"Katakan jika kau ingin menolakku, aku akan berhenti," ucap Chanyeol, menyentuh pipi Baekhyun dengan tangannya yang hangat. "Pria jantan tak akan mengingkari janji," tambahnya dengan senyuman ringan.

Baekhyun tidak mengatakan apapun, gadis itu hanya memandangi Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan.

Dalam hati berdebat, tentang semua perasaan suka yang pernah ia miliki pada Chanyeol.

Baekhyun tak tau apakah ia hanya mengagumi pria itu..

Atau memang ia sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Park Chanyeol..

Baekhyun tak tau itu..

Satu yang pasti, saat Chanyeol menatapnya, jantungnya berdetak lebih cepat.

Sangat cepat hingga ia yakin ada yang salah dengan dirinya sendiri.

Baekhyun mengangkat kepalanya lagi saat bibir Chanyeol menyentuh perpotongan lehernya dengan lembut dan setengah basah. Tanpa Baekhyun sadari, desahannya kembali mengalun tipis di tengah hembusan angin sejuk. Bibir Chanyeol mengecupi lehernya perlahan, sedikit demi sedikit, terus naik hingga menyentuh tulang rahangnya.

Kemudian berhenti di sana untuk mengecup beberapa kali dengan kelembutan yang belum pernah Baekhyun rasakan.

"Chanyeol," panggil Baekhyun, terdengar seperti sebuah rintihan atau permohonan yang kurang bisa Chanyeol artikan.

Chanyeol membalas dengan dehaman singkat, bibir basah pria itu masih menelusuri leher Baekhyun dengan lembut, sedangkan tangannya perlahan merambat di punggung Baekhyun yang polos.

Sekarang Baekhyun lupa cara bernapas dengan benar.

Ia tak tau apa yang harus dilakukannya karena Chanyeol tak membiarkan akal sehatnya bekerja lebih jauh.

"Aku tak akan memaksamu, Baek. Kau bisa menolakku, itu bukan masalah," kali ini bibir Chanyeol menelusuri pipi Baekhyun, kemudian kembali mengecup bibir merah gadis itu beberapa kali.

Sedangkan Baekhyun masih diam dengan jantung berdegup cepat.

Ia tak tau cara menolak Chanyeol –oke, bukan itu, sebenarnya Baekhyun tak ingin menolak sentuhan Chanyeol.

Klasik sekali.

Kekehan pria itu mengalun ringan di balik bibir Baekhyun yang tipis. "Kuanggap kau tak menolakku kalau begitu,"

Baekhyun menarik kepalanya untuk menatap mata Chanyeol, ia membiarkan tangan Chanyeol yang berada di belakang tubuhnya, terus mengusap punggungnya dengan nyaman dan lembut.

Rasanya hangat, jadi itu terasa menyenangkan bagi Baekhyun.

"Aku tak menolakmu," bisik Baekhyun, menatap tepat di mata Chanyeol dan membuat pria itu sedikit tersenyum lembut –sebuah senyuman manis yang menghanyutkan gadis manapun untuk terperangkap di dalamnya. "Tapi beri aku alasan," Baekhyun buru-buru menambahkan sebelum pikirannya berkelana lebih jauh lagi.

Bayangan liar tentang Chanyeol mulai merambati pikirannya.

"Alasan?" ulang Chanyeol, bibirnya kembali bermain-main di leher Baekhyun, membuat gadis itu mendesah tipis.

Baekhyun mengangguk ringan dan Chanyeol menarik bibirnya dari leher gadis itu. "Mengapa kau menginginkanku?" Baekhyun kembali bertanya dengan suaranya nyaris habis.

Chanyeol tersenyum lagi, menatap gadis itu tepat di mata dan merengkuh pipi Baekhyun dengan kedua tangan. "Aku akan jujur padamu," ia menunggu reaksi Baekhyun dan gadis itu mengangguk kaku, satu kali, sebenarnya terlalu gugup untuk sekedar menatap mata Chanyeol. "Kau luar biasa cantik, Byun. Bagaimana bisa seorang pria tak menginginkanmu,"

"Chan," bisik Baekhyun lagi, semacam protes yang terdengar asing.

"Aku serius. Aku benar-benar mengagumi kepribadianmu yang gila," potong Chanyeol.

"Itu bukan pujian," rengek Baekhyun, menarik tangan Chanyeol dari pipinya dan mengerucutkan bibirnya lucu.

Chanyeol terkekeh. "Kau berbeda dengan orang lain, Baek. Kau menakjubkan," tambahnya. "Lepas dari itu, kau benar-benar sempurna," Chanyeol menyapukan jemarinya ke permukaan wajah Baekhyun yang pias. "Aku benar-benar menginginkanmu," tambah Chanyeol.

Baekhyun terkekeh ringan, sedikit mendorong tubuh Chanyeol, dan pria itu mundur beberapa langkah. "Jadi kita akan batalkan perjanjiannya?" tanya Baekhyun, jemari lentiknya mengusap lehernya yang sedikit basah.

Chanyeol mengangkat sebelah alis dengan pandangan bingung yang jelas "Mengapa begitu?"

"Skin ship?" ucapan Baekhyun terdengar menggantung tapi Chanyeol tersenyum. "Kita punya batasan untuk itu," Baekhyun menambahkan.

Senyum Chanyeol melebar seperti orang bodoh, kemudian ia menyentuh ujung hidung Baekhyun dengan telunjuknya. "Kita batalkan yang satu itu?" Chanyeol menawarkan.

"Setuju," balas Baekhyun dengan seringaian lebar, Chanyeol tak bisa menyembunyikan seringaiannya, kemudian membiarkan Baekhyun berjalan melewatinya untuk masuk.

Sedangkan pria di belakangnya berjalan mengikuti dengan sebelah tangan membuka kancing kemeja. Senyuman Chanyeol terlihat mengerikan dan misterius, seolah-olah terlihat seperti seorang predator yang hendak menguliti mangsa tak berdaya.

"Jadi kita tambah perjanjiannya?" ucap Chanyeol saat berdiri di belakang tubuh Baekhyun yang sedang melepaskan aksesoris dari tubuhnya.

Baekhyun terkekeh ringan. "Tambahan?"

"Tak bisakah aku menidurimu dengan bebas?" tanya Chanyeol pelan, terdengar sedikit ragu.

Dengan cepat Baekhyun menoleh ke belakang, memandang pria itu dengan tatapan tajam menantang. "Dengar Park, aku bukan pelacur yang bisa kau tiduri sesuka hatimu, oke?" ucapnya dengan nada agak tinggi, Chanyeol mengangguk kaku, merasa agak gugup sekarang. "Aku hanya berusaha menghiburmu malam ini. Kurasa ini akan lebih baik daripada kau menangisi gadis pujaanmu itu sepanjang malam,"

Dengan suara pelan, Chanyeol tertawa. "Sebagai seorang gadis cantik, mulutmu tajam sekali,"

"Kau ingin merasakannya?" tantang Baekhyun, mengigit bibir bawahnya dan kembali membalikkan tubuh untuk melepaskan kalung berwarna perak yang menggantung di lehernya.

Chanyeol tertawa ringan, menyentuh punggung atas Baekhyun dengan telapak tangannya yang hangat. Jemari pria itu merambat di belakang tubuh Baekhyun hingga menyentung atas tulang pinggulnya, kemudian bibirnya mengecup bahu Baekhyun dengan lembut.

"Kau yakin dengan ini?" bisik Chanyeol sekali lagi sebelum jemarinya meraih kaitan gaun Baekhyun di pinggul gadis itu.

Baekhyun terkekeh, menarik jepit rambut tipis berwarna hitam dari rambutnya. "Kau sendiri?" balasnya.

"Tak pernah ragu sedikitpun," balas Chanyeol, membalikkan tubuh Baekhyun agar menghadap pria itu. Chanyeol menarik dagu Baekhyun agar gadis itu menatapnya. "Dari awal aku sudah menginginkanmu,"

Seringaian Baekhyun terlihat mengejek. "Pria brengsek akan selalu menjadi pria brengsek," balas Baekhyun.

Chanyeol tertawa renyah, kemudian jemari pria itu merambat naik menuju rambut Baekhyun yang masih terikat rapi. Dengan lembut, Chanyeol melepaskan ikatan rambut Baekhyun hingga rambut brunette gadis itu tergerai melewati punggungnya.

Mengombak sempurna.

Dengan satu gerakan ringan, Chanyeol merapikan rambut Baekhyun yang sedikit menutupi dahi gadis itu. "Kau sempurna, Byun Baekhyun," bisiknya perlahan.

"Kau sudah mengatakannya," balas Baekhyun acuh, membiarkan tangan Chanyeol mengusap pipinya dengan lembut.

Chanyeol tersenyum lagi, menyentuh pipi Baekhyun dengan sayang. "Aku serius,"

"Cukup sudah omong kosongnya," ucap Baekhyun dengan hembusan napas keras.

Chanyeol tersenyum lagi, kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir merah muda Baekhyun. Bibir pria itu menelusuri bibir tipis Baekhyun dengan gerakan lembut, bergerak di sepanjang bibir Baekhyun dengan penuh, hangat, dan lembut.

Setengah basah.

Baekhyun meleguh ringan, tanpa sadar menarik kepala Chanyeol agar lebih mendekat dengannya, sementara Chanyeol berusaha membuka gaun Baekhyun di bawah sana.

Baekhyun tau saat ciuman Chanyeol mendadak saja berubah menjadi terburu-buru dan cepat. Pria itu mengecup dan menggigiti bibirnya dengan kasar, seolah-olah kelembutan yang Chanyeol berikan sebelumnya menguap entah kemana.

Dan tempo yang seperti ini membuat Baekhyun gila.

Ia bersumpah, demi apapun, Baekhyun tak akan berhenti.

Tanpa ia sadari, tau-tau, tubuh Baekhyun sudah terbanting di atas ranjang. Chanyeol merangkak di atas tubuh mungil gadis itu, bertumpu pada kedua lututnya dengan bibir masih menyatu sempurna.

Berusaha menikmati Baekhyun dengan penuh menyeluruh.

Baekhyun bisa mendengar helaan napas Chanyeol yang memburu –atau mungkin helaan napasnya sendiri, ia tak terlalu bisa membedakan.

Chanyeol melepaskan ciumannya saat Baekhyun terengah-engah, kemudian bibirnya mendarat di leher gadis itu dan mengecupinya dengan kasar. Hisapan dan kecupan cepat dari Chanyeol di lehernya, membuat Baekhyun tak bisa berpikir lebih jauh lagi.

Ia hanya bisa memikirkan pria yang sedang mengusai tubuhnya itu sekarang.

Hanya ada nama Chanyeol dipikirannya sekarang.

Hal lain tak lagi penting.

Demi Tuhan, ini hanya bibir Chanyeol.

"Chan," bisik Baekhyun, terdengar seperti rintihan permohonan. Chanyeol menarik bibirnya dari leher Baekhyun, kemudian menatap gadis yang sedang terengah-engah di bawahnya itu. "Bisa kau lepaskan gaun sialan ini? Rasanya sesak," rengeknya.

Chanyeol tertawa renyah, ia mengecup bibir Baekhyun sekilas, kemudian meloloskan gaun Baekhyun dari tubuh gadis itu dengan satu gerakan lembut.

Belum sempat Baekhyun bernapas lega, bibir pria itu kembali mendarat di lehernya. Bibir basah dan hangat itu mengecupi leher Baekhyun, terus turun hingga dada Baekhyun yang tak terlindungi, dan turun menuju perur Baekhyun, bermain-main di sekitar pinggul, kemudian perlahan turun menuju pusat tubuh gadis itu.

Gerakan bibir Chanyeol begitu lembut dan memabukkan untuk Baekhyun, bahkan pria itu tak menghiraukan desahan dan erangan tertahan Baekhyun yang menurutnya luar biasa indah untuk didengar.

"Tunggu dulu, Chan," ucap Baekhyun dengan napas hampir habis.

Chanyeol berhenti, kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap Baekhyun lagi. "Kenapa?" tanyanya bingung, takut Baekhyun mendadak saja menolaknya.

Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol agar menjauhi tubuhnya, kemudian duduk untuk berhadapan dengan pria itu. "Aku yang akan melakukannya untukmu," bisik Baekhyun dengan senyuman manis. Sedangkan Chanyeol menatap gadis itu dengan ragu-ragu. "Kau takut padaku?" tanya Baekhyun saat Chanyeol menatapnya dengan kepala miring, kemudian Baekhyun perlahan meraih kancing kemeja Chanyeol untuk melepaskan kaitannya.

Kekehan Chanyeol terdengar nyaring. "Kau akan melakukannya?" ucapnya mengulang nada suara Baekhyun.

"Sudah kubilang aku akan menghiburmu," Baekhyun meloloskan kemeja Chanyeol dari tubuh pria itu dan berhenti sebentar untuk mengagumi bentuk tubuh Chanyeol yang tercetak sempurna.

"Mengagumiku?" bisik Chanyeol dengan nada ejekan yang jelas. Baekhyun hanya mendengus malas, gadis itu perlahan menyentuh dada Chanyeol dengan jemarinya yang lembut –dengan pandangan terfokus pada tubuh sempurna pria itu. "Sudah kubilang lebih baik jika kau melihatnya secara langsung kan?" ucap Chanyeol.

Tanpa sadar, Baekhyun mengangguk, gadis itu menelusuri perut Chanyeol dengan jemarinya, kemudian mendorong tubuh Chanyeol hingga pria itu terlentang. "Anggap saja aku sedang menghiburmu sekarang," ucapnya dengan seringaian yang jelas.

Bibir tipis Baekhyun menyentuh leher Chanyeol yang hangat, mengecup dan menjilatnya sedikit untuk membiasakan diri menikmati rasa manis Chanyeol yang luar biasa menyenangkan, bibir dan lidahnya perlahan turun menyusuri dada Chanyeol –tanpa memperdulikan erangan protes Chanyeol saat Baekhyun menghisapnya terlalu kuat. Bibir basah Baekhyun sampai di perut Chanyeol yang tercetak sempurna, dengan lembut bermain-main disana. Sementara tangan mungilnya, berusaha menurunkan celana Chanyeol di bawah sana.

Entah dari mana Baekhyun belajar semua ini, rasanya Chanyeol bisa kalah kapan saja.

"Ya Tuhan," erang Chanyeol saat Baekhyun menelusuri perutnya dengan bibir, gerakan gadis itu sederhana tapi nyaris membuat Chanyeol mengerang.

Kekehan Baekhyun terdengar nyaring di telinga Chanyeol. "Sudah kubilang aku akan menghiburmu," balas Baekhyun, kali ini menyentak celana Chanyeol hingga melewati kaki jenjang pria itu.

Chanyeol berusaha menahan desahan yang sudah sampai di ujung lidah saat jemari Baekhyun bermain-main di atas pusat tubuhnya. "Oke, kau bisa membuatku melupakannya malam ini,"

Baekhyun terkekeh lagi. "Kau bahkan sudah melupakannya sekarang," bisik Baekhyun.

Dalam hati, Chanyeol menyetujui perkataan gadis itu.

"Oh, aku tak tau kau punya tattoo," ucap Baekhyun saat gadis itu menyentuh pinggul Chanyeol dengan bibirnya. Baekhyun melihat ada sederet tulisan dengan bahasa yang tak Baekhyun pahami di sekitar perut bagian bawah pria itu.

Tepat di atas pusat tubuhnya.

Deru napas Chanyeol terdengar memburu di telinganya. "Yah, aku hanya melakukannya sekali," tambahnya.

Baekhyun mengecup tepat di atas tattoo itu dan membuat Chanyeol mengerang protes. "Bahasa apa itu?" ucap Baekhyun lagi, kali ini bibirnya bermain-main di sekitar pinggul dan pinggang Chanyeol.

Chanyeol berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara erangan –oke, itu sangat tidak jantan jika ia mengerang di bawah sentuhan bibir basah seorang gadis mungil, yang meskipun memang sebenarnya, sialan. "Bahasa Itali," balas Chanyeol cepat.

Baekhyun menarik wajahnya untuk menatap pria yang sedang terengah-engah dengan mulut terbuka lebar itu. "Artinya?" tanyanya, terlalu penasaran untuk diam.

Chanyeol tersenyum sedikit. "Kau gadis yang beruntung," balasnya dengan cengiran lebar. Tawa Baekhyun meledak, ia tertawa terpingkal-pingkal hingga membuat Chanyeol meringis menatapnya. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Chanyeol dan masih terkikik-kikik geli. "Ada apa?" protes Chanyeol, sedikit mengangkat tubuhnya.

"Ya Tuhan, kau benar-benar brengsek," ucap Baekhyun disela tawanya. "Maksudmu gadis yang kau tiduri adalah gadis yang beruntung?" tanyanya dengan nada tak percaya.

Chanyeol meringis geli. "Selamat, kau termasuk gadis yang beruntung," ucapnya ringan. Baekhyun sedikit mengumpat dan masih berusaha menghentikan kekehannya. "Mau menyempurnakan keberuntunganmu?" tanya Chanyeol.

Baekhyun tersenyum lagi, masih sedikit terkikik geli. "Mari kita lihat seberapa beruntungnya aku," balas Baekhyun masih dengan kekehan.

Dengan satu senyuman singkat, Chanyeol membalik tubuh Baekhyun hingga gadis itu berada di bawah tubuhnya, ia mencium bibir Baekhyun dengan cepat. Jemarinya bermain-main di pusat tubuh Baekhyun, membuat gadis itu menjeritkan serentetan umpatan pada Chanyeol.

Akal sehat Baekhyun menguap entah kemana saat Chanyeol menyentuhnya.

Ini terlalu menakjubkan untuk sekedar dinikmati.

Kekehan Chanyeol membuat Baekhyun membuka mata, pria itu tersenyum kali ini, dan Baekhyun memandanginya penuh pertanyaan. "Baiklah, mari kita lihat sejauh mana keberuntungan gadis ini," Baekhyun hanya memutar bola mata sebal mendengar celotehan pria itu.

Tubuh Baekhyun melengkung sempurna saat tiba-tiba saja Chanyeol mendorongnya. "Brengsek keparat," jeritnya. Chanyeol berhenti bergerak untuk melihat gadis yang sedang meringis menahan sakit di bawah tubuhnya itu. "Sial, Chanyeol," umpat Baekhyun lagi.

"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol, masih berusaha menyempurnakan penyatuan mereka di bawah sana –yang mendadak menjadi sulit.

Baekhyun masih mengerutkan keningnya, kedua tangannya mencengkeram rambut Chanyeol dengan gemas. Ia tak peduli itu menyakiti Chanyeol, tapi sekarang, secara teknis, Chanyeol sedang menyakitinya.

"Bagaimana aku bisa baik-baik saja?" protes Baekhyun dengan nada tinggi, perlahan mendesah lega karena Chanyeol sudah berhenti bergerak. Baekhyun bisa merasakan tubuh Chanyeol melekat sempurna di dalma tubuhnya.

Begitu penuh dan pas.

Chanyeol bergerak sedikit dan berhasil membuat Baekhyun menjeritkan nama pria itu dengan keras, diiringi umpatan-umpatan yang terlalu indah untuk Chanyeol dengar. Dengan ragu, Chanyeol mulai mengalunkan gerakan lembut yang memabukkan.

Terlalu indah hanya untuk sekedar dirasakan.

Sementara Chanyeol bergerak-gerak di atas tubuhnya –secara teknis juga di dalam tubuhnya, Baekhyun menyerahkan semuanya pada pria itu. Ia membiarkan tubuhnya diambil alih oleh pria yang awalnya ia benci itu.

Baekhyun membiarkan Chanyeol menguasai tubuhnya, mengendalikan seluruh saraf ditubuhnya hingga ia benar-benar kehilangan kuasa atas tubuhnya sendiri. Baekhyun sama sekali tak peduli, bahkan jika perlu, ia akan memohon lebih pada pria yang sedang merintih di atas tubuhnya itu.

Chanyeol layak untuk dinikmati.

Dan Baekhyun tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Bibir mungil Baekhyun mendesahkan nama Chanyeol dengan merdu, dengan suara indah yang rela Chanyeol tukar dengan apapun –hanya untuk sekedar Chanyeol dengar. Baekhyun menikmati Chanyeol dengan penuh, sedangkan Chanyeol memberikan kebahagiaan yang belum pernah Baekhyun rasakan sebelumnya.

Ini menakjubkan.

Baekhyun pikir, Chanyeol di dalam tubuhnya benar-benar luar biasa cocok, seolah-olah ia telah menemukan potongan puzzle yang lama hilang.

Berlebihan memang, tapi Chanyeol benar-benar luar biasa menakjubkan untuk Baekhyun.

Pengendalian diri yang berusaha Baekhyun bangun perlahan Chanyeol runtuhkan. Pria itu menarik dan mendorongnya tengan tempo yang memporak-porandakan, hingga pengendalian diri tipis itu semakin tipis, nyaris habis, dan akhirnya runtuh tak tersisa.

Baekhyun kalah.

Meluapkan segala gairahnya di bawah kungkungan pria yang masih bergerak-gerak statis di dalam tubuhnya itu. Bibir mungilnya sedikit mengeluarkan makian karena Chanyeol tak memberikannya sedikit jeda untuk bernapas.

Chanyeol mendesis di atas tubuhnya, suara berat pria itu nyaris menjadi candu bagi Baekhyun sekarang.

Terlalu mengerikan untuk didengar dan secara bersamaan juga terdengar menyenangkan.

Suara yang bisa membuat seluruh tubuh Baekhyun merinding hebat, seperti menyentuh air es di musim dingin.

Baekhyun bisa merasakan gerakan Chanyeol yang semakin cepat dan penuh di dalam tubuhnya, jadi gadis itu membiarkan Chanyeol menguasai tubuhnya lagi, membiarkan panas membara lagi-lagi berusaha membakar saraf hingga pusat tubuhnya, membiarkan Chanyeol merentangkan kedua kakinya lebih lebar lagi.

Kemudian saat Chanyeol menekannya dengan kuat, jeritan Baekhyun terdengar memilukan.

Bersamaan dengan desahan napas lega Chanyeol.

Keduanya terengah-engah mencari udara.

Chanyeol menyangga tubuhnya dengan kedua tangan, kemudian menurunkan wajahnya untuk mengecup bibir Baekhyun. "Kau menakjubkan," bisik Chanyeol tepat di balik bibir gadis itu.

Baekhyun terkekeh ringan, membiarkan Chanyeol mengusap dahinya yang agak basah. "Begitukah?"

Chanyeol tersenyum lagi, kemudian mengecup dahi Baekhyun dengan lembut. "Aku pria yang beruntung," bisiknya.

Baekhyun hanya tersenyum ringan saat Chanyeol menciumnya lagi.

.

.

Matahari pagi sudah menampakkan diri dengan sempurna, tapi Baekhyun masih saja terjebak dalam dunia mimpi indahnya. Samar-samar suara-suara tipis dapat ia tangkap melalui indera pendengarannya, tapi ia memilih tak peduli.

Tubuh polos gadis itu terlindung di balik selimut tebal berwarna gading pucat, sedangkan tubuhnya meringkuk malas dalam dekapan hangat Chanyeol.

Sebenarnya Baekhyun bisa mendengar suara lembut Chanyeol yang membisikkan namanya berkali-kali, mengatakan bahwa hari sudah pagi.

Tapi Baekhyun masih tak peduli.

Tak ada yang lebih nyaman dari ini.

Baekhyun tau saat Chanyeol mengecupi dahi dan pipinya berkali-kali, ia hanya menggeliat malas, masih menggelungkan tubuhnya seperti anak kucing pada dada Chanyeol, sementara kedua tangan pria itu melingkupi tubuh Baekhyun dalam pelukan nyaman.

"Byun Baekhyun, kau mau pulang tidak?" ucap Chanyeol.

Mata Baekhyun perlahan terbuka saat perkataan Chanyeol mulai masuk dalam otaknya yang tumpul. Gadis itu mengerjap beberapa kali dan mendongak untuk melihat wajah Chanyeol.

Oke, dipagi hari, wajah Chanyeol masih patut dinikmati.

Pria ini masih tampan seperti biasanya.

"Jam berapa kita pulang?" tanya Baekhyun dengan suara parau, nyaris habis.

Chanyeol tersenyum, mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Baekhyun, bibir pria itu mendarat di puncak kepala Baekhyun. "Sore ini,"

Baekhyun mendesah ringan, memejamkan matanya lagi. "Aku akan tidur sampai sore kalau begitu," balasnya.

Kekehan Chanyeol terdengar nyaring saat Baekhyun kembali menelusupkan kepalanya di dada Chanyeol yang hangat. "Kau tidak ingin makan?" tawar Chanyeol.

Baekhyun menghembuskan napas kesal. "Aku terlalu lelah untuk makan,"

Samar, Baekhyun bisa mendengar tawa tipis Chanyeol. "Memangnya apa yang kau lakukan semalam?" balas Chanyeol dengan cengiran lebar.

Baekhyun mendengus malas. "Kemarin aku baru saja terbang dari Korea ke Shanghai, menghadiri pesta melelahkan, dan seorang bajingan idiot meniduriku hingga nyaris pagi,"

Chanyeol tertawa mendengar rengekan Baekhyun yang penuh penekanan. "Kau sendiri yang memberiku ijin," balas Chanyeol dengan kekehan ringan, mengecupi puncak kepala Baekhyun berkali-kali.

"Aku hanya mengijinkamu satu kali dan kau berhasil membuat tulangku nyaris remuk," protes Baekhyun, masih dengan mata terpejam dan tubuh meringkuk dalam pelukan Chanyeol.

Chanyeol mengejek dengan cibiran. "Kau tau, itu terdengar melebih-lebihkan,"

"Diamlah, idiot. Aku ingin tidur," balas Baekhyun cepat, membuat Chanyeol tersenyum lebar melihat kelakukan gadis itu.

Jadi dengan sabar, Chanyeol memeluk Baekhyun, sebelah tangan menepuk-nepuk punggung gadis itu, bibirnya menggumamkan lagu bernada lembut, dan membiarkan Baekhyun kembali terlelap dalam pelukannya.

Entah mengapa, ia tak ingin meninggalkan Baekhyun.

Chanyeol juga tak tau, rasanya nyaman saat berada di samping gadis yang menurutnya berbeda itu.

.

.

"Kau akan menghabiskan semua itu?" tanya Chanyeol saat pria itu keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah, sedangkan ia melihat Baekhyun duduk bersila di atas ranjang dengan satu kotak ayam goreng yang tinggal separuh.

Baekhyun hanya menggunakan kaus tipis dengan celana dalam merah mudanya, sebelah tangan memasukkan ayam goreng ke mulut mungilnya, sedangkan tangan satunya memegang remote televisi –sambil sesekali meneguk soda dari kaleng.

Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dengan tatapan malas. "Kenapa? Kau mau mengataiku rakus lagi?" tanyanya dengan mulut penuh.

Chanyeol hanya geleng-geleng kepala heran melihat kelakukan gadis di hadapannya itu. "Kau tak berkemas?" tanya Chanyeol lagi, duduk di pinggiran ranjang, masih memperhatikan Baekhyun yang sedang sibuk dengan ayam dan tayangan tidak penting di televisi.

Baekhyun berdeham sedikit, kemudian susah payah menelan makanannya. "Aku hanya membawa tiga potong baju. Tak butuh waktu lama untuk mengemasnya," ucapnya ringan sambil mengambil satu potong ayam lagi.

Dengan senyuman ringan di bibirnya, Chanyeol memandangi gadis itu dengan jarak yang lebih dekat. Kemudian sebelah tangannya mengusap bibir Baekhyun yang berkilat karena minyak. Baekhyun memandangi pria itu dengan bingung, sedangkan Chanyeol hanya tersenyum padanya.

"Pelan-pelan makannya," ucap Chanyeol masih dengan senyuman di bibirnya. "Nanti kau bisa tersedak," tambah Chanyeol, sedangkan Baekhyun memandangi pria itu dengan tatapan bodoh dan mata mengerjap lucu.

"Apa yang kau lakukan?" ucap Baekhyun, menepis tangan Chanyeol yang masih menempel di bibirnya. Chanyeol hanya tersenyum, dengan lembut mengusap kepala Baekhyun. Sekarang Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Kau tak makan?" tanya Baekhyun lagi, mengalihkan pandangannya dari Chanyeol dan lanjut makan.

Chanyeol tersenyum. "Hanya melihatmu makan, aku kenyang," balas Chanyeol dengan kekehan ringan.

"Dan kau akan terus memandangiku seperti orang bodoh sementara aku makan?" protes Baekhyun, melirik Chanyeol sekilas dengan mulut masih sibuk mengunyah.

Chanyeol mengangguk ringan. "Gugup saat kupandangi?"

"Omong kosong," dengus Baekhyun sambil lanjut memakan ayam tanpa memotongnya terlebih dahulu.

"Aku penasaran," ucap Chanyeol, berhenti sebentar, Baekhyun merespon dengan dehaman singkat. "Nafsu makanmu baik sekali,"

Baekhyun tersenyum, menelan makanannya, kemudian meneguk soda dengan satu tarikan napas. Ia mendorong kotak ayam yang sudah kosong menjauh dari tubuhnya, kemudian mengusap mulutnya dengan punggung tangan.

"Aku makan untuk hidup," balas Baekhyun acuh.

Chanyeol tersenyum lagi, mengambil kotak ayam kosong dan menekuknya beberapa kali. "Kau banyak makan tapi tubuhmu masih rapi, bagaimana bisa?"

Baekhyun terkekeh ringan. "Aku juga melakukan olahraga, asal kau tau saja," ucapnya acuh. Lagi-lagi Chanyeol hanya menggeleng-gelengkan kepala ringan mendengar jawab gadis itu. Chanyeol berdiri untuk membuang kotak ayam Baekhyun ke tempat sampah di ujung ruangan. "Chan," panggil Baekhyun.

"Ya?" balas Chanyeol sambil membalik badan.

"Ambilkan tissue," ucapnya acuh, menunjuk tissue yang berada di meja.

Chanyeol hanya tersenyum ringan, mengambil beberapa helai tissue basah dari meja. Chanyeol kembali duduk di pinggiran ranjang, kemudian meraih tangan kanan Baekhyun yang sedikit berminyak. "Aku membelikanmu makan, membuangkan sampah makananmu, mengambilkanmu tissue, dan sekarang membersihkan tanganmu," ucapnya sambil mengelap jemari Baekhyun dengan lembut.

Bibir Baekhyun sedikit mengerucut. "Apa aku memintamu melakukannya?" tanyanya, menarik tangannya sedikit, tapi Chanyeol menggenggamnya lagi.

Kekehan Chanyeol terdengar nyaring. "Kau pemalas, aku tidak menjamin kau akan membersihkan tanganmu," ucapnya, masih mengusap jemari Baekhyun dengan tissue basah.

"Apa seorang playboy brengsek selalu melakukan hal ini?" tanya Baekhyun acuh, membiarkan Chanyeol mengusap-usap telapak tangannya.

Dalam hati, berusaha menepis perasaan gugup saat Chanyeol memperlakukannya dengan lembut.

Chanyeol tertawa ringan, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun. "Kau gadis malas pertama yang kutemui," ia berhenti sebentar untuk tersenyum. "Jadi aku belum pernah melakukan ini sebelumnya," ucapnya sambil terkekeh, pria itu menarik dahu Baekhyun sedikit dan mengecup bibirnya.

Sedangkan Baekhyun mematung, sama sekali tak bergerak.

Chanyeol tersenyum lagi, mengusap kepala Baekhyun dengan sayang, dan berdiri untuk mengemasi barang-barang Baekhyun yang berserakan di lantai.

Tanpa Baekhyun sadari, kedua tangannya menyentuh dada, merasakan degup jantungnya sendiri yang mulai menggila.

Chanyeol benar-benar bisa membuatnya seperti gadis bodoh yang sedang jatuh cinta.

Atau mungkin, memang Baekhyun jatuh cinta pada pria brengsek itu.

Baekhyun tak berani menyimpulkan.

.

.

TBC (baca jawaban dari pertanyaan readers di bawah ini)

.

Terima kasih sudah membaca dan mereview fanfiction ini.

Fast update karena banyak yang minta dilanjut /ehehe/ Author nggak enak kan soalnya banyak yang request. Semoga aja chapter ini memuaskan readers sekalian. Maaf kalo singkat dan kurang greget. Konflik mungkin akan muncul dichapter depan tapi tidak terlalu berat.

Silahkan kritik, saran, komentar untuk Author di kolom review. Sampaikan apa aja, boleh kalo ada yang mau nyumbang ide cerita untuk chapter depan. Biar Author apa pertimbangan.

Ada pertanyaan dari sebagian readers yang akan Author jawab /nggak semua ya, maaf hehe/ silahkan dibaca biar lega /hahaha/

Kenapa kok nggak dijelaskan siapa tunangan Chanyeol? Jawabannya, masa lalu biarlah masa lalu. Fokus ChanBaek /asik/ udahlah tunangan Chanyeol anggap saja angin lewat.

Di summary ada hunhan kaisoo kok di cerita nggak ada? Jadi gini, sebenernya pada awal buat selalu pengen diselipkan couple lain, tapi diperantengahan kadang mendadak idenya ilang, jadi nggak sempet bikin dan lupa mau ngeubah summary. Maaf kalo ternyata nggak ada moment couple lain. Tolong fokus saja ke main cast-nya /eheh/

Kenapa sih pemilihan diksinya tetep aja, itu-itu aja? Jadi gini, Author ingin menampilkan konsistensi karakter tokoh. Kalo diawal dia suka bilang kata-kata itu, dia bakal ngomong kaya gitu terus. Kan manusia gitu kan ya, yang diucapkan jadi kebiasaan. Jadi bukannya Author nggak mau pilih diksi yang lain, tapi pengen menampilkan konsistensi, itu aja.

Kok banyak kata "mendengus" itu bukannya ngeluarin ingus ya? Hmm, menurut pemahaman Author, mendengus itu semacam menghembuskan napas kuat-kuat sebagai pertanda perasaan kesal begitu. Lebih kurang seperti itu menurut Author, kalau menurut readers bagaimana Author tidak tau /hehe/

Udah itu aja, sekian, terima kasih telah membaca, menunggu, dan mereview fanfiction ini, lebih kurangnya mohon maaf. See you~

With love,

lolipopsehun