XoXo-XoXo-XoXo
Ethereal Space © Kiriya Arecia
XoXo-XoXo-XoXo
III
Sebagian besar anggota terpilih, Kai mengenal mereka cukup baik. Meskipun jika melihat dari data yang diberikan, rasanya seperti memiliki feeling berbeda. Seperti wajah Aoi dan Arata terlihat begitu serius pada foto profil—sedangkan Kai telah mengetahui bagaimana sifat mereka. Informasi mengejutkan hanya tentang Mamoru yang lahir di Moon tapi tinggal di bumi. Kai tidak menduga hal itu. Melihat hubungan baiknya dengan Kouki, Kai pikir mereka sesama penghuni bumi. Karena kultur antar planet berbeda, cukup sulit untuk menyesuaikan diri antar satu dengan yang lainnya. Mamoru terlihat seperti penghuni bumi pada umumnya.
"Mau pergi?" Kai yang membaca data dari tablet menatap sosok yang keluar dengan pakaian kasual.
"Ya, aku sudah bilang akan pulang ke rumah hari ini." Haru mengangguk. Ia terlihat berbeda ketika memakai pakaian normal, tampak lebih santai dan lembut. Biasanya ia terlihat seperti perwira serius dan tekun.
"Huh? Tubuhmu sudah tidak apa-apa?"
"Aaa—tidak separah kelihatannya. Aku baik-baik saja, lihat?" Haru menggerak-gerakkan tangannya. "Lagi pula, sudah lama aku tidak pulang."
Kai bangkit dari duduknya, "Kalau begitu aku mau ikut."
"Ikut kemana...?"
"Ikut keluar markas, aku ingin jalan-jalan di bumi. Bisa bareng setengah perjalanan 'kan? Aku harus membelikan oleh-oleh untuk adik-adikku."
Haru nyaris berpikiran bahwa Kai bermaksud ikut ke rumahnya.
"Oke... tapi setidaknya mungkin kau perlu mengganti seragam militermu."
"Oh, kau benar. Tunggu aku satu menit!"
"Tidak perlu terburu-buru..."
Namun pemuda itu sudah melesat pergi. Haru melirik detik jamnya yang berjalan.
Oke, sisa 58 detik lagi.
Apakah Kai bisa tepat waktu?
Dia bisa.
XoXo-XoXo-XoXo
"Markas sepi ya..." Shun duduk di ruang berkumpul. Tidak ada siapa-siapa di sana. Menatap jam digital di dinding, masih jam sembilan pagi. Hajime mungkin tidur karena mereka masih memiliki waktu santai. Kai bilang ingin jalan-jalan ke kota. Ia harus membelikan oleh-oleh khas bumi untuk adik-adiknya. Awalnya Shun tidak terima karena izin untuk ikut keluar dirinya ditahan. Hingga akhirnya tenang setelah Kai bilang ia akan membelikan oleh-oleh untuknya. Haru pulang ke rumah, begitu juga You dan Yoru yang telah pulang ke kota mereka sejak kemarin pagi. Pertemuan dengan calon anggota mereka baru akan terjadi nanti malam. Seandainya ia tidak sibuk di ruang penelitian bersama Tsukishiro, ia pasti bisa (menyelinap) ikut pergi ke kota.
Setelah kejadian kemarin, ia dilarang pergi keluar markas oleh Tsukishiro. Ia tertangkap basah menggunakan kekuatan spiritual di arboretum dan juga sengaja memakainya saat melawan monster laba-laba.
"Yaa—ini sungguh membosankan..."
Ketika kau berada di tempat yang bagus, menyenangkan dan indah tapi tidak bisa menjelajahinya, rasanya sungguh mengecewakan!
"Tapi, jika aku hanya jalan-jalan di sekitar sini tidak masalah kan?" Shun bergumam pelan dan memutuskan jawabannya sendiri. Tentu tidak apa-apa!
Dengan mudah ia menggesek id card miliknya, yang seharusnya tidak boleh digunakan. Tentu saja id card miliknya telah di sita, namun Shun masih memiliki cadangan—yang bahkan tidak diketahui oleh Kai.
Hanya ada lautan luas saat pandangan ditujukan ke depan. Ombak mendekati daratan untuk menghempas bebatuan karang dan tebing. Suaranya menerpa pendengaran tanpa jeda. Sangat alami dan mengesankan. Ini bukan pemandangan yang akan membuat bosan untuk dinikmati berlama-lama. Terutama bagi Shun, ia menyukai banyak hal tentang bumi. Ada penyesalan tentang insiden mengejutkan kemarin, namun setidaknya dia sudah menikmati berjalan-jalan di beberapa tempat yang ia inginkan.
Tempat ini, apa ia bisa mengunjunginya lagi nanti?
Pada akhirnya, bumi pun tidak sepenuhnya aman. Di suatu tempat, di bumi mungkin ada zerg berkembang biak secara tersembunyi. Terutama di wilayah radiasi yang tak terjamah manusia.
Deg!
Mendadak menahan napas, Shun merasakan energi spiritual besar mengarah tiba-tiba padanya. Ia segera menoleh, mendapati tatapan tajam menuju padanya.
"Seingatku, kau dilarang untuk pergi keluar."
Bagaimana bisa orang ini tiba-tiba muncul tanpa hawa kehadiran? Entah karena Shun terlalu menikmati waktu santainya, atau keahlian mengendap-endap Hajime memang tinggi.
'Oh ya, dia memang orang yang sehebat itu.'
Shun memandang Hajime penuh makna.
"Black King, markas sangaaat membosankan. Lagi pula, aku tidak pergi terlalu jauh, bukan?" Shun mengucapkan pembelaan diri. Ia menautkan tangannya dibalik punggung, "Kau tentu sudah tahu kalau aku sangat ingin mengunjungi bumi. Rasanya sangat tidak menyenangkan jika aku bahkan tidak bisa menikmati pemandangannya."
Kenapa pertemuan ini diadakan di bumi, bukan di tempat lain?
Katanya itu karena Shun memintanya langsung pada para atasan. Anggota kerajaan memang tidak bisa diremehkan. Terdengar seperti mereka bisa mendapatkan apa saja semudah membalikkan telapak tangan. Mereka memiliki kekuasan dan tempat yang tinggi sejak terlahir ke dunia.
Meskipun sama-sama dari keluarga bangsawan, namun bumi mengadopsi sistem pemerintahan republik. Jadi keluarga bangsawan sulit turut banyak andil jika tidak memiliki kemampuan memadai untuk masuk dalam pemerintahan, baik dalam bidang politik atau militer. Tentu berbeda dengan Moon yang mana sepenuh kekuasaannya berada di tangan keluarga kerajaan. Namun, Hajime mengerti dengan baik, bahwa persaingan dalam memperebutkan tahta kerajaan-pun tidak mudah. Penuh intrik di dalamnya. Bahkan caranya lebih kejam, berusaha memiliki kedudukan dengan saling melukai keluarga sendiri, bersaing melawan saudara sendiri.
Dunia seperti apa yang dimiliki sosok pemilik surai putih di depannya ini?
"Seharusnya kau meminta izin terlebih dahulu, atau meminta perwira lain menemanimu. Akan ada keributan seandainya mereka tahu kau menghilang begitu saja."
"Oh? Berarti Hajime yang pertama kali menyadari aku tidak ada di markas? Aku pikir aku sudah mengelabui kamera pengawas dengan baik!"
Hm... Hajime segera berpikir bahwa orang ini pasti memiliki hobi melarikan diri sewaktu kecil. Seperti dirinya.
"Aku berpikir akan segera kembali kok, dalam waktu satu jam lagi. Tanpa ketahuan." Shun menatap laut, "Kupikir mereka akan bosan menemaniku memandangi laut. Jadi lebih baik sendiri."
Sebenarnya Hajime telah melihatnya hanya diam saja selama beberapa waktu. Bagi beberapa orang, berdiam diri seperti ini memang tampak membosankan.
"Tapi sekarang sudah ada Hajime, berarti bukan masalah kan? Kau bisa menemaniku di sini."
Shun berbalik, kembali menikmati keheningan yang diterpa deru angin laut. Surainya ditiup angin dengan lembut. Seperti ia tahu bahwa Hajime tidak akan marah atau memaksanya kembali begitu saja.
Mereka hanya diam seperti itu untuk waktu yang lama.
[Ethereal Space]
Nyaris menggunakan kendaraan 4WD untuk berangkat, Haru langsung menyilangkan tangannya di depan dada. Kepalanya menggeleng pada Kai. Kemarin rasanya hal semacam ini terjadi, tapi karena Shun.
(Shun berkata; why?! Mobil 4wd keren! Oh, apakah kita pakai limosin saja?)
"Kau sudah beberapa kali ke bumi 'kan? Kalau hanya untuk jalan-jalan, kita sebaiknya menggunakan mobil normal—biasa."
"Kau lupa apa yang terjadi pada mobil biasa kemarin? Rusak parah karena Zerg. Untuk berjaga-jaga, sebaiknya menggunakan mobil yang kuat."
"Pertama, wilayah bumi tidak semuanya seberbahaya itu, kedua; untuk hal informal, kita tidak diwajibkan memakai mobil itu, ketiga; orang-orang bisa panik melihat mobil 4wd melewati tempat umum, keempat; aku lebih tahu tentang keadaan bumi dibanding dirimu, Kai. Kelima..."
"Oke. Mari kita pakai mobil standar bumi."
XoXo-XoXo-XoXo
Rumah Haru memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dari Hajime. Berada di lingkungan yang sama membuat pasti informasi bahwa kedua orang itu adalah teman masa kecil. Berteman, satu jurusan akademi, lalu pekerjaan juga sama. Haru adalah sosok yang membuat banyak orang terkejut dengan kemampuannya. Ia hampir menyerahkan hak guna kemudi pada Kai dengan kata perpisahan, sebelum adiknya berseru.
"Nii-san telah pulang!"
Tadinya Hina sedang menyiram bunga di depan halaman. Namun bunyi mobil berderu membuatnya menduga sang kakak telah sampai. Memastikan dengan melihat dari balik pagar bahwa tebakannya benar, Hina berseru sambil lari ke rumah dan menyampaikan pada penghuni rumah, "Kaa-san, Nii-san mengajak seseorang ke rumah!"
Tangan kanan Haru terangkat meraih ruang kosong, belum sempat mengatakan apapun pada adiknya. Gadis kecil itu menghilang begitu saja.
Awalnya Kai pikir ia bisa saja dengan mudah menolak ajakan untuk berkunjung ke rumah rekan satu timnya ini. Tetapi tanpa diduga, ia sekarang berada di ruang tamu. Mengobrol dengan pemilik rumah sambil minum teh.
Haru; orang ini sepertinya jarang pulang, juga mengajak teman berkunjung. Meskipun sebenarnya Kai juga tidak memiliki tujuan masuk ke rumah tempat Haru tinggal.
Kai terkenal. Bukan karena ia artis, tapi ia memiliki popularitas setara mereka. Ia perwira andalan di Moon. Sebelum berpamitan pergi dengan alasan ingin mencari oleh-oleh khas bumi, adik dan ibu Haru meminta berfoto bersamanya. Lalu rasanya seperti diusir dari rumah sendiri, sang ibu menyarankan agar Haru menemani Kai mencari oleh-oleh. Tentunya, karena Haru tahu seluk-beluk kota ini. Haru ingin ber-facepalm.
Ibunda, apakah engkau tidak rindu pada anakmu ini...?
Kenapa ia malah disuruh pergi dengan alpha ini...?
Hina, bukankah kamu bilang kangen pada kakakmu ini, bantuin dong...
Haru hanya membatin.
Kai telah menolak halus saran itu. Ia tahu Haru ingin menghabiskan waktu dengan keluarganya, tapi tanpa sadar ia malah mengusik rencana itu.
Hina melirik sang ibu, lalu kakaknya.
"Kalau begitu ayo jalan bareng-bareng, aku juga ingin mencari hadiah untuk Kurisu-chan. Dengan begitu aku bisa menghabiskan waktu dengan nii-san, sekaligus Haru-nii bisa menemani Fuduki-san!"
Akhirnya Kai pergi bersama Haru dan Hina. Sang ibu melambaikan tangan disertai senyuman.
XoXo-XoXo-XoXo
Haru sedikit terkejut mendapati Hajime dan Shun bertanding catur di ruang istirahat. Juga tidak menduga Shun cukup hebat dalam permainan itu. Wajah Hajime terlihat serius dengan dahi berkerut. Kemarin sepertinya Hajime tidak begitu menyukai tentang fakta bahwa ada omega ikut dalam misi. Shun sendiri, meskipun berkata tentang menyukai Hajime, ia terlihat menjaga jarak.
Apa yang terjadi selama ia pergi?
"Oh, aku juga tidak menduga kalian pergi menghabiskan waktu bersama." Ujar Shun kemudian.
Itu pertandingan yang cukup menyenangkan, walau pada akhirnya ia kalah melawan Hajime. Namun raut wajahnya terlihat senang, Hajime juga terlihat santai setelah semua selesai.
"Yaah. Ada beberapa hal terjadi. Ini memang hari yang panjang." Haru menyahut.
"Jadi Kai bertemu dengan orang tua Haru? Aku juga ingin menemui mereka dan adikmu yang manis itu~ sayang sekali."
"Hahaha. Kupikir Haru memiliki kekesalan padaku karena telah mengganggu family time-nya hari ini." Kai tertawa ringan. "Walau sejujurnya aku menghargai waktu yang kita lalui tadi." Ujarnya sambil menatap Haru.
Hina bertingkah manis selama mereka berjalan-jalan di tempat perbelanjaan, memberikan rekomendasi tentang oleh-oleh yang bagus pada Kai, dan Haru bersikap lembut pada Hina. Sikapnya berbeda saat mereka berada di pangkalan. Rasanya seperti healing time bagi Kai.
"Aku tidak mengatakan ini hari yang buruk," Haru berkata jujur.
Walau tadi ia kembali berada di cafe favoritnya, dihadapkan pada cake-cake manis lembut dan parfait berisi krim aneka warna berhias buah yang memenuhi meja berkat Kai dan Hina.
(Semua cake terlihat enak, jadi aku memesan yang penampilannya terlihat menarik! Aku akan mentraktir kalian, jadi silakan dinikmati sepuasnya!)
Semua visual cake pasti menarik, kau pesan sebanyak apa...
(Waah, arigatou Fuduki-san! Nii-san, mereka semua adalah cake favoritku! Sangat populer lho, ayo dicoba!)
Aku sudah mencoba mereka semua bersama Shun dan Yoru...
Apakah ini berkah atau karma karena Haru pernah nyaris putus asa kelaparan di gurun radiasi bersama timnya.
Rasanya sekarang Haru sanggup untuk menahan diri tidak makan cake selama setengah tahun!
"Ini hari yang bagus!" Kai berucap lantang sambil meletakkan sebuah paperbag di meja. "Ini oleh-oleh yang ku janjikan, Shun."
"Hm~ aku penasaran apa isinya!" Shun berniat membuka bungkusan yang didapatnya.
"Ah—ini orang-orang hebat itu! Ketemu!"
Moment itu di interupsi oleh kehadiran dua orang yang muncul tiba-tiba.
"Arataaa, kita tidak boleh bersikap seperti ini..."
Aoi segera menyadari semua mata menatap pada mereka berdua.
"Maafkan sikap kami..."
Shun berdiri dengan wajah ceria, "Uduki Arata dan Satsuki Aoi!"
"Ya, itu aku." Arata mengibaskan rambut dengan percaya diri. Sementara Aoi tampak sungkan.
"Uh—ya. Halo, Aku Satsuki Aoi, Shun-sama."
Shun menghampiri mereka berdua, "Mari menjadi lebih akrab dan hilangkan embel-embel –sama dari namaku!"
"Oke, Shun-san." Arata segera setuju.
"Err... tentu Shun-san..."
Hajime melirik Haru sekilas, lalu Kai, kemudian pada Shun. Tuan muda ini begitu mudah menjadi akrab dengan siapa saja.
Perkenalan lebih resmi terjadi di ruang rapat. Dimana mereka bertemu anggota tim lainnya. Shiki dan Shu, perwakilan dari Moon. Kouki dari bumi. Di dalam rapat dengan para pimpinan yang juga datang, dijelaskan tujuan utama dari misi. Hanya satu, memusnahkan calon ratu. Perwira pilihan telah diseleksi sesuai kriteria yang memenuhi, dan mereka sebagai anggota inti untuk memandu pasukan nantinya. Misi gabungan dari akademi militer terkemuka di tiga tempat tinggal yang dihuni manusia akan segera dilaksanakan.
Calon ratu berada di tempat tersembunyi, tentu sangat sulit untuk ditemukan. Terlebih lagi, ia pasti dijaga oleh kawanan serangga penjaga yang jumlahnya tidak sedikit. Meskipun belum lahir, kekuatan spiritual miliknya sudah dapat digunakan untuk memerintah kaum alien serangga. Lalu apa jadinya jika ia lahir? Keberuntungan para manusia adalah; ratu masih belum lahir dan mereka memiliki seseorang yang bisa mengetahui keberadaan sang ratu.
Shimotsuki Shun, akan menunjukkan arah menuju sang ratu di garis terdepan.
XoXo-XoXo-XoXo
Pro dan kontra terdengar dari para netizen. Tentang omega turut berperang, tentang betapa malang nasibnya atau ia hanya akan jadi beban merepotkan. Ada yang mengatakan bahwa itu hal mengagumkan hingga nama Shun masuk list teratas pencarian di sosial media. Lainnya adalah komentar random tentang betapa tampan dan keren para perwira yang akan pergi.
[starlazy] omg, omega pergi ke medan perang, itu sangat mengerikan!
[bombayah] bukankah Shimotsuki Shun itu anggota kerajaan di Moon? Dia sangat keren. Foto-fotonya di website kerajaan sangat eye catching!
[b0yinlove] bisakah dia ikut bertarung nantinya? Ini sangat mengkhawatirkan.
[looveqq] dia bahkan lulusan terbaik jurusan seni di akademi Moon. Wow. Dia pasti bukan omega biasa!
[kireaa] apakah ini kumpulan perwira militer atau idol?! Mereka tampan dan keren sekali!
[rizel] ribuan orang akan pergi ke luar angkasa?! [shock]
[areeciaa] Shun-sama, semoga perjalanan ini berjalan lancar bagi kalian!
[likeme121] bagaimana jika menikah denganku saja dari pada mengorbankan diri ke medan perang? Haha. Just kidding.
[blackpepper22] dia sangat mempesona, sayang sekali dia harus pergi membahayakan nyawa di sana.
[geeenn] aaaaahhh~ Hajime-sama~
[kokobop] nama Hajime-sama berada di list pertama orang yang ikut misi, omg
[rifanda] memburu ratu... misi ini terdengar super berbahaya!
[initiumm111] Black king pasti bisa membawa kemenangan!
[tsuuki] Kai-sama! Ada namanya dalam list perwira yang berangkat dalam misi perburuan!
[Mare-111] Kai-sama sungguh keren! Perwakilan Moon sungguh hebat!
[yoool] Aku akan mendoakan perjalanan kalian, Kai-sama!
[lizzzzzy] aku melihat ada banyak pria tampan! Terutama pria yang memakai seragam putih biru. Tipeku sekali!
[meowwme] to [lizzzzzy] Izumi Shu?
[lovemeright] info yang ku dapat, beberapa perwira sudah memiliki partner. Termasuk Hazuki You dan Izumi Shu.
[BadApple] Arata-san, aku mendukungmu! Berjuanglah dalam misi ini!
[snowhite04] perlukah kami menyiapkan paket strawberry yang banyak untuk Arata-sama berjuang ke outer space? Aku yakin di sana tidak ada pohon strawberry!
(Arata berseru; aku akan sangat menghargai hal itu!)
[bluesssky] Aoi-sama sangat tampan dengan seragam militernya ini~
[coookiesss] Aoi-sama, pulanglah dengan selamat dan jadilah suamiku!
[mamoowu~] Kouki-sama, berjuanglah!
[madder-red] papa, fighting~
"Aku merasa seperti artis yang sedang terlibat suatu skandal. Namaku turut masuk dalam list teratas pencarian di network." Arata dengan kalem memainkan tablet di tangannya.
"Aku malah merasa seperti menjadi anggota timnas pertandingan bola, begitu melihat wajah kita terlihat serius terpampang di website militer."
"Aku merasa wajahku terlihat tampan di sana."
"Apakah ini tidak masalah? Menyebarluaskan berita tentang kita yang akan pergi memburu ratu?"
"Memangnya netizen bisa melakukan apa? Menyabotase pesawat militer?"
Shun yang duduk dengan santai turut bersuara dalam pembicaraan yang terdengar, "Yaah, jika ada alien serangga yang memahami bahasa kita, tentu akan menjadi hal berbahaya."
"Sayangnya sejauh ini, mereka hanya memiliki insting untuk bertarung."
"Para atasan mungkin ingin meraih simpati dan kepercayaan masyarakat dengan mengorbankan kita ke medan perang. Makanya misi ini tampak transparan?"
"Kata-kata itu terlalu berbahaya untuk dilontarkan."
"Oppss."
"Aaah, kenapa malah fotoku tiga tahun lalu yang dipakai di informasi website! Foto itu jelek, belum pakai filter!"
"Gak apa-apa, jadinya kamu terlihat awet muda."
"Awet muda tapi jelek."
"Wooiii."
Meskipun mereka semua memakai seragam militer, tak terkecuali Shun, suasana di pangkalan terlihat cukup santai. Beberapa mengobrol, berlatih, ada yang sibuk dengan persiapannya masing-masing.
"Kenapa ada komentar yang bahkan menanyakan siapa pasanganku..." Shu berkeringat dingin.
"Menurutmu apa yang akan Eichi lakukan jika ia turut membaca komentar-komentar itu, Shu?" Shiki yang duduk dengan kaki menyilang terlihat santai.
"Kupikir Eichi tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh."
Shiki pikir juga begitu, ia sudah cukup tahu seperti apa kepribadian Eichi. Mungkin Eichi akan berkata; Oh, ada banyak yang memuji penampilan Shu? Tentu saja, dia kan memang tampan!
"Lalu apa yang kau katakan kepada dua putramu sebelum pergi?"
Diam sejenak, Shu tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan itu. "Misi penyelamatan dunia...?"
"Heh, heroik sekali."
"Kau sendiri, bagaimana Shiki? Aku yakin Tsubasa tidak menanggapi hal ini dengan baik. Bukankah kalian sudah memiliki rencana untuk ke jenjang lebih serius?"
"Kupikir kami akan baik-baik saja meskipun rencana itu harus diundur, lagipula kami kencan kemarin. Ia seharusnya tidak kesal lagi setelah aku menyerahkan kartu kreditku."
"Kau menyerahkan kartu kreditmu pada Tsubasa...?"
"Hm."
"Kau yakin itu keputusan yang bijak?"
Shiki mengelus pelipisnya, "Tidak..."
Mamoru menoleh pada Kouki. "Kou-kun, pembicaraan dua orang disana sangat serius sekali."
"Apakah kamu cemas tentang misi ini, Mamoru?"
"Selama itu bersama Kou-kun. Kemanapun tidak masalah bagiku."
"Yeah, kita akan menjalankan misi ini bersama-sama."
"Aku akan berjuang! Walaupun kemampuanku tidak sehebat orang-orang ini..."
Mamoru curi-curi pandang pada orang-orang di sekitarnya. Omg, Hajime yang biasanya hanya bisa ia lihat melalui barisan belakang. Kai yang namanya sering terdengar di berita. Arata, orang berjuluk pangeran kalem (tapi ternyata tidak sekalem dugaannya), dan Aoi pangeran pemilik senyuman charming divisi militer (yang ternyata senyumnya benar-benar menyilaukan). Ia berada diantara orang-orang luar biasa.
Mamoru meringis, "Aku akan berjuang dengan sangat keras!"
XoXo-XoXo-XoXo
"Aku tidak tahu apa yang kalian sukai, jadi aku membuat beberapa macam cemilan khas bumi. Silakan dinikmati." Kemunculan Yoru disertai aroma makanan menginterupsi situasi yang cukup ramai. Penganan khas bumi itu adalah takoyaki, samosa, madelaine dan twigim.
"Yoru-san, ini persembahan yang menyentuh hati dan perutku."
"Bukankah ini yang orang bumi katakan dengan teknik mencuri hati lewat makanan?"
"...tidak. Aku tidak ingin mencuri hati siapapun."
"Oiii You. Ada yang godain omega kamu nih!"
"Hush! Dasar jomblo! Sana cari pacar, yang ini sekujur tubuhnya sudah jadi milikku."
"You!"
Shun tidak terbiasa dengan keramaian seperti ini, tapi ia pikir situasi seperti ini tidak buruk. Mereka terlihat santai karena telah terbiasa menantang maut sebagai anggota militer. Tidak sepertinya, orang-orang sering menyebutnya sebagai pangeran kesayangan yang dimanjakan di Moon.
"Shun? Kalau tidak cepat, kau akan kehabisan makanan ini." Haru berseru padanya.
"Aaa~ Haru, ambilkan untukku~"
XoXo-XoXo-XoXo
Slash!
Sebuah pedang terarah padanya, seakan ingin memotong lehernya tanpa ampun. Tapi gerakan pedang berhenti dengan jarak setipis benang. Shun tidak membuat pergerakan sedikitpun.
"Black King," Suaranya begitu halus dan lembut. "Aku tidak menduga kau akan muncul di tempat ini."
Hajime menjauhkan senjatanya. Walau Shun berkata begitu, ia terlihat tidak terkejut sama sekali. Ruang latihan masih sepi, Hajime tahu sekarang adalah jam untuk Shun dan Kai latih tanding. Karena itulah dia ada di sini.
"Aku ingin bertarung denganmu."
"Heeh~ begitu?"
"Kau tahu apa alasannya?"
"Untuk mengukur kemampuanku? Mengetahui batasanku... atau melindungiku mungkin?"
"Ini cukup mudah untuk ditebak."
"Bukankah sangat mengagumkan? Aku akan dijaga oleh para ksatria hebat. Hajime, Kai, Haru—akan ada banyak omega dan beta yang cemburu padaku."
"Kau peduli pada hal semacam itu?"
Shun mengangkat bahu, "Aku bisa bertarung dengan cukup baik. Tapi aku tidak bisa mengalahkanmu, Black King."
Kai berkata kalau teknik bertarung Shun cukup bagus, selain tentang kekuatan spiritualnya yang mengagumkan pada kesadaran spasial. Dia selalu bagus dalam segala hal tanpa banyak usaha, itu membuatnya lebih senang bersantai. Kemampuannya bagus, tapi ia tidak mengasahnya. Tidak ada yang mempermasalahkan hal itu awalnya, karena omega tidak diharuskan pandai dalam bertarung. Mereka lebih diharapkan baik dalam peran domestik.
Tapi sekarang berbeda, ia akan turut serta dalam misi. Jika tidak ingin menjadi beban, setidaknya ia harus memiliki kemampuan standar dalam mempertahankan hidup.
"Kau tidak harus mengalahkanku." Hajime menatapnya serius, ia menyentuh topi miliknya, "Jika kau bisa merebut topi perwira milikku. Aku akan mengabulkan sebuah permintaan kecil darimu."
"Benarkah?!"
Mata lime greennya berbinar, suaranya naik beberapa oktaf. Hajime tidak menyangka bahwa perkataan Kai tentang memberikan reward akan membuat Shun bersemangat.
(Kai: 'Kau pikir bagaimana aku bisa membuat Shun mau berlatih tarung?!')
Shun mengambil katana miliknya, "Lalu bagaimana jika aku tidak bisa merebutnya, Black King? Haruskah aku mengabulkan satu permintaan kecilmu juga?"
"Terserah padamu."
"Aku tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus seperti ini." Shun mengacungkan katana putihnya dengan tatapan serius.
"Hey, ayo ke ruang latih tanding satu!" seorang perwira berseru terburu-buru.
"Apa? Ada apa?"
"Black King sedang berlatih tanding dengan Shun-san!"
"Ehhh? Serius?"
"Ayo kita lihat!"
Beberapa gerombolan perwira berdesak-desakan menonton dari kaca luar ruangan.
"Hm? Sedang apa kalian sepagi ini?"
Haru menangkap pemandangan tidak biasa di koridor di depan ruangan tempat mereka biasanya berlatih. Kenapa tiba-tiba tempat itu terlihat begitu ramai. Mungkinkah sebuah pertarungan menarik?
"Haru-san! Hajime-sama sedang bertarung dengan Shun-san."
"Oh ya?" Haru setengah tidak percaya, jalan untuknya segera terbuka. Dari situasi yang terlihat, pertarungan itu tampaknya sudah berlalu cukup lama. Walaupun Haru menyebutnya latih tanding, gerakan Shun lebih seperti penampilan atraksi seni yang indah. Gerakannya berpedang memukau. Terlihat lembut, tapi juga tegas pada detik selanjutnya. Ini yang disebut elegan.
Sayangnya teknik bertarung indah seperti itu tidak diperlukan di medan perang.
Shun melompat mundur beberapa langkah setelah serangannya gagal untuk kesekian kalinya. Namun ia masih memasang pose siaga.
"Kau boleh memilih untuk menyerah." Hajime berujar. Topinya masih terpasang rapi menyembunyikan sebagian surai hitamnya.
Mereka telah melewati latihan lebih dari tiga puluh menit. Jauh lebih lama dari perkiraan Hajime. Ia sempat berpikir kalau omega itu akan memilih menyerah setelah sepuluh menit berlalu. Namun melihat lebih jelas sosok di hadapannya, ia tidak terlihat kelelahan sama sekali. Membuatnya sesaat berpikir kalau lawannya ini bukan omega.
Terperanjat, di detik selanjutnya Hajime merasakan serangan spiritual menghantam pemikirannya. Dengungan dan suara berisik yang mengacau muncul mengganggunya. Omega di depannya mencoba menyerang pikirannya.
"Kenapa mereka diam saja?"
"Eh, apa yang terjadi?"
"Mereka bertarung dengan kekuatan spiritual." Haru mengelus dagunya.
Pedang mereka sekali lagi saling beradu, kekuatan spiritual omega ini memang mengagumkan, namun alpha seperti Hajime sudah melewati berbagai macam training dan pertempuran nyata tidak akan kalah dengan mudah, bahkan jika Shun memiliki kekuatan spiritual yang lebih tinggi. Meskipun memiliki kemampuan spiritual yang hebat, Shun tidak memiliki banyak pengalaman. Menggunakan kekuatan spiritual saat bertarung akan membuatnya tidak stabil karena konsentrasi terbagi.
Trang!
Mereka berada pada jarak yang begitu dekat, seperti ingin saling membunuh. Katana putih Shun akhirnya terpelanting jauh dari tangan pemiliknya. Mendarat di lantai dengan bunyi keras. Sebaliknya, pedang latih tanding di tangan Hajime berada di samping leher Shun, persis seperti saat sebelum mereka memulai pertarungan.
Hajime menarik pedangnya menjauh, sementara Shun dengan santai mendaratkan topi baret hitam itu ke atas surai putihnya.
Mereka terlihat bertukar beberapa patah kata, dan kemudian Hajime menjatuhkan satu lututnya ke lantai, layaknya seorang ksatria yang memberikan penghormatan.
Shun menatap alpha yang berlutut di hadapannya, ia meletakkan kembali baret itu ke atas surai kehitaman Hajime. Mereka masih berbicara satu sama lain.
"Hei, apa yang sedang terjadi di sana?"
"Bukankah Hajime-sama yang menang? Kenapa malah dia yang berlutut di hadapan Pangeran bulan itu?"
"Apakah itu sebuah pose lamaran?!"
Tempat latih tanding yang kedap suara membuat para penonton penasaran setengah mati pada percakapan dua orang yang terkenal di bumi dan bulan.
Shun menoleh pada kaca tempat para perwira menonton mereka dan melambaikan tangannya perlahan sambil tersenyum. Benar-benar omega yang mempesona, ia membuat para kadet terkesima.
Hajime kembali berdiri, melemparkan pandangan ke arah yang dituju Shun. Wajahnya tanpa senyum, matanya terlihat tajam. Membuat para penghuni koridor tersentak dari indahnya senyuman sang omega. Rasanya seperti mereka telah melakukan hal yang salah.
"Uhh... sepertinya kita harus segera latihan..."
"Aku harus memeriksa beberapa peralatan senjata..."
"Aku—aku perlu ke toilet!"
Perlahan tapi pasti para perwira yang tadinya menonton segera melipir dari tempat mereka bertanding. Menyisakan Haru yang balas melambaikan tangan pada Shun.
Shun berjalan mengambil katana miliknya dan menyarungkannya. "Mengenai permintaan kecilku, aku akan memintanya nanti. Selamat pagi dan sampai bertemu lagi nanti, Hajime." Omega itu berlalu, bertukar sapa sesaat dengan Haru.
"Itu pertarungan yang mengesankan, Hajime." Haru mendapati Hajime masih diam memegang senjatanya. "Aku tidak menduga kau akan meminta seorang omega bertarung melawanmu. Itu sangat tidak adil. Bagaimana jika kau membuat Shun terluka. Aku yakin ia akan mengadu pada Kai, lalu Kai mengatakan pada keluarga kerajaan, lalu gaji divisi kita bisa saja akan dipotong—"
"Aku yang kalah, Haru."
"Kita harus menghargai omega—"
Haru terdiam beberapa saat. Memproses ucapan Hajime yang terdengar ganjil.
"—apa? Bagaimana bisa kau yang kalah?"
"Yeah, aku juga tidak menduga aku bisa kalah dengan cara seperti ini."
XoXo-XoXo-XoXo
Pedangnya terlempar jauh dari genggamannya. Sementara pedang lawan nyaris menggores helaian surainya. Namun Shun tersenyum puas.
"Hehe, aku yang menang, Black King."
Seketika Hajime tersadar, pedang itu sengaja di lepas oleh Shun untuk bisa meraih topi miliknya. Topi baretnya telah berada di genggaman Shun. Meskipun sekarang nyawa omega itu berada di tangannya.
Hajime menarik pedangnya menjauh, sambil menghela napas karena kelengahan sesaatnya. Ia fokus bertarung, sedangkan Shun sedari awal hanya bertarung dengan tujuan untuk merebut topinya.
Shun mendaratkan topi perwira hitam itu ke atas kepalanya.
"Apakah ini terlihat cocok untukku? Oh, kupikir warnanya tidak matching dengan seragam militer putih milikku ini."
Hajime menjatuhkan satu lututnya ke lantai, satu tangannya di depan dada layaknya seorang ksatria memberikan penghormatan.
"Kau berhasil merebut topiku, Shun."
Shun menatap alpha yang berlutut di hadapannya. Begitu keren, seperti ksatria—tidak, ia seperti pangeran! Oh, itu juga bukan! Ia adalah Black King. Orang yang paling menarik perhatian Shun.
Shun segera berhenti bermain-main dengan topi itu. Ia mengembalikan baret itu ke atas surai hitam Hajime, ia menoleh pada kaca tempat para kadet menonton mereka dan melambaikan tangannya perlahan sambil tersenyum.
Ia benar-benar omega yang mempesona.
Shun berujar pelan namun pasti pada Hajime, "Tapi aku tidak akan bisa mengalahkanmu, Black King. Maafkan aku, kemampuanku hanya sebatas ini."
Hajime terdiam. Perkataan maaf ini, ia rasa mungkin ditujukan pada hal lain.
Wajah Shun terlihat melankolis, hingga Hajime hendak mempertanyakannya. Ia menginginkan jawaban atas segala hal yang masih memberikan kesan abu-abu.
Kenapa kau berkata seperti itu?
Tetapi Shun lebih dahulu memilih pergi menjauh.
"Selamat pagi dan sampai bertemu lagi nanti, Hajime."
XoXo-XoXo-XoXo
[tbc]
XoXo-XoXo-XoXo
a/n: aku membuat ff ini dengan sangat serius, wwww. Aku mencari beberapa referensi tentang au, teori, dan bahasa ilmiah/asing (biar sesuai genre sci-fi), tetapi jika ada keanehan atau kesalahan, aku akan senang jika diberikan koreksi atau saran ^q^
p.s: aku mengupload satu ff mc baru, quell: pair shuei, [Angel's Share] di ao3. Silakan mampir jika berkenan~
31/07/2019
-Kirea-
