Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama|Romance|Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,OCC,TYPOS,REMAKE Etc
(FF ini Remake dari sebuah Novel Harlequin dengan judul yang sama karangan Sharon Kendrick)
Chapter 5
.
.
.
Hinata berbaring di tempat tidurnya tanpa bergerak sedikit pun, menunggu lenyapnya rasa mual itu.
Duluar pohon ceri menari-nari, bunga-bunganya yang cantik bergoyang dihembus angin musim semi. Cuaca disore bulan April itu sungguh cerah.
Rasa mual dipagi hari masih bisa ku tanggung, pikir Hinata dengan kepala pusing. Tapi sakit disore hari begini benar-benar tidak cocok dengan jadwalku! Untungnya, Sasuke sangat penuh pengertian. Ia memberi Hinata kebebasan untuk mengatur jam kerja sendiri selama kehamilannya. Jadi sekarang Hinata masuk kerja pada pukul enam pagi dan meninggalkan kantor sekitar pukul tiga—pukul empat, saat rasa mual itu mulai menyerangnya.
Dokter mengatakan bahwa gejala khas orang hamil itu akan menghilang sendiri ketika ia memasuki trimester kedua, tapi bahkan sekarang kandungannya sudah hampir lima bulan, dan ia masih sajah sering merasakan mual dan muntah-muntah.
Hinata ingat betul bagaimana terguncangnya dia ketika mendapati dirinya yang tengah hamil.
.
.
.
Ketika baru kembali ke Tokyo saat itu, ia dilanda kekecewaan dan keputusasaan yang begitu mendalam sehingga ia hampir saja tidak bisa bertahan. Dan satu hal yang sudah pasti—ia tak sanggup lagi bertemu dengan Naruto. Tapi Natal sudah menjelang, dan Hinata tak mungkin mengabaikan ibunya.
Maka seminggu kemudian, setelah dirasa cukup mempersiapkan mentalnya untuk pertemuan tak terduga dengan Naruto, Hinata pun berangkat ke Konoha. Namun Naruto sudah tidak ada disana. Ia kembali ke Prancis sehari setelah pertunangan Menma.
Bagaimanapun, kepergian Naruto yang mendadak itu lebih baik bagi Hinata. Ia jadi lebih leluasa memunguti serpihan-serpihan kehidupannya sebab ia sadar sekarang bahwa sudah tak ada harapan baginya. Hubungan mereka sudah berakhir bahkan sebelum semua itu sempat dimulai.
Minggu berikutnya ia tak mendapatkan tamu bulanannya, dan beberapa hari kemudian ia mendapatkan kepastian bahwa dirinya tengah mengandung. Sepanjang akhir pekan itu ia mengurung diri dikamarnya, menatap langi-langit sambil berusaha mencernakan perkembangan yang tak terduga-duga ini.
Sejak awal ia sudah memutuskan ia tidak akan memberi tahu Naruto—tak ada gunanya. Naruto tak akan mau direpotkan dengan konsekuensi dari kencan semalamnya, apalagi semua itu dilakukannya hanya untuk melepaskan hasratnya.
Hinata ragu, apakah Naruto mau menerima anak yang dilahirkan oleh wanita yang dibencinya, paling-paling yang akan diterimanya hanya uang, dan Hinata tak sudi merendahkan dirinya dengan mengemis pada Naruto.
Lagi pula, ia tak butuh uang, sebab bayi itu tak akan dirawat olehnya sendiri. Setelah berpikir masak-masak, pada akhir pekan itu ia memutuskan akan menyerahkan bayinya untuk diadopsi.
Bahkan dokter yang ditemuinya agak terkejut dengan keputusannya itu. Adopsi adalah langkah yang radikal, katanya, dan traumatis bagi sang ibu. Tak mudah bagi seorang wanita yang mengandung anaknya selama Sembilan bulan dan kemudian memberikannya kepada orang lain. Si dokter mengemukakan bahwa pada zaman sekarang ini, kaum wanita mempunyai pilihan, namun pilihan itu ditolak oleh Hinata tanpa berpikir dua kali. Ia tak mau membunuh anaknya sendiri—dan anak Naruto juga.
Si dokter kemudian menyarankan, bagaimana kalau ia merawat anak itu sendiri. Orang tua tunggal bukan hal yang aneh diabad ke-20 ini, dan masyarakatpun sudah bisa menerimanya.
Hinata tentu saja telah mempertimbangkan kemungkinan ini. Tapi apakah nasib si bayi tidak bakal lebih jelek bila ia merawatnya sendiri? Adilkah bila si bayi hanya dibesarkan oleh ibunya? Ibu yang harus bekerja sepanjang hari supaya bisa membiayainya? Ia tak akan bisa memberikan kemapanan dan ketentraman kepada anaknya kelak.
Demi anak itu, ia harus menentukan pilihan terbaik. Ia akan senang hati menjaga kandunganya agar si bayi lahir sehat, setelah itu ia akan mencari orang tua baik-baik yang sungguh-sungguh mendambakan anak, dan menyerahkan bayinya kepada mereka.
Selain dokter, hanya Sasuke yang diberi tahunya tentang kehamilannya itu. Rekan-rekan kerja dan teman-temannya di health club tentu akan mengetahuinya bila kandungannya sudah membesar, namun Hinata tidak merasa perlu memberi tahu siapa-siapa lagi—terlebih-lebih ibunya. Apa gunanya memberitahu ibunya bahwa ia akan memiliki cucu yang kelak akan diserahkan kepada orang lain? Tentu saja itu akan mendatangkan kesedihan bagi ibunya.
Sasuke baik sekali padanya. dukungannya sangat membantu Hinata menjalani masa kehamilannya, dan Sasuke senang karna Hinata akan tetap bekerja setelah melahirkan.
Ada dua hal yang diminta Hinata dari Sasuke. Pertama, agar Sasuke jangan sekali-kali mengajaknya bicara tentang si bayi. Membicarakan bayi itu hanya akan membuatnya semakin nyata, dan itu tentu akan menyulitkan Hinata saat ia menyerahkan bayinya nanti. Karena alasan yang sama, Hinata juga tak ingin Sasuke membelikanny pakaian bayi atau perlengkapan-perlengkapan lainnya.
.
.
.
Hinata hanya tidur-tidur ayam selama satu jam ini, setidaknya sampai rasa mualnya menghilang. Setelah itu ia mandi untuk menyegarkan dirinya. Setelah selesai ia mengenakan celana pendek dan kaus longgar, ia bahkan tidak tampak seperti wanita yang tengah hamil. Saat ini ia telah menyalakan TV sambil berpikir-pikir untuk mencari makanan diluar, ketika bel pintunya berbunyi—
Karena hari yang belum gelap dan kondisinya yang bisa dibilang kurang baik, Hinata belum sempat memasang rantai pintu. Dibukanya pintu itu tanpa berpikir panjang, dan seketika membeku di tempat ketika dilihatnya siapa yang datang.
—Naruto!
Pria itu mengenakan setelan jas formal berwarna coklat yang kelihatannya rancangan Armani, namun rambutnya acak-acakan dan dasi sutranya sudah dikendurkan.
Mata pria itu berbinar ketika menatapnya, namun wajahnya tanpa ekspresi—sama sekali tak ada ekspresi.
"Boleh aku masuk?" tannyanya tenang, namun dibalik ketenangan itu tanpak ada yang aneh dari nada suaranya, yang tertangkap oleh Hinata namun tak dapat dikenalinya.
Denyut jantung Hinata kembali normal, sehingga ia mampu mengambil napas dalam. Ia memerlukan oksigen untuk menanggapi pertanyaan Naruto dengan sama tenangnya "Untuk apa? Rasanya tak ada lagi yang perlu kita katakana kepada satu sama lain."
Naruto memencongkan mulutnya. "Benar juga. Bicara memang bukan keahlian kita. Iya. Kan, Hinata?"
Nuansa seksual yang tersirat dalam ejekan itu membuat wajah Hinata memerah. Ia mulai menutup pintu, namun seperti detektif dalam film-film, Naruto menjulurkan kakinya dan mengganjal pintu itu.
"Apa-apaan sih kau ini! Cepat angkat kakimu dari pintuku! Sekarang!"
Naruto tak memperdulikannya. "Sudah kubilang kalau aku mau masuk…"
"Dan sudah kubilang—" Hinata sontak ternganga ketika ia didesak kesamping dan Naruto menerobos masuk. Naruto menutup pintu itu dengan pelan ketika ia sudah didalam.
Rasa panik mulai menyerang Hinata, ketika Naruto melewati ruang depan dan masuk menuju ruang duduk seakan-akan ia tamu yang di undang. Berbagai pikiran dan ketakutan berkecamuk dalam pikirannya. Naruto tak mungkin tahu, kan? Tak mungki, kan?
Pria itu dengan santainya melayangkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia mengangguk-ngangguk sambil berkomentar, "Hmm. Elegan—tapi nyaman. Seleramu bagus, Hinata. Persis seperti dugaanku."
Hinata tidak menginginkan ataupun membutuhkan pujian dari Naruto, jadi kenapa hatinya begitu tegar hanya karna Naruto menyukai rumahnya? Kau memang tolol dan mengenaskan, ia memaki dirinya sendiri.
"Kenapa kau ada disini? Bukankah kau tinggal di prancis?"
"Ya, tapi aku sudah pindah."
"Ke—ke Jepang?" Tanya Hinata terbata-bata.
Naruto tersenyum dingin. "Tepat. Ke Tokyo persisnya."
Mata Hinata seketika membelalak. "Tapi kenapa?"
Sorot mata Naruto semakin menajam. "Aku punya urusan—yang sangat mendesak—di Tokyo. Memangnya kau pikir karna apa?"
Hinata merasa sangat capek dan tegang sebab ia harus betul-betul menjaga sikapnya. Jangan sampai Naruto menaruh curiga tentang kondisinya saat ini.
"Aku masih belum tau kenapa kau mendadak ada di sini. Apa sebenarnya yang kau mau?"
Naruto seketika tersenyum keji dan mendekatkan wajah ke arahnya. "Tergantung apa yang kau tawarkan," katanya dengan suara sedikit bergetar. Mendengarnya, barulah Hinata menyadari mengapa Naruto tampak berbeda sore ini. Ia baru saja minum-minum.
Oh Tuhan! Ia tidak mungkin mabuk kan? —entah kenapa Hinata tidak dapat membayangkan Naruto kehilangan kendali diri atau kehilangan ketajaman pikirannya—tapi jelas ia sudah minum cukup banyak sehingga membuatnya nekat. Hinata bisa melihat itu dengan jelas di sorot matanya yang mengancam, dan tiba-tiba ia merasa takut karenanya. Naruto tak boleh tahu. Naruto tak boleh tahu.
"Kau habis Minum!" tuduhnya.
Naruto menjatuhkan diri ke salah satu kursi, duduk tanpa dipersilahkan. "Benar," akunya. "Aku minum untuk menghilangkan setan betina yang tak henti-hentinya menghantuiku."
"Kau kesini hanya untuk menghinaku?" Tanya Hinata sopan, merasa yakin bahwa ia tidak membiarkan dirinya sendiri terpancing, Naruto akan segera pergi. Dan ia sungguh-sungguh ingin Naruto cepat berlalu, sebab di dalam dirinya saat ini ada dua perasaan yang sama kuatnya tengah berperang. Di satu pihak rasa kebenciannya yang teramat sangat kepada Naruto yang membuatnya serasa ingin merobek-robek dadanya sendiri, namun dilain pihak, kerinduannya yang begitu memuncak sehingga ia ingin menjatuhkan diri ke dalam pelukan Naruto dan takan pernah mau melepaskannya lagi.
"Aku datang untuk melihat keadaanmu." Naruto tertawa pahit, memperhatikannya dengan kepala yang sedikit dimiringkan. "Dan sekarang aku sudah melihatnya. Kau tampak kacau—Berantakan."
"Terima kasih banyak." Topik ini berbahaya, pikir hinata. Penampilannya memang berantakan—itu tak dapat diingkarinya. Tapi Naruto tidak boleh sampai tahu apa penyebabnya.
.
.
Sudah lebih dari empat bulan ia muntah-muntah di setiap sorenya, karena itu bahkan kehamilannya tidak membuatnya semakin gemuk, malah sebaliknya. Turunyanya berat badan itu terlihat jelas dari pipinya yang Nampak cekung dan kulitnya yang pucat, bahkan rambutnya saat ini sudah sedikit kehilangan kilaunya. Ditambah lagi ia yang hanya menggunakan celana pendek hitam dan kaus putih yang sama sekali tidak memperbaiki penampilannya.
"Aku juga pernah melihatmu dalam keadaan yang lebih baik," jawabnya ketus.
"Oh ya? Kapan? Apa ketika kau mengendap-endap pergi sementara aku menunggu diranjang dalam keadaan telanjang? Kenapa kau meninggalkanku saat itu, Hinata? Apakah suara hatimu mengusikmu? Kau malu mengingat apa yang telah kita lakukan?"
Dusta—dusta-dusta yang hebat. Hanya dengan berdusta ia bisa meloloskan diri. Hanya dengan berdusta ia bisa menyembunyikan luka hatinya. Diangkatnya bahu sambil berkata, "Katakan saja begini… itu sudah terjadi dan sebaiknya dilupakan. Kau setuju, kan?"
"Bagaimana kalau tidak?" Tanya Naruto tersenyum sinis.
Hinata tidak menanggapinya, dan bertanya tanpa basa-basi, "Kau mau kopi? Sebelum pulang?"
"Tidak, aku tidak mau kopi. Kau tahu betul apa yang aku inginkan. Kau!" mata Naruto menyipit, menebarkan janji-janji keintiman.
Secara otomatis tubuh Hinata memberikan reaksi. Mukanya langsung memerah begitupun darahnya yang seketika mendesir. Apakah Naruto menyadari bahwa pertahananya mulai goyah? Itukah sebabnya ia mengulurkan tangan dan menariknya ke sofa?
"Aku tak bisa berhenti menginginkanmu, Hinata—tahukah kau? Apa pun yang kulakukan, perasaan itu tak mau hilang. Apakah kau juga merasa begitu? Kau juga merasakannya?"
Bibir Naruto menelusuri lehernya dan berhenti tepat di mulutnya, menciumnya dengan penuh berahi sementara Hinata seperti orang yang tenggelam, mengangap-ngangap dilanda gelombang kenikmatan. Bahkan ketika Naruto menyusupkan tangan ke balik t-shirt-nya barulah ia tersadar. Naruto memang hanya satu malam bercinta dengannya, namun dalam satu malam itu, ia telah menjelajahi setiap senti tubuhnya dan mengenal liku-likunya dengan sangat akrab. Buah dadanya menjadi lebih besar dan kencang karena kehamilannya, mata Naruto yang jeli pastilah akan menyadarinya. Dan itu berbahaya!
Hinata mendorong tubuh Naruto dan berdiri menjauh dari sofa. Pria itu memandangnya dengan alis yang terangkat. "Kenapa—kau berubah pikiran?" tanyanya tak acuh, seakan-akan penolakan Hinata tak ada artinya baginya. Namun garis-garis wajahnya yang tegang menunjukan bahwa permainan asmara yang terhenti di tengah jalan itu sama menyakitkannya baginya seperti halnya bagi Hinata.
"Berubah pikiran? Enak saja! Aku bahkan belum memutuskan apa-apa!"
"Masa? Kesanku tidak begitu."
"Kau memang suka seenaknya menarik kesimpulan sendiri. Bagaimana sikapku, kau selalu saja mengartikannya sesuai kemauanmu!" tukas Hinata, sadar bahwa tuduhannya tidak benar—dan tidak adil.
"Oh, ayolah, Hinata," tegur Naruto setengah mengejek. "Otakmu yang cemerlang itu tak sejalan dengan kepura-puraan."
Hinata mengalihkan pandangannya dari wajah tampan itu. "Aku ingin kau pergi sekarng. Tolong." Kata terakhir itu ditambahkannya dengan harapan dapat menggugah kebaikan hati Naruto.
—sia-sia
"Aku tak akan pergi sebelum aku menyampaikan maksudku."
"Kalau begitu, cepatlah katakan." Hinata berjalan ke arah jendela, ingin menciptakan jarak di antara dirinya dan Naruto. Naruto menatapnya dalam-dalam. "Aku punya tawaran untukmu."
"Tawaran lagi?" Tanya Hinata dengan nada sedingin es, teringat pada kejadian dua setengah tahun yang lalu. "tentunya kau tak akan menawariku uang lagi, kan?"
"Tidak," Naruto menjawab dengan berat. "Bukan uang."
"Lantas apa?"
"Aku ingin selalu bertemu denganmu."
Hati Hinata seketika serasa ingin bernyanyi, namun ia berusaha menahan dirinya. Dengan bodoh—atau mungkin juga tidak, sebab ia harus tahu persis apa yang ditawarkan Naruto—Hinata bertanya, "Untuk apa?"
Naruto tersenyum dingin. "Apa saja yang kau inginkan. Kita bisa pergi nonton, makan, piknik—pokoknya hal-hal yang biasa dilakukan oleh pria dan wanita."
"Dan tempat tidur, tentu saja? Kau lupa menyebutkan tempat tidur."
Sorot mata Naruto seakan-akan ingin menelannya. "Oh, tidak, Hinata," jawabnya lirih. "Aku pasti takan melupakan tempat tidur."
Untuk pertama kalinya, Hinata sangat bersyukur bahwa dirinya tengah hamil. Bayi dalam kandungannya itu lah yang melindunginya dari ketololannya sendiri. Sebab, seandainya saat ini ia sedang tidak hamil, ia pastilah sudah melonjak menerima tawaran Naruto yang tidak melibatkan perasaan itu. Dan akibatnya sudah bisa dipastikan. Harga dirinya akan kembali terinjak-injak dan hatinya akan tercabik-cabik—lagi.
"Maaf," katanya ringan. "Aku tak berminat."
Wajah Naruto seketika menjadi guram, ekspresinya menjadi semakin kelam, membuat Hinata bergidik. Jelas bahwa Naruto bukan tipe orang yang bisa menerima sebuah penolakan. Hinata bertanya-tanya apakah Naruto akan mencoba membujuknya dengan menciunya lagi. Kemungkinan besar tidak, ia memutuskan. Namun ia tak bernah tahu karena bel pintu sudah keburu bordering.
Naruto bergeming, seolah-olah tubuhnya terbuat dari marmer yang dingin. Hinata menghampiri pintu sambil berpikir, siapa yang datang, dan bagaimana ia bisa menyingkirkan Naruto sebelum pertahanannya runtuh dan rahasianya terbongkar.
Ternyata Sasuke. Membawa seikat mawar—Mawar merah. Pria itu tersenyum lebar. "Kebetulan aku melihat ini dan…" ia berhenti ketika melihat peringatan yang disampaikan Hinata lewat sorot matanya, dan pada detik itu juga Hinata tahu dengan cara apa ia bisa mengenyahkan Naruto dari hidupnya untuk selama-lamanya.
"Oh, sayang!" serunya dengan mesra, mengambil mawar-mawar itu dan mencium Sasuke yang Nampak kebingungan. "Bunga-bunga ini cantik sekali. Tapi kau tak perlu repot-repot… kau terlalu memanjakanku Sasuke-kun!"
Hinata mendengar langkah kaki dibelakangnya. Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, ia berbalik, seolah-olah baru teringat pada Naruto yang selama ini berdiri di ambang pintu ruang duduk mengawasi mereka.
"Ayo kuperkenalkan dengan kawan lamaku. Naruto… ini Uchiha Sasuke, bosku. Sasuke-kun, ini Uzumaki Naruto."
Suasana mendadak tegang dan menekan. Naruto tersenyum kecil, menyambut uluran tangan sasuke sambil mengangguk kaku. "Bukan kawan, Cuma kenalan biasa. Dan aku kebetulan sudah mau pamit." Ia menatap Hinata sekilas. "Goodbye."
Nadanya begitu final sehingga Hinata merasa bahwa Naruto bukan hanya mengatakan permisi, tapi benar-benar selamat tinggal. Dan Hinata tiba-tiba dilanda rasa panik, meskipun semestinya ia merasa senang karena harapannya telah terkabul. "Aku akan mengantarmu keluar," katanya, masih tak mau melepaskan Naruto.
Hinata mengikuti Naruto berjalan keluar. Melihat sikap tubuhnya, Hinata tahu betul bahwa pria itu sangat marah. Hinata tergoda—sangat tergoda—untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Naruto. Namun ketika pria itu memalingkan wajahnya, Hinata langsung membatalkan niatnya. Ejekan dan hinaan terpancar begitu jelas diwajah Naruto sehingga membuat hati Hinata seketika menciut.
"Bosmu, hah?" tanyanya dengan sarkastis. "Kau memang pandai merayu bos-bos ya?" mulutnya mengerut jijik. "Katakan padaku, apakah Sasuke yang tersayang tahu bahwa beberapa menit sebelum kedatangannya, kau asyik mencumbuiku! Sasuke pastilah orang yang terlalu mudah percaya, atau terlalu gampang dibodohi!"
Tuduhan itu sukses menusuk hati Hinata, lebih dari pada apa yang dapat dibayangkannya. "Beraninya kau!" katanya sambil menggertakan gigi. "Aku takkan mengizinkanmu menghina Sasuke-kun."
"Kaulah yang kuhina, Manis."
"Pergi!"
"Baik, aku akan pergi." Naruto menunduk dan dengan berutal mencium Hinata. "Terima kasih atas kenangan yang kau tinggalkan," katanya dengan getir, kemudian segera berlalu.
Hinata berdiri terpaku dihalaman dengan wajah pucat. Bibirnya bergetar dan air matanya mengalir dengan deras, seperti bendungan yang akhirnya bobol. Sasuke datang menghampirinya dan meraihnya ke dalam pelukannya yang hangat, menghiburnya sampai air matanya kering.
"Sudah, sudah," katanya lembut. "Semua akan baik-baik saja."
Hinata mengangkat wajahnya yang kusut dan menggeleng dengan putus asa. "Tidak," bisiknya pilu. "Semuanya kacau. Semuanya kacau."
"Dia ayah bayimu, kan?"
Tak ada gunanya menutup-nutupi hal itu, lagi pula Hinata sudah tak mampu berbohong lagi. "Ya," jawabnya singkat.
"Tak pernah kuduga kau kenal dengan Uzumaki Naruto," Sasuke berkomentar. "Apalagi sampai menjalin cinta dengannya. Apakah masih ada bos-bos besar yang kau sembunyikan dibalik topimu?"
"Aku… Oh, Sasuke-kun!" Hinata memegangi perutnya, bahkan airmatanya mengalir lagi.
"Kenapa? Kau kenapa, Hinata?" Tanya Sasuke waswas.
Hinata tersenyum diantara derai air matanya, sehingga Sasuke semakin kebingungan. "Ada apa?" desaknya.
"Aku merasakannya."
Sasuke mengerutkan dahi. "Merasakan apa?"
"Bayiku," kata Hinata dengan kagum dan terpesona. "Sasuke-kun, bayiku baru saja bergerak!"
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
.
Yuhuuu… Happy kembali \(^o^)/ … Gak telat kan #Tumben #kereling
Disini Happy gak nyantumin keterangan Flashback, Sengaja —pasti kalian juga udah duluan tau bagian mana ajah yang jadi Flashback kan ^.^
Untuk yang kesekian kalinya Makasih buat yang udah baca and nyempetin Review di Fic ini.. Makasih banyak ^o^
Special thanks,
Maura Raira|Salsabilla12|Durarawr|Haizahr Hana|Ana|Yamanaka-san|AytTri Wn573|Riyui|NaruNata|Guest|GineReal|Kushina|Aan|Leviana|dandidandi185|AnRe|Virgo Shaka Mia|devia chan|RitaDaisy| .777|Tk panda|Miss Utun|Hime345|Guchan|me2310|hikaru41|Sabaku No Mei|naruhina kudo 123|NH Lucifer|NaruhinaChan|ana|UzumakiIsana|kensuchan|lililala249|Garachi|Delisalcha|Byakugan No Hime|Yukiko otsutsuki|Mishima|Anna990|yukahyuzu|Genta|Betelgeuse Bellatrix|Aldrin|Caroline|Lophelyna|megahinata|Kintsuchi|rohmadi|nadya ulfa|Aszcole.
Sedikit bocoran buat Chapter depan, tenang kok ini gak terlalu pasaran banget, hinata hamil trus ngelahirin tanpa sepengetahuan Naruto, Narutonya ketemu Anaknya dan gak tau itu anaknya trus nyaritahu siapa ayah anak itu pas tau kalo y dia temui itu anak kandung dari wanita y paling sukses buat dia jadi gila aka Hinata, dan ngerebut anak itu paksa dari Hinata, Hinatannya nangis penuh penyesalan dan bla bla bla… gak gitu kok —gak kek gitu ^o^ #efeknekatliatsinetron
sepertinya rahasia Hinata akan diketahui Naruto di Chapter berikutnya, plus tawaran terbaru Naruto yang mau gak mau Harus di ambil Hinata. Hehehehe #ketawalicik.
.
.
.
.
.
Sampai jumpa di Chapter berikutnya \(^o^)/
