BRAK!
Yuri Plisetsky menendang pintu sekeras-kerasnya dan meluapkan amarahnya pada pintu toilet yang tak berdosa itu. Victor seenaknya saja melenggang pergi dan membuatnya jadi pusat perhatian karena memenangkan medali emas di kelas figure skater junior. Remaja yang sedang memasuki masa pubernya itu mengernyitkan dahi dalam-dalam karena harus memiliki senior yang suka seenaknya dan sok tampan padahal rambutnya sudah abu-abu semua; seperti Yakov yang sudah kakek-kakek.
Padahal Yuri tahu bahwa warna rambut Victor memang abu-abu keperakan.
"Hiks …"
"Siapa?"
Yuri dapat mendengar suara dari salah satu bilik toilet. Ia sadar bahwa ia tidak sendiri di dalam ruangan sempit itu. Suara tangisan menjadi pembuka sebelum Yuri sadar bahwa ada satu bilik kamar mandi yang tertutup.
"Oi, jangan main-main, buka pintunya! Aku tidak takut jika kau berniat mengerjaiku."
"T-Tolong … kumohon, siapapun."
Suara lemah itu menjadi penutup sebelum Yuri Plisetsky kembali menendang pintu, dan kali ini cukup kuat untuk membuat kunci pintu toilet itu rusak. Pemandangan berikutnya adalah hal tidak pantas yang kadang Yuri lihat dalam spam ads beberapa situs; Victor yang tidak menggunakan celana sedang menimpa tubuh Yuuri Katsuki, seorang figure skater asal Jepang yang kini tak memakai celana juga.
"Maaf …" Yuri menutup pintu kamar mandi pelan-pelan.
"TU-TUNGGU! INI TIDAK SEPERTI YANG KAU LIHAT!" Yuuri buru-buru mencegah, namun tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Kejantanan Victor masih tertancap di analnya dan ketika bergerak, membuatnya tak berhenti melenguh.
"APA, SIH? KALAU MAU MESUM, DI KAMAR SAJA, SANA! AKU BELUM CUKUP UMUR!" Yuri membentak kesal sambil menutupi wajahnya yang memerah dengan satu tangan.
"Hhh … a-aku benar-benar butuh pertolongan, Victor … berat sekali," Yuuri berujar lirih. Mau tak mau Yuri jadi iba dan menghela nafas sebelum berusaha menolong sang omega yang juga akan menjadi rivalnya di tahun depan, karena ia akan memasuki kelas senior.
Terang saja. Yuri yang seorang beta saja bisa mencium bau manis Yuuri dari jaraknya saat ini, apalagi Victor yang seorang alpha? Tapi dari wajah Yuuri saat ini, jelas sang beta dari Russia itu tahu bahwa apa yang terjadi di sini adalah sebuah 'kecelakaan' yang tidak ia inginkan.
"M-Maaf, bisakah kau tidak menceritakan apapun pada Victor saat ia bangun nanti?"
"Eh?"
A Victor Nikiforov/Yuuri Katsuki fanfiction
AU, omegaverse
-#-
Heartbeat
[Dua: tentangmu]
-#-
Yuri! on Ice © Mitsurō Kubo
I don't gain anything from this fanfiction
Yuuri memandangi dinding kamarnya yang penuh dengan poster seorang figure skater kelas dunia; Victor Nikiforov. Punggungnya ia sandarkan ke tempat tidur sementara pikirannya menerawang jauh sekali; memikirkan tentang banyak hal—mulai dari masa depannya sebagai figure skater, hingga kelanjutan karirnya setelah ia memilih pulang dan menetap dua minggu di Hasetsu. Sedikit banyak ada sebersit rasa bersalah karena ia memilih untuk tidak melanjutkan bertanding di tingkat nasional setelah kekalahannya di grand prix final.
"Yuri!"
Yuuri sontak menoleh tatkala mendengar suara khas itu memanggil namanya.
Sayangnya ia salah.
Victor Nikiforov menyeret koper besarnya di lobby hotel, berjalan berdampingan dengan Yuri Plisetsky yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, tak sedikitpun menoleh pada Yuuri, seolah mereka tidak saling kenal. Pelatih mereka juga begitu saat tadi berpapasan dengan Yuuri. Tidak hanya pandai di atas ice rink, mereka juga pandai untuk menutup rahasia rapat-rapat dengan bermain peran. Media ada di mana-mana dan akan terlihat sangat aneh jika Yakov atau Yuri berbincang dengannya.
Yuuri terdiam. Namun rupanya hal itu menarik perhatian Victor yang langsung melambaikan tangannya.
"Mau berfoto untuk kenang-kenangan?"
Tidak. Ia belum pantas. Level Yuuri jauh sekali di bawah Victor. Berada di atas ice rink yang sama dengannya saja seolah mimpi, apalagi bisa berfoto bersama. Yuuri belum bisa melakukan itu. Apalagi setelah apa yang terjadi pada malam sebelumnya—saat Victor merenggut sesuatu yang berharga darinya karena instingnya sebagai alpha.
Yuuri berbalik dan menarik kopernya menuju ke pintu hotel. Membiarkan Victor perlahan-lahan memudarkan senyum lebarnya selagi memandang punggung Yuuri.
Ia sudah mengidolakan Victor hampir sepuluh tahun lamanya. Di usianya yang masih belia, ia melihat pemuda bersurai perak itu menari di atas es, membiarkan rambut panjangnya mengikuti gerak tubuhnya, seolah angin saja turut tunduk pada Victor saat itu. Hingga sekarang. Hingga Yuuri gagal berada di podium yang sama dengan sang idola.
Saat ia kembali setelah hampir lima tahun berada di Detroit, kedua orang tuanya tidak marah. Minako-sensei bahkan menyambutnya dengan gembira meski ia gagal berada di peringkat pertama. Begitupun Mari-nee yang sempat bertanya mengenai rencana Yuuri setelah ini.
Rencananya … ya?
Memiliki mimpi mengalahkan Victor memang rasanya tidak mungkin dan hanya orang gila saja yang akan melakukan itu.
Yuuri menghela nafas. Ia adalah orang gila itu. Impiannya berada di satu podium yang sama dengan Victor dan bahkan suatu saat nanti, ia ingin mengecup medali emasnya sendiri, mengalahkan sang juara bertahan yang menyabet medali emas di kejuaran dunia selama empat kali berturut-turut. Tahun berikutnya adalah kali kelima Victor akan menjadi juara bertahan di usianya yang ke dua puluh tujuh.
Sementara Yuuri masih terpuruk dengan kekalahannya. Menyedihkan.
Pria berkacamata itu menarik handuk dari lehernya dan mengeringkan rambutnya yang masih terasa basah. Pada akhirnya Yuuri menyeret tubuhnya menuju ke ruang tengah, tempat ayahnya tengah menghidangkan bir dan sake pada beberapa pelanggan.
Minako duduk di meja paling depan dan dekat dengan televisi. Seperti biasa, menonton acara favoritnya tentang figure skater.
"Setelah menang di tingkat internasional, Victor Nikiforov tampaknya tidak ingin menyerahkan takhtanya di tingkat nasional, padahal saat ini ia sibuk mempersiapkan exhibiton skate yang akan diselenggarakan satu minggu lagi."
Mata Yuuri langsung terarah ke layar televisi yang menunjukkan sosok sang idola; menggerakkan tubuhnya dengan gemulai untuk free program-nya. Gerakan-gerakan yang Yuuri hapalkan dalam sekejap karena Victor telah menunjukkannya pada grand prix final. Ia mengulang-ulang videonya di Youtube selama dua minggu terakhir. Belum lagi beberapa fans mengunggah sedikit potongan video dari free program Victor di Instagram.
Tapi kenapa rasanya sedikit sakit ketika melihatnya lagi di televisi, seolah Yuuri tengah duduk di salah satu kursi penonton dan melihat Victor berlaga di ice rink?
"Aku pergi latihan dulu," ucap Yuuri akhirnya, meletakkan handuk yang tadi ia gunakan dengan sembarang dan menarik jaketnya yang tergantung di dekat pintu. Sepatunya ia ikat kuat-kuat sebelum menghentakkan kakinya di atas lantai kayu rumahnya.
Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan rasa sedihnya, rasa depresi yang ia munculkan dalam dirinya sendiri. Rasa takut akan bagaimana orang-orang menilainya, rasa sedih berlebihan yang ia pikul seorang diri. Keluarga dan teman-teman dekatnya sudah berbuat banyak untuknya dan seharusnya ia tahu diri.
Ia harusnya memenangkan grand prix final dan bukannya malah menggoda figure skater tingkat dunia untuk menyetubuhinya dan menanamkan benih di dalam tubuhnya.
Yuuri belum memeriksakan tubuhnya setelah itu.
Ia tidak tahu apakah kini ia mengandung darah daging Victor ataukah malam itu, Victor tidak berhasil membuat seorang bayi mungil tumbuh di rahim sang omega.
Yuuri menaiki satu persatu tangga menuju ke Ice Castle dengan perasaan hampa dan hati hancur. Senyuman tipis ia paksakan untuk muncul pada garis bibirnya ketika memasuki tempat itu. Matanya tertuju pada Yuuko Nishigori, sang primadona di Hasetsu yang hatinya telah dijaga baik-baik oleh Takeshi Nishigori, 'senior'nya yang memilih untuk bertahan sebagai pengelola Ice Castle daripada berlaga di kejuaran dunia.
"Ano … permisi."
"Maaf, kami sudah tutup, kau bisa datang besok—ah! Yuuri-kun! Apa kabar?" Yuuko tampak antusias melihat teman kecilnya kembali mengunjungi ice rink yang dikelola keluarganya. Rasanya begitu banyak memori tentang masa kecil mereka yang dibuat di sini.
"Ahaha … maaf, Yuuko-san. Lama tidak bertemu," Yuuri tertawa dengan canggung.
"Apa, sih? Panggil aku Yu-chan saja seperti biasa. Ada apa? Kau ingin berseluncur sendirian? Kebetulan aku baru selesai membersihkan ice rink, jadi ."
"Eh? Boleh?"
"Ayolah, jangan kaku begitu. Kita teman, bukan? Aku akan berjaga-jaga," Yuuko mengedipkan sebelah matanya.
Yuuri mengangguk malu-malu, ia mengeluarkan sepatu skatingnya dari dalam tas dan duduk di ruang ganti, mempersiapkan dirinya sebelum memasuki ice rink dan bernostalgia dengan suasananya. Bilah pisau di bawah sepatunya perlahan membelah es selagi ia meluncur, melakukan pemanasan dengan tubuhnya sebelum melihat Yuuko yang menyusulnya ke ice rink, memangku dagunya di pinggir ice rink untuk menonton penampilan Yuuri.
"Yu-chan, tolong … aku titip ini. Lihatlah," Yuuri menitipkan kacamatanya pada Yuuko dan kembali ke tengah ice rink.
Lagu 'Aria: Stammi vicino, non te ne andare' seolah mengalun begitu saja di benak Yuuri. Ia membiarkan tubuhnya bergerak sesuai dengan irama lagu itu. Mengikuti gerakan-gerakan yang ia lihat di video, membuat lompatan yang sama, dimulai dari quadruple lutz.
Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang takut untuk kehilangan orang yang dicintainya. Yuuri sempat berpikir bahwa dirinya mungkin seperti itu; terlalu takut jika orang-orang yang dicintainya perlahan menghilang. Ia rela dipersalahkan untuk semua kesalahannya, namun tidak siap jika harus kehilangan orang-orang yang dicintainya—orang tuanya, Mari-nee, Minako-sensei, dan semua orang yang mendukungnya.
Lompatan Yuuri di atas es dilanjutkan dengan quadruple flip dan disusul oleh triple flip.
Tapi, setelah ia memperdalam kemampuan figure skating-nya di Detroit dan pernah melihat seorang rink mate-nya terluka, Yuuri tahu bahwa terkadang, ia butuh ruang sendiri. Tanpa orang-orang yang dicintainya, tanpa adanya tangan yang menyentuh bahunya lembut. Ia tidak meminta orang-orang di sekelilingnya untuk peduli padanya. Tapi mereka mendekat seolah Yuuri adalah medan magnet.
Quadruple toe loop sukses didaratkan oleh sang figure skater muda itu, begitu juga dengan triple toe loop.
Yuuri butuh waktu untuk sendiri dan mendorong orang-orang di sekitarnya menjauh adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan. Bodoh, memang. Yuuri sadar akan hal itu. Kepercayaan diri yang minim terus-terusan mengoyak habis hatinya dan menggerus kemampuannya dalam berlaga di ice rink.
Penampilan Yuuri ditutup dengan combination spin. Tubuhnya meluncur bebas seolah ia adalah seekor kumbang yang memiliki mimpi menjadi kupu-kupu cantik.
Atlet asal Jepang itu terengah saat menyelesaikan free program Victor dengan sempurna dan menatap ke arah Yuuko yang menontonnya dengan wajah emosional, bahkan Yuuri bisa melihat jejak air mata di sudut matanya karena menahan haru. Lagi, senyuman tipis tergambar sebelum ia meluncur ke arah Yuuko dan pandangannya sedikit mengabur.
Eh?
Yuuri yakin, staminanya masih prima dan heat-nya akan datang dua minggu lagi, sesuai arahan dokter yang memeriksanya saat di grand prix final. Ia juga tidak merasakan hawa panas yang menyiksa seperti waktu itu, tapi rasanya pandangan yang mengabur dan kepalanya yang berputar begitu tidak asing.
"Yuuri! Luar biasa! Kau luar biasa! Itu seperti tiruan sempurna dari Victor! Kau hebat, Yuuri!"
Yuuri tersenyum canggung, wajahnya memerah padam, ia mengusap tengkuknya ketika tiga kepala kecil muncul. Axel, Lutz, Loop memandanginya dengan menyelidik, seolah Yuuri akan merebut ibu mereka kapan saja.
"Yuuri! Kau hebat!" Axel mulai berceloteh.
"Iya! Iya! Tapi kenapa sampai sekarang kau masih sendiri?" Lutz ikut menyahut.
"Pasti kau pilih-pilih pasangan ya, Yuuri?" Loop tersenyum lebar, sedikit mengejek.
"HEEEY! KALIAN! Tidak sopan! Minta maaf pada Yuuri," Yuuko langsung memarahi ketiga anak kembarnya.
"Hahahahahahaha," suara tawa tidak asing terdengar di telinga Yuuri sebelum lengan kekar Takeshi melingkar di lehernya dan menepuk-nepuk kepala Yuuri dengan tangan lainnya, membuat kepala Yuuri terasa semakin pusing dan berputar saja, "Maafkan mereka, ya, mereka itu fans beratmu,Yuuri, makanya mereka antusias saat tahu kalau kau ke sini."
Yuuri hanya mengangguk pelan. Yuuko masih berusaha mengatur anak-anaknya dan Takeshi tersenyum lebar sebelum menyadari wajah Yuuri yang memucat.
"Kau baik-baik saja?"
"Uh? Ya, hanya mungkin kurang tidur. Akhir-akhir ini aku kena insomnia."
"Ah, sebaiknya kau istirahat—Yuuri!"
Bruk.
Yuuri tidak ingat apa-apa lagi. Sama seperti grand prix final, hal yang ia dengar terakhir adalah Takeshi yang meminta Yuuko untuk menelepon ambulans. Ah, rasanya Yuuri jadi membenci tubuhnya sekarang. Bagaimana mungkin tubuhnya selalu tidak bisa diajak bekerja sama di saat-saat seperti ini. Padahal ia yakin penampilannya meniru Victor tadi begitu mengagumkan.
"Hup! Victor akan seperti ini! Seperti ini!"
Yuuri kecil meluncur di atas ice rink dengan gembira. Yuuko memandunya untuk berseluncur di atas es dan membuat lompatan-lompatan sederhana. Tubuhnya yang agak gempal tak membuatnya kalah gesit dari figure skater lain. Yuuri bahkan tidak segan mencoba peruntungannya untuk ikut kompetisi di tingkat junior.
Ia bermimpi, suatu saat nanti, ia akan bertanding bersama Victor dan berada di podium yang sama dengannya, berbagi posisi juara.
"Umm…"
Suara erangan dari bibir Yuuri membuat sang ibu berhenti mengupas apel yang ada di atas nakas. Ia memegang tangan putra satu-satunya itu dengan lembut dan tersenyum ke arahnya. Yuuri membuka matanya perlahan-lahan dan bau khas rumah sakit memenuhi indera penciumannya tanpa butuh waktu lama.
Kepalanya masih terasa berputar dan pandangannya seperti berbayang, tidak bisa menangkap figur ibunya dengan jelas. Tenggorokannya terasa begitu kering dan cukup menyakitkan. Yuuri menggenggam tangan Hiroko erat, seperti anak kecil yang hendak menyeberang jalan, enggan melepaskannya. Disusul tarikan nafas panjang dari indera penciuman Yuuri.
"Yuuri butuh sesuatu?"
Gelengan.
Ia belum butuh apapun, bahkan informasi mengenai penyakit apa yang dideritanya saat ini terasa tidak begitu penting. Mungkin benar, Yuuri hanya butuh istirahat saja. Ia seharusnya tidak memaksakan diri dengan berlatih.
"Okaa-san," panggilnya lirih, "air."
Hiroko tersenyum, perlahan melepaskan tangan Yuuri dan membantu untuk meninggikan alas kepala Yuuri. Setelahnya, ia menyiapkan segelas air putih dan membimbing Yuuri untuk menyesap air dari gelas perlahan-lahan. Sejak dulu, Yuuri tahu ibunya tidak pernah berubah. Hiroko tidak akan mengkhawatirkan Yuuri secara berlebihan, namun jika Yuuri membutuhkannya, ia tahu, ibunya akan ada di sana.
"Terima kasih," ucap Yuuri setelah ia merebahkan tubuhnya lagi di bantal.
Hiroko menutup gelas tadi dengan penutup yang ada di atas nakas dan menggeleng. Satu tangannya membenarkan posisi kacamatanya dan kembali duduk di kursi dekat tempat tidur rawat Yuuri. Wajahnya tampak kelelahan, berarti ada kemungkinan Yuuri sudah dirawat di sini lebih dari satu malam.
"Aku … sudah berapa lama di sini, Okaa-san?"
"Hm? Sejak kemarin sore, Yuuri. Kau pingsan, Nishigori menelepon kami, jadi aku, ayahmu, Mari, dan Minako-senpai langsung ke sini. Tapi, syukurlah kau sudah sadar, Yuuri."
"Gomen."
Hiroko tersenyum, ia menggenggam tangan Yuuri lagi, "Nee, Yuuri, tidak perlu minta maaf. Justru aku akan sangat senang jika bisa merawat Yuuri."
Yuuri tersenyum tipis sebelum kembali menghela nafas. Kata-kata ibunya selalu berhasil untuk menenangkannya. Sejak ia masih kanak-kanak sampai sekarang menginjak usia dua puluh tiga, tidak pernah sekalipun ia melihat Hiroko marah ataupun membentaknya. Bahkan ketika Yuuri memutuskan untuk ikut kelas balet Minako-sensei, Hiroko malah mendukungnya secara penuh, begitupun ayahnya.
"Dokter bilang, kau sudah stabil sekarang. Jadi, tidak perlu khawatir, ya? Bayimu juga baik-baik saja."
Jeda sejenak.
Yuuri terhenyak.
"Bayi?"
Sang ibu mengangguk, mengulurkan tangannya ke perut Yuuri selagi tangan kirinya masih meremas jemari Yuuri perlahan. Semua orang jelas terkejut tentang kabar kehamilan Yuuri. Takdirnya sebagai omega jelas untuk mengandung dan melahirkan anak dari seorang alpha. Takeshi Nishigori yang seorang alpha menjelaskan bahwa bau Yuuri sudah berbeda, tidak seperti yang dikenalnya lima tahun lalu.
Tapi Hiroko masih sama seperti biasanya, tidak bertanya banyak dan menunggu saat Yuuri siap mengenalkan pasangan hidupnya; alpha yang telah menandainya.
Hening masih meraja, Yuuri meremas selimut yang menutup bagian perutnya.
Benar, ada bayi kecil yang hidup di sana dan Yuuri telah membahayakannya dengan berlatih tadi, meniru lompatan-lompatan sulit yang seharusnya tak dilakukan seorang omega yang sedang mengandung. Ia menggeleng kuat-kuat. Bayi kecil tak berdosa itu akan tumbuh di sana tanpa sosok alpha yang akan menjadi ayahnya. Sementara ia yang menjadi ibunya akan dikucilkan karena mengandung tanpa memiliki pendamping sah. Segala pikiran buruk itu terus menghantui Yuuri hingga rasanya ia ingin muntah.
Kenapa? Harusnya kemungkinan ia hamil sangatlah kecil.
"Tidak … aku … hamil?" Yuuri menunduk, memandangi perutnya yang masih rata dengan nanar. Ibunya tidak marah, tapi Yuuri tahu, ada gurat khawatir serta penasaran di sana. Yuuri tidak pernah memiliki kekasih dan kehamilannya akan menimbulkan tanda tanya besar.
"Mm. Tidak apa, Yuuri. Kau istirahat dulu tahun ini, ya? Tidak apa-apa, kan? Kau bisa ikut kompetisi lagi setelah bayimu lahir. Okaa-san sangat ingin melihat cucu pertama dari Yuuri. Hehehe. Dia pasti lucu sekali," Hiroko mengelus punggung tangan anaknya. Ia jelas tahu bahwa kehamilan Yuuri bukanlah sesuatu yang direncanakan, menilai dari gurat wajah sang anak dan reaksinya beberapa menit lalu.
Yuuri tidak menjawab, ia memeluk perutnya sendiri, mencoba merasakan kehidupan kecil yang mulai tumbuh di dalam sana.
Bayi kecilnya dan Victor.
Dua hari berlalu setelah kejadian itu. Pagi ini, Takeshi mengantarkan ponsel Yuuri yang sempat tertinggal di Ice Castle. Hal pertama yang ia cek adalah Instagramnya. Ingin mengetahui apa saja yang terjadi pada atlet lain selama masa absennya yang hampir satu bulan ini. Ibu jarinya menggeser layar sentuh ponsel ke atas dan ke bawah.
"Yuuri," Takeshi membuka suara. Ketiga putrinya tidak bisa ikut karena usia mereka yang masih sangat kecil.
"Hm?" Yuuri mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ia genggam, memperhatikan Takeshi yang tengah membuka lebar kedua kakinya dan menunduk dalam-dalam, membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf pada pria yang kini tengah dirawat karena kondisi kesehatannya itu.
Dahi Yuuri mengernyit, tidak paham.
"Aku minta maaf sebesar-besarnya untuk ketiga putriku."
"Eh?"
Ketika Takeshi menyelesaikan ucapannya, muncul video yang di-regram oleh Phichit. Video dirinya yang meniru free program Victor. Sebentar. Penampilan ini hanya dilihat oleh keluarga Nishigori, satu-satunya yang bisa melakukan rekaman adalah mereka. Sekarang, dengan posisi Takeshi yang menundukkan kepala dalam-dalam dan video tersebut, Yuuri seolah tidak perlu mendengarkan penjelasan selanjutnya dari pria bertubuh gempal itu.
"Mereka menggunakan akun istriku untuk meng-upload videomu ke Youtube dan jadi viral."
Yuuri hanya tersenyum canggung, mematikan ponselnya kembali, dan kemudian meletakkannya di atas nakas. Satu tangannya yang lain segera menarik selimutnya sampai sebatas leher sebelum ia memiringkan tubuhnya menghadap jendela yang menampilkan pemandangan matahari terbenam dengan langit berwarna keemasan.
"Oyasumi."
Sekarang bukan waktu untuk main-main, semua orang akan menganggapnya tidak serius menekuni dunia figure skaer dengan adanya video itu. Belum lagi saat terakhir ia berlaga, semua orang tahu statusnya sebagai omega karena ia mengalami heat di ice rink. Semua orang akan mengira bahwa ia membuat video itu untuk mencuri perhatian Victor.
Lengkaplah sudah.
Yuuri menghela nafas dalam-dalam dan menyentuh perutnya. Ia tidak boleh banyak pikiran sekarang. Dokter sudah bilang bahwa stress akan mempengaruhi kesehatan bayi dalam kandungannya dan juga dirinya sendiri. Yuuri menggigit bibirnya, meremas baju yang menjadi penutup perutnya sekarang, merasakan kehidupan kecil tak berdosa yang mulai tumbuh dalam dirinya.
"Nishigori-kun, tolong beritahu Celestino bahwa aku akan cuti di musim ini. Aku ingin melahirkan anak ini."
Hening meraja di udara ketika Yuuri menyudahi kalimatnya, Takeshi paham ia harus berbuat apa.
Yuuri Katsuki Memutuskan Cuti Pada Musim Ini
Gagal di Grand Prix Final, Yuuri Katsuki Menyerah?
Akhir Karir Figure Skater Jepang, Yuuri Katsuki
Figure Skater Jepang Akhiri Karir Gemilangnya
Yuuri tidak pernah bilang bahwa ia memilih untuk berhenti dan menyudahi dunia yang amat dicintainya ini; figure skater. Dunia yang membawanya keluar dari 'tempat persembunyian'nya di Hasetsu. Dunia yang telah membuatnya bertemu dengan orang-orang baru seperti Phichit, Celestino, dan juga … Victor. Yuuri mematikan layar ponselnya saat taksi yang membawanya pulang berhenti di depan Yu-topia Katsuki, onsen tempat ayah dan ibunya selama ini menafkahi dirinya.
"Tadaima," Yuuri menggeser pintu depan dengan perlahan. Tangan kirinya memegang sebuah tas berisi pakaian, sementara ibunya masih mendampingi, mensejajarkan langkah dengannya sejak saat dokter mengizinkan pria berkacamata itu untuk pulang.
"Guk! Guk!"
Seekor anjing poodle berbulu cokelat langsung menubruk tubuh Yuuri dan membuatnya nyaris terhuyung kalau saja sang ibu tidak buru-buru membantu menopang tubuhnya. Yuuri membiarkan anjing itu menjilati wajahnya, membuatnya terkekeh ringan dan mengusap-usap puncak kepala anjing berpostur besar itu.
"Vicchan?"
"Yuuri, okaeri. Anjing itu datang ke sini bersama dengan pria yang mengenalmu, ia tampan sekali dan ia bilang dari Russia. Siapa namamu tadi, Tuan?" Toshiya membenarkan kacamatanya selagi menyambut sang putra bungsu yang baru pulang.
Kini, setelah anjing tadi puas menjilati wajahnya, ia menggonggong ke arah sang tuan dan berputar di sekitar kakinya. Seolah gembira.
Yuuri menjatuhkan tas besar yang ada di tangannya dan ternganga. Lututnya terasa lemas dan sebersit keinginan untuk kembali ke rumah sakit muncul begitu saja.
"Victor?"
"Halo, Yuuri Katsuki."
Di hadapannya, Victor menggunakan mantel berwarna cokelat dan tersenyum ke arah Yuuri.
Ya, Victor Nikiforov.
-tsuzuku-
[3250 words, 18/1/2018 21:09 © aRaRaNcHa]
A/N: Terima kasih untuk review yang diberikan. Sejujurnya nggak nyangka, sih, ada yang mau baca karya saya. Saya senang. Hehe … sampai di sini, maaf kalau karakter Yuuri saya buat sangat lemah dan agak cengeng ya, hormone dari kehamilan. Saya sampai baca artikel-artikel kehamilan supaya nggak membuat OOC. Huhu … semoga kalian suka.
Nee, mind to RnR, readers?
