bahagia.

Gadis kecil ini sangat mirip dengan Yoru.

Menyadari satu sosok tidak turut campur dalam percakapan. Mereka memperhatikan Shun begitu ceria memperhatikan segala jenis tanaman yang ada.

"Lihat, lihat, ini bunga Jasminum sambac kan? Benar-benar cantik seperti di buku."

"Oh, ini pohon Erythrina caffra!"

"Haru, foto aku di tempat ini!"

"Kita bertiga juga harus mengambil foto bersama di tempat ini!"

"Ini... pohon Prunus serrulata."

"Ya, itu... pohon Sakura."

Shun menggunakan kekuatan spiritualnya untuk merasakan energi alam sekitarnya. Aura tempat ini, sangat bagus.

XoXo-XoXo-XoXo

Dalam perjalanan pulang, Haru sengaja memilih rute berbeda. Melewati area pinggiran hutan walau berarti memutar lebih jauh. Dia pikir Shun akan senang melihat suasana seperti itu. Tanpa di duga, Shun cukup tenang. Begitu tenang hingga Haru merasa ada yang salah. Ia melihat dari kaca atas mobil.

"Shun?"

"Ssst."

Shun meletakkan jari di depan mulutnya. "Kita memiliki senjata?"

"Ya. Tapi hanya beberapa senjata berkekuatan rendah."

Mereka tidak bisa membawa senjata berbahaya dalam keramaian. Lagi pula area ini harusnya cukup aman.

"Kenapa Shun-san?"

"Sesuatu mendekat."

Sepertinya itu bukan hal yang bagus.

"Apa maksudmu? Jangan bilang di tempat ini ada Zerg...?"

Meskipun tempat ini sepi karena merupakan jalanan yang jarang dilewati orang banyak, tidak ada laporan tentang kecelakaan atau bahaya di tempat ini sejauh yang diketahui Haru. Mendengar ucapan Shun, ia segera menghidupkan alat detektor di mobil.

Benar saja, ada objek yang mendekat begitu cepat. Saat melihat ke depan, terlihat laba-laba besar sejenis Solifugae berada di jalur mereka, seakan menunggu untuk ditemui. Haru segera menginjak rem.

Bagaimana mungkin ada monster seperti itu di tempat ini?!

"Yoru, hubungi markas pusat!"

"Baik!" dengan cekatan Yoru segera menghubungi dengan media komunikasi di tangannya.

Semburan benang dari mulut laba-laba menahan gerakan mobil. Mereka terjebak di dalam mobil. Secepat kilat, Yoru melemparkan senjata pada Haru dan Shun. Ia memasukkan beberapa peluru ke dalam pistol di tangannya. Setelah berusaha membuka pintu mobil dengan paksa, mereka segera keluar dan menyadari bahwa laba-laba raksasa mengarah cepat menuju mereka.

Dengan refleks yang bagus, tembakan Yoru mengenai laba-laba untuk memperlambat gerakannya. Namun senjata mereka tidak cukup kuat. Haru berlari dengan cepat seraya mengaktifkan pedang energi, memotong benang-benang yang mengarah pada mereka.

Serangan meluncur menuju Shun, membuat Haru dan Yoru berseru cemas.

"Shun!"

"Shun-san! Gunakan pedangnya!"

Shun segera mengelak dari semburan sang antropoda, namun sang monster masih bermaksud menyerang ke arahnya.

"Eh, bagaimana cara menggunakannya? Aku tidak tahu!"

"Aktifkan dengan kekuatan spiritualmu!"

"Benda ini tidak berfungsi!" Shun terus melarikan diri dari serangan musuh dengan gerak cepat sambil mengguncang senjata di tangannya.

"Bagaimana mungkin benda itu rusak, tadi pagi baik-baik saja!" Yoru berucap dengan nada bingung.

"Kita harus lari."

"Berpencar!"

"Yoru, lari dengan Shun menuju barat. Aku akan ke arah sebaliknya." Titah Haru sambil mengacungkan pedangnya. "Bantuan pasti akan segera tiba. Kita hanya harus bertahan."

"Baik! Ayo Shun-san!" Yoru segera menarik tangan Shun untuk segera berlari mengikutinya.

Meskipun Haru mencoba menarik perhatian sang laba-laba, monster itu tampaknya tertarik pada Shun dan mengejar mereka menuju barat.

"Oh, tidak..." Haru merasa depresi, dan berlari menyusul kearah yang dituju keduanya.

XoXo-XoXo-XoXo

Sebagian hal yang diingat oleh Haru adalah, dirinya terlempar beberapa meter ketika menangkis gerakan tangan laba-laba. Ia ingat Yoru terluka di lengan, dan Shun menggunakan pistol dengan level keakuratan bagus. Namun monster itu terlalu besar untuk ditangani mereka yang memiliki senjata kelas rendah. Siapa duga di bumi, di bagian wilayah aman justru muncul sosok zerg?

Penglihatannya Haru memburam ketika rasanya ia seperti melihat gerakan tangan zerg tertahan beberapa saat ketika nyaris mengarah pada Shun. Kemudian suara pesawat tempur yang tidak asing terdengar di telinganya.

Itu bantuan...

XoXo-XoXo-XoXo

Bantuan datang dari Kai dan Hajime, hanya mereka berdua pada awalnya. Namun dengan senjata yang lengkap. Hajime melawan laba-laba dengan cekatan, dan berhasil melukai dalam beberapa kali serangan. Senjata level tinggi memang mengagumkan. Begitu pula penampilan orang ini.

"Shun!" Kai berseru dan melemparkan sebuah katana—pedang klasik, bermotif indah pada gagangnya. Tidak diduga, ia turut bertarung dan berhasil melukai salah satu kaki laba-laba. Itu pedang kerajaan yang pernah Hajime dengar. Ia tidak menduga katana itu akan dimiliki oleh Shun, karena Shun bukanlah pewaris kerajaan. Tapi ia bertarung dengan baik. Selebihnya, mereka bertiga—termasuk Kai, bekerja sama dengan selaras. Hingga sang Solifugae tidak bisa bergerak lagi.

Memastikan kedua partner jalan-jalannya dalam keadaan baik dan ditangani para medis, Shun terlihat lega setelah berlari menghampiri mereka.

"Kau bertarung dengan baik." Komentar Hajime dari belakangnya.

Mata Shun membulat, percakapan dimulai antara mereka, "Terima kasih pujiannya, Black King. Sebenarnya aku tidak cukup baik dengan benda teknologi tinggi. Aku tidak mengerti kenapa. Mereka selalu berakhir rusak atau tidak berfungsi karena diriku."

"Begitu?"

Mungkin itu sebabnya vending machine waktu itu rusak?

—Juga pedang energi tidak bisa digunakan oleh Shun.

"Karena aku tidak bisa menggunakan senjata milik kalian, dan aku adalah anggota keluarga kerajaan. Pedang ini dititipkan padaku." Shun memainkan pedang itu dengan mudah.

"Meskipun terlihat sederhana, itu pedang yang benar-benar kuat. Pedang energiku patah beberapa kali karenanya." Kai berkacak pinggang. "Aku penasaran ia dibuat dari apa."

Beberapa petugas datang untuk meneliti tubuh sang laba-laba, sedangkan Yoru dan Haru telah ditangani tim medis. Mereka segera berangkat menuju pangkalan bersama tim.

Shun menerawang keluar kaca pesawat, "Kuharap Haru dan Yoru tidak terluka parah." Ia mengucapkannya dengan nada bersalah.

Pergerakan laba-laba yang terhenti beberapa saat, Hajime ingin menanyakan sebab hal itu. Namun ia rasa tidak tepat untuk menanyakannya sekarang, ia menduga itu ada hubungannya dengan spiritual Shun. Itu pasti penyebab beberapa benda tidak berfungi di tangan Shun.

"Mereka petugas pilihan, tentu saja mereka akan baik-baik saja." Hajime berucap pasti.

"Yeah, kupikir juga begitu. Haru sangat kuat, kau tahu." Kai menambahkan.

"Laba-laba itu, tampaknya ia muncul memang karena kekuatan spiritualku." Shun menatap kedua rekannya. "Karena terlalu senang, aku menggunakannya saat berada di arboretum. Frekuensi spiritualku pasti sampai pada zerg di jarak terdekat denganku. Laba-laba itu pasti menyadari aku bukan ratu mereka. Aku tidak menduga hal seperti ini terjadi. Aku harus minta maaf pada Haru dan Yoru, juga kalian."

"Yaah, siapa yang bisa menduga, zerg bisa memasuki kubah pelindung wilayah ini tanpa teridentifikasi. Bahkan ditemukan satu laba-laba raksasa lain di dalam hutan. Itu berarti pengawasan tempat ini masih tidak cukup baik." Kai berkata dengan santai, tapi pandangan matanya terlihat serius.

"Hal itu akan segera ditangani pihak pemerintah bumi. Tapi aku setuju bahwa pengawasan tempat ini masih kurang." Hajime menyahut.

"Karena ini wilayah perbatasan?" Kai mempertanyakannya. "Kau yakin pasukan kalian memilih pergi berburu ke outer space, sementara level keamanan Home sendiri seperti ini?"

"Kelalaian petugas patroli disini akan dipertanggungjawabkan. kau sebaiknya tidak meremehkan semua pasukan militer bumi, Kai."

"Huh? Kenapa kalian seperti melemparkan perkataan sarkastik? Kupikir ini salahku?"

Hajime melirik Shun, "Bisa dikatakan begitu."

Ugh. Shun merasa tertohok ketika diiyakan Hajime.

"Bagusnya adalah Solifugae itu menyerang kalian—anggota militer, bukan masyarakat biasa. Jadi setidaknya tidak ada korban warga sipil, dan itu juga berkat kamu yang menggunakan kekuatan spiritual."

"Oh, jadi jika bukan karena aku, entah kapan Solifugae bisa saja muncul menyerang warga yang lewat."

Kai menghela napas, "Jangan merasa bangga, kita tidak tahu berapa zerg yang mencapai frekuensi spiritualmu dan mengejar."

"Kupikir jarak jangkaunya tidak terlalu jauh. Karena jika benar ada banyak zerg di sekitar sini, mereka pasti sudah muncul sedari tadi." Shun menjelaskan. "Lagipula, aku juga bisa merasakan frekuensi mereka jika berada dekat jangkauanku. Sebenarnya kekuatanku ini keren sekali, ya."

"Setelah ini, kau akan dimarahi Tsukishiro-san." Ucap Hajime.

"Juga mendapat hukuman dari Tsukishiro-san." Kai menambahkan.

"Ehh..."

XoXo-XoXo-XoXo

Haru membuka matanya, seketika itu juga rasa sakit menyapanya. Alisnya berkerut, dan sosok yang tertangkap pandangannya adalah Shun.

"Kau sudah bangun."

Ia disambut suara yang tenang dan lembut.

"Uh, ya. Bagaimana keadaan kalian? Berapa lama aku tertidur?" Haru mencoba bangun.

"Aku baik-baik saja. Lengan Yoru terluka, tapi akan segera sembuh. Kau telah tidur selama lima jam."

Haru melirik teko dan gelas teh yang ada di meja nakas. Omega ini mungkin saja menjaganya.

"Dokter bilang kau harus istirahat dulu, tuan perwira."

"Hei, aku tidak luka separah itu."

Meskipun rasanya sakit, tubuhnya masih bisa digerakkan, jadi Haru yakin tidak ada tulang patah. Musuh yang mereka hadapi memang berat, namun Haru telah memiliki beberapa pengalaman tentang bertahan dalam menunggu datangnya bantuan.

"Kau tidak perlu cemas." Haru menambahkan.

"Yeah. Kalian bertarung dengan sangat keren!" Mata Shun berbinar untuk beberapa saat, namun secepat angin berhembus, ekspresinya berubah, "Ke depannya akan lebih sulit dengan musuh yang lebih banyak, ya?"

"Sepertinya begitu, kita juga tidak akan kalah semudah itu. Kita akan menjadi lebih kuat dan semakin kuat."

Shun tersenyum tipis, "Aku suka pemikiran positif seperti itu."

...Sepertinya aku akan baik-baik saja bersama tim ini.

[Ethereal Space]

"Pikirkan, kita baru saja selesai dengan misi di Crisium. Sekarang kita harus ke bumi." Shiki melipat kedua tangannya. Mereka bahkan baru mendapat libur dua hari.

"Yeah. Padahal kupikir bisa berada di rumah lebih lama," Shu menghela napas pelan, family time-nya berakhir begitu saja. Sepertinya hanya Dai yang terlihat bersemangat.

"Ada banyak air di bumi. Aku ingin mencoba berenang di lautnya." Dai menyahut jujur. Ia tahu pangkalan militer bumi berada dekat dengan laut.

"Oh, Dai belum pernah ke bumi?"

Dai menggeleng. Ia mengepalkan tangan, "Ini pengalaman yang aku nantikan."

"Aku beberapa kali ke bumi, sayangnya hanya untuk urusan misi." Shiki tidak banyak berkomentar.

"Bumi ya..." Shu menerawang, ia pernah tinggal di bumi saat kecil. Namun sekarang sudah lupa bagaimana detailnya. Pernah beberapa kali berkunjung dengan alasan pribadi. Ia mengenal bumi sebagai tempat yang ramah. "Lautnya memang sangat indah. Memiliki warna biru yang memberikan kedamaian, kupikir."

Eichi selalu mengatakan Shu memiliki manik seindah langit bumi.

"Tsubasa akan marah padaku karena rencana kami berantakan." Shiki semakin merasa terpuruk.

"Moodnya akan membaik jika kamu menebusnya dengan benar, Shiki." Dai menepuk bahunya. "Misalnya menemaninya shopping."

"Ide bagus. Aku akan segera memintanya otw ke bumi untuk shopping."

"Tidak... bukan begitu maksudku..." Dai berucap lemah.

Setelahnya, Tsubasa memang protes, kenapa rencana mereka batal tiba-tiba. Makin berang ketika Shiki justru memintanya ke bumi.

(Meminta aku ke bumi hanya untuk shopping?! Sekalian liburan dong!)

Kapan lagi bisa memiliki waktu kencan di bumi, walau mungkin hanya beberapa jam.

(Oke.) Semua biaya ditanggung Shiki.

XoXo-XoXo-XoXo

"Bagaimana bisa... kita baru saja sampai pangkalan, tapi langsung dipinta melawan laba-laba super besar seperti itu." Arata mendaratkan wajah di meja.

"Tapi Arata telah bekerja dengan baik." Aoi memberikan pujian. Sementara Hajime dan Kai pergi menuju tempat Shun berada, dirinya dan Arata mendapat perintah untuk melawan Solifugae yang muncul di tempat lain. Mereka melewatkan kesempatan bertemu pangeran bulan itu lebih cepat.

"Aku ingin satu tim dengan Hajime-san... aku ingin melihat betapa kerennya penampilannya. Aku sangat excited untuk bertemu dengannya."

"Bilang saja kau ingin menyerahkan misi pembantaian sepenuhnya pada Hajime-san."

"Yep."

"Jadi Arata tidak senang satu tim denganku melawan Solifugae tadi?"

"Aoi~ mana mungkin begitu. Hanya saja, aku memang benar-benar ingin melihat kehebatan Hajime-san dari dekat. Aku juga ingin tahu seperti apa Shimotsuki Shun-san."

"Kita akan segera bertemu dengannya setelah ini, kan."

"Aku ingin tahu apakah Shimotsuki Shun-san sangat mempesona seperti yang mereka katakan~"

Menampilkan info yang didapat, Aoi melihat foto sang pangeran bulan lagi, "Selain mempesona, dia juga terkenal karena kepandaiannya. Dia punya banyak follower di sosmed."

Si pirang menjawab dengan serius hingga Arata menghela napas panjang.

"Kita juga punya pangeran bumi yang begitu charming hingga mataku selalu tertuju padanya."

Aoi tertawa, "Aku tidak bisa membandingkan diriku dengannya."

"Ah~ senyuman lebar itu~ lihat betapa memikatnya Aoi-ouji!"

"Arataaa!"

XoXo-XoXo-XoXo

"Mamoru? Sebentar lagi kita akan berangkat ke pangkalan utama..." Sejenak Kouki terdiam, melihat rekannya ini memeluk pot pachira di kebun botani pangkalan militer mereka.

"Aku sedang memberikan salam perpisahan pada pachira-kun."

Kouki mengangguk pelan, "Oke...?"

Kebun botani ini, biasanya diurus oleh Mamoru. Beberapa tumbuhan aneh di sini merupakan hasil uji coba. Ada berbagai macam tanaman yang harus dipelihara dan dikembangkan. Termasuk yang hampir punah. Untuk beberapa saat memikirkan hal-hal random, ucapan dari Mamoru menyadarkannya.

"Kou-kun!"

"Ya?"

Menarik tangan pemuda yang lebih muda menuju bagian lain kebun botani, Mamoru tampak antusias menunjukkan sesuatu padanya. "Mereka telah mekar."

"...indah sekali."

"Padahal baru saja berhasil mekar, tapi sekarang harus ditinggal pergi..."

Wisteria. Dahulu merupakan bunga yang tidak asing di bumi, namun kini sudah jarang terlihat. Terutama di area pangkalan militer bumi. Kouki ingat bahwa alasan Mamoru menanamnya adalah untuknya. Hanya karena ia berkata; ingin melihat bunga wisteria.

Ia melihat bagaimana Mamoru memilih bibit, menanam bij dan melakukan proses perawatan.

Kouki berdehem, "Kita—sepertinya masih memiliki waktu untuk mengaguminya."

Karena kedamaian seperti ini akan segera berakhir, biarkan mereka menikmati waktu yang tersisa dengan tenang.

XoXo-XoXo-XoXo

[tbc]

XoXo-XoXo-XoXo

a/n:

Aku tidak tahu bagaimana harus mengakhiri chapter ini. Juga menentukan a/b/o mereka, walau sebelumnya sudah aku atur. Aku bahkan bingung menentukan Haru; haruskah ia alpha, beta atau omega (yang menyamar?) Orz.

19/06/2019

-Kirea-