Baekhyun menggeliat malas saat mendengar suara-suara berisik yang membuatnya terjaga. Ia membuka mata sedikit, menghalau sinar remang di atas tubuhnya –pancaran lampu kristal berwarna kekuningan yang sedikit berpendar dalam gelap cukup membuat matanya silau. Hal pertama yang Baekhyun lakukan adalah mengucek mata untuk memfokuskan pandangannya yang kabur.

Oke, ruangan ini asing baginya.

Kemudian, setengah sadar, Baekhyun mendapati dirinya berbaring di atas ranjang besar berwarna hitam. Matanya menelusuri seluruh ruangan yang sepertinya adalah sebuah kamar, cukup luas hingga mampu menampung dua lemari besar tanpa terasa sempit. Baekhyun menggeliat lagi, mencoba meregangkan otot-ototnya yang kaku karena perjalanan di dalam pesawat selama beberapa jam dari Shanghai. Seingatnya ia dan Chanyeol baru sampai Korea malam harinya, dan Chanyeol mengantarnya pulang.

Baekhyun tak ingat apa yang terjadi –ia pikir ketiduran saat perjalanan pulang.

Jadi kemana pria menyebalkan itu membawanya sekarang.

Dengan malas, Baekhyun bangkit dari tidurnya, , ia menguap sedikit, kemudian perlahan melangkahkan kaki keluar ruangan tempatnya tertidur. Pendengarannya mengangkap suara Chanyeol samar-samar dari lantai bawah –terdengar seperti umpatan kadang juga dengusan kasar. Perlaham, Baekhyun bisa melihat sosok jakung pria itu duduk di sofa dengan televisi menyala, menampilkan gambaran pertandingan gulat.

"Hey, Park Chan," panggil Baekhyun setelah menuruni tangga, berjalan ke arah pria itu, sedangkan Chanyeol menatap Baekhyun dengan senyuman di wajah piasnya. "Dimana ini?" tanyanya lagi, setengah menguap, terdengar malas.

Chanyeol menggeser tubuhnya untuk membiarkan Baekhyun duduk. "Tempat tinggalku," balasnya, kembali memfokuskan pandangan ke layar televisi.

"Kau bilang akan mengantarkanku pulang," protes Baekhyun dengan suara parau, nyaris habis.

Chanyeol terkekeh ringan, mengambil satu kaleng soda dan memberikannya pada Baekhyun. "Kau ketiduran, bagaimana aku bisa masuk ke apartemenmu,"

Baekhyun menguap lagi setelah menghabiskan satu kaleng soda sisa Chanyeol. "Jadi kau membawaku kesini dalam keadaan tak sadar?" tiba-tiba saja pandangannya terkesan menyelidik.

Dengusan kasar keluar dari bibir Chanyeol, terdengar kesal. "Well, itu terdengar melebih-lebihkan. Kau kelihatan lelah jadi aku tak tega membangunkanmu, bukankah seharusnya kau berterima kasih untuk itu."

Baekhyun tertawa masam, mencibir ucapan pria itu. "MMA?" tanyanya pada Chanyeol, mendadak saja bertanya tentang pertandingan yang sedang tayang di televisi.

Chanyeol mengangguk, perlahan mengernyit memandangi gadis yang sedang mengunyah makanan ringan miliknya. "Kau tau MMA?" tanya Chanyeol.

Baekhyun mendesah ringan, menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa. "Yah, aku sering memonton itu dengan Sehun,"

"Kukira wanita tidak menyukai olahraga seperti ini," guraunya.

Baekhyun mendesah malas. "Sudah kubilang padamu, aku ini berbeda," ucapnya acuh. Chanyeol hanya tersenyum lebar memandangi wajah Baekhyun yang mendadak saja lebih menarik dari pertandingan gulat favoritnya di televisi.

"Kau ada kegiatan hari ini?" tanya Chanyeol, mencoba mencari topik pembicaraan –sebenarnya berusaha melarikan diri dari sunyi yang menganggu.

Baekhyun berpikir sejenak. "Kuliahku siang nanti," gadis itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, kemudian menguap lagi. "Sekarang jam berapa?" tanyanya dengan mata setengah terpejam –tubuhnya sangat lelah, dan terbangun di tengah malam bukan hal yang baik.

"Hampir pagi," balas Chanyeol.

"Ya Tuhan, aku lelah sekali," tambahnya.

Chanyeol hanya teryawa ringan mendengar omelan Baekhyun, perlahan menarik tangan Baekhyun hingga kepala gadis itu berada di atas pangkuannya. Baekhyun tidak menolak saat Chanyeol mengusap rambutnya dengan lembut. Bahkan ketika Chanyeol mengecup dahinya, Baekhyun juga tidak menolak.

Itu nyaman, yah, meskipun jantung Baekhyun harus berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Mengapa kau tidak tidur?" tanyanya pada Chanyeol. Baekhyun membiarkan Chanyeol menarik selimut tipis untuk menutupi tubuhnya, kemudian meringkuk dalam pangkuan pria itu.

Menolak Chanyeol bukan hal yang bisa Baekhyun lakukan.

Chanyeol terkekeh ringan. "Hanya terbangun, aku tak bisa tidur lagi," balasnya.

"Kau tau," Baekhyun berhenti sebentar untuk menggeser tubuhnya agar bisa memandangi wajah Chanyeol, sedangkan pria itu menundukkan kepala untuk melihat Baekhyun juga. "Seperti ini, rasanya kita memang sedang berkencan sungguhan," Baekhyun separuh tertawa saat mengucapkannya.

Chanyeol sedikit terkejut, tapi pria itu terkekeh ringan. "Kau mau benar-benar menjadi kekasihku?"

"Omomg kosong," sahut Baekhyun cepat, ia menahan bibir Chanyeol yang mulai mendekati wajahnya dengan tangan.

Chanyeol tertawa lagi, menarik wajahnya perlahan karena Baekhyun menolak. "Aku serius, lebih baik memang kita benar-benar berkencan. Kau bisa membawaku ke orangtuamu, itu lebih baik,"

Baekhyun mendengus ringan, gadis itu mencibir. "Aku tidak menyukaimu yang seperti itu," ucapnya.

Oke, sekarang Baekhyun sendiri tak yakin dengan itu. Sebenarnya Baekhyun hanya ingin memastikan perasannya sendiri. Sebenarnya mengapa jantungnya berdetak lebih cepat saat bersama Chanyeol, ia ingin memastikan hal itu dulu sebelum mengambil keputusan.

Dengan cepat Chanyeol mengecup dahi gadis itu, membuatnya merengut kesal. "Kita lihat saja apa kau masih bisa menolakku, Byun Baekhyun. Aku akan mendapatkanmu," ucapnya dengan kekehan ringan, Chanyeol menggeser tubuhnya untuk berbaring dan menarik Baekhyun dalam pelukannya. "Tidurlah, kau bilang lelah,"

Oke, Baekhyun, bernapas! Jangan hiraukan Chanyeol, inagt, pria ini adalah pria brengsek penuh bualan. Kendalikan jantungmu, Byun Baekhyun.

.

.

"Sial, di luar panas sekali," rengek Baekhyun saat ia baru saja memasuki apartemen Chanyeol, sedangkan pria yang sedang berbaring di sofa itu hanya tersenyum padanya –diam-diam menekan remote pendingin ruangan untuk menurunkan suhu sebelum Baekhyun mengoceh lebih lama lagi.

"Harimu menyenangkan?" tanya Chanyeol –tidak berniat basa-basi sebenarnya, tapi ia benar-benar penasaran.

Baekhyun hanya mendengus ringan, berjalan menuju dapur untuk mengambil air dingin dari lemari es tanpa menghiraukan pertanyaan yang Chanyeol berikan untuknya. Sore ini, Baekhyun baru saja pulang dari kampus. Ia terpaksa meminjam mobil Chanyeol dan harus kembali ke apartemen pria itu karena Chanyeol menolak untuk mengantarnya.

Menyebalkan, bukan?

"Kau lapar?" tanya Chanyeol lagi, pria itu mengantisipasi sebelum Baekhyun mengoceh ketika perutnya lapar.

Baekhyun menggeleng ringan setelah menghabiskan separuh botol air putih dingin. "Aku sudah makan," ucapnya acuh, tapi kemudian wajah Baekhyun berubah menjadi berseri-seri saat pandangannya mengarah pada pintu kaca besar yang menghubungkan dengan balkon di luar sana. "Keberatan jika aku membuka pintu?" tanyanya dengan senyum lebar, mengharap. Chanyeol menggeleng cepat. Merasa dapat persetujuan, Baekhyun setengah berlari menuju balkon, untuk sekedar menghirup udara segar dari sana.

Melegakan sekali.

Apartemen Chanyeol cukup tinggi dan sunyi, cukup membuatnya puas dengan pemandangan yang tampak dari atas sini. Rasa sempurna saat melihat matahari yang hampir sepenuhnya menghilang hingga menyisahkan semburat jingga kegelapan, ditambah udara sejuk khas sore hari yang menyegarkan.

Tanpa sadar, Baekhyun mengucap kata-kata pertanda takjub dari bibir mungilnya. Rasa lelahnya menguap entah kemana.

"Menyukainya?" tiba-tiba saja suara Chanyeol terdengar dari balik tubuhnya.

Baekhyun mengangguk ringan, ia bisa merasakan Chanyeol kini sudah berada di belakang tubuhnya, tapi memilih mengabaikannya. Lagipula, pemandangan langit jauh di hadapannya benar-benar sayang untuk dilewatkan. Baekhyun mendesah ringan, kembali tersenyum. "Aku selalu menyukai senja," ia berhenti sebentar untuk menghirup udara sejuk. "Indah sekali, bukan?" kenangnya, senyum manis gadis itu tak lepas sejak tadi.

Chanyeol terkekeh ringan dari balik tubuh Baekhyun. "Kau selalu melihat matahari terbenam setiap hari?"

"Ya, jika memang sempat. Aku baru tau dari sini pemandangannya bagus sekali," jawab Baekhyun pelan, tatapan matanya sama sekali tidak putus dari pemandangan matahari tenggelam jauh disana.

"Itu sebabnya aku memilih tempat yang tinggi," Chanyeol tertawa renyah, dengan sebelah jemarinya, menyibak rambut Baekhyun ke arah kiri bahu gadis itu, kemudian perlahan bibir hangatnya mengecup bahu dan leher Baekhyun yang terbuka.

Baekhyun terkesiap, sedikit menoleh ke arah Chanyeol yang sudah menyesapi leher kanannya dengan lembut. "Apa yang kau lakukan?" cicit Baekhyun, tercekat, menahan desahan saat Chanyeol mulai menjilati perpotongan lehernya.

Sentuhan bibir Chanyeol adalah kelemahannya.

Tawa ringan Chanyeol terdengar lagi, kemudian bibir panasnya beralih mengecup telinga Baekhyun, ia berbisik. "Kau wangi sekali, Byun. Apa kau sempat pulang dan mandi?"

Satu leguhan lolos dari bibir Baekhyun saat Chanyeol menjilat ujung telinganya. "Ya, aku sempat pulang," sial, suaranya terdengar begitu mendamba sentuhan yang lebih dari ini.

Tolak dia, Byun Baekhyun. Jangan biarkan Chanyeol menyentuhmu lagi.

"Sayang sekali, kau harus mandi lagi," bisik Chanyeol, kembali mengecupi leher Baekhyun yang polos.

Tanpa sadar, Baekhyun memejamkan mata, ia menikmati sentuhan bibir Chanyeol di leher dan bahunya –mendadak saja, pemandangan senja tak lagi penting untuk dilihat. Bagaimanapun otak Baekhyun menyuruhnya menolak sentuhan itu, tubuh Baekhyun tak bisa bergerak menjauh saat Chanyeol menyentuhnya.

Demi Tuhan, hanya bibir Chanyeol dan itu sudah membuatnya gila.

Jangan terpedaya, Baekhyun. Pria ini brengsek.

Kekehan Chanyeol terdengar angkuh di telinga Baekhyun, sementara tangan Chanyeol di bawah sana sudah mulai menyentuh lekukan pinggangnya, membelai dengan lembut dan nyaman –tapi sayangnya, sentuhan itu membuat tubuh Baekhyun mengejang.

Tangan Chanyeol perlahan meraih jemari Baekhyun yang masih mencengkeram besi pembatas balkon, ia mulai menelusuri jemari itu hingga membelai lengan Baekhyun yang tak tertutup sehelai benang pun. Perhatian Chanyeol terpusat pada kaos putih tipis tanpa lengan yang menempel longgar di tubuh Baekhyun. Pelahan, ia memainkan dan menyisipkan tangannya dari balik kaos itu, membelai perut rata Baekhyun yang hangat.

Perlahan-lahan merambat naik.

"Bernapas, Byun Baekhyun," bisik Chanyeol, terdengar berat di telinga Baekhyun.

Baekhyun menurut, ia mengikuti perintah Chanyeol untuk menarik napas –sadar bahwa ia menahan napas sejak tadi– seolah-olah ia dikendalikan hanya dengan suara pria itu. Bodohnya, Baekhyun tak tau cara menolak sentuhan Chanyeol di tubuhnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang, Baekhyun tak terlalu bisa berpikir jernih.

Sadarlah, Byun Baekhyun!

Perlahan-lahan, masih perlahan, Chanyeol menggerakkan tangannya ke atas. Panas dari sentuhan Chanyeol menembus hingga balik kulit Baekhyun yang tipis. Jemarinya kini mencapai dada, kemudian menggerakkan dengan lembut di atas sana.

Desahan ringan kembali mengalun tanpa sadar dari bibir Baekhyun, terlebih saat Chanyeol kembali menghisap lehernya kuat-kuat.

Dan saat Chanyeol benar-benar meremasnya, Baekhyun kehilangan akal sehat. Ia merasa terhantam oleh kenikmatan luar biasa dari belaian itu, berhasil menguapkan akal sehatnya. Baekhyun nyaris terengah, berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara yang akan semakin membuat Chanyeol menggila.

Tanpa sadar, Baekhyun mengeratkan pegangan pada pagar besi saat otot-otot kakinya tiba-tiba saja melemah. Rasanya Baekhyun harus berpegang kuat pada sesuatu yang dapat menahannya tetap berada di tanah, karena sentuhan Chanyeol benar-benar luar biasa.

Nyaris bisa membuatnya melayang.

"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu," bisik Chanyeol lagi, perlahan menarik kaos Baekhyun hingga terlepas dari kepalanya. Baekhyun sempat merasa dingin saat udara sore menyentuh kulitnya, tapi panas yang Chanyeol salurkan dari tubuhnya membakar Baekhyun.

Dalam hati Baekhyun menjerit, ia siap menghadapi Chanyeol sekarang. Ia bersumpah tak akan menolak lagi. Persetan dengan perasaanya terhadap Chanyeol, masa bodoh dengan niatnya untuk meyakinkan diri sendiri, sentuhan pria ini lebih penting dari apapun.

Jadi Baekhyun memutuskan tak akan menghentikan kegilaan ini.

Erangan Baekhyun terdengar nyaring saat Chanyeol mulai membelai pusat tubuhnya, sementara bibirnya masih menikmati leher Baekhyun dengan rakus. Sensasinya benar-benar membuat Baekhyun merasa seperti naik roller coaster, naik turun dalam sensasi memusingkan.

Tapi seperti naik roller coaster juga, ini sangat menyenangkan.

Baekhyun tak tau berapa lama mereka berdiri di sana, ia tak peduli apapun selain kenikmatan yang terus-menerus Chanyeol berikan. Rasanya dunia Baekhyun menghilang, ia seperti terombang-ambing dalam ketidaksadaran tanpa arah. Chanyeol mampu memberikan sensasi berbeda dari setiap sentuhannya.

Demi Tuhan, Chanyeol hanya menyentuhnya.

Tanpa sadar, tangan Baekhyun membelai tengkuk Chanyeol, ia menempelkan tubuhnya ke tubuh Chanyeol –yang baru ia sadari sama telanjangnya, oke, sejak kapan Chanyeol tidak memakai baju. Bibir gadis itu perlahan mengerangkan nama Chanyeol. Bersamaan dengan itu, kekehan Chanyeol terdengar seperti ajakan yang jelas untuk Baekhyun.

Dan dengan desahan lembut, Baekhyun menyetujui.

Ia menurut saat Chanyeol melepaskan celana pendeknya, juga menurut saat Chanyeol mengambil alih tubuhnya. Baekhyun tak bisa melakukan apapun untuk menolak perintah pria itu, Baekhyun tak kuasa melakukannya.

"Aku senang saat kau hanya memakai, well, celana dalam," bisikan Chanyeol terdengar penuh hasrat dan sarat gairah, suara Chanyeol membuat Baekhyun merasakan ketegangan pada otot perutnya. Baekhyun tau Chanyeol begitu siap, begitu pula dengan dirinya.

Terjebak dalam momen itu beberapa lama –momen saat sentuhan Chanyeol melenyapkan akal sehatnya, suara dentingan jam penanda angka waktu berubah seolah menarik Baekhyun dari ketidaksadaran semu. Ia mulai menyadari satu hal, mereka berada di balkon, di tempat terbuka, tempat orang lain bisa melihat mereka. Jalan raya memang jauh di bawah sana, tapi bagaimana dengan orang-orang yang berada di sekitar bangunan.

Mendadak saja, mata Baekhyun menelusuri jendela demi jendela yang tampak gelap. "Chan," bisiknya lemah, mengingatkan saat Chanyeol mulai melepaskan kain terakhir yang melindungi tubuh bagian selatannya.

"Kau bilang menyukai senja," balas Chanyeol, tetap melanjutkan gerakan tangannya –membuat Baekhyun telanjang. "Kau belum pernah melakukan ini sebelumnya?" ia berhenti sebentar untuk mengecup bahu Baekhyun. "Menghabiskan sore panas di bawah langit senja?"

Biasanya Baekhyun akan mengumpat karena ucapan menggelikan itu, tapi sekarang, Baekhyun tak bisa memikirkan kata umpatan apapun. Ia sudah terlanjur siap, sedangkan Chanyeol mengulur-ulur waktu. Apa perlu Baekhyun memohon padanya.

Kendalikan dirimu, Byun Baekhyun.

Tubuh Chanyeol yang sama telanjangnya semakin merapat ke punggung Baekhyun. Ia menekan tubuh Baekhyun sedikit, kemudian kembali meraba pinggulnya, perlahan naik hingga puncak dada gadis itu. "Nikmati senjanya sementara aku menikmatimu," bisik Chanyeol ringan, mengecup telinga gadis itu, membuat Baekhyun meloloskan satu desahan lagi tanpa sadar. "Membungkuklah sedikit," titah Chanyeol dengan suara penuh sihir memabukkan.

Dan Baekhyun menurutinya dengan gerakan teramat pelan. Ia kehilangan kendali atas sistem saraf ditubuhnya sendiri, semuanya melemah di bawah sentuhan Chanyeol yang penuh sihir.

Tangan Chanyeol berada di belakang leher Baekhyun, memastikan gadis itu menuruti ucapannya. Kaki panjangnya berada di antara kaki Baekhyun, memaksa Baekhyun membuka kaki selebar yang Chanyeol inginkan. Chanyeol menekuk lutut, mencari sudut yang paling nyaman untuk memulai, dengan sebelah tangan mengusap punggung Baekhyun –sepertinya menenangkan gadis itu sebelum badai.

Lalu Chanyeol memulai dengan lembut.

Baekhyun menggeliat, seperti seekor ikan yang terjebak di ujung kail. Pegangannya pada balkon perlahan mengendur –bersamaan dengan Chanyeol yang mulai tarik-ulur. Baekhyun bisa merasakan otot pahanya mengejang, kemudian melemas dan bergetar. Bersamaan dengan itu, Chanyeol menangkap tubuhnya, menariknya mendekat sementara ia mulai bergerak tanpa aturan.

Baekhyun tak bisa mengendalikan mulutnya yang mengerang –mengumpatkan nama Chanyeol dengan satu leguhan keras.

Chanyeol menahan tubuh gadis itu, mengungkung Baekhyun seolah tawanan sementara tubuhnya bergerak semakin dalam. Pria itu terus mendorong, memaksa, membuat Baekhyun harus susah payah mengendalikan pelepasannya yang mendadak saja semakin cepat dan mulai mendekat.

Dengan satu hentakan keras penuh penekanan dari Chanyeol, Baekhyun menyerah. Ia mencapainya dengan guncangan hebat, ototnya meremas Chanyeol tanpa ia sadari, dan jeritan melengking tak bisa ditahan lagi.

Baekhyun pasti sudah tersungkur jika Chanyeol tak menahannya, jemari gadis itu meremas tangan Chanyeol yang mencengkeram pinggangnya –mencari pegangan sementara Chanyeol masih bergerak dalam tubuhnya dengan suara geraman buas.

Tak tau berapa detik berlalu, Baekhyun mulai bisa merasakan pelepasan Chanyeol begitu dekat dan penuh, ia bisa merasakan panas membara yang nyaris membakar seluruh saraf tubuhnya. Tanpa sadar, tubuh Baekhyun mengejang lagi, ia berusaha membiarkan panas tubuh Chanyeol mendorongnya juga.

Satu erangan terdengar dari bibir Chanyeol, bersamaan dengan panas yang mengguncang tubuh Baekhyun dengan kuat –kembali menghancurkan pengendalian dirinya yang rentan. Baekhyun ikut melebur bersamanya, diiringi satu desahan lega dan panas membara yang berusaha mereka redam.

Napas Baekhyun terengah-engah, begitu pula dengan helaan napas berat Chanyeol di belakang tubuhnya. Pria itu terkekeh ringan, bibir panasnya mengecup leher Baekhyun yang sedikit berkeringat. "Sayang sekali kau tak bisa melihat tubuhku," bisik Chanyeol.

Bajingan.

Desahan ringan terdengar dari bibir Baekhyun, ia memandangi hamparan langit jingga yang mulai menghitam jauh disana. Berusaha memikirkan hal lain selain Chanyeol, berusaha mengembalikan akal sehatnya yang sempat lepas entah kemana saat Chanyeol mengendalikan tubuhnya lagi.

Senja dan bercinta? Kombinasi luar biasa.

"Kau menyukai senjanya?" bisik Chanyeol lagi, sedikit menghisap leher Baekhyun. Gadis itu tidak menjawab, tapi ia menikmati itu dengan mata terpejam dan bibir terbuka. "Senjanya memang indah," ucap Chanyeol lembut, perlahan mengangkat Baekhyun dalam gendongannya, nyaris membuatnya memekik kaget. "Tapi tak ada yang lebih indah darimu,"

Pembual.

Baekhyun membiarkan Chanyeol mencium bibirnya dengan lembut, Chanyeol menciumnya tanpa nafsu dan gairah, seolah-olah mencium bibir Baekhyun dengan keras dapat meremukkannya. Baekhyun bisa menyadari perasaan meluap-luap dari ciuman itu, jadi ia menyerah, mengalungkan kedua tangannya ke leher Chanyeol, membalas ciuman pria itu, sementara Chanyeol membawa tubuhnya masuk.

Bualan Chanyeol selalu berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

.

.

Gelap telah benar-benar datang, langit diluar sana sama sekali tidak menunjukkan warna. Bahkan tak ada bintang malam ini. Sejak kejadian panas sore tadi, Baekhyun dan Chanyeol tidak terlibat dalam pembicaraan serius. Padahal Baekhyun sudah siap mencerca pria itu dengan ribuan pertanyaan –atau bahkan tuntutan karena menidurinya lagi, yah, meskipun secara teknis Chanyeol tidak menidurinya, tapi tetap saja.

Baekhyun sempat berpikir Chanyeol memperlakukannya seperti seorang pelacur atau simpanan, siap ditiduri kapan saja. Dan memang seperti itu kelihatannya sekarang.

"Kau melamun," ucap Chanyeol yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Rambut kecoklatannya sedikit berantakan, tapi sama sekali tak mengurangi ketampanan dari wajah bak porselen itu. Baekhyun tersenyum, kembali mencoret-coret kertas gambarnya. Ia tak menghiraukan Chanyeol yang duduk di depannya dengan kening berkerut dalam. "Sedang memikirkan sesuatu?" sambungnya.

Baekhyun tak menjawab, tapi gerakan tangannya berhenti. Tanpa sadar, meletakkan pensilnya begitu saja. Baekhyun masih ragu untuk melakukan ini, apakah ia harus jujur kepada Chanyeol tentang perasannya, lalu pergi dari kehidupan pria itu, atau ia terus memendam perasaannya sendiri dan menjalani hubungan 'pura-pura' ini.

Meskipun itu menyiksanya, yah, berpura-pura tidak gugup di depan Chanyeol sebenarnya sangat melelahkan. Baekhyun harus terus menerus menyembunyikan detak jantungnya sendiri, hanya agar Chanyeol tak mendengar itu.

Jujur saja, Baekhyun mulai menyukai pria itu lebih dari sebelumnya. Awalnya, hanya bentuk tubuh Chanyeol yang membuatnya tertarik, tapi sekarang, setelah pria itu menyentuhnya, memperlakukannya dengan manis, perasaan dalam diri Baekhyun mendadak berubah.

Ia menyukai Chanyeol lebih dari itu. Bodoh katakanlah, ini terlalu cepat, tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Bagaimanapun ia mengelak tentang hal ini, nyatanya, pria itu sudah masuk ke dalam hatinya sedikit demi sedikit. Tanpa sadar pula, Baekhyun membiarkan Chanyeol menetap disana tanpa punya niat mengusirnya pergi.

Baekhyun tak tau bagaimana harus menjauhkan pria itu darinya, ia bukan gadis munafik yang pura-pura menjauh setelah kejadian ini, hanya agar Chanyeol pergi meninggalkannya. Baekhyun tidak sepengecut itu.

Tapi, dengan tinggal dan menetap, dengan membiarkan Chanyeol terus mengisi hari-hari bahkan hatinya, Baekhyun tak bisa menjamin perasaannya itu akan hilang, ia takut perasannya akan semakin besar, semakin mendamba, dan mungkin suatu saat nanti saat Chanyeol membuangnya, ia akan merasa sakit hati, Baekhyun tak ingin itu terjadi. Chanyeol tak pernah serius padanya, dan mungkin tak akan pernah bisa membalas perasaan Baekhyun.

Pada akhirnya nanti, Baekhyun harus siap melepas pria itu.

"Hey, apa yang kau pikirkan?" ucapan singkat Chanyeol, berhasil menarik Baekhyun kembali ke dunia nyata. Ia mengerjap beberapa kali, memandangi wajah Chanyeol yang tau-tau sudah berada di depan wajahnya. "Ada yang membuatmu gelisah, Baekhyun?"

Yah, itu kau, tentu saja.

Baekhyun menggeleng pelan, sedikit menundukkan kepala untuk menghindari tatapan mata Chanyeol. "Tidak ada,"

Senyuman ringan Chanyeol membuat jantung Baekhyun kembali berdetak cepat. Jemari dingin pria itu menyentuh hidung Baekhyun. "Kau tidak pandai berbohong, sekedar mengingatkanmu saja," ucap Chanyeol jenaka.

Baekhyun memaksakan sebuah kekehan ringan. "Yah, ada sesuatu yang mengganjal disini," Baekhyun menunjuk dadanya sendiri.

Sebelah alis Chanyeol sedikit terangkat. "Biar kulihat, ada apa," ia menyentuh ujung tanktop Baekhyun, memajukan wajahnya sedikit untuk melihat ke dalam sana. Gadis itu mendengus kesal, menepis tangan Chanyeol dengan kasar.

"Sangat membantu," ucapnya sarkas, sedikit merengut, dan itu berhasil membuat tawa Chanyeol kembali terdengar.

Tiba-tiba saja, kedua tangan Chanyeol menangkup pipinya yang hangat, mengusapnya beberapa kali. Pria itu bahkan memajukan wajahnya untuk sedikit mengecup bibir Baekhyun –yang tanpa sadar membuat Baekhyun memejamkan mata.

Tidak Baekhyun. Seharusnya kau menghindari Chanyeol. Ini tidak benar.

"Aku hanya menerka-nerka, apa kau melamun karena kejadian tadi sore?" suara Chanyeol terdengar lembut. Baekhyun tidak menjawab, ia hanya memandangi Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan, namun Chanyeol mengerti maksud tatapan itu, bahwa dugaannya tentang kegelisahan Baekhyun memang benar. Dan tanpa suarapun, Baekhyun seolah meneriakkan masalah itu di depan wajah Chanyeol. "Apa yang membuatmu gelisah?" tanya Chanyeol lagi, Baekhyun tak bisa memungkiri bahwa ada kehati-hatian dalam suara Chanyeol bagaimanapun pria itu berusaha menutupinya.

Baekhyun berdeham sedikit, mulai menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan sekarang. Jika memang ia harus jujur dengan perasaannya pada Chanyeol, ini hanya akan membuat hubungan mereka semakin canggung –sedangkan perjanjian sialan itu masih harus berjalan beberapa bulan ke depan. Tapi Baekhyun tak tau lagi bagaimana harus menyembunyikan perasaannya pada Chanyeol.

Baekhyun sendiri terlambat menyadari perasaan itu, ia terus menerus menolak isi hatinya selama beberapa hari terakhir. Baginya ini masih terlalu cepat, tapi memang secepat itu ia masuk ke dalam pesona penuh sihir Park Chanyeol.

Sadar Chanyeol masih memandanginya, dan membuat suasana disekitar mereka penuh kecanggungan karena Baekhyun diam, gadis itu perlahan menggeleng. Jujur saja, bagaimanapun ia tidak peduli tentang keadaan sekitar, Baekhyun tak pernah mengatakan tentang perasaannya terhadap seorang pria.

Memang, Baekhyun pernah terang-terangan mengaku pada Chanyeol ia menyukai tubuh pria itu, tapi itu dulu, sebelum perasaannya sebesar sekarang.

Sekarang, Baekhyun tak tau harus mulai bicara dari mana.

"Baekhyun," bisik Chanyeol. "Apa itu menyakitimu?"

Baekhyun menghembuskan napas berat. "Bukan seperti itu. Hanya saja aku merasa ini salah," ucapnya dengan suara tipis, ragu-ragu.

Chanyeol sedikit bingung menanggapi perkataan Baekhyun yang mendadak saja serius. "Hubungan ini?" ia masih belum begitu yakin maksud gadis itu.

Perlahan, Baekhyun mengangguk. "Seolah-olah aku hanya sebagai pelacurmu saja,"

Chanyeol tak bisa menyembunyikan keterkejutan sekarang, keningnya berkerut dalam, ia berpikir baik-baik sebelum bicara dan menjawab ucapan Baekhyun. Jujur saja, Chanyeol takut. Ia khawatir perkataannya nanti akan menyakiti Baekhyun.

"Baekhyun," ucap Chanyeol lembut, mengusap pipi Baekhyun lagi. "Aku tak pernah menganggapmu begitu. Mengapa kau berpikir jauh sekali?"

Gelengan Baekhyun terlihat lemah, mata gadis itu tampak penuh keraguan, seolah-olah Baekhyun ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting dna butuh pertimbangan khusus untuk mengucapkannya. Dan ya, mungkin Baekhyun masih mempertimbangkan rencana pengakuannya.

"Chanyeol, bisa kuminta sesuatu darimu?" pinta Baekhyun, tiba-tiba saja terdengar penuh pengharapan. Chanyeol menjawab dengan anggukan yakin. "Bisa kau memperlakukan aku dengan sedikit kasar?"

Chanyeol sedikit menarik wajahnya karena terkejut dengan ucapan gadis itu, keningnya berkerut dalam sementara bibirnya agak terbuka. "Apa maksudmu, Baek?"

Baekhyun membuang napas berat. "Jangan memperlakukanku dengan manis lagi, Chan," Baekhyun berhenti sebentar untuk menarik wajahnya hingga tangan Chanyeol terlepas dari pipinya. "Itu membuatku semakin bingung dengan perasaanku sendiri," oke, akhirnya Baekhyun mengatakan hal ini.

Masih dengan kening berkerut dalam, Chanyeol kembali mendekatkan wajahnya. "Perasaanmu?" ulangnya. Baekhyun mengangguk. "Apa sekarang kau memiliki perasaan lebih padaku?" Chanyeol bertanya dengan hati-hati.

Desahan napas Baekhyun mendadak saja terasa berat, ini sulit baginya. "Aku takut begitu. Makanya, jangan membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Jangan memperlakukanku dengan manis, itu semakin membuatku bingung," ucap Baekhyun pelan, perlahan menundukkan kepala.

Tiba-tiba saja Chanyeol terkekeh ringan, tangannya menarik dagu Baekhyun ke atas, lalu mulai mengecup bibir gadis itu perlahan, sangat lembut dan penuh perasaan. Baekhyun terkesiap, berusaha membalas ciuman Chanyeol yang tanpa tuntutan, tanpa gairah. Chanyeol menciumnya dengan mata terpejam –benar-benar berusaha menyalurkan perasaan yang tak Baekhyun pahami.

Kemudian, setelah napas Baekhyun terengah. Chanyeol melepaskannya. Pria itu tersenyum ringan, merapikan rambut Baekhyun yang sedikit menutupi wajah dan mengecup dahinya. "Aku tak akan membiarkan perasaan itu hilang," ucap Chanyeol dengan satu senyuman manis. "Sudah kubilang, aku akan mendapatkanmu, Byun Baekhyun,"

Baekhyun belum sempat merespon ucapan pria itu, tapi ciuman Chanyeol lagi-lagi tak membiarkannya berpikir lebih jauh.

.

TBC

.

Apasih ini kok jadi baper-baperan gini? Ada apa dengan ide-ide Author akhir-akhir ini. Aduh gatau deh ini kok jadinya semakin absurd gini.

Ada komentar? Saran? Kritik? Bisa disampaikan melalui review yaa~ Kalo ada yang mau request kelanjutan kisahnya boleh disampaikan.

Oh ya, buat readers yang punya ide cerita terus minta dibikinin FF jangan ngechat lewat review ya, takutnya terpendam /kaya perasaan/ Mending PM aja lewat PM FFN atau email. Oke~

Chapter selanjutnya, semoga masih ada yang mau nunggu cerita ini. Jangan bosen-bosen ya sama cerita Author yang semakin hari semakin absurd.

Akhir kata, terima kasih sudah membaca dan jangan lupa review yaaa~

With love,

lolipopsehun