"Sungguhan, Mom. Aku tidak hamil," suara Baekhyun sedikit melengking, berbicara melalui sambungan telepon. Suasana tengah malam yang sunyi membuat suaranya terdengar menggema di dalam apartemen Chanyeol yang kosong.

Suara ibunya diseberang sana sedikit tertawa. "Serius, sayang. Apa menurutmu Chanyeol berbohong tentang hal itu?"

Baekhyun nyaris mengerang. "Demi Tuhan, Mom. Jangan pernah percaya ucapan Chanyeol. Aku tidak tau apa yang membuatnya gila dan mengatakan hal ini. Tapi aku benar-benar tidak hamil, Mom,"

Ibu Baekhyun sedikit terkekeh. "Ya, sayang, aku tau. Tapi Chanyeol terlihat serius saat mengatakan ingin menikahimu,"

Baekhyun memutar bola mata sebal. "Mom bertemu Chanyeol?" dengan sebelah tangan, Baekhyun membuka pintu apartemen Chanyeol untuk duduk di balkon, menikmati udara dingin yang seolah membelai tubuhnya.

"Ya, sayang. Chanyeol datang dua hari yang lalu. Meminta ijin untuk menikahimu," suara Ibu Baekhyun terdengar lebih bersemangat.

Baekhyun mendesah ringan, berusaha menahan emosinya. "Lalu apa yang Dad katakan?"

"Tentu saja ayahmu setuju," suara ibunya terdengar lebih tinggi dari sebelumnya, dan Baekhyun nyaris mengerang. "Chanyeol sudah memiliki pekerjaan bahkan sebelum lulus kuliah. Dia berasal dari keluarga baik-baik, memangnya apa alasan ayahmu menolaknya?"

"Tapi, Mom," Baekhyun berhenti sebentar untuk membuang napas kesal. "Aku belum mencintai Chanyeol sebesar itu, rasanya masih terlalu jauh untuk menikah dengannya," yah, sebenarnya Baekhyun sendiri masih belum begitu yakin tentang perasaannya terhadap pria itu.

"Kalian bisa menikah setelah lulus kalau begitu, hanya lima bulan menjelang kelulusanmu, kan?" ibunya setengah tertawa diseberang sana.

Baekhyun mengerang tipis. "Aku tidak menjamin bisa menikahi Chanyeol, jadi jangan berikan harapan apapun padanya, kumohon,"

'Ya, aku tau sayang. Kami akan menunggu hingga kau siap. Chanyeol tampaknya benar-benar serius denganmu," ucap ibunya dengan suara lembut yang menenangkan.

Dan Baekhyun masih belum bisa menentukan sikap.

Desahan ringan kembali keluar dari bibirnya. "Ya, Mom aku tau," bersamaan dengan itu, Baekhyun bisa mendengar suara pintu yang dibuka. Ia menoleh ke belakang, melihat bayangan tubuh Chanyeol yang berjalan mengendap-endap dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri. "Mom, aku harus tidur sekarang. Besok jadwalku pagi," bisiknya.

"Oke, sayang. Love you," balas ibunya.

"Ya, Love you too, Mom," Baekhyun mematikan sambungan sepihak.

Ia berdiri dengan cepat, berjalan tergesa untuk kembali masuk ke dalam rumah. Tangannya sengaja memukul pintu kaca dengan keras dan berhasil membuat pria itu terkejut. Chanyeol memandangi Baekhyun yang sedang menatapnya tajam dengan berkacak pinggang di depan pintu kaca. Wajahnya bersungut-sungut menatap pria yang tampak gugup itu.

"Hey, ah, itu, kukira kau sudah tidur," Chanyeol setengah tergagap, tersenyum bodoh dan mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Baekhyun yang seolah mengulitinya.

Dan ya, ingin melakukan itu padanya.

"Bagaimana aku bisa tidur jika seorang bajingan brengsek menyebabkan masalah besar hari ini dan kemudian melarikan diri seperti seorang pengecut," desis Baekhyun, berusaha menelan kekesalannya meskipun gagal.

Chanyeol mengernyit. "Maksudmu, Sehun? Ya Tuhan, apa yang sudah dilakukan bocah itu? Apa dia merusak mobilmu hari ini?" kepala pria itu sedikit menggeleng beberapa kali. "Sayang sekali, memang Sehun itu benar-benar ceroboh," pria itu sedikit berjalan menyamping menuju kamarnya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Park Chanyeol," Baekhyun sedikit berteriak, ia berjalan cepat untuk menarik rambut Chanyeol dengan kasar. Pria itu mengerang memegani tangan Baekhyun yang mencengkeram rambutnya kuat-kuat.

"Sakit sakit aduh, Baekhyun," rintihnya, membiarkan Baekhyun menyeret tubuhnya. Gadis itu melemparkan tubuh Chanyeol ke atas sofa dan berhasil membuatnya memekik memegangi beberapa helai rambutnya yang jatuh karena tarikan kuat itu.

Baekhyun mengerang, duduk di atas meja agar berhadapan dengan Chanyeol. "Kau benar-benar," dengusan kasar keluar dari bibir mungilnya, mendadak saja kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan emosinya pada pria yang sedang nyengir.

"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol dengan kening berkerut, sedikit menggeser tubuhnya untuk menghindari Baekhyun.

Gadis itu dengan cepat menahan tubuh Chanyeol, mencengkeram lengannya hingga membuatnya meringis saat kuku Baekhyun sedikit menusuk permukaan kulit. "Apa yang sudah kau katakan pada ayahku?" Baekhyun nyaris menggeram, matanya menatap mata Chanyeol dengan

Chanyeol menelan ludah kasar, sedikit memundurkan wajahnya untuk menghindar. "Well, kau tak perlu tau apa yang biasanya pria dewasa bicarakan," lagi-lagi tersenyum lebar seolah tanpa dosa.

"Caramu itu sangat dewasa, Park Chanyeol," sindirnya dengan tatapan tajam, jemarinya sedikit menyentuh bibir Chanyeol. "Mulutmu ini kotor sekali,"

Chanyeol mencibir. "Asal kau tau saja, sebenarnya mulutmu itu lebih kotor Baekhyun, kau selalu mengumpat saat kita–,"

Baekhyun menutup mulut Chanyeol dengan tangannya. "Jangan mengalihkan pembicaraan," desisnya dengan suara yang terdengar seperti geraman.

Gadis itu mendorong Chanyeol agar bersandar pada sofa, kemudian mendudukkan tubuhnya diatas paha Chanyeol. Baekhyun masih menatap pria itu dengan tatapan tajam sementara Chanyeol mendesah ringan saat gadis itu mulai sedikit bergerak-gerak diatas pusat tubuhnya.

"Berbahaya sekali, Byun," Chanyeol terkekeh ringan, sedikit mengusapkan tangannya pada punggung Baekhyun tapi dengan cepat ditepis.

Baekhyun mendekatkan wajah hingga kepala belakang Chanyeol menempel rapat pada bantalan sofa. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Chan," ia berbisik lembut didepan bibir pria itu.

Baekhyun sedikit menggoda Chanyeol dengan bergerak-gerak gelisah diatas pusat tubuhnya lagi.

"Sudah kubilang aku serius akan menikahimu," Chanyeol sedikit meringis saat bibir Baekhyun nyaris menyentuh bibirnya.

Akhirnya dengan seringaian menggoda, Baekhyun sedikit mengecupi rahang Chanyeol dengan lembut, berhasil membuat desahan berat keluar dari bibir pria itu. "Haruskah kau berbohong dan mengatakan aku hamil?" bisik Baekhyun tepat di depan telinga Chanyeol. Bibirnya sedikit mengecup leher Chanyeol, menghisapnya lembut.

Erangan tipis Chanyeol berhasil lolos dari bibirnya. "Aku tak punya pilihan lain," bisiknya dengan suara berat. Jemarinya menelusuri punggung Baekhyun yang hanya terbalut kaos hitam polos.

Baekhyun memutar bola mata sebal sebentara bibirnya kembali menyesapi leher pria itu, membuat Chanyeol menahan desahan yang sudah sampai ujung lidah. "Harusnya kau tak perlu berbohong," bisik Baekhyun lagi, ia menyesap perpotongan leher pria itu sedikit lebih keras.

"Baekhyun," desahnya dengan suara berat, nyaris habis. Terdengar seperti permohonan dan Baekhyun tersenyum puas mendengarnya.

"Ya?" jawabnya. Baekhyun menyapukan jemarinya untuk menangkup pusat tubuh Chanyeol di bawah sana.

"Ya Tuhan, Baekhyun," pria itu nyaris mengerang. "Jangan menggodaku, please," ia sedikit memohon dengan mata separuh terpejam. Dan saat Baekhyun meremasnnya lagi, Chanyeol meloloskan satu desahan berat.

"Mengakui kesalahanmu?" Baekhyun menyeringai.

Chanyeol meleguh kasar saat Baekhyun mengecupi lehernya lagi, sementara jemari mungilnya menggelitik Chanyeol di bawah sana. "Ya, aku mengaku salah. Aku tak akan melakukannya lagi, janji," bisiknya. "Please, Baekhyun,"

Baekhyun sedikit tersenyum, menarik bibirnya dari leher Chanyeol, kemudian menatap pria itu dengan tatapan bersahabat. "Jangan melakukan hal aneh lagi, kumohon,"

"Ya, Baekhyun. Janji," ucapnya tercekat.

Kekehan lembut Baekhyun terdengar, ia menarik kaos Chanyeol hingga melewati kepala pria itu. Tangannya mendorong tubuh Chanyeol agar berbaring diatas sofa, kemudian kembali merangkak di atas tubuhnya. Baekhyun mencondongkan tubuh, bibirnya kembali menyesapi leher pria itu.

Chanyeol mengerang kasar, kedua tangannya memegangi lengan Baekhyun.

Bibir dan lidah Baekhyun bergerak turun menelusuri dada dan perut Chanyeol yang terbentuk sempurna. Chanyeol mendesahkan nama Baekhyun dengan suara yang terdengar mengerikan saat gadis itu mulai menyesapi tattoo-nya.

"Jangan menggodaku, please," Chanyeol merintih.

Baekhyun tertawa renyah. Jemari lentiknya membuka kaitan celana jeans biru Chanyeol, dengan lembut menarik ke bawah –membebaskan ereksi pria itu. Baekhyun tersenyum, kembali mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir Chanyeol sekilas.

Bibir Baekhyun kembali bergerak turun, terus turun hingga menyentuh pusat tubuh pria itu. Tanpa pikir panjang, Baekhyun melingkupinya dengan sempurna. Dengan basah dan panas. Chanyeol mengerang, tanpa sadar jemarinya menyusup masuk ke dalam rambut Baekhyun, sedikit meremasnya.

Dan saat Baekhyun mulai memainkan tempo yang menggila, Chanyeol kehilangan kendali. Seolah Baekhyun benar-benar bisa membuatnya menyerah hanya dengan mulut mungil itu. "Sial, Baekhyun," erangnya dengan suara geraman buas.

Baekhyun tak peduli, ia tetap bergerak dengan statis, berusaha melakukan pekerjaannya dengan baik. Gadis itu tau saat Chanyeol semakin sesak dalam mulutnya, erangan pria itu semakin keras terdengar. Baekhyun bisa merasakan pelepasan Chanyeol yang semakin mendekat.

Dengan seringaian jelas, Baekhyun melepaskan pria itu. Ia berdiri dengan cepat, kemudian setengah berlari menuju kamar Chanyeol. "Selesaikan sendiri," ucapnya dengan tawa terbahak.

"Sialan, Byun Baekhyun," Chanyeol nyaris berteriak, ia mengerang kasar saat mendengar suara pintu yang dikunci dari dalam.

Chanyeol mengerang lagi, menatap bagian tubuhnya yang terlihat mengenaskan. Dalam hati mulai merutuki dirinya sendiri yang mudah tergoda oleh gadis bermata cantik itu. Dan sekarang Chanyeol harus membayar mahal dengan menyelesaikan sendiri.

Miris sekali.

.

.

"Selamat pagi sayang. Tidurmu nyenyak?" Baekhyun nyaris berteriak dari arah dapur saat mendengar suara langkah kaki mendekat.

Chanyeol mendengus kasar sementara Baekhyun cekikikan menajan tawa. Ia melirik ke belakang sedikit, memandangi Chanyeol yang sedang menguap malas sambil duduk di meja makan.

"Diam," Chanyeol meninggikan suaranya, mengambil satu gelas air putih. "Kau benar-benar keterlaluan," desisnya kesal, berhasil menghabiskan satu gelas air putih.

Baekhyun tertawa, memberikan satu piring American Breakfast pada pria itu. "Salah sendiri mudah tergoda,"

Chanyeol mendengus, terlihat mencibir. Ia mulai memasukkan potongan sausage ke dalam mulut, "Kurasa belum ada pria yang tidak tergoda saat melihatmu,"

"Benarkah?" Baekhyun tersenyum, mulai makan dengan tenang juga. "Tapi Sehun tak pernah tergoda," cicitnya.

Desahan malas keluar dari bibir Chanyeol. "Apa kau pernah naik ke atas paha Sehun?"

Dan Baekhyun nyaris tersedak, susah payah berusaha menelan makanan dalam mulutnya. "Kau mau aku mencobanya pada Sehun?"

Chanyeol mengangkat bahu acuh. "Well, tidak perlu," balasnya. "Kau milikku, jangan pernah melakukan itu,"

Sebenarnya sesuatu jauh di dalam hati Baekhyun sedikit hangat dan tenang saat mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Chanyeol. Tanpa disadari, Baekhyun senang saat Chanyeol menganggapnya begitu. Memang dirinya belum menentukan sikap tentang masa depannya bersama Chanyeol, hanya saja, perlahan, sedikit demi sedikit, Baekhyun bisa melihat kesungguhan dalam diri Chanyeol terhadapnya.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

Baekhyun mencibir, sadar ia sedikit lebih lama diam. "Sejak kapan aku milikmu?" ia sedikit tertawa mengejek, memperhatikan Chanyeol yang sedang makan dengan tenang dihadapannya.

"Sudahlah Baekhyun, akui saja. Kita sudah berkencan sungguhan sekarang," Chanyeol sedikit menggelengkan kepala, kesal gadis itu masih saja tidak bisa diajak serius.

Baekhyun mendengus. "Harusnya kau menyatakan perasaanmu dengan cara yang baik," ia melirik Chanyeol yang sedang memandanginya dengan kening berkerut dalam. "Kau tau kan, biasanya seorang pria akan memberikan bucket bunga, candle light dinner dengan pemandangan indah. Ah, itu manis sekali," mata Baekhyun berbinar, kedua tangannya menyatu di depan dada.

Bibir Chanyeol mengerucut. "Kau mau aku melakukannya?"

Semangat, Baekhyun mengangguk. "Sebenarnya kau tak perlu menanyakan itu. Tapi bukan masalah, kuanggap kau masih belum memiliki pengalaman tentang hal ini,"

"Pengalaman pantat kuda," balas Chanyeol malas. "Lebih baik jangan berharap aku melakukannya, sama sekali bukan gayaku,"

Baekhyun mendengus malas, merasakan kesal sampai ke puncak kepalanya. Gadis itu bersungut-sungut dengan bibir mengerucut. Matanya menatap Chanyeol dengan tajam, seolah kalau bisa ingin menusuk kulit pria itu dengan garpu –atau pisau dapur.

Pria ini benar-benar menyebalkan.

"Jangan menikahiku kalau begitu," balasnya malas.

Sama sekali tidak mengerti perasaan wanita.

"Serius, Baekhyun," Chanyeol sedikit memajukan tubuhnya untuk melihat gadis itu lekat-lekat. "Tanpa melakukan itupun, aku akan tetap menikahimu,"

"Kau yakin sekali, Chanyeol. Bagaimana jika aku mengatakan tidak?" cibir Baekhyun, menarik tubuhnya dengan malas ke belakang dan bersandar pada bantalan kursi yang empuk.

Kekehan Chanyeol semakin membuat Baekhyun kesal. "Seratus persen yakin, kau tak akan menolakku," ucap Chanyeol. Baekhyun memutar bola mata kesal, sedikit mendengus lagi dengan bibir mengerucut sebal. "Setelah lulus, aku benar-benar akan menikahimu,"

"Tidak mau," rengek Baekhyun malas, kembali mengunyah makanannya dengan kasar, mengabaikan Chanyeol yang sedang menatapnya.

"Ayahmu akan tetap melakukannya," balas Chanyeol.

Baekhyun mendengus malas, menuding Chanyeol dengan chopstick-nya. "Dengar ya, kau sudah berbohong pada ayahku tentang kehamilan fiktif itu. Aku bisa merengek padanya untuk membatalkan ini,"

"Rencana pernikahan?"

"Terdengar aneh saat kau mengatakannya," Baekhyun bergidik ngeri, sedikit geli mendengar kata-kata itu.

Chanyeol mendesah ringan. "Bagaimanapun aku akan tetap menikahimu," ucap Chanyeol final, pria itu mendorong piring yang sudah kosong menjauh dari tubuhnya, kemudian kembali menatap Baekhyun lekat-lekat. "Ayahmu akan memaksamu menikahiku, Baekhyun,"

"Bagaimana caranya?" balas Baekhyun malas.

"Aku akan memberimu bayi," dan mata Baekhyun membulat sempurna dengan bibir yang terbuka lebar.

Apa kau bilang?

.

.

Chanyeol baru saja pulang saat malam sudah agak larut. Ia membuka pintu apartemennya yang kosong dengan hati-hati. Mata elangnya mencari sosok Baekhyun dalam ruangan cukup luas itu, tapi ia tak menemukan apapun disana.

Baekhyun tidak ada.

Awalnya Chanyeol pikir gadis itu pulang, tapi kemudian ia baru menyadari sepatu boots Baekhyun masih tertata rapi di rak sepatu. Juga ia bisa mencium aroma tubuh Baekhyun yang seolah sudah menancap kuat dipikirannya, kembali tercium. Aroma mawar Baekhyun selalu menguar memenuhi ruang apartemen Chanyeol, rasanya benar-benar menyenangkan.

Tanpa sadar, Chanyeol tersenyum. Ia melangkahkan kaki dengan cepat menuju kamarnya sendiri yang sedikit terbuka, kemudian mendesah lega saat melihat Baekhyun meringkuk di atas ranjangnya. Dengan senyum masih mengembang dibibirnya, pria itu berjalan mendekat untuk melihat pahatan wajah sempurna Baekhyun yang hanya disinari cahaya temaram.

Tapi jujur saja, dengan cahaya semi gelap, wajah cantik Baekhyun masih bisa Chanyeol lihat dengan jelas.

Perlahan, pria itu mendudukkan dirinya di ranjang, gerakan yang ia timbulkan membuat Baekhyun sedikit bergerak malas dan menggeser tubuh hingga terlentang, membuat Chanyeol semakin mudah memandangi wajah cantiknya yang damai saat terlelap.

Entah kenapa Chanyeol merasa ada sebuah perasaan tenang saat melihat wajah Baekhyun, bahkan tidak jarang jantungnya sedikit berdetak lebih cepat saat melihat senyum gadis itu. Rasanya Chanyeol seperti pria bodoh saat melihatnya, seolah itu bukan dirinya sendiri.

Baekhyun selalu bisa membuatnya bingung untuk menentukan sikap. Gadis itu sudah menolaknya ribuan kali, mungkin mengaggapnya sebagai pembual dan pembuat onar, tapi Chanyeol sama sekali tak ingin mundur. Ia tak mau menyerah, sama sekali tidak, karena baginya, Baekhyun pantas diperjuangkan dalam keadaan sesulit apapun.

Tekadnya bulat, sejak meniduri Baekhyun saat kali pertama, ia tak akan melepaskannya. Chanyeol tak sanggup melepaskan gadis itu bagaimanapun caranya. Mungkin ia hanya pria bodoh yang sudah tidak percaya dengan bualan memuakkan tentang cinta dan kesetiaan, tapi saat melihat sosok Baekhyun, semua berubah. Untuk pertama kali, setelah patah hati terdahsyat dalam hidupnya, Chanyeol kembali menemukan kepingan bahagia karena jatuh cinta.

Dan Baekhyun adalah kepingan hati Chanyeol yang lain.

Gadis itu selalu bisa membuatnya bahagia.

Tanpa ia sadari, sebenarnya Chanyeol tau, Baekhyun mencintainya. Bagaimanapun gadis itu mencoba menutupi perasaan, tapi tatapan mata tidak akan pernah bisa berbohong. Dan Chanyeol bisa membaca luapan cinta kasih Baekhyun padanya dalam tatapan mata gadis itu.

Semua tergambar jelas, seolah Baekhyun meneriakkan itu keras-keras.

Jadi Chanyeol tak akan mundur, tak akan berhenti sampai menjadikan Baekhyun miliknya.

Seutuhnya.

Mengikatnya dalam ikatan suci sakral pernikahan yang kekal.

Chanyeol tersenyum lagi saat mendengar Baekhyun menggumam dalam tidurnya. Senang karena namanya keluar tipis dari bibir mungil itu. Sebenarnya, ini salah satu alasan Chanyeol senang menunggui Baekhyun tidur. Gadis itu selalu bicara dalam tidurnya, membuat seolah Chanyeol bisa membaca pikiran bawah sadarnya.

Tanpa sadar, jemarinya terangkat untuk membelai wajah Baekhyun, membuat gadis itu sedikit bergidik karena sentuhan dingin yang menyapa kulitnya. Dengan erangan lembut, Baekhyun menggeliat, mata kantuknya sedikit terbuka, memandangi Chanyeol dengan malas.

Dan Chanyeol masih tersenyum, mendekatkan wajahnya untuk menikmati wajah Baekhyun lebih jelas lagi –lebih dekat. Jemarinya mengusap wajah Baekhyun dengan lembut hingga gadis itu kembali terlelap dalam tidurnya.

Begitu saja, Chanyeol sudah bahagia.

.

.

Pagi menjemput, Baekhyun sudah harus disibukkan dengan banyak kegiatan yang membuatnya nyaris tak bisa bernapas lega. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik, tapi ia sudah harus bermandikan cat di seluruh tubuh. Meskipun tak bekerja sendiri dalam menyelesaikan pamerannya, tetap saja ini masih menjadi tugas berat.

Bahkan pagi tadi ia tidak sempat membangunkan Chanyeol karena harus buru-buru ke kampus sebelum Sehun mengomel. Baekhyun harus mendekorasi ruang pameran seni yang cukup luas dan itu benar-benar menguras tenaga.

Sementara Baekhyun sibuk menggoreskan tinta berwarna kuning pada kanvas yang sudah nyaris penuh gmbar, pandangannya sekilas melirik Sehun yang agak kesulitan membawa kanvas besar. Ukurannya memang cukup besar, mungkin dua kali tinggi badannya dan kanvas itu masih tertutup kain putih.

"Apa itu, Sehun?" panggil Baekhyun, setengah berteriak.

Sehun menoleh kearahnya. "Gambarku," balasnya. Pria pucat itu meletakkan lukisannya diatas kursi, bersiap-siap untuk menempelnya di dinding yang masih kosong.

Baekhyun berdiri, berjalan kearahnya untuk memastikan Sehun tidak melakukan hal bodoh dan merusak acara pamerannya. "Sejak kapan kau menggambar ini?" tanya Baekhyun. Jemarinya hendak membuka ikatan kain yang menutup kanvas itu, tapi dengan cepat Sehun menepis tangannya.

"Jangan dipegang," bentaknya.

Baekhyun meringis, mengusap tangannya yang panas karena pukulan Sehun. "Jangan-jangan kau melukis yang tidak-tidak. Sehun kau bisa mengacaukan pameran ini,"

Sehun mendengus malas mendengar omelan Baekhyun, ia mengabaikan gadis itu, dan memilih berusaha menempelkan lukisan besar itu di dinding –masih dengan kain putih membingkai bagian depan lukisan.

"Oke bagus," ucap Sehun pada diri sendiri, sedikit berjalan mundur untuk melihat hasil lukisannya yang menempel di dinding.

"Apa yang kau gambar sih?" Baekhyun masih penasaran.

Sehun menatapnya dengan kedua tangan terlipat di dada. "Pokoknya besok saat pembukaan, aku baru akan membuka lukisan ini," Sehun berhenti sebentar untuk menuding Baekhyun dengan jari telunjuk. "Dan kau, jangan berani-berani membukanya,"

"Sialan," balasnya, memukul jari Sehun yang nyaris menyentuh hidungnya. "Aku tak akan lihat, seperti penting saja," dengusnya acuh, kembali berjalan menjauh untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.

"Oh ya, Baekhyun. Apa besok Chanyeol datang?"

Baekhyun mengernyit. "Kenapa kau peduli?" Baekhyun menoleh sedikit, memasang ekspresi wajah kesal.

Sehun hanya mengangkat bahu acuh. "Hanya bertanya," ia nyaris berteriak.

Baekhyun hendak bersuara lagi, tapi ponselnya yang bergetar riuh membuat perhatiannya fokus. Nama Chanyeol tertera dilayar. Dengan satu senyuman singkat, cepat-cepat ia mengangkat panggilan itu. "Ya?"

"Baekhyun kau dimana?" tanya Chanyeol di seberang sana dengan suara serak khas orang yang baru saja terbangun dari tidur.

Kekehan ringan keluar dari bibir Baekhyun. "Sudah di kampus, maaf tak membangunkanmu," bisiknya.

"Aku mencarimu kemana-mana," balas Chanyeol dan Baekhyun hanya tertawa renyah. "Sibuk hari ini?"

"Well, yah begitulah," Baekhyun setengah tersenyum, mencoret-coret kanvasnya asal. "Kau datang besok? Sehun menanyakan itu," ia setengah berbisik.

Chanyeol setengah tertawa. "Entahlah, sepertinya ada pekerjaan yang harus kuselesaikan besok,"

Tanpa sadar, Baekhyun mendesah ringan –sedikit merasa kecewa dengan jawaban Chanyeol. "Kau memang sedang sibuk, bukan masalah,"

"Sampaikan salamku pada Sehun,"

Baekhyun mendengus malas. "Ya, Chanyeol," balasnya ringan, kemudian mematikan sambungan telepon.

Dan Baekhyun sama sekali tak bisa menelan kekecewaannya karena Chanyeol tidak akan hadir diacara yang sudah lama ia siapkan. Baekhyun sudah merancang konsep pamerannya selama satu tahun, bekerja keras dengan banyak orang, dan meluangkan waktu untuk mengerjakan ini. Harusnya Chanyeol datang untuk sekedar melihat acara pembukaan pameran tahunan itu.

Setidaknya hanya sekedar memberi dukungan moral padanya.

Tapi nyatanya, pria itu terlalu sibuk hingga tak bisa meluangkan waktunya untuk Baekhyun. Bahkan Chanyeol tak pernah bertingkah manis seperti pria-pria lain. Chanyeol hanya berperilaku manis saat akan mendurinya saja.

Brengsek.

Masih sedikit mendengus sebal, Baekhyun kembali fokus pada pekerjaanya. Mengabaikan Sehun yang sudah duduk di depannya –berniat membantu sebenarnya. "Chanyeol tak akan datang," ucap Baekhyun dengan malas, tanpa memandang Sehun.

Sedangkan Sehun hanya menatapnya aneh, perlahan mengangguk beberapa kali melihat tingkah Baekhyun yang mendadak berubah.

.

.

Sejak semalam Baekhyun tidak pulang ke apartemen Chanyeol, gadis itu pulang ke apartemennya sendiri untuk mempersiapkan pamerannya hari ini. Chanyeol menghubunginya beberapa kali tapi Baekhyun terlalu sibuk untuk mengangkat panggilan itu –atau terlalu malas untuk peduli.

Chanyeol sudah sedikit menggoreskan kekecewaan dalam hatinya.

Pagi menjemput, bahkan matahari belum menyalurkan panas ke bumi, Baekhyun dan teman-temannya yang lain sudah berada di kampus untuk mempersiapkan pameran tahunan. Butuh waktu berjam-jam untuk menata aula luas agar tampak menakjubkan.

Hari masih terlalu awal, tapi energi Baekhyun sudah banyak berkurang.

Tinggal beberapa menit sebelum pameran seni resmi dibuka, aula itu sudah ramai orang. Baekhyun tak menghitung banyaknya, hanya saja, dengan sekali lihat, itu mencapai ratusan kepala. Setelah sibuk menyapa beberapa kenalan, Baekhyun memutuskan untuk bersiap-siap juga.

Ia harus mendengarkan pidato pembukaan dari Sehun.

Meskipun Baekhyun benci mendengar Sehun bicara di atas podium dengan suara yang menurutnya sumbang, tapi sebagai bentuk penghormatan, ia harus mendengarkan itu sampai habis. Jadi Baekhyun berdiri di barisan depan, berbaur dengan orang-orang yang hadir.

Mencoba mendengarkan bualan Sehun tentang kerja keras dan pentingnya bekerja sama.

Baekhyun mengambil ponselnya yang bergetar dari saku celana, nama Chanyeol tertera disana. Pria itu menelepon puluhan kali hari ini dan sepertinya Baekhyun tak lagi memiliki alasan untuk mengabaikan panggilan itu.

Jadi dengan satu tarikan napas, Baekhyun menerimanya.

"Ya, Chanyeol," ucapnya setengah berbisik.

"Kau dimana?"

Baekhyun mengernyit bingung. "Ini pembukaan pameranku, ingat?" ia sedikit meninggikan suaranya, benar-benar kesal mendengar pertanyaan bodoh itu.

Suara Chanyeol terkekeh ringan di seberang sana. "Sehun sudah menyelesaikan pidatonya?"

Baekhyun mengerutkan kening bingung, menatap Sehun yang mulai bicara tentang karya seni popular. "Apa maksudmu?" tanya Baekhyun.

"Tunggu sampai Sehun selesai bicara," ucap Chanyeol.

Baekhyun menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa bingung. "Chanyeol, apa yang–,"

Dan ucapan Baekhyun terpotong saat ia mendengarkan namanya disebut melalui pengeras suara. Ia sedikit terkejut saat Sehun memanggilnya, kemudian jemari pria itu menunjuk kearahnya, membuat semua orang memandangi Baekhyun juga. Canggung, Baekhyun tersenyum dan membungkukkan badan untuk memberi salam.

"Byun Baekhyun, dia ada orang yang berjasa membuat pameran ini," Sehun berhenti sebentar. "Beri dia tepuk tangan yang meriah,"

Kemudian telinga Baekhyun bisa menangkap suara gemuruh dari aula. Ia tersenyum malu, menggumamkan kata terima kasih sambil membungkukkan badan kikuk. Dalam hati sudah menyusun rencana untuk mengkuliti Sehun karena mempermalukannya di depan umum seperti ini.

Baekhyun tak suka menjadi pusat perhatian.

"Dan beruntungnya, aku membuat persembahan khusus untuknya. Well, sebenarnya ini permintaan seseorang," kata Sehun setengah bercanda, membuat banyak orang yang datang sedikit tertawa mendengar itu. "Ada seorang pria yang menggilai Nona disana itu," ia menunjuk Baekhyun lagi, gadis itu membuka bibir. "Memintaku untuk melukisnya dengan cantik," ucap Sehun dengan kekehan ringan.

Sehun sedikit berjalan ke depan, mendekati lukisan besar yang ia bawa kemarin. Dengan sebelah tangan, Sehun menarik kain putih yang menutup lukisan itu –sebuah lukisan yang membuat Baekhyun menganga, mendadak saja kehilangan dunianya.

Baekhyun melihat gambar dirinya dalam kanvas itu, berwarna-warni, dengan corak khas goresan tangan Sehun yang sangat ia kenal dengan baik. Sosoknya sedang duduk bersila di lantai, memegang beberapa kuas dan cat berwarna cerah. Rambut fawn-nya yang agak berantakan tergelung rapi ke atas dan ia tersenyum dalam lukisan itu. Sebuah senyum manis penuh kebahagiaan yang nyaris membuatnya terlihat seperti sedang menutup mata.

Sehun menggambarkannya begitu indah, begitu cantik, hingga Baekhyun sendiri tak yakin itu dirinya.

Tepuk tangan gemuruh kembali menyapu pendengaran Baekhyun, begitu pula dengan pujian tipis pertanda kagum yang keluar dari bibir orang-orang itu. Masih mematung seperti orang bodoh, Baekhyun bisa merasakan rona hangat mulai menjalari pipinya.

Sambil dalam hati berharap semoga wajahnya tidak semerah tomat busuk sekarang.

"Byun Baekhyun," panggil Sehun, seolah sadar dari lamunannya, Baekhyun menatap pria itu. "Park Chanyeol memintaku melukismu, ini darinya, bukan dariku. Jadi jangan salah paham," Sehun sedikit tertawa dan membuat semua orang berdecak kagum dengan itu.

Baekhyun menelan ludah kasar, tanpa sadar jantungnya berdetak lebih cepat saat mendengar nama Chanyeol keluar dari bibir Sehun –otomatis melalui pengeras suara.

"Ini adalah gambaran dirimu saat pertama kali Park Chanyeol melihatmu," Sehun berhenti sebentar untuk tertawa. "Dan saat pertama kali Park Chanyeol jatuh cinta pada Byun Baekhyun," ucap Sehun final, diiringi oleh tepuk tangan orang-orang yang semakin riuh.

Baekhyun nyaris tersentak, terlebih saat ia melihat sosok Chanyeol yang jauh membaur dalam kerumunan. Pria itu tersenyum lebar, kemudian melambaikan tangan padanya. Jantung Baekhyun berdetak tak karuan saat melihat pria itu perlahan berjalan mendekat –ia sudah tidak mempedulikan Sehun yang memulai pembukaan pameran.

Baekhyun tak mempedulikan orang-orang yang berjalan lalu-lalang melewatinya untuk menikmati lukisan-lukisan di dalam aula itu. Ia kehilangan dunianya sekarang.

Rasanya seperti mimpi.

Chanyeol melambaikan tangannya lagi, mengisyaratkan pada Baekhyun agar mengikutinya. Dan dengan langkah kaku, perlahan, Baekhyun mengikuti Chanyeol menuju backstage. Mengabaikan detak jantungnya yang menggila karena semua kejadian ini.

Baekhyun sama sekali tidak menyangka Chanyeol melakukan ini untuknya.

"Baekhyun," panggil Chanyeol saat Baekhyun sampai, pria itu sudah menunggunya di backstage dengan cengiran lebar

"Well, sial," ucap Baekhyun dengan senyum lebar, setengah berlari keaarah Chanyeol untuk memeluk pria itu erat-erat. Chanyeol terkekeh ringan, sedikit mengangkat tubuh Baekhyun untuk memutar-mutarnya di udara, membuatnya terkikik geli.

"Maaf aku tak bisa memberimu bucket bunga atau makan malam romantis untuk menyatakan cinta, itu bukan gayaku," guraunya di balik bahu Baekhyun.

Baekhyun tertawa renyah, menarik wajahnya agar bisa memandangi Chanyeol lekat-lekat. "Brengsek," ucapnya dengan kekehan ringan. "Itu lebih dari cukup, bodoh," senyumnya mengembang lagi.

Chanyeol tertawa, sedikit mengangkat tubuh Baekhyun agar ia bisa melihat wajahnya lebih jelas. "Apa yang Sehun katakan itu benar. Aku menyuruhnya melukismu. Sosok dalam lukisan itu adalah sosok yang kulihat untuk pertama kali dengan jantung berdegup cepat dan ya, aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu, Byun Baekhyun," Baekhyun tersenyum lebar mendengar ucapan Chanyeol yang terdengar sangat manis.

"Ya, aku mencintaimu juga, brengsek," Baekhyun menangkupkan kedua tangannya pada wajah Chanyeol, kemudian meraup bibir pria itu dengan bibirnya.

Menciumnya dengan sungguh-sungguh, mengabaikan dunia disekitar mereka, Baekhyun sama sekali tak peduli. Hanya ada Chanyeol, didepannya, dipelukannya, terasa pada ujung lidahnya. Semua tak lagi penting saat Baekhyun menemukan prioritasnya. Ia hanya ingin merasakan rasa manis Chanyeol yang sudah menjadi candu untuknya, Baekhyun tak ingin lepas dari candu itu.

Sama sekali tidak.

Seolah dunia disekitarnya mengabur, seolah waktu berhenti, Chanyeol memenuhi pikirannya –dan hatinya.

Juga, semua resahnya tentang perasaan Chanyeol, tentang keputusannya untuk mencintai pria itu atau tidak, menguap entah kemana, melebur menjadi satu dalam ciuman manis yang memabukkan.

Semua terasa lebih indah sekarang.

Bagi keduanya.

.

.

.

TBC

.

.

Semakin dekat menuju END semoga masih aja ada yang nungguin cerita ini. Memang cerita ini konfliknya dikit, tidak rumit, FF sederhana, seneng-seneng aja, jadi semoga tidak mengecewakan. BTW kapan ya Author digituin kaya BBH jadi pengeeeen~~~ /APASIH/

Oh ya, untuk jadwal update lolipopsehun bisa check bio~ sudah dijelaskan semuanya disana silahkan dibaca dulu.

Author masih menerima request ide cerita dari readers tapi jangan lupa kasih plot juga. Nanti PM aja~

Seperti biasa, Author minta kritik, saran, dan komentar di kolom review ya~

Hari ini lolipopsehun update 4 FF sekaligus, silahkan dibaca juga kalo ada yang minat baca.

Sekian dulu, terima kasih sudah menunggu, membaca, dan juga jangan lupa mereview ya~

Sampai jumpa dichapter depan.

With love,

lolipopsehun