A Boboiboy Fanfiction by Aprilia Hidayatul

Present

"Sixth Sense"

Rate : 13

Genre : supranatural/mystery/comedy/horro/romance









"Ngomong sama siapa?"

Yaya yang ditanya seperti itu teperanjat. Matanya bergerak ke segela arah asal jangan pada Halilintar. Pemuda itu entah kenapa begitu mengintimidasi, padahal hanya bertanya. Efek karena manik delima serta topi hitam yang membayanginya mungkin ya, karena menurut Yaya itu memberi kesan mencekam.

"Hei, aku bertanya padamu. Kenapa kau diam saja?" Sekali lagi, Halilintar bersuara bertanya pernasaran.

"Hah?" Yaya gelagapan, "eoh? Bukan dengan siapa-siapa," ujarnya setelah kesadarannya kembali.

Pandangan penuh selidik dari Halilintar membuat gadis itu meringis. Dia tidak biasa ditatap seintens itu oleh lawan jenis, kecuali adiknya. Tapi, dengan beraninya pemuda itu terus memakukan atensi pada Yaya tanpa ada sepatah kata lagi yang keluar dari bibirnya setelah bertanya.

Tak berapa lama, pandangan Halilintar beralih kembali lurus ke depan. "Hm, aku akan pura-pura percaya saja dengan apa yang kau bilang."

"Hah?"

"Keong, lambat sekali untuk mencerna kalimat begitu saja."

Setelah mengatakan kalimat ledekan bernada datar itu, Halilintar beranjak dari kursinya. Berjalan keluar ruangan kelas entah untuk pergi ke mana. Lagi pula, untuk apa Yaya susah-susah ingi tahu. Itu bukan urusannya sama sekali. Namun, ia sedikit kesal karena dikatai keong oleh Halilintar.

"Memangnya kenapa kalau agak lambat pemahamannya? Tidak rugi juga untuknya, dasar manusia es," gerutu Yaya seraya memasukan buku pada tasnya.

Seorang gadis dengan rambut di kuncir dua datang menghampiri, bibirnya terulas senyum lebar.

"Halo, namaku Ying, mulai hari ini kita berteman," katanya riang dengan keputusan sepihak.

Entah keberapa kali Yaya dibuat terkejut oleh murid di kelas barunya. Mata hazel itu berkedip beberapa kali, lalu melirik uluran tangan di hadapannya. Dengan sedikit hati-hati, Yaya membalasnya. "Yaya Yah, terima kasih karena ingin berteman denganku. Tapi, aku harap kau membatalkan niat tersebut sebelum menyesal. Permisi," jawab Yaya serius.

Ying mengernyit heran. "Kenapa?"

"Aku tidak bisa menjelaskan secara spesifik, tapi aku mohon jangan berdekatan denganku," ujar Yaya memohon.

"Yaya, jelaskan padaku."

Gelengan kepala Yaya menjadi jawaban untuk Ying. Gadis berhijab merah muda itu berdiri, beranjak dari kursinya meninggalkan Ying yang hanya menatap sendu kepergian calon teman barunya itu. Namun, karena dia keras kepala, maka tidak ada kata menyerah dalam kamusnya untuk menjadikan Yaya sebagai temannya. Ia bisa merasakan ada energi positif yang berasal dari gadis berhijab itu.

"Entah apa yang kau sembunyikan, aku akan berusaha menjadikanmu temanku," katanya mantap.

~ Sixth Sense ~

"Kak, kenapa dengamu? Dari tadi seperti kepikiran sesuatu," tegur saudara kembar ketiga, Gempa.

"Nothing," jawab Halilintar dingin.

Gempa maklum dengan sifat dingin kakaknya itu. Lagi pula, itu sudah seperti sifat bawaan. Karena sedari kecil Halilintar bersikap tak acuh pada orang yang menurutnya tidak terlalu penting atau suka mengganggu. Contohnya saja Taufan dan Blaze yang sering sekali menjadi sasaran death glare dan sifat dingin Halilintar.

Tapi, dibalik itu semua tetap saja mereka adalah anak kembar yang terkadang punya koneksi satu sama lain secara batin. Sehingga, dapat merasakan perasaan gelisah ataupun bahagia.

Dan itu yang dirasakan oleh Gempa sekarang. Meski Halilintar bilang tidak ada, tetap tak bisa membohongi saudaranya. "Kita itu kembar. Saling terikat koneksi satu sama lain, jadi aku bisa tahu kalau kau memang kepikiran sesuatu yang cukup berat. Gadis berhijab pink, apa aku benar?" Gempa menaruh kedua tangannya pada pagar pembatas rooftop, menikmati angin yang berhembus dan membuat poninya tertiup pelan.

Halilintar sontak menoleh cepat pada Gempa. "Dari mana kau tahu?"

"Sudah kubilang karena kita itu kembar, bodoh."

"Kurang ajar sekali mengumpati kakakmu sendiri."

"Beda beberapa menit, bukan tahunan."

Bola mata Halilintar berputar malas ketika adik kembarnya itu membalas ucapannya. Tidak seperti biasa yang sering kalem dan bertingkah sebagai paling waras di keluarga. Tapi, karena mereka satu gen ia tidak akan heran.

"Ada saja balasannya. Jangan keseringan bermain dengan Taufan, kau jadi ikutan aneh nantinya," ujar Halilintar mengingatkan.

"Tidak janji. Oh iya, kenapa jadi bahasan random. Kembali ke topik awal, jadi kenapa kau memikirkan gadis itu? Ada sesuatu yang menarik?" Gempa menaikan sebelah alisnya, bertanya kembali untuk mengorek hal yang membuat Halilintar begitu.

"Dia, orang itu ... sepertinya." Gumaman pelan itu diucap seraya merogoh saku hoodie hitam bercorak petir neon merah, mengambil sebuah pin berbentuk bunga matahari. "Aku tidak salah mengenali. Aku sangat yakin itu adalah dia."

Ucapan penuh keyakinan dari Halilintar menimbulkan perasaan takut bagi Gempa. Ia sangat takut jika nanti hal tersebut tidak sesuai dengan prediski dan ekspektasi yang selama ini dibayangkan oleh Halilintar. Terlebih, sang kakak begitu menanti sosok 'dia' yang akan mengusut tuntas semua permasalahan di sekolah dan kota ini.

Puk!

Gempa tersentak, terperanjat ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Saat menoleh, ia mendapati tatapan lembut yang sangat jarang diperlihatkan oleh pemuda dengan manik delima tersebut.

"Tidak perlu khawatir dengan hasilnya nanti, tapi kita perlu mencari bukti kuat jika memang gadis itu yang selama ini kita cari," katanya tenang, memberi kepercayaan diri pada Gempa untuk tidak berpikiran yang tidak-tidak.

Gempa mengangguk paham. "Aku mengerti."

~ Sixth Sense ~

Duduk termenung di tribun lapangan, kedua tangannya saling bertaut di atas paha dengan pandangan ke arah para siswa yang sedang bermain basket. Pikirannya sedang melanglang buana pada segala kejadian hari ini. Mulai dari sosok perempuan yang tampak dendam dengannya tanpa alasan, teman sebangkunya dengan tatapan tajam dan dingin serta seorang gadis cantik yang mengklaim kalau mereka berteman hari ini.

Benar-benar diluar dugaan.

Omong-omong, soal sosok perempuan, entah kenapa Yaya jadi teringat saat melihat ada perempuan duduk diantara rimbun pohon beringin. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun Yaya bisa merasakan aura negatif yang tersebar.

"Sedari awal memang ada yang tidak beres di sini," gumamnya.

"Kau benar."

Yaya tersentak, lalu menoleh. "Lah? Ying?"

"Apa?" sahut Ying santai.

"Kenapa kau ... padahal aku sudah bilang untuk batalkan saja niatmu mengajakku berteman. Aku takut marabahaya menimpamu nanti karena berdekatan denganku," ujar Yaya dengan nada sendu.

Ying tersenyum. "Yaya, dengarkan aku. Apapun dan bagaimanapun latar belakangmu aku tak perduli. Karena yang jelas, ada dorongan kuat dalam hatiku untuk menjadikanmu sebagai temanku. So, jangan ditolak ya?" katanya dengan lembut, berharap keraguan di hati gadis berhijab merah muda itu sirna.

Yaya terdiam beberapa saat, kemudian kepalanya mengangguk dengan seulas senyum tipis yang menawan.

"Iya, aku mau jadi temanmu."

Gadis itu masih belum menyadari kalau ada sesuatu miliknya yang hilang. Terlalu bergelung dengan pikiran, mampu melupakan hal disekitar.

bunga matahari, alasanmu untuk kembali adalah pertanda bahwa memang ada sesuatu yang terjadi di dunia ini.

~ Sixth Sense ~

to be continued

hello, apakabar semua? hehehe

terakhir update tuh tahun berapa ya? soalnya aku baru bisa update lagi.

btw ini bakalan slow update jadinya karena aku mau perbaikan alur lagi

so, stay tune ! see you in next part