A BoBoiBoy Fanfiction proudly present
"SIXTH SENSE"
A Fanfiction by Aprilia Hidayatul
BoBoiBoy Galaxy aren't mine.
Rate : 13
Genre : Supernatural/Horror/Romance/Friendship
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Malam kelam yang menegangkan. Guyuran air hujan membasahi kota kecil bernama Pulau Rintis. Padahal, ini baru malam pertama dia menginjakan kaki di kota yang orang bilang terkenal dengan keramahan warganya. Namun, entah kenapa malam ini ia tak merasakan itu semua.
Petir menyambar ke segala penjuru. Memperlihatkan cahaya sesaat yang menakutkan dengan suaranya yang memekakan telinga. Banyak orang yang mungkin bergelung ketakutan dalam balutan selimut tebal di kamar mereka. Tapi, berbeda dengan dirinya.
Saat orang lain ketakutan karena suara petir dia justru ketakutan saat malam kian larut. Dia ketakutan saat jam menunjukan pukul dua belas malam.
"Jangan takut... kamu sudah biasa... relaks..." gumamnya menyugesti dirinya sendiri untuk tenang saat tiba-tiba saja merasakan suasana tak mengenakan. Tubuhnya yang tenggelam dalam selimut, semakin tenggelam. Menyisakan kepalanya saja yang menyembul.
BRAK! BRAK!
Jendela kamar tiba-tiba terbuka dengan kencang. Berkali-kali menabrak dinding kamar. Tirai yang tertiup angin itu basah karena air hujan. Suhu kamarnya yang sudah dingin, semakin dingin saja.
Glup!
Dia meneguk ludahnya saat bulu kuduknya terasa merinding. Dari ujung kamar dekat lemari, manik hazelnya melihat sesuatu. Ada sebuah bayangan hitam yang berjalan ke arahnya dengan perlahan.
Semakin dekat... semakin dekat...
Dia menahan napasnya saat sosok itu sudah berada di hadapannya. Wajah sosok itu terhalang rambut panjangnya. Sosok itu juga memakai pakaian piayama. Dalam hati, dia berusaha menenangkan diri dan mengatakan bahwa itu hal yang sudah biasa.
Kedua tangan sosok itu terulur menuju lehernya. Ingin mencekik.
Namun...
Sring!!!!
Sosok itu menghilang saat cahaya dari kalung berbentuk bunga matahari yang ada di lehernya bersinar.
Hosh... Hosh... Hosh...
"Apa tadi... itu?" tanyanya dengan napas terengah dan keringat yang bercucuran.
Tangannya bergerak memegang bandul kalungnya dan melihatnya. Apa sebenarnya bandul berbentuk bunga matahari itu? Kenapa dapat bersinar begitu saja?
Dia memijit pelipisnya, pusing. Kepalanya menoleh pada jam dinding yang menempel di atas pintu kamarnya.
2.59
'Pantas saja,' batinnya sambil tersenyum kecut.
Ternyata baru sepertiga malam. Pantas saja itu terjadi, menyebalkan sekali.
Karena tidak dapat tertidur lagi, dia beranjak dari ranjangnya menuju meja belajar. Menyalakan lampu belajar, lalu mengambil sebuah buku dari laci mejanya. Tangannya segera menarikan pena di atas buku itu dengan mata yang menajam.
Entah apa yang ditulisnya. Tapi, sepertinya itu sebuah hal yang selama ini dialaminya selama kurun waktu 18 tahun hidupnya.
Sesuatu yang membuatnya berbeda dari yang lain dan tampak istimewa. Namun, juga membuatnya menjadi dikucilkan dan dianggap gila. Dia berharap, dengan pindah ke Pulau Rintis akan mendapatkan hal yang lebih baik.
Semoga saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aloha!
Ada yang tahu gak siapa yang jadi peran utama di fic ini?
April masih bisa nyempetin buat nulis fic. Padahal, sekarang lagi mepet-mepetnya buat persiapan Ujian Praktek, UTBK, Try Out, UNBK dan lain sebagainya.
Btw, ini fic genre horror pertama April. Maaf ya kalo semisalnya gak kerasa nuansa horrornya. Maklum, meski April itu 'bisa', susah aja kalo djadiin fic kek gini. Pokoknya kalian enjoy aja ya?
See you
Love you
*RnR please*
