Enyahlah Saingan!
Part 8
Seoul, Korea selatan.
"Kankuro apa kau tahu di mana adik bungsu kita tersayang?" Sabaku Temari, salah satu dari tiga pewaris Suna Corps menyilangkan tangan di Dada, tatapan tajamnya tertuju pada pria bertubuh kekar yang sedang santai berselonjor di sofa.
"Mana aku tahu, Apa kau sudah coba menghubunginya?"
"Kalau dia bisa kuhubungi, Aku tak akan pergi jauh-jauh ke sarang bujanganmu ini. Anak itu mengabaikan semua pesanku. Ponselnya mati. Ia juga tidak ada di kantor padahal biasanya dia selalu bekerja meski ini akhir pekan."
"Coba cari di tempat nongkrongnya atau kau tanya saja pada kekasihnya." Jawab Kankuro tak acuh. Siapa yang tak kenal Gaara. Seluruh tempat hiburan di Seoul menjadikannya pelanggan VIP.
"Kekasihnya yang mana? Gaara tak pernah menyimpan wanita lebih dari satu malam." Ujar Temari Gusar. Sebagai saudara Temari sering mempertanyakan perilaku adik-adiknya. Terutama Gaara, Entah berapa kali ia harus membersihkan skandal yang dibuat oleh si adik bungsu. Gaara selalu berusaha mencoreng martabat ayahnya, selalu berusaha membuat masalah, menjadi pembangkang bahkan memutus hubungan keluarga yang membuat Temari menyuruh orang untuk mengintai Gaara. Ia sendiri tak pernah menyangka adiknya setuju kembali untuk mewarisi posisi sang ayah yang dia benci.
Bak sebuah keajaiban setelah tahun baru Gaara muncul begitu saja di rumah sakit untuk memaafkan sang ayah yang menurut dokter tak punya banyak waktu. Dia sendiri lega, Gaara mau kembali ke keluarga Sabaku karena memang Temari membutuhkan kecerdasan Gaara.
Sejak awal dia pasrah, Adiknya meninggalkan Seoul karena tak ingin diganggu. Temari mengira Gaara pulag karena mendapatkan pencerahan, tapi anehnya ia jadi sering melamun. Sesuatu yang Temari tahu adiknya tak pernah lakukan.
Entah apa yang terjadi di sana, semua itu di luar jangkauan informannya. Yang jelas ia jadi semakin tak tenang, curiga ada sesuatu yang aneh dengan tindak-tanduk Gaara, Dia menjadi terlalu tenang, terlalu melankolis, tak seperti anak urakan penggemar pesta dan penakluk wanita. Bahkan teman-teman wanita Gaara mengeluh padanya karena sang adik menolak tawaran tidur bersama.
Awalnya Temari merasa senang Gaara bertobat, menyingkirkan hal yang tak penting dan fokus dengan pekerjaan, tapi saat ini dia mulai cemas. Seseorang tidak berubah dengan drastis tanpa ada alasan. Baru kemarin malam Gaara bekerja dengan giat dan sekarang malah menghilang dengan tak bertanggung jawab. Ini tidak benar. Apa jangan-jangan Gaara ingin merugikan perusahaan dari dalam?
"Kankuro bantu aku!, Aku harus menemukan Gaara sebelum hari senin."
Kankuro merasa terganggu. Gaara lelaki dewasa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri dan ia yakin adiknya cuma pergi untuk bersenang-senang dan tak ingin diganggu.
"Cari saja sendiri. Kau punya kekuatan untuk mengobok-obok seisi Seoul Temari. Gaara juga butuh healing setelah bekerja dengan keras semenjak dia kembali."
"Kau ini tak membantu sama sekali." Temari berdecih dan meninggalkan rumah Kankuro.
Setelah beberapa jam bertanya ke sana ke mari dan mengintimidasi personal asisten adiknya, Akhirnya Temari menemukan petunjuk. Ia memerintahkan sekretarisnya menemukan tiket pesawat ke Tokyo secepatnya. .
14 Februari.
Hari ini hari valentine, Hari di mana Ia bisa menemukan hiasan berbentuk hati, warna pink dan pedagang coklat dengan mudahnya. Ini adalah hari di mana sepanjang jalan yang ia lalui ia menemukan pasangan-pasangan romantis sibuk bermesraan membuat para jomblo semakin nelangsa.
Yamanaka Ino melangkah dengan galau keluar dari apartemennya. Wajahnya pucat bukan karena ia banyak bekerja belakangan ini atau mengkhawatirkan status single nya. Dari kemarin kesehatannya memburuk, Awalnya hanya mual yang Ino duga sebagai gejala masuk angin karena cuaca amat dingin di pertengahan bulan februari, tapi kecemasannya meningkat tatkala ia mulai tak memiliki nafsu makan, merasa lemas dan muntah-muntah. Di tambah lagi ia merasa perutnya sedikit membesar dan haidnya tidak muncul tepat pada waktunya.
Gejala penyakitnya mirip dengan kehamilan dan Ino menjadi amat stres. Rasanya tak mungkin, tak mungkin sama sekali. Ia pun berjalan menuju apotik untuk membeli test kehamilan. Sembari berharap kecurigaannya tidak benar.
Ketika telah di rumah dan duduk berhadapan dengan alat tes kehamilan yang masih terbungkus rapi, Ino merasakan serangan panik. Pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat hidupnya berubah dengan drastis dan dia tak menyukainya.
Ino tak akan pernah siap untuk ini, punya anak tak pernah ada dalam benaknya. Jika dia hamil haruskah dia menghubungi Gaara.
Setelah tahun baru Ino memutus kontak dengan Gaara. Pernah ada panggilan dengan kode negara Korea menghubunginya tapi Ino tak mengangkat. Email dari lelaki itu pun dia hapus tanpa membaca karena Ino tak ingin mengingatnya atau merindukannya.
Jika ia bicara, apa Gaara akan percaya? Bagaimana bila lelaki itu bersikap skeptis? Dengan sejarah dan tingkah lakunya, lelaki mana yang akan percaya itu adalah anak mereka.
Ino tak pernah berhubungan dengan lelaki mana pun setelah Gaara pergi. ia tak punya hasrat, Libidonya seakan mati total. Padahal setiap kali ia pergi selalu ada lelaki tampan yang mendekatinya.
Tatapan Ino melekat pada test pack yang seharusnya ia pakai. Ino meraihnya dengan tangan gemetar. Ia tak punya keberanian. Rasa takut membayangi dua garis merah yang mungkin saja muncul.
Ino yang bingung dan tak tahu harus bagaimana akhirnya pergi ke tempat kerja Shikamaru. Selain Sakura, Sang bartender adalah teman curhatnya. Dia butuh dukungan moral untuk menggunakan test pack ini dan solusi jika dia positif hamil.
Duduk di depan meja bar Ino tertunduk menjelaskan kegundahannya pada laki-laki yang pernah dia kencani itu.
"Ino, Ketimbang kau panik akan sesuatu yang belum pasti. Kau tes saja dulu."
"...,tapi kalau aku betul-betul hamil bagaimana?"
"Kan ada banyak solusi, Kau bisa menjadi single parent, Kau bisa menghubungi Gaara meminta pertanggung jawaban."
"Kalau dia mengelak?"
"Ada tes DNA." Jawab Shikamaru ringan.
Wajah Ino masih memberengut dengan jawaban-jawaban yang dilontarkan Shikamaru. Ia tak puas, karena satu ia tak mau mengorbankan karier yang sedang di puncak-puncaknya. Dua, Ia tak mau terlibat dengan Gaara. Bukan karena ia membenci lelaki itu, tapi lebih kepada rasa tak ingin bergantung pada suatu hal yang tak akan pernah bisa dia atur. Jika Gaara seperti dirinya, lelaki itu akan benci terikat dan Ino yakin anak hanya akan jadi penghalang kebebasan mereka.
"Kau masih terlihat resah. Dengar!, Kalau kau tak mau anak, Kau bisa aborsi. Tak akan ada yang menyalahkanmu."
"Aku akan merasa berdosa, Aku tak mau semua pilihan itu. Semuanya tidak enak."
"Kau kan sudah cukup besar untuk tahu konsekuensi seks bebas. Jika kau takut dosa. Bukankah berhubungan di luar ikatan perkawinan juga dosa? Lagi pula Ino kenapa juga kau bisa sampai kebobolan?"
"Aku tak pernah punya rencana bercinta dengan Gaara untuk kedua kalinya."
"Hah, Bercanda. Aku yang orang luar saja bisa merasakan pekatnya kefrustrasian kalian."
"Hei, Shika ini bukan saatnya membahas hubunganku dan Gaara yang tak nyata. Lebih baik kau bantu aku mencari solusi yang tak memerlukan banyak pengorbanan."
"Solusi apa? Masalahmu saja belum jelas. Ino, ketimbang berpikir ruwet, lebih baik kau pakai alat tes kehamilan itu dulu. Siapa tahu kau hanya salah makan." Komentar Shikamaru pada wanita yang hanya memesan segelas jus jeruk.
"Andai saja begitu, tapi aku punya firasat aku memang hamil. Ah kenapa aku begitu bodoh. Padahal selama ini aku selalu hati-hati."
"Apa mungkin karena kau mabuk cinta, Ino. Cinta membuat orang lupa daratan."
"Bukan, Aku hanya terlalu sangean."
"Yakin? Soalnya sudah sebulan ini kau tak lagi bermain-main dengan lelaki. Ada apa dengan dirimu yang katanya tak pernah memakai hati dan bangga mengganti laki-laki sesering mengganti celana dalam."
"Aku sibuk dan stres tak ada waktu untuk seks." Ino berkilah, tapi kenyataannya di setiap sudut yang ia lalui ia selalu mencari-cari lelaki berambut merah.
Shikamaru menghela nafas. Mengapa seseorang begitu tak mau mengakui emosinya sendiri. Hidup dalam penyangkalan yang hanya akan membawa sesal.
"Kau tahu, Kalau kau suka pada seseorang tunjukan saja. Bukan berarti kau lemah, tak ada gunanya bersikap dingin dan tak acuh. Secintanya lelaki pada wanita, mereka juga akan menyerah kalau diperlakukan dengan buruk. Kalau sudah begitu kau akan menyesal."
"Kau pikir Gaara menyukaiku?"
"Bukankah itu sudah jelas? Kalian berdua sama-sama bebal dengan perasaan sendiri. Hah.. merepotkan sekali. Kenapa aku jadi ikut campur urusanmu padahal aku hanya bartender."
Wanita berambut pirang itu terlihat melamun. Kekhawatiran semakin tergurat di wajah. Penyesalan. Satu kata dari Shikamaru bergema di benaknya.
Mungkin sebulan ini dia memang dilanda penyesalan. Dia tak bisa menghapus Gaara dari mimpi dan pikirannya, tapi Ia tetap yakin waktu akan membuatnya lupa.
Ino menghela nafas. Tidak, Ino takut jika ia menghubungi Gaara sekarang lelaki itu tak akan mengacuhkannya. Di mana dia akan meletakkan harga dirinya. .
Gaara kembali ke Tokyo hanya karena tindakan impulsif. Ia tak membawa apa-apa, cuma tas yang ia gunakan untuk bekerja dan baju yang menempel di badan. Ia tahu ini tindakan bodoh atau mungkin dia benar-benar sudah gila. Ino jelas-jelas memutus hubungan dan tak menginginkan apa pun darinya, tapi ia tetap datang. Mengapa? Karena ia masih dihantui, dia masih tak ingin menyerah. Mungkin ia butuh Ino menolaknya dengan tegas agar dia lega dan berhenti memikirkan wanita pirang itu.
Kepastian, ia ingin memastikan perasaan Ino padanya karena sekarang ia sudah yakin dengan apa yang dia rasakan. Gaara yakin feeling nya benar. Ada sesuatu yang spesial di antara mereka berdua.
Hari ini akhir pekan dan juga sudah petang. Akhirnya Gaara memutuskan menginap di hotel yang sama dan menghabiskan waktu di bar Shikamaru. Kali saja ia bisa mendengar tentang apa yang dilakukan Ino hampir dua bulan ini atau malah bertemu langsung dengan wanita yang sangat ia rindukan.
Tak disangka bertemu Ino ternyata begitu mudah. Saat memasuki Bar ia melihat wanita pirang itu berbicara dengan Shikamaru. Mendadak hatinya ciut. Bagaimana jika Ino pura-pura tak mengenalnya. Apa yang harus dia lakukan?
Shikamaru adalah orang pertama yang menyadari kemunculan Gaara. Ia memberi isyarat pada Ino untuk menengok ke pintu masuk
Setelah sebulan lebih Gaara akhirnya melihat Ino lagi. Wanita itu berwajah lesu dan ia hanya mengenakan jeans yang dipadukan dengan sweater. Bukan jenis pakaian yang akan digunakan untuk berburu lelaki.
Ino terdiam tidak menyapa bahkan membuang muka.
Gaara merasa seperti tertusuk, tapi ia tetap tak peduli pada sikap tak acuh Ino. Dengan santai ia memilih duduk di samping wanita itu. Seperti halnya saat pertama kali bertemu.
"Hello stranger!" Gaara menyapa lebih dahulu.
"Gaara. Kenapa kau di sini?"
"Oh, Kau mengingat namaku ternyata. Aku pikir kau selalu melupakan nama dan wajah lelaki yang tidur denganmu. Aku datang ke mari sama sepertimu, untuk minum alkohol."
"Jangan bercanda, Masa kau melintasi samudra hanya untuk mabuk-mabukan." "
"Seseorang yang terus aku pikirkan meski ia dengan kejamnya mengabaikan aku dan bahkan kabur tanpa mengucapkan selamat tinggal."
"Aku punya alasan." Jawab Ino.
"Ketakutanmu. Sampai kapan kau akan menghindar?"
Ino berdiri, "Aku tidak menghindarimu." Kemudian berjalan pergi.
Gaara meraih tangannya. "Kau memang menghindariku. Ino Yamanaka ternyata seorang pengecut."
"Aku tak punya urusan denganmu lagi dan aku juga tak mau berurusan denganmu. Lepaskan tanganku." Ujar Ino dengan ketus.
Mata pengunjung lainnya menatap mereka, tampak tertarik dengan suguhan drama. Merasa tidak enak Gaara melepaskan Ino, membiarkannya pergi. Dia amat sangat kecewa. Ini bukan reuni yang diharapkan. Apakah dia bodoh berpikir Ino menyukainya dan hanya takut untuk mengakui.
Shikamaru merasa simpati. Ia menuangkan whisky polos dan memberikannya pada Gaara yang terlihat murung.
"Aku sudah bilang dia berduri." Ujar Sang bartender.
"Yah, Seperti yang kau lihat. Playboy sepertiku pun bisa terluka." Gaara meraih gelas itu lalu menandaskan isinya dalam sekali teguk. Ia kecewa dan marah, serta frustrasi. Inikah rasanya patah hati? "Aku tak pernah menduga bisa jatuh cinta."
"Aku rasa Ino juga menyukaimu." Ungkap lelaki berkuncir itu.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu."
"Aku tak pernah melihatnya mencoba merayu lelaki di tempat ini. Dia juga tak menggubris rayuan dan undangan lelaki. Tiap saat ia duduk dan minum sambil menceritakan pekerjaan atau mengoceh hal-hal buruk tentang dirimu meski kau sudah pergi. Aku yakin kau punya harapan "
"Kau lihat bagaimana dia memperlakukanku tadi? Aku masih punya harga diri."
"Aku sadar bukan hakku untuk membicarakan ini dan masalah ini juga bukan urusanku, tapi aku rasa sebaiknya kau tahu tadi Ino bercerita ia khawatir kalau dia sedang hamil."
"Ino hamil?" Gaara terkejut.
Shikamaru mengoreksi, "Baru mengira dirinya sedang hamil, tapi belum terkonfirmasi."
"Sial, bisa jadi dia mengandung anakku. Kalau sudah begini dia tak bisa menyingkirkanku."
"Sebaiknya kalian bicara baik-baik." .
Ino berjalan mondar-mandir di apartemennya. Yang harus dia lakukan hanya pipis dan menanti apakah satu garis atau dua garis, tapi Ino merasa tak sanggup melakukannya. Kemunculan Gaara membuat suasana hatinya semakin runyam.
Tiba-tiba saja pintu apartemennya di gedor dengan keras. Gaara berteriak dari luar melupakan semua tata krama.
"Ino, Kau dan aku harus bicara. Buka pintunya."
Ino diam dalam abai. Menutup telinganya rapat-rapat.
"Jika benar kau mengandung anakku aku tak akan membiarkanmu lepas begitu saja. Ino aku tak akan diam dan jangan harap kau bisa menyingkirkanku." Gaara kembali berteriak dan Ino yakin tetangganya juga bisa mendengar. Sebelum salah satu dari tetangganya memutuskan memanggil polisi melaporkan adanya keributan. Ino akhirnya membuka pintu.
Ia menghadapi Gaara dengan berapi-api. Lelaki ini terus menerus melewati batas kesabarannya.
"Shikamaru yang memberitahumu?"
"Apa itu penting? Ino jawab apa benar kau hamil?" Gaara meletakkan kedua tangan di bahu Ino yang mungil. Bola mata mereka bertemu dan Ino masih tetap membisu otaknya mencari-cari jawaban yang tepat.
Tak sabar menunggu ia mengguncangkan tubuh Ino yang berdiri kaku oleh ketegangan.
"Ino apa kau hamil?" Gaara mengulang pertanyaannya.
"Aku tak tahu." Jawab Ino lirih "dan aku takut mencari tahu."
Gaara memeluk Ino yang tengah mengalami krisis batin. "Jangan panik oke, Kalau pun kau hamil kau tak akan melewati ini sendirian. Aku akan bertanggung jawab." Ia mengelus rambut Ino. "Aku bisa menikahimu jika kau mau, Jika kau tak ingin menikah aku bisa menerima jadi partnermu. Jika ternyata kau tak menyukai anak. Aku sendiri yang akan merawatnya bayinya. Ino apa pun keputusanmu. Aku tak akan membiarkanmu sendirian. Apa kau paham?"
"Mengapa kau kembali ke Tokyo?"
"Karena aku menyadari perasaanku dan butuh kepastian darimu. Aku mencintaimu Ino."
Ino mendengar ketulusan dari ucapan Gaara dan dia merasa malu karena menjadi pengecut. Benar ia takut, Ino pikir bisa melupakan Gaara. Ino mencoba meyakinkan ia tidak jatuh cinta, tapi ternyata membohongi hatinya
Ia menyandarkan dahi di dada lelaki itu. "Gaara, Aku tak ingin mengakui perasaan ini karena aku takut. Bagaimana bila suatu hari kau merasa bosan padaku. Bagaimana jika tiba-tiba kau terbangun dan berpikir kau tak membutuhkanku. Aku tak ingin memberikanmu senjata yang bisa kau gunakan untuk melukaiku."
"Mengapa kau begitu negatif? Tidakkah kau juga menimbang hal-hal menyenangkan yang bisa kita lakukan bersama?"
"Jika kau tumbuh di dunia yang tak adil dan semua orang berusaha menginjakmu bukankah sulit untuk melihat dunia dari lensa merah jambu? Aku pun dulunya pernah lugu."
"Aku bisa mengerti dirimu, kau yang memilih untuk bersembunyi dalam cangkangmu tak banyak berbeda dengan diriku, tapi Ino aku berada di sini karena aku mau mengambil risiko. Apa kau pikir aku tak takut kau menghancurkan hati yang baru saja aku temukan? Aku tak meminta banyak. Aku hanya ingin tahu apa aku punya kesempatan?"
Ketakutannya telah membuatnya berhenti melangkah mencari kebahagiaan sejati. Apa dia benar-benar puas dengan hidup yang dia jalani selama ini. Tidak, Ia hanya berpura-pura puas. Kekosongan dalam dirinya tak bisa ditambal dengan materi atau seks semata. Ia diam-diam mendambakan hubungan yang dalam penuh pengertian dan kepercayaan. Hubungan yang mungkin bisa ia miliki bersama Gaara.
Lelaki itu tetap mengulurkan tangan meski sudah melihat sebagian besar keburukannya. Ia masih mencarinya dan berkata akan mendukungnya meski Ino tidak mau.
"Gaara apakah kau rela membuang semua kebebasanmu hanya untuk berkomitmen dengan wanita bermasalah seperti diriku?"
"Aku pikir menghabiskan waktu bersamamu dengan atau tanpa seks lebih menyenangkan ketimbang foursome dengan para wanita yang tak menggugah hatiku. We always can go slow. No rush."
"Aku masih khawatir." Lanjut Ino.
"Aku akan berusaha membuatmu yakin. Kau tahu meski terlihat seperti ini. I am reliable and presistent. Apa kita punya harapan? I am willing to work hard."
Ino ingin menampol Gaara. Mengapa dia berbicara dengan begitu positif dan serasa mudah mencintai orang lain tanpa memikirkan hal buruknya. Melihat senyum dan binar di mata lelaki itu Ino merasa tak ingin menghancurkannya dengan kata-kata buruk. Dia sepertinya sudah luluh
"I think we have, tapi..."
"Ino, Aku tak ingin mendengar kata tapi. Apa kau menyukaiku?"
Ino mengangguk.
"Kalau begitu cium dong!"
Ino mendorong Gaara kesal. "Ini bukan saatnya. Ada hal yang lebih penting."
"Test pack? Apa aku perlu menemanimu ke kamar mandi?"
" Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau tahu aku merasa tegang. Bagaimana kau bisa begitu santai."
"Ehem, bukan aku yang akan mengandung selama sembilan bulan."
"Oh begitu, tadi kau bilang akan bertanggung jawab kan. Jika aku hamil, aku pastikan aku akan membuat hidupmu susah." Ino melempar ancaman sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Tak lama wanita itu kembali dengan merengut
"Positif atau negatif?" Tanya Gaara yang sebenarnya menyembunyikan kepanikan.
"Aku tak tahu ini baik atau buruk bagi kita. Lihat saja sendiri."
Ino menyerahkan alat tes yang baru dia gunakan.
"Ah, Ini... aku tak tahu harus lega atau sedih."
"Aku tidak hamil ternyata. Syukurlah."
"Tapi kita tetap akan jadi kekasih kan?"
"Tentu saja tuan Sabaku. Kau tak akan melihat dan menyentuh wanita selain aku. Ucapkan selamat tinggal pada status player mu."
"Hal yang sama berlaku juga untukmu Nona Yamanaka. Kita sudah memutuskan untuk saling percaya. Aku sedikit kecewa karena tidak bisa langsung menikahimu, tapi tak apa-apa. Kita bisa memiliki anak kalau kau merasa sudah siap."
Ino mendesah, "Terlalu dini untuk membicarakan anak. Kya...apa yang kau lakukan?" Ino menjerit kedua kakinya tak lagi menapak lantai. Gaara dengan lengannya yang kuat membopong Ino ke kamar tidur.
"Tapi tak terlalu dini untuk trial membuat anak."
"Aku belum setuju untuk ini." Ino bermuka masam, tapi Gaara malah mengecupnya.
"Oh aku akan mengubah pendirianmu dalam lima menit."
Sesuai dengan kata-katanya dalam lima menit ranjang Ino sudah berderit dan berderak. Sebuah pengertian baru muncul di benak mereka. Bercinta bukan sekedar menyatukan dua kelamin. Jika dilakukan dengan pengertian, cinta, rasa hormat dan kasih sayang rasanya jauh lebih memuaskan.
Ino menggenggam tangan Gaara yang akhirnya kehabisan stamina. Ia lega, Memang tak seharusnya ia membiarkan rasa takut dan trauma menjegalnya mencari kebahagiaan.
"Aku juga mencintaimu."
Gaara tersenyum. "Aku pikir aku tak akan pernah mendengarnya."
"Bersama denganmu seperti ini aku merasa senang."
"Lebih senang dari saat kau menyingkirkanku di kantor?"
"Aku tak pernah benar-benar bisa menyingkirkanmu bukan? Aku masih merasa kesal. Jabatan ini bukan aku menangkan. Aku hanya beruntung kau memilih mengundurkan diri."
"Dan aku beruntung bisa bertemu lagi denganmu.
Tamat
Nara Shikamaru mengutuk peruntungannya. Ia baru saja merapikan gelas dan menghitung stok sebelum menutup bar. Tiba-tiba seseorang datang.
"Permisi." Suara Mezzo terdengar
Wanita pirang dengan setelan jas maskulin berdiri di depan meja Bar. Aura alpha yang mendominasi memancar dari sosoknya yang berdiri tegap.
"Maaf, Kami tidak bisa melayanimu. Seperti yang kau lihat tempat ini sedang closing." Shikamaru melanjutkan membersihkan meja, sebab tatapan tajam wanita itu membuatnya tak tenang.
"Aku tak datang untuk minum. Aku hanya ingin bertanya apa kau mengenal adikku?"
"Adikmu? Aku bahkan tak mengenal siapa dirimu."
"Namaku Sabaku Temari. Apakah kau pernah melihat lelaki berambut merah, tanpa alis dengan tatto di kening dan selalu memakai eye liner meski sudah bukan zamannya lagi?"
"Ah Gaara?"
"Jadi kau mengenal adikku." Temari terdengar puas.
"Dia salah satu pelanggan."
"Bisakah kau membantuku menemukannya?"
"Aku sibuk dan aku tidak tahu dia ada di mana. Aku juga bukan temannya."
Tiba-tiba saja wanita itu bersiul dan dua orang bertubuh kekar masuk ke dalam. Mereka terlihat menakutkan.
"Kau akan membantuku."
Shikamaru menatap wanita yang menakutkan itu dan kedua anak buahnya yang tak kalah menakutkan. Ia pun menarik nafas, takut diapa-apa kan. Shikamaru pun menyerah
"Baiklah, aku akan membantu. Apa yang bisa aku lakukan. Nona Sabaku?"
Temari duduk. "Sebaiknya kau membuka botol wine terbaikmu."
Shikamaru menurut saja. Wanita tipe seperti ini tak suka dibantah. Ia menyuguhkan wine itu pada Temari.
"Apa adikku sering ke mari?"
"Hampir setiap hari."
"Apa yang kau ketahui tentang Sabaku Gaara?"
"Apa benar kau kakaknya? Kalian tidak mirip."
"Oh.. kau mencurigaiku tuan bartender. Aku tidak suka dipertanyakan."
Shikamaru menelan ludah. Wanita di depannya membuat semua nyalinya menciut dan sepertinya ia tak akan bisa tenang dalam waktu dekat.
"Merepotkan sekali." Keluh sang bartender. Malam ini sepertinya ia harus lembur gara-gara satu wanita.
