Kouhai
Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi
Rated: T
Genre: School, Romance.
Peringatan keras! Serius deh! One-Shot, AU, OOC, EYD Hancur, Typo(s)
Enjoy.
[…]
[…]
[…]
[…]
Special Chapter: White Day.
Siang hari di dalam ruang kelas seorang Uzumaki Naruto tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Sudah hampir setengah jam Naruto duduk sembari memperhatikan langit. Entah apa yang ada dipikirannya tersebut hingga tak sadar bahwa ruang kelas yang ia tempati sudah kosong.
"…"
"Oi dobe, kau kenapa?"
"Huaa!? Teme sialan." Teriak Naruto yang dari tadi asik melamun sendiri.
"Sedang memikirkan Gabriel?" Balas Sasuke to the point.
"Tidak ada yang bisa kusembunyikan darimu teme." Balas Naruto dengan nada pasrah.
"Hn."
Dalam hatinya Naruto hanya bisa pasrah, kenapa ia memiliki sahabat yang sangat irit kata begini. Entah apa yang diturunkan gen Uchiha ke sahabatnya ini, ia pun tak tau.
"Kau tidak sibuk akhir pekan ini kan?" Tanya Naruto dengan sedikit jeda. "Temani aku berbelanja bagaimana?"
"Memang apa yang ingin kau berikan padanya?" Tanya Sasuke dengan nada penasaran.
"Entahlah, tapi aku merasakan kalau aku akan menemukan barang yang cocok untuk diberikan padanya nanti."
"Baiklah."
"Jadi kau ikut atau tidak?"
"Hn."
"Itu artinya iya atau tidak sialan!?"
Sabar Naruto, kau harus sabar menghadapi Uchiha bungsu satu ini. Sungguh berhadapan dengan satu Uchiha saja sudah membuat mental Naruto rusak, bagaimana jika harus berhadapan dengan Uchiha yang lainnya, hal itu tak dapat ia bayangkan.
Scene Break
Waktu sudah menunjukkan tepat pukul dua belas siang, matahari tepat berada diatas kepala mereka, dan kedua orang tersebut duduk menghadap satu sama lain dengan muka kusut bak pakaian kurang disetrika.
"Kau tau dobe, kita sudah berkeliling hampir setengah hari." Jeda Sasuke sejenak. "Jadi kenapa tidak kau jelaskan apa yang sebenarnya ingin kau beli." Lanjutnya dengan nada perintah.
Entah apa yang merasuki Uchiha bungsu ini hingga bisa berbicara panjang lebar seperti tadi. Mungkin panas matahari membuat kepalanya rusak?
"Entahlah, aku juga bingung…" Balasnya dengan nada pasrah sembari memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu.
Flashback
Sore itu Naruto seperti biasa berniat untuk pulang, badannya sangat letih karena mengikuti kegiatan ekstrakulikuler tadi. Tanpa sadar pandangan matanya jatuh ke hadapan malaikat imut yang ada di depannya, yang tengah sibuk merapikan surat-surat yang tergeletak jatuh dari lokernya.
Tanpa pikir panjang Naruto pun berjalan menuju gadis tersebut dan berniat membantunya.
"Dapat banyak surat lagi hari ini?" Sapanya dengan santai.
"Ah senpai, seperti yang senpai lihat." Balasnya sembari merapikan surat-surat tersebut dibantu oleh Naruto.
"Mau ku traktir crêpe setelah ini?"
Gabriel tersenyum senang. "Ayo senpai! Surat-surat ini bisa menunggu besok." Balasnya sembari menarik tangan pemuda tersebut.
"Oii pelan-pelan."
"Ahahahaa!"
Scene Break
Sore itu terlihat seorang pasangan muda-mudi tengah duduk di salah satu bangku taman tak jauh dari penjual crêpe disana. Sang gadis terlihat berbicara panjang lebar tanpa sadar banyak sisa makanan yang menempel di pipi gadis tersebut.
Sementara lawan bicaranya tersebut hanya tersenyum maklum sembari membersihkan pipinya yang penuh dengan remah makanan yang ia makan.
"Maka dari itu senpai, aku sudah lelah dengan surat-surat yang mereka kirim setiap harinya." Keluh Gabriel yang dari tadi asik berbicara sendiri.
"Iya-iya aku paham, tapi kau tau kan aku tidak bisa membantu apapun." Balas Naruto dengan nada pasrah.
"Ya aku juga tidak terlalu mengharapkan sesuatu dari senpai, tapi mentraktirku crêpe setiap hari sepulang sekolah kedengarannya bagus juga." Gabriel tersenyum senang kearah senpainya itu.
"Oi kau mau membuatku bangkrut ya?" Naruto angkat bicara. "Tapi kupikir itu ide yang bagus juga, soalnya badanmu terlihat agak kurus. Mungkin dengan makan-makanan ini dapat membuat berat badan mu naik?" Balas Naruto sembari menunjuk kearah crêpe yang ada di tangannya.
"Mouu senpai, kau tidak asik ah." Gabriel mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ahahaha."
Kena kau Gabriel.
End of Flashback
Sudah hampir tiga puluh menit kedua pemuda tersebut duduk diam disana dengan pikiran mereka masing-masing hingga salah satunya dari mereka yang kemudian kembali membuka pembicaraan.
"Sepertinya aku tau apa yang harus ku beli teme." Ucap Naruto sembari menoleh kearah sebuah toko yang tak dari tempat mereka berdua duduk.
"Kau serius?" Tanya Sasuke memastikan.
"Duarius malah."
"Hn."
Scene Break
Sore hari, waktu bagi murid-murid yang berada di sekolah untuk kembali pulang kerumah mereka masing-masing, walau ada beberapa murid yang masih berada di sekolah karena beberapa urusan yang mereka miliki. Salah satunya Gabriel, gadis ini masih berada di sekolah, lebih tepatnya berada di dalam kelas, dikerubungi oleh banyak teman-temannya yang penasaran.
Entah sejak kapan mereka menyadarinya, tapi yang pasti Gabriel benar-benar kesal saat ini, niat hati ingin meminta bantuan pada senpainya, malah masalah yang didapatnya. Gabriel hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan senpainya itu.
"Nee.. nee.. Gabriel. Aku tidak tau kalau kau sudah bertunangan?" Ucap salah satu teman gadisnya.
"Iya akupun tak tau kalau kau sudah bertunangan. Jadi siapa pria yang beruntung itu?" Tanya gadis berambut oranye itu.
"Kurasa kau bisa menebaknya sendiri Irina." Balas salah satu temannya dengan rambut berwarna biru tersebut.
Sungguh Gabriel benar-benar bingung. Di satu sisi gadis tersebut merasa sangat senang akhirnya senpainya itu tau tentang perasaan yang ia miliki. Di sisi lain ia juga merasa sangat kesal karena hadiah yang diberikan senpainya itu malah menimbulkan kehebohan yang luar biasa.
Flashback
"Jadi kenapa kau malam-malam datang kesini senpai?" Tanya Gabriel dengan nada penasaran.
Saat ini mereka berdua sedang berada di depan rumah Gabriel. Pemuda tersebut terlihat membawa tas kecil di tangan kanannya, yang kemudian ia buka dan mengambil kotak kecil berwarna hitam yang ada di dalamnya.
"Untuk memberikan mu ini." Balasnya sembari membuka isi kotak tersebut.
Gadis itu melihatnya, perlahan-lahan Gabriel dapat melihat isi dari kotak berwarna hitam dari kotak yang dibawa senpainya tersebut.
Itu adalah sebuah cincin.
Sungguh dalam hatinya saat ini, Gabriel merasa sangat senang. Mungkin jika dia adalah sebuah bom, dia sudah meledak saat itu juga.
"Emm…" Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ini balasan untuk hadiah valentine mu kemarin, kuharap kau menyukainya."
Gabriel diam mematung di sana, mulutnya terbuka. Suaranya serasa tercekat di tenggorokkannya. "Senpai, cincin ini sangat indah. Tapi kenapa?"
Cincin emas putih yang Naruto berikan benar-benar indah, cantik dan elegan. Begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Benar-benar sempurna dan Gabriel sangat menyukai itu.
"Awalnya aku bingung ingin memberikan mu apa, sampai pada akhirnya aku teringat dengan kejadian tempo hari di mana kau masih sering mendapatkan banyak surat penggemar di lokermu itu." Naruto menjelaskan. "Akhirnya kuputuskan untuk membelikanmu itu."
Gabriel menatap cincin tersebut dalam-dalam. Sungguh tak pernah terpikir olehnya akan diberi hadiah se-indah ini oleh senpai yang punya penyakit kurang peka yang sangat akut itu. Gabriel membayangkan bahwa cincin itu pasti lah mahal karena ia tau bagaimana sifat senpainya itu.
Gabriel tersenyum senang dan menatap Naruto. "Bisa tolong pasangkan untukku?"
Naruto balas tersenyum lembut, bahkan saat Naruto mengeluarkan cincin tersebut dari kotaknya, pandangan Gabriel tak pernah lepas dari senyum senpainya itu. Menurut Gabriel senyuman itu merupakan senyuman terindah yang pernah ia lihat.
"Bagaimana?" Tanya Naruto dengan nada penasaran.
"Ini sungguh cantik, senpai… Terima kasih banyak."
Gabriel tanpa pikir panjang langsung menabrakkan diri ke senpainya tersebut. Memeluknya dengan erat seolah-olah tak ingin melepaskan pemuda tersebut dari dekapannya.
"Sekali lagi, terima kasih banyak senpai."
Naruto yang tidak siap dengan serangan tersebut hanya terdiam mematung, sungguh jika dihadapi dengan situasi seperti ini, otaknya tidak dapat bekerja secara maksimal.
"Tentu."
Walaupun terkesan singkat, tapi jawaban tersebut sangatlah berarti bagi Gabriel. Entah bagaimana reaksi kedua orangtua nya jika melihat mereka berdua sekarang, Gabriel tidak bisa membayangkan hal tersebut.
End of Flashback
Dalam pikirannya sekarang, ia tak mau terlalu mau ambil pusing tentang masalah yang menimpanya. Setidaknya perasaan senang tersebut mengalahkan rasa kesal yang ia rasakan sekarang. Mungkin pulang bersama senpainya tersebut merupakan pilihan yang bagus. Ia akan memintanya untuk mentraktir crêpe lagi kali ini.
Tapi sebelum ia berniat untuk meninggalkan kelas, ia melihat suara ribut dari arah lapangan sekolah yang saat ini terlihat jelas karena kelasnya berada di lantai tiga gedung sekolahnya. Ia melihat senpainya sedang dikejar oleh kerumunan orang yang bisa ia tebak adalah para penggemarnya yang merasa kesal karena malaikat mereka telah dicuri oleh pemuda berambut kuning itu.
"Kemari kau Naruto sialan, jangan melarikan diri!"
"Tidak akan!"
"Berhenti sialan, tunjukan jika dirimu itu lelaki sejati."
"Kalian saja mainnya keroyokan!"
Gabriel tertawa, dalam hatinya, Gabriel merasa sangat senang sekarang. Hari-harinya kini pasti akan lebih berwarna, ditemani dengan teriakan indah dari senpainya yang sedang dikejar oleh para penggemarnya. Mungkin Gabriel akan mendoakan agar senpainya itu agar kembali dalam keadaan utuh. Ia tak mau jika harus makan crêpe sendirian, itu tidak menyenangkan kau tau?
[…]
[…]
[…]
[…]
[…]
END
AN : Sebelumnya ku ucapkan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah membaca sampai akhir cerita ini. Chapter ini khusus dibuat untuk merayakan white day walaupun di sini jarang yang merayakannya. Aku sangat berterimakasih jika kalian berkenan meninggalkan review agar dapat memotivasiku dalam menulis. Sekali lagi ku ucapkan terima kasih banyak untuk reader sekalian. Jaa ne~
