Part Time Father
Disclaimer By Masashi Kishimoto's
Uzumaki Naruto X Hyuuga Hinata
Gendre : Drama/Romance/Hurt/Comfort
M
WARNING
AU,ACC,TYPOS,REMAKE,Etc
(FF ini remake dari sebuah novel Herlequin dengan judul yang sama karangam Sharon Kendrick.)
Chapter 12
"JADI, apa yang menyebabkan semua itu?" Naruto bertanya saat Hinata menuruni tangga. Rok panjang sutranya masih agak lecek, dan Hinata bertanya-tanya apakah orang-orang tadi memperhatikannya.
Semua tamu sudah pulang, sisa-sisa pesta sudah dibereskan, para pelayan pun sudah pergi. Hinata baru saja dari atas untuk menengok Himawari, dan sekarang ia akan bergabung dengan Naruto untuk minum-minum. Seandainya ia boleh memilih, Hinata tidak akan mau duduk-duduk bersama Naruto dan menganalisis tindakannya yang gila-gilaan. Kalau dipikir-pikir, ia memang nekat, merayu Naruto di tengah-tengah pesta begitu.
Hinata duduk di seberang Naruto dan dengan enggan membalas tatapannya.
"Dan jangan bersikap pura-pura bodoh, sebab kau tahu betul bahwa yang kumaksud adalah adegan beberapa jam lalu yang sampal sekarang pun masih kau..."
"Naruto, sudahlah," Hinata memohon, namun Naruto tak memberinya ampun.
"Tidak pada tempatnya kau bersikap malu-malu kucing, Hinata," katanya sambil menatap Hinata dengan penuh selidik. "Terus terang, aku senang kau mengambil inisiatif." Naruto berdiri dan menuangkan dua gelas calvado, yang segelas diserahkannya kepada Hinata. "Nah, sekali lagi, apa yang menyebabkan semua itu?"
Ia harus jujur, Hinata memutuskan. Tidak seratus persen, tapi sejujur mungkin sejauh hubungan mereka mengizinkan. Hinata tahu ia harus tetap merahasiakan perasaan cintanya terhadap Naruto, sebab cinta yang tak berbalas itu pasti akan menghancurkan hubungan mereka yang memang sudah rapuh. Namun tak ada salahnya ia memberitahu Naruto soal Shizuka.
"Aku bicara dengan Shion," Hinata menjelaskan dengan nada datar. "Atau tepatnya... Shion yang bicara denganku."
Naruto menyesap minumannya. Mata Birunya menatap dingin. "Oh?"
"Ya." Hinata berusaha berbicara dengan lebih ceria. "Shion mengungkapkan padaku... banyak hal."
"Bisa kausebutkan satu per satu?"
"Yah, pokoknya intinya adalah bahwa dia menghendakimu. Dan bahwa kita tidak kelihatan seperti suami-istri. Kemudian aku ingat kau pernah mengatakan, kau tidak mau berselibat, maka aku lalu mengambil tindakan,"
Sorot mata Naruto semakin suram dan beku. "Maksudmu..merayuku? Supaya Shion tak bisa menjeratku? Kaupikir aku hak milikmu, Hinata?"
Hinata menatap Naruto dengan kesal dan bingung. " Well, itu yang kau mau, bukan?"
Naruto bangkit dan berjalan mendekatinya. Wajahnya keras dan tanpa senyum. "Ya," katanya dengan nada yang berbeda, yang sama sekali tidak disukai Hinata. "Itu yang aku mau."
Hinata terpana ketika Naruto mengambil gelas dari tangannya dan meletakkannya di meja, lebih-lebih lagi ketika Naruto tiba-tiba menyautnya dan membopongnya ke lantai atas.
Di kamar tidurnya, Naruto tanpa banyak cakap lagi langsung melucuti pakaiannya. Satu demi satu dan tanpa ampun dilepaskannya pakaian-pakaian itu, seakan-akan ia ingin menegakkan kembali otoritasnya setelah dalam percintaan sebelumnya dikalahkán oleh Hinata. Ia mencumbui Hinata sedemikian rupa sehingga Hinata nyaris meledak menahan gairahnya. Kenikmatan dan keputusasaan bersama-sama mendera Hinata sehingga pada saat tubuhnya menyatu dengan tubuh Naruto, ia pun langsung mencapai klimaks dan air matanya turun tanpa dapat dibendung.
Naruto menghentikan gerakannya dan kemudian memeluk Hinata dengan lembut. "Maaf," bisiknya di telinga Hinata.
Hinata merasa semakin sëdih dan pilu. "Untuk apa?" tanyanya lirih.
"Untuk hukuman yang selalu saja ingin kujatuhkan padamu," kata Naruto dengan pedih. Hinata memeluk Naruto erat-erat, sementara hatinya menjerit mendambakan cinta yang tak bisa diberikan Naruto.
"Aku sama sekali tak keberatan dihukum dengan cara seperti ini," bisik Hinata, saat Naruto melanjutkan gerakannya dan membawanya terbang ke langit ketujuh.
Setelahnya, Naruto mendengar Hinata mendesah pelan.
"Ada apa?"
"Kau membuatku merasa..."
"Ya?"
Hinata tahu ia hanya bisa memperlihatkan secuil saja dari perasaannya terhadap Naruto. "Begitu tak berdaya, ketika kau mencumbuiku."
"Apakah kaupikir perasaanku tidak begitu?" tanya Naruto dengan garang. "Aku pun mengalami hal yang sama."
Mereka berdua kemudian tertidur, kecapekan, namun ketika Hinata terbangun beberapa jam kemudian, Naruto sudah tak ada di sampingnya.
Setelah kejadian itu, hubungan mereka menjadi sangat berbeda. Lebih baik, namun tidak sempurna.
Dari luar, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Sepulang kerja Naruto bermain-main dengan Himawari. Kemudian, setelah Himawari disusui dan dimandikan, ia dan Hinata makan malam bersama-sama. Pada akhir-akhir pekan, bila cuaca baik, mereka mengajak Himawari ke kebun binatang atau ke taman, meskipun Himawari mungkin belum terlalu mengerti. Pada hari-hari hujan mereka berjalan-jalan ke museum.
Dan pada malam hari, Naruto bercinta dengan Hinata di tempat tidurnya yang besar. Percintaan mereka sangat indah, namun Hinata tak pernah menemukan Naruto di sisinya bila ia terbangun di pagi hari.
Sejujurnya, Naruto masih merupakan teka-teki bagi Hinata. Ia tak pernah mengerti bagaimana sebenarnya jalan pikiran Naruto. Tadinya ia membayangkan, keintiman mereka di tempat tidur akan membuat mereka lebih akrab, namun nyatanya, Naruto malah semakin menjaga jarak.
Herannya, Hinata sendiri sekarang sudah bisa menerima nasibnya. Ia sadar Naruto tak mungkin mencintainya seperti ia mencintai pria itu, namun ia bersyukur atas apa yang dimilikinya dan tak mau berharap muluk-muluk. Setidak-tidaknya, ia mempunyai Himawari, dan ia sangat menikmati perannya sebagai ibu.
Sampai pada suatu malam, ketika dunianya serasa akan runtuh.
Naruto baru saja kembali dari Tokyo, setelah pergi beberapa hari, dan Hinata sudah sangat rindu padanya.
Mereka berdua hampir-hampir tak dapat menelan makan malam mereka, sebab selera mereka bukan pada makanan. Mereka masuk ke kamar lebih awal dari biasanya, dan Hinata dengan tak sabar segera mencopoti pakaian Naruto. Semangat Hinata rupanya menulari Naruto, dan ia pun membalas serangannya dengan sama panasnya. Mereka bercinta dengan begitu mengesankan sehingga jauh melebihi yáng sudah-sudah, padahal rasanya itu tak mungkin.
Sesudahnya, Hinata enggan melepas Naruto. Ia memang tak pernah bertanya kenapa Naruto selalu meninggalkannya setelah mereka bercinta, namun dalam hati ia menduga bahwa Naruto tak mau tidur seranjang dengannya sebab keintiman total seperti itu terlalu berat bagi Naruto.
Tapi kali ini, saat Naruto akan melepaskan diri dari pelukannya, Hinata menggeleng.
"Tinggallah di sini," bisiknya dengan mengantuk.
Yang diidam-idamkan Hinata adalah kedekatan batin ketika mereka berdua tidur sambil berpelukan. Tapi Naruto salah mengerti, dan mengira Hinata mengajaknya bercinta lagi. Hinata merasa sangat kecewa, namun perasaan itu segera terlupakan ketika getar-getar kenikmatan mulai merasukinya lagi.
"Berpura-puralah untukku, Hinata," kata Naruto sesaat sebelum mereka menuntaskan hubungan itu.
Dalam bercinta Naruto selalu penuh imajinasi, karena itu Hinata mengira permintaannya itu berhubungan dengan urusan seks. "Boleh-boleh saja," gumam Hinata sambil mengecupi leher Naruto. "Kau ingin aku bagaimana?"
Sejenak tak ada jawaban. Kemudian, dengan nada yang sangat aneh, Naruto berkata, "Berpura-puralah bahwa kau mencintaiku, hanya untuk malam ini."
Hinata terkejut dan ngeri. Tubuhnya langsung menegang.
Permainan apa yang sedang dilakukan Naruto? Apakah Naruto mempunyai dugaan tentang perasaannya yang sebenarnya? Dan apakah Naruto berniat meyiksanya dengan menggunakan cintanya yang tak berbalas itu sebagai senjata?
Melihat reaksi Hinata, Naruto dengan kasar melepaskan pelukannya. Ia berguling ke sisi tempat tidur dan mulai mengenakan celananya.
"Aku ingin cerai," katanya tiba-tiba, dan Hinata hampir pingsan mendengarnya. Dari dulu ia sudah tahu bahwa cintanya kepada Naruto akan dilecehkan.,
tapi ia tak pernah menduga cinta itù akan membuat Naruto sedemikian muak sehingga pria itu sampai ingin menceraikannya.
"Apa?" bisiknya dengan suara bergaung.
"Kau sudah dengar. Aku ingin cerai." Naruto berbalik dan melihat wajah Hinata yang muram. "Oh, jangan kuatir. Kau akan kuberi tunjangan yang sangat besar."
Hati Hinata mencelos. Jadi Shion memang benar. Dia sudah bilang bahwa Naruto akan kembali padanya. Apa katanya waktu itu? Bahwa peluang Naruto untuk memperoleh Himawari lebih besar bila ia menikahinya secara resmi? "Tapi bagaimana dengan Hima?" tanyanya cepat-cepat. Melihat Naruto mengerutkan dahi, ia buru-buru menambahkan, "Apakah kau akan mengambilnya dariku?"
Sorot mata Naruto mengeras. "Oh, jangan takut, aku tak akan meminta hak asuh atas Hima. Aku memang tak pernah bermaksud merebutnya darimu... itu cuma taktik."
Hinata bingung."Taktik apa?"
"Tapi aku tak ingin putus hubungan dengan Hima. Aku akan sering-sering menemuinya," Naruto melanjutkan.
Hinata mengangguk seperti robot. "Tentu saja," katanya mantap, meskipun hatinya tercabik-cabik menjadi ribuan serpihan. Namun ada satu hal yang harus diketahuinya. "Apakah ada orang lain?" tanyanya tenang, heran sendiri bahwa ia bersikap setenang itu dalam situasi begini.
"Apa?"
"Yang ingin... kaunikahi?" Suaranya mulai bergetar.
Naruto mendengus dengan tak sabar. "Tidak, Hinata, tidak ada orang lain."
"Kalau begitu..." Hinata menelan ludah dengan susah payah, sementara Naruto mengerutkan dahi. "Maukah kau menjelaskan alasannya?"
Naruto menatapnya dengan jengkel, seakan-akan pertanyaannya itu sangat tolol. "Kau memutarbalikkan fakta ya?" tanyanya sinis. Menggelengkan kepala seakan-akan menyerah, Naruto berkata dengan suara rendah, " Well, kenapa tidak? Mungkin kau pantas menikmati saat kemenanganmu."
Saat kemenangan? Apa gerangan maksud Naruto? Hinata merasa semakin bingung, namun di lain pihak ia justru bersyukur sebab otaknya yang kacau itu membuatnya tak dapat berpikir tentang kenyataan pahit ini. Naruto berniat menceraikannya!
"Aku ingin cerai," kata Naruto perlahan-lahan, seakan-akan fakta itu baru disadarinya, "karena aku tak sanggup lagi hidup dalam pernikahan seperti ini."
Hinata menatap Naruto dengan pandangan kosong. "Oh. Aku mengerti."
"Tadinya kupikir pernikahan ini bisa berhasil, Aku berharap...Oh, sudahlah! Tak ada gunanya mengungkit-ungkit yang sudah lewat."
Hinata mencoba menabahkan hati. Bersikap tenang supaya dirinya jangan semakin dilecehkan. "Aku mengerti--sungguh, aku benar-benar mengerti. Kurasa.." Ia ragu-ragu sejenak. "Kita butuh cinta untuk membina pernikahan yang langgeng."
Naruto tersenyum dingin."Tepat sekali." Ia meninggalkan kamar Hinata tanpa berkata apa-apa lagi.
Sejenak Hinata berbaring di ranjang dengan hati merana, merasa lega ketika mendengar tangis Himawari. Setidak-tidaknya, menyusui bayi itu akan membuat pikirannya beralih dari masalah yang sedang dihadapinya.
Setelah selesai menyusui Himawari dan mengganti pakaiannya, Hinata bermaksud kembali ke kamarnya. Namun suara-suara berisik dari arah kamar Naruto membawa kakinya melangkah ke kamar itu. Hinata membuka pintu dan menjulurkan kepalanya ke dalam. Naruto ternyata sedang membukai laci-laci dan lemari dan melemparkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.
Naruto menatapnya dengan berang."Keluar!" usirnya.
"Kau sedang apa?"
"Masa kau tidak bisa melihatnya sendiri?"
"Kau mau ke mana? Kau kan baru pulang."
"Aku mau pindah ke hotel," sahut Naruto dengan! ganas. "Jadi tolong tinggalkan aku supaya aku bisa mengemasi barang-barangku."
"Kau tidak perlu pindah ke hotel."
"Tentu saja perlu, sialan!"
"Tapi aku dan Hima bisa kembali ke rumahku besok..." Hinata tak melanjutkan kalimatnya ketika melihat ekspresi Naruto yang semakin mengancam.
"Hatimu terbuat dari batu ya? Kaukira akų. akan senang tinggal di sini setelah kau pergi?"
Maksud Naruto, tentu saja, setelah Himawari pergi. "Kau harus membiasakan diri," katanya, terpukul sebab yang dipikirkan Naruto hanya Himawari.
"Jangan coba-coba menghiburku!" kata Naruto mengertakkan gigi. "Dan enyahlah dari sini. Kalau aku mau tinggal di hotel, aku tak perlu minta izin padamu."
Tekad Hinata untuk bersikap tabah mendadak sirna, ditelan gelombang kecemburuan yang melenyapkan semua akal sehatnya. "Kenapa?" tanyanya dengan nada menantang. "Supaya kau bisa menemui Shion di sana? Malam ini?"
Naruto melotot, ekspresinya seperti mau membunuhnya. "Apakah kaupikir, dari tempat tidurmu aku akan langsung melompat ke pelukan Shion?"
" Well, setiap malam kan kau dengan tak sabar selalu melompat keluar dari kamarku, kenapa aku tak boleh berpikir begitu?"
"Karena aku tidak tertarik pada Shion--aku tak pernah menaruh minat padanya!"
"Shion tidak berpikir begitu!"
"Shion dan pikirannya yang kacau-balau tak ada sangkut pautnya denganku, jadi, Hinata, kembalilah ke kamarmu dan jangan menggangguku lagi!"
"Kau bajingan sialan, angkuh, sombong, menyebal-kan!" Hinata memuntahkan unek-uneknya. Tanpa dapat menahan diri lagi dipukulinya lengan Naruto.
Naruto tidak bergerak ataupun bereaksi. Ia tetap berdiri tegak dengan tatapan melecehkan."Rasanya kita sudah sepakat untuk bersikap jujur,bukan? Kalau, seks yang kaucari, Hinata, bilang saja terus terang.."
Tangis Hinata meledak. Ia berlari ke kamarnya sendiri dan menjatuhkan diri ke tempat tidur, menangis tersedu-sedu sambil menelungkup di atas bantal.
"Maaf," suara berat Naruto terdengar dari ambang pintu.
"Pergi kau!"
"Kelihatannya aku selalu saja membuatmu susah...".
"Jadi, kenapa kau melakukannya?" Hinata terisak keras.
"Kau tahu sebabnya."
"Tidak, aku tidak tahu."
"Karena kita selalu melukai orang yang kita cintai," jawab Naruto dengan getir. Hinata tersentak. Ia bangkit duduk dan dengan mata sembap menatap Naruto.
"Jangan pernah bilang begitu padaku, Naruto. Hinalah aku, kalau kau mau, tapi jangan pernah berdusta. Tidak tentang hal itu."
Naruto tertawa pahit. "Oh, kalau saja itu dusta, Hinata. Betapa lancarnya hidupku seandainya aku. tidak kebetulan ketiban sial dan jatuh cinta padamu."
Hinata terlongong-longong. "Kau ini bicara apa?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Hidupku jadi seperti di neraka, sejak aku pertama kali bertemu denganmu." Naruto tersenyum aneh. "Coba kaupikir, bagaimana perasaan seorang pria yang bertemu dengan tunangan adiknya dan langsung menyadari bahwa ia menginginkan wanita itu?"
"Apa?"
"Oh, aku mencoba melawan perasaan itu. Dan aku berhasil... selama kurang-lebih sepuluh detik. Kemudian aku menciummu."
Rona merah menjalari pipi Hinata yang pucat, ketika ia teringat ciuman pertama yang sungguh menggairahkan itu, masih begitu jelas meskipun sudah berlalu sekian lama.
"Melihat responsmu waktu itu, timbullah kecemburuan dan keegoisanku. Aku tak sanggup membayangkan kau mencium pria lain--ataupun adikku--dengan cara seperti itu."
Penderitaan yang terbayang di wajah Naruto sungguh sulit digambarkan. "Tapi aku tak pernah mencium pria lain dengan cara seperti itu," kata Hinata. "Hanya kau."
Naruto mengaingguk. "Oh ya, itu kusadari sekarang. Masalahnya, baru belakangan aku mengerti dan bisa menerima bahwa daya tarik fisik yang ada di antara kita--meskipun sangat kuat dan mengherankan--ternyata tak ada hubungannya dengan cinta. Setidaknya, tidak dari pihakmu."
Hinata terpana. Diam-diam dicubitnya tangannya, kuatir semua ini hanya mimpi.
"Tak mungkin kubiarkan kau menikah dengan Menma. Itulah sebabnya aku menawarimu uang. Ketika kau menerimanya, aku merasa senang sekaligus kecewa. Kekuatiranku terbukti, wanita yang kucintai ternyata mata duitan. Meskipun demikian, aku bersumpah, suatu saat aku akan menjadikannya milikku."
Hebat! Melihat Naruto sepertinya akan berhenti, Hinata segera berkata, "Teruskan."
Naruto tertawa sumbang."Kenapa tidak? Seperti kukatakan tadi, mungkin kau pantas mengetahui hal. yang sebenarnya. Sampai di mana aku tadi?"
"Kau bersumpah..," kata-kata yang begitu didambakannya itu ternyata sangat sulit diucapkan, "akan menjadikan aku milikmu."
"Ya." Hati Hinata yang sudah melambung mendadak terbanting kembali ketika Naruto menambahkan, "Oh, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa hanya tubuhmu yang kuinginkan." Bagus!
"Tentu saja, aku tak mungkin mendekatimu sebelum Menma mendapatkan pacar baru. Aku tak ingin membuat adikku semakin terpukul. Sesuai dengan dugaanku, Menma akhirnya mendapatkan pasangan yang cocok untuknya, Matsuri, yang jauh lebih serasi dengannya daripada kau."
"Aku sudah merencanakan untuk pergi ke Tokyo menemuimu, setelah dari Paris, tapi nasib rupanya menentukan lain. Di Brockbank House kau kudapati sedang membersihkan lantai menggantikan Kaa-san yang kakinya terkilir. Melihatmu waktu itu, sadarlah aku bahwa selama itu aku telah menipu diri sendiri. Yang kuinginkan bukan cuma tubuhmu, tapi kesluruhan pribadimu.
"Akulah yang mengusulkan agar Menma dan kekasihnya mengadakan pesta pertunangan, sebab aku ingin kita berjumpa dalam acara sosial. Aku berniat untuk mendekatimu, mengejarmu. Aku jelas tidak merencanakan untuk langsung membawamu ke tempat tidur..." Suara Naruto melemah, seolah-olah ia menyesali diri. "Ketika itu terjadi, aku merasa sangat bahagia, seolah-olah aku telah menemukan surga. Tapi kulihat reaksimu malah sebaliknya. Kau dengan diam-diam akan menyelinap pergi, ekspresimu begitu jijik sehingga aku dapat melihat dengan jelas bagaimana perasaanmu tentang kejadian sebelumnya."
Hinata mengerjap-ngerjapkan mata. Apakah semua ini bukan mimpi yang menjadi kenyataan, tapi realitas yang selama ini tak disadarinya?
"Naruto," katanya lembut.
"Apa?" tanyanya bengis.
"Aku mencintaimu."
Tubuh Naruto mengejang, tatapannya menembus ke lubuk hati Hinata.
"Kau tahu kenapa aku tampak jijik waktu itu? Aku malu pada diriku sendiri. Sebagai gadis yang masih lugu, kok bisa-bisanya responsku begitu panas terhadapmu. Aku takut kau akan merendahkan aku."
Kerut-kerut di dahi Naruto semakin dalam, sehingga alisnya yang lebat nyaris bersatu dengan rambutnya. "Bagaimana aku bisa merendahkanmu? Kau membuat semua impianku menjadi kenyataan." Matanya menyipit. "Bisakah kau ulangi apa yang kupikir kau katakan barusan?"
Hinata tersenyum, kebahagiaannya meluap-luap. "Aku mencintaimu, baka--sudah dari dulu-dulu. Dan hal ini pasti sudah kukatakan padamu kalau saja kau bersikap lebih manis padaku. Tapi selama ini sikapmu begitu dingin sehingga aku mengira kau membenciku."
Entah apa yang membuat Naruto mempercayai kata-katanya--mungkin sorot matanya, atau barangkali nada suaranya? Hinata tak pernah tahu.Tapi kapan tepatnya. Naruto percaya, Hinata tahu, sebab bibir Naruto perlahan-lahan merekah membentuk senyum lebar yang tak pernah dilihatnya. "Membencimu?" erang Naruto. "Mana mungkin? Oh, Hime, sayangku Hinata."
Mereka berdua bergerak bersamaan, dan dalam sekejap, sudah berpelukan, berciuman, berkata-kata dalam kalimat-kalimat yang tidak selesai, semuanya dimulai dengan darling dan sweetheart.
Mereka berangkulan erat dan bertatapan lama, seakan-akan tak ingin melepaskan diri lagi untuk selama-lamanya.
"Kaukira, kenapa aku mau menerima uangmu yang brengsek itu?" tanya Hinata kesal. "Karena kupikir kau membenciku, sementara aku sangat mencintaimu. Kupikir, bila aku bisa membuatmu yakin bahwa aku hanyalah pemburu harta yang mata duitan, kau takkan sudi menjumpaiku lagi!"
"Itu ibaratnya," kata Naruto sambil cengar-cengir, "orang berhasil mencapai puncak Mount Everest dan tidak merasa bangga akan prestasinya!"
"Kau pandai beramsal," kata Hinata penuh kekaguman. "Barangkali kau perlu menulis buku tentang itu."
"Kau juga satu-satunya wanita yang membuatku begitu mabuk kepayang sehingga urusan kontrasepsi sama sekali tak terpikirkan olehku."
"Bahkan Shion tidak bisa membuatmu begitu?" tanya Hinata penasaran.
Naruto menindihnya begitu keras sehingga Hinata hampir tak dapat bernapas. "Dengar," katanya dengan sangat serius. "Hubungan asmaraku dengan Shion hanya ada dalam kepalanya sendiri."
"Jangan bilang bahwa kau tak mungkin punya hubungan dengannya?"
"Tentu saja aku bisa. Aku bisa saja punya hubungan dengan banyak wanita. Tapi masalahnya, aku tidak mau."
Hinata menyipitkan matanya. "Sungguh? Kau sama sekali tidak berhubungan dengan wanita?"
"Tidak sejak aku berkenalan denganmu."
"Bagaimana kalau aku tidak hamil dan melahirkan Hima?"
"Aku akan mencari cara lain untuk memaksamu menikah denganku."
"Oh ya? Cara apa?"
"Pokoknya ada deh," kata Naruto dengan penuh percaya diri. "Soalnya aku sudah yakin bahwa kau jodohku. Dan aku benar, kan?"
"Apakah kau selalu seyakin ini?" tanya Hinata dengan setengah melamun.
"Begitulah. Tapi dalam satu hal aku ternyata keliru, sangat sangat keliru. Tadinya kupikir kita bisa bahagia, meskipun kau tidak mencintaiku, tapi nyatanya aku sangat tersiksa, dan aku bersumpah tidak akan tidur seranjang denganmu sampai kau bilang bahwa kau mencintaiku."
"Kalau begitu malam ini saatnya," gumam Hinata dengan mata berbinar. Kemudian ia ingat apa yang telah terjadi selama ini dan tubuhnya gemetaran, "Naruto, nyaris saja kita kehilangan semua ini," bisiknya serius.
"Jangan teruskan," pinta Naruto, mengecupnya dengan kelembutan yang selama ini hanya ada dalam angan-angan Hinata.
Tak lama lagi mereka akan bercinta, dan kali ini, tak ada yang perlu ditahan-tahan atau ditutupi-tutupi. Kebahagiaan yang terbentang di depan mereka membuat mereka nyaris tak berani memikirkannya, dan mereka sama-sama tersenyum lebar.
"Aku cinta padamu," bisik mereka, pada saat yang bersamaan.
THE END.
Akhirnyaaa Selesai!!!..
Makasih buat kalian yang sudah menunggu berabad2 lamanya.. beribu2 maaf dariku..
serius, akun ini sempet ilang bertahun2, mungkin efek ganti Hp dulu dan data d laptop jga sempet ilang semua.. jdi bener2 gak ada jejaknya.. dan entah kmrn tbtb liat2 buku catatan lama trus ada alamat email pas d aktifin uwooo ada notif FF.. luarbiasannya ternyata bisa d ganti PS lwt email jdi alhasil ngubek2 koleksi novel2 lama dan ngebut nulis sisa chapter modal Hp aja... Sekali lagi Maaf dan makasih buat semua..!! akhirnya lega juga bisa namatin Part Time Father...!!! TT
