Part Time Father

Disclaimer By Masashi Kishimoto's

Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata

Genre : Drama|Romance|Hurt/Comfort

M

WARNING

AU,OCC,TYPOS,REMAKE Etc

(FF ini Remake dari sebuah Novel Harlequin dengan judul yang sama karangan Sharon Kendrick)


Chapter 4

.

.

.

Hinata menghentakan tangannya dari cengkraman Naruto, dan kali ini Naruto tidak berusaha menahannya. Hinata menatap Pria yang berdiri didepannya—begitu jangkung, kelam dan tampak mengerikan dalam stelan jas hitamnya. Rambut Naruto sedikit berantakan—apakah aku yang menyebabkannya?

Hinata bertanya-tanya. Bukankah sewaktu berdansa tadi ia tanpa sadar menyusupkan tangannya ke rambut kuning yang lebat itu? Hinata melihat Naruto juga saat ini sedang mengamatinya, menunggu reaksinya.

Hinata tidak akan heran bila Naruto memeluknya, dan ia juga akan tahu apa yang akan terjadi begitu pria itu menyentuhnya. Ia tahu pasti apa maksud Naruto membawanya kemari, dan ia tak akan mampu menolaknya.

"Kau tersenyum," kata Naruto. "Apanya yang lucu?"

"Kau," jawab Hinata santai.

"Oh?" alis Naruto terangkat dengan anggun.

"Tadinya kukira pendekatanmu akan lebih halus. Apakah cara ini biasanya berhasil?"

"Cara yang bagaimana maksudmu?"

"Menyeret seorang wanita ke kamar tidur terdekat."

"Ini bukan kamar tidur terdekat," Naruto menjelaskan. "Aku sengaja mencari tempat dimana kita tak akan terganggu."

Kata-katanya mengandung janji kenikmatan yang membuat Hinata seketika menggigil. "Sepertinya kau yakin sekali kalau aku tidak akan menolak, ya?" Hinata terheran-heran sendiri melihat betapa tenang sikapnya, seakan-akan ia sudah sering berdua-duaan dengan seorang pria dikamar tidur.

"Memangnya kau akan menolak? Kau tak suka kamar ini?"

Hinata mengamati sekitarnya. Dinding-dinding ruangan kamar ini berpanel kayu dan gordennya berwarna merah tua. Tempat tidur berukuran king size yang tertutup bedcover berwarna dasar kuning emas dengan corak warna-warni. Mirip seperti kamar-kamar pada abad pertengahan. Begitu pula dengan Naruto, Hinata membatin, sambil memperhatikan pria itu melepas dasi kupu-kupunya dan menyampaikan jasnya dipunggung kursi. Tapi bukan pakaiannya yang membuat Naruto tampak seperti pria abad pertengahan, pikir Hinata dengan mulut kering. Ekspresinyalah yang membuatnya begitu… pembawaannya yang maskulin dan arogan, serta sikapnya yang blak-blakan. Naruto menginginkan dirinya, dan… dan…

"Apakah kau lebih suka gaya merayu versi majalah wanita?" tannya Naruto menantang. "Makan malam yang romantic dibawah cahaya lilin, dilanjutkan dengan tawaran untuk minum-minum? Musik lembut dan raba-meraba di sofa?" ia tersenyum dingin. "Sangat membosankan, bukan?"

"Kau sinis sekali."

"Tapi tidak munafik."

Hinata makin tercengan dengan dirinya sendiri—karena ia mau saja diajak bicara seperti ini, bahkan boleh dibilang menikmatinya, padahal seharusnya dia kabur dan menyelamatkan diri. "Apakah kau sering melakukan hal seperti ini?"

Pertannyaan Hinata yang diajukan dengan nada biasa-biasa saja itu tampaknya mengejutkan Naruto. "Ini baru pertama kali."

"Oh ya? Kenapa kau melakukannya? Apa yang membuatku berbeda dengan wanita-wanita lain?"

Hanya sebagian kecil dari otaknya mengakui apa yang ingin didengarnya dari mulut Naruto—bahwa Naruto mencintainya dan dialah satu-satunya wanita yang selama ini didambakan Naruto. Namun tentu saja Naruto tidak mengatakan itu, sebab seperti katanya, ia bukan orang yang munafik. Atau pembohong.

"Kau tahu kenapa," Naruto berkata pelan. "Kau adalah api yang membuat darahku terus menerus mendidih. Hal itu tak bisa dibiarkan. Aku tak sanggup menahannya lagi. Satu malam ini harus kita habiskan bersama."

Satu malam. Hanya itu yang ditawarkan Naruto. Ia memang bukan orang yang munafik. Hinata menggelengkan kepala dan mulai memutar tubuhnya, tapi Naruto segera mengangkap pundaknya dan menghadapkan wajahnya ke arahnya. Hinata tergetar karena sentuhan dan tatapan Naruto yang menggebu-gebu.

"Katakan padaku bahwa selama dua tahun ini kau tak pernah memikirkanku, Hinata, dan aku akan bilang bahwa kau seorang pembohong," bisik Naruto ditelinganya. "Katakan bahwa pada malam hari kau tidak merasa gelisah diranjangmu, membayangkan ciuman pertama kita dan menginginkanku untuk menciummu lagi namun kali ini tak akan terhenti ditengah jalan. Aku menginginkanmu, Hinata. Ini memang gila, namun seumur hidupku belum pernah aku menginginkan seorang wanita seperti aku menginginkanmu."

Hinata merasa tersanjung sekaligus terpukul mendengarkan pernyataan yang terang-terangan itu. Rasa benci tapi rindu terus menerus mengoyak-ngoyak dirinya. "Tapi aku bahkan tak menyukaimu…," katannya terbata-bata.

Mata Naruto mengeras, mata safir itu menjadi seperti kepingan baja. "Aku tahu itu. Kau sudah sering mengatakannya. Namun perasaan suka jelas sekali tak ada hubungannya dengan kita… dengan ini…," katanya sambil menundukan kepala dan langsung mencium Hinata.

Runtuhlah sudah pertahanan Hinata yang memang sudah tipis itu. Ia membalas ciuman panas Naruto dengan sama bergairahnya. Mulutnya pun membuka tanpa harus disuruh, seperti halnya bunga yang menyambut sinar matahari pagi.

Pada suatu titik, sempat ia berpikir bahwa masih belum terlambat baginya untuk melepaskan diri dan segera meninggalkan kamar ini. Namun daya tarik 'Buah terlarang' ini sangatlah kuat, sebab apa yang dikatakan Naruto memanglah benar. Selama dua tahun ini, ia sering kali memikirkan pria itu, berbolak-balik resah ditempat tidurnya, membayangkan pria itu melakukan apa yang dilakukannya sekarang.

Dan apa yang ditawarkan Naruto padanya? Sangat sedikit. Permainan asmara selama satu malam—hanya itu. Untuk memadamkan api yang memanaskan darah Naruto, untuk membebaskan pria itu dari rasa mendamba yang menderanya. Dan apakah pengalaman itu akan memberikan hasil yang sama pada Hinata? Apakah selama ia mau bermain cinta dengan Naruto ia akan dapat menjalani kehidupan normalnya lagi, bukannya hidup terisolir begini sebab pikiran dan perasaannya terus dihantui oleh Naruto?

Naruto melepaskan pelukannya, dan sungguh luar biasa… ia tersenyum! Senyuman manis nan lembut, yang jauh lebih menawan hati daripada tekanan keras tubuhnya pada tubuh Hinata. Hinata mendapati dirinya balas tersenyum, lupa akan segala hal kecuali kenikmatan yang akan dikecapnya.

"Kau amat sangat cantik, Hinata," bisikan Naruto ditelinganya. "Amat sangat cantik, dengan surai rambutmu yang amat lembut dan wajah putihmu yang bercahaya dibawah sinar bulan."

Hinata tahu ia harus menghentikan rayuan gombal ini. Bahaya kalau ia sampai terjebak didalamnya, sementara Naruto mungkin hanya asal ngomong. Hinata mengalungkan lengannya dileher Naruto sambil merapatkan tubuh ke pria itu, dan berbisik parau ditelinganya, "Kau mengutip rayuan gombal yang dimuat di majalah-majalah wanita, ya? Bukankah menurutmu cara itu membosankan?"

Hinata merasa tubuh Naruto semakin menegang dan otot-ototnya seketika menjadi kaku, tapi sejenak kemudian pria itu tampak sudah biasa lagi. Naruto menjauhkan diri sedikit sambil menatapnya dengan wajah keras, ekspresinya sama sekali tak terbaca, sorot matanya suram.

"Membosankan?" tangannya menjangkau kebelakang gaun Hinata dan menurunkan ritsletingnya dengan satu gerakan cepat. "Manis, apapun yang kau rasakan pada malam ini, kujamin itu bukanlah rasa bosan."

Gaun sutra Hinata melorot dari tubuhnya dan berkumpul dipergelangan kakinya. Jantung Hinata berdegup dengan sangat kencang—bukan karena sorot mata Naruto yang tampak sangat puas saat ia melihatnya berdiri nyaris tanpa busana, tapi karena kata-kata terakhir Naruto yang diucapkan hampir dengan kasar itu.

.

.

Desahan ringan terluncur dari mulut Naruto ketika ia menjelajahi seluruh tubuh Hinata dengan tatapannya, dan anehnya, Hinata sama sekali tidak merasa malu. Ia suka melihat ekspresi wajah Naruto yang penuh hasrat dan kekaguman, dan pada saat itu juga ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang terbius oleh Naruto, melainkan juga sebaliknya.

Naruto merengkuhnya kedalam pelukannya dan menciumnya dengan penuh nafsu. Tangannya terangkat ke rambut Hinata untuk melepaskan jepitan sanggulnya sehingga rambut itu tergerai lembut dipunggungnya. Langkah saling membalas hingga akhirnya dua anak manusia yang saling mendominasi melahap bibir masing-masing pun kini terbaring pasrah di atas kasur empuk yang akan menjadi saksi akan panasnya malam mereka.

Dengan posisi sang gadis indigo yang berada di bawah kungkungan laki-laki bermata safir itu, kini mereka berdua telah siap untuk menikmati tubuh masing-masing. Mencari kenikmatan yang telah lama hanya menjadi rasa penasaran.

Mulanya, Naruto menghirup dalam leher jenjang berkulit pucat itu sambil sesekali menghembuskan nafas beratnya yang membuat Hinata mendesah tanpa di sadari. Rasa hangat yang menjalar di salah satu titik sensitifnya itu membuat tubuhnya menegang, apalagi saat lidah nakal itu mulai mengecap rasa kulit mulus yang biasanya hanya ia lihat dari kejauhan di balik surai indigo rambut Hinata.

"Naruto!" pekikan kecil terdengar kala lidah nakal itu tergantikan oleh gigi Naruto yang mulai mengigit pelan dan menghisap kulit leher Hinata yang terasa sedikit manis di mulutnya hingga tanda merah keunguan mulai muncul disana.

Walaupun tangan Hinata berusaha menolak dengan mendorong dada bidang Naruto yang seakan terus menekan dada besarnya agar saling bersentuhan, namun sepertinya semua itu sia-sia. Nyatanya gerakan kaki sensual itu menyatakan kalau Hinata mulai menikmatinya, saat lidah Naruto mulai bergerilya ke bawah menuju dada besarnya yang hanya terbungkuskan oleh secarik kain dengan renda lembut yang tidak menutupi seluruh keindahannya. Tanpa Hinata sadari kalau kedua puncak dada besarnya telah mengeras pertanda kalau ia terangsang.

Tatapan Naruto terlihat sayu, penuh nafsu dan hasrat. Tanpa persetujuan dari Hinata, akhirnya Naruto pun membuka paksa kain yang menutupi bagian atas Hinata yang selalu di sembunyikannya dengan baik. Keduanya seakan tumpah saling berebut untuk bebas, hal itu tak pelak membuat Naruto menelan ludahnya paksa.

Tidak menyangka kalau keputusannya malam ini membuatnya benar-benar merasa terpuaskan. Malam ini, semua yang ada pada gadis di bawahnya akan menjadi miliknya seutuhnya.

"Aku tidak menyangka kau akan seindah ini, Hinata." setelah melancarkan rayuan gombal itu Naruto pun melahap salah satu benda kenyal yang sejak tadi membuatnya merasa kehausan. Menghisap puncaknya yang telah mengeras sejak tadi, mengigit-gigitnya dengan gemas tak lupa memainkan yang satunya agar tidak ada kesirikan di antaranya.

Halus dan lembut. Daging kenyal berukuran besar yang selalu membuat mata lelaki manapun penasaran akan pesona nya kini telah berada dalam genggaman Naruto. Tidak peduli akan sang pemilik yang terus berteriak kesakitan yang bercampur geli. Hinata ingin menolak, namun kenikmatan yang ia rasakan membuatnya lupa akan pemberontakannya.

Hinata tidak peduli lagi!

Ia inginkan lebih dari ini, ingin merasakan lebih dari ini!

Ia ingin Naruto berada di dalamnya dan membawanya ke dalam surga yang Naruto janjikan meskipun ada rasa benci disana.

Hinata tidak sabar, ia juga ingin mendominasi. Ia memang bukan wanita jalang—ini adalah yang pertama kali untuknya—berada dalam satu kamar yang sama dengan laki-laki dalam keadaan yang nyaris telanjang, setidaknya ia mengetahui sedikit-sedikit tentang apa yang akan di lakukannya terhadap Naruto.

Setelah Naruto puas memainkan dua buah kenyalnya dan mengakhirinya dengan sebuah ciuman panas, Hinata pun mengambil inisiatif dengan merubah posisi nya menjadi mendominasi.

Kini ia berada di atas Naruto meraba dada bidang pemuda berambut kuning itu dengan sensual. Tidak adil bukan jika hanya dirinya yang harus polos di hadapan pemuda itu?

Kedudukan harus satu sama. Dan kini Hinata membuka satu persatu kancing kemeja putih yang Naruto kenakan. Dengan jantung yang berdebar tak karuan dan rasa malu yang telah ia buang. Pemuda itu pun akhirnya polos sama dengannya. Namun kali ini Hinata berbuat lebih, dan itu pun di biarkan oleh Naruto. Ia ingin melihat dan menikmati apa yang akan gadis indigo itu lakukan padanya.

Saat jemari lentiknya terhenti pada ujung resleting celana mahalnya tepat pada gundukan milik Naruto yang mulai 'bangun'. Naruto masih terdiam. Menunggu langkah selanjutnya yang akan di ambil gadis lugu itu.

Dengan gerakan pelan, jari lentik itu membuka resleting tersebut. Hampir saja melupakan ikat pinggang mahal yang Naruto kenakan, namun tentu saja tidak mungkin terlewat, kali ini Hinata tergesa-gesa menarik ikat pinggang itu. Dan dalam sekali tarikan, celana panjang mahal itu terlepas dan yang tersisa hanya secarik kain yang sama dengan yang ia kenakan. Bedanya, dibalik secarik kain itu tersimpan sebuah kebanggaan dari seorang Naruto Uzumaki. Yang tanpa diketahui olehnya bahwa ialah gadis pertama yang melihatnya. gadis yang pertama kali melihatnya adalah Hinata Hyuuga!

"Mainkanlah jika kau menyukainya," Naruto melipat kedua tangannya dan meletakkannya di belakang kepala sebagai pengganti bantal. Memposisikan dirinya senyaman mungkin menikmati permainan gadis jalang—sebutannya pada Hinata.

Setelah mendapat persetujuan dari sang pemilik, Hinata pun membuka kain penutup terakhir Naruto dengan tidak sabar. Benda itu mulai terbangun dan berdiri tegak, kokoh dan keras. Dengan ujungnya yang sedikit mengkilap dengan sedikit cairan yang keluar dari ujungnya.

Hinata tahu—dari video yang tidak sengaja di lihatnya saat menjelajah di dunia maya—apa yang harus di lakukan seorang gadis pada milik pasangannya. Tapi—bukankah Naruto itu bukan pasangannya?

Hinata tidak peduli.

Perlahan ia menggenggam milik Naruto yang ternyata berukuran lebih besar dari yang terlihat. Bahkan telapak tangannya yang kecil saja tidak menutupi semua benda panjang itu. Urat biru kehijauan itu berkedut disertai suara leguhan kecil dari Naruto yang sepertinya kaget saatnya miliknya itu bersentuhan dengan kulit tangan halus Hinata. Tangan kecil itu mulai bergerak naik turun, mengusap kulit berurat itu dengan tempo pelan. Saat Hinata mendengar kembali leguhan Naruto ia pun mempercepat tempo gerakannya.

"I-iya.. begitu. Gadis pintar, tidakkah kau ingin mencoba untuk merasakannya di mulutmu?" Naruto memulai kembali rayuannya yang entah kenapa langsung Hinata turuti. Hinata mendekatnya wajahnya pada milik Naruto, sebelah tangannya ia gunakan untuk memegangi rambut panjangnya yang tergerai agar tidak menganggu kegiatannya. Sedangkan tangan yang sejak tadi bekerja memberikan kenikmatan pada milik Naruto berhenti bergerak, hanya memegangi pangkalnya agar mulutnya dapat di masuki dengan sasaran tepat.

"Terusshh.. lebih cepathh.." Naruto meracau. Miliknya merasakan kehangatan dan basah. Hisapan gadis lugu ini seperti seorang professional yang sering ia tonton dari video. Ia semakin yakin bahwa gadis yang saat ini tengah bersamanya ini sangat berpengalaman.

Hinata terus menaik turunkan kepalanya menjilati seluruh batang keras milik Naruto seperti sebuah es krim yang akan meleleh kalau tidak segera di jilat. Naruto sendiri tidak terbuai begitu saja. Bukan cuma servis seperti ini yang ia butuhkan, ia menginginkan yang lain. Saat ketika ia memasuki diri Hinata dan membuat gadis itu kalah di tangannya.

Naruto menahan kepala Hinata dan membawanya ke dalam ciuman panas untuk kesekian kalinya. Kini kembali pada posisi semula dimana Naruto yang memegang kendali. Kedua tangannya bergerak ke bawah Hinata. Jari-jemari Naruto dengan ahli menelusuri tempat yang paling sensitive pada tubuh Hinata itu, membuat Hinata nyaris meledak oleh hasrat yang semakin menyala-nyala.

Bagian bawahnya terasa basah. Basah oleh cairan berbau khas yang terus ia keluarkan sejak pertama kali Naruto menyentuhnya. Tanpa di sadarinya telunjuk milik Naruto mulai memasukinya dari celah kecil celana dalamnya. Rasa geli kembali menyerang di susul rasa sakit saat jemari itu menusuk-nusuk lubangnya yang tersembunyi. Satu bertambah menjadi dua, kedua jari itu bergerak mengaduk bagian bawah Hinata hingga membuat tubuhnya tersentak seperti tersengat aliran listrik bertegangan kecil dan—

SRAAK!

Kain terakhir penutup bagian rahasianya pun kini telah robek. Merasakan cairan licin yang terus keluar dari sana membuat Naruto tidak sabar hingga tanpa pikir panjang merobek pertahanan terakhir Hinata.

Saat jari ketiga milik Naruto mulai bergabung, Hinata melebarkan kedua kakinya dengan maksud mempermudah pergerakan Naruto. Hal itu membuat Naruto tersenyum sinis. Gadis ini memang benar-benar ingin segera di masuki oleh miliknya.

Dengan mata sayu pandangan Naruto beralih pada milik Hinata yang masih terlihat ranum. Bersih, berbentuk indah dan tentunya—sempit.

Miliknya semakin berkedut saat melihat pemandangan itu, ingin rasanya melakukan hal yang sama seperti yang Hinata lakukan pada miliknya. Namun sepertinya miliknya sudah tidak sabar untuk memasuki rumahnya. Dan tanpa aba-aba Naruto pun mengarahkan miliknya yang selalu ia banggakan ukurannya di depan pintu masuk yang amat kecil dan belum sepenuhnya terbuka itu.

Ia ingin segera masuk tanpa menunggu pintu tersebut terbuka lebar.

Dan dalam satu hentakan kuat—

"Naruto!" bisiknya dengan tak berdaya. Kedua tangannya mencengkram sprei kuat-kuat saat milik Naruto yang berujung tumpul itu memasukinya. Terhalang sesuatu hingga Naruto terlihat sedikit kesulitan. Mulutnya ingin menolak namun tubuhnya sangat menginginkan. Rasa sakit yang menjalar, perih dan panas. Hinata mulai menyesali keputusannya ini, kalau rasanya akan seperti ini seharusnya tadi ia kabur saja.

Naruto mulai bergerak pelan menarik miliknya keluar dan rasa sakit itu masih terasa. Saat milik Naruto yang besar itu keluar sepenuhnya, Hinata bernafas lega. Berpikir kalau pemuda itu pun memiliki keputusan yang sama dengannya yaitu mengakhiri ini. Namun perkiraan Hinata salah. Dengan sekuat tenaga Naruto kembali memasuki Hinata dan hentakan itu langsung mengenai titik tersembunyi Hinata hingga membuatnya menedesah kuat.

Darah segar mengalir bercampur dengan cairan khas dari celah penyatuan itu.

Naruto menggerakannya perlahan. Bergerak dengan tempo teratur didalam lubang sempit itu.

"Naruto..Hentikan." lirih Hinata disela rasa sakit yang saat ini masih menguasainya. Namun sepertinya pria yang saat ini tengah menindihnya itu tidak terlalu mempedulikan ucapannya, ia terlalu sibuk dengan urusannya yang saat ini tengah memasuki Hinata semakin dalam. Dan lebih dalam lagi.

.

.

"Naruto! Naruto!" desah Hinata kuat-kuat. Naruto bergerak liar dengan tempo konstan. Rasa sakit itu hilang.. perlahan hilang.. dan hilang total menyisakan sebuah rasa nikmat yang tidak dapat Hinata ungkapkan.

Ciuman panas kembali menambah sensasi nikmat yang tercipta dari gesekan dua kulit berbeda warna itu. Remasan kasar dan lembut pada dada besarnya yang meloncat-loncat seirama dengan gerakan yang Naruto lakukan. Menambah sensasi kenikmatan itu menjadi berkali-kali lipat.

"Ahh.. ahh.. cepathhh.."

"Kau menikmati? Uhh.. Kau memang luar biasa Hinata."

Tiga puluh menit berlalu dengan peluh yang semakin bercucuran. Kali ini Hinata memegang kendali, ia berada di atas Naruto untuk mencari kenikmatannya sendiri. Bergerak naik turun dengan cepat di bantu Naruto yang memegangi pinggang sempitnya.

"Iyahh.. terushh.. sedikit lagihh…" Hinata hanya bisa meracau. Ia sudah terbuai oleh kenikmatan surga dunia.

PLAK!

Satu pukulan keras Naruto layangkan pada bagian bokong signal itu, saat Hinata mengehentikan gerakannya, dan ia mulai bergerak lagi. Lelah, mereka memang kelelahan. Namun enggan untuk mengakhiri kenikmatan itu.

"Naruto….."

"Hinatahh..."

"AHHHhhhh…"

Ia tak pernah tahu… Hinata tak pernah mendengar… bahwa hubungan cinta—bercinta bisa seindah ini… seistimewa ini… seintim ini. Hinata memejamkan matanya ketika tubuh Naruto semakin memasuki tubuhnya, mengocok sweetspotnya, mereka menyatu dan pria itu pun memilikinya secara utuh. Dan saat puncak kenimatan itu telah di raih bersama saat cairan hangat itu memasuki tubuhnya, Hinata menikmatinya.. Menikmati.. Hinata sangat menikmati satu malam panasnya bersama Naruto.

.

.

.

Hinata terbangun ketika hari menjelang pagi, dan begitu terjaga, ia langsung teringat dimana dirinya berada. Ia ada ditempat tidur besar bersama Naruto, paha Naruto menindih pahanya, bunyi nafas pria itu terdengar berirama di telinganya.

Hinata berbaring diam sambil menahan nafas, takut kalau-kalau Naruto merasa bahwa ia sudah bangun. Ia teringat kembali pada kejadian malam sebelumnya, dan darahnya mengalir dengan lebih deras. Entah berapa kali Naruto mencumbunya semalam, dan setiap kali Hinata memikirkannya, rasanya pengalaman itu semakin mengesankan, semakin menyenangkan, seakan membuatnya ketagihan. Ia yang tadinya tak tau apa-apa, sekarang mungkin sudah mampu menulis ulang kama sutra, dan bahkan menambahkan beberapa bab!

Hinata ingat betul bagaimana responnya terhadap Naruto semalam. Ia merasa begitu bahagia sehingga ingin rasanya ia membisikan kata-kata manis ditelinga Naruto, memberitahukan pada pria itu bahwa ia memujanya, bahwa baginya Naruto adalah pria paling hebat didunia. Ia ingin rasanya ia menciptakan panggilan-panggilan sayang pada Naruto. Ia ingin memasak dan menyiapkan sarapan untuknya. Ia jatuh cinta pada pria itu!

Oh, Hinata, apa yang telah kau perbuat? Kebahagiaan yang meluap-luap seketika menguap dengan cepat, ketika akal sehatnya menyadarkannya. Kejadian semalam memang sangat mempengaruhinya dan telah meninggalkan kesan yang sangat mendalam pada dirinya, namun itu bukan berarti Naruto mempunyai perasaan yang sama. Jelas jelas dia telah mengatakan 'Satu malam.' Meskipun sikap Naruto semalam begitu manis dan gairahnya menggebu-gebu, bukan berarti ia mempunyai niat serius terhadap Hinata.

Hinata berpikir dalam-dalam. Dan nyaris terpekik ketika ia teringat pada mobilnya.

Mobil sport merahnya itu sekarang masih terparkir di halaman depan kediaman Uzumaki. Orang yang paling bebalpun akan tahu betul bahwa semalam dia tidak pulang dan menginap disini bersama Naruto.

Hinata mengerang dalam hati, lalu melihat arloji Naruto yang diletakan dimeja kecil disamping ranjang. Jarumnya yang menyala dalam gelap menunjukan angka empat. Sebaiknya ia pergi segera dengan diam-diam sekarang dan langsung kembali ke Tokyo. Kalaupun di luar ia kepergok, ia bisa beralasan kalau semalam ia agak mabuk dan tidur sebentar untuk memulihkan diri—Semoga saja mereka tak menanyakan dimana ia tidur.

Pilihan lainnya adalah… tidur lagi dan kemudian sarapan bersama , Menma, serta Matsuri—Dan Naruto tentunya.

Hinata melirik Naruto yang masih nyenyak. Berat baginya untuk meninggalkan pria itu, namun itu harus dilakukannya. Kalau Naruto memutuskan semalam saja sudah cukup, akan lebih baik baginya bila ia pergi sekarang, daripada harus mendapat malu ketika Naruto mengucapkan selamat berpisah nanti.

Kepedihan mencabik-cabik hati Hinata, membuat seluruh tubuhnya terasa nyeri. Apakah perkataan satu malam itu harus diartikan secara harfiah? Sanggupkah Hinata menanggungnya bila maksud Naruto memang begitu? Hinata menggigit bibirnya keras-keras. Ia tak punya pilihan… ia harus menanggungnya. Hinata menelan ludah dan membulatkan tekadnya. Seandainya Naruto tak mau bertemu dengannya lagi, ia harus menghadapinya dengan tabah. Walaupun hatinya remuk, diluar itu semua ia harus tetap tampak tenang dan mantap. Ia harus mempertahankan harga diri dan kehormatannya.

Dengan gerakan hati-hati Hinata perlahan menarik kakinya dari bawah paha Naruto dan mengulingkan tubuhnya kesamping ranjang. Sambil menahan nafas diliriknya Naruto. Syukurlah ia tidak terbangun. Hinata menyipitkan matanya dalam keremangan kamar itu, mencari pakaiannya yang berserakan dimana-mana.

Tanpa menimbulkan suara dikenakannya pakaian dalamnya serta gaun hitamnya, kemudian sepatunya. Stoking serta ikat pinggangnya tak perlu dipakainya, sedangkan… Hinata melihat celana dalamnya dilantai, yang semalam telah disobek Naruto saking tak sabarnya dia. Wajah Hinata seketika memerah padam, ekspresinya penuh dengan penyesalan. Ia merasa muak pada dirinya sendiri. Sudah cukup buruk bahwa ia membiarkan Naruto menggaulinya, kenapa ia harus mempermalukan dirinya sendiri lagi dengan memberikan respon yang begitu panas? Tak sepantasnya seorang perawan merasa bergairah karna celana dalamnya disobek, bukan?

"Kirimkan tagihannya padaku." Suara yang datar dan malas itu mengejutkan Hinata. Ia menoleh ke—ranjang dan melihat Naruto sedang mengawasinya dengan sorot mata dingin. Sesuatu di wajahnya yang keras itu membuat hati Hinata berkedut, dan ia jadi salah mengartikan ucapan Naruto.

"Tagihan? Tagihan apa?" tannynya ketus.

"Tagihan untuk celana dalammu," sahut Naruto dengan tak acuh. "Kau harus tahu bahwa bukan kebiasaanku bahwa untuk melucuti pakaian seorang wanita dengan kasar, tapi kau membuat semua sifat jelekku muncul, Hinata."

Ucapan itu begitu menyakitkan sehingga membuat Hinata langsung mengutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia, yang mengira Naruto bangun untuk membicarakan kelanjutan hubungan mereka.

Hinata tersenyum getir dan menjawab dingin, "Prasaan kita sama persis, aku benci padamu, Naruto."

"Tidak sebesar kebencianku pada diriku sendiri, Sayang. Tapi seperti yang sudah kukatakan padamu, apa yang terjadi diantara kita tak ada hubungannya dengan rasa suka terhadap pribadi masing-masing." Merasa dirinya seakan sangat rendah dan murahan, Hinata berbalik. Rasa sakit menghujamnya sampai ke ulu hati.

"Oh, Hinata?"

Hinata berhenti, seberkas harapan konyol terbit di hatinya. "Apa?" ia menengok kebelakang, harapannya langsung pupus ketika melihat ekspresi Naruto.

"Aku kuatir semalam kau tak memberiku kesempatan untuk mendiskusikan masalah ini," kata Naruto ringan. "Dan… sebentar… bagaimana aku harus mengungkapkan ini tanpa menyinggung perasaanmu? Mengingat betapa bersemangatnya kau semalam, aku rasa kau sudah membereskan urusan kontrasepsi?"

Tubuh Hinata mengejang. Tangisnya hampir meledak—jeritannya nyaris tak mampu diredamnya. Ia bahkan berkeinginan untu mati pada saat itu juga. Ditatapnya Naruto tanpa berkedip. Apa salahnya berbohong lagi? Toh kebohongan yang paling besar telah dilontarkannya. Ia telah mengatakan pada Naruto bahwa ia membencinya.

"Tentu saja," sahutnya tenang, meninggalkan kamar itu tanpa menoleh lagi.

Dimeja ruang depan ditemukannya tas tangannya, dan dengan tergesa-gesa ia menghampiri mobilnya. Seperti dikejar setan, mobil sport merak itu dipacunyaa habis-habisan menuju Tokyo.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

Maaf telat—Lagi. T.T#bungkukbungkuk

Sepecil Tenks buat Author Nyangiku yang udah mau ngeluangin waktunya serta pikirannya buat bantu nyumbang bikin Lemon di chap ini, PS. Maaf kalo Lemonnya kurang HOT ^.^

Sekali lagi Terimakasih buat yang udah baca dan menyempatkan diri buat ngereview. \(^o^)/

Special Tenks.

Fuuchi|ana|dandidandi|Byakugan no Hime|chanchan|naruhina fans|Maura Raira|EmikoRyuuzaki-chan| .777|Gucha|dylanNHL|Guest| Sabaku No Mei|lililala249|IndigoRasengan23|Dafrilioun25|Garachi|Dios212|Narunata|Durarawr|Salsabilla12|Miss Utun|vicagalli|NaruHina Lovers|HotaruNQ|Aldrin952|SSqnat|Hime345|Divo|Seira|Quarta|Gocan|hikarishe|AnRe|Mauorin|Dimaz|Zenita-Hyuuga|Kang Delis|Ochi|kusina|Seiryu|Boni|Lintang|Haizahr Hana|Niurma|Rinzani|Baka Vie-Chan|Yamanaka-san|Ryuni|UzumakiIsana|Yuka|Amun B|Pecinta NH|RitaDaisy|Tsukimori Hime|Ishimaru|Bionsef|Caroline|Arashi|Yuarself|AnonymousMegane|NaruhinaChan|nishlchan.

.

.

.

Sampai jumpa di Chapter selanjutnya\(^o^)/