Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Genre : Drama/Romanc/Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,ACC,TYPOS,REMAKE,Etc
(FF ini Remake dari sebuah Novel Herlequin dengan judul yang sama karangan Sharon Kendrick)
Chapter 9
.
.
.
"Oh, Hinata, Sayang," kata Mrs. Hikari dengan penuh haru. "Kau cantik sekali!"
"Masa?" Hinata menatap cermin panjang dikamar ibunya, dan melihat bayangan sosok asing bergaun pengantin.
"Mmm... luar biasa. Kaa-san tidak bisa bayangkan bagaimana wajah Naruto bila ia melihatmu nanti!"
Aku bisa, pikir Hinata dengan muram. Setiap kali Naruto memandangnya, yang terlihat diwajah pria itu hanya hawa nafsu—Atau—kebencian. Hinata terkadang merasa, ekspresi terakhir itu lebih baik, sebab setidakaknya itu berarti, Naruto bereaksi terhadapnya dengan akal sehatnya, bukan hanya dengan tubuhnya.
.
.
.
Selama tujuh hari hidup bersama Naruto—istilah ini mungkin kurang tepat sebab nyatanya mereka hanya tinggal serumah tapi hidup sendiri-sendiri—Hinata hampir-hampir tak pernah bertemu dengannya. Laki-laki itu menghabiskan hampir seluruh waktunya di kantor. Di pagi hari ia menimang-nimang Himawari saat Hinata masih tidur, dan ketika larut malam ia pulang, Hinata juga sudah masuk ke kamar. Tapi setidaknya—Hinata sedikit menghibur diri—dengan demikian mereka tak punya kesempatan untuk bertengkar.
Jadi sepanjang hari Hinata hanya berdua dengan putri kecilnya, ditemani Ino yang malah menambahi keresahannya. Pengasuh itu menggerogoti rasa percaya dirinya, dengan terus-menerus mencela caranya mengurus Himawari.
Dengan wajah polos, pengasuh itu akan menegur manis, "Oh, jangan, Miss Hyuga... " ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengingatkan Hinata atas status lajangnya "Kita tak boleh menyusui si bayi setiap kali dia menangis. Bayi akan mulai mengatur kita dan itu tak baik baginya. Jadwal ketat—itu yang diperlukan bayi. Nah bagaimana kalau anda beristirahat saja, sementara saya memandikan Himawari?"
Seandainya ia mempunyai cukup energi, Hinata pasti sudah menjerit. Tapi saat ini tenaganya sudah terkuras habis oleh Himawari yang setiap malam terbangun hingga beberapa kali. Menurut Ino, ini juga salah Hinata yang tidak cukup tegas menangani Himawari.
Punya pengasuh sih memang enak, pikir Hinata pada suatu malam, ketika ia dengan tertahih-tatih memasuki kamar putri kecilnya itu. Sayangnya, mereka tak mau turun tangan kalau si bayi terbangun ditengah malam buta, sementara kita sendiri kecapean dan ingin segera tidur. Hinata berusaha menebus kekurangan tidurnya pada siang hari, namun otaknya yang aktif seakan tidak mau diajak kompromi. Seribu satu pertanyaan berputar-putar dalam benaknya, membuatnya sulit tidur. Benarkah Naruto ada dikantor hingga larut malam begitu? Kalau tidak dikantor, kemana ia pergi? Apakah Naruto sengaja menghindarinya karena ia menolak tawarannya untuk menghangatkan tempat tidurnya?
.
.
.
Rasain si Ino, rutuk Hinata dalam hati. Dia tak bisa lagi mengejekku sebab hari ini aku menikah dengan Naruto. Pernikahannya cukup mewah pula.
Hinata tadinya mengusulkan agar mereka menikah dikantor catatan sipil di kota Tokyo saja. Ucapara singkat itu rasanya cocok untuk mereka, mengingat mereka sudah punya anak dan menikah semata-mata demi anak itu.
"Dan saksi-saksinya akan kau pungut dijalan, ya?" Kata Naruto berang. "Untuk semakin merendahkan pernikahan kita!"
Hinata mencoba sebisa mungkin memberikan pengertian kepada Naruto. "Masalahnya kita berdua menikah bukan atas dasar mau sama mau, bukan?"
Wajah tampan itu langsung mengerut aneh. "Benar, Hinata. tentu saja kau benar."
Namun kemudia Naruto berargumen bahwa karena Hinata telah merahasiakan kehamilannya dari ibunya, sudah selayaknya bahwa sekarang sang ibu dilibatkan dalam pernikahan mereka. "Dan aku tahu Kaa-sanku pasti ingin menyaksikan pernikahan kita. Juga adikku dan Matsuri."
Hinata tertegun. "Baiklah," akhirnya ia mengalah.
"Jadi kau akan menikah di dekat Konoha?"
"Di Konoha tepatnya."
"Tapi kantor catatan sipil terdekat ada di..."
"Aku tak mau menikah dikantor catatan sipil, Hinata," sergah Naruto. "Aku ingin kita menikah di gereja. Gereja di Konoha." Melihat ekspresi Hinata, Naruto buru-buru menambahkan, "Demi Himawari."
Tentu saja. Naruto akan melakukan apapun demi putri kecilnya itu. Andai saja... Hinata cepat-cepat mengusir pikirannya itu. Tak ada gunanya ia berandai-andai, sebab ia yakain betul semua angan-angannya tak akan pernah terwujud.
.
.
.
Hinata mengamati bayangannya dicermin. Ia telah tegas-tegas menolak untuk mengenakan gaun pengantin berwarna putih—malu kan kalau ia berpura-pura tampil sebagai gadis suci sementara dipelukannya ada bayi mungil berusia dua minggu—namun ibunya berhasil membujuknya untuk memilih warna krem. Warna itu ternyata cocok untuknya dan membuatnya tampak lebih segar.
Gaunnya berpotongan sederhana dengan belahan yang tidak terlalu lebar dan berlengan pendek serta dengan panjang persis dibawah lutut. Hinata memakai sepatu serta hiasan rambut yang berwarna krem juga.
Hinata menyisir rambutnya kebelakang dan membiarkan rambut indigo itu jatuh dalam gelombang-gelombang yang sangat menarik.
"Kau kelihatan sangat cantik," komentar ibunya. "Dan lugu."
"Mana mungkin," sahut Hinata tak acuh. "Aku kan sudah punya Himawari."
"Harta mungil kita!" Kata Mrs. Hikari membela cucunya. "Dan jangan pusingkan soal itu. Di zaman modern ini, hampir setiap pasangan punya anak dulu baru menikah. Yang terpenting adalah perasaan kalian terhadap satu sama lain."
Hinata berhenti mengoleskan lipstik ke bibirnya. Ia tak mungkin membiarkan ibunya memiliki bayangan-bayangan yang keliru tentang dirinya dan Naruto. Ia sungguh-sungguh tak bisa. "Kaa-san, mengenai aku dan Naruto..."
"Kaa-san sungguh beruntung," kata ibunya dengan penuh sukacita. "Mendapatkan menantu seperti dia. Kaa-san benar-benar menyukainya." Mata ibunya berbinar-binar. "Dan sejak lama kaa-san sudah curiga ada sesuatu yang istimewa diantara kalian berdua. Mrs. Kushina juga melihat itu. Lebih-lebih setelah pesta dirumah mereka. Itulah sebabnya kaa-san meminta Naruto dan mencari tahu, kenapa lama sekali kau tidak menengok kaa-sanmuini. Tentu saja, kaa-san bukannya tidak terkejut ketika tahu kau ternyata hamil, tapi... syukurlah semuanya berakhir dengan baik."
Hinata menyadari bahwa ia tak akan tega menghancurkan bayangan ibunya mengenai hubungannya dengan Naruto.
Ibunya memasangkan hiasan rambut yang terbuat dari mutiara. "Kalian tidak akan pergi berbulan madu?"
"Tidak. Aku masih menyusui Himawari, dan..." bulan madu bagi pasangan yang tidak saling mencintai hanya akan menjadi lelucon konyol.
"Tidak apa-apa," potong ibunya. "Kalian beruntung, akan pulang kerumah yang seindah itu. Banyak pasangan yang malah belum memiliki rumah. Kalian bisa pergi lain kali. Oh, kalau saja Tou-sanmu masih hidup dan menyaksikan kebahagiaanmu ini..." la mengusap airmatanya dengan saputangan berenda, kemudian. tidak membiarkan dirinya terbawa emosi, ia buru-buru menegakkan pundaknya.
"Ayo cepat, Hinata... kau tak mau terlambat untuk upacara pernikahanmu sendiri, kan!"
Untuk meringankan suasana hati ibunya, dan untuk meyakinkannya bahwa semua beres. Hinata mencoba bergurau,
"Tapi mempelai wanita memang di harapkan datang terlambat, kan, Kaa-san!"
.
.
Mereka berdua berjalan kaki ke gereja, karena jaraknya cukup dekat. Hinata masih tersenyum menanggapi sesuatu yang dikatakan ibunya, ketika ia sampai di gereja dan melihat Naruto menunggunya di depan altar. Hatinya melonjak diluapi rasa cinta. Naruto memilih Menma sebagai best man-nya dan adiknya itu bersedia. Matsuri yang telah menjadi istri Menma pun ternyata tidak keberatan. Dengung percakapan di gereja kecil itu mereda ketika Hinata muncul di ambang pintu. Naruto berpaling dan menatapnya. Hinata melihat pria itu tampak semakin gagah dalam setelan jas resminya. Dibarisan paling depan, duduk Mrs. Kushina yang menggendong Himawari. Hari ini bayi itu didandani dengan sangat cantik, dalam gaun putih berenda-renda yang khusus dibelikan ayahnya saat di Paris. Hinata nyaris tak dapat menahan air matanya ketika ibunya menggandengnya menuju altar dan menyerahkannya kepada Naruto. Perasaannya semakin mengharu biru ketika ia bertemu pandang dengan pria itu, dan melihat kepala mungil Himawari yang tersembul dari balik topinya.
Naruto meraih tangannya dan menggenggamnya, namun gerakan ini malah membuat bendungan airmatanya bobol. Naruto mengeluarkan saputangannya dari saku depan jasnya dan mengusap bulir-bulir air matanya. Ia menunduk dan berbisik, "Kau kelihatan cantik, sangat cantik."
Caranya mengatakan itu begitu menyentuh, sehingga Hinata terus mengingatnya selama upacara berlangsung. Setelah itu mereka keluar ke halaman. disambut oleh tebaran confetti. Hinata sempat mendengar komentar beberapa penduduk desa yang datang untuk menyaksikan upacara itu.
"Kenapa dia menangis?"
"Hormon," temannya menjawab.
"Dia baru saja melahirkan."
"Aku sih nggak bakal nangis, kalau pengantin prianya secakep itu!"
Ketegangan Hinata sudah agak berkurang. dan mendengar komentar itu, ia merasa sangat geli. Ia tertawa cekikikan. Naruto memandangnya dengan senang.
"Bagus! Begitu lebih baik. Siap untuk menghadapi resepsinya?"
"Tidak juga." Hinata lebih suka kalau mereka bisa segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah. Tapi kemudian ia berpikir-pikir lagi. mungkin justru lebih baik bahwa mereka tidak langsung pulang. Saat ini ia merasa begitu rapuh dan rentan. sehingga entah apa yang akan dilakukan atau dikatakannya bila ia tinggal berdua saja dengan Naruto. Suaminya.
Jadi mereka memutuskan pergi ke kediaman Uzumaki dan Hinata dengan patuh menyantap hidangan-hidangan lezat yang sudah disiapkan oleh Mrs. Kushina. Saat duduk di sisi Naruto yang menggendong bayinya, Hinata merasa dirinya seperti di awang-awang, dan ini bukan karena sampanye yang diminumnya. Sesuatu telah terjadi padanya di gereja tadi, ketika Naruto mengusap air mata di pipinya. Ia tadi berpikir... berpikir... apa? Bahwa setitik perhatian dan rasa sayang tampak di wajah Naruto ketika ia melakukan itu? Tidakkah cuma imajinasinya bahwa gerakan itu diwarnai dengan kelembutan?
Tapi suara Naruto tetap lembut ketika ia bertanya padanya sambil tersenyum. setelah semua kata sambutan selesai diucapkan, "Kau mau pulang sekarang?"
Pulang. Hati Hinata trenyuh mendengar kata yang sangat dalam artinya itu. Ia mengangguk dengan tenggorokan tercekat. "Lebih baik aku ganti baju dulu."
"Jangan." Mata Naruto berbinar, pandangannya mengelus elus dada Hinata yang penuh di balik gaun sutranya. "Aku suka itu."
Muka Hinata memerah seperti anak gadis berumur delapan tahun. Gila, gila, begitu mudahnya ia terpengaruh oleh pujian kecil seperti itu. Mencari bahan pembicaraan yang aman, Hinata buru-buru berkata, "Hima tidak rewel ya?"
Naruto mengangguk. "Menurutku, dia bayi paling manis di dunia. Tapi tentu saja aku berkata begitu karena dia putriku. Kau pernah bilang bahwa kau juga tak bisa bersikap objektif terhadapnya, kan? Ayo, kita berpamitan, dan aku akan memasukkannya ke mobil."
.
.
Lima belas menit kemudian mereka sudah dalam perjalanan. Himawari tertidur nyenyak tempat di bangku belakang. Naruto menyetir sementara Hinata duduk di sebelahnya.
Naruto menoleh sekilas. "Nah, urusan ini beres. Tidak terlalu susah, kan?"
"Tidak." Hinata diam-diam mencuri pandang.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Kau menyelamatkanku di gereja tadi."
Gigi Naruto yang putih berkilat cemerlang ketika ia tersenyum. "Menyelamatkan anak dara yang sedang dalam kesulitan adalah hobiku."
"Bukan anak dara lagi," kata Hinata dengan masam.
"Memang." Naruto terdiam. Lalu katanya dengan nada agak getir, "Tapi waktu itu kau masih gadis,"
Hinata mengira dia salah dengar. "Apa?" bisiknya tak percaya.
"Aku yang pertama, kan? Ketika kita berhubungan intim, kau masih gadis."
"Maksudmu, kau tahu.., dari awal?"
"Tidak dari awal." Bibir yang keras itu mengerut
"Belakangan baru aku sadar..."
"Naruto... kau tak perlu..."
"Tapi aku harus," katanya dengan pahit. "Kenapa kau tidak bilang-bilang?"
Hinata mengangkat alisnya. "Apakah itu akan menimbumbulkan perbedaan?"
Naruto mematapnya dengan tajam. "Bukan kebiasaanku untuk merayu para perawan. Tapi aku pasti akan lebih hati-hati soal kontrasepsi bila sejak awal aku tahu."
Ini menyakitkan hati Hinata. Ini kan sama dengan mengatakan bahwa mereka tidak akan berada di sini bila sejak semula ia memberitahu Naruto. Naruto menyesali pernikahan mereka, padahal di gereja tadi Hinata mendapat kesan sebaliknya? Pasti itu cuma angan-angannya sendiri. bodoh. aku memang bodoh. Hinata menutup matanya dan berusaha menabahkan hati.
"Tapi malam itu, bahkan setelah kau tahu aku masih gadis, kau tetap beranggapan bahwa aku memakai kontrasepsi" ia memancing. "Setidaknya, itu yang kaukatakan padaku waktu itu."
Pegangan Naruto pada kemudi mengencang.
"Aku beranggapan bahwa kau akan berterus terang bila kau ternyata tidak memakai apa-apa. Atau setidaknya, kau akan menghubungiku bila kau sampai hamil. Ketika kau diam-diam saja, aku tentu saja berpikir bahwa kita..."
"Beruntung?" tukas Hinata dengan getir, sebelum Naruto sempat menyakiti hatinya dengan mengucapkan kata itu.
"Aku hanya berharap, kau lebih jujur padaku."
"Kurasa bukan kejujuran yang kaucari pada malam itu," kata Hinata tanpa tedeng aling-aling.
"Kau memang cenderung menarik kesimpulan-kesimpulan sendiri tentang aku, iya kan. Naruto? Misalnya, apakah kau akan percaya bila kukatakan padamu bahwa aku masih perawan?"
Naruto menghela napas. "Mungkin tidak."
Hinata mengangkat bahu. Ini juga menyakitkan baginya. Pengakuan Naruto membuatnya merasa seakan-akan dirinya wanita tuna susila.
"Kalau begitu, tak ada lagi yang harus dikatakan, kan?"
"Kurasa ada," kata Naruto pelan. "Setidaknya aku harus minta maaf padamu."
Hinata tertawa kosong. "Tak perlu. aku tersanjung bahwa kau menganggapku begitu berpengalaman sehingga tak terpikir olehmu bahwa aku masih gadis."
"Seperti yang pernah kukatakan padamu...semua sifat burukku keluar."
"Yah, apa boleh buat," kata Hinata.
"Seperti yang pernah kukatakan waktu itu. bukan kau saja yang berpendapat begitu."
"Maaf." Kata Naruto pendek.
Hinata menangkap nada penyesalan dalam suaranya, tapi ia cukup jujur untuk mengakui bahwa kejadian malam itu bukan semata-mata kesalahan Naruto.
"Kau tak perlu menyesal. Aku sangat mencintai Himawari."
"Aku juga." Suara Naruto sangat lirih. "Dan...Terima kasih, Hinata."
Tangan Hinata yang sedang melepaskan hiasan dirambutnya terhenti di udara.
"Untuk apa?"
"Untuk mempertahankan kehamilanmu."
Hinata mengerutkan dahi.
"Sebenarnya ada alternatif lain, kan? pilihan yang bagi banyak orang mungkin merupakan pilihan terbaik, mengingat situasinya."
"Yah, untunglah aku tidak seperti kebanyakan orang," jawab Hinata, nyaris tak mampu menahan emosinya. Pujian yang sangat penting itu hampir menyapu bersih semua kemarahannya pada Naruto. Hinata melihat Naruto meliriknya lagi,
"Kau apakan cek yang kuberikan padamu?" tanyanya tiba-tiba.
Hinata tercengang-cengang mendengar pertanyaan itu, dan sekaligus waswas memikirkan alasan yang harus ia berikan pada Naruto. "Aku menguangkannya."
"Ya, aku tahu itu... tapi kau apakan uangnya?"
"Kenapa kau bertanya?"
Naruto mengangkat bahu. "Ingin tahu saja."
"Kupakai untuk berfoya-foya—jalan-jalan dan belanja." ia berdusta habis-habisan.
"Katakan yang sebenarnya!" tukas Naruto cepat, Sekarang Hinata juga digelitiki rasa ingin tahu.
"Bagaimana kau tahu bahwa aku tidak mengatakan yang sebenarnya?"
"Insting"
Hinata menghela napas. "Aku menyumbangkannya... untuk amal."
"Semuanya?"
"Setiap yennnya."
Naruto mengangguk-angguk, seolah-olah ia baru saja menemukan jawaban atas masalah yang selama ini mengganggunya. "Mestinya sudah kuduga."
"Kenapa kau berkata begitu?" Tanya Hinata berbisik, merasa bahwa dia pun akan segera dihadapkan pada penemuan mengejutkan.
Naruto mengangkat bahu "Harga dirimu kelewat tinggi, Hinata. Kau tak akan mau makan uang suap."
la mengerutkan kening. "Tapi kenapa waktu itu kauterima tawaranku?"
Karena ia ingin menyingkirkan Naruto dari hidupnya, tentu saja. Tapi bila itu di ungkapkannya pada Naruto, pria itu mungkin akan menarik kesimpulan sendiri tentang alasan yang ada di baliknya. Hinata memutar otak mencari alasan lain yang cukup masuk akal.
"Karena aku marah padamu—terhina sebab kau kira kau bisa menyuapku. Maka aku berniat membuatmu menderita—secara finansial setidaknya. Jadi kuambil uangmu dan kusumbangkan."
Mata biru yang cerdas itu terlalu tajam. Hinata membatin. sambil dengan gelisah memain-mainkan jemari tangannya.
"Tapi kalau kau cuma marah padaku, pembalasan paling efektif yang bisa kau lakukan adalah mengabaikan saranku dan tetap menikah dengan Menma."
"Tapi aku tak bisa menikah dengan Menma. Tidak setelah aku mendapati bahwa aku ternyata..."
Hinata memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Tertarik secara fisik padamu."
Naruto tidak menjawab, namun Hinata melihatnya mengagguk kecil saat ia memusatkan perhatian ke jalan dan mengemudi dengan cepat namun tetap hati-hati. Perjalanan selanjutnya mereka tempuh dalam kebisuan, namun suasananya terasa lebih ringan. setelah Hinata sadar bahwa gencatan senjata telah berlangsung di antara mereka.
hati Hinata mulai bergejolak. Tidakkah percakapan itu menyiratkan suatu harapan? Permintaan maaf Naruto yang jujur telah menghangatkan hatinya—begitu pula pengakuan Naruto bahwa mempertaahankan kehamilan dan melahirkan bayinya sendiri bukan pilihan termudah baginya. Naruto bahkan tampaknya menganggap bahwa ia punya cukup integritas untuk tidak menerima cek itu semata-mata untuk memperkaya diri.
Dengan dasar seperti ini, apakah tidak mungkin bahwa rasa hormat dan saling menyukai akan tumbuh di antara mereka? Dan rasa hormat serta saling menyukai ini, ditambah lagi dengan daya tarik fisik yang sangat kuat, tidakkah dapat menjadi landasan untuk pernikahan yang berhasil? Memang mereka tak akan mungkin bahagia sepenuhnya sebab tak ada cinta di pihak Naruto, tapi tak dapatkah pernikahan mereka memuaskan dirinya maupun Naruto?
Haruskah dia membiarkan hari pernikahannya ini berpuncak pada malam pengantin seperti umumnya pernikahan-pernikahan lain? Haruskah dia membiarkan Naruto menggaulinya nanti malam? Darah Hinata mendesir. Dapatkah dia dengan jujur mengatakan tidak pada Naruto?
.
.
.
sudah hampir pukul tujuh ketika mereka tiba kembali di Kyoto. Saat Naruto memarkir mobilnya di depan rumah besar yang mentereng itu, semua ketakutan dan keraguan tentang Naruto mendadak saja muncul kembali. Ia diam-diam mengawasi Naruto, bertanya-tanya apa langkah mereka selanjutnya, khawatir kalau-kalau semua hal yang ditemukannya tentang Naruto di mobil tadi ternyata angan-angannya belaka. Karena itu ia senang sekali ketika Himawari mulai menangis meminta perhatian
"Hima pasti lapar,"
Kata Hinaya cepat-cepat, bergegas turun dan membuka pintu belakang mobil tanpa menunggu reaksi Naruto. Naruto menyusulnya, dan ketika Hinata menoleh, hatinya mencelos. Wajah Naruto begitu muram dan kaku. Hinata merasa sangat bersyukur dan lega karena ia belum sempat melakukan sesuatu yang bodoh, misalnya mencurahkan isi hatinya kepada Naruto.
Ini membuatnya berpikir lebih jauh. Seandainya dia mengizinkan hubungan mereka berkembang menjadi lebih intim sebagaimana layaknya suami-istri, sanggupkah dia menyembunyikan perasaannya terus?
Dia ingat bagaimana pada malam pesta itu, dia harus mati-matian menahan diri untuk tidak menghujani Naruto dengan kata-kata cinta. Itu baru satu malam. Bayangkan kalau mereka bercinta setiap malam. Ia pasti tak akan dapat menahan lidahnya dan Naruto akan tahu bahwa ia mencintainya. Nah, bagaimana kalau sudah begitu? Hubungan mereka akan semakin buruk. malah bisa-bisa hancur sama sekali. Semua orang tahu apa yang terjadi pada cinta yang tak berbalas. Orang yang bertepuk sebelah tangan itu akan kehilangan harga diri. Sementara sang objek cinta akan meremehkan mereka.
Kerisauan Hinata semakin menjadi-jadi ketika ia melihat Ino, yang menunggu mereka di ruang depan dengan wajah polos. seragam licin. dan sikap sempurna.
"Selamat," katanya datar, pandangannya—seperti biasa—tertuju pada Naruto.
"Terima kasih, Ino," sahut Naruto tersenyum hangat, membuat hati Hinata ngilu didera rasa cemburu.
"Para Maid telah menyediakan makanan dingin untuk dua orang di ruang makan, sesuai pesan Anda, Sir"
Pasangan yang sungguh-sungguh berbulan madu tentu akan menikmati makan malam yang intim itu, pikir Hinata dan setelahnya mereka akan pergi kelantai atas untuk memadu cinta.
Tapi masalahnya, apa yang ditawarkan padanya itu hanya sandiwara belaka, Dan ia tak mungkin menerimanya sebab keintiman seperti ini sangat berbahaya baginya, lebih-lebih malam ini, saat perasaannya tengah mengaharu biru akibat upacara pernikahan tadi.
Pandangan Hinata bersirobak dengan pandangan Naruto yang penuh selidik. "Well, Hinata?"
Hinata mengerti Naruto bukan hanya ingin tahun apakah ia bersedia makan malam bersamanya atau tidak.
"Aku tidak lapar." Ia menjawab dingin
"Dan aku harus mengurus Himawari." Tanpa berkata apa-apa lagi ia merampas putrinya dari Ino
Dan langsung membawanya keatas. Pandangan Naruto yang penuh kemarahan serasa membakar punggungnya saat ia menaiki tangga, dan sempat dilihatnya pula senyum kemenangan Ino yang dilemparkan pengasuh itu kepada Naruto.
"Tapi harus saya apakan makanan-makanan itu?" didengarnya Ino bertanya.
"Terserah!" sahut Naruto dengan tak acuh. "Aku mau pergi."
Dan suara terakhir yang didengar Hinata adalah bunyi bantingan pintu depan.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
Happy gak kasih keterangan Flashback atau End Of flashbacknya gpp yah!..
Makasih buat suportnya—itu sangat berarti banget buatku—sungguh aku terharu—dan menjadi lebih bersemangat. ^^
Makasih juga buat yang udah mau baca plus nyempetin diri buat ngereview.
Yoshhh... saatnya kita berbahagian dan jalanin hidup lebih bersemangat—anak kurang ajar—hhehehehe. Happy sekarang sudah lebih bahagia dan Fic ini tinggal 3chapter lagi menuju akhir yang bahagia. ~yuuhuuu ^o^
SpecialThanks
Mickeymiki/ kaila wu/ hammerb101/ fuuchi/ ana/ choco creamy/ pearl-kun/ nana anayi/ ranari amayes/ mida/ shanazawa/ nadya ulfa/ vonya maria issakson/ nona mesha new/ / sky/ hime/ windari nataswife/ yan kaze/ ameliabeta16/ lililala249/ me yuki hina/ lophelyna/ sella ameilia/ guest/ alluka-chan/ yuukina aoi/ .777/ salsabilla12/ fans happy yuhuu^^ ayo kita bersemangat bersama menjalani hari" ini / uzumakiisana/ aizen L sousuke/ yz namikaze/ pinky blossom/ tisnata404/ himeka senju/ ranita752/ megahinata/ ra sa felis/ luluk-chan473/ riyui/ namikaze yuli/ yuchid4/ claude/ karasuga3/ narunata707/ .980/ rain/ park'chan/ yuka/ olympians wood/ kaila wu/ black rose/ namikazerael/ permatadian/ AnRe/ billyyo566/ mell chan 22/ mina/ ranari amayesa/ indigorasengan23/ kuchiki/ robbin/ eljee/ mibo geni.
Banyak yang nanya kenapa harus Himawari dan apa maksudnya dengan FF Remake?
Kenapa harus Himawari?
Karna himawari anak perempuan, dari dulu banyak pepatah yang mengatakan kalau anak perempuan itu cendrung lebih dekat dengan ayah, walaupun gak semua tapi kenyataannya emang kebanyakan kek begitu, selain karna imange anak perempuan yang rentang dan cendrung butuh perlindungan sosok pria 'ayah' sekaligus buat objek bermanja-manja—sang ayah pun cendrung lebih protektif bahkan ada yang over pula sama anak perempuannya apalagi kalo anaknya itu udah menginjak usia remaja.
Mengenai FF Remake, FF ini full keseluruhan jalan ceritanya milik sang pencipta Sharon Kendrick, dengan pengubahan kata disana-sini agar bisa dengan mudah dipahami, juga tambahan-tambahan kata-perkatanya untuk lebih bisa menonjolkan maksud dari si karakternya. terkadang Happy juga ikut-ikutan bersuara disini. Cukup Jelas, kan! ^^
.
.
.
Sampai jumpa di Chapter berikutnya...
