Part Time Father

Disclaimer By Masashi Kishimoto's

Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata

Gendre : Drama/Romance/Hurt/Comfort

M

WARNING

AU,ACC,TYPOS,REMAKE,Etc

(FF ini remake dari sebuah novel Herlequin dengan judul yang sama karangam Sharon Kendrick.)


Chapter 11

JUMAT sore, tujuh hari kemudian. Hinata sedang membaca di ruang duduk yang menghadap ke kebun belakang, ketika didengarnya pintu depan menutup.

"Halo?" terdengar suara berat Naruto.

Hinata menarik napas dalam-dalam. Selama seminggu ini ia punya banyak waktu untuk berpikir dan ia telah memutuskan strategi apa yang akan dipakainya dalam menghadapi Naruto. Bagaimanapun caranya, ia dan Naruto harus berdamai.

"Aku di sini!" serunya. Hinata mendengar bunyi langkah-langkah kaki Naruto, kemudian pintu terbuka dan Naruto berdiri di ambang pintu itu, memperhatikannya. Saat itu ia sedang duduk santai di sofa tartan, majalah tergeletak di sebelahnya, sementara Himawari tertidur nyenyak dalam kursi bayinya.

Hinata balas menatap Naruto, menahan diri agar matanya tidak jelalatan. Seperti biasa, kehadiran Naruto selalu menaikkan tekanan darahnya, seakan-akan tubuh Naruto mengandung arus listrik.

Ketika pergi, Naruto mengenakan setelan jas, tapi sekarang ia memakai celana jins. Jins usang itu menempel ketat pada bokongnya seperti kulit kedua, dan T-shirt putih yang dikenakannya menonjolkan otot-otot lengannya yang kekar. Rambutnya acak-acakan dan dagunya belum dicukur. Dia tampak luar biasa seksi, pikir Hinata menahan napas. Dan jauh lebih muda dari usianya yang sudah 30 tahun.

Seminggu tanpa Naruto bak seabad lamanya bagi Hinata, dan ia terheran-heran sendiri bagaimana ia bisa begitu merindukan orang yang selalu mengajaknya bertengkar setiap kali mereka bertemu.

Seperti Naruto, Hinata juga memakai jins dan T-shirt, hanya warnanya hitam. Ia tidak menyangka Naruto akan pulang secepat ini, dan sudah merencanakan akan mengganti pakaiannya dengan yang lebih bagus menjelang kepulangan Naruto. Namun melihat cara Naruto memandangnya, Hinata tidak menyesal ia tidak sempat melakukan itu.

Setelah lama singgah di dadanya, tatapan Naruto akhirnya beralih kepada Himawari. "Dia sudah besar," katanya memperhatikan putrinya yang tidur sambil mengisap jempol. "Luar biasa. Baru seminggu, tapi perubahannya sudah begitu nyata."

Hinata trenyuh mendengar suara Naruto yang begitu halus dan ekspresinya yang begitu lembut. "Ya, beratnya sudah naik," kata Hinata dengan bangga, dalam hati bertanya-tanya apakah akan begini hubungan mereka selanjutnya. Setiap hari berbasa-basi ringan tentang putri mereka satu--satunya topik pembicaraan netral yang mereka punyai.

Naruto mengerutkan kening. "Rasa-rasanya ada yang berbeda." Hinata menunggu.

"Tidak biasanya Hima tidur di sini"

"Benar" Sebab Ino selalu ngotot bahwa bayi itu harus tidur di kamarnya sendiri. Naruto melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Boneka Rubah oranye yang dikirimkannya dari Prancis ketika Himawari baru lahir, duduk di sofa bersama kelinci pink yang dihadiahkan oleh Menma dan Matsuri. Warna kedua boneka itu benar-benar tidak serasi, tapi Hinata merasa yakin bahwa. Himawari menyukainya. Orang bilang bayi belum mampu mengenali benda-benda sampai ia berumur enam minggu, tapi Hinata tidak percaya itu. Setidaknya, kalau itu menyangkut bayi yang secerdik Himawari!.

Naruto tersenyum melihat boneka Rubahnya.

"Dan di sini ada lebih banyak mainan daripada biasa-nya."

Aturan Ino yang lain. Hinata masih ingat suaranya yang menyebalkan, "Kita tak mau rumah ini tampak seperti sekolah taman kanak-kanak, bukan? Apalagi sebentar lagi Tuan Uzumaki akan pulang!"

"Mana Ino?" tanya Naruto, tiba-tiba sadar.

Hinata punya alasan kuat untuk membenarkan perbuatannya, namun hatinya berdebar juga mendengar pertanyaan itu. "Aku sudah memecatnya," jawabnya tenang.

Naruto terpana, seakan-akan mengira dirinya salah dengar. "Kau apa?"

"Aku memecatnya."

"Bisa kaujelaskan sebabnya?"

"Tentu. Aku tidak setuju dengan caranya menangani bayi."

Naruto mengangkat alis. "Dan kau ahlinya?" tanyanya dengan sarkastis. "Kau ahli menangani bayi?"

"Kalau itu bayiku sendiri, ya! Lagi pula, aku sudah membaca banyak buku tentang bayi. Empat tepatnya."

Naruto menatapnya dengan jengkel. "Empat buku dan kau kira dirimu lebih tahu dari pengasuh yang sudah di didik selama dua tahun?"

"Ya!" bentak Hinata, niatnya untuk berdamai dengan Naruto sejenak terlupakan. "Aku ingin menyusui Hima setiap kali dia lapar, dan aku ingin menggendongnya setiap kali dia menangis. Yang tidak kuinginkan adalah menyembunyikan tanda-tanda kehadirannya. Hima juga tinggal di sini, dan aku tidak setuju dengan pendapat bahwa bayi sama sekali tidak boleh terlihat atau terdengar! Namun yang lebih penting--maaf jika ini menyinggung perasaanmu, Naruto--aku tidak suka pada Ino. Menurutku dia sombong, picik, dan agak bodoh. Dan kalau kau pikir aku akan membiarkan orang semacam itu membesarkan anakku, kau keliru, Naruto!" Hinata berhenti untuk mengambil napas, dan menunggu reaksi Naruto.

"Wow!" kata Naruto pelan. "Pidato yang bagus!"

"Aku serius, Naruto."

"Bisa kulihat itu."

"Dan kau tak keberatan?"

Naruto mengangkat bahu. "Bukan aku yang akan menanggung akibatnya, bukan? Kau sendirilah yang akan susah. Jadi, apa rencanamu? Apakah kau akan mencari pengasuh lain yang tidak sombong, picik, serta bodoh? Atau kau bermaksud membawa Hima ke kantor."

Tiba saatnya bagi Hinata untuk menyampaikan kabar mengejutkan itu. "Aku tidak akan kembali ke kantor."

"Apa?" tanya Naruto, jelas-jelas tidak percaya.

"Aku akan berhenti bekerja untuk sementara waktu.. untuk membesarkan Hima."

"Tapi kariermu sangat penting bagimu."

"Hima juga," sahut Hinata pelan.

"Jadi apa yang akan kaukerjakan sepanjang hari? Memanggang roti?"

Hinata tak dapat menahan tawanya. Ia sendiri terkagum-kagum dan heran menyadari bahwa peran seperti inilah yang sungguh-sungguh diinginkannya. "Mungkin saja. Tapi yang jelas aku akan membuat roti dari lilin, bersama Hima. Aku akan mengajak Hima jalan-jalan dan mengajarnya mengecat dengan jari. Aku akan..."

Naruto mengangkat tangan menghentikan ucapan-nya, namun matanya berkilat-kilat jenaka. "Cukup! Aku sudah bisa membayangkannya. Jika ini yang kau inginkan..?"

"Memang," tukas Hinata, kemudian dilihatnya Naruto mengerutkan dahi. "Kalau kau keberatan karena aku tak akan menghasilkan uang...

Mata Naruto menyipit, dan kilat jenaka di dalamnya lenyap tak berbekas. "Aku sama sekali tak peduli tentang itu," katanya kasar.

Kemudian, mungkin karena mereka sudah membahas habis soal Himawari, Naruto pun menjauh. "Kau tidak lupa bahwa kita akan mengadakan pesta, kan?"

Sejujurnya, urusan pesta itu hampir-hampir tak ada dalam pikiran Hinata. "Tidak, tentu saja tidak," jawabnya kaku.

"Aku sudah mengatur agar besok malam para tamu datang sekitar pukul setengah delapan. Makan malam akan dimulai pada pukul delapan dan petugas kateringnya akan mulai bekerja sejak sore. Apakah waktunya cocok untukmu?"

Hinata menelan ludah. Dia paling benci kalau Naruto berbicara dengan nada resmi begini. Naruto memperlakukannya seakan-akan ia orang asing yang ditemuinya di pesta koktail, dan bukan ibu anaknya. "Cocok sekali," Hinata pun menjawab dengan dingin. "Bisa kaukatakan berapa kira-kira yang akan hadir?"

"Kurang-lebih lima puluh. Tapi kau tak perlu repot-repot. Sekretarisku sudah menyiapkan semuanya--termasuk mengirimkan undangan."

"Bagus sekali," Hinata menyindir. "Aku heran karena kau tidak sekalian memintanya untuk menjadi nyonya rumah."

"Ya, aku menyesal tidak melakukan itu!" balas Naruto geram. Kemudian ia terdiam sejenak, seolah-olah berusaha mengatasi emosinya. Ketika ia membuka mulut lagi, bicaranya pelan dan lambat. "Aku tak mau membebanimu dengan urusan pesta, karena kupikir kau sudah terlalu capek dan terlalu sibuk mengurus Hima."

Sekarang dia bicara padaku seperti kepada pembantu atau bawahannya, pikir Hinata dengan pahit. "Apakah acaranya resmi?"

"Ya. Nah, permisi dulu, aku mau ganti pakaian."

"Kau akan...," Hinata memaksa diri untuk melanjutkan pertanyaannya, "makan malam di rumah?"

Naruto menggeleng. "Aku akan makan di luar. Kurasa kau lebih suka begitu." Ia meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa lagi.

Hinata mengawasi kepergian Naruto dengan kepala tegak, meskipun hatinya sangat kecewa. Ia sebenarnya telah meminta kepala pelayan untuk menyiapkan menu yang sederhana saja malam ini--hidangan-hidangan yang tidak terlalu rumit sehingga bisa dihangatkannya sendiri. Ia merencanakan--atau tepatnya berharap akan menikmati makan malam itu berdua dengan Naruto dalam suasana santai. Tapi jelas sekarang bahwa Naruto tidak berniat untuk memperbaiki hubungan mereka.

Esok malamnya Hinata merasa sangat gelisah dan gugup, seperti gadis remaja yang akan menghadapi pesta dansa pertamanya. Apakah teman-teman Naruto, yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan dirinya, akan dapat melihat bahwa Naruto tidak bahagia? Dan apakah mereka akan menyalahkannya untuk keadaan Naruto itu? Tidak mengherankan kalau itu benar-benar terjadi.

Setelah menyusui, memandikan, dan menidurkan Himawari, Hinata akhirnya mempunyai waktu untuk berdandan. Lama ia berdiri di depan lemari, memilih pakaian yang cocok. Akhirnya diputuskannya untuk mengenakan setelan paling mencolok yang ada di lemarinya. Setelan yang khusus dipesannya di sebuah butik di Kyoto itu terdiri atas blus dalaman sutra berwarna hijau turkuois serta rok panjang yang senada, dilengkapi dengan jaket pendek brokat serta ban pinggang lebar. Warna serta bahannya menimbulkan kesan dramatis.

Untuk mendukung efek dramatis itu, Hinata sengaja menyanggul rambutnya tinggi di atas kepala dan menjepitnya dengan dua sirkam perak bertatahkan batu turkuois. Rias wajahnya juga lebih berani dari pada biasanya. Ia membubuhkan celak mata biru tua pada kelopak matanya dan menebalkan garis matanya dengan pensil hitam, sementara bibirnya dipolesnya dengan lipstik berwarna merah marong.

Hinata melangkah mundur dan mengamati bayangannya di cermin. Ia puas dengan penampilannya, namun agak tertegun melihat sosoknya yang terkesan begitu canggih. Tapi setidaknya, dari luar orang tak akan menduga bahwa sebetulnya ia cemas setengah mati menghadapi pertemuan dengan teman-teman Naruto.

Hinata sama sekali tak perlu membantu dalam persiapan pesta. Naruto dan sekretarisnya sudah mengatur semuanya. Dan gayanya, wow! Ada pelayan-pelayan yang akan menyajikan minuman, juga pelayan yang membuka jaket para tamu. Makanan dimasak dan dihidangkan oleh perusahaan katering profesional. Penataan bunga-bunga di kelima ruang resepsi yang akan digunakan, diserahkan pada florist terkemuka.

"Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Hinata pada Naruto ketika mereka makan siang bersama.

"Hadir saja di sana," sahut Naruto singkat, ekspresinya begitu dingin sehingga Hinata bertanya-tanya apakah Naruto sungguh-sungguh menginginkan kehadirannya dalam pesta itu.

Namun ketika malam ini Hinata turun ke lantai bawah, Naruto ternyata sudah menunggunya di ruang depan. Melihat penampilannya, mata Naruto menyipit, dan bibirnya yang tanpa senyum bergerak ke atas sedikit. Hinata menjadi bimbang, jangan-jangan dandanannya terlalu berlebihan.

"Baju ini cocok?"

"Cocok sekali," sahut Naruto dengan suara rendah. "Asal kau tidak keberatan dipelototi oleh setiap tamu pria yang ingin tahu apakah tubuhmu memang semolek apa yang tampak dari luar. Tapi mungkin justru itu maksudmu--kau ingin membangkitkan nafsu setiap pria berusia di bawah 90 tahun yang hadir di sini."

"Kau menyebalkan," gumam Hinata, ingin rasanya ia lari kembali ke lantai atas dan menukar bajunya dengan yang lebih aman. Namun bel pintu sudah berdentang.

"Senyum, Hinata." Naruto memerintahkan. "Kita harus pura-pura jadi pengantin baru."

Selama setengah jam berikutnya para tamu berdatangan, dan Naruto memperkenalkannya pada semua orang, termasuk pada sekretarisnya, Shizune. Hinata merasa sangat lega ketika mendapati bahwa wanita itu ternyata sudah menikah.

Naruto banyak mengundang teman-teman lamanya--teman-teman sekolahnya dan rekan-rekan kerjanya ketika ia baru meniti karier. Selain itu hadir pula partner-partner bisnisnya, baik dari Asia maupun Eropa. Kebanyakan tamu datang bersama pasangan, namun ada juga wanita-wanita lajang yang datang sendirian. Wanita-wanita ini mengucapkan selamat kepada Hinata sambil tersenyum, tapi Hinata tahu beberapa di antara mereka hanya berbasa-basi.

Perasaan ini semakin kuat ketika ia berhadapan

dengan seorang model cantik bernama Shion. Hinata langsung mengenalinya karena model berusia awal dua puluh ini sangat laris dan foto-fotonya banyak menghiasi sampul-sampul majalah. Dilihat dari dekat. gadis itu bahkan tampak semakin memesona, dengan rambut pirang sepanjang pinggang dan mata pucat yang berbulu mata lebat.

Shion tersenyum lebar padanya, namun Hinata dapat menangkap antagonisme yang terpancar dari sikapnya. Melihat bagaimana gadis itu memonopoli Naruto, tahulah Hinata mengapa Shion memusuhinya.

Shion dan Naruto tampak begitu intim. Bahasa tubuh mereka jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka pernah menjadi sepasang kekasih.

Pernah?--rasa cemburu mengoyak-ngoyak hati Hinata seperti sebilah pisau tajam--mungkin sampai sekarang pun masih!

Kepergian Naruto pada "malam pangantin" mereka, apakah ia bersama Shion? Dan "urusan"--nya selama seminggu ini, apakah ada hubungannya dengan Shion? Hinata menutup matanya, tubuhnya mendadak limbung.

Dan tahu-tahu Shion sudah ada di sebelahnya. Gadis itu muncul dengan begitu saja seperti sesosok hantu cantik.

"Hei. dari tadi kau hanya memegangi gelas itu,"

sindir Shion sambil melirik gelas sampanye Hinata yang masih penuh. "Kenapa? Lagi tidak kepingin pesta?"

Hinata menggeleng. "Aku hanya lelah," jawab nya, berusaha bersikap wajar meskipun ia merasa dunianya akan segera runtuh.

Secara serentak, mereka berdua menoleh ke arah Naruto, yang sedang terlibat percakapan seru dengan sekelompok orang. Naruto bukan hanya tampak menonjol dalam grup itu, tapi juga di seluruh ruangan. Kehadirannya membuat semua pria lain dalam ruangan itu tampak kerdil--wanita mana yang tak ingin memilikinya? pikir Hinata dengan kecut.

"Dia milikku," terdengar suara lembut dari sebelahnya. Hinata menatap Shion dengan tercengang, yakin bahwa pendengarannya keliru.

"Maaf?"

"Kau tidak salah dengar," sahut Shion tak acuh. "Aku cuma ingin memperingatkanmu."

"Tapi aku istrinya," balas Hinata pelan. "Ingat?"

"Oh ya?" tantang Shion sambil mencebik. "Tingkah laku kalian tidak seperti suami-istri. Naruto tampak begitu tegang sehingga sembarang waktu emosinya bisa meledak... dan kau, sepanjang malam kau hampir-hampir tak bicara dengannya."

"Aku sudah menikah dengannya," Hinata menegaskan. Nada suaranya tetap tenang meskipun tangannya gemetar.

Mata hijau yang indah itu mendadak tampak buruk karena ekspresinya. "Yeah, kau sudah menikah dengannya. Mau tahu kenapa? Karena bayi itu. Peluang Naruto untuk memperolehnya lebih besar bila ia menikahimu secara resmi. Lagi pula, Naruto yakin kau tidak akan tahan hidup lama-lama bersamanya. Kau akan meninggalkannya dan itu merupakan senjata yang ampuh baginya di pengadilan. Dia akan mendapatkan anaknya, dan dia akan kembali ke pelukanku," kata Shion penuh ancaman.

Hinata berhasil mempertahankan ketenangannya, dan dengan angkuh, ia membalikkan badan lalu berjalan ke taman. Ia berjalan terus dengan senyum tersungging, tak berani berhenti sebab takut pertahanannya akan bobol dan ia jatuh pingsan atau apa.

Di punjung mawar di ujung taman, ia mendapatkan perlindungan. Tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon mawar, ia berusaha menenangkan debur jantungnya dan mendinginkan kepalanya.

Dari tempatnya berdiri ia dapat melihat Shion, yang sudah mendekati Naruto lagi dan tertawa-tawa genit kepadanya. Sadarlah Hinata bahwa ia harus segera mengambil tindakan. Suasana yang tidak sehat di antara dirinya dan Naruto tidak bisa didiamkan lebih lama lagi.

Sejak awal Naruto sudah menegaskan bahwa ia menginginkan perkawinan yang lengkap, dan bila Hinata tidak bersedia memenuhi kewajibannya sebagai istri, ia akan mencari kepuasan di tempat lain. Sanggupkah Hinata menerima itu?

Tidak. Jelas tidak.

Ia mencintai Naruto; ia sudah lama mencintai Naruto. Baginya tidak ada pria lain dan tidak akan pernah ada.

Naruto, di lain pihak, hanya memandang rendah padanya bila tidak sedang mengincar tubuhnya.

Tapi...

Ingatan Hinata melayang ke hari pernikahannya--kepada kelembutan Naruto di gereja, percakapan dalam mobil yang telah menjernihkan suasana dan membuka jalan ke arah gencatan senjata...Seandainya waktu itu ia tidak terlalu emosional--terutama setelah melihat Ino--pastilah tindakannya akan lebih rasional. Ia akan makan malam bersama Naruto dan pergi tidur bersamanya. Dengan demikian, pernikahan mereka akan dimulai dengan cara yang lebih baik.

Sebenarnya bukan cuma hubungan badan yang diinginkannya dalam pernikahan, tapi daripada--tidak ada hubungan sama sekali, tidakkah ini cukup?

Hinata menatap sosok Naruto di kejauhan, dan mengingat kembali bagaimana baiknya pria itu ketika dia akan melahirkan. Naruto tetap mendampinginya meskipun ia tahu Hinata telah merahasiakan keberadaan anaknya darinya.

Pertanyaannya adalah, beranikah dia menunjukkan kepada Naruto bahwa dia menginginkannya, bahwa dia mau berubah?

Melihat betapa merangsangnya Shion dalam gaun mini ketatnya, hati Hinata menjadi keras.

Naruto miliknya, dan ia tahu betapa pria itu mendambakannya. Ia tahu bahwa ketika Naruto berada dalam pelukannya, ia berkuasa atas pria itu, seperti pria itu berkuasa atasnya.

Sekaranglah kesempatan terbaik untuk menunjukkan pada Naruto dan semua temannya--terutama oportunis-oportunis seperti Shion--bahwa Naruto sudah ada yang punya.

Hinata cepat-cepat mereguk sampanyenya dan berjalan kembali. ke arah rumah.

Ia tahu orang-orang mengawasinya--wajar saja kalau mereka melakukan itu sebab dia adalah nyonya rumah, wanita yang telah dinikahi kawan mereka.

Ketika bulu kuduknya meremang dan punggungnya mulai dijalari rasa panas, tahulah Hinata bahwa tatapan Naruto pun telah beralih padanya. Hinata mengangkat kepalanya dan menatap Naruto lurus-lurus, kemudian ia mengangkat gelas kosongnya dengan gaya bersulang.

Dengan penuh percaya diri, mabuk kepayang oleh rencananya sendiri, Hinata berdiri di tengah-tengah ruangan. Anggun dan cantik seperti patung pahatan, Hinata membiarkan gelasnya diisi dengan air mineral yang kemudian disesapnya pelan-pelan, matanya tetap tertuju pada Naruto.

Naruto masih berbicara, tapi Hinata yakin pikirannya sudah tidak ada di situ. Pikiran Naruto sudah tersita olehnya, dan pandangan Naruto yang tajam mencoba menembus dirinya, mengukur-ukur, meraba-raba.

Satu--dua menit kemudian dua orang pria beserta istri-istri mereka menghampiri Hinata, berbasa-basi mengungkapkan pujian mereka tentang pesta itu. Hinata meladeni mereka dengan ramah. Dari sudut matanya dilihatnya Naruto meninggalkan teman-temannya dan berjalan mendekatinya.

"Halo, darling," gumam Hinata.

Panggilan sayang itu lumrah digunakan oleh pasangan pengantin baru, namun Naruto mengerutkan kening mendengarnya. Memang, selama ini Hinata tidak pernah mengucapkan kata itu.

Naruto melemparkan tantangan lewat sorot matanya, dan tanpa ragu-ragu Hinata menyambutnya. Mata lavendernya melebar dengan pesan yang tak mungkin disalahartikan. Napas Naruto tersengal ketika ia memahami pesan itu, dan tubuh Hinata sendiri bereaksi ketika Naruto menjawabnya dengan tatapan yang sama.

Hinata ingin melepaskan jaketnya sebab mendadak ia merasa kepanasan. Tapi ia ingat komentar Naruto bahwa pakaiannya menggoda orang lain. Ia tak ingin Naruto menganggap ia mencoba menarik perhatian orang lain. Ini untuknya, hanya untuknya.

Hinata tidak mengatakan apa-apa, itu tidak perlu. Setiap molekul dalam tubuhnya sudah mengungkapkan pesan yang gamblang. Entah berapa lama mereka berdiri di sana ia tidak tahu, hanya saja hasrat untuk--menyentuh Naruto sudah begitu tak tertahankan sehingga Hinata harus segera mengambil tindakan.

Dari ketegangan di wajah Naruto dan denyut-denyut urat di lehernya Hinata tahu bahwa Naruto pun didera perasaan yang sama. Langsung saja ia menyelipkan tangan ke lengan Naruto dan menyandarkan kepala di bahunya. "Bisakah aku bicara denganmu sebentar?" katanya lirih, namun nadanya jelas-jelas mengundang.

Naruto mengejang. ia tampak ragu-ragu, tapi hanya sejenak. "Permisi sebentar," katanya kepada kedua pasang suami-istri yang meneruskan percakapan mereka dengan santai, seolah-olah tidak menyadari apa yang terjadi pada tuan serta nyonya rumah mereka.

Setelah agak jauh, Naruto menunduk dan berbisik di telinga Hinata, "Mau jalan-jalan di taman?"

"Tidak," sahut Hinata dengan suara rendah.

"Tapi kau bilang kau mau bicara?"

"Tidak di sini," kata Hinata dengan nada mendesak, gairah asmara hampir menenggelamkannya, sementara keberaniannya mengancam akan terbang.

"Di dalam!"

Melihat wajahnya yang pucat dan pupil matanya yang membesar, Naruto tidak bertanya-tanya lagi. digandengnya Hinata erat-erat dan dibimbingnya istrinya itu ke dalam. Hinata sudah tak mampu berbicara, tapi Naruto beberapa kali berhenti untuk menyapa para tamu. Orang yang hanya melihat sekilas tentu mengira mereka sekadar mengecek keadaan seperti umumnya tuan dan nyonya rumah, tapi sorot mata Naruto yang liar tak luput dari pengamatan Shion. Hinata bersorak dalam hati melihat gadis itu mengernyit.

Naruto membawa Hinata ke ruang kerjanya, dan setibanya di sana, ia langsung melepaskan gandengannya. Ditatapnya Hinata dengan tenang seperti hakim yang menghadapi terdakwa.

" Well, Hinata?"

Hinata sadar Naruto tidak akan membuat keadaan lebih mudah baginya. Ia menelan ludah.

"Katamu tadi, kau ingin bicara denganku," ujar Naruto dingin.

Naruto sepertinya ingin memberi kesan bahwa ia tidak punya banyak waktu, atau kesabaran. Hinata membulatkan tekadnya. Ia tak bisa mundur lagi sekarang.

Dengan gaya santai Hinata berjalan ke pintu dan menguncinya. Kunci dicabutnya dan diletakkannya di meja kerja Naruto.

Naruto mengangkat alisnya tanpa berkata apa-apa.

Hinata menimbang-nimbang langkah selanjutnya. Dalam situasi yang sama, beberapa wanita mungkin akan mulai melucuti pakaiannya sendiri dengan gaya merangsang. Ide itu segera disingkirkannya. Jantungnya berdebar begitu keras dan tangannya bergetar begitu hebat sehingga ia hanya bisa melakukan satu hal. Ia mendekati Naruto, berjinjit, melingkarkan lengan ke lehernya, dan menciumnya.

Pertama-tama Naruto sepertinya akan menolak. Namun keragu-raguannya itu hanya berlangsung selama sepersekian detik. Selanjutnya pria itu membalas ciumannya dengan begitu manis dan provokatif sehingga Hinata nyaris meleleh.

Malu-malu tapi mau, lidah mereka berkenalan lagi, seakan-akan baru pertama kali itu mereka berciuman. Dan dari satu segi, mungkin memang begitu, pikir Hinata. Karena dalam ciuman itu terkandung rasa saling pengertian yang baru--yang lahir dari kebutuhan yang sama--kejujuran, dan dari pihak Hinata setidaknya, komitmen. Bukan cuma komitmen bahwa nanti malam ia akan tidur seranjang dengan Naruto, tapi lebih dalam dari itu. Ia bertekad akan sungguh-sungguh mengusahakan agar pernikahannya berhasil. Dan siapa tahu apa yang akan terjadi, bila mereka berdua sama-sama berusaha?

Hinata semakin terhanyut dalam permainan asmara yang menggebu-gebu. Dan bak dihempaskan dengan kejam ketika Naruto mengangkat kepalanya. dan menatapnya dengan pandangan menyesal. "Hinata," katanya pura-pura serius. "Kau sangat sangat cantik, dan aku sangat sangat menginginkanmu, tapi kurasa lebih baik urusan ini ditunda dulu, atau aku tak akan bisa kembali ke tamu-tamu dalam keadaan pantas."

Sebagai jawaban, Hinata malah mengetatkan rangkulannya dan menyerang dengan lebih agresif.

"Hinata," kata Naruto terengah-engah," kau sadar apa yang akan terjadi bila kau tak berhenti..." "Ya."

"Sebentar lagi aku harus..."

"Tapi kau tak perlu melakukan apa-apa, Naruto, aku yang akan memberimu kepuasan," kata Hinata seolah-olah ingin menghancurkan semua kontrol diri Naruto, dan itu sungguh-sungguh dilakukannya.

"Kenapa kau tertawa?" tanyanya beberapa saat kemudian.

Naruto mengangkat dagu Hinata dan menatap matanya, mulutnya berkerut sensual. "Baru kali ini aku diperkosa oleh seorang wanita."

"Kau suka?" bisiknya, berjinjit untuk mengecup leher Naruto. Ia takut kalau Naruto terlalu lama memandangnya, sorot matanya akan membocorkan isi hatinya.

"Menurutmu bagaimana?"

"Mau lagi?"

Naruto menarik dirinya dengan hati-hati. "Nanti saja, kau penggoda cantik." Naruto mengamatinya dari atas ke bawah ketika Hinata mencoba memperbaiki pakaiannya.

"Penampilanmu cukup normal, mengingat...Tapi pipimu agak merah dan matamu terlalu terang. Kau wanita yang menakjubkan, Hinata." Ia meraih sebelah tangan Hinata dan mengecupnya lembut, sehingga hati Hinata berdenyut-denyut penuh cinta.

"Oh, Naruto," katanya dengan tolol, nyaris tak mampu menguasai dirinya.

"Kita sebaiknya kembali ke tamu-tamu. Kita bicara nanti saja."

"Aku harus ke kamar mandi dan membersihkan badan dulu."

"Jangan." Naruto membungkuk dan mengecupnya sekilas. "Biar saja begini, supaya setiap kali aku melihatmu, aku bisa mengingat apa yang baru saja kita lakukan, dan membayangkan apa yang akan kulakukan begitu semua orang sudah pulang."

Naruto membuka pintu, dan menggandeng Hinata kembali ke pesta.

TO BE CONTINUE