Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama/Romanc/Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,ACC,TYPOS,REMAKE,Etc
(FF ini Remake dari sebuah Novel Herlequin dengan judul yang sama karangan Sharon Kendrick)
Chapter 8
.
.
.
Hinata dan Himawari dirawat di rumah sakit selama lima hari. Mereka bilang itu normal bagi ibu yang pertama kali melahirkan, lebih-lebih lagi karna bayinya prematur.
Hinata telah meminta Toneri membelikan pakaian bayi, dan ia senang sekali melihat baju-baju kecil yang dipilih Toneri. Hinata tahu ia juga memerlukan kereta bayi, dan buaian—semua perlengkapan bayi yang tak terhitung banyakya—tapi ia tak keberatan membeli semua itu. Ia sudah tak sabar menunggu saat dibebaskan dari rumah sakit sehingga ia bisa dengan leluasa berbelanja sendiri.
Dua hari setelah Naruto berangkat ke prancis, Himawari mendapat boneka beruang berwarna pink yang sangat besar. Pada kartunya tertulis, Untuk bayi paling cantik sedunia. Salam sayang dari papa. Melihat tulisan itu saja, hati Hinata sudah dicekam ketakutan.
.
.
Pada hari kepulangannya, Hinata sedang membereskan barang-barangnya ketika Naruto tiba-tiba muncul. Waktu itu ia sedang membungkuk di atas koper, hanya menggunakan daster katun tipis dengan kancing didepan yang memudahkannya menyusui bayinya. Kilatan seksual melintas dimata Naruto, sehingga wajah Hinata memerah dan pipinya bak terbakar. Seperti biasa, kedekatan fisik dengan Naruto seolah menghidupkan semua sel dalam tubuhnya, dan ini membuatnya malu. Tidak pantas bagi seorang wanita yang baru melahirkan memiliki perasaan seperti itu, bukan?
Selama lima hari dirumah sakit, Hinata banyak merenum dan memikirkan semua perbuatannya. Mau tak mau ia harus mengakui, ia bersalah karna telah merahasiakan kehamilannya dari Naruto. Tapi pada saat itu ia berpikiran, itulah pilihan terbaik, dan sekarang sudah sangat terlambat untuk memperbaikinya.
Meskipun demikian, Naruto harus segera diberi tahu bahwa ia telah membatalkan niatnya untuk membiarkan Himawari diadopsi, dan memutuskan bahwa ia akan membesarkan anak itu sendiri. Jika Naruto menuntut haknya sebagai ayah—dan Hinata yakin itu akan dilakukannya—ia bersedia berkompromi. Naruto boleh bertemu dengan Himawari kapan saja dan ikut memperhatikan perkembangannya. Karena itu, sebaiknya Hinata mengusahakan agar hubungannya dengan Naruto bisa berlangsung formal dan sopan, tidak diwarnai oleh gelora hawa nafsu dan pertentangan-pertentangan seperti sekarang ini.
"Hallo," sapa Hinata sopan.
Naruto menatapnya dengan tajam, seolah-olah ingin menaksir suasana hatinya. "Hallo." ia menoleh keranjang bayi. "Bagaimana dia?"
Hinata tersenyum. "Baik dan manis sekali. Tapi tentu saja aku tak bisa bersikap objektif terhadapnya karena dia putriku, dan..."
"Mobilku sudah menunggu," potong Naruto.
Hinata mengerjapkan mata. "Untuk apa?"
"Untuk membawamu pulang, tentu saja. Kau pikir aku akan mengijinkanmu memanggil taksi."
Hinata mengangkat dagunya. Enak saja Naruto berkata begitu! Memangnya di dunia ini tak ada orang lain yang bisa mengurusnya?! "Jangan repot-repot. Toneri-kun akan menjemputku. Dia bahkan sudah berangkat."
Wajah Naruto menjadi gelap. "Kalau begitu kedatangannya akan sia-sia, bukan?"
"Maksudmu?"
"Kau akan ikut bersamaku, Hinata, dan aku tak mau mendengar protes apapun. Nah, bisakah kau berpakaian sekarang?"
Terpojok, Hinata mengangguk, sambil menggigit bibir. Sebaiknya ia tidak mencari gara-gara dengan Naruto, sebab pria itu bisa menjadi musuh yang sangat berbahaya. "Tolong berbaliklah sebentar," pintanya kaku.
"Sudah terlambat untuk bersikap malu-malu kucing, bukan?" ejek Naruto, tapi dibalikkannya juga tubuhnya, dan Hinata segera mengganti bajunya dengan tangan gemetrar.
"Sudah," katanya pada Naruto.
Naruto berbalik lagi dan mengawasinya dengan mata disipitkan. Hinata menggerai rambutnya dan mulai menyisirnya. "Kau mau menggendongnya, atau aku saja?" tanya Naruto, memberi isyarat ke arah Himawari.
Teringat pada cara Naruto yang lembut ketika menangani bayi itu, Hinata tersenyum. "Kau boleh menggendongnya kalau kau mau."
Naruto tersenyum sinis. "Pasti aku mau. Tidak seperti..."
Para perawat datang berbondong-bondong, mengucapkan selmat jalan pada Hinata dan terima kasih pada Naruto. Rupanya Naruto bukan hanya memberi mereka coklat, sake, buah-buahan dan bunga, tapi juga sejumlah besar uang untuk mendanai ulang tahun rumah sakit ini. Dan Naruto diundang untuk hadir dalam perayaan itu sebagai tamu kehormatan!
Hinata menyaksikan Naruto dan para perawat itu berbincang-bincang dan bercanda gurau dengan akrab.
Dihatinya terbit perasaan tidak enak, yang terpaksa diakunya sebagai kecemburuan.
.
Diluar Hinata celinguk-celinguk mencari mobil hitam yang menurutnya seperti monster itu, tapi yang ada ternyata Bantley hijau elegan lengkap dengan sopirnya. Hinata masuk kebangku belakang, disusul oleh Naruto yang membopong Himawari.
Dibangku belakang itu terdapat tempat duduk bayi, dan Naruto dengan hati-hati meletakan Himawari disitu, kemudian memasangkan sabuk pengamannya dengan perlahan.
Hinata agak bingung. "Mobilmu lain. Biasanya kau naik mobil hitam, kan?"
"Tidak setiap hari. Aku punya banyak mobil." Sombongnya
"Dan disemua mobil itu ada tempat duduk bayi?"
"Ya, kecuali yang model sport. Tempat duduk bayi itu baru kupasang minggu lalu. Demi kepraktisan."
Hinata menelan ludah dengan susah payah. Tampaknya Naruto serius mau mengadopsi Himawari, tapi sekarang ia sudah memutuskan akan mengurus sendiri putri kecilnya itu, dan... "Naruto...," panggilnya.
Pria itu mengerutkan dahi. "Sebaiknya kita jangan bicara di mobil, Hinata. Akan lebih pantas bila kau menunggu sampai kita tiba dirumah."
"Pantas?" Hinata naik darah ditegur seperti itu, ia lebih sebal lagi karena nampaknya Naruto sok berkuasa. Ia berpaling kejendela dan menatap keluar. Lebih baik begitu daripada terus-menerus tersiksa oleh kehadiran Naruto. Tapi kemudian ia teringat bahwa ia harus berusaha berikap sopan tehadapp pria itu, maka ditolehkannya kembali kepalanya dan berkata, "Terima kasih kau mau mengantar kami pulang."
"Dengan senang hati," jawab Naruto, tapi nadanya terdengar sinis.
Hinata menyadari mobil itu mulai menuju ke barat daya, bukan ke arah rumahnya di Tokyo. "Kita mau kemana?" tannyanya tiba-tiba.
"Kyoto."
"Kenapa ke Kyoto?"
"Aku tinggal disana."
"Naruto... Aku mau pulang."
"Itu harus kita diskusikan lagi. Tapi tidak sekarang."
Naruto bersikap sangat tegas dan terus membungkap sepanjang perjalanan. Akhirnya mobil berhenti disebuah rumah besar berhalaman luas dan mereka berdua turun. Hinata membuntuti Naruto sembari memperhatikan taman bunga disekitarnya. Taman itu sangat cantik dan harum, penuh dengan bunga-bunga kesukaannya? Sejenak terlintas dalam pikirannya, apakah Naruto merawat semua ini sendirian atau ia membayar tukang kebun? Tapi kalaupun ia menggaji tukang kebun, pastilah ia juga mempunyai adil dalam penataan taman bergaya pedesaan ditengah-tengah kota ini, bukan? Betapa ironis bahwa begitu sedikit yang diketahuinya tentang kehidupan ayah dari putrinya ini!
saat mereka masuk kedalam, Hinata langsung terpaku melihat kereta bayi mewah yang diletakan didepan.
Panik. Ia segera mengejar Naruto. "Apa-apaan ini, Naruto? Kenapa kau membawaku kemari? Dan mengapa perlengkapan-perlengkapan bayi ini bisa ada disini?"
Naruto tersenyum dingin. "Aku membawa Himawari kesini sebab dirumahmu sama sekali tidak ada apa-apa baginya. Tak ada sehelai pakaian pun, atau bahkan buaian untuk tempat tidurnya. Tapi itu tidak mengherankan, mengingat kau berencana memberikannya pada orang lain sesegera..."
Tanpa memperdulikan rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya, Hinata menangkap lenggan Naruto. "Aku ingin menjelaskan..."
"Terus terang, aku tidak tertarik pada penjelasanmu, tapi aku akan memberimu kesempatan bicara. Setelah kita mengurus keperluan Himawari. Bagaimanapun juga, dia yang paling penting," kata Naruto dengan tatapan menyindir. Hinata dihujam perasaan bersalah yang teramat sangat. Untuk pertama kalinya, ia dapat menilai perbuatannya dari sudut pandang Naruto. Ibu macam apa aku ini?
Diruang tamu Hinata mendpatkan kejutan lain. Seorang gadis yang terlihat berusia sama dengannya, dengan rambut pirang dan wajah penuh senyum menyambut mereka.
Gadis itu mengenakan seragam hitam-putih yang mengingatkan Hinata pada sesuatu, tapi ia tak ingat persis apa itu.
"Hallo, Ino-Chan," senyum Naruto. "Kami membawa pulang sikecil, dan ini kaa-sannya, Hinata Hyuuga."
Chan! Hinata mulai dijalari rasa takut. Ia menatap Naruto dengan penuh tanda tanya.
"Ini Ino Yamanaka," kata Naruto datar. "Pengasuh Himawari."
Pengasuh Himawari!
"Senang bertemu dengan anda," kata Ino mengulurkan tangannya pada Hinata, namun tatapannya tertuju pada Naruto. Sorot matanya yang penuh pujaan itu tak luput dari pengamatan Hinata.
Hati Hinata seketika terasa ngilu. Bisa-bisanya Naruto memperkerjakan pengasuh bayi tanpa berunding dulu dengannya! "Apakah kau baru pertama ini mengasuh bayi, Ino-san?" tannyanya memancing.
Mata Ino berkilat-kilat, dadanya membusung. "Oh, tidak. Saya bekerja pada salah satu anggota kerajaan sebelum tuan Uzumaki menawari saya pekerjaan ini."
"Begitu." Hinata merasa seluruh dunianya tiba-tiba berguncang. Dan ia tak bisa lagi mengatur hidupnya sendiri.
"Aku ingin bicara dengamu, Naruto. Secara pribadi," tambahnya blak-blakan. "Himawari sudah kususui, Ino-san... kau boleh memandikannya, setelah itu, biar aku saja yang menidurkannya."
Ino mengambil Himawari dari gendongan Naruto, dan Hinata tak dapat mencela caranya memegang putri kecilnya itu. Tapi perkataan Ino kembali membuat Hinata dirambati rasa takut yang tak dapat dijelaskan. "Oh, anda tak perlu kuatir, Nona Hyuuga. Saya lebih suka mengikuti jadwal saya sendiri, bila anda tida keberatan, Nanny lebih tahu... bukan begitu, Hima-chan?"
Hinata membiarkan pengasuh itu pergi. Ada begitu banyak hal yang harus diluruskan, dan begitu Ino serta Himawari menghilang dari pandangannya, ia langsung menghadapi Naruto. "Kau dapat dari mana pengasuh bayi itu?"
"Ia bekerja pada temanku selama beberapa tahun ini. Rekomendasinya sangat baik."
Apa yang dimaksud Naruto anggota kerajaan yang itu? Hinata bertanya dalam hati.
"Dia kapabel," lanjut Naruto. "Orangnya tegas namun tetap ramah, dan metode membesarkan anaknya sejalan denganku."
Naruto telah memikirkan semuanya, pikir Hinata dengan kecut. Dan mengatur segalanya sampai kedetail-detailnya. "Metode seperti apa yang kaumaksud?"
Naruto mengangkat bahu. "Jam makan yang teratur, jam tidur yang teratur... pokoknya, Himawari akan ditangani dengan disiplin dan dengan kasih sayang secukupnya. Bagaimana menurutmu?"
"Berapa pembatu lagi yang ada disini?" tanya Hinata membayangkan sekompi pelayan tiba-tiba muncul didepannya.
"Hanya tukang kebun dan pembersih rumah, lalu mrs. Aoyama yang memasak—tapi tentu saja aku menggunakan jasa ketering bila mengadakan pesta. Kenapa kau bertanya, Hinata? Ini tak ada urusannya denganmu, bukan? Maksudku, kau kan tak punya rencana untuk tinggal disini."
Kepala Hinata berdenyut-denyut. Ruangan terasa seperti berputar-putar. "Bisakah kita bicara sekarang?" tanyanya dengan putus asa.
"Tentu."
"Apakah menurutmu kau tak perlu menanyakan pendapatku, sebelum memutuskan sesuatu yang begitu penting seperti mempekerjakan pengasuh bayi?"
"Terus terang, kupikir kau sama sekali tak peduli," sahut Naruto dengan sarkastis.
"Well, aku... aku peduli," kata Hinata tergagap. Cepat-cepat dipejamkannya matanya supaya Naruto tidak melihat air matanya yang mengembang.
Air mata itu mungkin datap disembunyikannya, namun getar suaranya tertangkap oleh Naruto. Pria itu menatapnya lekat-lekat, kemudia berkata dengan agak lembut, "Kau pucat sekali. Bagaimana kalau kau beristirahat dulu sebelum bicara." Ia menunjuk kesofa. "Kau mau minum anggur?"
Tawaran itu sangat menggiurkan, tapi selama masa kehamilannya, ia telah membiasakan diri untuk tidak minum minuman berarkohol serta merokok. Walaupun dia memang bukan perokok tapi sebisa mungkin ia bahkan menghindari para perokok.
"Aku mau, tapi apa boleh? Mengingat aku sedang menyusui Himawari?"
Naruto nampak heran melihat kehati-hatiannya. Senyumnya merekah, tapi sedetik kemudian senyum itu sudah lenyap. "Kurasa segelas saja tak apa-apa. Tunggu sebentar, akan kuambilkan."
Ia meninggalkan ruangan itu dan kembali beberapa saat kemudian, membawa sebotol anggur dan dua Gelas kristal. Hinata diam-diam mencuri pandang ketika Naruto sedang membuka botol minuman itu.
Naruto kelihatan sangat tegang, wajahnya serius dan suram. Hinata ingat bagaimana berbedanya wajah itu di malam yang mengesankan itu, ketika Naruto mengungkapkan betapa cantiknya dia. Tapi dia sendiri menanggapi pujiannya dengan dingin dan tajam, semata-mata untuk melindungi diri.
Memang, sejak pertemuan pertama mereka, ia terus membangun dinding sebagai benteng perlindungan agar ia jangan sampai terluka oleh Naruto. ia sengaja bersikap sedemikian rupa supaya Naruto memandang rendah dirinya—dan itu sungguh-sungguh terjadi. Tapi kali ini tidak boleh begitu. Ia harus berhasil meyakinkan Naruto bahwa ia mencintai Himawari dan cukup pantas untuk merawat anaknya itu.
"Ini." Lamunannya diputuskan oleh Naruto yang menyodorkan segelas anggur merah dan mempersilakannya duduk di sofa. Hinata duduk di pinggir sofa itu, tapi Naruto tetap berdiri.
"Sudah kukatakan padamu bahwa aku berniat menghubungi pengacaraku, dan sekarang itu sudah kulakukan. Mereka..." Hinata menggigil mendengar perkataan Naruto. Tangannya bergetar hebat sehingga gelas anggur itu terpaksa diletakkannya
"Tunggu, Naruto. sebelum kau bicara tentang pengacara, aku ingin kau tahu bahwa aku telah pertimbangkan lagi masalah ini... dan... intinya adalah bahwa situasinya telah berubah, atau tepatnya—aku yang berubah. Aku tak mau Himawari diadopsi oleh siapa pun."
Sejenak Naruto tak memberi respon. Ia hanya meneguk minumannya sambil menatap Hinata dalam-dalam. "Dan apa yang menyebabkan perubahan ini terjadi?" tanyanya akhimya. "Apakah itu hanya akal-akalanmu supaya Himawari tidak jatuh ke tangku?"
Masa Naruto tidak tahu? Bukankah ia juga telah merasakan emosi yang meluap-luap itu saat menggendong bayi mereka?
"Aku... aku tak pernah mengira akan memiliki perasaan seperti ini terhadapnya. Otakku pasti sedang kacau ketika berpikir bahwa aku sanggup berpisah dengannya."
"Dan apa rencanamu selanjutnya? Bagaimana kau bisa mempertahankan Himawari?"
"Aku akan bicara dengan Toneri-kun, menanyakan kalau-kalau aku bisa bekerja paro waktu."
"Kalau dia tidak setuju."
"Aku sangat berharap dia akan setuju, tapi kalau tidak... yah, aku akan mencari jalan lain. Lagipula aku masih muda... mudah menyesuaikan diri... dan aku juga cukup punya otak. Aku sanggup mengerjakan apa saja untuk menghidupi kami berdua. Memang tidak mudah, tapi aku akan menghadapinya."
"Bukankah skenario seperti ini yang justru tak kausuka tentang orangtua tungga?"
Hinata menelan ludah. "Memang. Barangkali kau bisa mengerti bahwa keputusanku dulu
Justru demi Himawari. Secara finansial cara ini lebih sukar, tapi tak ada pilihan lain. Sekarang setelah Himawari lahir, aku tak bisa melepaskannya."
Naruto mengangguk-ngangguk, seakan sedang menimbang-nimbang. "Bagaiman dengan aku?"
Hinata langsung memahami maksudnya, "Oh. aku tidak berniat menghalangi-halangi hubunganmu dengan Himawari," katanya cepat.
"Kau sangat murah hati." sambut Naruto sinis.
"Dan hubungan macam apa yang kaumaksudkan?"
"Tentu, hubungan yang biasa. Seperti umumnya yang teriadi di antara ayah dan anak yang tidak tinggal serumah."
"Maksudmu, kami cuma akan bertemu dua minggu sekali? Lalu beberapa minggu di musim panas?"
"Aku bersedia memberimu waktu lebih banyak dari itu"
"Well, aku yang tidak bersedia menerima kemurahan hati yang kau anugerahkan padaku! Kalau kau menjalankan rencanamu semula. aku—seperti sudah kukatakan padamu—dengan senang hati akan mengadopsinya sendiri."
"Tapi sekarang rencana itu sudah kubatalkan, kan?"
"Memang, dan aku tidak cukup keji untuk memisahkan seorang bayi dari ibunya. Di lain pihak, aku sama sekali tak berminat untuk menjadi ayah paro waktu. Karena itu kita hanya punya satu pilihan."
"Apa?"
"Memberi Himawari orangtua yang lengkap."
Dahi Hinata mengerut dalam. "Tapi bagaimana...?"
"Hanya ada satu jalan," kata Naruto tanpa ekspresi. "Kau menikah denganku."
Hinata melongo. "Kau pasti tidak serius?"
Naruto meraih botol minuman dan mengisi gelasnya lagi, lalu ia duduk di sofa di samping Hinata, Dengan tenang disesapnya anggurnya dan dipandanginya Hinata. "Oh, tapi kau keliru, Hinata," la tersenyum. "Aku serius. Sangat serius."
"Tapi... sekarang ini pria-pria tak perlu menikah untuk alasan itu."
"Aku tahu. Tapi terkadang, mungkin mereka harus. Khususnya dalam kasus kita. Soal orangtua saja, misalnya, coba kaupikirkan. Bayangkan betapa terlukanya mereka kalau tahu kita punya anak namun tidak menikah. Kau mungkin bisa saja membohongi ibumu lagi, tapi..."
"Aku...," sela Hinata, tapi Naruto tak memberinya kesempatan.
"Aku tidak mau menutup-nutupi keberadaan Himawari. Dan jelas aku tidak sudi menjadi ayah paro waktu seperti yang kau usulkan. Aku ingin terlibat dalam kehidupannya. Aku ingin hidup Himawari mantap—secara emosional maupun finansial—dan aku bisa memberikan itu padanya.
Hinata menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Kau sepertinya lupa bahwa di antara kita ada rasa antipati dan ketidakpercayaan. Apakah menurutmu situasi begini baik untuk perkembangan Himawari?"
Mata Naruto berkilau-kilat. "Itu tergantung pada cara kita mendirikan pernikahan ini."
Laki-laki ini benar-benar keterlaluan! "Maksudmu, seperti mendirikan perusahaan?"
"Kenapa tidak? Lembaga apa pun akan lebih berhasil bila mempunyai kerangka dasar—meskipun tentu saja kerangka itu tidak seratus persen sempurna."
" Dan kerangka apa yang kaurencanakan untuk pernikahan kita?" tanya Hinata lirih.
"Kau sepenuhnya bebas walau sudah menjadi istriku. Kau boleh bekerja kembali dan aku akan menyediakan pengasuh bayi serta pembantu-pembantu lainnya."
"Aku ingin kau berperan sebagai istriku dan mendampingiku di depan umum. Kau akan menjadi nyonya rumah di pesta-pesta yang kuadakan, dan kau harus ikut bila aku bepergian. Tapi kita bisa mengatur jadwalnya sehingga tidak bentrok dengan tugas-tugasmu di kantor. Yang terpenting adalah, aku ingin menjadi ayah penuh waktu, dan itu hanya bisa dicapai dengan pernikahan."
Ada satu bagian yang tidak disinggung-singgung oleh Naruto. Hinata menguatkan hati dan bertanya, "Cuma itu?"
"Itu?" Naruto tersenyum kejam, seakan-akan bisa menduga dengan tepat jalan pikiran Hinata.
"Bisa kau jelaskan maksudmu?"
"Kau tahu persis apa yang kumaksud!" tukas Hinata dengan getir. Warna merah meronai pipinya yang pucat.
"Benarkah?" gumam Naruto, bergeser lebih dekat dan menyelusuri alis Hinata yang rapih dengan ujung jemarinya.
"Ya," sahut Hinata dengan gemetar, berharap Naruto berhenti menyentuhnya—tapi tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya.
"Alismu bagus sekali, Hinata," guman Naruto, mengikuti lekuk-liku bulu dahi itu seakan sedang melukisnya.
"Begitu rapi dan indah... hampir seindah bibirmu yang sedang menunggu dikecup. Iya, kan, Hinata?"
Hinata tak sanggup melawan godaan itu. Tubuhnya yang celaka sudah menyerah pada Naruto meskipun otaknya mengatakan tidak. Hinata mendesah keras ketika bibir Naruto melumat bibirnyandan tangannya meremas-remas payudaranya.
"Sakit?"
Hinata menggeleng. Mana mungkin dia merasa sakit saat berada dalam pelukan Naruto?
"Oh, tidak."
"Kau suka?" bisik Naruto. "Haruskah aku melakukannya lagi?"
"Ya."
"Seperti ini?"
"Ya, Ya!" desah Hinata. Nanti mungkin dia akan menyesal, tapi sekarang dia berada di bawah perintah manis yang sepertinya didesakkan Naruto ke tubuhnya. Dan ia juga tidak sanggup menentang perasaan cinta yang meluap-luap di dalam hatinya.
Ya, ia sudah mencintai Naruto sejak pria itu pertama kali menciumnya. Dan bagaimanapun ia berusaha, cinta itu tak pernah padam, lebih-lebih setelah ia memadu cinta dengan Naruto dan melahirkan putri kecilnya. Kini gelora yang luar biasa menyeretnya, menarik-nariknya untuk mencicipi kenikmatan itu lagi
"Sentuhlah aku, Hinata," pinta Naruto sambil menyurukkan kepala ke dadanya. "Sentuhlah aku."
Suaranya yang begitu memelas semakin membangkitkan hasrat Hinata, la berkuasa atas tubuh Naruto. Ia mempunyai kekuatan untuk mencabut topeng Naruto yang dingin dan membuat pria itu penuh damba.
.
"Jangan di sini," bisik Naruto. "Ayo kita ke kamar. Ino mungkin..."
Nama asing itu menembus kesadaran Hinata, membuatnya menyadari kenyataan yang sebenarnya. Ia langsung melepaskan diri dari pelukan Naruto dan duduk diujung sofa dengan kepala tertunduk. Ia merasa sangat malu, dan tidak berani memandangi Naruto sebelum berhasil merenam gairahnya.
Dengan rikuh dikancingkannya blusenya.
"Perlu bantuan?" Nada geli itu membuat darah Hinata mendidih. Laki-laki lain pasti akan marah dan bikannya geli, bila permainan asmara mereka dihentikan secara mendadak begini. Ia sendiri merasa begitu marah dan kecewa sehingga serasa tubuhnya merasa sakit. Tapi Naruto tenang-tenang saja dan bahkan geli! Hinata meneruskan pekerjaannya tampa menyahut.
"Nah," guman Naruto. "Tadi kita sedang bicara apa? Tolong ingatkan aku."
"Jangan konyol, Naruto!" Bentaknya, merasa sebal karna sikap Naruto.
Naruto menepuk dahi dan pura-pura berpikir keras. "Oh ya! Aku ingat! Kita sedang memperdebatkan masalah itu. Itu maksudnya urusan tempat tidur, kan? Kau ingin tahu apakah aku akan menuntutmu untuk menemaniku ditempat tidur. Well, kurasa jawabannya sudah jelas. Kau baru saja menyaksikannya sendiri."
Hinata sangat ingin menampar Naruto saat ini juga, tapi tidak pada tempatnya bila ia bersikap seperti perawan desa yang tersinggung. Lihat saja responnya sendiri! Meskipun demikian, Naruto tak berhak berbicara dengan nada seakan-akan ia... ia...
"Jangan bicara padaku seakan-akan aku ini pelacur, Naruto. Aku takkan membiarkannya."
Naruto tertawa pahit. "Masa? Kukira kau bersedia melakukan apa saja, dan rela diperlakukan seperti apa saja, asal harganya cocok, bukan?"
Hinata menghela napas. Kalau saja dulu ia tidak ceroboh begitu... "Kau sedang bicara tentang uang yang kau berikan padaku agar aku menjauhi Menma, bukan?"
"Seingatku cuma sekali itu aku menawarimu uang. Dan kurasa jumlahnya tidak sedikit loh."
Tawa Hinata tak dapat menyembunyikan ketegangannya. "Kalau saja kau tahu alasan yang sebenarnya kenapa aku mau menerima uang itu, Naruto!"
"Oh, aku memang ingin tahu. Coba katakan padaku."
"Sampai kiamatpun kau tak akan pernah percaya!"
"Coba saja!" Pancing Naruto lagi.
Hinata menggeleng. Posisinya sudah terjepit, apalagi kalau Naruto sampai tahu bahwa ia mencintainya. Naruto mungkin takkan pernah memaafkannya soal Himawari, dan cintanya itu bisa menjadi senjata pamungkas bagi Naruto bila ingin membalas dendam padanya.
"Jadi masalah nafkah batin itu belum kita bereskan," Naruto melanjutkan. "Perlu kutegaskan padamu, Hinata, itu sepenuhnya tergantung padamu. Sudah tentu aku tak akan memaksamu." Tapi dengan nada suaranya yang mengejek seolah-olah mengatakan, tanpa dipaksapun kau pasti mau! "Secara pribadi, aku tentu saja menginginkan pernikahan yang lengkap."
M.O.D.U.S...
Hati Hinata semakin pilu. Tak mungkin pernikahan mereka akan lengkap tanpa adanya cinta—setidaknya—tidaknya, tidak dari pihak Naruto. Dan apakah harga dirinya tidak akan semakin tercabik-cabik bila menyetujui pernikahan itu? Bagi Naruto, dirinya hanyalah sesosok tubuh molek yang dapat membangkitkan nafsunya. Tapi untuk berapa lama?
"Tapi," Naruto masih bicara, "Aku bisa mengerti bila kau menganggap tidur seranjang denganku memuakan. Yah, barangkali saja kau membutuhkan variasi dalam kehidupan seksmu, Hinata, jangan kau jadikan aku ban serep. Aku bukan tipe orang yang bisa berbagi. Kau boleh mencari kepuasan diluar, tapi hati-hati, jangan mencolok. Aku tak mau Himawari diejek oleh teman-teman sekolahnya karna ibunya seorang pelacur." Brengsek.
Tenggorokan Hinata tercekat. Naruto benar-benar memandang rendah dirinya!
"Apa jawabanmu, sayang?" Tanya Naruto dengan Nada menghina.
Hinata mengangkat dagu dengan angkuh. "Maksudmu, atas tawaranmu yang manis itu?"
"Benar," jawab Naruto pura-pura serius.
"Bagiku itu lebih mengerikan daripada api neraka."
"Tapi itu tergantung dari sudut mana kau melihatnya, bukan?"
"Dan selain sandiwara pernikahan ini, apa pilihan lainnya?" Tanya Hinata memutar-mutar tangannya.
Naruto tersenyum keji. "Tidak ada pilihan lain. Atau setidaknya—pilihan yang menguntungkan bagimu. Jika kau menolak tawaranku, kita akan bertemu di pengadilan, dan mulai pertempuran tentang siapa yang berhak mengasuh Himawari. Biayanya," ia menekankan, "Pasti tidak sedikit. Kau mampu membayarnya, Hinata?"
Laki-laki itu tahu bahwa ia tidak mampu. Ia telah terpojok dan Naruto jelas menyadarinya.
Hinata menatap Naruto dengan mata menyala-nyala.
Suatu hari. sumpahnya, aku akan membuat Naruto menyesali perbuatannya ini!
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
Maaf Sasukenya diganti jadi Toneri ggp yah ^^ biar lebih gimana gitu.
Terimakasih buat yang udah sabar nunggu fic ini. Dan mohon maaf atas ketidak puasan kalian.
Semuanya dimulai ketika aku yang baru menyelesaikan pendidikan SMAku, menyepelekan yang namannya kehidup hanya dengan bermodalkan huruhara tanpa memperdulikan masa depan.
Kehidupanku berubah drastis ketika aku kehilangan sosok paling berharga dalam hidupku, ibu. Sosok wanita pertama dan satu-satunya yang selalu mengisi hatiku sampai kapanpun juga. penyesalan, ya. Hanya penyesalan yang kurasakan kala itu, bahkan dijaman moderen ini istilah penyesalan selalu datang belakangan masih berlaku pada diriku. anak macam apa aku ini?
Bahkan untuk membuat bahagia ibuku saja aku tidak becus. Tiga tahun berlalu setelah kepergian ibunda tersayang untuk selamanya masih saja membuatku enggan menjalani hidupku dengan sepenuh hati. "hidup segan. Mati tak mau." Sepertinya itu kata yang paling cocok menggambarkan diriku.
Dewasa sebelum waktunya, itulah yang dituntut selalu orang-orang terdekatku, sampai akhirnya aku menyadari ada satu orang lagi yang harus kubahagiakan selain ibu, ayah. Dialah salah satu sosok yang ikut mengisi ruang kosong dihatiku setelah ibuku.
Bermodalkan misi 'bahagiakan ayah. Buat beliau tersenyum dan bangga padamu.' Aku mulai menata kembali hidupku. Masih bermodalkan ijazah SMA aku memutuskan mencari kerja untuk memenuhi misi itu, tapi ketika diriku yang tidak berguna ini mencoba menata kembali kebahagian untuk ayahku tercinta, tuhan berkata lain, beliau juga ikut pergi meninggalkanku, menyusul ibuku yang sudah lebih dulu pergi menghadap yang maha kuasa.
Kamis, 08.35pm 2016. aku akan selalu mengingat hari dan jam itu, bahkan suasana saat sepulang teraweh pertama yang kebetulang tidak bisa aku jalankan, dalam pelukanku dan jemari tanganku yang terus menggengganya bahkan saat beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
Kehilangan arah? Ya aku akui, untuk kedua kalinya aku kehilangan yang namanya semangat hidup.
Tersenyum? Aku selalu tersenyum. bahkan ketika aku ingin menangis dan menjerit sekeras mungkin, aku akan tetap tersenyum.
Aku tersenyum bukan berarti aku bahagia. Tapi setidaknya aku ingin membahagiakan orang-orang disekitarku. Teman dan sisa keluarga yang aku miliki saat ini. Senyum ini untuk kalian.
Percayalah saat tuhan mengambil orang yang kau sayangi dari sisimu untuk selamanya, itu berarti rasa syang tuhan biribu-ribu kali lipat lebih banyak dari sayngmu sepadanya, percayalah saat tuhan mengambil orang yang kau cintai, tuhan akan menggantikannya dengan orang yang lebih mencintaimudan lebih menyayangimu. Beribu cara tuhan memberi kebahagiaan, beribu cara pula tuhan mengambilnya dan menggantikannya dengan yang lebih baik.
Rasa cinta tuhan lebih besar kepada ibu dan ayahku, tuhan pasti sangat merindukan mereka, jadi tuhan menjemput ibu dan ayak pulang lebih cepat.
-Angel by B-mail1896
Dan akan tiba saatnya ketika Yang Maha Kuasa juga menjemput diriku dikemudian hari, besok, lusa, taun depan.. atau mungkin saat ini juga. Siapa yang tau?
Jalani hari ini seakan hari ini adalah hari terakhir kalian bersama orang yang kalian cintai.
.
.
.
Maaf atas sikap bodohku selama ini. Dan maaf juga karna kalian harus mendengarkan curahan hati seorang Happy. kek judul sinetron.
Selamat hari raya idul fitri, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?
Sampai jumpa minggu depan, dan kali ini happy akan menyelesaikannya ^^
Tetap tersenyum minna. ^.^
