Chanyeol merengkuh tubuh mungil yang sedang terlelap itu lebih rapat pada tubuhnya, berusaha menghalau udara dingin yang entah muncul dari mana agar gadis itu tidak terbangun karena terusik suhu. Gadis mungil dalam pelukannya itu meringkuk seperti anak kucing dengan bibir menempel pada dadanya. Kalau bisa, Chanyeol ingin momen ini terjadi selamanya, ini terlalu nyaman.

Entah sejak kapan Chanyeol suka memandangi Baekhyun saat tidur.

Chanyeol juga tidak tau sejak kapan ia mulai memiliki minat tinggi untuk melindungi gadis yang kini sedang tertidur pulas itu.

Terlalu cepat untuk mengatakan ia jatuh cinta pada Baekhyun –terlebih saat Baekhyun ternyata mengatakan perasaannya tadi, Chanyeol sempat terkejut karena Baekhyun mengakui itu meskipun masih ada keraguan dalam matanya, tapi sungguh, untuk ukuran seorang gadis normal, Baekhyun ini berbeda dari yang lain.

Bagaimana ia bisa dengan tenang mengungkapkan perasaan pada pria yang ia sukai?

Tidak masuk akal, bukan?

Chanyeol masih ingat kali pertama ia mengetahui sosok Baekhyun. Saat itu akhir musim semi yang mulai meniupkan angin sejuk. Chanyeol harus kembali dari Jepang untuk mengurusi pekerjaan ayahnya selama satu minggu terakhir, dan itu berhasil membuat banyak spekulasi orang tentang dirinya yang menikah diam-diam.

Chanyeol juga tak tau, mengapa kehidupannya mendadak terlalu asyik untuk digali dan diketahui oleh orang lain.

Tapi jangankan menikah, Chanyeol saja masih belum bisa melupakan seorang gadis yang sudah bukan menjadi miliknya lagi. Itu minggu kedua setelah Chanyeol tau gadisnya bukan lagi seperti dulu, meskipun tak mengatakannya, tapi Chanyeol tau ada bayi yang berkembang dalam perut gadisnya itu –karena tanpa sengaja Chanyeol menemukan data USG dalam berkas gadisnya. Dan Chanyeol seratus persen yakin itu bukan anaknya. Sejak menjalin hubungan dengan gadis itu, Chanyeol berjanji akan berhenti menjadi pria brengsek yang hobi meniduri wanita, tapi nyatanya, itu membuat gadisnya ditiduri orang lain.

Miris sekali.

Bodoh katakanlah, alih-alih marah dengan kelakuan gadis yang ia cintai, Chanyeol malah membuat seolah-olah sudah mencampakkan gadis itu. Dengan angkuh, saat itu –meskipun hanya untuk menutupi rasa sakit hati luar biasa, Chanyeol mengatakan bahwa ia memiliki orang lain yang lebih ia cintai, dan terpaksa harus meninggalkan gadis itu demi orang lain.

Tentu saja, gadisnya itu tampak sedih –yah, walaupun Chanyeol tau itu hanya permainan peran yang membosankan dan penuh pura-pura.

Chanyeol masih begitu hancur hingga beberapa bulan setelahnya, ia pikir dosanya dimasa lalu saat menjadi seorang brengsek harus ia bayar sekarang. Dan sejak saat itu, sejak saat perpisahan menyedihkan itu, Chanyeol berjanji tidak akan membuka hati untuk siapapun lagi.

Trauma katakanlah, tapi itu memang masih membekas dalam lubang hatinya. Jadi Chanyeol memutuskan berhenti dari yang namanya mencintai dan dicintai. Ia sudah muak dengan semua omong kosong tentang cinta dan kesetiaan.

Persetan dengan itu semua.

Lalu saat dirinya mulai kembali untuk kuliah, dengan telinga masih mendengar permbicaraan tentang dirinya –yang berhasil Chanyeol abaikan– ada satu pembicaraan dari kumpulan gadis yang menarik perhatiannya. Chanyeol tidak tau siapa mereka, mereka sering berbicara dengan suara tipis di depan koridor perpustakaan yang hening. Meskipun Chanyeol disana, mereka tetap membicarakannya. Tentu saja, gadis-gadis itu berbicara menggunakan bahasa Mandarin sehingga tidak ada yang tau pembicaraan mereka.

Dan Chanyeol tidak terlalu bodoh untuk bisa menguasai bahasa itu dengan baik –ia pernah tinggal di Beijing selama tiga tahun, cukup membuatnya bisa mengerti percakapan itu dengan jelas.

Chanyeol mendengar ada seorang gadis bernama Byun Baekhyun yang menyukainya, mahasiswa tingkat akhir jurusan seni. Namanya masih asing terdengar di telinganya saat itu, tapi Chanyeol berniat mencari gadis itu. Awalnya Chanyeol acuh dan tak peduli, karena itu bukan kali pertama ada seorang gadis yang menggilainya, tapi entah mengapa para penggosip itu menjabarkan Baekhyun dengan nada suara yang menarik, sehingga membuat Chanyeol penasaran dengan sosoknya.

Hari terakhir musim semi, sebelum musim panas menjemput, Chanyeol melangkahkan kakinya dengan malas menyusuri koridor gedung kampus yang padat. Mata pria itu menangkap pemandangan riuh di seluruh koridor, sepertinya akan ada acara penyambutan musim panas karena semua orang sibuk menghias ruangan.

Seperti biasa pula, Chanyeol mengabaikan itu semua.

Lalu saat sebuah suara memanggil nama Baekhyun dengan keras, itu berhasil membuat Chanyeol berhenti berjalan dan menoleh ke sumber suara. Seorang pria mengucapkan nama Baekhyun dan bersamaan dengan itu, seorang gadis mungil berlari ke arahnya untuk memberikan kaleng cat berwarna merah pekat.

Gadis itu tersenyum lebar, kemudian sedikit tertawa saat pria yang memanggilnya tadi mengatakan ada noda cat pada pipi tirusnya. Untuk beberapa saat, pandangan Chanyeol terpusat pada gadis itu, ia seolah kehilangan dunia tempatnya berpijak, rasanya waktunya berhenti saat itu juga.

Bagaimana gadis kotor ini berhasil membuat pikirannya berantakan.

Oke, Chanyeol menyebut Baekhyun kotor karena gadis itu menggunakan celemek yang penuh cipratan cat berwarna-warni, juga wajahnya yang sedikit memiliki noda cat. Tapi dimata Chanyeol saat itu, Baekhyun begitu menakjubkan. Mata gadis itu berseri-seri, wajahnya luar biasa sempurna dengan senyum seindah itu. Rambut semi-kemerahannya terikat asal dan berantakan, semakin membuat wajahnya terbingkai sempurna karena itu. Baekhyun mengerjap lucu, memajukan wajah mungil itu ke arah pria yang tadi memanggilnya, ia meminta pria itu membersihkan sisa cat di wajahnya karena tangannya sangat kotor.

Dan tingkah lucu gadis itu membuat jantung Chanyeol sedikit berdetak lebih cepat –untuk pertama kalinya sejak kisah percintaannya yang menyedihkan berakhir.

Benarkah gadis ini menyukaiku?

Chanyeol masih belum bisa percaya dengan apa yang ia dengar dari orang lain.

Masih berdiri disana untuk memandangi Baekhyun dengan pandangan bodoh, tiba-tiba saja, Chanyeol melihat tatapan gadis itu mengarah ke arahnya sebentar, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan senyuman lebar. Sementara Chanyeol berusaha membuang pandangannya sebelum dianggap terlalu bodoh karena ketahuan memperhatikan Baekhyun.

Sejak saat itu, ia berniat mencari Baekhyun untuk meminta bantuan menjalankan ide bodohnya.

Mengapa harus Baekhyun? Chanyeol sendiri tak mengerti, hatinya menyuruh melakukan itu, dan Chanyeol hanya mengikuti.

Dan saat Baekhyun dengan santai mengakui memiliki perasaan padanya, Chanyeol bersumpah, tekadnya bulat, ia harus mendapatkan Baekhyun.

Tentang janjinya untuk tidak memulai hubungan serius? Ah, Chanyeol sudah lupa hal itu sejak Baekhyun datang dalam hidupnya.

Aneh mengatakan ini, karena baginya juga terlalu cepat, tapi entah mengapa ada gairah yang meluap-luap saat Chanyeol melihat lekuk tubuh Baekhyun. Chanyeol pernah menjadi pria brengsek, dan mungkin akan kembali seperti itu. Jadi ia tak menolak dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk meniduri gadis itu –bersyukur karena Baekhyun juga tidak menolaknya.

Yah, awalnya, Chanyeol hanya merasa itu ketertarikan seorang pria normal pada lekuk tubuh menakjubkan Baekhyun, tapi ia salah, jauh di dalam hatinya, entah mengapa, Chanyeol ingin melindungi gadis itu.

Terlalu awal untuk mengatakan Baekhyun miliknya, tapi Chanyeol bersumpah, Baekhyun akan menjadi miliknya. Ia hanya perlu meyakinkan Baekhyun tentang perasaannya –dan juga meyakinkan dirinya sendiri tentang perasaannya terhadap Baekhyun.

Apakah itu hanya gairah sesaat atau memang ia jatuh cinta pada Baekhyun.

Chanyeol terlalu malas untuk peduli.

Bibirnya tersenyum lagi saat mengingat kejadian itu, ia semakin mengeratkan pelukannya saat Baekhyun sedikit menggumam dalam tidurnya. Senang karena namanya sedikit Baekhyun sebut meskipun tidak terdengar jelas.

Yah, memang benar, jantungnya berdetak dengan cepat. Chanyeol sudah jatuh cinta pada gadis itu.

Tanpa alasan yang jelas.

Tapi memulai hubungan serius?

Ah, masih terlalu jauh.

.

.

Pagi menjemput, Baekhyun menggeliat beberapa kali dalam pelukan Chanyeol. Kekehan ringan pria itu terdengar lembut mengalun di telinga Baekhyun. Dengan malas, ia mengerjap, kemudian meregangkan sedikit otot-ototnya. "Hey, tukang tidur, apa kau akan tidur seharian?" ucapnya lembut, perlahan mengecup kedua mata Baekhyun yang kembali terpejam.

Baekhyun menguap sekali, masih dengan mata terpejam. "Aku tidak ada kuliah hari ini," suaranya terdengar parau.

"Apa rencanamu?" balas Chanyeol, ia menyangga tubuhnya dengan siku agar bisa melihat wajah Baekhyun yang lucu lebih jelas.

Baekhyun membuka mata perlahan, ia mendesah malas, sedikit menjauhkan wajah Chanyeol yang terlalu dekat dengan wajahnya. "Mungkin aku akan pulang, malam tadi ayahku menelepon," jawab Baekhyun.

Chanyeol menggumam sedikit. "Kuantar bagaimana?" tanyanya. Baekhyun mengernyit bingung. "Aku tidak ada kuliah hari ini dan beberapa hari ke depan,"

Baekhyun menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa naik kereta. Itu lebih hemat waktu,"

"Kutemani naik kereta kalau begitu," debat Chanyeol, Baekhyun mengerang sedikit, kemudian kembali menyusupkan wajahnya dalam pelukan Chanyeol, mulai memejamkan mata lagi. "Baekhyun, kenapa kau malas sekali sih," Chanyeol sedikit mengguncang tubuh Baekhyun dalam pelukannya itu.

Baekhyun mendengus malas. "Kau boleh ikut," ucap Baekhyun setengah menggumam dalam pelukan Chanyeol. "Tapi ingat, berpura-puralah menjadi kekasihku," tambah Baekhyun.

Chanyeol tertawa ringan, mengecup puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Mengapa aku harus berpura-pura jika itu bisa terjadi sungguhan," ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Baekhyun saat gadis itu mulai protes, Chanyeol mengusap-usapkan tangannya pada punggung Baekhyun, membiarkan kembali tidur.

Gadis pemalas ini benar-benar membuatnya nyaman.

.

.

"Hey putri tidur, sudah benar-bangun sekarang?" tanya Chanyeol dari dapur saat melihat Baekhyun turun dari tangga. Baekhyun mengangguk lucu, berjalan dengan langkah ringan menuju Chanyeol yang sedang melakukan sesuatu dengan penggorengan.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya lembut, Chanyeol melirik gadis itu sekilas. Baekhyun hanya menggunakan kaos panjang milik Chanyeol tanpa celana, anak rambut gadis itu masih sedikit basah, mungkin baru saja selesai mandi.

"Kau lapar?" balas Chanyeol, memutar tubuhnya untuk menatap Baekhyun dan meletakkan omelet ke atas piring. Baekhyun menepukkan tangan beberapa kali dengan cengiran lebar, menerima uluran makanan dari Chanyeol dan mendudukkan diri di atas meja makan. "Kau hanya akan bangun ketika lapar," ucap Chanyeol, tersenyum sedikit saat gadis itu mulai mengunyah.

"Wah, ini enak," kata Baekhyun dengan mulut penuh. "Kau tak punya ramen?" tanya Baekhyun lagi, masih sibuk mengunyah.

Chanyeol tertawa renyah, memandangi gadis lucu itu. "Memangnya siapa yang makan ramen untuk sarapan?" sahut Chanyeol, Baekhyun hanya menjawab dengan gumaman kesal. "Apa kau tak bisa duduk di kursi?" tanyanya.

Baekhyun menggeleng lucu. "Kursimu terlalu pendek dan mejanya terlalu tinggi. Itu tidak nyaman," ia sedikit merengek dengan bibir mengerucut sebal, membuat Chanyeol lagi-lagi tersenyum melihat tingkah gadis itu.

Dengan sabar, Chanyeol menunggu Baekhyun menyelesaikan sarapannya, sementara ia membersihkan dapur. "Kau mau susu?" tawar Chanyeol, sedikit melirik Baekhyun yang sudah hampir menghabiskan makanannya.

Baekhyun menggeleng. "Kau tak punya soda?"

Tawa Chanyeol kembali terdengar, ia mengambil susu dari dari dalam lemari es dan menuangkan itu untuk Baekhyun. "Kau harus hidup sehat dengan pola makan yang benar, Baekhyun," Chanyeol mengingatkan, ia memberikan gelas berisi susu cokelat pada Baekhyun, sedikit mengerucut sebal, bibir gadis itu mulai meminum susunya dalam satu kali teguk.

Chanyeol hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu.

"Chanyeol," panggil Baekhyun. Chanyeol hanya menjawab dengan gumaman karena ia masih sibuk mencuci piring yang tadi Baekhyun gunakan untuk makan. "Kau sudah makan?" tanyanya.

Chanyeol sedikit tersenyum tanpa sadar saat Baekhyun menanyakan hal itu. "Sudah, memangnya kenapa?" Chanyeol memutar tubuhnya untuk menatap gadis itu. Baekhyun hanya mengangkat bahu acuh. Chanyeol tertawa tipis, berjalan ke arah Baekhyun saat ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. "Mulai khawatir padaku?" tanyanya dengan seringaian ringan.

Chanyeol berdiri di hadapan Baekhyun yang sedang duduk di atas meja dengan kaki bergerak-gerak lucu. Ia mengerjap beberapa kali saat mata Chanyeol menatapnya dengan lekat, kedua tangan pria itu berada di samping tubuhnya, tidak membiarkan Baekhyun bergerak banyak.

Ragu-ragu, Baekhyun menggeleng. "Hanya ingin bertanya," cicitnya.

Senyum Chanyeol mengembang di wajahnya yang tampan, ia memajukan bibirnya unuk menyentuh bibir Baekhyun, kemudian bergerak lembut di permukaan bibir ranum gadis itu. Baekhyun sedikit terkesiap saat Chanyeol menciumnya, tapi kemudian, tangannya terangkat, menyusup ke dalam rambut Chanyeol –sedikit menariknya saat ciuman Chanyeol mendadak saja terasa menuntut.

Baekhyun terengah, mendorong kepala Chanyeol agar melepaskan ciuman mereka, kemudian pria itu terkekeh ringan di depan mulut Baekhyun yang terbuka untuk mengatur napas. "Mengapa kau tidak memakai celana?" tanya Chanyeol, perlahan menurunkan ciumannya ke leher Baekhyun yang polos.

Hisapan Chanyeol membuat desahan ringan terdengar dari bibir Baekhyun. "Aku tak sempat mengambil celana," balasnya, kembali mendesahkan nama Chanyeol saat pria itu menyesap perpotongan lehernya kuat-kuat.

"Kau mau menggodaku atau bagaimana?" bisik Chanyeol di belakang telinga Baekhyun, berhasil membuat bulu kuduknya meremang.

Baekhyun menggeleng. "Aku tak pernah menggodamu, maniak," ucapnya penuh penekanan.

Chanyeol terkekeh ringan, terdengar seperti ejekan di telinga Baekhyun, pria itu menarik kaos Baekhyun hingga tubuh polosnya kembali tampak di depan mata. "Aku memang selalu menginginkanmu, Baekhyun," bibir Chanyeol mulai bergerak turun menelusuri dada Baekhyun. "Aku menjadi maniak saat di dekatmu," tambahnya. "Bagaimana ini?" gurau Chanyeol.

"Ya Tuhan," pekik Baekhyun saat pria itu mulai menyesap puncak dadanya dengan penuh. Tubuh Baekhyun menggeliat, bibirnya sedikit mengerang. "Kau yakin dengan ini?" tanya Baekhyun dengan satu leguhan ringan, Chanyeol tidak menjawab karena bibirnya sibuk bekerja pada tubuh gadis itu. "Kau selalu meniduriku," protesnya.

"Dan kau tak pernah menolak itu," kekehan Chanyeol membuat Baekhyun mendengus sebal. "Bagaimana dengan," Chanyeol menggantungkan kalimatnya saat ia meloloskan celana dalam Baekhyun melewati kakinya. "Morning seks?"

Baekhyun mengejek dengan tawa renyah. "Ini sudah siang,"

"Siapa peduli," ucap Chanyeol.

Chanyeol merangkak di atas tubuh Baekhyun yang perlahan ia dorong terlentang di atas meja makan, ia mencengkeram pinggul Baekhyun untuk menahan tubuh telanjang gadis itu tetap disana. Kesabaran Chanyeol lenyap, ia merusaha melepaskan celana pendeknya sendiri dengan satu gerakan cepat sementara matanya masih menatap wajah Baekhyun yang tersenyum.

Dengan jemari, Chanyeol mengelus pusat tubuh Baekhyun, berhasil membuat gadis itu terkesiap dan mengerang. Rasanya panas dan lembab di jari chanyeol, sementara bibirnya kembali mencicipi bibir Baekhyun yang mengundang. Baekhyun melengkukan tubuh dan mengerang, suaranya membuat Chanyeol mengejang sempurna.

Bertumpu pada kedua tangan di antara tubuh Baekhyun, ia membuka kaki Baekhyun semakin lebar sampai area sensitifnya dapat Chanyeol lihat dengan jelas. Chanyeol menelan ludah kasar, kemudian membungkuk agar bisa menikmati rasa gadisnya yang manis.

"Chanyeol," bisiknya saat mulut Chanyeol sudah bergerak di dalam tubuhnya.

Baekhyun lupa cara bernapas dengan, ia terengah-engah dengan tubuh mengejang dan melengkung sempurna di bawah kendali Chanyeol pada bagian selatan tubuhnya yang panas dan basah. Chanyeol selalu punya cara menarik untuk membuat Baekhyun menggila, selalu hampir berhasil membuat Baekhyun memohon untuk memulai dengan benar.

Bajingan ini selalu membuatnya menunggu dengan mengulur-ulur waktu.

Baekhyun melengkungkan tubuh saat pelepasan dahsyatnya selesai daam mulut Chanyeol. Bibirnya mendesahkan nama Chanyeol, pinggulnya terangkat sedikit, dan tanpa ia sadari cengkeraman tangannya pada rambut Chanyeol semakin kuat.

Rasa Baekhyun di lidah Chanyeol benar-benar manis dan licin seperti madu.

Suara kekehan Chanyeol terdengar lagi, sementara Baekhyun masih berusaha mengatur napas dengan dada naik turun. Chanyeol mengangkat wajahnya dan mengusap sudut bibirnya yang basah. "Yah, nikmati hidangan penutupmu," bisik Baekhyun dengan napas tersengal.

Sebelum Baekhyun tenang, Chanyeol mulai membuka kedua kakinya, kemudian mendorong hingga pusat tubuh mereka menyatu untuk menggantikan bibir Chanyeol di bawah sana. Baekhyun terkesiap, umpatan tipis ia lontarkan pada pria yang sedang berusaha mendorongnya itu.

Chanyeol mendorong masuk, berusaha tidak menyakiti –yah, meskipun itu akan sulit. Sedangkan Baekhyun menerimanya dengan mudah, lalu Chanyeol meluncur melewati lapisan tubuh Baekhyun yang lembut, menyalurkan hawa panas yang yang perlahan Baekhyun rasakan juga.

Hangat, lembut, nyaris seperti mencicip rasa surga.

Kaki Baehyun terangkat untuk memeluk pinggang Chanyeol, secara tidak langsung mendorongnya semakin dalam. Tangan Baekhyun mencengkeram punggung Chanyeol yang polos, sedangkan bibir Chanyeol mengangkup bibirnya, perlahan turun untuk menyesapi leher dan dada yang mulai sedikit basah karena keringat.

Baekhyun membuka mulutnya untuk mengatur napas dan menikmati ini semua.

Panas, liar, dan sangat manis. Chanyeol memegang kendali penuh atas dirinya dan itu sama sekali bukan masalah. Menyerah di dalam kendali Chanyeol adalah hal terindah yang pernah Baekhyun rasakan, apalagi Chanyeol selalu memberinya kenikmatan luar biasa.

Mengabaikan tentang perasaan masing-masing, sekarang, menyelesaikan ini jauh lebih penting.

Chanyeol sedikit menarik diri dari Baekhyun agar ia bisa mendorong lebih nyaman dan lebih dalam. Gerakan Chanyeol tanpa sadar membuat Baekhyun mengangkat pinggulnya, mengijinkan Chanyeol meluncur di dalamnya semakin erat.

Sambil menggeram, kemudian mendorong lagi dengan cepat dan kuat, Chanyeol terkekeh memandangi gadis yang luar biasa menakjubkan itu. Sedangkan Baekhyun mengulurkan tangan untuk memeluk Chanyeol, dengan seluruh tubuh menempel padanya, Chanyeol berusaha menyelesaikan tugas itu.

"Chanyeol," desah Baekhyun lagi, terdengar memohon.

Chanyeol tak pernah lelah mendengar namanya keluar dari bibir Baekhyun.

Ia kembali memasukinya, semuanya sangat panas dan membakar. Baekhyun berada disini, dalam pelukannya, dan itu cukup bagi Chanyeol. Ia bergerak semakin cepat. Semakin keras. Berusaha memberikan apa yang Baekhyun mau. Jarinya mencengkeram pinggul Baekhyun sementara gadis itu memeluknya erat, kemudian tubuh Baekhyun bergetar, bersamaan dengan cairan panas yang membasai tubuh Chanyeol di bawah sana.

Begitu kencang, menyelimutinya dengan panas. Lalu perlahan, Chanyeol menyusul gadis itu.

Baekhyun nyaris kehilangan kesadaran, tubuh gadis itu melemas dalam pelukan Chanyeol, napasnya pendek-pendek nyaris habis. Itu tadi benar-benar luar biasa menakjubkan. Ledakan gairahnya benar-benar manis.

Chanyeol terkekeh ringan, menarik Baekhyun dari pelukannya tanpa melepaskan pegangannya pada gadis itu. Chanyeol berhasil membuat Baekhyun berantakan dengan bibir merah, napas tersengal, dan juga beberapa bercak merah pada leher bawah gadis itu.

"Brengsek, kau melakukannya lagi," ucap Baekhyun, mengerucutkan bibir sebal.

Chanyeol tidak menjawab, pria itu hanya mencium Baekhyun dengan lembut. Sebelum mengangkatnya dalam gendongan dan membawa tubuh mungil penuh peluh itu ke dalam kamar mandi.

.

.

Hari sudah malam saat Chanyeol dan Baekhyun sampai di depan rumah orang tua Baekhyun di luar kota. Yah, setelah siang panas mereka, Baekhyun memutuskan untuk pulang dan mengajak Chanyeol sekalian dengan dirinya.

"Oh, Baekhyun, kau sudah datang," sapa ayahnya di depan pintu masuk, Baekhyun tersenyum, berlarian kecil untuk menghambur dalam pelukan pria paruh baya itu. "Aku merindukanmu," sambung ayahnya, mengusap-usap punggung anak gadisnya.

Chanyeol hanya tersenyum canggung melihat pemandangan itu.

"Ah, ini," Baekhyun melepaskan pelukannya. "Namanya Park Chanyeol, ya, dia pacarku," ucap Baekhyun sambil tersenyum malu.

Ayah Baekhyun memasang ekspresi lucu, kemudian menyalami Chanyeol. Sedangkan pria itu membungkukkan badannya sopan. "Kau tampan sekali," ucap Ayahnya, mengusap lengan Chanyeol sedikit.

"Dad, hentikan," Baekhyun mengingatkan dengan kesal, menepuk punggung ayahnya sekilas.

Ayahnya hanya mengangguk beberapa kali. "Masuklah, di luar dingin. Kalian menginap, kan?" Baekhyun hanya mengangguk sekali. "Ibu dan kakakmu sedang pergi ke luar kota, sayang sekali mereka tidak bisa melihat Chanyeol,"

Chanyeol hanya tertawa ringan, sedangkan Baekhyun mengingatkan pria itu untuk tetap diam. "Yah, itu lebih bagus," sahut Baekhyun acuh.

"Jadi, kau satu angkatan dengan Baekhyun?" tanya ayah Baekhyun saat mereka sudah duduk di ruang tamu sambil mengobrol dan memakan beberapa kue khas rumah. Chanyeol hanya mengangguk sopan. "Sudah lama kau berkencan dengan Baekhyun?"

"Sopan sekali, Dad," sindir Baekhyun dengan mulut penuh makanan.

Gadis itu duduk di samping Chanyeol dengan kedua kaki terangkat tidak sopan, sedangkan ayahnya duduk di depannya. "Empat bulan," ucap Chanyeol, berbohong.

Itu yang Baekhyun katakan padanya.

"Kau sudah menidurinya?" dan Chanyeol tersedak.

"Dad, hentikan," rengek Baekhyun.

Chanyeol masih berusaha mengendalikan batuk-batuknya, sedangkan ayah Baekhyun tertawa renyah. "Kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"

Baekhyun merengut kesal. "Itu tidak sopan, Dad,"

"Ya, aku sudah menidurinya. Aku minta maaf untuk itu," dan Baekhyun melotot ke arah pria itu.

"Chanyeol," ia mengingatkan dengan suara melengking.

"Lihat?" sahut ayah Baekhyun. "Dia pria jantan," ayahnya berhenti sebentar untuk tertawa, sedangkan Baekhyun mendengus kesal mendengar ucapan pria itu. Bagaimana Chanyeol bisa mengatakan itu. "Kau akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi?" sambung ayahnya.

Senyum lebar Chanyeol semakin membuat Baekhyun bingung dengan jalan pikiran pria itu. "Tentu saja. Aku akan bertanggung jawab," dan Baekhyun mengerang kesal.

Ayah Baekhyun menepukkan tangan sekali. "Bagus sekali," ucapnya.

Baekhyun menatap Chanyeol minta penjelasan, tapi pria itu tidak menjawab. Ia masih sibuk membicarakan tentang pertanding baseball di televisi dengan ayah Baekhyun.

Apa yang sedang pria brengsek ini rencanakan?

.

.

"Hey, Park Chan," ucap Baekhyun setengan berbisik –berusaha tidak membangunkan ayahnya. Kaki Baekhyun sedikit menendang Chanyeol yang tertidur di sofa. Pria itu menggeliat malas, kemudian membuka mata.

"Ada apa?" balasnya dengan suara nyaris habis.

"Kau sudah gila ya?" Baekhyun masih berbisik, tapi suaranya penuh penekanan.

Chanyeol bangkit dari tidurnya, masih dengan mata setengah terpejam. "Apanya?" balasnya acuh, sedikit menguap.

"Apa yang kau katakan pada ayahku? Mengapa kau mengatakan sudah meniduriku?" ucapnya kesal.

Chanyeol mengangkat bahu acuh. "Aku hanya mencoba jujur padanya, bukankah itu berarti aku pria baik,"

"Pria baik pantat kuda," rengek Baekhyun. "Bagaimana jika ayahku menyuruhmu menikahiku. Kau sudah gila, Park Chanyeol," Baekhyun nyaris mengerang, tapi ia menahannya.

Kekehan Chanyeol terdengar menyebalkan bagi Baekhyun. "Kenapa? Bukankah itu ide bagus, aku akan dengan senang hati melakukannya,"

"Kau gila," ucap Baekhyun sebal, setengah menghentakkan kaki, percuma, bicara dengan Chanyeol hanya buang-buang waktu.

Baekhyun melangkahkan kaki perlahan menjauhi Chanyeol. "Mau kemana kau?" tanya Chanyeol.

"Ke kamar, tidur, memangnya apalagi," dengus Baekhyun sebal, itu sama sekali bukan pertanyaan penting yang membutuhkan jawaban.

Chanyeol mengejek gadis itu dengan dengusan ringan. "Tumben, biasanya kau selalu tidur disini," Chanyeol menunjuk dadanya. Kemudian ia tertawa ringan saat Baekhyun memutar bola mata sebal.

"Gila," umpatnya pelan, sebelum berjalan menuju kamarnya sendiri.

Dalam hati masih berdoa semoga ayahnya tidak melakukan hal aneh-aneh pada Chanyeol.

Termasuk harus menikahkan mereka, itu bukan pilihan yang bagus bagi Baekhyun.

.

.

TBC

.

Hallo~ Author kembali dengan kelanjutan kisah ini. Ini diketik dalam satu tarikan napas tanpa edit /lebay/ gitu deh semoga tidak mengecewakan. Ini kan konfliknya sederhana ya, jadi emang dibikin simple-simple aja manis-manis asem gitu. Kemungkinan tidak akan panjang untuk chapter depan.

Rekor nih, Author update 4 FF ChanBaek secara bersamaan (Secret Agent Couple, Love Your Body, Cutthroat, Crazy Over You) /btw, ini nulis 4 chapter cuma sehari, semoga ceritanya nggak ngaco/ Oh ya, untuk readers yang berminat membaca kelanjutan FF Cutthroat pairing ChanBaek, yang sebelumnya oneshoot, silahkan dibaca dan direview, itu udah dilanjut. Silahkan juga dibaca dan direview FF yang lain /kali aja ada readers yang nungguin cerita yang lain, yekan?/

Balik kesini, gimana? Ada komentar? Kritik? Saran? Silahkan sampaikan di kolom review ya~ Author tunggu.

Semoga aja masih ada readers yang menunggu kelanjutan cerita ini karena semakin hari FFN semakin sepi /kan sedih/ semoga juga ini cerita tidak mengecewakan semakin kesini.

Sekian dulu, lebih kurangnya mohon maaf, terima kasih sudah membaca dan jangan lupa review ya~

With love,

lolipopsehun