Chapter : Prologue

Desclaimer : Naruto dan Highschool DxD bukanlah milik saya

Warning : Terdapat banyak sekali unsur-unsur yang menyebabkan kepala pusing, mual, dan muntah-muntah, disarankan untuk Ibu Hamil dan Menyusui untuk tidak membacanya ! Banyaknya typo yang berserakan, Kisah yang tidak jelas dan membosankan.

Summary :

Sebuah kisah asmara yang kubaca selalu saja berakhir dengan indah, oh Tuhan... Sungguh, aku menginginkan sebuah kisah yang sedemikian rupa indahnya, bukan kisah aneh yang seperti ini !

Don't Like? Don't Read !


Underworld

Di sebuah mansion yang megah, dapat didengar suara berisik yang berasal dari halaman belakang mansion tersebut.

"Ah dasar adik sialan ! Kemari kau." teriak seorang pria berambut pirang dengan wajah tamp- penuh coretan sambil berlari mengejar seorang anak kecil dengan warna rambut serupa.

"Hahaha, kena kau Bakaniki ! Rasakan itu kemampuan yang hebat dari Naruto-sama ini ! Hahaha." sambil berlari anak itu meneriaki orang yang mengejarnya. Sedangkan orang yang mengejar? Dengan wajah penuh coretan yang membuat wajah tampannya terlihat konyol masih berusaha menangkap anak kecil yang juga berusaha menghindari tangkapannya.

Kemudian, tanpa disadari sang anak yang berlari, si pengejar tersebut menyeringai penuh akan puluhan bahkan ratusan rencana licik di otaknya yang jenius itu. Lalu ia memompa sebuah energi ke arah kakinya, yang membuat kedua kakinya nampak seperti diselubungi aura oranye yang aneh dan kemudian ia melesat hingga sekarang tengah berada di depan anak kecil yang berlari tadi.

Bruk !

"Ittaiii !", anak kecil yang tengah berlari itupun terjatuh akibat menabrak seseorang di depannya. Ia tak menyangka bahwa seorang yang mengejarnya yang ia panggil dengan sebutan Bakaniki tersebut tiba-tiba berada di depannya.

"Sekarang ke mana kau akan pergi Narutoo?", pria kuning itu bertanya dengan nada yang sangat manis pikirnya.

"A-ano, Ruval-nii gomen ne?", dengan wajah panik ia mencoba untuk meredam amarah sang kakak dengan mengucapkan kata maaf, namun...

"Di mana Naruto-sama yang terlihat berani tadi hmm? Kenapa di sini digantikan oleh bocah nakal yang meminta ampun? Seperti biasanya Naruto, anak yang nakal harus diberi hukuman khukhukhu", sambil berkata demikian si pria- yang kita kenal dengan nama Ruval itu mencengkram kerah baju bagian belakang Naruto.

"Gomen gomen gomen gomenasai nii-samaaa, a-aku tidak bermaksud untuk melakukan ini pada wajahmu yang tampan itu", Naruto yang kini berada dalam genggaman sang kakak mencoba untuk memberontak seraya membujuk Ruval agar tidak memberinya hukuman.

"Ruval, sudahlah lepaskan adikmu itu ! Haaahh, kalian berdua ini selalu saja membuat bising di sini", terdengar suara dari seorang Wanita dewasa yang datang dari arah dalam mansion menuju halaman belakang tempat di mana terjadi sebuah peristiwa yang sudah menjadi keseharian di mansion tersebut.

Ruval yang mendengar suara tersebut hanya mendengus sebal lalu menurunkan Naruto yang menjulurkan lidahnya kepada Ruval lalu langsung berlari kearah sumber suara tadi.

Nampaklah seorang wanita dewasa dengan surai kuning yang sama dengan milik Ruval dan Naruto kini tengah berjalan dengan anggun keluar dari mansion menuju halaman belakang. Wanita tersebut memiliki wajah yang cantik serta postur tubuh yang sangat menggoda. Terlihat wanita tersebut tengah menggendong bayi yang sekiranya masih berusia kurang lebih 1 bulan.

"Okaa-sama, Ruval-nii jahat dia mau melakukan sesuatu pada Naru, sepertinya kali ini dia benar-benar ingin membunuh Naru", ucap Naruto tadi yang kini tengah memeluk kaki wanita tadi yang ia panggil sebagai Ibu dengan disertai tatapan memelas dengan mata yang berkaca-kaca. Oh sungguh dirimu memiliki bakat seorang aktor film nak.

Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja dan kemudian memberikan tatapan tajam kearah Ruval yang kini tengah berdiri dengan ekspresi yang sulit dijelaskan karena masih adanya coretan di muka tampannya.

"Sudah berapa kali Ibu bilang jangan sakiti adikmu Ruval? Dan kau Naruto, Ibu kan juga sudah sering bilang jangan terlalu jahil kepada kakakmu !", nada tegas yang dikeluarkan wanita tersebut bukan membuat keduanya merasa bersalah.

"Tapi Ibu, jika tidak diberi pelajaran dengan baik, Naruto pasti tidak akan berhenti melakukan hal ini", Protes Ruval akan perkataan Ibunya tadi sambil menunjuk wajahnya yang penuh akan coretan spidol.

"Sudahlah Ruval, adikmu ini masih kecil mungkin dia hanya ingin memiliki waktu yang berharga dengan kakak yang disayanginya, bukan begitu Naru?", jawab wanita tersebut akan protes yang dilakukan oleh Ruval.

"Um, benar sekali Kaa-sama, akhir-akhir ini Ruval-nii selalu saja sibuk dengan urusannya dan sewaktu ia pulang selalu saja langsung tidur di halaman belakang. Padahal ia berjanji ingin melatih Naru dan Raiser-nii", ucap Naruto membenarkan perkataan ibunya dengan raut wajah sedih disertai suara yang kian mengecil pada kalimat terkahir yang dikatakannya. Yang ajaibnya walaupun kalimat terakhir diucapkan dengan sangat lirih namun masih bisa didengar oleh Ruval yang berada sekitar 4 meter di depannya. "Haah dasar"

Ruval yang mendengar pernyataan dari Naruto pun akhirnya pasrah dan berjalan kearah Naruto dan Ibunya. Melihat hal tersebut Naruto langsung cepat-cepat bersembunyi di belakang kaki Ibunya. Ruval kemudian berjongkok di depan Naruto sambil berkata "Mulai besok kita akan berlatih bersama oke? ajak Raiser juga untuk berlatih. Nii-sama akan menunggu Naru dan Raiser di sini besok setelah sarapan" Ruval pun mengatakan hal itu sambil mengelus pelan pucuk kepala adiknya itu tak lupa disertai dengan senyuman hangat yang menempel di wajah penuh akan coretan tersebut.

Naruto yang mendengar perkataan yang keluar dari kakaknya langsung saja merubah raut wajahnya dengan raut wajah gembira dan kemudian melompat-lompat kegirangan "Yeayyy akhirnya Naru akan berlatih bersama Ruval-nii yeayyy", ucapnya yang langsung saja menerjang memeluk kakaknya yang sedang berjongkok di depannya.

Brukk

Karena tidak siap akan terjangan sang adik, Ruvalpun jatuh kebelakang dengan Naruto yang memeluk dirinya berada di atas Ruval. "Arigatou Nii-sama" begitulah ucap Naruto di atas perut kakaknya yang kini tengah berbaring di atas rumput halaman belakang mansion tersebut. Mendengar ucapan terimakasih dan wajah ceria adiknya membuat Ruval merasakan getaran hangat di hatinya.

"Ahahaha dasar adik nakal ! main terjang seenaknya"

'kebahagiaan ini pasti akan kujaga dengan mempertaruhkan nyawaku', batin Ruval sambil menengadah kearah langit Underworld yang senantiasa berwarna merah.

"Ruval, Naru, 1 jam lagi makan malam akan siap kalian berdua cepatlah mandi terutama dirimu Ruval, Ibu tahu bahwa kau belum mandi setelah menyelesaikan tugas dari Maou Lucifer. Untuk Naruto segera bersiap-siap karena setelah makan malam Naru dan Raiser harus ikut Ibu dan Ayah ke rumah teman Ayah, oke?", wanita tadi yang sebelumnya senantiasa melihat percakapan antara kakak adik tersebut pun akhirnya angkat bicara kembali seraya berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.

"Ha'i Okaa-sama" hanya Naruto saja yang menjawab sedangkan Ruval? ia masih sibuk memandang langit merah Underworld.

Yahh kalian benar, mereka ialah Ruval Phenex dan Naruto Phenex yang merupakan adik kakak dari keluarga Phenex yang merupakan salah satu dari 72 pilar utama ras Iblis di Underworld. Sang kakak, Ruval merupakan anak tertua dari keluarga ini. Dia merupakan sahabat sekaligus rival dari maou Lucifer saat ini, yakni Sirzech Gremory atau yang saat ini dikenal sebagai Sirzech Lucifer. Ruval sendiri berperawakan tinggi dengan rambut pirang dan wajah yang tampan, yah walaupun kita masih belum bisa mengetahuinya berkat coretan di wajah yang masih belum ia bersihkan.

Naruto Phenex, merupakan adik dari Ruval dan Raiser Phenex. Naruto bukanlah adik kandung mereka, ia merupakan anak hasil hubungan Lord Phenex dengan wanita yang berasal dari ras Vampire yang telah meninggal pasca melahirkan Naruto. Di keluarga ini, Naruto dibesarkan layaknya anak sendiri oleh Lady Phenex. Lady Phenex sangatlah menyayangi Naruto layaknya anak sendiri walaupun nyatanya bukan. Naruto sendiri memiliki sifat yang menjengkelkan -menurut Ruval- dikarenakan ia selalu saja melakukan hal-hal jahil yang dinilai sudah menjadi keseharian Naruto. Naruto merupakan seorang, ralat sesosok Iblis muda yang periang dan selalu ceria. dengan surai pirang dan mata sapphire yang indah.


Skip Time

Saat Makan Malam

Terlihat di salah datu ruangan yang nampak luas di dalam mansion Phenex dengan meja persegi panjang yang menghiasi ruangan tersebut kini tengah diisi oleh beberapa orang, uhh lebih tepatnya beberapa sosok iblis berbeda gender yakni 4 lelaki dan 1 wanita dengan rambut yang berwarna senada, yang saat ini sedang melangsungkan acara makan malam. Di mana acara tersebut berlangsung dengan tenang tanpa adanya gangguan sedikitpun. Terlihat di meja itu Naruto, Ruval, serta Lady Phenex yang juga ikut dalam acara tersebut yang menandakan bahwa ketiganya merupakan anggota keluarga Phenex.

"Okaa-sama, di manakah Ravel?", dari keheningan ini dimulailah sebuah percakapan oleh sesosok Iblis yang duduk di sebelah Naruto yang juga memiliki surai pirang yang sama namun terlihat sedikit lebih tua jika dibandingkan dengan Naruto.

"Are? tumben sekali kau menanyakan perihal adikmu Raiser?", namun bukan jawaban yang diberikan oleh Lady Phenex melainkan sebuah pertanyaan balik yang menandakan bahwa pertanyaan sosok tadi yang dipanggil sebagai Raiser sangat jarang ia lontarkan.

"Biasanya Kaa-sama menggendonya meski saat makan malam", Raiser menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Lady Phenex

"Ravel sedang tidur saat ini, jadi Okaa-samamu itu tidak menggendongnya Raiser", yang menjawab pertanyaan Raiser bukanlah Lady Phenex namun sesosok pria dewasa yang duduk di bagian ujung meja dengan wibawa dan ketegasannya seolah menguar dari tubuhnya, walaupun tetap dengan surai pirang yang sama dengan yang lainnya. Ya, dia adalah Lord Phenex ayah dari Ruval, Raiser, Naruto, dan Ravel.

"Ohh", hanya itu respon yang keluar dari Raiser.

"Ne, ne, Raiser-nii kau tahu? besok Ruval-nii akan melatih kita hehehe" Naruto yang telah menyelesaikan makannya ikut masuk dalam obrolan tersebut dengan nada riangnya.

"Hmm? Benarkah Naruto? Hooo tidak kusangka Ruval Phenex-sama yang agung dan hebat mau meluangkan waktunya untuk melatih kita", Raiser menjawab dengan kalimat yang sarat akan sarkasme yang ditujukannya kepada Ruval yang duduk di depan Naruto.

"Uhukkk, apa maksudmu wahai adikku? Bukankah kakakmu ini sudah berbaik hati untuk menurunkan ilmu yang dimilikinya untuk adiknya? Apakah hal itu masih kurang Raiser-dono?", Ruval yang mendengarnya seketika tersedak air yang sedang ia teguk kala itu dan kemudian menjawab perkataan Raiser dengan kalimat yang tak kalah sarkasnya.

Mendengar jawaban dari sang kakak Raiser hanya mengalihkan pandangan dan mendecih kesal "Cih, dasar Bakaniki"

Naruto yang mendengar interaksi antara Ruval dan Raiser hanya cekikikan sendiri di kursinya. Menurutnya hal ini sungguh jarang terjadi melihat kedua kakaknya itu saling adu mulut seperti tadi.

"Naruto, Raiser setelah ini kalian berdua ikut Ayah dan Ibu untuk pergi ke rumah teman Ayah. Apa kalian berdua sudah siap?", Lord Phenex kembali membuka suaranya.

"Ha'i", jawab Raiser dan Naruto bersamaan.

"Baguslah, 10 menit lagi kita berangkat. Untuk Ruval, jaga rumah beserta Ravel adikmu",

"Ha'i Otou-sama", jawab Ruval.


Skip Time

2 Years Later

Terlihat kini Naruto tengah berada di Perpustakaan klan Sitri dan sedang membaca sebuah buku tebal yang berjudul 'Sejarah Dunia' dengan raut wajah yang serius. Tunggu dulu, Naruto berada di perpustakaan Sitri? Apakah ini tidak salah? Tentu tidak, Naruto memang kini berada di perpustakaan terlengkap seantero Underworld itu. Bagaimana bisa ia berada di sini? Salahkan jiwa sosialisasinya yang sangat tinggi di mana kini ia memiliki hubungan sahabat dengan beberapa Iblis muda di Underworld. Yah mereka adalah Rias Gremory, Sona Sitri, Sairaorg Bael, dan Himejima Akeno.

Saat ini Naruto berada di perpustakaan Sitri dengan ditemani oleh salah satu sahabatnya yakni Rias Gremory. Pertemuan 2 tahun lalu di mansion Gremory membuat Naruto berteman dengan Rias yang kala itu sedang duduk di halaman belakang mansion sendirian. Dengan kekuatan sifat ceria Naruto, iapun menghibur Rias yang terlihat sedih waktu itu sehingga merekapun menjalin hubungan persahabatan hingga saat ini.

"Ne Naru, bukannya kau sudah membaca seluruh buku yang ada di Underworld? lalu kenapa saat ini kau malah membaca buku itu secara berulang-ulang?", Rias yang sudah tidak sabar lagi dengan kelakuan sahabatnya yang membaca satu buku secara berulang-ulang pun akhirnya menyerah dan bertanya.

"Humm, kurasa banyak dari sejarah dunia ini yang disembunyikan entah karena apa Rias, jadi aku mencoba untuk mencari pesan yang tersembunyi dalam buku ini agar aku dapat mengetahui bagian manakah yang disembunyikan dari sejarah dunia ini", Naruto yang ditanya pun menjawab dengan mata masih terfokus pada buku yang dibacanya.

"Uhh dasar, Kau dan otak pintarmu", mendengar jawaban Naruto membuat Rias mendengus kasar. Seharusnya hari ini Naruto menemani Rias untuk jalan-jalan bukan malah sebaliknya Rias yang menunggu Naruto menyelesaikan masalahnya itu. Ahhh sungguh Rias sudah tidak tahan dengan sifat Naruto ketika ia sudah bertemu dengan suatu masalah.

"Padahal hari ini kan kita sedang berkencan", Rias berucap dengan lirih.

"Nani? Apa kau berkata sesuatu Rias?", Entah mengapa indra pendengar Iblis yang super itu tak mampu mendengar apa yang telah diucapkan lawan bicaranya kali ini.

"Baka", Rias pun tidak menjawab pertanyaan Naruto dan langsung pergi keluar dari perpustakaan Sitri setelah mengucapkan kata itu.

Sedangkan Naruto? Melihat kepergian Rias, ia hanya mengangkat bahu seolah tak peduli akan hal itu lalu kemudian melanjutkan kegiatannya yakni membaca buku. Memang bukan suatu rahasia jika Naruto sangat suka membaca buku. Bahkan seluruh penjuru Underworld pun tahu jika Naruto merupakan seorang keturunan Phenex yang memiliki sifat kutu buku. Namun, hanya itu yang mereka tahu. Dibalik sifat kutu bukunya itu, Naruto bahkan kini sudah bisa mengendalikan Demonic Powernya dengan sempurna serta dapat mengimbangi kakaknya dalam sparring saat latihan. Jika dikatakan Jenius, Naruto memanglah seorang Prodigy klan Phenex yang kekuatannya bahkan belum diketahui banyak pihak. Hanya klan Phenex, Gremory, Sitri, dan Bael saja yang telah mengetahui hal ini.

Selain itu, diketahui Naruto memiliki kekuatan Api Merah yang katanya merupakan kekuatan tertinggi dari Api Phenex. Di mana hanya satu orang yang pernah membangkitkannnya, yakni Lord Phenex pertama yang menjadi legenda dengan kekuatannya yang mampu menyaingi para Maou kala itu. Api merah memiliki sifat yang hampir sama dengan Power of Destruction milik klan Bael, hanya saja Api ini memakan bukan memusnahkan apa yang disentuhnya.


Skip Time

Tak terasa sudah berjam-jam Naruto di perpustakaan Sitri, Naruto baru sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Berarti inilah saatnya untuk pulang pikirnya. Namun...

Kyaaaa

Mendengar teriakan tersebut di mana ia merasa familiar dengan suaranya, Naruto harus mengurungkan niatnya untuk pulang.

"Rias !", Naruto berlari menuju sumber suara yakni di hutan sebelah utara perpustakaan Sitri di mana hutan tersebut merupakan hutan yang sepi dan tak pernah dikunjungi oleh para Iblis.

"Sial ! Aku lupa bahwa Rias masih bersamaku", Sambil terbang menggunakan sayap api merahnya yang sangat besar dengan kecepatan tinggi yang membuatnya tak dapat diikuti oleh mata biasa dengan kecepatan yang luar biasa.

Dari ketinggian, Naruto melihat Rias yang kini tengah dipegangi oleh 3 iblis dan 2 Malaikat Jatuh? Iya benar itu malaikat jatuh. Sebuah eksistensi yang hadir tatkala sesosok malaikat yang suci melanggar perintah Tuhan yang membuat sayapnya menghitam dan dibuang dari surga.

"Sial, apa yang dilakukan Malaikat Jatuh di teritori Iblis?", Naruto menggumamkan hal itu seraya menciptakan bola api berukuran sedang yang kemudian dilemparnya ke arah para makhluk yang menahan Rias.

In Rias

Rias POV

"Naruto bodoh ! Bagaimana mungkin dia bisa melupakan janjinya denganku untuk berjalan-jalan hari ini dan lebih memilih hasrat ilmunya daripada janjinya? Baka baka bakaaa ! Lalu apakah aku tidak lebih penting dari hal itu? Naruo no baka".

Sambil memikirkan hal itu, aku berjalan terus ke dalam hutan di sebelah utara wilayah Sitri. Awalnya aku ke sini hanya untuk menenangkan diriku yang saat ini tengah dimakan emosi atas kebodohan sesosok Iblis lelaki yang lebih memilih membaca buku daripada menepati janjinya untuk berkencan denganku. Berkencan? Uhhh mengingat kata itu membuat pipiku panas, aku yakin wajahku kini sudah semerah rambutku. Padahal aku sudah mempersiapkan kencan hari ini semenjak pagi tadi demi seseorang yang kucintai. Aku? Mencintai Naruto? Memang benar aku mencintainya, apakah salah mencintai seseorang? kurasa itu hal normal walau aku masih berusia 7 tahun. Tapi apa? Kenapa orang yang kucintai sebegitu bodohnya hingga tak menyadari perasaanku?

Aku terus berkutat dalam pikiranku hingga

"Yare-yare, coba lihat apa yang kita dapatkan kali ini? Pewaris Gremory kah?", aku mendengar suara yang sangat asing di telingaku, kemudian aku memutuskan untuk berbalik demi menemukan 5 orang yang mengenakan jubah dengan 2 diantaranya merupakan sesosok Malaikat Jatuh. Haa? Malaikat Jatuh? Apa yang dilakukannya di wilayah Iblis? Sial sepertinya aku terlalu dalam masuk ke area hutan ini.

"Apa yang dilakukan pewaris Gremory di pedalaman hutan seperti ini? Apa kau tersesat nona? Hahaha", teman dari pria yang berkata di awal tadi mulai membuka mulutnya dan berbucara demikian. Aku takut, tolong aku Naruto.

"Kurasa membunuhnya dapat menyebabkan perang kembali pecah, aku yakin Kokabiel-sama pasti menyukainya terlebih yang mati adalah adik dari Maou Lucifer itu sendirI hahahah", kali ini salah seorang Malaikat Jatuh itu yang berbicara. Tunggu, siapa Kokabiel? apa dia kenal Onii-sama? lalu apa hubungannya dengan perang? Aaakhhhh sial otakku tak sepintar Naruto dan Sona, memikirkannya tak dapat membuatku selamat dari kondisi ini.

Aku pun akhirnya memutuskan untuk berlari dari mereka walau aku tahu aku tak bisa untuk lepas dari kejaran mereka. Namun setidaknya aku bisa mengulur sedikit waktu sampai ada seseorang yang mencariku dan akhirnya menemukanku di sini.

"Mau ke mana Ojou-chan? Kemarilah dan bermainlah dengan kami, kami janji pasti akan menyenangkan dan tidak menyakitkan hahahahaa", suara mereka yang mengejarku di belakang sungguh membuatku merinding, aku terus berlari sekuat tenaga namun kurasa hari ini memang hari sialku.

Brukkk

Sakit, sakit sekali rasanya kakiku tersandung batu yang lumayan besar. Sial ! Kakiku terkilir ! Ahhh apakah ini akhirku? Mereka sudah semakin dekat, bahkan mereka sudah mendarat dari terbangnya. Salah satu dari mereka pun mulai berjalan mendekatiku. Namun aku takkan menyerah, aku mencoba untuk mundur kebelakang serta meraba tanah di bawahku, siapa tahu aku menemukan senjata atau batu yang dapat berguna. Ahhh aku mendapatkannya, tak menunggu lama lagi aku melemparnya kearah Iblis yang sudah berada di depanku.

Whussh

Duakk

"Sialan kau bocahh, berani sekali kau melempariku dengan batu?", Ahhh kurasa dia marah, jadi hanya sampai sinikah perjuanganku. Iblis itu pun kini telah memegang pergelangan tanganku secara kasar dan memaksaku untuk berdiri. Hey ! kakiku sakit kalian tahu?

"Kyaaa", aku menjerit tatkala mereka menjambak rambutku. Siapapun tolong aku ! Naruto !

Blarrr

Wushh

Duakh

Duakh

Boom

"Heyyaaaaaa"

Duarrr

"Sialan kau bocah api"

Arghhh

Bocah api? Apakah Naruto? Terdengar suara ledakan serta pertarungan namun aku yang telah kelelahan tak kuat lagi untuk menahan tubuhku ini, aku tertolong. Dengan tenaga yang terkuras akupun ambruk seketika. Namun sayup-sayup kudengar suara orang yang menolongku memanggil namaku serta samar kulihat ia memiliki kepala kuning? Ahhh Naru, aku yakin kau pasti datang.

"Rias? Rias? bertahanlah ! Hoi Rias jawab aku ! Sial"

Rias POV End

Naruto Side

Terlihat Naruto kini tengah berdiri dengan membelakangi Rias yang tengah tak sadarkan diri. Terlihat di depan Naruto sebuah pemandangan yang mengerikan. Di mana hutan yang sebelumnya sangatlah lebat kini tengah terbakar oleh api merah yang suhu panasnya bukan main. Terlihat juga di depan Naruto ada mayat Iblis yang tadi sempat menjambak Rias dengan keadaan yang mengenaskan. Pergelangan tangannya buntung, terdapat luka bakar di dadanya yang berlubang dengan tak terlihatnya jantung di dalamnya, serta dengan tubuh bagian bawah yang telah hilang dan menyisakan api merah yang terus menggerogoti mayatnya. Api merah memang mengerikan, ia melahap segala yang disentuhnya.

"KALIAN TAKKAN KULEPASKAN"

Naruto berkata dengan nada tajam yang sarat akan kematian dengan sorot mata yang menandakan akan datangnya kematian menyusul satu Iblis yang ada didepannya.

"Sialan kau bocah, beraninya kau membunuh temanku ! Akan kubunuh kau boc-", perkataannya pun tak sampai keluar dari mulutnya dan hanya tercekat di tenggorokan tatkala Naruto sudah berada di depannya dengan tangan menggenggam dan dibaluti api merah yang berkobar ganas yang kemudian menembus dada Iblis itu.

Dari belakang si iblis terlihat tangan yang menembus punggung. Tangan seorang anak kecil yang kini membawa sebuah benda yang tangah berdetak. Ya ! Itu jantung. Tanpa ampun, Naruto meremas jantung tersebut hingga hancur dengan memuncratkan darah ke sembarang arah. Kemudian mencabut tangannya dari sosok iblis tersebut.

"Kalian sudah berani menyentuh salah seorang yang kuanggap berharga dengan tangan kotor kalian, maka inilah hukuman kalian", dengan nada yang tajam dan dingin tersebut Naruto kembali menghilang dan muncul di hadapan salah seorang Malaikat Jatuh yang sudah menyiapkan sebuah tombak yang terbuat dari cahaya ditangannya. Namun naas, tangan yang memegang tombak tersebut tak dapat melemparkannya tatkala Naruto sudah berada di depannya dengan menggenggam tangan tersebut.

"Aaarrrgggghhhhhhh", hanya jeritan kesakitan yang dapat dilakukan Malaikat Jatuh tersebut.

2 orang yang masih utuh pun mulai sembuh dari keterkejutannya dan mulai untuk melancarkan serangannya kepada Naruto yang kini tengah berada di samping mereka dengan membawa sebuah tangan yang mereka ketahui merupakan tangan teman mereka yang kini sedang berlutut memegangi lengannya yang buntung di hadapan Naruto.

Malaikat Jatuh satunya pun melancarkan pukulan ke arah kepala Naruto dari arah belakang dan hanya dihindari dengan memiringkan kepala ke kanan. Lalu Naruto menebaskan tangan yang ia genggam di mana masih terdapat Tombak Cahaya di sana membuat tangan yang kini melewati sebelah kiri kepalanya memuncratkan darah pada bagian siku yang kemudian lengan tersebut terjatuh dengan diiringi suara jeritan.

"Tangankuuu Arghhhh", kini tersisa satu iblis saja yang masih sehat tanpa kekurangan apapun namun hal itu tak berlangsung lama ketika Iblis yang tersisa itu menyadari bahwa ada sepasang lingkaran sihir di atas kepala dan di bawah kakinya. Lingkaran sihir itu mengeluarkan penghalang yang membentuk tabung dengan iblis itu di dalamnya.

Ctik

Blarrr

"Arghhh Panassss"

Hanya dengan satu jentikan jari dari Naruto, keluar api jingga dari tengah sepasang lingkaran sihir itu yang kemudian memanggang si Iblis di dalamnya. Melihat hal itu Naruto berbalik menuju dua Malaikat Jatuh yang sempat ia abaikan setelah memotong tangan mereka.

"Ada kata-kata terkahir Datenshi-san?", Naruto bertanya dengan nada yang sangat dingin menusuk kulit di tengah panasnya hutan yang terbakar.

"A-ampuni kami, kami me-meminta maaf karena mengusikmu", salah seorang dari keduanya bersujud kepada Naruto berharap mendapat belas kasih dari bocah api tersebut. Namun...

"Sebuah kesalahan bagi kalian memohon ampun kepada Iblis, jika ingin memohon ampun memohonlah pada Tuhan kalian itu !", kata-kata Naruto seakan menohok mereka berdua.

Dan dengan kalimat itu, Naruto pun berbalik sebelum melempar sebuah bola api merah yang berukuran sedang ke arah keduanya dan menghiraukan suara jeritan mereka.

Kini Naruto berada bersama Rias yang sedang didekapnya dengan erat. Naruto tahu bahwa Rias hanya pingsan, namun ia juga tahu bahwa hal ini akan menimbulkan trauma berat pada Rias yang pasti akan mempengaruhi mental dan psikologis dari Rias untuk ke depannya. Naruto pun menangis dan berucap "Maaf", berkali-kali selama kurang lebih sepuluh menit. Kemudian ia bangkut dan menggendong Rias ala Bridal Style sebelum kemudian memunculkan sayap apinya dan terbang meninggalkan hutan yang kini tengah terbakar dengan hebat oleh api merah milik Naruto.


Tak jauh dari hutan yang terbakar tersebut, muncul sebuah lingkaran sihir berwarnah hitam dengan corak yang aneh pada lingkaran sihir tersebut dan muncullah seorang yang mengenakan jubah berhoodie yang terlihat wajahnya memiliki 2 warna berbeda yakni hitam dan putih.

"Api yang mengerikan, kurasa bocah itu kelak akan menjadi penghalang utama bagi 'dia' untuk menyukseskan rencana kita", suara tersebut memiliki intonasi yang berat dan juga rendah.

"Hummm kurasa kau benar, itu adalah api legenda kan? Kurasa kita harus melaporkan hal ini kepada 'dia', agar bisa menyusun ulang rencana akibat kemunculan bocah itu", suara kedua berintonasi agak cempreng dan tinggi.

Bisa diasumsikan bahwa seorang tersebut merupakan 2 pribadi dalam 1 tubuh yang kini menghilang ditelan lingkaran sihir berwarna hitam lagi.


Unknown Place

Terlihat di atas sebuah batu yang besar terdapat seseorang yang tengah duduk bersila dan memejamkan mata. Orang tersebut memiliki perawakan bertubub besar dengan rambut jabrik panjang berwarna putih. Di wajah orang tersebut tertera sebuah tato garis berwarna merah yang menjalar dari bawah matanya hingga ke dagu. Yak benar, orang itu tengah bermeditasi. Tiba-tiba orang tersebut membuka sebelah matanya. Terlihat sebuah mata beriris kuning dengan pupil berbentuk minus berwarna hitam.

"Sang legenda telah bangkit? Hmmm menarik", setelah mengucapkan itu kemudian dia melanjutkan meditasinya dan menutup kembali matanya yang sempat terbuka karena merasakan hawa kekuatan dari seseorang yang dia sebut sebagai 'Sang Legenda'.


California, Amerika

Di sebuah malam di depan sebuah hotel yang bertuliskan 'Hotel California' terlihat seorang wanita yang berperawakan seperti remaja berusia sekitar 18 yang mengenakan pakaian Gothic berwarna Oranye yang mendekati ke arah warna merah dengan dibalut sebuah Jaket panjang yang merupakan jaket musim dingin. Wajah perempuan tersebut sangat cantik dengan mata berbeda warna dengan mata sebelah kanan berwarna merah dan yang sebelah kiri berwarna kuning dengan motif jarum jam. Terlihat mulutnya membentuk sebuah seringai yang menyeramkan kemudian mengankat sebuah revolver dengan moncong yang agak panjang berwarna hitam ke arah mulutnya dan dijilatinya moncong revolver tersebut seraya berucap.

"Ara ara~ akhirnya kau bangkit juga, aku sungguh sangat sangat merindukanmu Goshujin-sama", dan diakhiri dengan cekikikan yang menyeramkan bagi mereka yang melewati gadis tersebut.

Done.


Haloooo, ehehehe merupakan sebuah kehormatan bagi hamba untuk menulis sebuah fanfic di mana sudah sejak lama hamba ingin menulis fanfic dan mempublishnya. Fufufu ~ semoga apa yang saya tulis dapat memuaskan hasrat para pemirsa sekalian mengingat genre dari fic ini adalah Romance khukhukhu, namun mungkin sedikit dibumbui adegan fiksi, aksi, dan mati~ namun jangan khawatir hamba akan tetap berusaha untuk menyajikan sebuah alur percintaan yang seru kok hm hm.

Jangan lupa Reviewnya, silahkan para senpai berikanlah beberapa masukan serta apapun yang dapat membantu hamba untuk berkembangggg

Untuk catatan ini hanya sebuah prolog ya, mungkin nanti di chapter 1 pasti akan ada banyak yang bertanya-tanya karena saya sendiri masih bingung untuk menemukan alur yang sesuai. Jadi selamat menunggu

-CapedBaldySins-