Sore ini Baekhyun berusaha menikmati waktu liburannya dengan bermalas-malasan. Siang tadi, ia berhasil membujuk Chanyeol agar memindahkan sofa ke balkon apartemennya dan bisa menikmati senja dengan nyaman. Mungkin Chanyeol lelah mendengar semua rengekan Baekhyun, jadi pria itu menurutinya, memangnya apa kehendak Baekhyun yang tidak Chanyeol turuti.

Gadis itu selalu berhasil membuat Chanyeol melakukan seluruh keinginannya.

Baekhyun duduk mengangkat kaki di balkon Chanyeol, ia membawa beberapa kaleng soda dan juga camilan untuk menikmati pertunjukan favoritnya –senja yang perlahan menghitam di ufuk barat. Tanpa sadar kembali teringat beberapa hari yang lalu saat Chanyeol menyetubuhinya dengan gila di balkon ini. Tanpa peduli jika mungkin ada orang disekitar mereka yang memperhatikan.

Tanpa sadar, senyumnya mengembang lagi.

Kegiatan yang bodoh dengan orang yang bodoh pula.

Baekhyun tak tau kenapa, tapi pria gila itu selalu bisa membuat desiran aneh muncul dan terus menghentak di dalam dadanya, jauh memacu detak jantungnya. Meskipun Chanyeol terkesan tak pernah serius karena isi otaknya hanya berputar disekitar pangkal paha, tapi pria itu selalu berhasil membuat Baekhyun merasa gugup tanpa alasan yang jelas.

Merasa seolah-olah ia memiliki perasaan yang lebih pada Chanyeol.

Baekhyun memang mengakui bahwa ia mengagumi Chanyeol, tapi itu tak lebih dari sekedar mengagumi bentuk tubuhnya yang menakjubkan atau mengakui juga bahwa Chanyeol selalu menidurinya dengan jantan dan menyenangkan.

Baekhyun tau itu hanya sekedar rasa kagum.

Pada awalnya.

Tapi sekarang, entah mengapa desiran aneh itu muncul bahkan saat hanya menatap Chanyeol. Ia tak terlalu bodoh untuk menyadari mungkin sudah terjebak dalam pesona Chanyeol yang menyesatkan. Baekhyun tak tau berapa lama ia harus menyangkal perasaannya ini, tapi juga tak bisa menyatakan perasaannya pada Chanyeol secara gamblang.

Bagaimanapun, Chanyeol tak pernah serius selama ini.

Baekhyun tak ingin menjadi terlalu bodoh karena mencintai pria itu dan mungkin kemudian merasa sakit hati karena Chanyeol hanya bermain-main dengannya.

"Baekhyun," suara Chanyeol yang terdengar dengan keras membuat Baekhyun sedikit terkejut dan membuyarkan lamunan singkatnya.

"Disini," Baekhyun nyaris berteriak, ia melambaikan tangannya ke belakang beberapa kali agar Chanyeol melihatnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol, tanpa ijin mengambil kaleng soda dari tangan Baekhyun dan duduk di sebelahnya. Baekhyun sedikit mendengus kesal, kemudian menunjuk langit dihadapanya dengan dagu. "Aku tak habis pikir denganmu, kenapa kau suka sekali senja?" tanya Chanyeol.

Baekhyun mengangkat bahu. "Entahlah, senja luar biasa indah. Apa kau tidak berpikir begitu?" tanya Baekhyun, mengambil kaleng soda lainnya.

Chanyeol menggeleng kuat-kuat. "Tubuh telanjangmu jauh lebih indah," dan Baekhyun tersedak, nyaris menyemburkan soda dari mulutnya.

"Sial, Chanyeol," ucapnya susah payah, masih berusaha meredam batuk-batuknya sendiri. Chanyeol tertawa keras-keras, sebelah tangannya terulur untuk mengusap dagu Baekhyun yang basah. "Bisa tidak otakmu itu berpikir sedikit lebih bersih?" protes Baekhyun dengan bibir mengerucut sebal, berusaha mengusap lehernya yang basah karena soda.

"Serius, Byun. Tubuhmu itu benar-benar menakjubkan,"

"Syukurlah kau menyadari itu," balas Baekhyun acuh, memilih untuk mengabaikan Chanyeol yang sedang tertawa di sampingnya dan kembali menatap langit yang berwarna jingga jauh disana.

"Baekhyun," panggil Chanyeol, gadis itu hanya menjawab dengan gumaman ringan tanpa memutuskan pandangan dari langit. "Serius, harusnya kita berhenti berpura-pura dan berkencan sungguhan,"

Baekhyun terkekeh ringan, sedikit terdengar mencibir. "Sudah kubilang, aku tidak menyukaimu yang seperti itu,"

Oke, sebenarnya aku bingung dengan perasaanku sendiri.

"Bagaimana kau yakin dengan itu? Bukannya beberapa hari yang lalu kau bilang jantungmu berdetak lebih cepat saat bersamaku?" tanya Chanyeol.

Baekhyun berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat kapan ia mengatakan hal itu. "Ah, itu," akhirnya berhasil mengingat malam dimana ia meminta Chanyeol untuk tidak memperlakukannya dengan lembut karena tidak nyaman dengan getaran aneh yang selalu menguasai dirinya.

Baekhyun hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri tentang perasaan terhadap Chanyeol.

"Aku benar, kan? Jujur saja, kau pasti sudah jatuh cinta padaku," ucap Chanyeol dengan cengiran lebar.

"Well, tidak juga, kurasa," Baekhyun mencoba cuek meskipun sebenarnya ia gugup karena pertanyaan itu. "Kau tau kan, biasanya seorang gadis akan gugup saat diperlakukan dengan lembut. Tidak hanya padamu, aku juga gugup kok saat Sehun memperlakukanku dengan manis," oke, itu seratus persen bohong, selama ini Baekhyun hanya menganggap Sehun seperti patung pahatan hidup.

Lagipula siapa yang bisa tertarik dengan pria pucat menyebalkan seperti Sehun.

"Pembohong," debat Chanyeol. "Coba katakan padaku, bagaimana Sehun bisa membuatmu gugup?" desaknya.

Baekhyun sedikit memundurkan tubuhnya saat wajah Chanyeol mendekat dan mata pria itu memandanginya lekat-lekat. "Well," sial, Baekhyun tak bisa menutupi kegugupannya karena Chanyeol menatapnya dengan senyuman manis. "Sepertinya aku tak perlu mengatakan itu padamu," cicit Baekhyun, jemarinya berusaha mendorong dada Chanyeol agar menjauh, sedangkan ia membuang muka.

Chanyeol terkikik geli. "Jujur saja, Baekhyun," dengan tubuhnya, Chanyeol sedikit mendorong bahu Baekhyun hingga nyaris berbaring di atas sofa, masih dengan tatapan dan senyuman lembut, ia mulai merangkak di atas tubuh mungil gadis itu. "Kau benar-benar sudah jatuh cinta padaku, kan?" tanyanya dengan kepala miring.

Oke, bagaimana kau bisa tau itu? Seratus persen benar.

"Chanyeol," rengek Baekhyun, berusaha menahan tubuh Chanyeol yang semakin menghimpitnya. "Berhentilah menggodaku,"

Chanyeol sedikit mengerucutkan bibir untuk mengejek Baekhyun. "Kita buktikan saja," bisiknya. Tangan Chanyeol perlahan menyentuh garis di antara dada Baekhyun.

Mata Baekhyun membulat sempurna saat Chanyeol menyenutuh bagian tengah dadanya. "Apa yang kau lakukan?" pekik Baekhyun, dengan cepat menepis tangan Chanyeol dari sana.

Senyum Chanyeol mengembang lebar, ia menyatukan kedua tangan Baekhyun dengan tangannya, kemudian menguncinya di atas kepala, membuat Baekhyun tak bisa bergerak. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu," Chanyeol kembali menyentuh bagian tengah dadanya.

"Kau benar-benar," Baekhyun sedikit meronta agar Chanyeol mau melepaskan tangannya, tapi pria itu sama sekali tak memberikan ruang bagi Baekhyun untuk bergerak. "Chanyeol," rengeknya lagi.

"Sebentar saja. Aku hanya ingin memastikan sesuatu," ulang Chanyeol, sedangkan Baekhyun berusaha mengatur napas, dalam hati siap melontarkan ribuan umpatan untuk pria itu. "Sekarang, coba tenang dan atur napasmu," perintah Chanyeol dengan suara lembut.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" protes Baekhyun dengan dengusan keras. Kemudian bibir mungilnya mengerang kasar saat jemari Chanyeol meremas dadanya sedikit. "Brengsek," umpatan pertama untuk Chanyeol hari ini.

Ah, lega karena sudah mengatakannya.

"Ikuti saja," desak Chanyeol. Baekhyun berusaha meredam amarahnya dan mengikuti perintah Chanyeol untuk mengatur napas, menenangkan diri. Sementara tangan Chanyeol kembali menyentuh tengah dadanya. "Oke, sekarang coba lihat aku," bisik Chanyeol dengan suara sehalus beledu.

Seolah terhipnotis oleh suara Chanyeol, Baekhyun menurut. Ia menatap mata kecoklatan Chanyeol yang luar biasa menakjubkan. Tanpa sadar ia menelan ludah kasar karena Chanyeol juga memandanginya lekat-lekat, kemudian bibir pria itu melengkungkan senyum yang indah.

Sadar seharusnya ia tak tenggelam dalam tatapan mata Chanyeol, Baekhyun menegerjap beberapa kali. "Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?" tanyanya, dalam hati berusaha mengendalikan detak jantungnya yang mulai berdetak lebih cepat.

Chanyeol tak boleh mendengar detak jantungku.

Masih tersenyum, Chanyeol mendekatkan wajahnya. "Kau begitu cantik, Byun Baekhyun," bisiknya lembut, jemarinya masih tetap berada di atas dada Baekhyun. "Aku benar-benar tergila-gila karenamu,"

Tidak Baekhyun, kendalikan jantungmu. Jangan percaya bualan Chanyeol.

Tapi jantungnya benar-benar tak mau mendengarkan Baekhyun sama sekali. Jantungnya semakin menggila karena ucapan Chanyeol, terlebih karena tatapan pria itu terlihat sangat menakjubkan. Dan Baekhyun tak memiliki cukup kuasa untuk membuat kegugupannya hilang.

Perlahan, Chanyeol mendekatkan wajahnya. "Kurasa aku jatuh cinta padamu," bisik Chanyeol tepat di depan bibir Baekhyun.

Baekhyun sedikit tercekat mendengar itu, terlebih saat bibir Chanyeol menyentuh bibirnya dengan lembut. Bibir Chanyeol yang hangat bergerak perlahan menelusuri bibirnya, mengecupnya dengan kehati-hatian yang jelas. Chanyeol menciumnya dengan lembut untuk pertama kali, tanpa nafsu, tanpa gairah, seolah-olah pria itu ingin menyalurkan sebuah perasaan aneh yang semakin membuat jantung Baekhyun menggila.

Seolah-olah Chanyeol menciumnya penuh perasaan.

Dan Baekhyun tak menghiraukan detak jantungnya yang semakin menggila karena ciuman itu.

Persetan Chanyeol akan mendengarnya, Baekhyun tak bisa menyembunyikannya lagi.

Baekhyun terlalu larut dalam ciuman Chanyeol yang memabukkan, tanpa sadar, tangannya sudah memeluk leher Chanyeol. Bibirnya ikut bergerak mengimbangi gerakan Chanyeol yang lembut, ia sedikit mengangkat kepalanya dan juga menarik kepala Chanyeol lebih dekat agar bisa menikmati bibir pria itu lebih dalam.

Ini terlalu manis untuk ditolak.

Desahan lembut mengalun dari bibir Baekhyun, gadis itu kehabisan napas. Dan Chanyeol melepaskan ciuman mereka, membiarkan Baekhyun sedikit terengah mencari udara. Chanyeol sedikit tersenyum, tangannya yang berada di dada Baekhyun perlahan bergerak naik untuk membelai wajah gadis itu.

"Chanyeol," bisik Baekhyun, tanpa sadar suaranya terdengar seperti desahan.

"Sekali lagi kau bersuara seperti itu, aku tak akan melepaskanmu," ancam Chanyeol. Baekhyun hanya menelan ludah kasar, sadar telah melakukan kesalahan karena bersuara, ia mendekap mulutnya sendiri. "Jangan membohongiku lagi, Baekhyun. Kau tak bisa selamanya menyembunyikan detak jantungmu itu,"

Sial.

Baekhyun tau bahwa ia benar-benar ketahuan sekarang, dan mungkin memang tak bisa mengelak lagi. "Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Baekhyun, entah mengapa ia menanyakan itu karena sebenarnya Baekhyun terlalu bingung untuk bisa memikirkan hal lain yang lebih masuk akal.

Kening Chanyeol sedikit berkerut, sama bingungnya dengan pertanyaan Baekhyun. "Apa maksudmu?" balasnya.

Baekhyun sedikit menghembuskan napas, mencoba mencari keberanian untuk berbicara. "Kau sudah mengerti sekarang bagaimana perasaanku," ucap Baekhyun, mendadak saja menatap mata Chanyeol dengan tajam. "Apa yang harus kulakukan mulai sekarang?"

"Aku tak mengerti apa maksudmu," ulang Chanyeol, benar-benar tak bisa menutupi kebingungan.

Dengusan ringan keluar dari bibir Baekhyun, jemarinya perlahan mendorong dada Chanyeol dari atas tubuhnya. Pria itu duduk dihadapan Baekhyun, masih menatapnya dengan bingung. Sementara Baekhyun menghembuskan napas berkali-kali, mendadak saja wajahnya diliputi keseriusan.

Atau kegugupan, Baekhyun juga tak terlalu bisa membedakan itu.

"Chanyeol, aku tak bisa mengendalikan perasaanku sendiri, dan ya, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padamu," ucap Baekhyun tanpa memandang Chanyeol, mata gadis itu tertuju pada senja jauh di ufuk barat.

"Well, bukankah itu bagus?" balas Chanyeol dengan kekehan ringan, tapi Baekhyun sama sekali tak menanggapi gurauan pria itu.

Napas berat kembali keluar dari bibir Baekhyun. "Kumohon padamu, Chanyeol. Aku benar-benar tak ingin merasakan sakit hati karena aku sudah pernah mengalami itu sebelumnya," suara Baekhyun terdengar menggantung, ada keragu-raguan dalam suara gadis itu.

"Tunggu dulu," sergah Chanyeol, berusaha memahami situasi ini.

Baekhyun menoleh untuk menatap Chanyeol yang tampak bingung, jemarinya terangkat untuk menyentuh pipi Chanyeol, bibirnya sedikit tersenyum. "Aku tak bisa memaksamu menyukaiku. Mungkin suatu saat nanti setelah perjanjian ini berakhir, kau akan pergi dengan orang yang kau cintai. Jadi, kalau bisa, jangan buat aku semakin jatuh cinta padamu," ucapnya, ia menepukkan tangannya pada pipi Chanyeol beberapa kali.

Dengan gerakan pela, Chanyeol menyentuh tangan Baekhyun yang masih berada dipipinya. Ia menarik tangan Baekhyun dan mengecupnya beberapa kali dengan lembut. "Kau pikir selama ini aku main-main?"

Baekhyun mengangkat bahu acuh, perlahan kepalanya menganggku menjawab pertanyaan itu. "Kupikir begitu," ucap Baekhyun, membiarkan Chanyeol mengecupi jemarinya lagi.

"Aku tidak pernah bercanda saat mengatakan menyukaimu Baekhyun," Chanyeol berhenti sebentar untuk merapikan anak rambut Baekhyun agar bisa memandangi wajah cantiknya dengan bebas. "Kurasa aku benar-benar jatuh cinta padamu,"

Apa kau bilang?

Baekhyun merasakan detak jantungnya yang mulai berdetak lebih cepat saat ia melihat keseriusan dalam tatapan mata Chanyeol. Baekhyun berusaha menemukan keraguan dan kebohongan dalam mata gelap pria itu, tapi tak menemukan apapun. Ia menunggu tawa Chanyeol atau ejekan-ejekan lain yang biasa Chanyeol lontarkan padanya, tapi itu juga tak terjadi.

Chanyeol benar-benar tampak serius dan ini kali pertama Baekhyun melihatnya seperti itu.

Dan Baekhyun terlalu bodoh untuk terkunci dalam tatapan mata Chanyeol.

"Chanyeol," bisiknya.

Chanyeol tersenyum lagi, jemarinya bergerak untuk mengusap bibir Baekhyun yang hangat. "Kau selalu menganggapku main-main, tapi aku serius dengan ini," matanya kembali menemukan mata Baekhyun. "Aku benar-benar jatuh cinta padamu," tambahnya dengan pengucapan yang jelas.

Baekhyun tercekat, nyaris lupa cara bernapas dengan benar saat tatapan Chanyeol seolah menyudutkannya.

Apa yang salah denganku?

Dan saat bibir Chanyeol kembali menemukan bibirnya, Baekhyun kehilangan dunianya.

.

.

Bagaimanapun Baekhyun mencoba agar tidak canggung saat melihat Chanyeol, tetap saja ia tak bisa mengendalikan detak jantungnya sendiri. Terlebih Chanyeol sudah menyatakan perasaannya, itu hanya membuat Baekhyun semakin bingung dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Chanyeol mengatakan memiliki perasaan yang sama seperti dirinya, seharusnya itu hal yang bagus. Mereka bisa memulai hubungan serius sungguhan dan membatalkan kontrak aneh yang pernah mereka buat sebelumnya. Baekhyun bisa menerima perasaan Chanyeol dengan baik, dan sepertinya semua akan berakhir bahagia.

Tapi Baekhyun tak berpikir sesederhana itu.

Masih ada keraguan yang terpatri kuat didalam hatinya. Ia tidak berprasangka buruk pada Chanyeol, hanya saja Baekhyun masih belum bisa menganggap ucapan Chanyeol sebagai hal yang serius. Bagaimanapun, pria itu selalu main-main.

Terlebih citra Chanyeol sudah terlanjur buruk dalam pikirannya. Chanyeol terkenal sebagai pria yang selalu mempermainkan wanita. Singkat kata, banyak orang diluar sana yang melabeli Chanyeol dengan sebutan playboy.

Dan Baekhyun benar-benar harus mempertimbangkan ini sebelum mungkin ia menjadi korban Chanyeol selanjutnya.

Selain itu, Baekhyun juga tau Chanyeol baru saja mendapatkan patah hati terbesar dalam hidupnya. Ia tak bisa menjamin Chanyeol sudah benar-benar merelakan gadisnya itu pergi. Berbagi perasaan dengan orang lain masih belum bisa Baekhyun lakukan.

Chanyeol pasti masih memiliki perasaan tersisa pada gadis itu –meskipun mungkin sangat kecil– dan Baekhyun tak mau itu terjadi pada dirinya.

Ia harus berpikir matang-matang sebelum menentukan pilihan, menjalani dengan Chanyeol secara serius atau perlahan pergi dari kehidupan pria itu selamanya.

Masih belum terlalu terlambat untuk membuang perasaannya terhadap Chanyeol dan merasakan sedikit rasa sakit hati. Baekhyun yakin ia bisa menghadapi itu dengan baik. Lagipula, Chanyeol masih belum terlalu jauh masuk dalam kehidupannya.

Sama seperti malam-malam sebelumnya setelah Chanyeol menyatakan perasaan, kerisauannya masih saja muncul. Terlebih saat malam menjemput, Baekhyun akan memikirkan Chanyeol. Mungkin jika siang hari, ia terlalu sibuk dengan kegiatan kampus sehingga tak ada pikiran tentang Chanyeol yang mungkin singgah diotaknya.

Tapi ketika semua kesibukannya pergi, waktunya Baekhyun untuk istirahat, pikiran tentang Chanyeol selalu menghantuinya lagi.

Sedangkan sudah seminggu Baekhyun tak bertemu dengan Chanyeol. Terakhir, pria itu mengatakan padanya harus mengurus sesuatu di Jepang selama satu minggu. Chanyeol setiap hari menghubunginya meskipun Baekhyun selalu berusaha menghindari panggilan itu.

Baekhyun hanya akan mengirimkan pesan singkat untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Sebenarnya bukan pertanyaan yang penting karena Chanyeol hanya menanyakan apakah dirinya baik-baik saja.

Demi Tuhan, sebelum Chanyeol datang kedalam hidupnya, Baekhyun baik-baik saja. Dan sekarang Baekhyun harus merelakan waktu istirahatnya yang berharga untuk memikirkan Chanyeol.

Baekhyun mendesah ringan, ia regengkan sedikit ototnya yang kaku. Malam ini, setelah menghabiskan waktu sepanjang sore untuk menggambar bersama Sehun, Baekhyun masih terjebak di dalam studionya. Ia berniat pulang sejak tadi, hanya saja, hujan masih mengguyur deras diluar sana.

Kalau boleh jujur, Baekhyun sedikit takut karena berada di dalam ruangan itu sendiri, terlebih ini malam hari dan hujan sedang menggila diluar sana. Beruntungnya, ruangan sebelah masih penuh orang –mereka anggota club tari yang mungkin akan berlatih hingga pagi dengan suara musik berisik.

Yang lebih parah, Sehun membawa mobilnya untuk membeli beberapa cat dan belum kembali hingga sekarang. Baekhyun curiga pria itu pergi berkencan dan meninggalkannya dalam keadaan menyedihkan dalam ruangan penuh gambar. Kalau bisa ia ingin mengumpat didepan wajah Sehun, hanya saja, ponsel pria itu tidak aktif.

Jadi Baekhyun tak tau harus mulai menggerutu darimana.

Baekhyun tau saat suara pintunya terbuka, tapi ia malas untuk mengalihkan pandangan dari kertas dan tinta berwarna. "Apa kau membeli cat di China, Oh Sehun? Kenapa tak sekalian saja kau jual mobilku?" gerutunya dengan bibir mengerucut kesal.

"Oh Sehun?"

Baekhyun menoleh dengan cepat saat mendengar bukan suara Sehun yang menyahut pertanyaannya. Dan gadis itu tercekat saat melihat pria berbadan tinggi yang berdiri di depan pintu studionya. "Chanyeol," bisik Baekhyun dengan suara tipis.

Chanyeol memandangi Baekhyun dengan bingung, kakinya melangkah maju, sedangankan sebelah tangan berusaha mengeringkan rambutnya yang agak basah karena air hujan. Sementara Chanyeol sudah berada dihadapannya, Baekhyun masih mematung dengan bibir sedikit terbuka, memandangi Chanyeol dengan tatapan bodoh.

"Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Chanyeol bingung, memandangi Baekhyun dengan kening berkerut.

Tidak, kau tampan. Luar biasa tampan.

Baekhyun menggeleng, menjawab pertanyaan Chanyeol sekaligus menyadarkan dirinya sendiri dari pemikiran bodoh yang baru saja singgah diotaknya. "Kapan kau kembali?" tanya Baekhyun, kembali memfokuskan pandangannya pada gambar diatas kertas, berusaha menelan kegugupan saat melihat wajah Chanyeol yang mendadak saja menjadi lebih tampan.

Atau mungkin itu karena Baekhyun merindukannya.

Chanyeol menarik kursi untuk duduk disebelah Baekhyun. "Tadi siang. Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?" protes Chanyeol, jemarinya kini mengambil pensil warna Baekhyun dan ikut mengarsir gambar diatas kertas.

"Ah itu. Aku sibuk seharian ini, kau tau kan pamerannya sebentar lagi?" jawab Baekhyun.

"Begitu ya?" ucap Chanyeol sarkas. "Aku juga sibuk, tapi masih menghubungimu, kan?" Chanyeol setengah terkekeh dan Baekhyun tertawa ringan, meskipun itu terdengar canggung.

"Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?" Baekhyun tak tau mengapa ia bertanya, sebenarnya ia tidak nyaman dengan kesunyian yang semakin membuat ini canggung.

Baekhyun tak pernah kehabisan ide untuk mengoceh, tapi sekarang otaknya nyaris kosong.

"Apa kau takut jika aku pergi dan merindukanku?" dan Baekhyun mencibir, mengejek Chanyeol dengan dengusan kesal. Pria itu tertawa agak keras. "Aku tidak akan pergi lama lagi, janji," bisiknya.

"Terserah kau," balas Baekhyun acuh, kembali mencoret-coret kertas. Chanyeol terkekeh ringan, dengan sebelah tangan memeluk Baekhyun dari samping. Tangan kokohnya melingkari pinggang ramping Baekhyun dengan sempurna. "Chanyeol, aku tak tau apa yang kau lakukan, tapi ini ide yang buruk," bisik Baekhyun.

"Aku merindukanmu," bisiknya tepat didepan telinga Baekhyun. Bibirnya sedikit mengecup leher Baekhyun, berhasil membuat gadis itu merinding dan mendesahkan nama Chanyeol tipis. "Benar-benar merindukanmu," kali ini Chanyeol menyapukan bibirnya yang panas ke pada tulang rahang Baekhyun.

"Chan," suara Baekhyun terdengar seperti desahan halus.

"Sebentar saja," bisik Chanyeol sambil membalikkan tubuh Baekhyun agar menghadapnya. Kedua tangannya merengkuh wajah Baekhyun, jemarinya menyentuh bibir Baekhyun, berhasil membuat Baekhyun meloloskan desahan ringan dengan mata terpejam menikmati sentuhan Chanyeol dibibirnya.

Demi Tuhan, Chanyeol hanya menyentuhnya dengan jari, tapi rasanya Baekhyun sudah menggila.

Chanyeol selalu bisa memantik api gairah dalam tubuhnya.

"Chanyeol, Sehun bisa kembali kapan saja," tanpa sadar, Baekhyun mengecup jemari Chanyeol yang masih berada dibibirnya. Entah mengapa, rasanya Baekhyun juga menginginkan sentuhan Chanyeol lebih jauh lagi sekarang.

Mungkin karena hampir seminggu ia tak bertemu pria itu.

Chanyeol sedikit meleguh saat Baekhyun memasukan jemarinya ke dalam mulut. "Sial," umpatnya tipis dengan suara berat. Baekhyun menyeringai, mengeluarkan jemari Chanyeol dari mulutnya. "Jangan menyulutku, Baekhyun," Chanyeol mengingatkan.

Baekhyun mencibir. "Kau yang memulai," bisiknya dengan suara desahan lembut yang disengaja. Dengan sebelah tangan, Baekhyun membebaskan rambutnya yang tergulung. Ia sedikit menggoyangkan rambut panjang cokelat kemerahannya hingga tergerai sempurna, berhasil membuat Chanyeol menelan ludah kasar memandangi gadis itu.

Adrenalinenya berpacu cepat karena gerakan sederhana dari Baekhyun.

"Jangan menolakku, please," suara Chanyeol mendadak saja terdengar lebih berat.

Baekhyun tersenyum, dengan gerakan lembut, jemarinya bermain-main disekitar dada Chanyeol yang masih terlindungi kemeja ketat berwarna biru gelap. "Lakukan dengan cepat sebelum Sehun datang," Baekhyun mengingatkan, jemarinya perlahan turun untuk meremas tubuh selatan Chanyeol.

Ereksinya.

"Sial," erang Chanyeol, berusaha menahan desahan yang sampai diujung lidah.

Persetan dengan perasaan, Baekhyun menginginkan Chanyeol di dalam tubuhnya sekarang.

Dengan gerakan terburu-buru, Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun ke atas pangkuannya. Bibirnya hendak menyentuh bibir Baekhyun, tapi gadis itu menahannya dengan jari. "Jangan membuat bibirku berantakan. Aku masih harus bertemu beberapa orang malam ini untuk memberikan gambar,"

Chanyeol memiringkan kepalanya dan memandang Baekhyun dengan tatapan menyelidik. "Kau yakin?" Baekhyun menggangguk. "Oke," balas Chanyeol, menyetujui tanpa banyak bicara lagi.

Jemari Chanyeol perlahan membuka tiga kaitan atas kancing kemeja Baekhyun, dan bibirnya sudah bekerja menyesapi leher hingga dada Baekhyun yang sedikit terbuka. "Chanyeol," desahan Baekhyun terdengar begitu lembut.

Tapi Chanyeol tak peduli saat Baekhyun mulai menggeliat diatas pahanya. Kepala gadis itu mengadah dengan bibir terbuka lebar karena mendesahkan namanya dan mengatur napas yang mulai memburu. Jemari Baekhyun meremas rambut Chanyeol kasar, sedikit mendorong kepala pria itu agar bisa memeluknya lebih erat.

Agar Chanyeol bisa menghisapnya lebih dalam.

"Jangan mengulur waktu, Chan," desah Baekhyun dengan suara serak.

Chanyeol terkekeh ringan, bibirnya sedikit mengecup perpotongan leher Baekhyun. "Kau terburu-buru sekali," guraunya dengan cengiran lebar.

Baekhyun mendengus malas, ia sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya diatas pusat tubuh Chanyeol, membuat pria itu sedikit mengerang. Baekhyun menelusupkan tangannya ke bawah untuk membuka kaitan celana jeans Chanyeol, sementara jemari pria itu sudah membuka rok pendek Baekhyun.

"Musim sudah hampir dingin tapi kenapa kau masih saja memakai rok pendek ketat seperti ini? bisik Chanyeol, ia mengangkat tubuh Baekhyun keatas meja agar bisa melepaskan roknya. Baekhyun hanya membalas ucapan Chanyeol dengan kekehan ringan, membiarkan Chanyeol melepaskan celana dalamnya. "Apa yang akan kau lakukan untuk melindungi dirimu sendiri dari pria yang akan menidurimu?"

Baekhyun menyeringai, sedikit mengedipkan sebelah mata. Perlahan, ia mendorong tubuhnya sendiri untuk berbaring diatas meja dengan bertumpu pada kedua sikunya, ia melebarkan kaki dan sedikit menjilat bibirnya sendiri untuk menggoda Chanyeol. "Melakukan ini," bisiknya dengan desahan yang dibuat-buat.

"Berbahaya sekali, Byun," balas Chanyeol, jemari pria itu perlahan menyusuri paha Baekhyun, terus naik hingga menyetuh pusat tubuhnya. Dan Baekhyun mengejang, tubuhnya sedikit melengkung karena jemari Chanyeol mulai bergerak-gerak disana. "Kau begitu menggairahkan," bisik Chanyeol, kali ini menegakkan tubuhnya sendiri untuk melepas celana.

Dan Baekhyun tertawa renyah, semakin melebarkan kakinya. "Kau saja yang mudah tergoda," ejek Baekhyun.

"Jadi, berapa menit yang kupunya sebelum Sehun datang?" tanya Chanyeol dengan suara berat.

Baekhyun mendesah ringan saat pusat tubuh Chanyeol sedikit menyentuh tubuhnya, gadis itu tercekat sementara napasnya mulai memburu. "Tidak banyak," jawabnya dengan suara yang begitu mendamba.

Chanyeol terkekeh ringan, mulai merangkak di atas tubuh Baekhyun untuk kembali menenghisap lehernya yang tebuka. Dan Baekhyun mendesah lagi, lebih keras, memanggil nama Chanyeol dengan suara yang nyaris habis.

Baekhyun seolah mengaungkan permohonan yang jelas dan Chanyeol sudah dapat mengerti tanda yang Baekhyun berikan daritadi. Jadi Chanyeol tak mengulur waktu lebih lama lagi, ia memberikan apa yang Baekhyun mau, apa yang Baekhyun dambakan. Chanyeol memberikan semuanya.

Perlahan, ia mendorong ereksinya maju, Chanyeol berusaha membuat penyatuan mereka terasa lembut, tapi ia juga tak bisa mengendallikan itu. Baekhyun masih saja memekik, masih mengerangkan namanya dengan banyak umpatan yang tak pernah bosan Chanyeol dengar, dan kemudian mendesah lega saat penyatuan mereka sudah sempurna.

Baekhyun selalu bisa mencengkeramnya dengan erat, sebuah sensasi yang selalu membuat Chanyeol menggila.

Dan Chanyeol mulai mendorong dan menarik saat Baekhyun menegakkan tubuh untuk memeluknya. Baekhyun memeluknya dengan erat, seolah menyuruhnya bergerak lebih dalam, lebih dekat, lebih cepat dan menggila.

Desahan yang selalu Baekhyun gaungkan selalu menjadi candunya, Chanyeol tak akan berhenti sampai gadis itu kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sampai Baekhyun menggila.

"Chanyeol," desahan Baekhyun terdengar seperti permohonan yang jelas, dan Chanyeol mendorongnya lebih cepat, lebih menuntut lagi. Membiarkan jemari Baekhyun meremas rambutnya dan membiarkan bagian tubuh Baekhyun yang lain meremas ereksinya.

Baekhyun mendongak, kedua mata terpejam rapat, napasnya memburu tak beraturan, sedangkan bibirnya terbuka untuk mendesahkan nama Chanyeol. Diluar, cuaca sedang menggila, tapi keduanya merasa begitu panas, begitu membakar hingga membuat udara disekitar mereka sesak gairah.

Ini adalah pemandangan yang paling Chanyeol sukai, yang selalu membuatnya ingin lagi, menikmati tubuh Baekhyun yang luar biasa nikmat, dan juga menikmati wajah Baekhyun saat ini. Baekhyun luar biasa cantik, luar bisa menggoda, mampu merobohkan pertahanan pria manapun dengan cepat. Gadis itu tanpa sadar selalu membuatnya menggila.

Jadi Chanyeol mendorongnya lebih cepat, lebih dalam, lebih menuntut dari sebelumnya. Ia bisa merasakan tubuh Baekhyun melemas, tapi otot-otot yang mencengkeramnya malah meremasnya lebih kuat. Baekhyun memekik, mengerangkan nama Chanyeol dengan suara mengerikan yang indah.

Kemudian Chanyeol merasakan luncuran lava panas yang membasahi pusat tubuhnya. Pelepasan Baekhyun begitu indah, basah, begitu manis meskipun ia tak bisa mengecap itu dengan lidah. Baekhyun luar biasa panas dan itu sensasi yang menakjubkan.

Chanyeol tidak berhenti bergerak, ia terus menuntut Baekhyun lagi hingga menemukan puncaknya sendiri.

"Sial, Chanyeol," rengek Baekhyun dengan tubuh terhentak-hentak. Ia mengeratkan pegangan tangan pada pinggang Chanyeol, sementara tubuhnya sudah benar-benar terbaring lemah diatas meja yang cukup keras. Baekhyun tau punggungnya agak nyeri karena bertabrakan dengan benda tumpul, tapi ia tak peduli. Itu tak lagi penting, karena baginya, Chanyeol prioritas sekarang.

Chanyeol meleguh dengan suara yang terdengar seperti geraman buas. Tubuhnya benar-benar mendorong Baekhyun lebih kuat, lebih penuh, lebih menuntut dari sebelumnya. Ia bisa merasakan pelepasannya yang sudah mencapai titik teratas, dan Chanyeol tak menahannya lagi.

Pria itu dengan yakin melepaskan semuanya, membasahi Baekhyun dengan panas membara yang luar biasa indah. Dan Baekhyun mendesah lagi, meluncurkan puncak gairahnya yang terlepas untuk kali kedua. Tangannya masih mencengkeram pinggang Chanyeol, sedangkan pusat tubuhnya juga mencengkeram lebih erat.

Kemudian Baekhyun meluncurkannya, ia mendesah lega, memandangi Chanyeol yang sedang mengatur napas diatas tubuhnya, sedangkan napasnya sendiri memburu berantakan. Pria itu terkekeh ringan, sedikit mencodongkan wajahnya untuk mengecup bibir Baekhyun sekilas.

"Sial," desah Baekhyun, merasakan Chanyeol melepaskan tautan mereka tanpa ijin. Ia bisa merasakan udara dingin berpurtar-putar di dalam dirinya, kembali membuat punggungnya merinding.

"Rasanya lega sekali," bisik Chanyeol, ia menarik kaki Baekhyun untuk memasangkan kembali pakaiannya.

"Brengsek, kau melakukannya lagi," umpat Baekhyun lemah, ia mengerang saat merasakan punggungnya sedikit nyeri.

Chanyeol tertawa renyah, sedikit menarik tubuh Baekhyun agar duduk menghadapnya. Ia sedikit merapik rambut Baekhyun yang berantakan. "Sehun tak akan kembali malam ini. Jadi lebih baik aku mengantarmu," Chanyeol sedkit menahan tawa.

"Sial, kau pasti menyuruh Sehun pergi, kan?" Baekhyun mendesah malas, sedikit memutar bola mata kesal.

Chanyeol mengangkat bahu acuh. "Cat yang Sehun beli sudah di depan pintu,"

"Sial,"

.

.

Malam ini, lagi-lagi Baekhyun harus menginap di apartemen Chanyeol. Ia berbaring malas diatas ranjang Chanyeol, jemarinya bermain-main diatas layar ponsel yang menyala. Setelah ia mengirimkan beberapa pesan umpatan untuk Sehun, Baekhyun memilih bermain-main untuk membuang waktu kosong yang membosankan.

Chanyeol berada diluar, menyibukkan diri dengan kertas-kertas yang tak pernah Baekhyun pahami isinya.

Ponselnya tiba-tba berdering, mengganggu permainannya, Baekhyun nyaris mengumpat tapi urung melakukan itu saat membaca nama yang tertera dilayar. "Ya, Dad," sapa Baekhyun langsung, membuat suara sendiri tidak terdengar begitu malas.

"Kau dimana? Kita perlu bicara besok," ucap ayahnya langsung.

Baekhyun mengerutkan kening bingung. "Aku tak tau, Dad. Sepertinya aku akan pulang akhir pekan ini. Apa ada sesuatu yang mendesak?"

"Sangat mendesak," balas ayahnya dengan nada agak tinggi. Dan Baekhyun mulai menyadari ada sesuatu yang tidak benar, ayahnya itu jarang sekali marah, dan sekarnag sepertinya sedang tidak dalam kondisi mood yang baik.

"Bisa jelaskan padaku sedikit?" pinta Baekhyun, mencoba mendapatkan petunjuk.

Suara helaan napas ayahnya terdengar berat diujung sana. "Chanyeol baru saja menghubungiku,"

"Chanyeol?"

"Kalian harus segera menikah,"

Baekhyun nyaris menganga, ia menarik tubuhnya dengan cepat untuk duduk. "Apa, Dad? Kenapa?"

"Baekhyun kau benar-benar tidak bisa menyembunyikan ini selamanya,"

Baekhyun semakin tak mengerti. "Apa yang terjadi Dad, apa yang Chanyeol katakan?"

Ayahnya mendesah ringan. "Chanyeol bilang kau hamil,"

Apa? Sial!

"Kita akan bicara lagi nanti, Dad," Baekhyun mematikan sambungan telepon sepihak. Ia menarik tubuhnya sendiri untuk berjalan cepat keluar ruangan. "Park Chanyeol, brengsek, dimana kau?" teriaknya, tapi Baekhyun tak menemukan sosok pria itu dimanapun.

Brengsek!

.

.

TBC

.

.

Hallo~ Kembali lagi dengan chapter 7 semoga semakin kesini semakin tidak absur dan juga chapter ini tidak mengecewakan.

Seperti biasa, Author akan minta kritik, saran, komentar di kolom review dari readers semua~

Ini mungkin nggak akan lama lagi untuk END tapi Author masih belum menentukan alur untuk kedepannya, mungkin ada saran juga gapapa /hihih/

Rencananya, Author lolipopsehun bakal HIATUS selama tiga bulan utnuk menyelesaikan SKRIPSI jadi sebelum FEBRUARI semoga aja semua FF sudah berhasil diupdate /doakan aja yekan/

Udah itu dulu untuk chapter ini, mohon maaf jika ada kesalahan dan mungkin juga mengecewakan jalan ceritanya.

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa meninggalkan review.

With love,

lolipopsehun