Hallo semuanya~

Sebelum membaca ff ini, silahkan baca sedikit Author's note di bawah ini /sedikit kok/

Jadi ini adalah ff yang sudah setahun lebih tidak dilanjut karena hilangnya ide. Akhirnya setelah ide kembali muncul, Author lanjutin ceritanya. Seiring dengan berjalannya waktu, ide awal cerita ini mendadak berubah, jadi Author ubah dari awal. Author pikir banyak yang lupa ceritanya, jadi Author sarankan membaca dari awal (chapter 1) agar lebih greget.

Semoga kedepannya, ide cerita ini tidak hilang.

Selamat membaca~

.

.

Hari baru yang cerah telah berganti untuk Baekhyun. Setelah kemarin ia mengalami kejadian yang membuatnya lelah secara batin karena Chanyeol, hari ini Baekhyun berusaha mendapatkan hari normalnya kembali.

Tapi Baekhyun tau, semua tak akan sama seperti hari kemarin.

Demi Tuhan, mulai sekarang hidupnya akan berubah.

Siang ini, rencananya Baekhyun ingin menghindari Chanyeol dan pergi kuliah seperti hari-hari sebelumnya. Tapi ternyata rencananya itu harus gagal karena tepat saat ia keluar dari pintu apartemennya, Chanyeol sudah menunggu di depan, dengan cengiran lebar dan satu cup kopi dingin di tangan.

Dengan paksa –dan senyuman bahagia– Chanyeol menggiring Baekhyun memasuki mobilnya.

Sekali lagi, Baekhyun tak bisa menolak hal itu. Ia malas berdebat dengan orang bodoh seperti Chanyeol. Mendengar ocehan Chanyeol membuat telinganya nyaris robek.

Baekhyun tidak pernah berpikir menjadi orang tenar di kampus, menjadi pusat perhatian sama sekali bukan dirinya. Selama ini Baekhyun hanya seorang mahasiswi biasa yang selalu menganggap dirinya normal, ia sama sekali tak pernah menjadi bahan pembicaraan orang lain selama kuliah.

Bahkan tak semua orang tau keberadaannya di kampus.

Baekhyun lebih senang bermain di belakang layar.

Tapi kemarin, hanya dalam waktu satu hari, semuanya berubah secara keseluruhan.

Ia tak tau harus berterima kasih atau membunuh Chanyeol karena pria itu membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Baekhyun yang tadinya hanya dianggap angin lewat, sekarang mendadak menjadi pusat perhatian semua orang.

Seolah-olah hal kecil tentang dirinya menjadi sangat menarik untuk dibicarakan saat ini.

Bahkan parahnya, obrolan kampus di media sosial banyak yang membicarakan namanya. Sebenarnya ia terganggu karena orang-orang itu berusaha menggali kehidupannya, tapi Baekhyun memilih untuk tidak peduli.

Berpura-pura adalah bakatnya yang lain.

Chanyeol mengajaknya bicara saat perjalanan menuju kampus, tapi Baekhyun tak merespon ucapan pria itu. Jujur saja, ia terlalu kesal dengan tingkah Chanyeol yang menurutnya egois. Jadi sementara Chanyeol mengoceh tentang kehidupannya pada Baekhyun –menceritakan tentang dirinya agar Baekhyun seolah-olah telah mengenal pria itu sejak lama, Baekhyun masih fokus pada ponsel di tangan – sambil sesekali menggumam dan mengangguk ringan.

Ia masih tidak peduli dengan pria itu.

Chanyeol menepikan mobilnya tepat di depan gedung kampus yang menjulang tinggi, ia tersenyum pada Baekhyun, sementara Baekhyun memandangi pria itu dengan tatapan bingung.

"Kau siap?" tanya Chanyeol dengan cengiran lebar yang Baekhyun benci.

Dahi Baekhyun berkerut. "Apa maksudmu?" balas Baekhyun acuh, mengambil tas kecilnya dari bangku belakang dan membiarkan Chanyeol keluar dari mobil, mendahuluinya.

Baekhyun baru saja akan membuka pintu mobilnya, tapi Chanyeol sudah membukakan pintu gadis itu dari luar. Umpatan Baekhyun menggema dalam hati, ia memperhatikan beberapa orang yang mulai melihat Chanyeol dengan tatapan penasaran.

Sial, ini tak akan berakhir baik.

Chanyeol tersenyum, mengulurkan tangannya pada Baekhyun. "Kau tidak turun, sayang?" ucapnya dengan nada riang gembira.

Baekhyun mendengus, menerima uluran Chanyeol dan keluar dari mobil dengan satu gerakan cepat. "Terima kasih, sayang," bisik Baekhyun dengan gumaman singkat, senyum Chanyeol semakin lebar.

Oke, sekarang semua orang memperhatikan mereka dengan suara bisik-bisik yang bisa Baekhyun dengar dengan jelas.

Chanyeol tersenyum lagi, melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Baekhyun dan sedikit berbisik di telinga gadis itu. "Jangan lupa tersenyum sayang, bukankah kau bahagia mempunyai pacar tampan seperti ini?" bisiknya.

Baekhyun mendengus ringan, kemudian menoleh kea rah Chanyeol dengan senyuman sayang yang dipaksakan. "Tentu saja," ia menyentuh pipi Chanyeol dengan jemarinya sedikit, kemudian menggeram ringan, membiarkan Chanyeol menggiring tubuhnya masuk ke dalam gedung.

Dalam hati, Baekhyun meneriakan sejuta umpatan untuk pria jakung itu.

Masih dengan semua mata tertuju pada mereka, Chanyeol mengantar Baekhyun hingga depan kelasnya, kemudian tersenyum pada gadis itu sambil mengusap rambutnya sayang.

"Aku akan menjemputmu setelah kelas," ucapnya lembut dengan senyuman ringan.

Baekhyun mengangguk lucu, tersenyum ceria –meskipun hanya tipuan. "Tentu saja,"

Dan senyum Baekhyun menghilang saat ia memasuki kelasnya.

Luhan langsung mendorong gadis itu agar duduk di tempatnya. "Baek, apa sebenarnya hubunganmu dengan Chanyeol?" tanya Luhan langsung, membiarkan beberapa orang di ruangan itu curi pandang kea rah Baekhyun.

Baekhyun tersenyum ringan. "Menurutmu apa? Tentu saja kami berkencan,"

Dahi Luhan berkerut dalam, memandangi Baekhyun dengan pandangan menyelidik tajam. "Sejak kapan kau dekat dengannya?" ucapnya dengan nada tidak percaya yang jelas terdengar di telinga Baekhyun.

Baekhyun mengangkat bahu acuh. "Tidak lama juga," balas Baekhyun.

"Bagaimana dengan tunangan Chanyeol yang dari Jepang?" tanya Luhan penasaran.

Baekhyun mengernyit ke arahnya. "Entahlah, kupikir gadis Jepang yang menjadi perbincangan banyak orang itu tak pernah ada,"

Oke, sebenarnya Baekhyun tak tau juga tentang hal ini.

Luhan memandangi Bakehyun aneh. "Aneh sekali, bagaimana bisa kau dan Chanyeol berkencan?"

Baekhyun hanya mengangkat bahu acuh, kemudian membuka bukunya untuk mengalihkan perhatiannya dari Luhan.

Ia tidak pandai berbohong, sebenarnya.

.

.

Tepat waktu kuliahnya berakhir, Chanyeol sudah menunggu Baekhyun di depan pintu. Sebenarnya Baekhyun penasaran apa Chanyeol menunggunya daritadi, bahkan ia sama sekali tak membuat Baekhyun menunggu. Pria itu sedikit mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka, membuat semua orang memandangi Baekhyun dengan heran.

Baekhyun hanya tersenyum ringan, kemudian melambaikan tangannya pada Chanyeol.

"Aku pergi dulu, Lu," ucapnya pada Luhan.

Luhan hanya memandangi Baekhyun yang sedang berlari-lari kecil menghampiri Chanyeol itu dengan tatapan heran bercampur tak percaya.

Chanyeol menunggu dengan senyuman lebar, kemudian mengusap rambut Baekhyun sayang saat gadis itu berada di depannya. "Kuliahmu menyenangkan?" tanyanya.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu, membiarkan tangan Chanyeol melingkar di pinggangnya. "Aku lapar," bisiknya manja.

Chanyeol tersenyum lagi, mengusap kepala Baekhyun dengan sayang, kemudian membimbing gadis itu jalan menuju pintu keluar.

Baekhyun dengan paksa melepaskan pegangan Chanyeol pada pinggangnya saat mereka memasuki ruang club seni Baekhyun. Dengan hembusan napas kesal, Baekhyun menutup pintu dari dalam, membiarkan Chanyeol tertawa di sampingnya.

"Kau lelah?" tanyanya.

Baekhyun mendengus, kemudian mengambil ponselnya. "Berpura-pura menjadi pacarmu dan menjadi pusat perhatian benar-benar melelahkan," Baekhyun mengusap-usap layar ponselnya kasar.

"Tapi kau melakukannya dengan baik," balas Chanyeol, mendudukkan dirinya di atas meja.

Baekhyun mendengus, menempelkan ponsel di telinga. "Ya, tentu saja, aku pernah menjadi actor utama pertunjukan opera," balasnya acuh.

Lagi-lagi Chanyeol tersenyum melihat kelakuan gadis itu. "Siapa yang sedang kau hubungi?"

"Makanan cepat saji," balas Baekhyun. "Aku lapar," dan Chanyeol hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.

Baekhyun benar-benar gadis yang acuh terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.

.

.

"Ya Tuhan, kapan kau menghabiskan itu semua?" tanya Chanyeol saat Baekhyun memasukkan potongan pizza terakhir ke dalam mulutnya yang mungil.

Baekhyun memandangi pria itu dengan tatapan kesal, masih mengunyah. "Memangnya kenapa?" ucapnya dengan mulut penuh, Chanyeol mengernyit memandangi gadis itu. "Kau belum pernah melihat seorang gadis kelaparan sebelumnya?"

Tawa Chanyeol terdengar lembut. "Kalau kau sudah selesai, aku akan membicarakan rencana kita,"

"Terserah kau saja. Aku mendengarkan," ucap Baekhyun acuh, masih mengunyah makanannya dengan cepat.

"Jadi anggap saja aku mengenalmu saat acara thanksgiving," ucap Chanyeol.

Baekhyun mengangguk-angguk beberapa kali. "Masuk akal, aku merencanakan semua acaranya dan kau tampil dalam pertunjukan musik,"

Chanyeol menjentikkan jari sambil tersenyum puas. "Jadi bagaimana aku bisa tertarik padamu?" tanya Chanyeol.

"Karena aku menarik?"

"Tidak masuk akal," balas Chanyeol cepat, menolak iden Baekhyun.

Baekhyun mengerang kesal. "Anggap saja aku menarik," ucapnya malas.

Chanyeo terkekeh ringan. "Baik, begitu saja," Chanyeol berhenti sebentar untuk melihat Baekhyun. "Bisa kau ceritakan sedikit tentang dirimu?"

Baekhyun berpikir sejenak. "Aku punya satu adik laki-laki, kedua orang tuaku tinggal di Busan. Apalagi yang ingin kau ketahui?"

"Kau punya pacar?" tanya Chanyeol.

"Selain kau, tidak ada," jawabnya dengan cengiran lebar.

Chanyeol tertawa. "Lebih baik kita membuat perjanjiannya,"

"Memangnya aku bekerja di perusahaan atau apa," Baekhyun merengut, tapi ia mengambil satu lembar kertas dan pena dari loker di bawah meja. "Buatlah yang masuk akal,"

Chanyeol mengangguk ringan, menerima uluran kertas dan pena dari Baekhyun. "Pertama, jangan sampai ketahuan,"

"Itu pasti," balas Baekhyun acuh.

"Kedua, kita akan mengakhiri ini sesuai permintaanku," tambah Chanyeol.

"Itu tidak adil," debat Baekhyun, Chanyeol mengerutkan kening bingung. "Sampai kapan aku harus berpura-pura menjadi pacarmu?"

Chanyeol berpikir sejenak. "Tiga bulan?"

"Setuju," balas Baekhyun. "Tolong jangan buat aku menjadi brengsek saat kita putus nanti," tambah Baekhyun.

"Setuju," jawab Chanyeol. "Ketiga, kuharap kau tidak keberatan dengan skinship. Aku tidak akan menyentuhmu secara berlebihan,"

"Bukan masalah," sahut Baekhyun cepat, Chanyeol menjawab dengan anggukan ringan. "Ada lagi?"

"Cukup dariku," Chanyeol menyerahkan kertas dan pena itu pada Baekhyun.

"Sekarang giliranku," ia menuliskan nomor 4 di bawah tulisan Chanyeol. "Keempat, kau harus bertemu dengan orang tuaku,"

Chanyeol mengernyit bingung. "Maksudmu?"

"Kita bisa berpura-pura disini, kau harus membantuku berpura-pura juga," balas Baekhyun membuat Chanyeol tak mengerti. "Orang tuaku hampir menjodohkanku dengan pria asing, kau pikir itu masuk akal?"

Chanyeol terbahak. "Memangnya kau hidup dimasa lalu?" balas Chanyeol.

Baekhyun mengangkat bahu acuh. "Tak perlu khawatir, mereka mungkin hanya menanyakan sedikit tentangmu. Kau keberatan?"

Chanyeol tersenyum ringan. "Tidak," balasnya. "Sama sekali tidak,"

"Bagus," Baekhyun melanjutkan. "Kelima, jangan pernah mengurusi masalah pribadiku,"

Chanyeol mengangguk yakin. "Tentu saja,"

Baekhyun tersenyum padanya. "Jika kau melanggar, perjanjian kita batal,"

"Berlaku untukmu juga," sahut Chanyeol.

"Tentu saja," balas Baekhyun. "Jadi kita sepakat?" ia mengulurkan tangan ke arah Chanyeol dan pria itu menyalaminya dengan senyuman bersahabat.

"Sepakat," balasnya.

Dan begitu saja, perjanjian bodoh itu dibuat.

.

.

Setelah pembuatan perjanjian itu, Chanyeol mengantarkan Baekhyun pulang, tentu saja, mulai sekarang mereka berkencan. Berbeda dengan hari kemarin, kali ini Baekhyun membiarkan pria itu masuk ke dalam apartemennya. Entah apa yang Chanyeol inginkan, Baekhyun tak menolak saat pria itu ingin tinggal agak lama.

Jadi disinilah Chanyeol, duduk di depan televisi yang menampilkan gambar-gambar tidak jelas. Sedangkan Baekhyun menyibukkan diri di dapur.

"Baekhyun, apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol setengah berteriak.

"Aku lapar," balas Baekhyun acuh.

Chanyeol mendengus keras, mengganti saluran televisi dengan asal. "Bukankah kau sudah makan banyak hari ini?"

"Diamlah. Sudah kubilang berpura-pura itu menghabiskan banyak tenaga," erang Baekhyun dari arah dapur.

Chanyeol terkekeh ringan, kemudian berjalan menghampiri Baekhyun yang sedang berdiri di balik penggorengan. Pria itu melewatkan kepalanya di samping kepala Baekhyun –berusaha melihat apa yang sedang gadis itu lakukan.

Baekhyun menoleh sedikit, hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Chanyeol. "Baunya enak," bisik Chanyeol, menoleh kea rah Baekhyun hingga wajah keduanya nyaris tak berjarak.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun acuh, berhenti mengaduk mie dalam panci dan sedikit menggeser kepalanya.

Chanyeol mengangkat bahu, membiarkan Baekhyun mematikan kompor dan berbalik badan menghadap pria itu. "Mengapa kau kejam sekali sih? Kau bilang tidak masalah dengan skinship. Bahkan kita sudah beciuman," cengiran lebar Chanyeol tercetak jelas di bibirnya, tau bahwa Baekhyun menghindarinya.

Baekhyun memukul lengan pria itu dengan geram. "Kau yang menciumku brengsek, kau pikir aku menginginkannya?" dengus Baekhyun kesal, mengangkat pagi yang berisi mie instan dan memindahkannya ke meja makan.

Dengan langkah ringan, Chanyeol mengikuti gadis itu. Ia menarik tubuh Baekhyun agar lagi-lagi menghadap ke arahnya, kedua lengannya mengungkung lengan Baekhyun, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun.

Secara naluri Baekhyun menarik wajahnya, menghindari hidung Chanyeol yang nyaris menyentuh hidungnya.

"Kalau aku menginginkan lagi bagaimana?" tanya Chanyeol.

"Apa kau mau aku menamparmu lagi?" Baekhyun mendorong dada Chanyeol dengan kedua tangannya.

Kekehan Chanyeol terdengar renyah. "Aku baru tau kau secantik ini," Baekhyun mendengus malas, memilih mengacuhkan Chanyeol dan mulai meniup-niup mie panasnya. "Aku serius," ucap Chanyeol duduk di hadapan Baekhyun dengan tubuh condong kea rah gadis itu.

"Diamlah, Chan. Kau mulai membuatku kesal," erang Baekhyun dengan mulut penuh. Chanyeol tersenyum lagi melihat gadis itu, jemarinya mengusap dahi Baekhyun yang terkena kuah mie. Baekhyun mengerang lagi. "Apa yang kau inginkan sih?" tanyanya kesal, menepis tangan Chanyeol.

"Membuatmu jatuh cinta padaku, Byun," balas Chanyeol cepat.

Baekhyun memutar bola mata dengan kesal, mulutnya sibuk mengunyah. "Dengar ya, aku tak pernah menyukaimu seperti itu," ucap Baekhyun, berusaha menelan makanannya susah payah.

Chanyeol memandangi gadis itu dengan pandangan menyelidik yang jelas. "Yang kudengar tidak seperti itu,"

"Memangnya darimana kau mendengarnya?" balas Baekhyun cepat.

Chanyeol menegakkan tubuhnya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ini aneh," ucapnya santai. "Aku dengar dari teman-temanmu kalau kau benar-benar menggilaiku,"

Dengusan Baekhyun terdengar jelas. "Wah, bisa kau mempercayai mulut-mulut pembual itu?" tanyanya dengan ekspresi mengejek yang jelas, kemudian melanjutkan makan.

"Yah, aku percaya begitu saja," balas Chanyeol, Baekhyun hanya tertawa ringan, melanjutkan makan dengan tenang. "Baekhyun," panggil Chanyeol, Baekhyun hanya menjawab dengan gumaman. "Besok kita akan mulai melakukan misi,"

"Misi pantat kuda," dengus Baekhyun, lanjut makan.

Chanyeol mengernyit. "Aku serius, Byun. Besok hari pernikahan itu. Kau benar-benar harus membantuku,"

Baekhyun menatap pria itu dengan pandangan heran. "Sudah kubilang aku akan membantumu, bukannya kita sudah membuat perjanjian itu, Chan? Kau ini bodoh atau bagaimana sih," umpat Baekhyun kesal.

Dengan geram, Chanyeol mencubit hidung gadis itu, membuatnya mengerucutkan bibir lucu. "Jujur saja, aku masih agak tak percaya padamu," ucap Chanyeol pelan.

"Lalu mengapa meminta bantuanku jika kau sendiri tak yakin dengan ini?" tanya Baekhyun kesal, mengambil tisu untuk mengelap mulutnya yang basah.

Chanyeol mengangkat bahu acuh. "Entahlah, aku tak punya orang lain untuk dimintai tolong,"

"Kau benar-benar tak punya teman?" tanya Baekhyun, mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat Chanyeol lebih jelas lagi.

Ekspresi Chanyeol terlihat seperti sedang berpikir. "Aku tidak terlalu suka berteman dengan wanita,"

"Wah, kau benar-benar brengsek," balas Baekhyun geram, masih mencondongkan tubuhnya untuk menatap Chanyeol lekat-lekat. "Jadi mengapa dari banyak wanita yang menggilaimu, kau malah memilihku?"

Chanyeol mengangat bahu acuh. "Kupikir kau mudah untuk dibodohi,"

"Sial. Batalkan saja perjanjiannya," ucap Baekhyun cepat, menarik tubuhnya ke belakang.

Chanyeol tertawa keras. "Aku hanya bercanda," ia berhenti sebentar untuk berpikir. "Entahlah Baek, kupikir kau tidak terlalu mencolok di kampus,"

Baekhyun mengangkat bahu acuh, meninggalkan Chanyeol dan berjalan menuju sofa. "Jadi apa yang harus kulakukan besok?" tanya Baekhyun sambil merebahkan dirinya di atas sofa, Chanyeol mengikuti duduk di samping gadis itu.

Dengan tubuh separuh miring, pria itu memperhatikan Baekhyun lekat-lekat. Sedangkan Baekhyun balas menatapnya dengan pandangan bodoh, menanyakan 'ada apa' tanpa suara. "Kau perlu sedikit perubahan," Chanyeol mengangkat jemarinya untuk membidik wajah Baekhyun dengan satu mata terpejam, seolah-olah sedang menilai wajah Baekhyun.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Baekhyun kesal, menepis tangan Chanyeol yang berada di depan wajahnya.

Chanyeol tersenyum. "Coba kulihat," Chanyeol mengarahkan jemarinya untuk merapikan poni panjang Baekhyun yang menyentuh dagunya, kemudian mengangkatnya ke atas, membuat gadis itu mematung. "Kau lebih cantik jika rambutmu diikat," ucap Chanyeol ringan.

Baekhyun menatap pria itu bingung, kemudian lagi-lagi menepis tangan Chanyeol dari wajahnya. "Diamlah, Chan," balasnya acuh.

Chanyeol tertawa ringan, kemudian berdiri dari tempat duduknya untuk mengambil sebuah tas kertas berwarna biru tua dari atas rak sepatu. "Pakailah ini untuk besok," ia mengulurkan tas kertas itu pada Baekhyun.

Baekhyun menerimanya dengan kening berkerut, kemudian membukanya. Dengan dua tangan, Baekhyun mengeluarkan sebuah bandage dress berwarna biru tua gelap. Ia memandangi gaun itu dan Chanyeol bergantian dengan tatapan tak percaya.

"Kau menyuruhku menggunakan ini?" tanyanya, masih membalik-balikkan gaun itu di tangannya. "Kau pasti bercanda," ia mendengus sebal.

"Kenapa? Itu bagus," Chanyeol membuka tas kertas itu lagi untuk mengeluarkan kotak sepatu dan membukanya untuk Baekhyun, gadis itu mengumpat pelan.

Baekhyun geleng-geleng kepala frustasi. "Apa belum cukup kau membuatku memakai baju kurang bahan ini? Sekarang kau menyuruhku memakai sepatu tinggi ini?" Baekhyun mengangkat kotak sepatu dan gaun dengan kedua tangannya.

Chanyeol terkekeh geli. "Ini bukan kurang bahan, Baekhyun. Memang modelnya seperti ini,"

"Sial. Sekarang aku mulai menyesal,"

Chanyeol tertawa ringan. "Ayolah, aku bisa membantu juga bertemu dengan orangtuamu," kekehan Chanyeol terdengar menyebalkan di telinga Baekhyun, membuat gadis itu mendengus malas. "Kau tak ingin mencobanya?" tanya Chanyeol.

"Kau ingin aku merobeknya?" balas Baekhyun acuh sambil merengut.

Chanyeol hanya tertawa melihat kelakuan gadis itu.

.

.

"Sudah malam, kau tidak pulang?" tanya Baekhyun sambil mencoret-coret kertas gambar dilantai, sedangkan Chanyeol masih berdiam diri menonton tayangan televisi dengan makanan ringan di tangan.

Chanyeol mengambil soda kaleng dan meminumnya dengan sekali teguk. "Mengapa kau mengusir pacarmu?" tanyanya.

Baekhyun mendengus, mencoretkan satu goresan penuh penekanan dengan kesal. "Diamlah, kubilang kita hanya berpura-pura. Jangan bertingkah seperti pacar sungguhan," balasnya.

Tawa Chanyeol terdengar, kemudian ia menyusul Baekhyun untuk duduk di lantai beralaskan karpet, mengambil pensil gadis itu dan ikut menggambar. "Aku bosan," balas Chanyeol.

Baekhyun mendengus lagi, sedikit menggeser tubuhnya agar tidak menempel dengan tubuh Chanyeol. "Memangnya biasanya apa yang kau lakukan?"

Wajah Chanyeol menunjukkan ekspresi berpikir, kemudian ia menggeleng pelan. "Tidak banyak yang bisa kulakukan,"

Baekhyun memutuskan untuk tidak peduli dan lanjut menggambar, sedangkan Chanyeol mengarsir hasil gambar Baekhyun dengan pensil. "Kau masih sakit hati?" tanya Baekhyun tiba-tiba, membuat Chanyeol menatapnya heran dengan kening berkerut dalam.

"Apa maksudmu?"

"Wanita yang kau cintai akan menikah besok, apa kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun lagi, mengambil spidol hitam dan mulai menebali garis pada gambarnya.

Chanyeol mendesah ringan. "Kau ingin jawaban pria jantan atau bagaimana?"

"Jawaban pria jantan?" ulang Baekhyun, kali ini menatap Chanyeol lekat-lekat, pria itu balas menatap Baekhyun dengan senyuman manis.

Dengan kedipan ringan, Chanyeol tersenyum lagi. "Pria jantan tidak berbohong,"

"Begitukah?" dengus Baekhyun malas, membuang pandangannya dari Chanyeol dan lanjut menggambar.

"Tentu saja aku masih sakit hati," balas Chanyeol santai. "Tapi aku tak bisa memaksakan apapun," tambahnya dengan suara rendah.

Helaan napas Baekhyun mendadak saja terdengar berat, entah mengapa Baekhyun bisa merasakan apa yang pria itu rasakan. "Mengapa kau tak mencari penggantinya, Chan? Bukannya kau popular?" tanya Baekhyun.

Kekehan Chanyeol terdengar aneh, sementara ia masih memandangi Baekhyun. "Aku tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta," balas Chanyeol.

Baekhyun melirik pria itu sekilas. "Kukira pria brengsek tak punya perasaan itu,"

"Jatuh cinta?" tanya Chanyeol, dibalas anggukan singkat oleh Baekhyun. "Kau benar-benar berpikir aku pria brengsek ya?"

Dengan malas Baekhyun menatap Chanyeol. "Pria baik-baik tidak akan mencium gadis asing sembarangan,"

Chanyeol terkekeh. "Kau masih memikirkan ciuman itu? Apa jangan-jangan itu ciuman pertamamu?" selidik Chanyeol, mendekatkan wajahnya pada Baekhyun.

Baekhyun memundurkan kepala sedikit menghindari wajah Chanyeol. "Tentu saja tidak," balasnya acuh. "Hanya saja aku benci dicium sembarangan,"

Senyum Chanyeol tercetak jelas dibibirnya. "Jadi apa seorang pria yang ingin menciummu harus mendapatkan ijinmu dulu?"

Baekhyun mengangkat bahu acuh. "Entahlah. Aku suka pria yang punya manner,"

"Begitukah?" tanya Chanyeol lagi, mendekatkan kembali wajahnya, membuat Baekhyun mengerutkan keningnya bingung. "Apa jika aku meminta ijin untuk menciummu, kau akan membiarkan aku menciummu?" tanya Chanyeol dengan senyum dan kedipan mata.

Sedangkan Baehkyun berusaha mengabaikannya.

Mengabaikan jantungnya yang berdetak sedikit lebih cepat saat Chanyeol memandanginya dengan senyum manis.

.

.

TBC

.

.

Terima kasih telah membaca dan mereview ff ini?

Minat untuk dilanjut? Komentar? Kritik? Saran? Silahkan disampaikan melalui kolom review~

Lebih kurangnya mohon maaf.

Jangan lupa review ya~

With love,

lolipopsehun