Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Gendre : Drama/Romance/Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,ACC,TYPOS,REMAKE,Etc
(FF ini remake dari sebuah novel Herlequin dengan judul yang sama karangam Sharon Kendrick.)
Chapter 10
Hinata menyadari kesalahan yang dibuatnya hanya dalam beberapa jam.
Pagi setelah hari pernihakannya, Hinata turun untuk sarapan dengan kepala berat. Malam sebelumnya Himawari agak rewel dan terbangun beberapa kali, namun seandainya tidak pun, Hinata tak mungkin bisa tidur. Sepanjang malam ia hanyabtergolek diranjang dengan mata nyalang, memasang telinga mendengarkan suara pintu yang menandakan kedatangan Naruto.
Sekitar tengah malam ia menggendap-endap ke lantai bawah, ingin melihat kalau-kalau Naruto sudah kembali dan tertidur diruang duduk. Namun dibawahpun sama sekali tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Merasa haus, Hinata kemudian menuju ke dapur.
Rangkaian bunga yang terletak ditengah-tengah meja makan membuatna terhenti. Air matanya berlinang-linang. Mawar lutih, stephanosis, dan freesia adalah bunga-bunga khas pengantin. Apakah Naruto yang memilihnya?
Hinata baru saja akan meneruskan langkahnya ketika matanya tertumbuk pada bingkisan kecil yang terletak disamping salah satu piring. Dengan penuh ingin tahu ia mendekat dan melihat kartu yang tertempel diatasnya. Namanya tertera pada kartu itu.
Hanya sedetik ia ragu-ragu, kemudian, dengan tangan gemetar, dirobeknya kertas pembungkus bingkisan itu. Isinya ternyata kotak kulit berwarna biru laut, dengan tulisan nama toko yang paling ekslusif di konoha. Dan di dalam kotak itu--tampak sangat mencolok karna interior kotak terbuat dari beludru hitam--terdapat seuntai kalung emas bermata berlian dan aquamarine.
Hinata menutup kotak itu dan mendekapkannya ke dada. Mengapa Naruto membelikannya hadiah yang seindah dan semahal itu? Sebagai tawaran perdamaian? Hinata menutup mata dengan penuh sesal, sadar bahwa ia telah merusak niat baik Naruto. Ia mengambil segelas susu di dapur dan kembali ke atas sambil membawa kotak itu, masih menunggu-nunggu kedatangan Naruto. Tapi Naruto ternyata semalaman tidak pulang.
Pagi ini Naruto didapatinya sudah duduk di meja makan, minum kopi dan makan telur sambil membaca koran. Pria itu hanya mengangkat kepala sedikit ketika ia memasuki ruang makan.
"Selamat pagi," sapa Hinata.
Naruto menatapnya sekilas. Pandangannya begitu dingin sehingga nyaris membekukan Hinata. "Sungguh? Kau mengucapkan selamat padaku?" balasnya mengejek.
Hinata berusaha keras untuk bersikap biasa-biasa saja. Diambilnya telur goreng dan roti panggang, kemudian ditambahkannya jamur ke piringnya. Saat menuang kopi, ia mencoba tersenyum pada Naruto, namun pria itu sama sekali tidak bereaksi.
Hinata mengambil napas dalam. "Aku... sudah melihat kalung yang kautinggalkan untukku. Kalung itu sangat cantik."
"Sudahlah," tukas Naruto pendek.
"Tidak, aku benar-benar.."
"Kalau kau tak suka batunya, kau bisa menukarnya. Atau jual saja kalung itu sekalian," tambahnya dengan nada menghina.
Hinata merasa ngeri mendengar suara Naruto yang penuh kebencian. Naruto memang selalu bersikap dingin padanya, tapi tak pernah sedingin ini. Salahku sendiri, pikir Hinata dengan pilu. Aku telah menolak tawaran makan malamnya yang intim, dan juga hadiahnya. Rasa kuatir tiba-tiba menyergapnya. Apakah semalam Naruto pergi kepada wanita lain untuk mencari hiburan? Kekuatirannya berubah menjadi kecemburuan yang membabi buta, sehingga ia hampir-hampir tak mampu menahan diri. Ia harus menanyakannya kepada Naruto. Ia harus tahu.
Ditatapnya Naruto dengan mata disipitkan. "Kau tidak pulang semalam." Hinata merasa heran sendiri karena suaranya ternyata cukup mantap.
"Memang."
"Boleh aku tahu ke mana kau pergi?"
"Tidak."
"Apakah kau... tidur dengan orang lain?" Begitu pertanyaan itu terlontar, Hinata langsung menyesal. la benar-benar menurunkan gengsinya dengan bertanya secara blak-blakan begitu.
"Apa urusannya ini denganmu? Bukankah kau
jelas-jelas telah menyatakan bahwa kau tidak menginginkan aku? Atau tepatnya, kau menginginkan aku. hanya saja kau tidak cukup jujur untuk mengakuinya. Mungkin kau sok jual mahal, mungkin kau merasa puas bila kau bisa mengiming-imingi aku dengan tubuhmu yang molek. Tapi kukatakan padamu,
Hinata, aku bukan mainanmu dan aku tak sudi mengikuti permainanmu. Kau boleh-boleh saja menolakku, namun jangan kaukira aku mau berselibat seumur hidupku."
Keterusterangan Naruto hampir membuat jantung Hinata putus. Ditatapnya wajah tampan yang sekeras batu itu, dan matanya yang dingin dan kejam. Pada saat itu Hinata merasa, ia benar-benar membenci laki-laki itu. Kebenciannya begitu membara sehingga mulutnya bak terkunci, tapi tatapannya sudah berbicara banyak.
"Kau... binatang," bisiknya terbata-bata. "Brengsek!"
Naruto malah tertawa. "Apa itu... isyarat agar aku menunjukkan kebinatanganku dan memaksakan kehendakku pada Hinata yang sok alim? Itu akan memecahkan masalahmu dan menenangkan suara hatimu, bukan? Kau bisa mengecap semua kenikmatan itu tanpa perlu mengakui bahwa kau sudah kalah. Tapi maaf saja, Sayang, aku tak mau terpancing." Naruto memundurkan kursinya dan bangkit berdiri.
"Aku ada urusan, aku akan pergi selama seminggu," katanya kasar. "Selama aku pergi, mungkin kau perlu memikirkan kapan kau akan kembali bekerja. Kurasa kau tak ingin berlama-lama menganggur di rumah. mengingat situasinya."
Hinata menatap Naruto dengan tercengang. "Maksudmu, kau menerima situasi ini? Kau senang hidup dalam pertengkaran dan ketegangan seperti ini?"
Mulut Naruto mengerut sinis. "Senang? Sama sekali tidak, Hinata. Tapi kaulah yang memilih cara ini, ingat itu. Dan jangan coba-coba kabur selama aku pergi. Setidaknya, jangan coba-coba membawa Himawari. Sudah kubilang, aku menginginkan anak itu, dan aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankannya."
Hinata menelan ludah. "Baiklah," katanya mantap. "Aku akan ada di sini saat kau kembali." Tak dapat menahan dorongan untuk melukai hati Naruto, seperti hatinya sendiri telah dilukai, Hinata menambahkan, "Dan karena sepertinya kau telah mendapatkan teman tidur, kurasa aku perlu juga mencarinya."
Naruto menatapnya dengan garang. "Tidak selama kau masih tinggal di rumah ini!" "Jangan kuatir, tentu saja aku tidak akan melakukannya di sini. Paling-paling aku akan keluyuran semalaman, mengikuti contohmu."
Pelipis Naruto berdenyut-denyut. "Dan kukira, Toneri yang tersayang akan menjadi tempat pelepasan gairahmu?" tanyanya berang. Kalau Naruto bisa, kenapa aku tidak? pikir Hinata nekat. Maka dijawabnya dengan dingin, "Itu bukan urusanmu."
Naruto menatapnya tajam dan lama. Sorot matanya memancarkan kemarahan yang berbaur dengan gelora asmara. Tepat pada saat Hinata mengira Naruto akan menghampirinya dan menidurinya dengan kasar, pria itu tiba-tiba berbalik sambil menyumpah-nyumpah. Dengan langkah-langkah lebar Naruto meninggalkan ruangan itu. Di pintu ia berbalik lagi dan berkata dengan tenang,
"Aku hampir lupa mengatakannya padamu. Sehari setelah aku kembali, aku akan mengadakan pesta. Aku akan mengundang teman-temanku kemari supaya mereka bisa bertemu denganmu, sebab kau tidak mengizinkan satu pun dari mereka hadir pada pernikahan kita. Mereka sudah bertanya-tanya kenapa aku menyembunyikanmu. Kalau saja mereka tahu..." Naruto tersenyum sinis.
Hinata mengangkat dagu dengan angkuh. "Jadi mereka belum tahu?"
"Belum, dan kurasa mereka tak perlu tahu." Naruto berhenti sejenak. "Aku ingin kau menjadi hostess-ku."
Maksud Naruto tentu nyonya rumah, namun caranya mengucapkan kata itu membuat Hinata merasa seakan dirinya hostes di kelab-kelab malam. Hinata menggigit bibir dan menelan kembali makian yang sudah ada di ujung lidahnya. Ia benar-benar harus mencari jalan untuk menghindari cara hidup yang menyesakkan begini, dan luapan kemarahan hanya akan memperburuk suasana.
Hinata sadar bahwa kegetiran Naruto pagi ini bersumber pada penolakannya semalam. Kenapa? ia bertanya-tanya.
Pasti bukan karena alasan fisik belaka, kan? Pria seperti Naruto bisa mendapatkan wanita mana pun yang diinginkannya. Dan dia memang sudah mendapatkannya, pikir Hinata dengan marah dan putusasa. Semalam. Dan malam-malam selanjutnya selama Hinata masih berkeras menolaknya.
Kalau saja ia sanggup meninggalkan rumah ini dan melihat apakah Naruto akan sungguh-sungguh melaksanakan ancamannya... Dan kalaupun Naruto menuntutnya di pengadilan, tidakkah haknya untuk merawat Himawari lebih besar, mengingat dia ibu si bayi?
Tapi Hinata tidak sanggup untuk mengayunkan langkahnya keluar dari rumah ini, dan ia tahu alasannya bukan semata-mata ia tak mampu membayar pengacara, atau takut namanya tercemar bila mereka bertikai di pengadilan.
Naruto sedang mengawasinya dengan pandangan aneh. "Jadi kau mau hadir tidak?"
Hinata menghela napas. "Aku akan hadir, Naruto."
TO BE CONTINUE
