Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama|Romance|Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,OCC,TYPOS,REMAKE Etc
(FF ini Remake dari sebuah Novel Harlequin dengan judul yang sama karangan Sharon Kendrick)
Chapter 3
.
.
.
Hinata meninggalkan kediaman Uzumaki dengan perasaan kacau. Hatinya galau dan ia merasa tak puas mengingat caranya menghadapi Naruto. Terlebih-lebih bagaimana ia mengingat dengan jelas bagaimana lihainya Naruto menanganinya, baik secara fisik maupun emosional.
Hinata sengaja berjalan pulang dengan rute memutar. Agar ketika ia tiba dirumah ibunya, setidaknya hatinya bisa sedikit lebih tenang.
.
.
Hal itu cukup berhasil mengingat sekarang ia sudah tiba dikediaman ibunya dengan perasaan yang sedikit lebih tenang dari sebelumnya, pikirannya juga sudah jernih. Ia menyadari betul bahwa yang terluka hanyalah bagian Harga dirinya saja, dan karena yang mengetahui hal itu hanya satu orang—orang yang tak akan ia temui lagi—kenapa ia mesti susah-susah? Sebodo amat!
Selama ini ia telah berhasil menghindari Naruto selama dua tahun, dan kalau untuk seterusnya bisa begitu, peristiwa seperti tadi takkan terjadi lagi. Naruto jarang mengunjungi desa Konoha, ia tau itu. Sekarang pria itu datang pasti hanya karna ingin ikut merayakan pertunangan Menma, setelah itu ia pastiakan kembali ke prancis—jerman atau entah dimanapun tempat tinggalnya—kembali mengurusi transaksi-transaksi besar yang begitu dikagumu ibunya.
Menghindari Naruto tidaklah sulit. Namun itu berarti Hinata harus berterus terang kepada ibunya. Dan tentu saja ia tak dapat membeberkan seluruh ceritanya kepada ibunya—ibunya bisa-bisa langsung terkena serangan jantung—tapi mungkin ia bisa menjelaskan karena alasan-alasan yang sangat pribadi, ia tak mau bertemu dengan pria itu, dan ia minta diberitahu bila Naruto sudah punya rencana untuk pulang. Maka yang harus dilakukan Hinata yakni menyingkir jauh-jauh dari desa Konoha sampai Naruto sudah pergi lagi.
Untuk saat ini, ada dua hal yang sangat diharapkan Hinata. Pertama, agar ibunya cepat sembuh, sehingga ia bisa kembali ke Tokyo dan tak perlu lagi kembali berpapasan dengan Naruto. Kedua, agar Naruto ditimpa malapetaka. Misalnya saja rambutnya yang kuning itu tiba-tiba rontok dan menjadi botak. Atau perusahaannya bangkrut dan ia kehilangan semua uangnya! Biar tau rasa dia,bagaimana rasanya berada diposisi orang-orang yang selalu ia rendahkan. —walaupun pada kenyataanya hanya Hinata saja yang ia rendahkan.
Hinata dengan tegas menyatakannya kepada ibunya bahwa ia tak sudi membersihkan kediaman Uzumaki selama Naruto masih ada disana. "Biar saja dia membersihkannya sendiri!" kata Hinata ketus. Ibunya itu termasuk dalam generasi yang mengagung-agungkan laki-laki. "tapi Naruto seorang eksekutif yang berkedudukan tinggi, Nak," wah, ibunya sepertinya agak —matre
Hinata melotot. "begitu juga denganku. Aku juga seorang eksekutif!" bagus! —memang Cuma dia saja yang bisa menjadi seorang eksekutif. good job.
.
.
Dua hari berikutnya berlalu dengan aman. Hinata mengajak ibunya bertamasya dengan mobil, memasakan makanan untuknya, dan menemaninya mengobrol pada malam harinya.
Ia hanya sekali bertemu dengan Naruto—ketika ia sedang berjalan kaki menuju minimarket. Dari jauh dilihatnya Naruto yang datang dengan mobil hitam yang beberapa hari lalu menyalipnya di jalan tol. 'mestinya sudah kuduga' pikir Hinata kesal. Hanya orang seperti Naruto lah yang akan mengendarai mobil mewah yang harganya selangit itu.
Naruto memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan melangkah keluar. Pria itu berpakaian serba hitam—jins hitam, kaos hitam, dan sweeter hitam. Persis seperti setan, pikir Hinata sengit. Naruto tampak belum bercukur dengan rambut Kuning menyilaukan yang masih acak-acakan tertiup angin. Ketika ia mengangkat wajahnya, hati Hinata tercekat. Kehadiran Naruto begitu berpengaruh baginya sehingga ia nyaris tak bisa bernapas.
Naruto tersenyum padanya, begitu tak terduga dan —begitu manis sehingga hampir meluluhkan pertahanan Hinata. Namun ia berhasil menguasai dirinya dan menatap pria itu dengan sikap angkuh dan dingin.
Angin yang meniup-niup surai indigo miliknya yang seketika itu juga sedikit membuat rok mini yang digunakan Hinata tersingkap. Naruto mengangkat alis ketika melihatnya—melihat pahanya yang mulus. Hinata buru-buru membalik dan dengan setengah berlari menuju minimarket.
Dengung percakapan di minimarket itu langsung terhenti. Konoha adalah desa kecil, dan ingatan penduduknya sangat panjang. Putusnya pertunangan Hinata dengan Menma telah menjadi bahan gunjingan selama berbulan-bulan.
Muge-san, sang pemilik toko, melayaninya sambil melontarkan pertanyaan-pertannyaan yang bernada mengorek, dan dijawab Hinata dengan sopan dan seperlunya. Ketika ia sedang membeli telur, roti, dan buah-buahan segar pesanan ibunya. bel pintu berdenting, menandakan datangnya seorang pengunjung lain. Dari wajah sang pemilik toko yang penuh antusias saja Hinata sudah dapat mengira-ngira siapa yang datang.
"Ada yang bisa saya bantu, Uzumaki-san?" Tanya sipemilik toko dengan sangat hormat. "Tidak, terima kasih," suara yang berat itu menjawab. "Saya datang untuk membantu Hyuuga-san membawa barang-barang belanjaannya." Mata safir itu sungguh tak bisa terbaca. "Aku akan mengantarmu pulang, Hinata."
Hah, Hinata merutuk dalam hati. Dia pikir saat ini dia berhasil menjebakku. Mungkin dia mengira aku tak akan berani menolaknya didepan orang banyak —Hmm, perhitungannya meleset.
"Terima kasih, tapi aku punya mobil sendiri. Aku tak pernah bergantung pada pria untuk urusan transportasi." Mulut Naruto mengerut sedikit. "Sikap yang terpuji. Aku yakin kau sudah membuat banyak pria merasa tak dibutuhkan. Aku juga tau kau punya mobil sendiri, tapi mobil itu sepertinya kau tinggalkan dirumah kaa-sanmu—yang merah kecil itu, kan?"
Darah Hinata seketika mendidih. Ia merasa terhina karena Naruto menyebut MG-nya mobil merah kecil. "Mobil itu jauh lebih baik dari pada monster besar yang kau kendarai itu!" balasnya sengit. "Tapi kaum wanita tidak perlu mobil untuk menutup-nutupi … —kekurangan mereka." Ooiiii
Hinata terbawa emosi, dan ia seketika langsung menyesal ketika kata-kata itu terluncur dari mulutnya. Penyebabnya bukan hanya karna si pemilik toko, yang sedang menatapnya dengan rasa jengkel yang tidak ditutup-tutupi, tapi juga karna Naruto, yang tersenyum menjengkelkan seakan-akan ia ingin menyatakan, kita sama-sama tau bahwa dibidang apapun aku tak mempunyai kekurangan. Omong kosong.
"Kau yakinkau tak akan berubah pikiran?" tanyanya pelan. Hinata tau betul yang dimaksud Naruto bukan hanya soal tumpangan pulang. Wajah Hinata memerah padam. "Tidak, terima kasih. Aku akan berjalan kaki saja."
Si pemilik toko mendengus, seolah-olah tersinggung atas kelancangan Hinata. Berani-beraninya orang kecil seperti dia menolak kebaikan hati tuan Uzumaki —bukan Cuma sekali, lagi.
"Kau tak bisa jalan kaki… sudah mulai diluar." Naruto bukan orang yang mudah menyerah, Hinata harus mengakui itu. Dan ia tau benar apa yang diinginkan pria itu. Naruto ingin memasukannya kedalam mobil supaya ia bisa merayunya lagi. Setidaknya disini, didalam minimarket, Hinata aman. Dan ia yakin tidak sebegitu nekatnya untuk membuntutinya kerumah. Ditatapnya Naruto tanpa berkedip. "Aku tak peduli. —aku suka hujan."
Naruto memperhatikan sekilas, menilai rok mini dan jaket pendek yang dikenakannya. "Aku percaya itu. Tapi kurasa pakaianmu yang menarik ini tidak begitu cocok untuk menerobos hujan."
"Biar aku yang menentukannya sendiri!" sahut Hinata dingin, dan bergegas meninggalkan minimarket. Naruto mengikutinya tepat dibelakangnya, sebelah tangannya memegangi lengannya. Sentuhan seringan itu saja sudah cukup membuat darah Hinata lebih deras dari seharusnya, dan degup jantungnya yang semakin tak terkendali ketika Naruto menunduk dan mendekatkan wajah kearahnya. "Sudah kukatakan padamu," katanya dengan nada rendah. "Urusan kita belum selesai."
"Oh ya, pergi saja sana keneraka!" kata Hinata kesal, namun Naruto hanya membalasnya dengan tertawa. Hinata menepis tangan Naruto dan langsung mengambil langkah seribu.
.
.
Setelah dirasa cukup jauh, dengan sembunyi-sembunyi ia menengok ke belakang, melihat kalau-kalau Naruto membuntutinya. Prasaan lega sekaligus kecewa karena pria itu sudah tak tampak bayangannya.
Hinata tiba dirumah dengan keadaan basah kuyup, tapi ibunya yang kelihatan sangat bersemangat, himper-himpir tidak memperhatikannya.
"Apakah kaki kaa-san tidak sakit dipakai mundar-mandir begitu?" Tanya Hinata lunak. "Oh, kakikaa-san sudah hampir sembuh, Nak. Tsunade senju memeriksa kaa-san tadi dan katanya kaa-san sudah cukup fit. Dengar… kaa-san baru saja menerima undangan dari kediaman Uzumaki. Kushina-sama akan mengadakan pesta besok, untuk merayakan pertunangan Menma. Kaa-san diundang… dan kau juga!"
Hinata meletakan belanjaannya dimeja dapur dan mengamati undangan yang ditunjukan ibunya. "Aku tak mau datang." Ibunya tampak kecewa. "Oh, Hina-chan… kenapa tidak?"
Hinata menghela napas. "Coba kaa-san pikir. Kedatanganku disana hanya akan membuat banyak orang merasa tidak enak. Terlebih lagi tunangan Menma… aku rasa dia akan merasa risih kalau harus bertemu dengan mantan tunangan tunangannya. Orang-orang akan membanding-bandingkan kami, dan dia bisa-bisa sakit hati. Kurasa Menma pun tak ingin berjumpa denganku. Terus terang, aku agak heran kenapa aku diundang kepesta itu."
Namun kepada dirinya sendiripun Hinata tak mau mengakuinya, alasan utama kenapa ia tak mau menginjakan kaki di kediaman Uzumaki lagi.
"Kaa-san pergilah. Kaa-san pasti senang." Hinata mengambil handuk dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah. "Tolong Kaa-san telpon mereka dan katakana bahwa aku berhalangan, ya?"
Ibunya menyipitkan matanya tiba-tiba. "Menurut prasaan kaa-san kau menyembunyikan sesuatu, tapi sudahlah, kau tak perlu datang kalau memang sudah memutuskan begitu."
"Ya, keputusanku sudah bulat." Hinata menengok kebawah memperhatikan pergelangan kaki ibunya. "Dan karena kaki Kaa-san sudah membaik, aku akan segera kembali ke Tokyo." Ibunya mendesah pasrah. "Ya, sudah kukira kau akan berkata begitu. Sayang sekali… kaa-san sebenarnya sangat senang kau temani disini."
.
.
.
Esok sorenya Hinata bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Ibunya. Ia baru selesai mengemasi barang-barangnya ketika terdengar ketukan dipintu depan. Mengira itu ibunya, yang selesai bertandang kerumah tetangga untuk membuktikan kalau ia sudah sembuh, Hinata langsung membuka pintu. Ternyata yang datang adalah orang yang tidak dikenalnya—wanita muda berusia sekitar awal dua puluh. Wanita dengan surai coklat. Ia mengenakan celana panjang cream—warna yang sedang tidak musim—dan mantel yang serasi. Perhiasan emas bergelantungan di telinga dan lehernya, dan ia memancarkan rasa percaya diri yang hanya dimiliki oleh orang-orang kaya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Hinata dengan ragu-ragu. Gadis itu menyipitkan matnya sehingga dahinya terlihat berkerut. "Anda Hinata Hyuuga?" bahasa jepangnya beraksen aneh—mungkin karna ia terlalu lama menetap diluar negri.
"Ya, tapi maaf, saya tidak… "
"Aku Matsuri Ozora—tunangan Menma. Keberatan kalau aku masuk?"
Hinata berusaha memendam keterkejutannya dan membuka pintu lebih lebar. "Tentu saja tidak. Silahkan." Gadis itupun bergegas melewati ambang pintu itu.
"Anda mau duduk?" Tanya Hinata sopan, bingung bagaimana harus menghadapi tunangan mantan tunangannya ini. "Dan minum teh?"
"Terima kasih. Aku mau duduk, tapi tidak ingin minum apa-apa. Aku tidak akan lama-lama." Matsuri mengambil tempat disalah satu kursi sofa dan mulai memain-mainkan gelang ditangannya.
Rupanya dia gelisah juga, pikir Hinata. Tidak seperti kesan yang ditampilkannya pada waktu kedatangannya tadi. Hinata bertanya-tanya apa maksud kedatangan gadis ini. Ia mencari-cari cara untuk memulai percakapan, tentunya percakapan yang netral dan tak akan disalahartikan.
"Cincinmu bagus sekali," akhirnya ia berkata.
Ucapannya nampaknya cukup berkenan dihati Matsuri, sebab gadis itu tersenyum dan mengangkat tangan kirinya dengan kebanggaan seorang gadis yang baru saja bertunangan. Berlian besar pada cincin itu berkeredepan ditimpa sinar mentari. "Ya, bagus, bukan? Kami membelinnya ketika di Amerika. Tadinya Menma ingin memberiku cincin keluarganya, tapi aku tidak mau. Aku tak mau memakai cincin yang pernah diberikan padamu," katanya mengarahkan percakapan ketopik yang lebih pribadi.
Hinata mengangguk. "Keputusan yang bijaksana." Ia menatap gadis itu dengan penuh tanda Tanya. "Kau ingin menyampaikan maksud kedatanganmu?" tannyanya lembut.
Matsuri mengangguk, dan membisu sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kepada Hinata. "Kau sudah tidak mencintai Menma-kun lagi, kan?" tanyanya waswas.
Pertannyan itu begitu mencengangkan sehingga membuat Hinata hampir tertawa terbahak-bahak. Untung ia langsung sadar bahwa itu bisa saja membuat Matsuri tersinggung, maka ditahannya gelaknya dan digelengkannya kepalanya kuat-kuat. "Astaga! Tentu saja tidak! Hubungan kami sudah lama berakhir, dan terus terang, aku merasa itu jauh lebih baik bagi kami berdua."
"Akupun berpendapat begitu," kata Matsuri tegas.
"Menma-kun sudah bercerita mengenai dirimu. Aku tahu kau lebih cerdas darinya, dan kau wanita yang ambisius. Itu artinya, Menma-kun selalu harus bersaing denganmu, dan ia takan sanggup menghadapinya—tidak dalam jangka panjang. Yang diperlukannya adalah orang sepertiku. Aku tak punya ambisi apa-apa, dan aku punya banyak uang. Maaf, bukannya menyombong, tapi bukan kesalahanku kalau aku dilahirkan sebagai orang kaya. Pendeknya, aku tak ingin melakukan apa-apa lagi dalam hidupku kecuali menjadi istri Menma-kun dan mendampinginya."
"Menma sungguh beruntung," kata Hinata dengan suara kecil. "Tapi aku tak mengerti apa hubungannya itu dengan… "
"Menma mencintaiku—itu aku tahu betul. Tapi… "
Matsuri mengangkat kedua tangannya, menyebabkan gelang-gelangnya berkerincingan. "Bagaimana aku harus mengatakannya? Kukira, kau ini seperti hantu yang masih membayanginya. Dan semua orang didesa ini tahu bahwa kau mencampakannya." Ia melihat ekspresi wajah Hinata sejenak. "Maaf, aku tak bermaksud menyakiti hatimu."
Hinata menggeleng. "Taka pa-apa. Teruskan."
"Begini, kalau nanti malam kau tak hadir dipesta kami, orang-orang akan mengunjingkannya. Kau tahu sendiri bagaimana mulut orang-orang disini. Mereka akan berpikir, kau tak sanggup bertemu dengan Menma-kun—atau Menma-kun yang tak sanggup bertemu denganmu. Mungkin mereka juga akan berpikiran—" kata sigadis dengan sedih "Menma-kun masih memendam cinta padamu."
Hinata menatap Matsuri yang kini duduk dengan punggung yang agak sedikit membungkuk. Muda,cantik, kaya—dan didera oleh ketidakpastian cintanya. Sialan cinta itu! Pikir Hinata dengan agak kesal. "Jadi apa yang kau ingin aku lakukan?"
"Datanglah kepesta kami nanti malam. Dan tunjukan bahwa diantara kalian sudah tak ada apa-apa lagi. Tak ada dendam… tak ada perasaan-perasaan yang terpendam." Matsuri mengalihkan pandangannya kelangit-langit, kemudian menatap kebawah lagi sambil menelan ludah. "Aku ingin melihat ekspresi Menma-kun ketika ia bertemu denganmu. Kau mengerti maksudku?"
Hinata mengangguk. Rupanya Matsuri sendiri ingin mengusir hantu-hantu kekuatiran yang selalu mengusiknya. "Tentu saja aku mengerti."
"Kalau begitu, kau akan datang?"
Hinata sejenak membayangkan Naruto, dalam setelan jas yang tentu saja membuatnya nambak luar biasa di kediaman Uzumaki yang indah, di tengah alunan music yang mendayu-dayu. Ia cepat-cepat menyisihkan bayangan itu. "Aku tak bisa lama-lama, tapi ya, aku akan datang." Bagaimanapun juga, aku berutang pada Menma.
.
.
.
Tirai-tirai beledu di kediaman Uzumaki dibiarkan terbuka, sehingga cahaya lampu-lampu gantungnya menembus hingga kebagian luar, menyinari jalan masuk yang akan di lalui para tamu undangan.
.
.
Hinata membawa mobil ketika menghadiri pesta di kediaman Uzumaki, meskipun jarak rumah itu dengan kediaman ibunya cukup dekat untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi malam itu ia tidak berencana untuk minum-minum, dan dengan adanya mobil, ia bisa meninggalkan tempat itu dengan lebih cepat. Kopernya telah dimaskannya kebagasi, dan ia berniat untuk langsung kembli ke Tokyo setelah menunaikan kewajibannya dipesta itu. "Kalau aku pulang duluan," katanya pada ibunya, "Kaa-san cari tumpangan saja, ya. Atau kalau perlu, panggil taksi."
.
Hinata memilih pakaiannya dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin tampak mencolok sehingga mungkin akan timbul kesan seakan-akan ia ingin merebut kembali perhatian mantan kekasihnya itu. Di lain pihak, ia tentu juga tak ingin tampak kusam sehingga membuatnya malu sendiri ketika nanti berada dipesta bergengsi itu.
Akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada gaun hitamnya, yang berdasarkan pengalamannya, cocok untuk dikenakan pada segala suasana, gaun itu memiliki panjang beberapa inci di atas lutut, tapi selain kakinya,semua bagian tubuhnya tertutup, karena gaun itu berleher tinggi dan berlengan panjang. Keindahan gaun itu terletak pada potongannya yang pas dibaadannya dan tentu saja karna bahannya yang terbuat dari sutra.
Hinata menyanggul rambutnya tinggi diatas kepala, dengan menyisakan beberapa helai rambut untuk membingkai wajahnya. Dilengkapi sepatu hitam bertumit pendek dan kalung mutiaranya, Hinata cukup percaya diri untuk bertahan di pesta itu selama satu jam atau mungkin lebih. lagi pula, di sana akan ada banya orang, dan pasti tidak sulit baginya untuk menghindari Naruto.
.
.
.
Mula-mula Hinata tidak bertemu dengan satupun dari dua bersaudara itu. Kedatangannya di sambut oleh Kushina Uzumaki—yang mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya beberapa hari lalu—serta Matsuri.
Matsuri tampak sangat memukau—dan risau. Ia menggunakan gaun satin ketat berwarna merah yang tentu saja menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya yang aduhai. Ia menarik Hinata ke samping dan membantunya membuka selendang. "Menma-kun sedang ke dapur memesan sampanye," bisiknya. "Aku ingin tahu bagaimana reaksinya ketika ia melihatmu."
Hinata mendadak diliputi rasa takut. "Dia tak tahu aku akan datang?" tannyanya.
Matsuri menatapnya lurus-lurus, bibirnya merapat menunjukan tekadnya yang keras. "Tidak. Dia tidak tahu."
Oh, Tuhan, pikir Hinata dengan putus asa. Kalau saja aku bisa menghindari situasi ini…
"Menurutku Menma-kun tidak perlu diberi tahu," Matsuri melanjutkan, sama sekali tak ambil pusing melihat Hinata yang terdiam saking terkejutnya. "Kaa-sannya juga berpikiran begitu."
"Mrs. Uzumaki?"
Matsuri mengangguk.
"Kurasa kau sebaiknya menjelaskan," kata Hinata lemah,makin lama ia bahkan merasa seakan-akan semua ini tidak nyata.
"Kaa-sannya yang menyarankan agar aku mengundangmu. Seperti halnya aku, Mrs. Uzumaki juga berpendapat bahwa Menma harus menutup lembaran hidupnya bersamamu. Kita sama-sama tahu bahwa cinta remaja itu sangat menggebu-gebu, dan kalian berdua bisa dibilang masih remaja ketika bertunangan. Ditambah lagi, penolakan sangat sukar diterima ketika kau masih muda. Setelah berusia dua puluh limaan, orang biasanya lebih mantap dan berpengalaman sehingga membuatnya tak terlalu terpukul. Nah, pemuda yang ditolak pada umumnya akan terus mengingat-ingat gadis yang ditaksirnya, dan karena rasa penasaran, hubungan mereka akan lebih sulit dilupakan. Menma-kun harus bertemu denganmu lagi, Hinata-san. Untuk melihat bahwa kau bukan super woman, tapi hanya wanita biasa yang pernah dikenalnya."
Ucapan Matsuri itu seperti pidato yang sudah dilatih berkali-kali, dan hal itu sukses membuat Hinata ternganga mendengarnya. Mau tak mau ia mengagumi kenekatan gadis itu, namun merasa perlu bertanya, "Apakah tindakanmu ini tidak mengandung resiko, Matsuri-san? Bagaimana kalau akibatnya justru merugikanmu?"
Matsuri tersenyum. "Aku seorang penjudi… dan aku tak pernah mengambil resiko yang tidak kuperhitungkan sebelumnya. Oh, itu dia datang."
Hinata spontan meluruskan punggungnya,seolah-olah dirinya serdadu yang sedang mengikuti pawai. Diamatinya Menma yang sedang berjalan ke arah tunangannya, diikuti pelayan yang membawa nampan berisi gelas-gelas sampanye.
Menma belum melihatnya. Ia tersembunyi debalik selendang-selendang dan penutup bahu yang tergantung di kapstok. Ia dapat memperhatikan mantan tunangannya itu dengan bebas.
Mengherankan, betapa besar perubahan Menma dalam waktu dua tahun ini. Ia kini tampak sudah begitu dewasa, jauh berbeda dengan dulu, membuat Hinata makin sadar betapa masih hijaunya Menma ketika melamarnya dulu. Menma mengenakan setelan jas bergaya konservatif, rambutnya dipotong pendek dan tersisir rapi. Kelihatannya ia sudah terpengaruh gaya Amerika—tempat tinggalnya selama dua tahun terakhir ini. Mata Menma tertuju pada Matsuri, dan melihat binar-binar didalamnya, Hinata tak ragu-ragu lagi akan perasaan Menma terhadap tunangannya.
Hinata melangkah maju menghampiri sambil tersenyum. "Hallo, Menma-kun," sapanya pelan.
Menma tak langsung menjawab. Berbagai emosi lewat dengan cepat di wajahnya. Rasa heran, terkejut, bingung, disusul oleh senyum ragu-ragu yang kemudian menjadi semakin lebar. Hati Hinata terasa hangat melihat senyum itu. Namun di hatinya juga muncul setitik perasaan bersalah sebab ia merasa bahwa dirinya tak layak menerima sambutan itu. Menma meletakan tangan dibahunya, mencium kedua pipinya, dan tersenyum memandangnya. "Hinata-chan, kau kelihatannya baik-baik saja."
"Kau juga." Ada begitu banyak hal yang ingin diutarakan Hinata, namun ia tahu betul bahwa ia tak boleh mengucapkannya. Ia tak boleh menyatakan penyesalannya, sebab itu berarti mengungkit-ungkit masa lalu yang sama-sama ingin mereka lupakan.
Menma sepertinya paham betul akan perasaan-perasaan yang berkecamuk dalam batinnya. Matanya bersorot geli ketika ia menatapnya. Betapa hangat dan polosnya sorot mata itu, pikir Hinata. Begitu berbeda dengan sorot mata Naruto!
"Hinata-chan," kata Menma lirih, "Mengertikah kau bila kukatakan bahwa aku sangat berterima kasih padamu? Kau telah menghindarkan aku dari kesalahan yang paling fatal dalam hidupku."
Hinata mengangguk dengan tenggorokan tercekat. "Aku mengerti, Menma-kun. Aku juga berterima kasih padamu—untuk kebesaran hatimu."
Terdengar bunyi gemeresik dari belakang mereka. "Kau sudah bertemu Matsuri-chan?" Tanya Menma dengan penuh antusias, mengecup tunangannya dengan sikap memiliki ketika si gadis maju ke muka.
"Sudah," jawab Hinata tersenyum. "Matsuri-san mengundangku. Kuharap kau tak keberatan?"
Matsuri tersenyum penuh kemenangan, yakin sekarang bahwa kekasihnya sepenuhnya miliknya. "Tentu saja dia tidak keberatan, Hinata-san! Dia membiarkanku melakukan apapun yang kusuka! Ayo kita pergi keruang tengah. Dan, Menma-kun… kau harus berdansa dengan Hinata-san. Kalian pasti ingin bertukar cerita!"
.
.
Kenyataannya tidak demikian. Mereka berdansa sambil berbasa-basi sekadarnya. Hinata juga tahu betul bahwa berdansa dengannya bukan dimaksudkan hanya untuk mengobrol saja, tapi sekedar ajang pertunjukan agar semua orang bisa melihat bahwa diantara dirinya dan Menma sudah tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada permasalahan lagi diantara mereka, mantan tunangannya, dan tunangannya yang baru.
Namun ketentraman itu tidak berlangsung lama. Mendadak saja Hinata menyadari bahwa dirinya sedang diawasi, dan ia tidak perlu menjadi paranormal untuk mengetahui siapa pelakunya. Kepekaannya telah memberikan sinyal-sinyal yang jelas begitu Naruto memasuki ruang dansa.
Wanita-wanita yang ada diruang itupun mendesah dan saling berbisik pelan, mendadak kehadiran bujangan yang paling banyak diburu itu. Hinata melihat wanita-wanita itu seakan-akan seperti burung merak, mulai memamerkan kelebihan mereka. Ada yang dengan sengaja menonjolkan bagian bokongnya dan mengecilkan perut, ada pula yang menyibakan rambut dengan gaya menantang.
Hinata menatap Menma dan membuka mulutnya, bermaksud mengatakan bahwa ia harus segera pergi untuk mencari ibunya. Namun belum sempat ia melakukan itu, sebuah suara berat sudah mendahuluinya.
"Oii.. Menma," Tegur Naruto dengan Nada tajam.
"Hati-hati loh. Jangan tinggalkan tunanganmu yang cantik itu terlalu lama. Bisa-bisa dia dibawa kabur orang."
Menma segera melepaskan pegangannya pada pinggang Hinata dan menatap ke sekelilingnya. "Oh, iya. Terima kasih, Nii-san. Aku akan mencarinya. Senang bertemu denganmu lagi, Hinata-chan," katanya dengan sedikit linglung, dan bergegas pergi untuk mencari Matsuri.
"Permisi," kata Hinata, berusaha melewati Naruto. Namun pria itu menahan lengannya dengan lengan sekuat baja.
"Kau tak boleh pergi ke mana-mana."
"Lepaskan aku," kata Hinata dengan sedikit panik. Sentuhan Naruto lagi-lagi menimbulkan efek yang tidak dikehendakinya.
Suara Naruto yang sehlus beludru itu diwarnai kemarahan—terselubung, tapi jelas-jelas kemarahan. "Tapi kau pasti mau berdansa denganku, kan, Hinata? Atau kau hanya mengarahkan matamu pada Menma? Akal licik apa lagi yang ada dalam benakmu?"
"Sejujurnya aku kemari justru karena Matsuri-san. Ia memaksaku datang hanya untuk mendapatkan kepastian. Dia ingin menyakinkan dirinya bahwa mata Menma hanya tertuju padanya, dan seperti kita semua bisa lihat, memang begitulah kenyataannya."
"Oh ya?"
"Ya!" jawab Hinata sengit. "Nah, bisakah kau pergi sekarang dan tidak mengganggu aku dengan kecurigaanmu yang konyol itu? Dan sekarang lepaskan juga tanganmu dari—"
Tanpa mengacuhkan protesnya, Naruto menarik Hinata kedalam pelukannya dan merapatkan tubuh Hinata ke dadanya yang bidang dan mengundang. Tangan berototnya melingkari pinggang Hinata, lringan seperti yang dilakukan Menma tadi, tapi oh, dampaknya jelas sangat berbeda sehingga Hinata nyaris tak bisa bernafas. Ia bisa merasakan setiap sentukan jari-jemari nan panjang itu, yang diletakan diantara tulang rusuk dan lekuk pinggangnya. Gaun sutra yang sebelumnya dipikirnya cocok untuk pesta ini, kini seakan-akan menertawakannya karna terlalu tipis. Seakan-akan Naruto kini menyentuh kulitnya dan bukan pakaiannya.
Nafas Hinata menjadi sedikit pendek dan terengah-engah, ketika Naruto dengan sengaja mengetatkan pelukannya dan menggesekan pahanya yang berotot ke selangkangan Hinata yang terasa halus.
"Naruto—" itu dimaksudkan sebagai penolakan, namun kesannya malah seperti ajakan.
Naruto tertawa pelan. "Ya, aku tahu. Mari tunjukan kepada mereka, penggoda cilik. Tunjukan pada mereka siapa sebenarnyaa yang mati-matian kau rindukan—adikku atau aku."
Seandainya Hinata dapat berpikir jernih, mungkin saat ini otaknya sudah memberikan tanda bahaya mendengar ucapan yang dingin dan tak berperasaan itu. Namun kedekatan Naruto mengaburkan pikirannya dan melenyapkan kesadarannya.
.
.
.
Terbius, Hinata membiarkan Naruto membawanya mengelilingi lantai dansa, dan mereka berdua bergerak serasi mengikuti irama musik. Slow dance itu bermacam-macam bentuknya, ada yang biasa-biasa saja, ada pula yang sensual. Yang ini jelas-jelas sensual, Hinata membatin. Bahkan lebih dari itu—
Karena begitu mahirnya Naruto berdansa, Hinata bahka dapat merasakan betapa lembut dan penuh kasih sayang sentuhan pria itu. Atau mungkin saja, Naruto hanya menjaga sopan santun ditengah-tengah orang banyak, dan Hinata keliru mengartikan sikapnya itu.
Hinata memberi perintah kepada dirinya sendiri agar ia segera pergi, tapi kepalannya seakan tak mau terangkat dari bahu tegap Naruto, tempat ia bersandar seraya mengayunkan kaki. Ketika ia berhasil mengangkat kepala, akibat yang timbul malah lebih parah, karna tatapannya bersirobak dengan tatapan blue safir Naruto yang secara gambling mengungkapkan satu perasaan.
"Apa kau akan melepaskan aku sekarang?" bisik Hinata.
"Tidak."
"Aku akan berontak."
"Coba saja."
"Aku akan berteriak."
"Kau akan kucium."
"Demi Tuhan!, Naruto… mengapa kau melakukan ini?"
"Menurutmu kenapa?" Naruto balas bertanya. Hinata menutup matanya supaya ia tak usah lagi melihat manik blue safir yang seakan-akan menembus jantungnya itu. Ia mencoba membayangkan apa yang dilakukannya bila Naruto adalah nasabah menjengkelkan yang harus dihadapinya. Barangkali Naruto harus diajak melihat kelebihan-kelebihannya sendiri sehingga ia tak lagi mengejar-ngejarnya.
Hinata membuka matanya, bertanya-tanya apa arti tatapan yang menyambutnya. Humor? Tantangan? —masa bodoh, pikirnya. "Kau pria yang sangat menarik Naruto…," ia mulai melanjarkan serangannya.
"Syukurlah kau menyadarinya."
Brengsek, Naruto bahkan sengaja berpura-pura bodoh.
"Maksudku—diruangan ini ada begitu banyak wanita yang ingin berdansa denganmu—buat apa kau merendahkan derajatmu dengan bersikap seperti manusia gua begini?"
"Menghadapimu, aku terpaksa menggunakan taktik seperti itu," kata Naruto dengan mata berkilst-kilat. "Lagi pula, aku tak ingin berdansa dengan siapapun— Hanya dengamu."
Hinata memaksakan dirinya untuk mengingatkan bahwa kata-kata itu tidak ada artinya. Bahwa itu hanya bagian dari taktik untuk urusan yang belum selesai diantara mereka. Hinata juga menyadari betul bahwa cara halus tampaknya tidak akan mengena untuk pria yang bertekad baja seperti Naruto. Kalau begitu, ia harus bicara blak-blakan.
"Well, aku rasa aku tak ingin berdansa denganmu," katanya dengan tegas, dalam hati ia bahkan memuji dirinya karna dapat berdusta dengan begitu meyakinkan. "Jadi bisakah kita menghentikan kekonyolan ini sekarang juga?"
Pertannyaan itu dilontarkannya sambil menggoyangkan kepala, dan akibatnya, beberapa helai rambut lepas dari sanggulnya dan jatuh kemulutnya. Sialnya, bibirnya sedikit lengket karna lipstick yang dipakainya, dan sehelai anak rambut itu menempel disitu.
Dengan segera, Naruto mengulurkan jarinya dan menarik rambut itu, sambil menatapnya lekat-lekat. Sikapnya pun berubah total. Tak ada lagi keanggunan dan kehalusan yang mewarnai gerakannya saat berdansa tadi, dan seluruh tubuhnya menjadi menegang, begitu pula ekspresinya.
"Kau benar," katanya parau. "Kekonyolan ini sudah berlangsung terlalu lama." Tanpa mengatakan apa-apa lagi—ia menggandeng tangan Hinata dan membimbungnya menyebrangi lantai dansa. Melewati pasangan-pasangan yang tengah berdansa serta orang-orang yang menonton, Naruto terus menghelanya menuju koridor.
Hinata menengok ke kitri-kanan dengan panik, berharap ada orang yang menghentikan mereka, menegur Naruto bahwa ia tidak pantas memaksa seorang gadis dengan cara seperti itu. Namun semua orang hanya tersenyum simpul saat mereka melewati ruang demi ruang hingga mereka tiba di sebuah perpustakaan.
Mestinnya Hinata bisa menghalangi Naruto sendiri, namun entah kenapa itu tidak dilakukannya. Seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, ia menurut saja pada Naruto, bahkan ketika Naruto membawanya menuju tangga spiral yang tersembunyi dibalik dinding kayu. Bak dalam dongeng-dongeng, dinding itu tersibak ketika tombolnya ditekan, dan Hinata bahkan tidak berpura-pura heran ketika tangga spiral itu ternyata berakhir di—
.
.
—Kamar tidur.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
Hehehehehhe,…. #digampar
Gomen,… malam minggu kemaren Fic ini engga Up T.T #bungkukbungkuk
Semoga chapter ini sedikit bisa memuaskan kalian, buat Chapter selanjutnya Happy gak yakin bakalan Up tepat waktu—mungkin akan terlambat lagi. Kayaknya bagian lemonnya d Skip ajah T.T .. Happy gak yakin bisa bikin lemon yang Hot! Kalo dipaksain nanti jatohnya malah jadi jijik. Trus mungkin mulai chapter depan Fic ini akan ngalamin naik turun word di stiap Chapternya jadi jangan heran kalo nanti tiba" Happy Up yang dari banyak langsung ke sedikit.
Sekali lagi terimakasih buat yang udah mampir k sini, Tinggalin jejak kalian yah. Itu sukses memotifikasi Happy buat Up lbh cepet loh ^.^
Special Thanks,
Miko-chan, vicagalli, Maura Raira, irfai1891, NaruHina Lovers, duraraw, trivavi354, ana, Salsabilla12, .777, ana, Byakugan no Hime, Amun b, princessgomez, Guest, shinobigila, subuhdibulanoktober, papa azazel, Betelgeus bellatrix, silent reader, Dragon Hiperaktif, Michiko Rei, Dylan NHL, lililala, Yumiko Harvey, yuka, Miss Utun.
.
.
.
.
See You Next Chapter \(^o^)/
