Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama|Romance|Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,OCC,TYPOS,LEMON,REMAKE Etc
(FF ini Remake dari sebuah Novel Harlequin dengan judul yang sama karangan Sharon Kendrick)
Chapter 2
.
.
.
"WELL, well, wel… si pongah sudah turun derajat rupanya, " Komentar itu seketika membuat Telinga Hinata terasa panas dan Memerah. Suara Naruto sama peris seperti yang diingatnya —kuat, berat dan sinis. Dengan kasar Hinata menjatuhkan kain pel yang dipegangnya ke dalam ember, membuat air dalam ember itu bercipratan membasaki T-shirt-nya.
"Kau tahu," Naruto melanjutkan dengan nada yang sama, membuat punggung Hinata di jalari rasa nikmat sekaligus ngeri. "Aku senang melihatmu dalam posisi merendah begini. —Sangat memikat. Dan lucunya, aku selama ini tak pernah terangsang hanya karna T-shirt yang basah."
Mata safir Naruto menelusuri lekuk-lekuk tubuh Hinata yang tampak jelas dibalik T-shirt-nya yang basah. —sejenak Hinata melihat hasrat yang membara dimata pria itu, —sementara Naruto menjilat bibirnya sendiri dengan gerakan yang provokatif. Ingat apa yang telah dilakukannya terhadapmu Hinata. "Mau apa kau disini?" Tanya Hinata sambil bangkit berdiri
"Aku rasa, —Aku yang lebih berhat mengajukan pertannyaan itu, bukan? Apa gaji seorang bangkir tidak cukup sehingga kau perlu mencari penghasilan tambahan dengan menjadi seorang pembantu…?" "Kaa-sanku yang menjadi pembersih rumah disini," tukas Hinata dingin, "Hanya Kami-sama yang tau kenapa dia melakukannya, tapi itulah pekerjaannya dan aku takkan membiarkanmu menghinanya."
"Aku tak pernah berpikir untuk menghina kaa-sanmu, yang ku suka dan kuhormati." Mata naruto menyipit. "Tidak seperti putrinya yang licik dan mata duitan. Katakana padaku, niat busuk apa yang ada dalam kepalamu! —Kau ingin merusak hidup Menma untuk yang kedua kalinya?"
Hinata tertegun menatap Naruto, bertanya-tanya apakah pria itu sudah tidak waras. "Kau gila!. —Apa maksud ucapanmu itu?"
"Maksudku, dengan motif apa kau ada disini?"
"Motif? Bicaramu benar-benar tidak karuan—Naruto." "Kalau begitu biar aku memperjelasnya." Kata Naruto memelankan suaranya. "Adikku akan kembali dari Amerika, —tempat tinggalnya setelah kau mencampakannya. Ia akan datang bersama tunangannya yang baru. Dan kau ada disini. —Lagi. Tentu Aku bertanya-tanya apa rencana busukmu. Apa kau ingin merebutnya kembali? Atau kau hanya ingin memamerkan tubuhmu yang indah dan panas itu didepan matanya?"
"Kau benar-benar sinting." Kata Hinata sengit. "Kalau kau belum pikun, —Kau pasti masih ingat bahwa Kaulah yang berusaha dengan segala cara untuk memutuskan hubungan kami."
Naruto tersenyum kejam. "Begitu pendapatmu? Kalau kau sungguh-sungguh mencintai menma, kau takan memperdulikan perkataanku. Terus terang, —tadiny kukira itu yang akan terjadi."
Hinata menyipitkan matanya dengan curiga. "Kau mengira itu yang akan terjadi? Jadi, kata-katamu saat itu hanya ancaman kosong? Bahwa semua itu hanya ujian yang harus kulalui sebelum aku menikah dengan adikmu?" Naruto menganggukkan kepalanya. "Kurang lebih begitu. Ketika seorang pemuda yang agak liar —apalagi pemuda yang mewarisi banyak harta seperti Menma—mengungumkan bahwa ia akan menikah, bijaksanalah kalo kita menguji komitmen kedua belah pihak."
Gila! —Pria ini mestinya hidup di zaman batu!. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Apakah kaa-sanmu tau tentang… eksperimen keji ini?"
Naruto tersenyum tawar sambil melanjutkan ucapannya. Pernyataan Hinata sama sekali tidak diacuhkannya. "Nah, seperti yang kukatakan tadi, —aku mengira kau akan mengusirku tadi dengan kuping merah, tapi nyatanya, kau yang meninggalkan tempat ini dengan cek yang cukup besar untuk menggemukan kantongmu. Tapi itu bukan apa-apa di bandingkan dengan apa yang hampir kau berikan padaku. Ya, kan, Hi-na-ta?" ejeknya.
Wajah Hinata seketika memerah padam. Hanya orang sejahat Naruto Uzumaki yang tega menyiksa seorang wanita dengan cara seperti itu. Naruto bergerak mendekatinya dan secara reflex tubuh Hinata pun menegang. Hinata mengangkat kepalanya tinggi-tinggi —dengan sikap angkuh, mata lavendernya berbinar bening seperti Kristal.
"Jadi kau berfoya-foya dengan uang itu? Mudah sekali caramu mendapatkan uang, ya?" Naruto tertawa kosong. "Oh, Tuhan, kau berdiri disitu begitu dingin dan cantik, seakan-akan tubuhmu dialiri es dan bukan darah. Tapi begitu disentuh, kau langsung menjadi sepanas api. Ya, kan. Hinata? —Katakana padaku apa kau bereaksi seperti itu terhadap semua pria atau—hanya terhadapku? Apa kau tidak malu mempunyai tubuh yang seperti itu?"
Hinata tersenyum tenang, meskipun jantungnya memukul-mukul keras. "Kurasa kau meremehkan daya tarikmu sendiri, Naruto." Naruto menanggapinya dengan setengah tersenyum. "Kaupikir begitu? Barangkali itu benar, tapi dalam kasusmu, aku sama sekali tak ragu-ragu. Mungkin kita perlu membuktikannya?"
Hinata dapat melihat pancaran nafsu yang tidak ditutup-tutupi di wajah Naruto, dan seketika tersentak ketika menyadari maksud pria itu. "Jangan berani-berani mencoba!" Naruto maju selangkah. "Tapi kau ingin aku melakukannya, bukan? Kita sama-sama tahu itu. Kau membenciku, namun sekaligus mendambakanku…" ia seketika menarik Hinata kedalam pelukannya. Tidak dengan cara kasar, tapi tidak juga dengan cara lembut.
"Kalau kau masih nekad juga," ancam Hinata, "Aku akan menjerit sekeras…"
Namun mulut naruto sudah membungkamnya, dan Hinata tidak menjerit, bahkan melenguh pun tidak. tubuhnya yang berhianat sudah menyambut ciuman Naruto dengan penuh kerinduan. Dirinya diliputi nafsu yang menggelora yang seketika mengalahkan harga diri dan akal sehatnya.
"Oh, Hime," gumaman Naruto dimulutnya. "Ya! Tunjukan padaku. Tunjukan padaku betapa kau menginginkanku."
Hinata tak tahu apa sebenarnya yang diharapkan Naruto darinya. Ia memberi respon semata-mata berdasarkan insting, membalas ciuman Naruto dengan agak panik dan bersemangat seakan-akan ia belum pernah dicium sebelumnya. Dan sebenarnya memang belum. —Belum pernah dengan cara seperti ini maksudnya.
"Atau haruskah aku yang menunjukannya terlebih dahulu padamu?" bisik Naruto sambil menariknya agar lebih mendekat, —serapat-rapatnya. "Oh, Hime" Naruto menundukan kepalanya untuk berbisik ditelinganya. Hinata merasakan tubuh pria itu bergetar, getaran liar dan tak terkendali yang menunjukan bahwa ia sudah hampir tak mampu menahan hasratnya. Hinata menarik diri, takut memikirkan apa yang terjadi selanjutnya bila ia tak segera menghentikan hal ini. Naruto pun menyudahi ciumannya dengan tiba-tiba, dan Hinata tersentak ketika melihat wajahnya. Nafsu berahiyang jelas-jelas terpampang diwajah pria itu membuat Naruto tampak seperti orang asing.
'Tapi ia memang orang asing' hal itu membuat Hinata membatin. Apa yang ku ketahui tentang seorang Naruto Uzumaki, terkecuali bahwa dia merupakan ancama yang sangat berbahaya? "Untung saja kau menghentikanku," kata Naruto datar. "Kalau kita terus berciuman, aku rasa aku tak akan bisa menguasai diriku. Mungkin sebentar lagi aku pasti sudah akan melucuti pakaianmu dan menidurimu didapur ini, sebab akal sehatku sepertinya sudah tak bekerja lagi."
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya seaka-akan tak mengerti. "Ya Tuhan!" serunya. "Apa yang kukatakan? Dan apa yang kulakukan? Kaa-sanku bisa kapan saja masuk kesini. —Tukang kebun ada diluar dan…" Hinata tak sanggup lagi mendengarkan pengakuan itu. Rasa muak Naruto pada dirinya sendiri hanya menambah-nambah penyesalannya. "Lepaskan aku…"
"Tidak."
Hinata menatap Naruto dengan bibir yang gemetar, ia nyaris menangis. "Naruto, tolong." Naruto menyipitkan mata melihat keadaan Hinata. "Hinata… yang terjadi diantara kita…" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kalut.
"Seks!" katanya tegas. "Cuma itu. Kebetulan saja keadaan yang menimbulkan semua ini—daya tarik seksua diantara dua orang yang saling membenci. Dan bagiku itu menjijikkan."
"Jangan kau kira aku menyukai itu" balas Naruto pahit. Hinata mencoba memberontak. Tapi Naruto masih memeganginya erat-erat. Yang menyebalkan, —tekad Hinata untuk melepaskan diri itu dibarengi dengan keinginan lain yang sama kuatnya, yaitu keinginan untuk menyerah pada Naruto dan pada dirinya sendiri. "Maukah kau melepaskan aku, —sekarang?" tanyanya lemah.
"Hanya bila kau berjanji tidak akan kabur."
"Aku tak mau berjanji. Kau tak berhak meminta apapun dariku."
"Termasuk tidak juga kalau kuminta kau agar menjauhi Menma?"
Hinata benar-benar ingin menangis. Bisa-bisanya Naruto bersikap begitu, menciumnya dengan penuh berahi sementara pikirannya masih dipenuhi rasa curiga terhadapnya. "Oh. Demi Tuhan! Semua itu sudah lewat. —Selesai!"
"Maksudmu, kau tak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Menma?"
"Ya." Jawab Hinata sama pelannya.
"Tapi mungkin saja sejak dulu kau memang tak punya perasaan apa-apa terhadapnya?" tantang Naruto dengan nada bicaranya yang sekeras baja.
Hinata menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin Naruto membencinya sedemikian rupa sehingga pria itu takkan sudi mendekatinya lagi. Dengan demikian, Hinata akan terbebas dari pengaruh sihir yang seakan membelenggunya setiap kali Naruto menyentuhnya.
"Tentu saja aku suka pada Menma" katanya dengan suara serak serak basah menirukan suara-suara para perempuan jalanan.
"Tapi mungkin aku lebih suka pada uangnya. Kau telah sangat membantuku. Naruto. Bagaimana—puas sekarang?"
Naruto merapatkan bibirnya. "Ya Tuhan!, kau benar-benar tak bermoral. Sejak kejadian dua tahun lalu aku merasa masih meragukan tindakanku itu, tapi sekarang— aku benar-benar sudah yakin." Pipi Hinata seketika terasa yakin hanya dengan jalan ini ia bisa melepaskan diri dari cengkraman Naruto dan memperoleh kembali akal sehatnya, namun melihat tatapan merendahkan yang Naruto lemparkan kepadanya seketika membuat hatinya tercabik-cabik.
"Kau sama sekali tidak menyesalinya, Hinata?" Tanya Naruto dengan sinis dan tatapan dinginnya yang menusuk hingga kebagian terdalam Hinata. "Uang itu benar-benar bisa menutupi kehilanganmu?"
Seketika Hinata menyambar tasnya dimeja yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini. "Kurasa masalah ini tak perlu kita bicarakan lagi. Aku pergi sekarang, Naruto. Aku tak akan bilang bahwa pertemuan kita kali ini menyenangkan, jika aku mengatakannya itu berarti aku berbohong pada diriku sendiri. Tolong katakana pada kushina-sama bahwa aku tak dapat melanjutkan pekerjaanku. Kau pasti bisa mencarikan alasannya."
Jawaban Naruto yang lirik sembari membelai-belai surai Hinata lembut dan menyelipkannya pada telinga Hinata ketika ia akan meninggalkan dapur. "Saat ini—aku tak bisa mencar-cari alasan atau memikirkan hal lain, Hinata. Dalam pikiranku hanya ada satu hal, yaitu betapa aku menginginkanmu. Persis seperti kau yang menginginkanku. Kau akui atau tidak. —Diantara kita masih ada urusan yang belum selesai."
Hinata kembali menguatkan dirinya, kemudian berbalik. "Itu Cuma pemukiranmu saja, Naruto," katanya dingin—
"Selamat tinggal."
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
Cuma perasaan ajah, atau emang Chap ini agak pendek #digampar rame-rame
Maaf kalo Chap isi masih belum memuaskan. Coz Chapter 2 ini cuma sebagai pelengkap ajah.
Semoga kesalahannya gak terlalu banyak kyak yang sebelumnya, jujur pas ngereview Chapter 1—sukses bikin w jambak-jambak rambut gak jelas. T.T
.
Special Thanks buat
Miko-chan|Vicagali|dylanNHL|Maura Raira|Betelgeuse Bellatrix|princessgomez|irfai1891|NaruHina Lovers|Durarawr|Triavivi|ana|Salsabilla12|Byakugan no Hime
Seharusnya ini tambahan buat minggu depan, tapi berhubung Chap 1 aku pribadi kurang puas sama cara nulis aku yang —jujur banyak kekurangannya.. #Gomen Gomen #bungkuk-bungkuk
Dan buat Duraraw —makasih sebelumnya atas tawarannya. Tapi kyaknya Happy akan mengurusnya sendiri—karna itu bagian dari proses pembelajaran. Sekali lagi makasih.^^
.
.
.
Fic ini Udah punya jadwal tetap kayak sinetron. —Tiap malam Minggu Up #lumayan buat sejenak nemenin yang masih sendirian dimalam minggu^.^
Yoss… Se You Next Weeks Minna \(^o^)/ .. sekali lagi mohon bimbingannya buat Happy yang masih bau ashem ini.
Eh! —maksudnya bau kencur ini ^^ #garingOii—banget
.
Sampai jumpa dichapter selanjutnya \(^v^)/
