Baekhyun menggeliat malas saat seseorang mengguncang tubuhnya perlahan, kemudian ia dapat merasakan sesuatu yang dingin menempel di kedua pipinya. Ia membuka matanya sedikit, mendapatkan gambaran-gambaran buram yang tak ia pahami bentuknya, kemudian ia memejamkan matanya lagi.

Bangun di pagi hari bukan rencana yang bagus untuk menghabiskan akhir pekan.

"Baekhyun, bangun," ucap seseorang dengan suara lembut yang mengalun.

Oke, suara ini tidak asing..

Persis seperti seseorang yang Baekhyun kenal sebelumnya..

Suara yang baru-baru ini memenuhi pendengarannya, suara dari seorang pria yang mendadak saja membuat kehidupan normalnya berbeda seratus delapan puluh derajat. Pria yang muncul tanpa aba-aba seperti hujan lebat di musim panas.

Menyejukkan, tapi juga menyebalkan –terjebak di tengah hujan bukan hal yang menyenangkan.

Hujan tak bisa membuatmu berpergian jauh dengan bebas –sama seperti yang Chanyeol lakukan pada Baekhyun.

Bagi Baekhyun, Chanyeol tak bisa menjadi aroma tanah sehabis hujan yang menenangkan. Chanyeol hanya akan menjadi orang yang singgah, kemudian pergi, setelah mengubah kehidupan normal Baekhyun menjadi tak lagi sama.

Persis seperti hujan lebat dimusim panas.

Orang-orang tak akan memandang Baekhyun sama seperti sebelumnya.

Chanyeol..

Tunggu dulu..

Jika yang barusan itu adalah suara Chanyeol..

Apa yang ia lakukan di sini? –batin Baekhyun.

Dengan cepat, Baekhyun membuka mata, rasa kantuknya mendadak hilang begitu saja. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Chanyeol dengan cengiran lebar. Bingung, Baekhyun melirik tubuhnya sendiri –diam-diam, perlahan merasa lega karena baju tidurnya masih melakat dengan baik ditubuh.

Oke, memang Baekhyun tak berpikir aneh-aneh tentang Chanyeol, hanya saja, rasa paranoid masih ada dipikirannya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun dengan suara parau, ia mendudukkan tubuhnya –tangannya masih memegang selimut agar menutupi tubuhnya hingga batas leher.

Chanyeol duduk di pinggiran ranjang Baekhyun –secara naluriah, membuat Baekhyun bergeser menjauhi tubuh pria itu. "Kita harus bersiap-siap,"

Baekhyun mendengus malas, memejamkan matanya erat-erat, satu kali. "Diamlah Park, acaranya baru mulai nanti malam,"

Senyum Chanyeol mengembang di bibirnya. "Kita bisa terlambat,"

Dengan malas, Baekhyun melirik jam dindingnya, kemudian melirik langit di luar jendelanya yang masih separuh menghitam. "Aku menyesal membiarkanmu menginap. Demi Tuhan, matahari bahkan masih belum muncul,"

Ya, memang Baekhyun terperdaya oleh tipuan Chanyeol agar membiarkan pria itu menginap. Chanyeol bilang ia tak ingin terjebat macet dan terlambat menghadiri acara pernikahan itu, jadi ia meminta ijin Baekhyun untuk menginap.

Baekhyun mengijinkan pria itu tidur di sofa.

Dan sekarang ia menyesal.

"Kita harus berangkat sekarang," ucap Chanyeol, berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.

"Apa maksudmu?" ucap Baekhyun, terdengar seperti teriakan tertahan.

Chanyeol menoleh untuk tersenyum lagi pada gadis itu. "Kita akan terbang ke Shanghai pagi ini,"

Baekhyun nyaris lupa menutup mulutnya. "Kau gila?" jeritnya.

.

.

"Apa aku pernah bilang padamu sebelumnya kalau kau itu gila?" tanya Baekhyun saat baru saja mereka menjejakkan kaki di Shanghai, Baekhyun mengambil masker berwarna biru dari ransel kecilnya dan cepat-cepat memasang itu pada wajahnya.

Dengusan kesal gadis itu masih dapat Chanyeol dengar dengan jelas meskipun ia menggunakan masker.

Chanyeol terkekeh ringan, berjalan di samping gadis itu dan menenteng koper silver milik Baekhyun. "Shanghai tidak berpolusi di pagi hari, asal kau tau saja," ucapnya ringan, mendorong Baekhyun sedikit untuk masuk ke dalam taksi.

Baekhyun mendengus kesal, menyilangkan kedua tangan di depan dada dan merengut –membiarkan Chanyeol bicara dengan bahasa Mandarin pada pengemudi. "Kenapa kau tidak bilang kalau acaranya di Shanghai?"

Dengan cengiran lebar, pria itu melirik Baekhyun. "Mengapa kau tidak tanya?"

Dengusan Baekhyun terdengar dibuat-buat, ia melepaskan masker wajahnya dan menunjukkan wajah merengutnya pada Chanyeol. "Kau menghancurkan waktu akhir pekanku yang berharga," ucapnya.

Tawa Chanyeol terdengar renyah, ia menyenggol Baekhyun dengan sikunya, kemudian tertawa lagi saat gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol dengan wajah ditekuk. "Kau tak akan berangkat jika aku mengatakan yang sebenarnya," balas Chanyeol.

"Kau benar-benar menyebalkan, Chan," ucap Baekhyun acuh, memilih untuk memandangi kota Shanghai yang mulai padat dipagi hari dari balik jendela taksi.

Kekehan Chanyeol terdengar. "Kita akan pulang besok pagi, aku janji," ucapnya.

"Yah, lebih baik kau pegang janjimu," balas Baekhyun masih dengan tatapan sebal. "Mau kemana kita?" tanya Baekhyun tanpa menoleh kea rah Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lagi saat menatap gadis itu, entah mengapa tingkah Baekhyun membuatnya tersenyum. "Penginapan, kau lelah kan?"

Dengusan Baekhyun terdengar lagi, kali ini lebih pelan. "Aku lapar. Tak bisakah kau memberiku makan dulu?" protesnya.

Chanyeol menatap gadis itu dengan kening berkerut. "Tentu saja. Kita kan makan," ucap Chanyeol cepat-cepat, kemudian berbicara dengan bahasa yang tak dapat Baekhyun pahami pada pengemudi.

"Apa kau makan junk food juga untuk sarapan?" tanya Chanyeol saat ia memandangi Baekhyun melahap satu buah burger di restaurant cepat saji, sebenarnya ia masih tak habis pikir dengan kelakuan gadis itu.

Sebagai seorang gadis biasa, Baekhyun ini tidak normal.

Bagaimana bisa Baekhyun makan dengan lahap di depan seorang pria yang –mungkin– ia sukai. Ditambah lagi gadis itu sering melontarkan kalimat umpatan yang tidak cocok untuk gadis seusianya.

Baekhyun melirik pria itu dengan kening berkerut dan mulut penuh makanan. "Memangnya kenapa?" gumamnya tidak begitu jelas.

Chanyeol menggelengkan kepala sekali. "Hanya saja, aku heran melihat pola makanmu," ucap Chanyeol, mulai memasukkan burger ke dalam mulutnya. Baekhyun hanya meliriknya dengan tatapan tajam. "Bukan begitu, kau selalu makan dengan banyak dan tubuhmu tetap terlihat bagus,"

Dengusan Baekhyun terdengar kesal. "Berhentilah omong kosong dan merusak keseimbangan moodku yang mulai hancur," balasnya cepat.

"Oke," balas Chanyeol ringan. "Tentang nanti malam, kau tidak masalah kan menghadiri pesta seperti itu?"

"Apa maksudmu?" balas Baekhyun cepat, membersihkan sisa saus dibibirnya dengan tisu, kemudian meminum cola langsung dari gelas.

Chanyeol menatap gadis itu dengan senyuman, membuat Baekhyun sedikit tak mengerti. "Mungkin kau akan sedikit tidak nyaman karena tidak ada orang yang kau kenal disana nanti,"

"Bukankah itu jauh lebih baik?" debat Baekhyun, berhasil menghabiskan satu gelas penuh cola dingin.

Chanyeol sebenarnya masih heran melihat pola makan gadis itu, tapi ia memilih mengabaikannya. "Aku tau itu akan membuatmu tidak nyaman, tapi kuharap kau baik-baik saja,"

"Aku akan baik-baik saja. Sudah kubilang, berpura-pura adalah bakatku yang lain," ucapnya dengan senyuman singkat.

Chanyeol lagi-lagi hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu.

.

.

"Chan, kenapa kau pesan kamar yang sempit seperti ini?" protes Baekhyun saat Chanyeol sedang membuka koper gadis itu.

Ia melirik Baekhyun sekilas, membiarkan gadis itu merebahkan tubuhnya di ranjang. "Aku lupa tidak memesan sebelumnya dan di akhir pekan penginapan akan selalu penuh," jelas Chanyeol.

Baekhyun mendengus lagi, bingung harus mulai merutuki Chanyeol dari mana. "Kadang aku penasaran padamu," ucap Baekhyun dengan mata terpejam, berusaha meredam kekesalannya.

"Apa maksudmu?" tanya Chanyeol, berhenti membuka koper Baekhyun dan memandangi gadis itu bingung.

Baekhyun menghembuskan napas sekali. "Bagaimana kau bisa menyebarkan rumor tentang tunangan palsu dari Jepang itu?"

Kekehan Chanyeol terdengar mengejek. "Kau percaya itu juga?"

Baekhyun mengangkat bahu acuh. "Beritanya menyebar cepat seperti api dalam jerami,"

"Kau puitis sekali," balas Chanyeol dengan dengusan ringan, Baekhyun tak menghiraukan ucapan pria itu. "Kau kecewa saat mendengarku sudah punya tunangan?"

Baekhyun mendengus, terdengar seperti ejekan bagi Chanyeol. "Omong kosong," dengusnya kesal.

Chanyeol tertawa lagi. "Aku tidak tau, mereka menganggapku sudah memiliki tunangan karena aku sering pergi ke Jepang,"

Baekhyun menarik dirinya untuk duduk, memandangi pria itu baik-baik. "Mengapa kau pergi ke Jepang?" tanya Baekhyun, terlalu penasaran untuk diam.

"Ayahku terlalu tua untuk mengurus usahanya disana dan aku anak paling tua. Jadi secara tidak langsung aku harus mengambil alih," jelasnya.

Entah mengapa Baekhyun tersenyum. "Kadang aku heran padamu, Chan," Baekhyun berhenti sebentar, membiarkan pria itu menatapnya dengan pandangan bingung. "Kau terkenal sebagai playboy brengsek, tapi aku baru tau kau sayang keluarga dan punya kehidupan cinta yang menyedihkan," ucap Baekhyun.

Chanyeol tersenyum pada gadis itu. "Apa sekarang kau merasa kasihan padaku?" tanyanya dengan lembut.

Dengan bingung, gadis itu menggeleng ringan. "Sedikit?" balasnya dengan nada bicara bertanya yang gamang.

Kekehan ringan Chanyeol terdengar. "Berhati-hatilah, kau bisa jatuh cinta padaku," ucapnya dengan seringaian khas yang membuat Baekhyun semakin kesal.

Baekhyun hanya membalas dengan dengusan keras, kemudian meninggalkan pria itu menuju kamar mandi.

.

.

"Ya Tuhan, apa aku pernah mengatakan padamu bahwa kau sempurna?" ucap Chanyeol saat ia baru keluar dari kamar mandi dengan rambut separuh basah.

Pria itu menatap pantulan wajah Baekhyun yang tercetak sempurna di depan cermin, sementara gadis itu masih memoleskan pewarna bibir merah tua di bibirnya yang pucat.

Baekhyun mendengus, melirik Chanyeol dari balik cermin. "Apapun yang kau katakan, aku tak akan peduli," balasnya.

Chanyeol masih menatap Baekhyun seolah-olah melihat gadis itu untuk pertama kalinya. Ia berjalan mendekat, masih dengan tatapan tak percaya yang fokus pada wajah Baekhyun. "Kau benar-benar cantik," bisiknya dari balik tubuh Baekhyun.

Kekehan Baekhyun terdengar nyaring. "Kau baru menyadari itu ya?" tanyanya sarkas.

Cengiran Chanyeol muncul di wajahnya, pria itu mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Baekhyun, tapi cepat-cepat Baekhyun menepisnya. Ia mendesis kesal pada Chanyeol, kemudian pria itu terkekeh. "Aku tidak tau kau memiliki bakat merias diri," pujinya tulus.

Dengan pandangan bodoh, pria itu masih memandangi wajah Baekhyun, seolah-olah itu hal paling menajubkan yang pernah ia lihat.

"Ya, kuanggap itu pujian," balas Baekhyun acuh, kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin dan mulai mengangkat rambut coklatnya ke atas. "Ini hobiku yang lain, melukis wajah," tambahnya.

Dan lagi-lagi Chanyeol berdecak kagum. "Kau tidak ingin mencoba gaunnya?" tanyanya pada Baekhyun.

Dengusan Baekhyun terdengar lagi. "Apa ada pilihan lain untukku? Kalau bisa aku ingin menolak,"

Chanyeol menggeleng ringan. "Sayangnya tidak," ia berjalan mundur untuk mengambil sebuah kotak dari dalam koper Baekhyun, kemudian membukanya untuk gadis itu.

Baekhyun mendesah ringan. "Satu yang paling kubenci adalah saat orang lain melihat lekuk tubuhku,"

Kekehan Chanyeol terdengar seperti ejekan bagi Baekhyun. "Kenapa? Tubuhmu sempurna. Hanya kau saja selalu memakai kemeja kebesaran,"

Baekhyun memutar bola matanya dengan sebal, kemudian meraih gaun itu dari tangan Chanyeol. "Itu lebih praktis," dengusnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi, membiarkan Chanyeol masih berdiri di depannya dengan seringaian puas.

"Baekhyun, kau sudah selesai?" teriak Chanyeol setelah hampir lima menit Baekhyun tidak keluar dari kamar mandi.

"Belum. Sial, kenapa gaunnya sempit sekali," rengek Baekhyun dari balik pintu kamar mandi.

Chanyeol mengaitkan kancing terakhir jasnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi. "Apa itu kekecilan?" tanyanya setengah berteriak.

"Tidak, hanya saja susah sekali mengancingnya," ucap Baekhyun lagi, diam-diam Chanyeol terkekeh.

"Kau butuh bantuan?" tanya Chanyeol.

Baekhyun diam untuk beberapa saat, kemudian Chanyeol mendengar suara kunci yang digeser dan pintu yang perlahan dibuka. Baekhyun berada disana, dengan wajah bersungut-sungut yang jelas –meskipun sama sekali tidak melunturkan kesempurnaan wajahnya. Bandage dress berwarna biru tua tanpa lengan itu sudah menempel di tubuh Baekhyun, sementara tangan gadis itu masih memegangi sesuatu di belakang tubuhnya.

Baekhyun mendengus satu kali, kemudian membalikkan tubuhnya. "Tolong," ucapnya. Senyuman Chanyeol tercetak lebar di bibirnya. "Jangan lihat apapun, jangan sentuh apapun," Baekhyun memperingatkan.

Tawa Chanyeol terdengar mengalun lembut. Dengan sentuhan ringan, pria itu menarik resleting gaun dari pangkal pinggang Baekhyun hingga setengah pungunggnya. "Kau cantik, Byun," bisik Chanyeol, sementara tangannya masih berada di atas punggung Baekhyun yang polos tanpa penutup.

Cepat-cepat Baekhyun memutar tubuhnya. "Diamlah, brengsek," umpatnya kesal, kemudian kembali berjalan kea rah cermin untuk memperbaiki rambutnya.

Di belakang sana, Chanyeol tersenyum dengan pandangan yang tak dapat Baekhyun artikan.

.

.

"Darimana kau dapat mobil?" tanya Baekhyun saat Chanyeol membukakan pintu sebuah mobil berwarna hitam untuknya, Baekhyun harus berjalan menggandeng pria itu karena ia tak bisa berjalan lancar dengan sepatu super tinggi.

Chanyeol mengangkat bahu acuh. "Sudah siap?" tanyanya dari balik kemudi.

"Apa aku bisa mengatakan tidak?" balas Baekhyun sebal.

Chanyeol tertawa ringan. "Sayangnya tidak,"

"Kau tak perlu bertanya," debat Baekhyun, pria itu lagi-lagi hanya tertawa. "Chan," panggilnya, Chanyeol hanya menjawab dengan gumaman singkat, sementara mereka sudah mulai meluncur di jalan kota Shanghai yang padat di malam hari. "Apa kau akan baik-baik saja?" tanya Baekhyun lagi.

Hembusan napas Chanyeol terdengar berat, ia melirik Baekhyun sekilas. "Aku berlatih merelakannya dan sepertinya ini ujian terakhirku," kekehan Chanyeol terdengar sarat kesedihan.

"Harusnya kau tak perlu datang," bisik Baekhyun, menatap pria yang kini kembali fokus menatap jalan.

Chanyeol mendengus ringan. "Dia akan merasa bersalah jika aku tidak datang. Bukannya sudah kubilang padamu kalau disini aku yang berperan meninggalkannya," Chanyeol berhenti sebentar untuk melirik Baekhyun lagi. "Demi kau," tambahnya dengan cengiran lebar.

Baekhyun mengernyit. "Bagus sekali, kau membuatku tampak jahat,"

"Bukan masalah, tidak ada orang yang menyalahkanmu. Nyatanya, dia sama sekali tak kehilanganku," Chanyeol mengucapkannya dengan lembut, seolah-olah itu benar-benar menyakitkan untuk dikatakan.

Baekhyun menghela napas berat. "Aku baru tau, pria brengsek sepertimu memiliki hati yang lembut juga." Bisiknya.

"Bisa tidak kau berhenti mengatakan aku pria brengsek?" protesnya.

Baekhyun terkekeh, kemudian mengangkat bahu acuh. "Kau pantas mendapatkan panggilan itu," balasnya.

Chanyeol menepikan mobilnya di depan sebuah gedung berwarna gading yang dipenuhi bunga berwarna indah, kemudian berhasil menemukan tempat parkir. Ia menatap Baekhyun sekilas, sedangkan gadis itu sedang memperbaiki tatanan rambutnya.

"Kau siap?" tanyanya.

Baekhyun mengangguk sekali, membiarkan Chanyeol keluar dari mobil dan membukakan pintu untuknya. Pria itu membantu Baekhyun keluar dengan senyuman manis, kemudian menggandeng tangannya dan berjalan memasuki pintu masuk.

Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol erat-erat, jujur saja berjalan di atas Lady Lynch setinggi ini bukan hal yang mudah. "Gugup?" tanya Baekhyun, lagi-lagi tersenyum pada orang yang menyambut mereka.

Chanyeol mendengus. "Sama sekali tidak," ucapnya ringan.

.

.

"Wah, dia memang cantik," ucap Baekhyun sambil bertepuk tangan pelan saat melihat pengantin wanita yang tampak bersinar itu tersenyum pada semua orang, sedangkan seorang pria jakung berdiri di sampingnya.

Chanyeol mendengus keras, memperhatikan kedua orang dengan balutan baju putih. "Yah, dia memang cantik,"

Baekhyun menoleh ke arah pria itu. "Jujur saja padaku, kau berharap cepat pergi dari sini, kan?"

Senyum Chanyeol tersungging di wajahnya. "Aku masih ingin melihatnya lebih lama," jawaban Chanyeol membuat gadis itu mengernyit ke arahnya. "Untuk yang terakhir kali,"

"Dia bukan milikmu lagi, Chan," Baekhyun mengingatkan.

Kekehan Chanyeol terdengar mengerikan. "Dia pernah jadi milikku, ingat?" seringaian Chanyeol tercetak jelas di wajahnya, Baekhyun hanya geleng-geleng kepala melihat pria itu. "Mau minum-minum denganku setelah ini?" tawar Chanyeol.

Baekhyun tertawa ringan. "Sama sekali bukan gayaku,"

Chanyeol terkekeh ringan, terdengar seperti ejekan. "Sayang sekali jika kau harus cepat-cepat melepaskan gaun indah itu,"

Baekhyun meliriknya dengan pandangan menyelidik yang jelas. "Aku memang ingin segera membakarnya," dengusnya kesal.

Dengan anggukan ringan, Chanyeol menyentuh rambut Baekhyun yang tergelung sempurna di belakang kepalanya. "Kau terlihat cantik, percaya padaku,"

Baekhyun tersenyum manis pada pria itu. "Kalau kau ingin merayuku, lebih baik tak perlu kau lakukan. Percuma saja," ucapnya dengan penekanan kuat, tapi gadis itu tetap tersenyum.

Chanyeol meraih tangan Baekhyun untuk mengecup punggung tangan gadis itu sedikit. "Harusnya kau temani pria menyedihkan ini bersenang-senang,"

Tawa Baekhyun terdengar renyah. "Wah, kau memang benar-benar menyedihkan, Park Chanyeol,"

"Aku serius. Kau bisa melihat tubuhku malam ini," Baekhyun hendak protes tapi Chanyeol mengecup tangannya lagi. "Bukannya kau sudah lama ingin melihatnya?"

Dengusan Baekhyun terdengar jelas. "Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Aku tidak menginginkanmu seperti itu,"

"Jadi," Chanyeol menggantung kalimatnya. "Tidak?"

"Tentu saja tidak," balas Baekhyun cepat, membiarkan Chanyeol terkekeh dan mengecupi jemarinya.

Membiarkan detak jantungnya berdetak lebih cepat.

Tanpa Baekhyun sadari mengapa.

Hatinya menghianati otaknya.

.

.

"Ya Tuhan, ini membunuhku," rengek Baekhyun, melemparkan Lady Lynch-nya sembarangan, kemudian mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan memijat telapak kakinya perlahan.

Chanyeol terkekeh ringan, melepaskan jas hitamnya. "Ada pepatah mengatakan beauty is pain," ucapnya ringan.

"Beauty pantat kuda," umpat Baekhyun.

Kekehan Chanyeol terdengar lagi, bersamaan dengan pria itu berjalan dan membuka tirai. "Umpatanmu terlalu indah untuk didengar, Baek," ucap Chanyeol, menggeser pintu kaca besar dan berjalan keluar menuju balkon.

"Wow," ucap Baekhyun dengan nada tinggi, membuat pria itu menoleh ke belakang. "Ini luar biasa," tambah Baekhyun sambil berjalan cepat menyusul Chanyeol. Gadis itu berdiri di samping Chanyeol yang sedang bersandar pada pagar besi pembatas.

"Bagus sekali, kan?" balas Chanyeol.

Baekhyun tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya, matanya sama sekali tak lepas memandangi kerlipan jutaan lampu jauh di sana.

"Aku tak pernah tau Shanghai seindah ini," ucap Baekhyun kagum, mata gadis itu berseri-seri.

"Kau lebih indah," balas Chanyeol cepat.

Baekhyun mendengus kasar, kemudian menoleh ke arah Chanyeol dnegan bibir mengerucut. "Berhentilah membual, itu menjijikkan," Baekhyun kembali melihat pemandangan di depannya.

Chanyeol terkekeh ringan. "Aku serius," jemari pria itu menelusuri lengan Baekhyun yang tidak tertutup apapun. Secara naluriah, Baekhyun sedikit menggeser tubuhnya menjauhi Chanyeol, membuat pria itu terkekeh ringan. "Pria jantan tidak pernah berbohong," tambahnya, membuat Baekhyun memutar bola mata kesal.

"Berhentilah menggodaku, Chan," rengek Baekhyun lagi.

Chanyeol tersenyum, menyentuh bahu Baekhyun dengan kedua tangannya, kemudian menatap Baekhyun tepat dimata gadis itu. "Jujur saja padaku, kau menginginkanku juga kan?"

Baekhyun menatap mata pria itu dengan berani. "Sudah kubilang aku tidak menginginkanmu seperti itu,"

Bibir Chanyeol membentuk lengkungan cekung. "Kau yakin?" tanyanya.

"Tentu saja," balas Baekhyun cepat. "Apa maksudmu?" tambahnya, penasaran saat melihat Chanyeol menyeringai.

Chanyeol mengangkat bahu acuh, kemudian melepaskan tangannya dari bahu Baekhyun, membiarkan gadis itu lagi-lagi menatap pemandangan jauh di luar sana.

"Sebenarnya hanya ingin memastikan sesuatu," bisik Chanyeol, pria itu berjalan di belakang tubuh Baekhyun, kemudian meletakkan dagunya yang runcing di atas bahu kanan Baekhyun.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun, tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Chanyeol berdeham, kemudian mengecup bahu Baekhyun dengan lembut. "Chanyeol," Baekhyun mengingatkan dengan suara nyaris habis.

"Memastikan bagaimana kau bisa yakin tak menginginkanku," balas Chanyeol.

Baekhyun memutar tubuhnya dengan kasar, membuat hidungnya nyaris menyentuh hidung Chanyeol. "Chanyeol sudah kukatakan padamu sebelumnya," Chanyeol mendekatkan bibirnya pada bibir Baekhyun, nyaris menyentuh bibir gadis itu.

Baekhyun menarik kepalanya ke belakang, sadar bahwa tangan Chanyeol mengungkung tubuhnya dengan pagar pembatas. Baekhyun ingin menarik tubuhnya ke belakang juga, tapi ia tak bisa, pagar sialan itu tak membiarkan tubuhnya bergerak.

"Aku hanya ingin memastikan," bisik Chanyeol lagi, ia tersenyum sedikit. "Jangan menolakku jika memang tidak ingin menolak," detik selanjutnya mata Baekhyun terbelalak sempurna saat bibir Chanyeol menempel dibibirnya.

Baekhyun tak bisa bergerak, terlebih saat bibir lembut Chanyeol bergerak menelusuri bibirnya yang hangat. Berbeda dengan sebelumnya –saat Chanyeol mengecupnya dengan paksa– Baekhyun bisa merasakan kelembutan bibir Chanyeol dengan baik sekarang.

Tanpa Baekhyun sadari, jantungnya berdegup dengan cepat.

Chanyeol melepaskan bibirnya dari Baekhyun, kemudian ia tersenyum manis pada gadis itu. "Kau tidak menolakku, kan?" tanyanya.

Kau benar. –ucap Baekhyun dalam hati.

Tanpa Baekhyun sadari, ia tak bisa menolak ciuman Chanyeol.

Tanpa merasa dilecehkan, gadis itu menyukai sentuhan bibir Chanyeol dibibirnya.

Tidak munafik, Baekhyun menginginkannya lagi.

"Katakan padaku jika kau ingin menolaknya," bisik Chanyeol lagi. Kali ini pria itu menelusuri leher Baekhyun dengan jemarinya.

Chanyeol tersenyum lagi untuk melihat ekspresi Baekhyun.

Tapi gadis itu tidak menunjukkan reaksi penolakan.

Lagi-lagi Chanyeol tersenyum, dengan berani pria itu menyentuh leher Baekhyun dengan bibirnya, membuat Baekhyun memiringkan kepalanya, membiarkan Chanyeol lebih bebas menelusuri lehernya.

Dengan lembut, desahan Baekhyun samar terdengar.

Kekehan Chanyeol terdengar lembut, ia menarik bibirnya dari leher Baekhyun dan tersenyum pada gadis itu.

"Katakan jika kau ingin menolakku, aku akan berhenti," ucap Chanyeol, menyentuh pipi Baekhyun dengan tangannya yang hangat. "Pria jantan tak akan mengingkari janji," tambahnya dengan senyuman ringan.

Baekhyun tidak mengatakan apapun, gadis itu hanya memandangi Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan.

Dalam hati berdebat, tentang semua perasaan suka yang pernah ia miliki pada Chanyeol.

Baekhyun tak tau apakah ia hanya mengagumi pria itu..

Atau memang ia sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Park Chanyeol..

Baekhyun tak tau itu..

Satu yang pasti, saat Chanyeol menatapnya, jantungnya berdetak lebih cepat.

Sangat cepat.

.

TBC

.

Terima kasih untuk semua readers yang telah menunggu cerita ini selama lebih kurang setahun lamanya /sumpah Author bener-bener terharu pas tau ini cerita masih ada yang baca/. Author nggak janji bakal update cepat tapi janji bakal dilanjut. Tolong kesabarannya untuk menunggu ya~

Seperti biasa, Author selalu minta readers sekalian untuk memberikan kritik, saran, dan komentar di kolom review. Ini enaknya gimana? Dilanjut sekarang apa diulur dulu? Voting dooong Author juga bingung niiiih~ Tapi tau kan maksud "dilanjut" itu apa? /ehehe/ Silahkan komentar dulu lah~ Author binguuuunggg enaknya gimana~

Oh ya, sebelumnya ada yang ingin disampaikan. Author selalu bilang silahkan mengkritik hasil karya Author, kritikan akan diterima dengan baik, tapi tolong dengan cara yang sopan. Memang, tulisan Author (re: lolipopsehun) tidak sesempurna dan sebagus tulisan orang lain, disini Author juga sedang belajar menulis dan menyalurkan ide-ide imajinasi sendiri.

Selain itu, Author menulis fanfiction ini cuma sebagai hiburan dan jelas Author tidak mendapat pendapatan dari sini. Bayaran yang Author terima cuma review dari readers semua (yang jujur saja selalu bikin semangat nulis muncul lagi/hehe/). Jadi Author pikir, bukan cuma saya, jika ada yang menghina karyanya dengan kata-kata payah, buruk, dan lain sebagainya. Menghina boleh, menghujat boleh, tapi tolong menghargai usaha orang untuk menyalurkan ide melalui tulisan. Rasanya agak sakit pas tau hasil karya Author dianggap buruk, daripada menghina, lebih baik (jika tidak suka) jangan dibaca /hehe/. Tapi gapapa, Author anggap sebagai cambuk untuk memperbaiki diri dalam penulisan. Terima kasih kritiknya~

Kan jadi curhat~ /huhu/ maapin readers sekalian kepanjangan ini curhatnya. Semoga ke depannya Author lebih cepat updatenya /hehe/ semoga juga Author lebih kuat dan nggak baper pas baca hujatan kritikan selanjutnya.

Terima kasih telah membaca dan jangan lupa meninggalkan review~

With love,

lolipopsehun