.
.
.
.
"Sudah kubilang jangan bergaul dengan begundal sialan itu kan?"
Sanji menutup telinganya rapat-rapat, dia menyumpalkan earphone yang volumenya sudah dibuat sekeras mungkin sehingga dia tidak perlu lagi mendengarkan ocehan sang kakak yang lebih tua setahun darinya itu.
"Gimana kalau tadi aku nggak datang, hah? Bocah karet kurang ajar itu pasti tidak akan membiarkanmu pulang!"
"Tsk!" Sanji mendesah.
Ini sudah hampir 3 jam Ichiji menceramahinya tanpa henti. Emang kadang Sanji sendiri sebal dengan fakta kalau Ichiji itu bisa menjadi orang yang jauh lebih cerewet dibandingkan kakak perempuannya yang paling tua.
Tidak mau mendengarkan ocehan si pria berambut merah itu, Sanji yang memang masih berbaring di kasur dengan songong langsung membalik badannya. Membelakangi Ichiji yang tengah berdiri di ambang pintu. Satu tangannya dengan cepat meraih bantal untuk menutupi seluruh kepalanya.
"Hei! Apa itu!" bentak Ichiji.
"Tiga jam lewat dua belas menit. Apa kau nggak capek berdiri dan mengoceh terus? Keluar sana! Aku mau tidur! Besok aku harus berangkat lebih pagi karena ada kelas olahraga!"
"Ck! Adik sialan! Aku tidak mau tau lagi kalau nanti bocah karet itu mengganggumu."
Sanji memutar matanya malas. "Iya. Biarkan saja, toh aku nggak pernah meminta bantuan padamu kan? Pergi sana kuso Ichi! Dan jangan lupa tutup pintunya!"
Ichiji yang melihat adik ke-tiganya seperti itu hanya bisa menggeleng lalu melangkah pergi dari sana.
"Ng? Kamu ngapain berdiri di sana, Ichiji? Ngintipin Sanji?" Tanya sosok berambut biru yang baru saja menaiki tangga dengan santainya.
Ichiji langsung berbalik kesal sembari melipat kedua tangannya, wajahnya serius tapi masih bisa terbilang santai.
"Konyol! Bicara omong kosong lagi akan ku robek mulutmu." Tukasnya sembari memberikan deathglare penuh tatapan jijik yang hanya dibalas tawa penuh ledek dari yang bersangkutan.
"Sepertinya bocah Topi Jerami itu benar-benar membawa pengaruh buruk buatnya. Dia bahkan benar-benar tidak mau mendengarkanku."
"Heeehh...?" Pemilik surai biru mengangkat alisnya. "Kamu menceramahinya lagi?"
Niji bertanya agak mengejek, pasalnya, dia tahu betul kalau saudara kembarnya yang tidak terlalu banyak bicara itu akan jauh lebih cerewet dibandingkan Reiju ketika sudah membuka mulutnya. Niji sendiri pernah merasakan yang namanya dinasehati, lebih tepatnya, diceramahi satu harian full oleh Ichiji ketika dirinya mendapat nilai jelek saat ujian.
Dan dari sekian panjang kali lebar ocehan Ichiji kala itu, hanya satu kalimat yang dapat Niji tangkap sebagai inti ceramah satu harian full tersebut, "Nilai adalah harga diri." Itupun karena si Roaster merah kian mengucapkannya berulang kali.
"Terus menurutmu aku harus gimana? Membiarkan dia tetap bergaul dengan begundal itu?"
Kali ini Niji mendengus, karena kalau dia tetap meladeni Ichiji pasti akan terjadi ceramah seharian full episode 2 dalam hidupnya. Maka dari itu dia hanya mengangkat bahu acuh sebagai respon lalu melangkah ke kamar Sanji.
Di sisi lain, Sanji kembali menekuk wajah betenya ketika pintu kamarnya kembali dibuka, dan kali ini menampilkan sosok Niji. Kakak keduanya yang merupakan kembaran dari Ichiji. Pemuda surai biru itu menyeringai lebar sembari melangkah masuk dan mendudukan dirinya di pinggir ranjang.
"Kalau kau kemari untuk mengoceh, silahkan keluar."
Baru juga bokongnya menempel dengan kasur, Niji sudah disambut hardikkan kesal dari adik pirangnya.
Niji sih tidak menggubris hardikkan itu. Dia malah mengeluarkan smartphonenya dan dengan santai memainkan game dengan volume keras, membuat ruangan kamar yang tadinya sunyi mendadak bising.
*PLAKKK
Tamparan kuat mendarat di kepala jabrik Niji. "KALAU MAU BERISIK DI KAMARMU SANA KONOYARO!"
"Ow ow... kau lagi PMS hah?" Kali ini Niji ikut tersulut karena Sanji main kasar duluan.
"Kau yang mengganggu ku sialan!"
"APA?! DARI MANANYA AKU MENGGANGGUMU BOCAH TENGIK?! AKU LAGI DIAM KAU TIBA-TIBA MEMUKULKU!"
Pembuluh vena kekesalan mencuat di pelipis Sanji lengkap dengan satu tangannya yang kini reflek menyambar kerah baju Niji.
"BRENGSEK! KOK MALAH JADI KAU YANG NGE-GAS HAH, SIALAN?"
Benar-benar, saat ini Sanji sangat INGIN memancung sosok pria dengan poni biru mencuat panjang alay miliknya itu.
Apa nggak bisa gitu ya kakak-kakak sialannya tersayang membiarkannya tenang sedikit? Kerjaannya menggangu saja! Bentar-bentar kepo, bentar-bentar ceramah, bentar-bentar rese. Udah kayak netijen kurang kerjaan yang demen cari berita hoaks buat disebar di grupchat ibu-ibu buat digibah.
"OI, OI, APAAN NIH TARIK-TARIK? AKU NGGAK CARI GARA-GARA DENGANMU, KENAPA KAU TIBA-TIBA MARAH?! KAU PMS BENERAN APA YA?!"
"SIAPA YANG PMS HAH BAJINGAN?! SADAR DIRI KAU SIAL, INI KAMARKU! NGGAK BISA YA KAU MAIN GAME DI KAMARMU?!"
"AC KAMARKU MATI TAU! AKU NGGAK BISA MAIN DI RUANG TAMU KARNA ADA REIJU!"
"DERITAMU ITU SIALAN! MINGGAT SANA! KAU KAN BISA NUMPANG DI KAMAR YONJI!" sangking dongkolnya Sanji melayangkan tendangan ke arah bokong Niji yang mau nggak mau akhirnya melangkah keluar.
"Haarrgg! Mau di rumah ataupun di sekolah, aku tetap gak bisa memiliki ketenangan jiwa!"
.
.
.
.
.
Kediaman Keluarga Monkey,
Sore ini, Ace dan Sabo dibuat kebingungan oleh adik angkat mereka.
Pasalnya sedari awal mereka pulang sekolah sampai saat ini, Luffy tidak henti-hentinya uring-uringan. Dimulai dari berguling sana-sini, mencak-mencak gajelas, teriak-teriak sembari menjambaki rambutnya, dan akhirnya pundung dipojokan dengan segunung makanan.
Risau melihat tingkah bodoh adik angkatnya itu, Ace melayangkan slapetan maut ke kepala Luffy.
*TEPLAAKK
"Ngapain kau mencak-mencak gajelas macam cacing disiram garam gitu hah?!" bentaknya.
Sebelum Luffy sempat membalas tampolan Ace tadi, Sabo sudah terlebih dahulu memberikan tamparan ke kepala Ace dengan sandal jepit berbulu miliknya.
*SEPLAKKK
"Jangan terlalu kasar dengannya BEGO!" sekarang Ace malah dibentak balik oleh Sabo. "Apa kau berniat membuat otak adik bungsu kita ini semakin dungu?!"
"Y-ya maap..."
Ace lalu melirik Luffy yang sudah kembali fokus dengan makanannya lagi.
"Hei, Little Bro, ada apa denganmu?" Kali ini Ace bertanya dengan santai, ia berjongkok disamping Luffy dengan satu tangan merangkul bahu adik angkatnya itu.
"Apa seseorang membuatmu kesal? Apa ada yang mencuri makananmu? Katakan saja, siapa orangnya biar kuhajar dia." Sambungnya.
"Oh ya, Luffy, tadi siang aku tidak melihatmu pulang bersama Sanji, Apa kalian sedang bertengkar?" celetuk Sabo.
Luffy yang mendengar nama Sanji disebut- langsung tersedak makanannya sendiri. Dia terbatuk-batuk sampai wajahnya membiru.
Ace dan Sabo kompak mengangkat kedua alis mereka. Melihat Luffy yang salah tingkah begitu, membuat Ace dan Sabo jadi saling bertatapan cukup lama. Pasalnya baru pertama kali ini mereka melihat adik mereka yang amat sangat periang itu tiba-tiba menjadi sosok yang diselimuti aura kegalauan.
"Hei kau... bocah karet..."
Ace menarik satu tangan Luffy sementara sabo memegang satu tangan Luffy yang lain.
"Duduk sini. Bilang pada kami apa yang sebenarnya terjadi"
Keduanya memaksa Luffy untuk duduk di sofa sementara Luffy seolah-olah ingin melarikan diri dari dua tackle-an abang-abangnya itu.
Melihat Ace yang memang bad temper akut dan sepertinya bakal menampol Luffy lagi untuk membuat bocah karet itu menurut, Sabo akhirnya menghela nafas.
"Oooh, hai Sanji-" celetuk Sabo asal.
"UHUK—UHUK UHUK—UHOK, OHOK, OHOK-HKKHH-"
Luffy sukses tersedak untuk yang kedua kalinya.
"Nah kan... jadi kau mau cerita atau nggak?"
Luffy akhirnya memilih untuk duduk. Dia menatap Sabo yang sekarang berdiri di depannya dengan kedua tangan tersanggah di pinggang.
"Ambilkan ayam gorengku dulu, aku gak bisa cerita kalau perutku lapar"
Tampolan kedua menghantam kepala Luffy. Ace yang melakukannya.
"Akh sial, anak ini..." meski terkesan gak ikhlas, Ace tetap bergerak mengambilkan ayam goreng tersebut untuk si bungsu satu itu.
Luffy menerima piring berisikan enam paha ayam goreng dan langsung menggigit salah satunya.
"Jadi... begini... em... dari mana aku harus memulainya ya?"
"Haaahh..." kedua Ace maupun sabo kompak memutar mata kesal.
"Ceritakan aja apa yang saat ini ada dikepalamu!"
.
.
.
TBC
