Baekhyun tak bisa menghitung sudah berapa lama berlalu sejak Chanyeol menayatakan perasaannya secara serius dan membuatnya nyaris kehilangan kata-kata karena ulah pria itu sama sekali tak terduga. Sekarang, tanpa ada setitik keraguan pun dalam hatinya, Baekhyun seratus persen yakin tentang perasaannya pada pria itu –juga tentang perasaan Chanyeol padanya.
Seolah kabut kemunafikan –dimana mereka menyembunyikan perasaan masing-masing dalam diam– sudah memudar dan benar-benar hilang.
Ia selalu senang menghabiskan waktu bersama Chanyeol, selalu senang saat pria itu memujanya, mengungkapkan semua perasaan cinta tanpa bosan mendengarnya, Baekhyun menikmati itu semua. Sulit untuk percaya ini, bahkan Baekhyun senang harus bertengkar dengan Chanyeol karena masalah tidak penting. Semuanya bersama Chanyeol terasa sangat indah.
Melebih-lebihkan memang, tapi Baekhyun sudah lama tidak merasakan sensasi menakjubkan jatuh cinta.
Dan Chanyeol datang padanya pada waktu yang tepat, dengan cara yang sesuai.
Bicara tentang pernikahannya dengan Chanyeol, Baekhyun masih tidak tau. Memangnya apa yang bisa seorang gadis lakukan selain menunggu pinangan dari seorang pria. Jadi mungkin hanya Chanyeol yang tau kapan mereka akan melangsungkan janji suci pernikahan itu.
Benar memang Chanyeol sudah mengajaknya menikah sebanyak ribuan kali, tapi pria itu tidak pernah serius saat mengatakanya.
Sedangkan hari ini adalah hari terakhir Baekhyun menyandang status sebagai mahasiswa, besok hari yang penting dalam hidupnya. Upacara kelulusan. Sungguh, demi apapun, Baekhyun sudah menantikan saat-saat ini, dimana ia akan benar-benar terbebas dari kungkungan kampus yang menyesakkan.
Sama speerti hari-hari sebelumnya, Baekhyun masih berada dalam apartemen Chanyeol. Semenjak hubungan mereka menjadi jelas arahnya, Baekhyun jarang pulang. Tentu saja, ia harus berusaha sebisa mungkin agar Chanyeol tidak membuatnya hamil.
Hamil sebelum kelulusan adalah berita buruk. Lagipula Baekhyun masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu, membayangkannya saja Baekhyun tak pernah.
Sore ini, Baekhyun masih sibuk menyiapkan gaun yang akan ia kenakan untuk upacara kelulusannya besok. Sementara Chanyeol masih mondar-mandir di depan televisi sambil membaca tulisan dalam kertas yang ia pegang –dengan suara yang cukup berisik.
Chanyeol masuk dalam lulusan terbaik tahun ini, dan pria itu harus memberikan speech penuh bualan besok di depan seluruh mahasiswa. Chanyeol sedikit beruntung karena hanya akan berbicara di depan teman-teman sebaya, bukan di depan dewan kampus yang mengerikan.
Meskipun begitu, tetap saja Chanyeol tak boleh membuat kesalahan yang mungkin akan membuat semua orang tergelak mengejeknya.
"Sudahlah, Chan. Mau sampai kapan kau membaca kertas itu?" rengek Baekhyun, gadis itu bermalas-malasan dengan berbaring di atas sofa sambil memainkan ponsel, sedikit kesal karena Chanyeol begitu berisik.
Chanyeol mendengus ringan, memandangi Baekhyun dengan tatapan kesal. "Aku tidak bisa ingat apa yang kulakukan selama masa kuliah,"
"Itu karena kau sering meninggalkan kelas dan pergi mencari uang,"
"Kau benar," Chanyeol menyetujui. Pria itu menyerah dan duduk di samping Baekhyun.
Tanpa ijin dan tidak sopan, Baekhyun mengangkat kakinya ke atas paha Chanyeol. Bibirnya tertawa mengejek sementara jemari lentiknya masih bermain-main di atas layar ponsel –memainkan sesuatu yang menurut Chanyeol tidak penting.
"Sepertinya ada yang salah dengan otakmu, Chan," ucap Baekhyun dengan kekehan ringan, pria itu mengangkat alis bingung. "Selama ini diotakmu hanya ada pikiran kotor, bagaimana bisa mereka memberikan predikat lulusan terbaik padamu?"
"Sial," umpatnnya tipis. Chanyeol melebarkan kaki Baekhyun sedikit kemudian merangkak diatas tubuh gadis itu –membuatnya sedikit terkesiap dan mengabaikan permainan diponsel. "Pikiranku kotor itu karenamu," balanya, sedikit menundukkan tubuh untuk mengecup bibir Baekhyun.
Baekhyun mendengus malas, mendorong dada Chanyeol agar tidak terlalu dekat dengan tubuhnya. Pria itu tersenyum manis, memandangi mata Baekhyun yang sedang menatapnya juga. Jemari gadis itu sedikit bermain-main di wajahnya, dan Chanyeol sangat suka bagaimana sentuhan kulit Baekhyun terasa menyenangkan.
"Chan, apa kau tidak bosan denganku?" tanya Baekhyun, senyum lenyap dari bibirnya. Dan wajah gadis itu tiba-tiba saja diliputi keseriusan yang jelas.
Chanyeol mengernyit, sedikit tidak paham dengan apa yang gadisnya tanyakan. "Apa maksudmu, Byun?"
Desahan lembut keluar dari bibir Baekhyun. "Kau tau kan, aku sudah memberikan semuanya padamu. Kita sudah tinggal bersama. Kau tau apa yang buruk dariku apa yang baik dariku, kau sudah mengenalku sangat jauh Chanyeol. Aku hanya takut suatu saat nanti kau akan bosan denganku," sama sekali Baekhyun tidak bisa menyembunyikan wajahnya sendiri yang terlihat khawatir.
Chanyeol terkekeh ringan, menyapukan jemarinya yang hangat pada wajah Baekhyun, membelai wajah cantiknya dengan lembut dan penuh perasaan. Bibirnya kembali menemukan bibir Baekhyun, mengecupnya dengan sangat pelan, menyentuhnya seolah itu adalah barang pecah belah yang rapuh. Kemudian melepaskan ciuman manis itu.
Mata Chanyeol berbinar-binar saat memandang Baekhyun yang sedikit terkesiap dibawahnya. "Aku mencintaimu, Baekhyun. Sampai kapanpun akan seperti itu, tak akan ada yang berubah dari itu," kembali, jemarinya membelai wajah Baekhyun.
"Jangan meninggalkanku, Chanyeol," gadis itu sedikit tersipu malu saat mengatakannya.
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu, sayang, tak ada yang perlu dikhawatirkan," suara Chanyeol terdengar mengalun, begitu menghipnotis. "Aku mencintaimu, sangat," tambahnya.
Dan Baekhyun tersenyum, hatinya menghangat saat Chanyeol kembali menciumnya. Bukan lagi ciuman manis, ini adalah ciuman Chanyeol yang sering ia rasakan. Penuh sensasi menakjubkan, penuh gairah dan kebutuhan.
Baekhyun mendorongnya lebih kuat, membuat pria itu melepaskan ciumannya dengan malas. "Chanyeol, tunggu," ia sedikit terengah. "Jangan lakukan ini,"
"Kenapa?" protesnya langsung. "Jangan merusak suasana, Baekhyun," ia mendengus malas dan Baekhyun tertawa.
"Besok adalah hari penting,"
Chanyeol mendengus lagi. "Aku tidak akan menidurimu semalaman, aku tidak akan meninggalkan tanda apapun, janji," bisiknya setengah memohon, dan Baekhyun masih tampak menimang-nimang. "Ayolah Baekhyun, kau sudah menghindariku lebih dari satu minggu, itu membuatku gila,"
Dan Baekhyun tertawa mendengar gurat frustasi dalam nada bicara Chanyeol. Ia menangkupkan kedua tangannya pada pipi pria itu, mengusapnya lembut. "Hanya satu kali dan jangan membiarkanku kesulitan berjalan besok,"
"Janji," balas Chanyeol menggebu-gebu, membuat Baekhyun kembaLi tertawa.
Pria itu menarik tubuh Baekhyun keatas sedikit untuk melepaskan pakaian yang melekat padanya. "Terburu-buru sekali," sindirnya, membiarkan Chanyeol menarik bajunya melewati kepala dengan satu gerakan cepat.
"Kau sering berubah pikiran dan aku tak mau mengambil resiko," lagi-lagi, Baekhyun tergelak.
"Aku tak akan menolakmu, janji," balasnya, sedikit terkesiap saat Chanyeol kembali merangkak diatas tubuhnya. Pria itu sedikit menyeringai.
Bibir Chanyeol menjelajahi permukaan tubuh Baekhyun, membelai permukaan kulit Baekhyun yang terekspos polos. BIbirnya bermain, mengecup, menjilat, menghisap tubuh gadis yang sedang berada di bawahnya itu. Chanyeol selalu berhasil membuat tubuh Baekhyun menggeliat liar, terjebak dalam sensasi memusingkan yang tak asing baginya.
Pria itu bisa mengendalikannya hanya dengan sentuhan bibir yang panas dan basah disana. Baekhyun sangat menikmati ini, selalu merasa senang saat terombang-ambing dalam sentuhan mulut panas Chanyeol pada setiap jengkal kuli tubuhnya yang polos. Berulang kali, Baekhyun seolah-olah kehilangan arah saat Chanyeol menyentuhnya, ia tak bisa menolak, tak bisa berbuat apapun untuk melindungi diri sendiri.
Baekhyun selalu menyerahkan seluruh tubuhnya untuk Chanyeol.
Dan saat jemari Chanyeol perlahan mulai tenggelam dalam tubuhnya, Baekhyun memekik, mengaungkan nama Chanyeol dengan nyaring, kemudian mengumpat tipis. Bibir pria itu beralih menciumi pahanya, sementara tangannya perlahan melebarkan kedua kaki Baekhyun. Kecupan Chanyeol perlahan naik melewati pusat tubuh Baekhyun menuju perutnya, lidah dan bibirnya yang basah bermain-main di sekitar pinggul.
"Aku tak akan meninggalkanmu," ucap Chanyeol setengah menggumam.
Baekhyun terengah-engah, merasakan gerakan liar jemari Chanyeol yang bermain di dalam tubuhnya. Erangan singkat keluar dari bibir gadis itu. "Kau tak pernah meninggalkanku," ucapnya susah payah, ia menyadari suaranya penuh permohonan.
Chanyeol tertawa, menarik kedua tangan Baekhyun dan menguncinya di atas kepala. Ia tersenyum singkat, kemudian kembali mengecup bibirnya dengan lembut. Baekhyun bisa merasakan Chanyeol begitu keras dan siap –begitu pula dengan dirinya, jadi ia membiarkan saat Chanyeol berusaha mendorongnya masuk perlahan.
Berusaha untuk menjemput kenikmatan yang selalu ia rindukan. Otak Baekhyun sudah memutar kembali memori dimana Chanyeol memenuhinya hingga sesak, mengulang lagi kejadian-kejadian menakjubkan saat tubuh keduanya menyatu.
Pekikan Baekhyun terdengar memilukan, gadis itu mengenyit dengan mata terpejam, sementara Chanyeol berusaha menyempurnakan penyatuan mereka yang begitu indah. Desisan Chanyeol terdengar penuh keputusasaan, seolah-olah pria itu menahan diri untuk tidak serta merta bergerak brutal di dalam tubuh Baekhyun –seperti yang selalu ia lakukan sebelumnya.
Chanyeol hanya tak ingin menyakiti gadisnya.
Leguhan Chanyeol menjadi pertanda bahwa pria itu sudah selesai, dan Baekhyun membuka mata. Menatap manik kecoklatan milik Chanyeol yang selalu membuatnya tenang. Mata itu seperti lautan yang menenangkan, sekaligus menghanyutkan. Sekali Baekhyun terperangkap dalam pesonanya, ia tak akan bisa keluar.
Baekhyun tersenyum, kemudian Chanyeol mengecup bibirnya dengan lembut. Perlahan, di bawah sana, Chanyeol mulai memainkan sihir yang selalu membuat Baekhyun berhasil kehilangan seluruh dunianya. Chanyeol selalu memulai dengan tempo yang bisa membuat gadis manapun memohon lebih, hanya sebentar, kemudian mulai memainkan tempo yang menghantam –yang bisa dengan cepat meleburkan pertahanan diri.
Terengah-engah, dengan tangan Chanyeol menahan tangannya di atas kepala, Baekhyun tak bisa mengendalikan desahan yang keluar dari bibirnya. Tak ada hal lain yang bisa mengambil alih pikirannya sekarang.
Hanya ada Chanyeol, pria yang sedang memberi Baekhyun manisnya rasa mencicip surga.
Tubuh Baekhyun berguncang dan bergetar saat pelepasannya melebur, menyalurkan rasa panas luar biasa membakar seluruh saraf tubuhnya hingga melingkupi Chanyeol dengan sempurna dan basah. Sedangkan Chanyeol masih bergerak di dalam sana, menunggu sesuatu yang nyaris mendekat.
Kemudian menyusul Baekhyun dengan luapan gairah panas yang membara.
Baekhyun terengah-engah, begitu pula dengan Chanyeol. Dengan cengiran bodoh, Chanyeol tersenyum, mengecup bibir gadis itu dengan lembut, kemudian melepaskan tangan Baekhyun yang sedari tadi ia cengkeram.
"Ah, brengsek," rengek Baekhyun malas, memandangi tangannya yang sedikit memerah karena cengkeraman pria itu.
Chanyeol hanya tertawa renyah, mengangkat tubuh Baekhyun yang telanjang ke kamarnya, mendadak saja ia tak lagi bingung dengan speech yang akan ia sampaikan besok. Semua tak lagi penting.
.
Malam hari, Baekhyun sudah melebur dalam lautan manusia yang berkumpul di dalam sebuah aula gedung yang cukup luas –tempatnya menggelar graduation party bersama ratusan orang. Setelah siang tadi upacara pelepasannya secara resmi dilakukan, Baekhyun sudah tidak menyandang gelar sebagai mahasiswa seni yang super sibuk.
Ia sudah bebas sekarang.
Baekhyun sibuk berbicara, tertawa-tawa dengan beberapa teman yang ia kenal, membicarakan tentang kenangan-kenangan indah saat mereka masih menjadi mahasiswa, saling mengucapkan dan menerima ucapan selamat. Rasanya sudah lama sekali Baehkyun tidak mengobrol dengan teman-temannya yang super berisik dan cerewet itu.
Tentu saja, ia sangat sibuk dan Chanyeol seolah tak ingin meninggalkannya meskipun hanya satu detik.
Bicara soal pria itu, Baekhyun hanya sempat bertemu dengannya tadi sore –sesaat sebelum acara dimulai– tanpa ada ucapan selamat karena sudah lulus. Baekhyun sempat berpikir Chanyeol tidak biasa mengucapkan hal-hal seperti ucapan selamat yang menggelikan, pria itu terlalu cuek sebenarnya.
Dan sejak sore tadi, Chanyeol harus menyiapkan speech-nya mengenai bualan-bualan kehidupan kampus yang menyenangkan. Tentu saja, pria itu sudah mendapat gelar lulusan terbaik.
Baekhyun tidak iri, hanya saja ia heran, kenapa Chanyeol bisa lulus dengan baik sementara dirinya harus berusaha hingga nyaris merangkak hanya untuk sekedar lulus.
Tidak masuk akal.
"Hey, Baekhyun. Lihat itu," ucap Luhan, salah seorang temannya. Gadis bermata rusa itu menunjuk kearah panggung dan Baekhyun mengikuti jemari Luhan.
Chanyeol berdiri disana, dengan tuxedo hitam rapi yang membalut tubuh indahnya. Wajahnya tampak begitu sempurna karena paparan sinar lampu terang. Pria itu tersenyum, menerima tepuk tangan riuh dari semua orang yang hadir. Beberapa pria di bawah panggung meneriakkan namanya seolah-olah Chanyeol akan melakukan konser.
Untuk beberapa saat, Baekhyun menyadarkan diri sendiri bahwa Chanyeol adalah pria yang begitu tampan dan sempurna.
"Selamat malam," suara Chanyeol terdengar menggelegar karena pengeras suara yang berada di setiap sudut ruangan. "Perkenalkan, namaku Park Chanyeol. Aku lulus tahun ini juga," ucapnya setengah bercanda, dan beberapa orang ikut terkekeh mendengar ucapan pria itu.
Tanpa sadar, Baekhyun tersenyum, seolah-olah dalam hatinya ada sebuah perasaan aneh yang mengatakan pria itu milikku.
"Aku tak tau apa yang harus kukatakan pada graduation party. Apakah aku harus mulai membual dengan mengatakan terima kasih pada semua orang yang kukenal? Bukankah itu kuno sekali?" dan semua orang tertawa mendengar ucapannya.
Speech macam apa ini, apa benar dia lulusan terbaik? Bodoh sekali.
Tanpa alasan yang jelas, Baekhyun sedikit merasa malu saat teman-temannya cekikikan mendengar ucapan Chanyeol. Baru saja ia bangga dengan pria itu, lagi-lagi Chanyeol bertingkah aneh.
Chanyeol tersenyum lebar. "Tapi serius, aku akan berterima kasih pada semuanya, yang mengenalku atau bahkan tidak sama sekali. Terima kasih kalian sudah membuat masa kuliahku yang membosankan ini menjadi sedikit lebih berwarna," ia terkekeh ringan. "Sebagai wakil dari lulusan terbaik aku hanya akan mengatakan satu hal. Mungkin ini penting, mungkin juga tidak,"
Oke, itu berbelit-belit, Chanyeol!
Baekhyun nyaris mengerang. "Aku malu mendengarnya," bisiknya pada Luhan, dan gadis itu hanya tertawa renyah.
"Kelulusan ini bukan akhir, ini adalah awal yang sebenarnya. Mungkin suatu saat nanti kalian akan merindukan teman-teman dan masa kuliah, tapi kalian sadar, masa-masa itu tidak akan pernah terulang lagi," ia berhenti sebentar untuk menerima tepuk tangan riuh dari orang-orang yang datang.
Oke, itu mulai terdengar benar.
"Aku yakin kalian pasti mudah sekali melupakanku," tambah Chanyeol. "Jadi untuk itu, malam ini, aku akan melakukan sesuatu yang mungkin membuat kalian semua sedikit mengingatku. Yah, walaupun mengingatku sebagai seorang yang memalukan," ia nyengir.
Apasih yang sebenarnya kau katakan, Park Chanyeol?
Tiba-tiba pandangan Chanyeol mengarah pada Baekhyun, membuat gadis itu sedikit tersentak karena lampu sorot dari panggung juga mengarah padanya. Hal itu otomatis membuat semua orang menoleh kearahnya dengan pandangan penuh pertanyaan. Jantungnya menggila, berdetak sangat cepat.
Jangan lakukan hal bodoh, please.
"Tolong bawa gadis itu kemari," ucap Chanyeol dengan satu kekehan ringan.
Dan Luhan seolah mendorong Baekhyun agar berjalan kedepan, masih dengan langkah gugup karena mendapat perhatian dari semua orang. Baekhyun menaiki tangga untuk menerima uluran tangan Chanyeol, sementara dalam hati sudah bersumpah akan membunuh Chanyeol bagaimana caranya.
Untuk kali kedua, pria itu mempermalukannya didepan umum.
Chanyeol masih menggenggam tangannya, membiarkan lampu panggung menyinari wajah Baekhyun hingga tampak lebih jelas. Menghiraukan beberapa orang yang berbisik-bisik di bawah panggung, Chanyeol tersenyum pada gadis itu sambil menyerahkan microphone.
Kau tak akan menyuruhku menyanyi, kan?
Tiba-tiba saja, Chanyeol berlutut dihadapannya, membuat Baekhyun membulatkan mata lebar-lebar –membuat semua orang mulai riuh dan tepuk tangan bisa ia dengar dengan jelas. Chanyeol tersenyum, menatapnya dengan wajah berseri-seri.
"Byun Baekhyun, biarkan semua orang yang hadir disini menjadi saksi," suara Chanyeol terdengar lantang. "Aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang kulihat saat membuka mata. Aku ingin kau menjadi orang terakhir yang kulihat saat menutup mata," ruangan itu mendadak saja menjadi sangat riuh. "Aku ingin kau menjadi pelabuhan cintaku yang terakhir. Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku ingin kita menua bersama, Byun Baekhyun,"
Apa kau bilang?
Oke, Baekhyun bernapas. Bernapas.
Baekhyun nyaris tak bisa menemukan dunianya, terlebih saat Chanyeol mengeluarkan sebuah kotak berwarna perak dari saku celananya. Membukanya perlahan hingga Baekhyun bisa melihat kilap indah sebuah cincin berwarna silver.
Ini gila.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun," ia berhenti sebentar untuk tersenyum pada gadis itu, sementara Baekhyun membeku. "Will you marry me?" Chanyeol mengulurkan tangannya kedepan, meminta tangan Baekhyun.
Dan Baekhyun bisa mendengar sorak-sorak dari seluruh penjuru ruangan. Ia kehilangan dunianya, ini benar-benar mengejutkan. Rasa malu dan gugupnya seolah lenyap begitu saja, digantikan oleh perasaan bahagia yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Jantungnya berdetak sangat cepat, tapi ini sensasi mendebarkan yang lain.
Baekhyun tersenyum, perlahan mendengar teriakan dari orang-orang yang menyuruhnya menerima lamaran Chanyeol –dan tentu saja, bagaimana ia bisa menolak ini. Gadis itu meraih tangan Chanyeol yang terulur padanya, senyumnya merekah.
"I do," ucapnya melalui microphone, membuat semua orang yang berada disana bertepuk tangan riuh dan meneriakkan ucapan selamat.
Chanyeol tersenyum, mengambil cincin dari kotaknya dan menyematkan itu pada jemari Baekhyun. "Aku mencintaimu," bisiknya.
Dan Baekhyun balas tersenyum. "Aku mencintaimu," balasnya.
Chanyeol menarik tubuhnya untuk berdiri tegak, matanya memandangi Baekhyun dengan pandangan penuh rasa sayang, penuh pemujaan, berbinar-binar seolah itu kali pertama Chanyeol melihat hal yang paling berharga dalam hidupnya.
Bibir pria itu menemukan bibirnya, menghiraukan ratusan pasang mata yang memperhatikan, Chanyeol mencium Baekhyun di depan umum. Membuat jantung Baekhyun berdegup menggila saat ciuman lembut Chanyeol seolah membuatnya kehilangan dunianya –sekali lagi.
Tapi Baekhyun bersyukur.
Tentang rasa kagumnya pada tubuh Chanyeol.
Tentang peran penuh kepura-puraan saat menjadi kekasih Chanyeol.
Dan juga tentang perasaan kagum yang berubah menjadi cinta, Baekhyun bersyukur ia memiliki semua perasaan itu.
Baekhyun bersyukur karena itu Chanyeol.
Pria yang Tuhan kirim untuk menemani Baekhyun menghabiskan sisa hidup.
Pria yang tepat.
Pria yang Baekhyun cintai.
Park Chanyeol.
.
.
END
.
.
SEQUEL? READ BELOW!
.
.
Akhirnya selesai juga FF yang sudah sangat lama ini. Author mengucapkan terima kasih buat semua yang sudah membaca dan mereview LOVE YOUR BODY. TERIMA KASIH BANYAK ATAS DUKUNGANNYA. Semoga ini FF tidak mengecewakan ya readers semuanya, memang dari awal ini FF dengan cerita sederhana /konflik dikit nyaris tidak ada/
Kalau ada yang mau sequel nanti dibikinin paling cuma buat nyeritain marriage life-nya CB sama juga kehidupan dunia kerjanya /jangan minta konflik, FF berkonflik uda banyak punya lolipopsehun, hehehe/ ADA YANG MAU SEQUEL? MAU KASIH SARAN BUAT SEQUEL? BOLEH~
CERITA PENGGANTI FF INI? PAIRING CHANBAEK? UDAH ADA DOOOONG~ NANTIKANLAH SAJA SEMUANYA /huehuehuehue/
Jangan lupa review ya semua, masih ditunggu reviewnya, hehe.
AKHIR KATA, terima kasih sudah menantikan kelanjutan cerita ini dari awal sampai akhir, lebih kurangnya mohon maaf.
With love,
lolipopsehun
LOVE YOUR BODY – END
Today update on 8 PM dark eagle's eyes, hunhaneffects, baby aery HHS, pupuputri92, kacangpolongman, oh lana, baekbychuu, purflowerian, parkayoung. Please kindly check their stories too~
