Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama|Romance|Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,OCC,TYPOS,REMAKE Etc
(FF ini Remake dari sebuah Novel Harlequin dengan judul yang sama karangan Sharon Kendrick)
Chapter 6
.
.
.
Bel pintu berdering. Hinata berjalan dengan langkah tertatih-tatih menuju ruang depan, merasa dirinya kini selamban gajah. Kandungannya sudah memasuki bulan ke Sembilan, dan empat minggu lagi ia akan melahirkan. Berat badannya selama bulan-bulan terakhir ini naik dengan pesat, sehinggan si dokter menggodanya. Kata dokter itu, seandainya ia tidak memiliki foto USG, ia pasti sudah mengira Hinata mengandung anak kembar!
Hinata mengintip ke luar melalui lubang yang ada pada pintu rumahnya, yang baru saja dipasangnya atas desakan Sasuke. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dengan terkejut dan tak mempercayai siapa yang datang.
Hinata memundurkan langkahnya dan menyandarkan tubuhnya ke dinding di samping pintu, menggigit bibir sambil memutar otak. Untuk apa Naruto datang lagi? Pertanyaan itu terus mengusik pikirannya. Dan yang lebih penting, bagaimana ia harus mengusahakan agar Naruto jangan sampai masuk dan melihatnya?
Bel pintu berdering lagi—menunjukan bahwa tamu tak diundang itu sudah tidak sabar. Hinata memutuskan untuk berpura-pura tidak ada dirumah. Tapi Naruto sudah berseru-seru, "Buka pintunya, Hinata! Aku tahu kau ada di dalam. Mobilmu terparkir diluar dan tetanggamu bilang kau biasanya beristirahat pada sore-sore begini. Aku tak tahu apakah maksudnya kau sedang bermain dengan Sasuke, dan terus terang aku tak perduli. Tapi entah Sasuke sedang bersamamu atau tidak, aku tidak akan pergi sebelum bertemu denganmu."
"Aku tak sudi bertemu denganmu meski kau orang terakhir di dunia! pergilah dan lampiaskan pikiran-pikiran jorokmu serta hinaan-hinaan kotormu di tempat lain!"
"Kau mau buka pintu atau tidak?"
"Tidak!"
"Sayang sekali! Kalau begitu, aku harus mendobrak pintu mungil yang cantik ini!"
"Coba saja!" teriak Hinata. "Aku akan panggil polisi dan—"
"Kaa-sanmu yang menyuruhku kemari."
Hinata terkejut bukan kepalang. "kaa-sanku? Kenapa kaa-sanku menyuruhmu kemari?"
"Dia mencemaskanmu."
"Tapi dia tak punya alasan untuk cemas!" Hinata memejamkan matanya sejenak, merasa malu dan menyesal karna telah membohongi ibunya. Tapi tentu dia tak punya pilihan lain. Secara rutin ia masih menelpon dan menyurati ibunya, tapi sejak kandungannya membesar, dia tak pernah lagi mengunjungi beliau. Dia berdalih sedang banyak pekerjaan dan pada akhir pekan seringkali harus pergi ke paris. "Kenapa kaa-san mesti kuatir?" Hinata berteriak pada Naruto, dengan nada seceria mungkin. "Aku baik-baik saja."
"Sudah hampir empat bulan kaa-sanmu tidak melihatmu, kaupikir itu belum cukup untuk membuatnya kuatir?" balas Naruto. "Sekali lagi, Hinata, kau mau buka pintu atau tidak?"
"Tidak! Aku akan menelpon Kaa-sanku nanti malam."
Nada suara Naruto semakin tidak sabar. "Aku sudah berjanji pada kaa-sanmu akan menyerahkan paket ini secara langsung."
"Paket?"
"Hadiah ulang tahunmu. dari Kaa-sanmu. Juga ada surat darinya."
"Bisakah kau tinggalkan itu di luar?" pinta Hinata dengan putus asa. "Aku sungguh-sungguh tak ingin melihatmu, Naruto. Kau tentu mengerti bukan?"
Hening sejenak. "Ya," Naruto menyahutnya dengan nada aneh. "Aku mengerti itu. Oke, aku akan menuruti permintaanmu dan meninggalkan paket ini didepan pintu. Tapi aku sudah berjanji pada kaa-sanmu akan berbicara denganmu dan melihat keadaanmu. Jadi kau juga harus berjanji, kau akan pulang dan menengoknya, oke?"
"Oke, oke, aku janji." Sekarang pergilah, katanya dalam hati. Pergi.
Sambil bersandar didinding dengan tangan yang melingkari perutnya, Hinata menunggu. Dan ketika ia mengintip ke luar lagi, Naruto sudah tidak ada.
Dengan perlahan dan hati-hati ia membuka pintu. Dengan susah paya ia membungkuk untuk memungut bingkisan itu. Ketika ia berdiri lagi sambil mengusap-ngusap punggungnya, pandangannya berbenturan dengan tatapan bingung Naruto. Laki-laki itu muncul dari balik pohon ceri dengan wajah yang diliputi keheranan.
Hinata mencoba berlari masuk, namun tubuhnya yang besar membuat gerakannya sangat lamban. Naruto sudah keburu mencekal pergelangan tangannya sebelum ia sempat mencapai pintu.
"Oh, Tuhan," bisik Naruto dengan suara tegang. "Jadi ini sebabnya, ini… sebabnya," ulangnya seperti orang baru sadar. "Oh, Tuhan."
Hinata terhuyung-huyung nyaris jatuh. Naruto menangkap pinggangnya dan menopangnya. Hinata dapat melihat kalau tetangganya mengawasi mereka dengan penuh perhatian, sadar bahwa dirinya dan Naruto pasti merupakan tontonan yang menarik.
"Kau taka apa-apa?" geram Naruto.
"Aku mau ke dalam," katanya dengan gemetar, membuka pintu dengan membabi buta tanpa melihat jalan lagi. Naruto mengikuti dibelakangnya.
Hinata berusaha mengatasi perasaannya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan Naruto. Namun masalah itu belum selesai, ia sudah ditimpa masalah lain. Perutnya tiba-tiba terasa mulas, begitu sakitnya sehingga ia terpaksa bergelayut pada punggung kursi. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya.
Mata Naruto menyipit, dan dalam sekejap ia sudah berada di samping Hinata. "Kau kenapa?"
Rasa mulas kembali menyerangnya. Hinata mencoba mengatur napas seperti yang diajarkan di kelas pranatal. Ia begitu kesakitan sehingga hampir-hampir tak menyadari pria yang kini tengah mengawasinya dengan kuatir itu.
"Kurasa—kurasa aku… akan melahirkan," ujarnya terputus-putus, tapi hatinya menjerit. Tak mungkin! Tak mungkin ia akan melahirkan sekarang. Jadwalnya kan masih empat minggu lagi. Ia memegangi perutnya sambil melihat jam tangan. Hitung kontraksinya, ia ingat itu.
Ia tak sudi bertemu dengan Naruto meskipun Naruto orang terakhir didunia, katanya dengan pongah tadi. Tapi anehnya, didampingi laki-laki itu ia merasa aman. Dan ia hampir mencucurkan air mata sebab ia sadar, kekuatan dan keandalan pria itu hanya ilusi belaka.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Naruto pendek.
"Telpon bidan. Nomornya ada di notes itu. Aku perlu…Oh!" ia tersegal-segal. Kontraksi itu mulai lagi—lebih kuat dan jaraknya hanya dua menit.
Naruto ragu-ragu sesaat, kemudian merangkul Hinata dan mendudukannya di sofa. Kemudian ia pergi kemeja telepon.
Hinata melihat Naruto yang menyimak perkataan sang bidan, lalu pria itu melirik arlojinya dan berkata, "Dua menit. Dan kontraksinya teratur."
Jadi dia menghitungnya juga, pikir Hinata, terenyak ketika rasa sakit kembali melandanya. Naruto meletakan ganggang telepon itu. "Ambulans akan segera datang. Dimana tas pakaianmu?"
"Di kamar." Hinata memejamkan matanya—berusaha mengatasi rasa sakit yang kini semakin memuncak.
Naruto kembali beberapa menit kemudian. Wajahnya tanpa ekspresi ketika ia membungkuk di samping Hinata. "Kau ingin aku menghubungi seseorang?"
"Siapa?" Tanya Hinata lemah.
"Kaa-sanmu?"
"Jangan," kata Hinata dengan bibir kering. "Dia—tidak tahu."
"Begitu rupanya," sahut Naruto geram.
"Naruto—"
"Apa?"
"Kau tidak akan bilang pada kaa-sanku, kan? Tolong jangan bilang padanya!" pintanya dengan memelas, dengan tubuh terguncang karna terus didera rasa sakit.
"Bilang padanya? Mengapa aku harus melakukan itu? Ini tak ada hubungannya denganku." Ia menatap Hinata tajam. "Atau ada, Hinata?"
"Tidak." Hinata memejamkan mata, kuatir kalau-kalau ketakutan dan perasaan-perasaan yang lain terlihat. Naruto tidak bertanya siapa ayah bayinya. Mengherankan. Tapi bayi ini akan lahir premature, dan mungkin Naruto mengira ia—ia—Hinata ingin meratap ketika pikiran itu melintas dalam benaknya. Mungkin tak terpikir oleh Naruto bahwa bayi itu anaknya, sebab ia mengira bahwa dirinya hanyalah salah satu dari sekian banyak kekasih Hinata!
Hinata memaksakan dirinya untuk membuka mata dan menatap Naruto. "Tolong ambilkan aku air." Naruto mengerutkan dahi. "Apa kau boleh minum?"
"Kenapa tidak?"
"Yah—kalau mereka harus membiusmu…"
"Demi tuhan!" Hinata terlonjak dan menegakan posisi duduknya. "Aku kan Cuma melahirkan, kenapa mesti di…"
"Sssst," Naruto menenangkannya. "Begini saja." Ia bergegas ke dapur dan kembali membawa handuk kecil serta mangkuk berisi air dingin. Diusapnya bibir Hinata dengan handuk yang sudah terlebih dahulu dibasahi. "Oh!" Hinata tersenyum. "Ini enak sekali."
Naruto balas tersenyum dan mengangguk, tapi ia tidak berkata apa-apa. Dengantekun dibasahinya bibir Hinata setiap dua detik.
Raung sirine sudah terdengar dari jauh sebelum ambulansnya berhenti di depan rumah Hinata. Mendengar decit ban , Hinata mencoba bangkit, namun gagal.
"Tetaplah disini!" perintah Naruto. "Mereka membawa kursi roda."
Apa ini tidak terlalu berlebihan? Gerutu Hinata, namun kemudian bersyukur sebab kursi roda itu ternyata sangat menolongnya.
"Dia akan baik-baik saja, kan?" Tanya Naruto kepada petugas ambulans. Paramedis itu mengangguk sambil tersenyum.
"jangan kuatir, Tuan. Istri anda kelihatannya cukup sehat. Menurut pengalaman saya, justru para ayahlah yang biasanya sakit parah pada saat persalinan. Sebentar lagi bayi anda akan lahir dengan selamat, Tuan!"
Hinata tahu mereka pasti akan mengira Naruto ayah bayinya. Ia ngin menyangkal, namun tak mampu, sebab mukanya sudah ditutupi masker oksigen dan ia diperintahkan untuk mengambil nafas dalam-dalam. Bau manis gas itu membuatnya pusing, tapi sekaligus mengurangi rasa mulasnya.
"Silahkan naik, Tuan."
Naruto masuk ke dalam ambulans dan duduk di samping Hinata. Ekspresinya suram dan tertutup.
"Kau—mau apa kau disini?" Tanya Hinata bingung.
"Aku akan mengantarmu."
"Naruto—"
"Kau tak bisa menghadapi ini sendirian," kata Naruto tandas. "Aku akan menemanimu."
Hinata mentap wajah Naruto yang tampan dan terlihat mantap. Hatinya tergerak ingin menyentuh wajah itu, dan berterus terang kepadanya. Bukan hanya mengenai si bayi, tapi juga bahwa dia—
Hinata mengulurkan tangannya dan Naruto seketika menggenggamnya dengan erat. "Naruto," bisiknya, namun ia tak sempat melanjutkan karna perutnya berkontraksi lagi, lebih keras, dan lebih menyakitkan dari sebelumya. Petugas ambulans menyuruhnya untuk diam dan kemudian berkata,
"Jangan bicara! Atur nafas anda! Dan berdoalah semoga jalanan tidak macet!"
Ambulans itu terus melaju dengan cepat dan perjalanan itu menjadi kilas-kilas samar bagi Hinata. Ia nyaris tak menyadari apa-apa kecuali rasa sakit yang menyerangnya dan cekalan tangannya pada Naruto. Sekilas dilihatnya Naruto yang mengusap-ngusap rambutnya dan ia sempat berpikir, penampilanku saat ini pasti sangat berantakan.
Namun setibanya dirumah sakit, ia sudah tak sanggup lagi memikirkan penampilannya atau bahkan apa yang saat ini terjadi padanya. Ia menurut saja ketika dirinya dipindahkan pada tempat tidur beroda dan dibawa kesebuah ruangan yang mirip seperti kamar biasa dari pada kamar rumah sakit. Ia mengingat kalau itu merupakan salah satu taktik mereka untuk menenagkan para ibu yang akan melahirkan, dan ia juga mengenali dokter yang sedang memeriksanya.
"Tolong," pinta Hinata terengah-engah. "Bisakah aku diberi suntikan epidural?"
Bidan itu tertawa. "Epidural? Tak bisa, Miss. Sudah sangat terlambat untuk itu."
"Terlambat?"
"Ya! Bayinya sudah akan lahir! Bernafaslah seperti yang sudah di ajarkan dikelas prenatal, dan sebentar lagi saya akan meminta anda mengejan."
Rasa sakit itu semakin menenggelamkannya. Ada seseorang disampingnya yang mengelap bulir keringat di dahinya dan Hinata mendongak. Dilihatnya Naruto yang berdiri disamping ranjangnya.
"Naruto…" ktanya lemah, tapi pria itu menggelengkan kepalanya.
"Jangan berbicara dulu. Simpan tenagamu untuk si bayi. Kau tak perlu kuatir, aku akan selalu ada disini. Aku tak akan meninggalkanmu."
Oh, kalau saja itu benar—kalau saja sejak awal ia memberi tahu Naruto bahwa ia ayah dari bayinya—tapi sekarang sudah tak ada waktu lagi. Dirinya saat ini tengah dikuasai rasa mulas yang amat sangat. Ia mengejan kuat-kuat dan sekilas melihat anggukan puas dari sang dokter. Dan beberapa saat kemudian si bayi pun lahir dan langsung menangis keras-keras.
"Perempuan." Bisik Naruto ditelinganya. "Bayi perempuan yang sangat cantik."
Tangis Hinata meledak. Bayi itu diletakan di dadanya dan Hinata langsung diliputi prasaan yang sulit dilukiskan. Letih, lemah—sekaligus kuat, bahagia dan tentu saja bangga.
"Dan Papa boleh menggendongnya sebentar," kata sidokter tersenyum.
Hinata tidak berkata apa-apa. Ia memusatkan pandangannya pada kepala mungil berambut indigo yang sama dengannya yang saat ini tersandar didadanya. Masalahnya terlalu rumit untuk dijelaskan sekarang.
"Bayi ini sehat dan sempurna," lanjut si dokter. "Beratnya juga cukup, mengingat ia terlahir prematur"
Dokter itu tersenyum pada Hinata. "Apakah anda akan membatalkan rencana anda untuk membiarkan bayi ini diadopsi—sebab saat ini anda telah berkumpul lagi bersama ayahnya?"
Dunia seakan seperti berputar-putar, kepala Hinata terasa berdenyut.
Ia mendongak, dan bertemu pandang dengan Naruto. Tatapan Naruto yang sedingin es seakan-akan menembus seluruh keberadaannya. Dia tahu, Hinata mendadak sadar. Naruto tahu bahwa ia ayah dari bayiku.
"Adopsi?" Tanya Naruto. Suaranya lembut namun berbahaya.
Si Dokter terlihat bingung dan rikuh. Jangan-jangan dia sudah salah ucap, pikirnya. Dengan salah tingkah ia membalikan badan dan membersihkan tangannya lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Adopsi?" ulang Naruto dengan wajah beku.
Hinata tak mampu menjawabnya hanya dengan kata-kata. Ia mengangguk tanpa daya.
Tak ada jalan untuk menghindari ini. Tidak sekarang.
"Ya," katanya sambil mengangkat dagu dengan sikap menantang. "Aku berencana untuk memberikan anak ini pada orang lain."
"Begitu," jawab Naruto, dengan suara sedemikian suram sehingga membuat bulu kuduk Hinata meremang ketika mendengarnya.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
Hehehehe….
Happy gak suka sinetron, satu"nya sinetron yang perna Happy liat Cuma Olivia itupun keluaran thn 2007. #gaknanya #gakpenting
Oke, tadinya orang ke tiga memang mau Happy ganti, memang sih kalo dipikir" feelnya kurang dapet kalo pake sasuke, tapi bukannyanya nanti bakalan aneh yah kalo dari awal pake sasuke dan sekaran tiba" jadi pake y lain. Berhubung di sini karakter orang ketiganya Cuma sekedar lewat doang, gppkan kalo ttp sasuke. Toh NaruHina ttp yang diutamakan. ^^
Chapternya Baru setengah jalan, perkiraan sampai 12 Chapter, Harus HappyEnd pastinya ^o^
Special Thanks,
dylanNHL|Savor|Hyuyga rie|Ame|Baka Vie-Chan|ChacaSavika|Guchan|Ana|Yeye|nana anari|Maura Raira|NaruNata|devia chan|hikaru41|lililala249|Riyu|me2310|Anna990|Salsabilla12|mintjel|Hime345|NaruhinaChan|Windari NataSwift|Ginereal|Haizahr Hana|nadya ulfa|NHL|Sabaku No Mei|dandidandi185|UzumakiIsana|Blu Kira|Guest|AnRe|hyuugarui13|Durarawr|megahinata|Winda289|Shanazawa|miyukichi7|Yadi|Azu-chan NaruHina|NurfatehhaPnlh|naruhina kudo 123|dina haruno|kensuchan|caroline|Byakugan No Hime|billyyo566|fuuchi|YorikoKireika98|Miss Utun|Lophelyna|RitaDaisy|Kaoru-k216|Fans happy|Zeref Gantengku Sayang|Boruhima|Violin|Narunata|Vs|Yeye.
Sekali lagi makasih buat yang udah baca plus nyempetin buat review… ^^
.
.
.
Sampai Jumpa diChapter selanjutnya \(^o^)/
