Mr. Love: Queen's Choice © Papergames with Elex

warning OOC, plot terlalu cepat, kesalahan EBI, ketidaksesuaian genre. #祝你生日快乐李泽言!

MC dalam fiksi ini bernama Charlotte. Bersumber dari nama Mandarin tidak resmi MC di server CN, Yōurán(悠然), yang berarti leisure/freedom. Charlotte memiliki arti yang sama yang berasal dari bahasa Perancis.

Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari fiksi ini.


"Bos Victor, apakah kamu tidak berpikir untuk menaikkan gaji para karyawanmu?"

"Bos Victor, apakah kamu tidak berpikir untuk memperpanjang libur natal dan tahun baru untuk para karyawanmu?"

"Bos Victor, apakah kamu tidak berpikir untuk berbaik hati sedikit kepada para karyawanmu?"

"Bos Victooooor~ oooooh Bos Victor~ eh salah, harusnya manggil Sayang mungkin ya, biar kelihatan pernah jadi pacarnya CEO LFG. Abang Victor Sayang—"

"Berisik."

Gadis yang seenaknya duduk di atas meja kerja Victor mendengkus dan mencebik, "Kenapa kamu kasar sekali, sih? Aku kan hanya bercanda. Tidak seru."

"Jika kau melihat wajahku ini," Victor menunjuk muka dengan telunjuk. Terlihat persis seperti vampir cina yang kehilangan kertas segelnya. Kebanyakan hantu asli akan keburu merinding melihat penampakan Victor sekarang, tapi tentu saja sang pengusik tidak masuk hitungan, "apa aku terlihat peduli untuk bercanda sekarang?"

"Aduh, kamu terlalu serius, Victor! Santai sedikit!" hardik si hantu wanita. "Padahal dulu kamu itu sering sekali bercanda denganku."

"Aku tidak mengenalmu."

"Jahatnyaaaaa~"

"Itu kenyataan, Charlotte."

Gadis yang dipanggil Charlotte melompat dari meja dan bersorak dengan pose kuda jingkrak. "Kamu akhirnya ingat dan menyebut namaku, Victor!"

"Sejak kau tiba-tiba jatuh menembus langit-langit ruang kerjaku dan membuyarkan dokumen-dokumenku, kau sudah menyebutkan namamu sebanyak seribu tiga ratus satu kali," jelas Victor. "Plus ocehan dan protes serta minus tanggung jawab."

"Yah, zaman sudah modern kok masih pakai kertas," elak Charlotte. "Terus itu jatuhku kan sengaja meniru Mr. Bean, tontonan favorit kita waktu kecil, yang kamu pernah sampai mengikuti jejak keusilan Mr. Bean dengan memberi Goldman satu hadiah yang dia minta. Itu loh pas Natal, Goldman minta sepatu yang kamu kasih cuman satu. Iya, yang cuman sebelah kanan itu. Enggak salah sih, tapi kenapa kesannya kayak enggak punya hati sih, Victor? Ups, malah buka aib, tapi enggak masalah kan ya~ ah itu kejadian berapa tahun yang lalu ya kira-kira? Waktu berjalan sangat cepat—"

Victor mematikan laptop dan juga telinganya. Kipas pendingin si komputer gepeng berderu kencang sebagai bentuk selebrasi. Di saat yang sama, jam besar lantai—salah satu aset kebanggaan Victor, satu-satunya di dunia yang memiliki dekorasi moncong unta di bagian atasnya—berdentang keras sebelas kali.

"Victor, gigiku gatal," keluh Charlotte dengan memonyongkan mulut beserta giginya, kode minta makan.

"Kalau gatal ya digaruk saja."

"..."

"..."

"..."

"... Apa?"

"Akhirnya Victor melawaaaaaaaak, Tuhaaaaan! 76 tahun setelah Komet Halley datang, akhirnya hari ini datang kembali dalam wujud lawakan Victor! Terima kasih Tuhan, karena membiarkanku menyaksikan fenomena langka bin ajaib melebihi Pikachu biru berwajah Mama Rapunzel! Terima kasih, terima kasiiiih!"

Victor mengelus dada dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mengutak-atik ponsel, mencoba mencari info jasa pengusir roh jahat. Lama-lama dia bukan cuman berakhir gila, tapi juga bisa merusak siklus reinkarnasi dunia dan akhirat.


"Goldman."

Suara dari seberang telepon terdengar mengantuk dan separuh sadar, "Iya, Bos?"

"Apa benar aku pernah mengenalmu saat kecil, dan memberimu hadiah di hari Natal?"

"Um ... tidak ... aku baru mengenal Bos saat wawancara dulu. Ada apa, Bos …?"

Tampar wajah Victor sekarang karena mau-mau saja memercayai seorang—sehantu—gadis konyol.

"Jika kau punya masalah dengan aturanku dan sistem LFG, kau bisa langsung memberitahuku tanpa harus melalui jalur mistis. Mengerti, Goldman?"

"... Maaf?"


Charlotte melahap sendok kelima puding mangga buatan Victor dengan wajah suka cita. Tangan kirinya yang tak memegang sendok mengelus pipi yang membulat lucu. Matanya terpejam, menikmati penuh penghayatan. "Aah, enaknya! Rasanya tidak berubah dari terakhir kali aku mencobanya!"

"Sebenarnya apa yang kauinginkan denganku, Charlotte?" tanya Victor dengan nada agak ketus. Siapa yang tidak kesal saat dipaksa membuat puding di waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk mengistirahatkan otak, jiwa, dan raga? "Selesaikan semua itu secepatnya."

"Ternyata ... Victor benar-benar sudah berubah sepenuhnya, ya …."

Victor menangkap kesedihan dalam kalimat Charlotte barusan. Dipandanginya si gadis yang memainkan potongan puding di atas piring dengan sendok. Sejak kedatangannya sore hari tadi, Charlotte selalu mengganggu Victor dan mengaku sebagai mantan pacarnya tidak hanya sekali. Sekilas, Victor berpikir, apa gadis itu memang mengatakan yang sebenarnya?

"Ayo kita bermain, Victor!" ajak Charlotte dengan suara ceria. "Kalau kamu menang, aku akan pergi dari sini, jika itu hal yang kamu inginkan. Sederhananya, kamu bisa meminta satu hal padaku. Apa saja."

Satu alis Victor naik. Cepat sekali suasana hati gadis itu berubah. "... Bagaimana jika aku kalah?"

"Sebaliknya, kamu harus menuruti satu permintaanku." Charlotte terkekeh. "Bagaimana? Kita main batu gunting kertas satu ronde?"

Seluruh sel saraf berlabel logika dalam otak Victor menjerit begitu dia menerima ajakan Charlotte. Hanya dalam satu menit, pemenang sudah bisa ditentukan. Victor mengeluarkan batu, sementara Charlotte sempat berpikir mengeluarkan batu juga, sebelum mengubah pilihan menjadi kertas di saat terakhir.

"Yuhuuu, aku menang!" sorak Charlotte. "Untuk pertama kalinya, aku bisa menang dari Victor! Menjadi hantu ternyata ada untungnya!"

Victor menatap kepalan tangannya. Rasanya sulit percaya dia bisa memenangkan saham di bursa internasional, tapi kalah dalam sebuah permainan anak-anak. "Apa yang kaubicarakan?"

"Sekarang aku bisa membaca pikiran Victor—ups."

Charlotte refleks menutup mulutnya. Victor mendengkus. "Bodoh."

"Y-Yaaa, pokoknya, aku yang menang dan aku mau hadiahku!" Charlotte menyetir pembicaraan kembali ke topik awal. "Aku ingin Victor membaca ini dengan suara keras. Tidak usah keras-keras, mengganggu tetangga kiri-kanan."

Dengan suara keras tapi tidak usah keras-keras? Maunya apa? Victor mulai meragukan pengetahuan bahasanya, atau pada dasarnya Charlotte memang tidak jelas.

Selembar kertas memo mendarat mulus di atas tangan Victor. Sepasang iris ungunya melebar nyaris memakan sklera begitu mengetahui isi kertas laknat tersebut. Victor menahan diri untuk tidak protes mengenai ketidakadilan dalam permainan mereka tadi, ataupun mengenai permintaan ajaib Charlotte. Rasanya percuma juga kalaupun Victor mau melakukannya.

Lagi pula, ini juga memang isi hati terdalamnya, sih.

"Ya Tuhan—"

"Yang ikhlas, dong."

"Benar-benar tidak bisa sabar, ya." Victor menggeleng pasrah. "Ya Tuhan, apa salah Victor yang rajin menabung, ... sayang papa-mama, ... bisa apa saja, ... tapi masih jomblo ini?"

"Uhh, andai saja aku dikubur setidaknya bersama dengan ponselku," rutuk Charlotte. "Kapan lagi melihat Victor sang CEO LFG memasang muka mirip kalkun kebelet kawin—"

Aura membunuh yang tersirat dalam tatapan Victor berhasil membuat Charlotte kicep selama lima detik. Seluruh emosi yang pada akhirnya tercetak pada air muka Victor memicu Charlotte untuk tertawa keras, mengalahkan keramaian pasar malam yang tiba-tiba dihantam bom atom nyasar. Kekuatan hantu memang luar biasa mencengangkan.

Sebentar, yang tadi bilang jangan keras-keras tadi siapa, ya?


Sebenarnya kalau dipikir-pikir, hantu tidak perlu tidur, 'kan? Atas dasar logika tersebut, awalnya Victor tidak mau repot-repot menyediakan salah satu kamar kosong untuk Charlotte, kalau saja yang bersangkutan tidak memohon menjurus memaksa, dimulai dari bersujud memeluk kaki Victor, hingga mengancam akan membanting celana dalam Victor bergambar Winnie si beruang di hadapan Tuan Mills, ajudan setia Victor yang bertanggung jawab mengurus Souvenir.

Sungguh beringas.

"Terima kasih banyak, Victor! Orang-orang yang menguburku tidak memberikanku apa-apa selain gaun putih ini. Mana sekarang lagi musim dingin. Aku bahkan tidak pakai dalaman. Dingin!"

Lah, kok ini setan mendadak curhat?

"Victor, aku mau pinjam selimut, dong!" pinta Charlotte. "Kenapa rumahmu dingin sekali sih? Penghangat ruanganmu kabur dari rumah karena tidak sanggup melawan aura dinginmu?"

"Jangan bodoh," tanggap Victor.

"Habisnya rumahmu dingin sekali rasanya."

"Charlotte ...," Victor sebenarnya agak ragu. Walau Charlotte itu menyebalkan, tapi dia itu wanita dan Victor punya prinsip menyakiti wanita adalah suatu dosa besar yang tak terampuni. Akan tetapi, demi kesejahteraan bersama, kebenaran harus tetap dia tegakkan, "kau itu hantu."

"Oh iya, benar." Victor berani bersumpah dirinya melihat wajah konyol Charlotte yang sangat tidak berdosa sekarang. "Ya sudahlah."

Hah? Begitu saja?


"Sebentar lagi tengah malam, hari ulang tahunmu lho, Victor," ujar Charlotte dengan nada berbisik. "Tiba-tiba aku jadi kangen saat aku menjadi jerigen paduan suara anak-anak."

"Dirigen," koreksi Victor.

"Oh iya, deterjen maksudku."

Victor terlalu lelah untuk mengoreksi. "Kenapa tiba-tiba membicarakan soal itu, Charlotte?"

"Aku ingat pesta ulang tahun terakhirmu, yang kita laksanakan di hari Natal karena kamu harus melakukan perjalanan bisnis selama satu bulan penuh di bulan Januari. Waktu itu ada acara perayaan Natal bersama di taman kota, dan aku diminta untuk memandu paduan suara. Apa kamu mengingatnya, Victor?"

Charlotte melompat ke atas kasur, berbaring dengan kedua tangan terlipat di atas perut. Victor menyaksikan dalam diam dengan kening berkerut. Dia mengetahui pesta dan tanggal ulang tahunnya ... apa Charlotte tidak berbohong soal mantan pa—

Lelaki di penghujung dua puluhannya spontan menggeleng. Jangan ikut gila, Vic! Jangan! Jangan buat Papa dan Mama kecewa!

Sepasang netra Victor terlihat menerawang jauh, memandang bulan yang nyaris membulat purnama. Tahun lalu, Victor memang merayakan hari Natal sekaligus ulang tahunnya atas saran ayah dan bibinya. Mereka bertiga memutuskan untuk datang ke taman kota, kemudian ayahnya mengungkapkan bahwa sebenarnya ide merayakan ulang tahun Victor jauh lebih awal adalah usul—

Ada sensasi semacam kejutan listrik yang menyentak otaknya. Siapa?

"Aku bisa berinteraksi dengan benda mati. Kamu masih hidup, jadi aku tak bisa menyentuhmu," lirih Charlotte. "Itu satu-satunya hal yang sangat kusayangkan, walau bertemu dan menghabiskan waktu bersamamu seperti sekarang sudah membuatku sangat bahagia."

"Charlotte," panggil Victor, "sebenarnya ... kau siapa?"

"Aku tidak mengerti ... mengapa kamu bisa melupakanku. Apakah aku terlalu menyakitkan untuk kamu ingat, Victor?"

Victor tertegun. Suasana mendadak terasa nostalgia untuknya sejak Charlotte menyebutkan perihal ulang tahunnya. Gadis berambut cokelat kusam itu tiba-tiba saja sudah terbangun dan memasang posisi duduk bersila, menepuk tempat kosong di samping kanan, mengisyaratkan Victor untuk duduk menemaninya.

"Selama satu minggu terakhir, aku terus mengawasimu dan kuputuskan untuk mengunjungimu hari ini. Aku tidak tahu kamu akan lupa tentangku. Kedatanganku awalnya bermaksud untuk mengembalikan sesuatu padamu," jelas Charlotte. "Untuk sekarang, aku tidak tahu apakah aku tetap harus mengembalikannya ... yang berarti kamu akan ingat tentangku. Tentang hal yang kupikir akan sangat menyakitimu jika saja kamu benar-benar kembali mengingat semuanya, Victor."

"Apa yang kaubicarakan?" sahut Victor. "Kau hanya perlu melakukan apa yang bisa dan mau kaulakukan. Jangan pernah merasa ragu."

Kenyataannya, Victor juga ingin tahu apa sesungguhnya yang telah hilang dari kisah kehidupannya. Pesta ulang tahun kemarin dia habiskan bersama seseorang, tidak hanya dengan keluarganya. Seseorang yang tak Victor ingat, sampai pada akhirnya sosok Charlotte muncul menggantikan siluet hitam yang bertugas mengisi kekosongan garis takdir di masa lampau. Victor tak pernah memikirkan apalagi mengingat soal itu sebelum Charlotte datang.

Mendapati Victor yang tak kunjung bergerak dari posisinya di ambang pintu, Charlotte berhenti menepuk tempat tidur dan beralih memainkan jari-jemarinya. "Victor ... ingat tanggal empat bulan Februari tahun lalu? Ketika kamu belum lama pulang dari perjalanan bisnismu, tepat di hari pertama di bulan Februari, kamu harus pergi ke rumah sakit karena seseorang baru saja kembali dihantui kanker payudara yang sudah naik ke pangkat teratas, stadium akhir, setelah kabur tiga tahun sebelumnya. Tanggal empat itu adalah hari terakhir penderitaanmu."

Detik itu juga, semuanya menjadi jelas untuk Victor. Hanya dengan beberapa petunjuk yang diberikan Charlotte, Victor mengingat semua tentang sang gadis dan kehampaan beberapa potongan ingatan dalam otaknya.

"Tidak mungkin," sela Victor. "Kematianmu adalah penderitaan terbesarku, Charlotte."

Suara Victor terdengar bergetar saat mengatakannya. Charlotte mengulas senyum sarat akan kesedihan dan penyesalan. "Kamu sudah mengingatku, Victor. Sekarang, apa kamu mengingat janji kita di hari Natal waktu itu, ketika kita merayakan ulang tahunmu?"

Butuh waktu lama bagi Victor untuk menjawabnya, "... Kamu ingin merayakan ulang tahunku di rumahku."

"Aku pergi dengan mengingkari janjiku. Tidak hanya itu, aku juga mengambil banyak hal darimu. Semua ini membuatku tidak tenang." Charlotte berjalan mendekati Victor, tangannya menembus tangan Victor yang ingin sekali digenggamnya. Tertawa miris, Charlotte berujar, "Aku lupa. Bodohnya aku. Padahal aku ingin sekali menggenggam tanganmu seperti yang kaulakukan padaku. Berusaha menyalurkan kehangatan untukku, hingga kamu sendiri juga kehilangannya. Aku ingin mengembalikannya."


Kurang lebih satu tahun yang lalu, Victor pernah menyaksikan tubuh lemah sesosok gadis yang terbaring di atas tempat tidur pasien. Gadis itu bernama Charlotte, teman masa kecilnya yang pernah berjuang menghadapi kanker payudara dan akhirnya sembuh. Baru saja Victor keluar dari bandara, Goldman yang menjemputnya dengan cepat memberi kabar mengenai Charlotte yang kembali jatuh sakit dengan penyakit yang sama. Sel-sel abnormal itu terlihat gigih dan tak pernah menyerah dalam menyerang inangnya. Mereka mundur dan menghilang sebentar, sebelum kembali dengan kekuatan yang lebih besar, memulai peperangan terhadap sistem imunitas yang tak sepenuhnya siap.

Victor menjaga dan merawat Charlotte di rumah sakit. Selama dua hari, Charlotte kebanyakan menghabiskan waktunya dengan tidur karena sangat mudah merasa lelah dan lemas.

"Kau sudah pernah menghadapinya sekali dan berhasil," tutur Victor di saat menyuapi Charlotte di hari ketiga. "Kau pasti berhasil menghadapi serangan kedua ini. Aku percaya itu."

"Ahaha ...," Charlotte tertawa nyaring dan lirih, "aku kurang yakin soal itu, Victor, tapi tersenyumlah bersamaku! Supaya aku bisa mengingatnya dan muncul dalam mimpiku saat tidur nanti."

Hari itu adalah hari di mana Victor menyaksikan lebur dan lenyapnya cahaya Charlotte untuk yang pertama kalinya.


Entah karena Charlotte merasa lelah dan memang telah jatuh pesimis dengan semua pengobatan yang hanya terasa menyiksanya, atau barangkali Charlotte sudah memprediksi hari akhirnya, di hari yang sama, Charlotte meminta semua alat medis yang mengekangnya untuk dilepas. Victor awalnya menolak dan sempat berdebat kecil dengan Charlotte, sebelum akhirnya menerima keinginannya.

Empat jam setelah itu, nyaris pukul satu dini hari, dewi malam menemani sang malaikat pencabut nyawa untuk menjemput Charlotte, membebaskannya dari semua penderitaan duniawi. Tanpa suara, tanpa kata-kata, walau hanya sekadar selamat tinggal.

"Kamu mendekap tanganku yang dingin. Kamu ingin memberikanku kehangatan waktu itu, berharap ... aku sebenarnya masih hidup dan hanya pingsan. Koma bahkan menjadi harapan terburukmu. Kehangatan, senyuman, air mata, emosimu, semua itu dirampas darimu oleh kematianku." Suara Charlotte menyusup masuk ke dalam telinga Victor yang sedang mengarungi cabang sungai masa lalunya. "Maafkan aku."


Ketika Victor berhasil kembali menjejak realita, dia baru menyadari adanya jejak basah dan hangat yang membuat mata dan pipinya kaku. Charlotte mendekatkan ujung ibu jarinya pada bagian bawah netra Victor, mengusir para tetesan yang masih berlomba-lomba melarikan diri dari kelenjar lakrimal.

"Setidaknya, walau aku tidak bisa menyentuhmu, aku masih bisa menghapus air matamu seperti yang kamu lakukan dulu," gumam Charlotte sendu.

"Seharusnya hari kepulanganku adalah hari di mana aku melamarmu." Victor mengaku. Bibirnya melengkung membentuk kurva tipis, kontradiksi dengan air mata yang terus mengalir dan napas yang sedikit sesenggukan. "Aku mencintaimu."

"Aku mengetahuinya." Anggukan ringan mempertegas jawaban Charlotte. "Kamu menahan semua perasaanmu sejak saat itu. Berpikir bahwa perasaan hanya akan menyakitimu pada akhirnya. Hari itu, aku mengambilnya darimu, jadi hari ini, kukembalikan semuanya padamu. Hiduplah dengan semua itu, Victor, untukku. Aku tak ingin ... membelenggu hidupmu lagi."

Jam besar lantai berdentang dua belas kali, menandakan hari yang baru telah dimulai. Charlotte tersenyum lebar untuk yang terakhir kalinya—

"Selamat ulang tahun, Victor. Terima kasih untuk semuanya. Aku ... juga mencintaimu."

—dan menghilang.

Selamat tinggal.


tamat


~himmedelweiss 13/01/2022