Chapter : New Love? Or Just A New Town?

Desclaimer : Naruto dan Highschool DxD bukanlah milik saya

Warning : Terdapat banyak sekali unsur-unsur yang menyebabkan kepala pusing, mual, dan muntah-muntah, disarankan untuk Ibu Hamil dan Menyusui untuk tidak membacanya ! Banyaknya typo yang berserakan, Kisah yang tidak jelas dan membosankan.

Summary :

Sebuah kisah asmara yang kubaca selalu saja berakhir dengan indah, oh Tuhan... Sungguh, aku menginginkan sebuah kisah yang sedemikian rupa indahnya, bukan kisah aneh yang seperti ini !

Not Like? Don't Read !


10 Years Later

Kyoto, Japan

Kyoto, sebuah kota di Jepang dengan segala peninggalan sejarahnya yang berharga dan tetap terjaga dengan baik oleh pemerintah setempat. Demikian pula dengan sebuah rumah tradisional yang terletak di tengah pemukiman dengan luas rumah yang mampu untuk membuat seorang yang mengelilinya harus menderita rasa capek dan pegal karena saking luasnya rumah ini. Nampak di halaman depan rumah ini sangatlah tenang dan damai dengan sebuah kolam ikan yang di atasnya terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan antara gerbang depan dengan pintu utama rumah ini, terlihat di dalam kolam terdapat puluhan ikan yang terdiri dari beragam jenis dan ukuran yang tak mungkin untuk dijelaskan satu persatu dari semuanya.

Mari kita pindah ke halaman belakang yang memiliki luas 2 kali- tidak namun memiliki luas 3 kali dari halaman depan. tak berbeda jauh dengan suasana di halaman depan, halaman belakang juga nampak tenang dan sangat damai dengan sebuah tanah lapang yang di atasnya terdapat berbagai macam alat penyiksaan? uhhh maksudnya ialah alat latihan yang terdiri dari boneka kayu yang berjejer dan tertata rapi jarak antar satu boneka ke boneka lainnya. Di belakang jajaran boneka tersebut terdapat sebuah kolam dengan ukuran yang juga jauh lebih besar dari kolam di halaman depan, namun dalam kolam ini nampak sepi tanpa penghuni alias hanya sebuah kolam air tanpa ikan di dalamnya. Halaman belakang yang sangat luas ini pula di dalamnya terdapat jajaran pohon yang memagari sebuah tanah lapang yang berada di tengah halaman belakang ini membuat penampakan ini sungguh indah nan sempurna untuk melakukan sebuah latihan maupun hanya sekedar untuk bersantai menikmati indahnya awan.

Setelah puas menikmati halaman yang dimiliki rumah ini, marilah kita mencoba untuk mengintip apa yang ada di dalam rumah in- Brakkk

"Nii-chaaannnn, bangunnnn tidakkah kau melihat matahari sudah meninggi dan satu jam lagi kereta kita akan berangkat", haaah sepertinya apa yang ada dalam rumah ini tak seperti apa yang ada pada kedua halaman rumah. Yup benar sekali, nampak tidak adanya sebuah kedamaian maupun ketenangan terlihat dari sebuah teriakan tadi. Mari kita lihat apa yang terjadi.

Di depan sebuah kamar yang telah terbuka dengan paksa dan tanpa ampun, nampak diambang pintu terlihat seorang wanita yang nampak masih berusia remaja dengan surai pirang pucat panjang yang mencapai pantat dengan ujungnya yang ia ikat menjadi satu agar nampak rapi tengah berkacak pinggang dengan raut wajah kesal terlihat dari adanya perempatan yang kini bertengger setia di dahinya. Berjalan dengan cepat ke arah satu-satunya tempat tidur yang ada di kamar tersebut lalu "Haaaah, harus dengan cara apalagi aku membangunkan Bakanii ini", menghela nafas tatkala iris lavendernya menyaksikan sebuah pemandangan yang amat tidal elit berbanding terbalik dengan rumah yang luas ini.

Kini nampak di depan gadis pirang tersebut seonggok mayat- seorang yang tengah tertidur dengan posisi yang sudah tidak elit alias sudah tak berbentuk lagi.

"Nii...", sang gadis menyentuh seprei yang menjadi pelapis kasur yang ditiduri seorang tersebut dengan lembut dan perlahan.

"BANGUNNNNN !!!", dan kemudian ditariknya seprei tersebut dengan cepat dan kuat yang membuat orang yang tidur di atasnya langsung jatuh dari ranjangnya.

Gubrakkk

"I-it-ittaaai", terdengarlah suara seorang lelaki selepas suara benda terjatuh tengah mengaduh kesakitan sambil mengelus kepala dengan surai hitam acak-acakan miliknya lalu kemudian menengadahkan kepalanya demi melihat seorang gadis yang bersedekap dada tengah memelototinya.

"Ahh Shion, cobalah sesekali untuk membangunkan Kakakmu ini dengan penuh kasih sayang, uhh", sambil menggerutu dan masih senantiasa mengusap kepalanya yang sakit, pemuda tersebut perlahan bangkit dari jatuhnya.

"Aku sudah sering membangunkanmu berkali-kali dengan cara halus namun kau bahkan tak bergerak sedikitpun dari tidurmu, Nii-chan", menjawab perkataan yang dilontarkan kakak tersayangnya masih dengan posisi yang sama namun dengan tangan yang seperti mengambil sesuatu dari kantung bajunya.

"Ini sudah jam 7 dan dirimu masih belum bersiap, apa kau mau kita ketinggalan kereta Nii?", sebuah pertanyaan kemudian dilontarkan oleh gadis itu sambil menunjukkan sebuah jam weker yang menunjukkan waktu pukul 7 lewat 5 menit.

"Sial, kita terlambat !", tanpa mengacuhkan keberadaan adiknya yang masih senantiasa berdiri di tempat yang sama, pemudia bersurai hitam tadi langsung berlari menuju kamar mandi setelah melihat weker yang ditunjukkan oleh sang adik.

"Haaahhh, dasar Menma-Nii dari dulu selalu saja seperti ini", melihat sang kakak yang kita ketahui bernama Menma yang tengah berlari menuju kamar mandi dengan terburu-buru, sang adik yang kita ketahui bernama Shion ini pun berjalan keluar dari kamar tersebut dan sepertinya menuju ke dapur untuk melanjutkan kegiatan yang sempat ia tinggal demi membangunkan sang kakak tercinta.


Skip Time

Masih di rumah tadi, kini terlihat 2 insan yang duduk di sebuah meja dengan beberapa piring yang nampak kotor menjadi pertanda bahwa telah terjadi sebuah peristiwa sebelumnya. Yup benar Sarapan telah usai !

"Haruskah kita mencuci piring-piring ini, Shion?", tanya Menma kepada adiknya, Shion.

"Sepertinya kita akan benar-benar terlambat jika melakukan itu Nii-chan, ah tapi tenanglah aku sudah meminta Bibi untuk datang ke sini setelah kita berangkat", jawab sang adik kepada kakaknya.

"Baiklah kalau begitu, kita berangkatttt !", ujar Menma dengan semangat sambil beranjak dari tempat duduk dan pergi menuju pintu utama rumah itu yang diikuti Shion dibelakangnya yang berjalan dengan penuh keanggunannya.


Outside

"Rumah ini penuh akan kenangan indah, aku pasti akan merindukannya", terlihat Menma memandang rumah yang telah menjadi naungan untuknya selama bertahun-tahun itu dengan pandangan sendu.

"Sudahlah Nii, kita pasti akan kembali ke sini lagi", Shion menyentuh pundak kakaknya sambil berusaha untuk membuat kakaknya semangat kembali. "Ayo berangkat !", lanjut Shion kemudian.

Menma pun berbalik menghadap Shion kemudian mengulurkan tangannya ke arah Shion yang kemudian juga menerima uluran tangan kakaknya dengan wajah yang terlihat sedikit bersemu merah. "Okee, kita berangkatt !", dengan sebuah kalimat singkat tersebut keduanya menghilang dengan sebuah kilatan berwarna kuning yang menyertai keberangkatan keduanya.


Skip Time

Kuoh, Japan

"Ahhh akhirnya sampai juga", ucap seorang remaja laki-laki yang tengah meregangkan badannya yang kaku akibat sebuah perjalanan yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Terlihat remaja tersebut mengenakan sebuah celana jeans hitam dengan atasan berupa kaos putih polos lengan panjang yang dibalut dengan kemeja lengan pendek berwarna merah yang senada dengan warna iris mata pemuda tersebut.

"Kau benar Nii-chan, perjalanan barusan benar-benar melelahkan, badanku serasa kaku semua", di samping pemuda tadi berdiri seorang gadis yang tangah mengenakan sebuah dress panjang selutut berwarna biru laut yang nampak cocok dengan rambut pirang pucatnya yang digerai bebas dengan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya yang menutupi sepasang iris lavender yang menenangkan hati, ditambah sebuah gelang berwarna ungu di tangan kanan serta sebuah kalung dengan bandul sebuah kristal berwarna hijau yang menambah kesan kecantikan gadis ini.

Yak mereka berdua ialah Menma dan Shion yang baru saja keluar dari kereta yang membawa mereka ke sebuah kota yang merupakan tujuan mereka bersiap dan berangkat di pagi hari tadi yang penuh akan ketenang- keributan di dalamnya.

"Kurasa kita langsung saja ke rumah yang sudah disiapkan Tou-chan, ne Nii-chan?", tanya sang adik kepada kakaknya yang kini tengah menghilang entah kemana "Ehhh?", merasa yang ditanya tidak menjawab Shionpun menolehkan pandangannya dan tak menemukan siapapun di sampingnya.

Duak Duak Duakkk

"Wahhh mesin ini sepertinya rusak, bagaimana mungkin aku hanya mendapatkan sekaleng kopi dengan harga segitu", ucap Menma yang kini tengah menendang-nendang sebuah mesin minuman yang menurutnya rusak itu tanpa memedulikan sekitarnya yang nampak memandanginya dengan tatapan aneh.

Twitch

Muncul sebuah perempatan di dahi Shion yang melihat hal tersebut yang kemudian.

Nyuuttt

"Ittai Shion, apa yang kau lakukan? Aw aw aw telingaku", Menma tiba-tiba saja merasakan sakit di telinganya tatkala Shion menjewer telinga Menma dengan penuh kasih sayang.

"Gomenasai gomenasai", tanpa memedulikan teriakan kesakitan kakaknya yang masih ia jewer telinganya, Shion menundukkan kepalanya berkali-kali kepada beberapa orang yang sempat memandang Menma dengan pandangan aneh tadi dengan tujuan meminta maaf akan kelakuan kakaknya yang terlewat bodoh dan semaunya sendiri ini.


Skip Time

In Taxi

"Apakah alamat ini sudah benar, Nona?", tanya sopir taksi yang duduk di kursinya kepada seorang gadis yang kita ketahui sebagai Shion yang duduk di kursi belakang.

"Ha'i, itu sudah benar", jawab Shion dengan sopan. Tunggu dulu, di mana Menma? Ahh kini dia sedang duduk di sebelah Shion sambil mengelus telinganya yang memerah akibat merasakan kasih sayang dari Shion tadi di stasiun. "Sepertinya habis ini aku harus pergi ke dokter, pendengaranku sedikit terganggu akibat jeweran seseorang", menggerutu sambil mengelus telinganya.

"Hmmph, Makhluk sepertimu tak mungkin mengalami masalah kesehatan hanya karena hal seperti ini Bakanii", bersedekap dada sambil menggembungkan pipinya yang membuat Shion terlihat begitu imut yang membuat para pria menahan hasrat untuk mencubit pipinya.

.

.

Tak ada jawaban, Shion kemudian menolehkan pandangan ke Menma yang tengah memandang sebuah bangunan yang mereka lalui yang diketahui sebagai sebuah sekolah. "Ada apa, Nii-chan?", karena penasaran dengan kakaknya yang tiba-tiba diam Shion memutuskan untuk bertanya.

"Sepertinya kota ini tidak hanya ditinggali manusia saja, mungkin ini akan sedikit menghibur", jawab Menma dengan sedikit seringai terukir di wajahnya yang terbilang tampan itu. Setelah mengatakan hal tersebut, sebuah anting yang dikenakan di telinga kiri Menma yang berbentuk Magatama berwarna oranye sekilas berkedip dan terlihat mengkilap.


Skip

Kini terlihat Menma yang tengah berjalan-jalan menghabiskan waktu semenjak ia datang ke kota Kuoh ini. Setelah ia sampai di rumah tujuannya, ia berkata kepada Shion untuk sekedar berjalan-jalan jalan di kota barunya untuk menghilangkan kebosanan.

Flashback

"Ne Shion, aku akan pergi keluar sebentar untuk mencari sedikit udara segar", ucap Menma kepada Shion yang kini tengah sibuk membereskan barangnya yang masih berada di dalam 20 kardus yang tertumpuk di kamarnya itu.

"Hmm? Mau keluar? Baiklah hati-hati Nii-chan, ohh juga sekalian belikan beberapa bahan makanan di supermarket ya?", jawab Shion dari dalam kamar sekaligus berpesan kepada Menma untuk membelikan bahan makanan.

"Oke, baiklah aku berangkat", teriak Menma yang sudah hampir keluar rumah.

"Ha'i hati-hati, jangan lupa untuk pulang sebelum makan malam, Nii-chan", jawab Shion setengah berteriak dari dalam rumah.

End of Flashback

Lalu di sinilah Menma, berada di tengah taman yang di dalamnya terdapat banyak sekali muda-mudi yang saling memadu kasih di tiap bangku taman yang tersedia. Banyak dari mereka yang masih mengenakan seragam sekolah yang menunjukkan bahwa mereka baru saja pulang dari kegiatan mulia mereka, yakni menimba ilmu.

"Cih, kurasa aku salah mengambil jalur", Menma merutuki kesalahannya dengan mengambil jalur pulang melewati taman ini yang menurutnya sangat tidak senonoh. Bagaimana mungkin hal ini senonoh mengingat apa yang dilakukan remaja yang baru saja pulang dari sekolah di sebuah taman di sore hari ini?

Tiba-tiba saja udara di sekitar Menma sedikit memberat yang diikuti oleh suara seseorang "Apa yang dilakukan Vampire di kota ini?", Menma yang mendengar suara tersebut memalingkan tubuhnya kearah seorang lelaki dewasa yang tengah mengenakan sebuah kimono berwarna abu-abu dengan surai Hitam berponi kuning yang menurut Menma sangat aneh.

'Datenshi kah?', batin Menma setelah merasakan aura orang di depannya. 'Ah tekanan ini? Gubernur Datenshi?', lanjut Menma dalam batinnya.

"Hoo sungguh terhormat bisa bertemu dengan pimpinan Malaikat Jatuh di tempat yang dikelola oleh Iblis ini", bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan lawan bicaranya, Menma malah seakan memancing lawan bicaranya untuk membuka identitas sebenarnya dari sosok itu.

Sedangkan sosok tersebut hanya sedikit terkejut karena orang- Vampire di depannya dapat mengetahui identitasnya sebagai Gubernur, yakni pemimpin tertinggi dari Malaikat Jatuh. "Yare-yare, sepertinya dirimu bukan Vampire sembarangan pemuda-san. Perkenalkan, aku adalah Azazel Gubernur Malaikat Jatuh".

Bats

Setelah mengatakan kalimatnya, muncul 6 pasang sayap hitam dibelakangnya yang sangat gelap segelap malam. "Bukankah tidak sopan untuk tak memperkenalkan diri setelah lawan bicaramu memperkenalkan dirinya, Pemuda-san?", ucap Gubernur Malaikat Jatuh yang kita ketahui bernama Azazel itu dengan niatan untuk mengetahui identitas sebenarnya dari Vampire yang ada di hadapannya ini yang mampu untuk merasakan kekuatan yang telah ia tekan hingga titik nol.

Sringgg

Anting yang dikenakan Menma bersinar dengan terang hingga membuat Azazel menyipitkan matanya akibat terangnya cahaya oranye yang keluar dari anting yang dikenakan pemuda di depannya ini.

"Aku? Perkenalkan namaku Namikaze Menma", Menma pun berucap sambil memegang antingnya yang bercahaya dan lalu menariknya sehingga terbentuklah sebuah Sabit dengan gagang oranye yang memiliki panjang sekitar 2 meter dengan bilah melengkung berwarna hitam sepanjang 1 meter yang dihiasi oleh corak jilatan api berwarna merah.

Melihat hal itu, Azazel pun tak berdiam diri, ia kemudian menyiapkan dua buah tombak cahaya berukuran sedang di masing-masing tangannya bersiaga apabila akan terjadi bentrokan secara tiba-tiba dari pemuda yang mengaku sebagai Namikaze Menma ini.

"Senjata itu? Bagaimana mungkin Vampire dapat memiliki sebuah senjata sehebat itu, Namikaze-san?", tanpa adanya rasa takut sedikitpun Azazel menanyakan hal itu. Memang tak bisa dipungkiri bahwa Azazel sedikit berkeringat tatkala merasakan hawa dari senjata yang dikeluarkan Menma yang memiliki aura yang menakutkan menurut Azazel.

"Haruskah aku menceritakan kisah hidupku dari semenjak aku dilahirkan ke dunia ini, Gubernur Azazel-san?", jawab Menma dengan sarkastik yang dapat diketahui dari kata-kata dan nada yang dikeluarkannya.

"Sudah kuduga pasti akan menolak memberitahukannya", ucap Azazel seolah sudah menerka jawaban yang akan dikeluarkan Menma.

Swushh

Trankk

Tanpa ba-bi-bu lagi Menma langsung menerjang Azazel dengan sangat cepat. Beruntung Azazel merupakan Malaikat Jatuh yang menjabat sebagai Gubernur di mana kekuatannya tak perlu diragukan lagi. 'Cepat !', sembari menahan ayunan sabit Menma, Azazel membatin di sela-sela acara adu kekuatan dorongan senjata antara keduanya.

Dapat dilihat oleh Azazel sedikit perubahan fisik yang terjadi pada Menma. Kukunya yang memanjang, Gigi taringnya yang juga sedikit memanjang, serta Rambutnya yang dihiasi oleh warna merah di ujungnya. "Seperti yang diharapkan oleh Gubernur Malaikat Jatuh, kau hebat dapat menahan seranganku, Azazel-san", Menma benar-benar memuji kehebatan dari Azazel yang mampu menahan serangan kejutannya yang ia lancarkan dari atas.

Mendengar pujian tersebut tak membuat Azazel tinggi hati dan lengah. Azazel lalu mengerahkan kekuatannya seraya menghempaskan sabit yang ia tahan dengan kedua tombak cahayanya ke depan.

Swushh

"Benarkah Menma-san? Aku juga kagum pada kecepatanmu itu. Memang ya para Vampire sungguh terkenal akan kekuatan fisiknya yang sangat tidak masuk akal", Azazel pun memuji balik Menma yang kini berdiri sedikit jauh akibat dihempaskan oleh Azazel.

"Sebuah kehormatan dapat dipuji oleh sesosok Pemimpin dari para Malaikat Jatuh", itulah yang dikatakan Menma.

Sriingggg

Setelah mengatakan itu, sabit Menma pun ia hilangkan dan kembali menjadi sebuah anting yang bertengger di telinga sebelah kiri Menma. Dengan menghilangnya sabit tersebut fisik Menma pun kembali seperti semula di mana kuku dan taringnya kembali ke panjang normal juga rambutnya yang sebelumnya memiliki ujung merah pun kembali menghitam seluruhnya.

Melihat lawannya menghilangkan senjata, Azazel pun melakukan hal yang sama. Ia menghilangkan tombak cahayanya yang ia lihat sudah retak dan akan hancur jika sekali lagi beradu kekuatan dengan sabit Menma. 'Sebuah senjata yang mengerikan', batin Azazel.

"Maaf karena mengagetkanmu dengan kehadiranku, Menma-san", Azazel meminta maaf karena kedatangannya yang tiba-tiba.

"Ahh aku juga minta maaf karena telah menyerangmu, Azazel-san", Menma pun juga meminta maaf akan serangan mendadaknya tadi. "Kurasa mencari tempat berbincang lebih enak daripada harus berdiri di sini hehehe", lanjut Menma yang merasakan akan adanya kehadiran dari beberapa Iblis ke tempat itu.

"Baiklah, ayo ikut aku Menma-san", Azazel yang mengerti maksud Menma pun mengajak Menma untuk mengikutinya menuju sebuah restoran terdekat dari taman itu.

.

.

.

.

Sringgg

Selepas kepergian Menma dan Azazel lalu muncul sebuah lingkaran sihir berwarna merah di tengah-tengah tempat pertarungan singkat antara Azazel dan Menma tadi yang memunculkan sekelompok Iblis yang memakai sebuah seragam sekolah.

"Sepertinya asal dua kekuatan besar tadi dari sini, tapi kenapa tidak ada apa-apa di sini?", ujar Iblis wanita yang memiliki surai merah cerah dengan wajah cantik dan tubuh yang sempurna.

"Ara ara~ Kurasa tadi hanya perasaanmu saja, Buchou Fufufu~", ucap Iblis dengan surai hitam yang diikat pony tail dengan pita kuning sebagai pengikatnya yang juga memiliki wajah dan tubuh yang tak kalah dengan gadis iblis sebelumnya.

"Hm mungkin Akeno benar, baiklah kita kembali semuanya !", Ucap Iblis pertama yang dipanggil Buchou tadi menyetujui ucapan Iblis yang ia panggil Akeno.

"Ha'i Buchou", hanya itu yang diucapkan Iblis lainnya kecuali "Fufufufu~", hanya Akeno yang mengeluarkan tawa yang terdengar menggoda dari nada yang dikeluarkannya.

Sriingggg

Dengan itu pun mereka menghilang ditelan lingkaran sihir yang berwarna merah.

'Maaf Rias, belum saatnya untukku kembali menunjukkan diri dihadapanmu', batin seseorang- atau mungkin sesosok yang kita tak tahu siapa itu.


Skip Time

Night

"Haaahhh kurasa aku akan dimarahi Shion karena pulang selarut ini", ucap seorang yang tengah berjalan menuju rumahnya di kota Kuoh ini sambil memperhatikan arlojinya yang menunjukkan pukul 10 lebih 15 menit. Nampak pemuda tersebut merupakan Menma yang kini berjalan pulang dengan membawa 2 kantong plastik putih besar yang diketahui merupakan bahan makanan yang dipesan Shion sebelum keberangkatan Menma tadi siang.

"Azazel sialan itu, dia membuatku pulang jam segini, awas saja kalau sampai bertemu lagi akan kubuat dia membayarnya hufhhh", bergerutu ria ditengah perjalannannya atas apa yang dilakukan Azazel sehingga membuatnya harus pulang jam- Swushh Jleb

Terlihat sebuah tombak cahaya yang menancap di tempat Menma berdiri sebelumnya.

Tap

Mendarat dengan sempurna, Menma pun mengalihkan perhatiannya ke arah kanannya "Keluarlah sialan ! Aku sedang kesal saat ini, jadi keluarlah dan akan kumusnahkan kau agar aku bisa segera pulang ke rumah", Ujar Menma setengah malas.

"Khu khu khu hebat juga kau manusia, dapat menghindari seranganku", keluarlah seorang- maksusnya sesosok Malaikat Jatuh yang berpakaian layaknya detektif lengkap dengan topinya yang kini di tangan kanannya tengah memegang sebuah tombak cahaya yang sama dengan yang menancap di samping Menma.

'Haaah setelah pemimpinnya, sekarang bawahannya. Kenapa aku selalu saja berurusan dengan Malaikat Jatuh?', Menma hanya membatin atas kesialannya yang selalu saja bentrok dengan ras yang sama selalu.

"Hooo apa kau terlalu takut sehingga tak bisa menjaw-"

Crashh

Brukkk

"Arghhhhh", sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, kedua kaki Malaikat Jatuh tersebut pun telah terpotong dengan sempurna pada bagian lutut.

Terlihat di belakang Malaikat Jatuh tersebut sosok Menma yang berdiri tanpa membawa barang belanjaannya dengan sebuah pisau di masing-masing genggamannya. "Cepatlah mati ! Aku sudah capek setelah seharian berjalan di kota ini", sebuah nada malas dikeluarkan Menma sambil mengibaskan kedua pisaunya yang berlumur darah.

Cprattt

"Si-siapa kau sebenarnya?", dengan posisi tengah berbaring di atas aspal akibat kakinya yang terpotong Malaikat Jatuh tersebut hanya bisa tergagap dengan tatapan yang seolah mengisyaratkan bahwa ia tengah bertemu seorang monster yang haus darah.

Bzzt

Swush

Malaikat Jatuh tersebut pun mencoba terbang untuk meloloskan diri dari Menma yang menurutnya sangat menakutkan itu. Namun. . .

Duak

Wushhh

Bummm

Menma pun menghilang dengan kilatan kuning dan muncul di hadapan Malaikat Jatuh yang mencoba kabur itu lalu melayangkan sebuah tendangan kearah wajah Malaikat Jatuh itu yang nampak terkejut dengan kemunculan Menma, dan setelah itu terdengarlah suara berdebum yang menandakan Malaikat Jatuh tersebut kembali berbaring di atas aspal dengan kondisi yang memprihatinkan. Nampak wajahnya terhias oleh darah yang mengucur dari kepalanya.

Tap

Menma pun mendarat di depan Malaikat Jatuh tersebut sembari mengacungkan pisaunya yang kini nampak berbentuk aneh dengan memiliki 3 bilah dengan gagangnya yang terdapat sebuah tulisan yang tak dapat dimengerti oleh manusia biasa.

"Kau tahu? Terakhir kali aku berhadapan dengan Datenshi, aku membunuh mereka", Menma berjalan mendekat ke arah mangsanya sambil berucap demikian.

Jleb jleb

"Arghhhh", berteriak kesakitan tatkala Menma menancapkan kedua pisaunya pada masing-masing sayap dan tangan Malaikat Jatuh tersebut. "Mungkin hari ini keberuntunganmu Datenshi-san, karena aku harus cepat-cepat pulang jadi akan kuselesaikan dengan cepat", ucap Menma yang kini mengacungkan tangannya kedepan seketika muncul sebuah lingkaran sihir berwarna jingga yang kemudian menyemburkan api yang besar yang kemudian membakar Malaikat Jatuh yang bahkan tak diketahui namanya oleh Menma itu.

"Aaarrrgggghhhhhhh", menghiraukan jeritan kesakitan dari sosok yang terbakar di belakangnya lalu kemudian Menma mengambil barang belanjaannya yang sedikit tercecer di jalanan lalu kemudian kembali berjalan meninggalkan Api yang tengah beekobar membakar sesosok Malaikat Jatuh di belakangnya.


Skip Time

In Namikaze's House

"Tadaimaaa", Menma membuka pintu rumah seraya berucap yang menandakan ia telah tiba dari jalan-jalannya namun tidak ada jawaban dari dalam yang membuat Menma heran.

'Apa Shion sedang keluar? Mungkin dia sudah tidur', batin Menma kemudian berjalan ke arah ruang makan yang kemudian menemukan adik tersayangnya tengah tertidur di meja makan dengan semangkuk Ramen yang ada di hadapannya yang terlihat sudah mulai dingin.

"Ah Maaf Shion, aku pulang terlambat dan membuatmu menunggu sampai tertidur di sini", ucap Menma yang kemudian menuju ke arah Shion dan menggendongnya ala Bridal Style menuju kamarnya yang berada di lantai atas rumah ini.

Shion's Bedroom

Cklek

Terkejut, itulah yang dirasakan Menma tatkala memandang isi dari kamar adiknya itu. Bagaimana tidak terjejut tatkala dirimu melihat sebuah dekorasi kamar yang sama persis dengan kamarmu di rumah lamamu? Itulah yang kini dilihat Menma. Sebuah kamar yang sama persis dengan Kamar Shion di Kyoto. "Ternyata yang tak bisa melupakan rumah lama itu sebenarnya dirimu kan, Imouto?", setelah berucap demikian Menma pun masuk ke dalam kamar Shion yang tercium memiliki aroma Strawberry serta dinding yang dibalut cat berwarna merah muda dengan hiasan berupa beberapa senjata yang aneh jika dibandingkan dengan senjata manusia masa kini. Sebuah almari yang sangat persis dengan almari adiknya di rumah mereka di Kyoto pun terpampang dengan rapi di pojok kamar itu. 'Benar-benar persis seperti aslinya, kau sudah berjuang keras ne, Shion', ucap Menma karena takut membangunkan adiknya yang kini tertidur pulas di atas kasurnya yang dibalut seprei berwarna biru muda bengan corak bunga lavender.

Perhatian Menma pun teralihkan ke arah meja rias adiknya itu, dan kemudian dibukanya laci yang ada di dalam meja tersebut. Didapatlah sebuah bingkai foto berukuran kecil dengan 4 orang yang ada di dalam foto tersebut. Nampak 3 orang yang berambut pirang dan seorang yang berambut merah tengah tersenyum cerah ke arah kamera. "Aku akan menjaganya untuk kalian, Sensei", setelah berucap demikian Menma mengembalikan bingkai tersebut dan berjalan menuju Shion.

Cup

Dengan penuh kasih sayang, Menma mengecup oelan kening adiknya seraya sedikit berbisik "Aku pasti menjagamu dan 'dia', Shion", setelah berbisik demikian, Menma menaikkan selimut yang tersedia di atas kasur adiknya hingga sebatas dada Shion dan kemudian hendak keluar kamar sebelum. . .

Set

"Onii-chan, makananmuu. . .", ahh rupanya Shion sedang mengigau di tengah tidurnya dengan memegang tangan Menma serta berucap mengenai makanan Menma. Hal ini menunjukkan betapa lamanya Shion menunggu kepulangan Menma hingga terbawa ke dalam mimpinya saat ini. Melihat ini Menma hanya tersenyum dan melepaskan pegangan Shion pada lengannya denga perlahan agar tak membangunkannya.

"Oyasumi, Shion", Menma mengucapkan selamat tidur sembari menutup pintu kamar Shiom dengan perlahan supaya tak mengganggu tidur adiknya itu.


Di ruang makan, Menma kini tengah menikmati hidangan yang telah disiapkan Shion dengan sepenuh hati- menurut Menma. Walaupun ramen tersebut sudah dingin, namun Menma tetap memakannya dengan lahap dan semangat mengingat betapa kerasnya usaha Shion dalam menyiapkan makan malam yang seharusnya mereka nikmati berdua. Menma pun kembali tersenyum "Terimakasih atas hidangannya, Shion".


Unknown Place

Terlihat di sebuah bangunan yang nampak berbentuk seperti bangunan eropa kuno sesosok wanita bersurai merah tengah duduk di sebuah jendela yang menampilakan wajah cantik serta rambut indahnya yang berkibar tertiup angin malam. Sembari melihat bulan, ia memegang sebuah liontin yang tersembunyi di balik baju tidurnya yang memiliki bentuk kepala Rubah yang terbuat dari batu Ruby yang indah serta senada dengan rambut indah merahnya itu. Dia adalah Rias Gremory, adik dari Maou Lucifer saat ini serta merupakan Heirs dari klan Gremory.

"Naru. . . Aku merindukanmu, aku tahu kau pasti mendengar suaraku ini jadi datanglah dan selamatkanlah lagi aku dari rasa sepi ini"

Tes

Tes

Air mata pun mengalir dari iris Gren-Blue tersebut. Sembari menengadah ke arah langit malam yang penuh akan bintang itu ia kembali berucap. "Naru, aku iri, aku iri ketika melihat langit malam ini. Bagaimana mungkin para bintang itu dapat tetap bersinar seperti itu dan tetap menghiasi malam? Sedangkan dirimu tak ada di sini Naru", sedikit isakan keluar dari bibir manis itu. Dia benar-benar menangis ! Tangis rindu akan seseorang yang menjadi pujaan hatinya selama ini.

"Naru, jika memang aku harus melupakanmu dan juga perasaan ini, maka haruskah aku menghilangkan nyawa ini? Jujur aku takkan bisa menghilangkanmu dari hidupku. Mungkin mereka semua menganggapmu telah tiada, namun aku yakin kau pasti hidup di suatu tempat yang aku tak tahu di mana itu, serta dirimu pasti kini memandang langit yang indah ini juga kan?", Rias terus meracau di tengah isak tangisnya malam itu yang terdengar sangat memilukan dan menyesakkan dada.

"Kau pernah berkata kepadaku bahwa perasaan seseorang terhadap orang yang benar-benar dicintainya takkan pernah salah kan? Benar kan Naru? Kau masih melihat langit yang sama denganku kan? Kau masih ada di dunia ini kan?", kalimat tanya itu entah ia tujukan kepada siapa, di mana malam itu sangat sunyi dan tiada seorang pun yang dapat mendengar perkataan Rias serta segala pertanyaan yang keluar dari bibirnya itu. Setelah berucap demikian, Rias mengusap air matanya dan kembali memandang ke arah langit lalu tersenyum tipis sebelum ia menyudahi acaranya itu dan kembali masuk ke dalam bangunan itu lalu menutup jendela yang sempat menjadi saksi bisu dari kepedihan Rias.


The Other Side

"Kita pasti akan kembali bertemu Riasku, namun tidak saat ini", ucap sebuah siluet yang tengah berdiri menghadap jendela yang terbuka dan menengadah ke arah langit. Sepertinya perasaan Rias benar-benar tersampaikan kepadanya.

Kemudian ia mengambil sebuah kotak yang ia simpan di laci meja yang ada di kamar tersebut dan kemudian membukanya, lalu nampaklah sebuah liontin dengan bandul yang sama seperti milik Rias, hanya saja terbuat dari bahan yang berbeda yakni terbuat dari Sapphire biru yang indah. Sembari menggenggam liontin tersebut, siluet tadi berucap "Perasaan seseorang terhadap orang yang benar-benar dicintai memang takkan pernah salah", seolah mendengar apa yang telah dikeluarkan Rias sebelumnya, siluet tersebut menjawab apa yang ditanyakan Rias tatkala Rias mencurahkan segala isi hatinya kepada langit malam.

Chapter II Done


Happy New Year hehehe, pas banget nih tadi mumpung lagi ga ngapa2in di malam tahun baru jadi nyempetin waktu buat ngelanjutin nulis. So sad sih soalnya gaada yg mau menghabiskan waktu dengan hamba malam tadi :(

Kembali ke fic gajelas yang satu ini, hamba mencoba untuk memberikan kesan romance pada chapter ini. Memang sih hamba masih kekurangan pengalaman mengenai romantisme soalnya gapernah mengalami selama hamba hidup sampai saat ini jadi maklum lah ya.

Tapi hamba akan mencoba untuk memberikan sebuah kisah romance yang baik dan benar namun akan tetap dibumbui fiksi, aksi, dan mati muehehehe.

Dari chapter kali ini udah ada beberapa bocoran dan juga tokoh baru tambahan, untuk yang peka sih mungkin langsung sadar, untuk yang kurang peka mungkin bisalah untuk dibaca berulang-ulang tehe~

Jangan lupa tinggalkan saran agar dapat membantu hamba untuk memberikan kepuasan membaca pada anda-anda semua hm hmm.

Sampai jumpa di chapter depan !

-CapedBaldySins-