Kouhai

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi

Rated: T

Genre: Romance.

Peringatan keras! Serius deh! One-Shot, AU, OOC, EYD Hancur, Typo's

Enjoy.

[…]

[…]

[…]

[…]

Musim gugur, dimana pohon - pohon mulai menggugurkan daun mereka, warna jingga yang mampu memikat orang – orang serta suhu udara yang mulai turun, menawarkan suasana alam musim gugur yang indah.

Disinilah aku, berdiri didepan seorang malaikat yang sedang merangkap sebagai kouhai ku saat ini. Ia terlihat sedang berjongkok sambil mencoba berbicara dengan anjing yang berada dipinggir trotoar jalan.

"Ah, senpai!" Ucapnya sembari melambaikan tangan kearah ku.

Aku pun berjalan mendekat sembari menggendong tas ku di bahu. "Kau sedang apa disana?"

"Ah ini, kurasa dia tersesat, jadi aku menemaninya disini." Lanjutnya membalas pertanyaaku barusan.

"Dan mencoba mengobrol dengan anjing tersebut seperti orang gila?"

"Mouu… senpai kau tidak asik ah." Balasnya sembari mengembungkan kedua pipi tembem tersebut.

Duh, kenapa dia bisa seimut ini sih, sudah kuduga dia memang malaikat yang jatuh dari langit. Ah iya, aku lupa mengenalkan kouhai imutku ini pada kalian semua. Dia, Gabriel. Siswi tahun pertama dan merupakan kouhai ku sejak smp.

"Lagian kau seperti orang yang bisa berbicara dengan hewan saja." Ucap ku sembari berjalan mendekati vending machine yang tak jauh dari sana.

"Kau ingin apa?"

"Apa saja."

Setelah membeli minuman untuk kami berdua, aku berjalan kearahnya dan duduk di pinggir trotoar. "Nih" Ucapku sembari menyerahkan minumannya.

"Kenapa jeruk?" Ucapnya dengan muka cemberut.

"Lalu, kau mau punyaku?" Sembari menawarkan jus stroberi yang sudah ku minum.

"Tentu!" Ucapnya dengan nada semangat tanpa memperdulikan kalau jus itu sudah ku minum.

"Senpai, apa kau sibuk saat malam natal?"

"Kenapa tiba – tiba kau bertanya seperti itu?"

"Ya kan aku hanya memastikan saja."

"Aku ada kencan saat malam natal."

"Hooo." Ucap Gabriel tiba – tiba langsung berdiri dan mendelik kearah ku.

"Kau kenapa?" Tanya ku bingung.

"Tidak, maksudku senpai itu tipe orang yang tidak memiliki teman, jadi mustahil bisa berkencan dengan seorang wanita."

"Wow tunggu dulu, kau kira aku tidak punya teman apa?!" Kata ku membela diriku sendiri, apa – apaan maksudnya itu, mengatakan aku seperti seorang NEET saja. Asal kalian tahu, aku memiliki teman walau tidak banyak. Mungkin karena aku sering menyendiri, makanya dia menganggap aku tidak memiliki teman.

"Siapa yang tau kan." Ucap Gabriel sambil memalingkan mukanya kearah lain.

"Ya sebenarnya aku mau meminta saranmu sih, itupun kalau kau tidak keberatan." Balasku sembari memberikan kode untuk duduk disamping ku.

"Saran apa memang?" Balasnya ketus.

"Bagaimana cara mengajak seseorang untuk berkencan?"

"Hah?"

"Ya itu baru rencana ku saja sih, sebenarnya aku belum benar – benar mengajaknya sih." Kata ku sembari menggaruk kepala ku yang tidak gatal.

"Kenapa meminta saran ku, kenapa tidak meminta saran pada teman mu saja senpai?" Balasnya diserta penekanan pada kata "teman".

"Yah, kau tau. Kau itu terkenal di sekolah kita, jadi kurasa banyak laki – laki yang mungkin pernah mengajak mu berkencan gitu." Kata ku kemudian melanjutkan kalimat ku yang tertunda barusan "Mungkin itu bisa kujadikan referensi, hahaha."

"Lebih baik kau katakan saja secara langsung senpai. Ditolak atau tidaknya itu urusan belakangan."

"Akan ku coba saran darimu." Balasku sembari berdiri kemudian mengulurkan tangan kearahnya."Ayo, kutraktir crêpes sebagai ucapan terima kasih."

"Sungguh?" Jawabnya dengan mata berbinar.

Aku mengangguk sebagai jawaban. 'Kenapa mood wanita begitu cepat berubah ya?'

[…]

Saat ini aku sedang berjalan menuju atap sekolah dengan mood yang buruk. Sejak awal pelajaran aku tidak terlalu memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung, aku masih kesal dengan senpai bodoh yang tak peka sama sekali. Sejak kemarin aku tidak bisa tidur dengan tenang, kenapa orang bodoh dan tidak peka seperti dia bisa mempunyai seorang yang disukai. Hah… memikirnya terus menerus hanya akan membuat mood ku tambah memburuk, lebih baik aku segera menuju keatap.

CKLEK!

"Hmm… Kenapa kau lama sekali?"

"Tunggu, kenapa senpai ada disini?" Tanyaku dengan nada bingung.

"Itu." Ucapnya sembari menujuk kearah surat yang sedang kupegang.

Aku menatap surat yang kupegang, kemudian melirik dia kembali. "Kau sendiri yang bilang kemarin untuk mengatakanya secara langsung kan?"

"Jadi, maukah kau berkencan denganku?"

Sungguh, aku saat ini merasa sangat bodoh. Bisa – bisanya aku cemburu seperti orang bodoh seperti ini. Aku yakin saat ini muka ku sudah memerah, kugunakan kedua tangan ku untuk menutup muka ku yang akan mengeluarkan air mata.

"Oi oi oi, kau kenapa?" Tanya nya sambal bergegas mendekat kearahku, aku yakin saat ini senpai pasti sangat bingung.

"Senpai… kau bodoh!" Ucapku disela – sela tangisanku.

"Maaf kalau aku menyakiti perasaanmu Gabriel."

"Mou… kau masih saja tidak peka senpai"

Setelah mengucapkan kalimat perpisahan tidak langsung tersebut aku langsung berlari pergi dari sana. Dari kejauhan aku dapat mendengar suara senpai memanggil namaku dari jauh, tapi tidak mengejarku. Aku memang tidak berharap dia mengejarku, tidak mungkin aku bisa melihat wajahnya itu. Ughh memikirkannya saja membuat ku malu.

[…]

Hari ini aku berangkat kesekolah dengan perasaan bercampur aduk. Sejak ditolak kemarin perasaan tidak enak ini menghantui ku. Niat awal ku untuk meminta maaf kepada Gabriel perihal kemarin, tapi saat aku menuju ke kelasnya, aku tidak melihat dia disana jadi kuputuskan untuk menemuinya nanti saja dan langsung menuju ke kelasku.

Sepanjang jam pelajaran, pikiranku sama sekali tidak berada di dalam kelas, yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya aku meminta maaf ke Gabriel, aku masih belum siap kehilangan satu – satunya kouhai imutku.

"Kau baik – baik saja dobe?"

"Hah?"

"Kalau kau ada masalah ceritakanlah."

"Ah, maaf."

"Kau ada masalah dengan Gabriel?"

"Kenapa kau bisa tau?"

"Kau lupa kita sudah berteman berapa lama?"

Ya, dia adalah sahabat terbaik yang kumiliki, si teme dengan rambut model pantat ayam. Kalau sudah berhadapan dengan dia, aku memang tidak dapat berbohong. Bahkan hanya dengan melihat wajahku dia tau kalau aku sedang dalam masalah.

"Lebih baik kau segera minta maaf, sebelum kutendang wajah menjijikan mu itu." Ucapnya dengan nada dingin seperti biasa.

"Yah, mungkin itu ada baiknya. Tapi aku masih kepikiran, apakah dia akan menerimanya atau tidak."

"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang kau segera pergi, sebelum dia keburu pulang."

"Ah, oke." Ucapku segera mengemasi barang – barangku yang berada di atas meja, memasukkannya kedalam tas dan segera melenggang pergi "Terima kasih atas saranmu yang tidak berguna itu teme."

"Hn."

[…]

Dalam sunyi lorong sekolah, derap langkah kaki ku memecah keheningan ini. Tujuan pertamaku adalah menuju ke kelas Gabriel, dan seperti yang kuperkirakan…

"Gabriel sudah pulang senpai. Katanya sih ada urusan mendadak." …Dia sudah tidak berada dikelasnya.

Jika dia tidak berada dikelasnya, pilihanku hanya satu, menemuinya langsung ke rumahnya. Aku terlalu malas untuk mencarinya di area sekolah yang luas ini. Kupercepat langkah kaki ku sembari memecah keheningan lorong yang sudah mulai sepi.

Setelah keluar dari gerbang sekolah, aku mulai berlari, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kembali karena mulai kehabisan nafas. Yah bagaimanapun, berlari hingga menuju kerumahnya itu tidak mungkin.

Belum setengah perjalanan berlalu, aku merasa déjà vu dengan pemandangan di depan ku. Kulihat disana ada kouhai imutku sedang duduk di samping vending machine sembari meminum jus jeruk miliknya.

"Yo!"

"Se-senpai!" Ugh, wajahnya yang terkejut itu benar – benar imut.

"Boleh aku duduk?"

"Ah, tentu."

"…"

"…"

"…"

Tidak ada yang memulai pembicaraan, baik aku maupun dia. Arrghh suasana canggung ini membunuhku. Lebih baik aku segera menyelesaikan masalah ini, tanpa pikir panjang aku segera berdiri dari tempat duduk ku dan kemudian berjongkok dihadapannya untuk menyamakan tingginya denganku.

"Gabriel! Aku minta maaf. Tempo hari aku membuatmu menangis, sejak hari itu aku tidak tenang karena merasa bersalah. Jadi kumohon, maafkan aku." Ucapku penuh penyesalan. Siapa yang tidak menyesal jika membuat gadis seimut Gabriel menangis.

"Pfft… sudah kuduga senpai memang tidak peka."

"Hey!" Ucapku tak terima dengan jawabannya barusan.

"Begini saja…" Balasnya, sembari berdiri dari tempat duduknya. "Aku akan memaafkan senpai kalau senpai mau menemaniku jalan – jalan besok. Bagaimana?"

"Sungguh hanya itu?"

"Sebenarnya ada satu lagi sih, tapi…"

"Tapi…?"

"Ra…Ha…Sia…" Ucapnya sembari tersenyum kemudian menarik tanganku. "Ayo senpai, kau harus mentraktirku crêpes hari ini."

"Hey! Pelan – pelan sedikit."

Yah, setidaknya aku sudah meminta maaf kepada Gabriel. Walaupun tak dijawab secara langsung, tapi aku tau, mungkin dia sudah memaafkan ku. Mungkin?

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

END