Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama|Romance|Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,OCC,TYPOS,REMAKE Etc
(FF ini Remake dari sebuah Novel Harlequin dengan judul yang sama karangan Sharon Kendrick)
Chapter 7
.
.
.
Hinata tidak tahu apa yang diperkirakannya benar-benar akan terjadi. Tapi yang jelas, ia sama sekali tak menduga bahwa reaksi Naruto hanya berupa anggukan kecil.
"Sebaiknya kau instirahat sekarang," kata Naruto pendek. "Aku akan kembali nanti."
Ucapan itu seperti vonis hukuman mati yang dibiarkan menggelantung di depan hidungnya. Hinata menyusui bayinya hingga mereka berdua tertidur. Setelah terbanguan, hinata diberi secangkir teh kental dan roti dengan selai jeruk. Kemudian seorang perawat datang dan mencucikan rambutnya.
"Anda mesti tampak cantik untuk menyambut pacar anda," katannya dengan akrab. "Tahu tidak. Siswa-siswa perawat disini semua mengaguminya. Barang kali masih ada lagi pria sekeren itu yang bisa anda kenalkan pada kami?"
Hinata memaksakan dirinya mencoba untuk tersenyum, namun tak berhasil. Bibirnya bergetar hebat dan si perawat mengangguk pengertian.
"Anda pasti merasa agak murung yah? Hal seperti itu biasa." Ia menepuk-nepuk keempat bantal yang berada dibalik punggung Hinata. "Wanita-wanita yang habis melahirkan sering kali di serang perasaan seperti itu." Dengan wajah yang berseri-seri di tatapnya si bayi yang masih nyenyak. "Sudah diberi nama?"
Hinata menelan ludah dengan susah payah. Masalah ini tentu saja sudah didiskusikannya dengan dokternya. Dan ia memutuskan. Tak ada gunanya memberi nama pada si bayi, karna kemungkinan besar orang tua angkatnnya akan mengubahnya.
.
.
Hinata tertidur lagi, dan pada saat ia terjaga, didapatinya Naruto yang sudah berada dikamarnya. Laki-laki itu berdiri disamping ranjangnya, tengah memperhatikan anaknya dengan terpesona. Tapi ketika tatapannya beralih pada Hinata, sorot wajahnya seketika menjadi dingin dan tak acuh.
"Naruto…" kata Hinata, namun ucapannya dihentikan oleh gelengan kepala pria itu.
"Cukup," tukasnya. "Aku tak mau mendengar kebohongan-kebohonganmu lagi. Bayi ini anakku, kan?"
"Naruto…"
"Jawab pertanyaanku."
Hinata menyandar lunglai ke bantalnya. "Ya, dia anakmu."
Pengakuan Hinata tampaknya sangat memukul Naruto, meskipun ucapannya itu sebenarnya hanya menguatkan keyakinannya sendiri. Ia menatap Hinata dengan—penuh kepedihan, kemarahan, serta kebencian yang memuakan hati Hinata—kemudian menggelengkan kepala pelan-pelan seakan tak bisa menerima kenyataan itu.
"Tapi kau memang sudah tahu dari semula, kan?" tannya Hinata lemas. "Kenapa kau diam saja?" Naruto mengatupkan rahangnya.
"Kau mungkin punya pandangan yang sangat rendah mengenaiku, Hinata, tapi bukan kebiasaanku untuk mengajak berdebat wanita yang akan melahirkan." Urat yang berada dibawah pipi Naruto berdenyut-denyut. "Hanya ini yang ingin kuketahui," katanya dengan suara bergetar, "Kau tidak sungguh-sungguh berniat untuk membuang bayi ini, kan?"
Hinata menangkap nada permohonan dalam suara Naruto, namun ia tak bisa terus berbohong. "Ya...," jawabnya dengan tenggorokan tercekat. "Aku sudah merencanakan untuk menyerahkan bayi ini kepada orang yang bersedia mengambilnya."
Naruto menatapnya dengan muak dan jijik. "Ya Tuhan," bisiknya seakan tak percaya. "Sejak dulu aku tau kau perempuan murahan. Kau meninggalkan adikku demi setumpuk uang. Tapi tak pernah kuduga kau ternyata serendah ini. Perbuatanmu benar-benar tak bisa dimaafkan, Hinata. Apa hakmu untuk menutup-nutupi kenyataan bahwa aku akan punya anak. Hinata? Punya anak," ulangnya dengan sorot mata melembut ketika pandangannya berpindah pada si bayi.
Hinata berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kewarasannya, akal sehatnya. "Hak?" teriaknya penuh hiateris, tak peduli dengan orang-orang di luar yang bisa mendengar suaranya. "Kau tak perlu bicara tentang hak, Naruto, sebab hakmu sudah hilang ketika kau menawarkan kencan semalam itu. Apa kau ingat bagaimana kau dengan tak sabarnya memastiakan bahwa aku memakai alat kontrasepsi? Sayang, hal itu sama sekalin tak teringat olehku..."
"Sebab kau sudah ngebet," tukas Naruto tajam. Denagan hati tertusuk, Hinata membalas ejekan Naruto. "Ya, seperti yang kau ungkapkan dengan indahnya, aku sudah ngebet. Tapi sebenarnya kau tak perlu merasa heran, Naruto. Kau tahu betul dirimu sangat ahli di atas ranjang."
Naruto menggeram, matanya berapi-api, namun dengan susah payah ditahannya luapan kemarahannya. Rupanya ia sadar betul bahwa mereka sedang berada dirumah sakit dan Hinata baru saja melahirkan empat jam lalu.
"Kenapa aku harus membebanimu dengan bayi hasil hubungan asmara yang jelas-jelas hanya merupakan kencan semalam?" Hinata terus memberondong.
Naruto menggerenyit seolah-olah kesakitan. "Kau juga ahli merangkai kata-kata, Hinata," katanya dingin. "Pilihan katamu sangat indah."
Hinata merasa sangat lelah. Semangatnya langsung terbang. Untuk apa mereka saling menyakiti seperti ini?
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Naruto tiba-tiba.
Hinata mengangguk. Air matanya hampir menitik ketika ia melihat Naruto membungkuk dan dengan hati-hati membawa buntalan kecil itu kedalam pelukannya.
"Bagaimanapun hubungan kita, hasilnya adalah bayi ini," kata Naruto menghela napas. "Siapa namanya?" tanyanya menatap Hinata.
Hinata mengedip-ngedipkan mata untuk mengusir air matanya. "Bagaimana kalau pembicaraan ini kita lanjutkan lain kali saja?"
Naruto menggeleng. "Aku tidak bermaksud membuatmu capek. Aku tidak akan berpanjang-lebar dan urusan ini akan kita selesaikan secara adil."
Apa yang sedang dibicarakan Naruto?
"Tapi aku harus ke luar negri selama beberapa hari," ia meneruskan, "Dan sebelum pergi, aku ingin kita memutuskan beberapa hal. Namanya misalnya." ia tersenyum kepada bayi mungil yang ada dipelukannya.
Hinata panik. Ia harus berterus terang. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum berkata, "Aku tak mau memberinya nama, sebab dia toh akan diadopsi."
Wajah Naruto seketika tampak aneh dan menyeramkan ketika ia melemparkan sebuah pertanyaan, "Kenapa?"
"Karena aku merasa, tidak adil bila dia ku rawat sendiri..."
"Tidak adil bagi siapa? Bagimu... Atau bagi anak ini?"
Hinata berusaha menjelaskan. "Coba saja kau pikir, bagaimana nasib anak ini bila dia bersamaku. Dia akan dibesarkan oleh orangtua tunggal yang harus bekerja membanting tulang untuk membiayainya. Dia akan terlantar dan jarang bertemu denganku, dan kalaupun bertemu, aku pasti sudah kelelahan sehingga..."
"Kau egois! Kau hanya mementingkan dirimu sendiri! Berani-beraninya kau berpikiran untuk membuang anak ini!"
Hinata meledak marah. "Kau yang egois! Berani-beraninya kau mengadili aku! Kalau kau mau tahu, aku lakukan itu demi si bayi. Kupikir dua orang tua lebih baik dari pada satu..."
"Tapi dia punya dua orangtua," kata Naruto tandas.
Hinata tertegun. "Maksudmu?"
"Sekarang aku belum mempunyai maksud apapun. Aku hanya mengungkapkan fakta. Tapi satu hal sudah pasti, Hinata, aku takkan mengizinkan anakku diasuh oleh orang lain, dan aku bersedia menghadapimu dipengadilan mana pun untuk mencegah niatmu itu."
Bayi dalam pelukan Naruto merengek pelan, kemudia menangis keras-keras.
Hinata mengulurkan tangannya. "Berikan padaku."
Sejenak Naruto tampak ragu-ragu, membuat hati Hinata teriris. Namun bayi itu diserahkannya juga dan Hinata langsung menyusuinya.
Naruto mengawasi mereka dengan kening berkerut.
"Aku harus keluar negri... Kepergianku tak bisa dibatalkan."
"Itu urusanmu... Tak ada hubungannya denganku."
"Oh, tapi ini jelas ada hubungannya denganmu, Hinata," bantah Naruto. "Aku ingin memperingatkanmu agar kau jangan coba-coba membuat ulah selama aku tidak ada. Aku akan memberi perintah kepada pengacaraku, dan ia akan segera bertindak bila kau masih nekat menyerahkan bayi ini untuk diadopsi. Aku tidak membual, Hinata, bila ku katakan bahwa kau tidak akan menang melawanku."
"Menang melawanmu?" apa maksudnya? "Memangnya kau punya rencana apa?"
"Aku akan mengadopsinya sendiri—itu rencanaku. Kau toh tidak menginginkan dia. Dan satu lagi... Aku ingin kita memberinya nama sekarang. Aku sudah bosan memanggilnya Dia atau Si bayi." Naruto terdiam sejenak. "Kau punya usul?"
"Kenapa tanya aku?" bisik Hinata tergagap.
"Aku kan cuma ibunya."
"Dan para ibu biasanya berjuang mati-matian untuk mempertahankan anaknya, bukan malah sebaliknya," kata Naruto sinis.
Hinata menggigit bibirnya, tak kuasa membalas.
"Jadi? Nama apa yang cocok?"
"Aku suka Himawari," jawab Hinata dengan enggan. "Atau Hanna."
"Aku juga suka Himawari," kata Naruto mengejutkan Hinata. "Aku sangat suka nama itu." si bayi sudah puas menyusu dan Naruto memandanginya dengan terpukau. Tanpa berpikir lagi, Hinata menyerahkan Himawari padanya.
Naruto mengganti popok bayi itu tanpa disuruh—gerakannya cukup trampil mengingat itu baru pertama kalinya—lalu diletakannya putri sematawayangnya itu dalam buaian.
"Papa pergi dulu, Himawari sayang," katanya sambil mengecup pipi bayi itu. Ia meluruskan punggungnya dan menambahkan dengan suara lirih, namun Hinata dapat mendengarnya, "Semoga setelah besar, kau tidak menjadi pembohong ulung seperti Mamamu."
Naruto melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Hinata dalam keadaan terguncang dan hampir meledak menangis. Sesuatu yang sejak tadi mengusiknya, kini menyentakannya. Kesadaran menerpanya seperti embusan angin kencang. Ia tak mungkin melepaskan Himawari. Ia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan bayi itu. Ia telah jatuh cinta pada Himawari sejak putrinya itu pertama kali diletakan di dadanya! Hinata mencintai putri kecilnya.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
Bonus \(^o^)/
.
.
.
Sampai jumpa di Chapter berikutnya \(^o^)/
