Victor terbangun saat matahari sudah agak tinggi. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi dan sudah ada ribuan notifikasi di ponselnya. Kepalanya sedikit berdenyut dan tubuhnya pegal-pegal seperti ditusuk. Sadar bahwa tak memakai apapun kecuali boxer ditubuhnya, Victor menaikkan bed cover hotel sampai batas leher dan memeriksa ponselnya.
Apa ia terlalu banyak minum tadi malam sampai tidak mengingat apapun?
Banquet, dirinya yang disambut banyak orang, berbincang dengan beberapa atlet dan tamu yang hadir, menerima beberapa ucapan selamat, dan terakhir kali, matanya tertumpu pada seorang atlet yang berusaha menghindari pandangannya.
Atlet figure skating asal Jepang. Victor tidak akan lupa pada rival yang berada satu ice rink dengannya (setidaknya dalam satu musim itu, ia akan mengingatnya), meskipun daya ingatnya memang sangat-sangat buruk. Apalagi untuk hal-hal penting yang seharusnya tidak ia lupakan.
"Ugh," mengerang, Victor tidak ingat apa-apa lagi. Mungkin setelahnya, ia terlalu banyak minum champagne karena banyak orang yang memintanya untuk bersulang, satu atau dua teguk.
"Vitya, kau harus siap-siap, aku sudah menjadwalkan penerbangan pukul tujuh malam."
"Mmm … Yakov, apa aku terlalu banyak minum?" Victor duduk di tempat tidurnya dan meregangkan leher. Soal tidur, selama Victor tidak absen untuk pemanasan dan mengikuti rangkaian acara turnamen, Yakov tidak pernah protes. Bahkan Victor biasa dibiarkan tidur sampai 15 menit menjelang penampilannya.
Ada jeda sebelum Yakov menjawab, "Tidak tahu, kau saja kemarin diantar ke kamar oleh Yuri. Memalukan. Untung tidak ada media yang melihatmu."
"Waow! Kira-kira aku minum berapa banyak, ya? Apa aku sudah melampaui rekor minumku selama ini?"
"Oy, cepat bangun dan bersihkan badanmu itu, Vitya!" omel Yakov dengan wajahnya yang memerah karena menahan emosi.
"Hehe … baiklah, baiklah."
Victor tahu, ada yang tidak Yakov ceritakan padanya ketika sang pelatih menghindari kontak mata langsung dengannya. Baiklah, jika menurut Yakov itu bukan hal yang penting, artinya Victor tidak perlu mencari tahu tentang apa yang disembunyikan Yakov.
"Bubble bath akan menyenangkan," Victor melenggang ke kamar mandi dengan handuk yang mengerudungi kepalanya.
"Vitya! Memangnya kau anak balita?"
A Victor Nikiforov/Yuuri Katsuki fanfiction
AU, omegaverse
-#-
Heartbeat
[Tiga: Hasetsu]
-#-
Yuri! on Ice © Mitsurō Kubo
I don't gain anything from this fanfiction
Yuuri masih mematung di tempatnya, seolah tidak percaya bahwa alpha yang telah menanamkan benih di perutnya kini berada di hadapannya, mengelus kepala anjingnya dan tersenyum ke arah Yuuri. Sang ibu masuk lebih dulu, membawa barang-barang Yuuri yang ada di dalam tas besar tadi ke dalam rumah seolah adanya turis asal Russia di rumahnya adalah hal biasa.
Yuuri sudah sering mengejutkan mereka, jadi hal-hal 'tidak lumrah' dalam kehidupannya menjadi hal yang biasa bagi Hiroko.
"Kenapa … kau di sini?" Yuuri menarik ujung baju lengan panjangnya dan meremas kuat.
Victor mendekat, membuat Yuuri mundur beberapa langkah.
Kenapa? Yuuri seolah mematung ketika sang alpha berada semakin dekat dengannya. Ke mana kalung yang biasa ia kenakan? Kenapa di saat seperti ini, Yuuri melupakannya di dalam kamar? Apa Victor akan sadar bahwa baunya serupa dengan bau Victor sekarang karena malam itu tanpa sengaja Victor 'menandai' dirinya?
"Yuuri Katsuki, apa jika … aku jadi pelatihmu, kau akan tetap memilih untuk istirahat dari musim ini?"
"Eh?"
"Kau punya potensi, kau harus mencobanya di musim ini."
Tidak. Tidak bisa. Yuuri bukannya tidak ingin, tapi karena ia tidak bisa. Andai saja lidahnya tidak kelu, ia mungkin akan membuka suara, memeluk Victor erat-erat dan menceritakan mengenai kehamilannya; mengenai bayi yang ia kandung saat ini.
Sayangnya ia tidak punya kepercayaan diri sebesar itu.
"Maaf, aku baru saja pulang dari rumah sakit, aku akan istirahat," pada akhirnya pria yang berusia empat tahun lebih muda dari Victor itu masuk ke dalam kediamannya, melewati Victor yang masih mematung di tempatnya, tidak berkata apa-apa, pun tidak menarik tangan Yuuri untuk menahannya.
Bicara soal pengalaman hidup, tentunya Victor memiliki pengalaman lebih banyak dalam menangani omega; baik pria ataupun wanita. Apalagi beta junior bersurai pirang yang selama ini cukup dekat dengan Victor tak ubahnya seperti omega wanita yang sedang menstruasi.
Ia harus mulai pelan-pelan dengan Yuuri Katsuki, karena Victor bukanlah orang yang senang menerima penolakan.
"Ara ara, Yuuri? Kenapa tamunya ditinggal? Maaf ya, Yuuri sedang tidak enak badan. Masuklah, Tuan," Hiroko mempersilahkan Victor masuk ke kediaman Katsuki, membuka pintu geser utama sedikit lebih lebar.
Victor menurut, ia membuka mantelnya dan meletakkan di pengait mantel sebelum masuk ke dalam dan duduk di ruang tengah. Seorang pria tua tengah menonton pertandingan sepakbola sambil menikmati birnya sementara Makkachin duduk di dekat Victor, meluruskan tubuhnya yang sepertinya turut pegal setelah perjalanan jauh dari Russia menuju ke Jepang.
"Makkachin … sepertinya ini tidak akan mudah. Kau harus terbiasa di sini, ya?" Victor menempelkan telunjuk di ujung bibirnya sebelum tersenyum penuh arti pada anjing poodle kesayangannya.
"Guk! Guk!" Makkachin menggonggong dan merebahkan dirinya di pangkuan Victor.
"Nee, jangan sungkan-sungkan. Tuan ingin makan apa?"
"Eh? Tuan? No, no, panggil aku Victor saja," Victor tersenyum simpul sambal mengibaskan tangannya.
"Ara? Baiklah, Vicchan. Aku merekomendasikan katsudon kesukaan Yuuri."
"Katsudon? Apa itu? Ah … karena aku bertekad menjadi pelatih Yuuri, aku akan mencoba makanan kesukaan muridku. Aku mau satu katsudon ya, Nona," sang living legend asal Russia itu mengedipkan sebelah matanya selagi mengusak puncak kepala Makkachin yang langsung menjilati rahangnya.
Hiroko mengangguk, wanita yang berstatus sebagai ibu kandung Yuuri Katsuki itu berjalan ke arah dapur untuk membuatkan katsudon bagi tamunya.
Lahir dan besar di Russia, sebenarnya Victor tidak asing dengan negri sakura karena karirnya sebagai figure skater telah membawanya hampir ke seluruh penjuru dunia. Bertemu dengan orang-orang yang hebat dan juga nyentrik seperti Christophe Giacometti, JJ, Otabek Altin, dan Yuuri Katsuki sendiri. Victor lebih dari tahu bahwa kedatangannya ke Jepang akan membuat gosip-gosip murahan bertebaran di majalah olahraga Russia atau bahkan dunia.
Mereka tidak tahu bahwa dirinya kini telah dilanda rasa dilema dan nyaris putus asa.
Apapun yang dilakukannya saat ini tidak akan lagi mengejutkan publik.
Orang-orang mulai berbalik dan mencari sosok juara lainnya; tidak perlu setampan dan semenawan Victor, tapi memiliki kharisma yang bisa membuat orang lain hilang akal. Seseorang yang bisa melampaui skor yang dicetak oleh Victor sepanjang karirnya, bisa membuat lompatan-lompatan di atas ice rink melebihi dari dirinya. Axel, lutz, loop, salchow. Tidak ada lagi yang menarik dari seorang atlet lama seperti Victor di usianya yang kini menginjak dua puluh tujuh tahun.
Lucu sekali.
Victor mencoba untuk menghibur dirinya bahwa pikiran-pikiran itu hanya ada di dalam benaknya saja, namun artikel-artikel di media online semakin membuatnya tak bisa tenang. Mengusap lembut kepala Makkachin dan memainkan bulunya yang lebat, Victor tampak melamun, memikirkan cara agar dirinya bisa masuk ke kehidupan Yuuri Katsuki dan menjadi pelatihnya; mengembangkan potensi terpendam yang seharusnya bisa membuat sang atlet bersanding dengan Victor di podium—sebagai juara dua, tiga, ataupun sang pemegang medali emas, menggantikan dirinya.
Ia tidak memungkiri bahwa kemampuan Yuuri saat ini masih 'biasa-biasa saja'. Namun, dengan sedikit polesannya, ia akan menjadi seorang pangeran tampan yang akan dikagumi dunia; meski dirinya adalah seorang omega yang sempat dipergunjingkan saat mengalami heat di ice rink.
Victor ingat, ia ada di sana, hendak menolong sang omega namun Yakov menahannya, tidak mengizinkannya untuk ikut campur atau urusannya akan panjang. Bagaimanapun, Yakov ada benarnya. Bila saat itu Victor menolong Yuuri, mungkin ia akan hilang kendali dan berakhir menyetubuhi sang omega atau malah menyerangnya. Belum lagi media-media jahil yang akan menimbulkan rumor mengenai hubungannya dengan sang figure skater asal Jepang itu.
Tekad Victor semakin bulat usai melihat penampilannya di Youtube.
Yuuri-lah sang rising star selanjutnya yang mendapat dukungan penuh dari Victor sebagai pelatihnya. Ia hanya perlu memoles Yuuri baik-baik dan mengejutkan para penikmat figure skater.
"Nah, ini katsudon-nya. Silahkan," Hiroko membuyarkan lamunan Victor dengan semangkuk katsudon di hadapannya.
Victor memandangi makanan super mewah nan berlemak itu dengan mata berbinar. Dari baunya saja sudah menggugah selera. Nasi putih hangat dicampur dengan potongan daging katsu dan dilumuri telur setengah matang yang juicy, bertabur daun bawang dan juga bawang bombay.
"Waow! Terima kasih. Kucoba, ya?"
Vkusno! Nikmat Tuhan manalagi yang kaudustakan?
Sekarang Victor mengerti mengapa Yuuri tampak lebih gemuk daripada saat terakhir ia bertemu dengan sang omega di atas ice rink. Bagaimana mungkin makanan seperti ini tidak menambah berat badannya? Sudah nikmat, dan yang pasti ini akan menjadi adiktif untuk generasi pecinta micin seperti dirinya.
Selagi sang alpha mencoba katsudon yang menjadi kebanggaan Yu-topia, Yuuri mengurung diri di kamarnya. Tidak percaya bahwa saat ini Victor Nikiforov ada di Jepang, tepatnya di Hasetsu, tanah kelahirannya. Yuuri memeluk lututnya dan memandangi poster-poster Victor di dinding kamarnya, seakan mendamba.
Victor ingin menjadi pelatihnya dan seharusnya Yuuri senang.
Tangannya lagi-lagi bergerak ke arah perutnya, hal yang sering ia lakukan sejak tahu bahwa saat ini ia tengah mengandung bayi dari sang juara. Seolah jika ia mengalihkan pandangannya sebentar saja, ia tak bisa merasakan lagi 'kemewahan' dirinya sebagai seorang pria yang memiliki rahim untuk mengandung.
Apa Victor benar-benar tidak ingat tentang kejadian malam itu?
Apakah ia ke sini karena benar-benar ingin menjadi pelatihnya atau karena Yakov pada akhirnya memberi tahu bahwa malam itu Victor menodai seorang omega yaitu dirinya? Pikiran Yuuri sangat kacau saat ini dan ia butuh seseorang untuk membuatnya tenang.
Semuanya tak akan rumit kalau saja anak-anak Nishigori tidak meng-upload videonya ke Youtube. Tidak-tidak, semuanya tidak akan rumit jika saja Yuuri tidak dinyatakan hamil saat ini. Ia bisa melanjutkan karirnya dengan Victor sebagai pelatihnya.
Biar saja dunia cemburu padanya atau menyalahkannya karena 'mencuri' Victor untuk keegoisannya sendiri. Toh, pada akhirnya, Victor sendiri yang datang ke Hasetsu dan menyatakan untuk menjadi pelatihnya.
Yuuri meremas ujung bajunya lagi, semakin membenamkan wajahnya di antara lutut.
Ia harus bagaimana?
Brak!
Pintu digeser cepat, untungnya tidak langsung roboh. Minako tergopoh-gopoh memasuki Yu-topia Katsuki setelah membaca berita di internet. Kedatangan Victor Nikiforov ke Jepang bukanlah hal yang lumrah untuk dilakukan dan tentu saja mengejutkan semua orang, termasuk dirinya. Ia menghambur ke arah ruang tengah kediaman Katsuki dan mendapati Hiroko yang sedang mengangkat gelas-gelas kosong dari atas meja.
"Hiroko! Di mana Yuuri? Apa benar Victor datang ke Jepang?"
"Yuuri? Dia di kamar—ara, Minako-senpai?"
Tidak sempat mendengarkan penjelasan Hiroko lebih banyak lagi, Minako langsung berlari menuju ke kamar Yuuri, menggeser pintunya tanpa permisi dan mendapati Yuuri yang tengah duduk di meja kerjanya, memandangi hasil tesnya dengan nanar.
"Yuuri! Aku meneleponmu. Kenapa kau tidak balas chatku?"
"M-Minako-sensei?" Yuuri buru-buru memasukkan hasil tesnya ke dalam amplop, seolah ingin menyembunyikan, padahal Minako sendiri sudah tahu soal kabar kehamilan Yuuri, "A-Ada apa?"
"Victor memutuskan cuti pada musim ini dan berangkat ke Jepang untuk menemuimu! Apa itu benar? Apa ia sudah sampai di sini?"
Yuuri mengangguk pelan sekali, ia seolah tidak berani menatap kearah Minako saat ini. Padahal orang yang selama ini mendukungnya adalah Minako, mendorongnya untuk berlaga dalam figure skating dan meninggalkan balet karena terlalu feminin untuk Yuuri.
"Apa kau sudah bilang padanya?"
Putra bungsu keluarga Katsuki itu diam, tidak menjawab apapun seolah lidahnya kelu. Ia menunduk dalam-dalam, menahan tangis. Bagaimana mungkin ia memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa saat ini dirinya tengah mengandung anak Victor dan menghancurkan masa depan sang living legend itu?
"Yuuri, ternyata di sini kamarmu? Aku akan menggunakan ruangan di sampingmu yang lebih besar. Ibumu sudah membantuku sejak tadi, keluargamu baik sekali."
Suara familiar dari belakang itu nyaris saja membuat Hiroko menghadap Tuhan lebih cepat. Jantungnya berdebar cepat sebelum ia berbalik dan mendapati wajah rupawan Victor hanya berjarak beberapa senti darinya, tersenyum ke arah Minako.
Mati sekarang pun rasanya tidak apa-apa, Kami-sama.
Yuuri kembali memasukkan amplop yang dipegangnya tadi dengan asal ke dalam laci, menghapus air matanya dan buru-buru mendorong Minako dan Victor untuk keluar dari kamarnya. Wajahnya memerah padam dan matanya agak sembab karena terlalu banyak menangis; entah karena buncahan rasa gembira atau luapan rasa sedih dan takut yang disimpannya rapat-rapat.
"Aku sudah bilang bahwa aku butuh istirahat. Dokter bilang aku belum bisa latihan. Maaf…" Yuuri hendak berbalik ketika tangan Victor menahannya.
Tangannya besar namun jemarinya lentik. Yuuri dapat merasakan ujung jemari Victor yang begitu dekat dengan urat nadinya. Hangat namun tatapannya jelas menunjukkan bahwa Victor mulai tidak senang karena Yuuri terus-terusan menghindar.
"Yuuri, kau belum cerita tentang penyakitmu. Apa kata dokter?"
Aku hamil, Victor! Aku hamil! Aku sedang mengandung anakmu!
Yuuri rasanya ingin menjerit frustasi, mengatakan semuanya, tapi hatinya belum sanggup. Pergumulan batinnya sejak tadi menghasilkan keputusan bahwa ia lebih baik menyimpan rapat-rapat mengenai kabar ini. Bagi Yuuri, Victor pasti akan menaruh curiga dan tidak ingat kejadian malam itu.
"Bukan urusanmu."
"Urusanku karena aku akan menjadi coach-mu, Yuuri."
Hening kembali meraja di udara. Minako rasanya ingin melompat saja dari jendela daripada menonton perdebatan ini secara langsung. Rasanya begitu canggung dan atmosfer di antara mereka jelas sangat mencekam. Baik Yuuri maupun Victor tidak ingin mengalah pada harga diri mereka.
"Ikut aku ke Ice Castle besok pagi, Victor. Aku akan menceritakannya," Yuuri melepaskan tangannya dari genggaman tangan Victor.
Sreeet.
Pintu kamar Yuuri kembali digeser menutup. Victor menyentuh dagunya dengan telunjuk dan ibu jari, tampak berpikir sejenak. Untuk apalah ia yang seorang living legend, pemenang figure skater dunia selama lima tahun berturut-turut, menjatuhkan harga dirinya hanya untuk bertaruh mengenai kemenangan Yuuri Katsuki di grand prix final, menggantikan dirinya. Untuk apa?
Jika saja kedua orang tuanya masih hidup, mereka pasti akan kecewa dengan keputusan Victor.
Jika saja.
Victor tidak pernah berpikir untuk meninggalkan ice rink dan memilih untuk melindungi impian orang lain. Ia adalah seorang figure skater yang egois untuk berada di puncak, dielu-elukan banyak orang dan memiliki banyak penggemar. Semua orang yang dekat dengannya jelas tahu hal itu. Dibalik rupanya yang menawan, ada banyak hal yang tidak pernah Victor bagi kepada dunia; mengenai keegoisannya, mengenai dirinya.
"Ah, Yuuri memang seperti itu kalau ia sedang gugup. Maafkan Yuuri, ya," Minako mencoba untuk membuyarkan lamunan Victor.
Pria asal Russia itu tersenyum simpul dan menaikkan bahunya, menghela nafas berat sebelum memberikan anggukan ke arah Minako, "Apa kau sangat dekat dengan Yuuri? Mungkin kekasihnya?"
"Hah? Aku? Bukan, bukan, aku guru ballet. Dulu Yuuri sering mengikuti kelas baletku."
"Ballet?"
"Hm. Karena … kupikir ballet terlalu feminin untuknya, aku merekomendasikannya untuk ikut figure skater. Siapa sangka ia bisa sampai ke grand prix final di tahun ini?" Minako membalikkan badan, melihat ke arah jalan; Toshiya sedang menyekop salju yang menutupi jalan di bawah sana.
Rasanya seperti bermimpi bisa bicara langsung sesantai ini dengan Victor Nikiforov, figure skater yang biasanya hanya bisa ia lihat dibalik layar kaca. Andai saja suasananya mendukung, mungkin ia akan berteriak histeris seperti fangirl pada umumnya. Namun usianya yang tak lagi muda membuat Minako tahu bagaimana harus bersikap.
"Apa Yuuri selalu tidak percaya diri begitu?"
"Yuuri? Hahaha … ya, dia memang seperti itu. Karena dirinya diberkati dengan banyak waktu luang untuk latihan, ia jadi penyendiri dan sulit menentukan sikapnya. Kau tahu sendiri, kan bagaimana ia bersikap padamu tadi? Padahal kau yang berkorban untuk datang ke sini."
Victor mengerutkan dahinya semakin dalam ketika Makkachin mengusalkan kepalanya ke kaki Victor, membuat suara geraman kecil, meminta makanan pada sang pemilik karena sudah memasuki waktu makan untuk dirinya. Jika Victor sudah melahap semangkuk katsudon tadi, Makkachin hanya mendapat sebagian kecil potongan katsu.
"Makkachin, maaf maaf, apa kau lapar? Kau mau jerky? Ah, aku akan memberi makan Makkachin dulu. Terima kasih atas informasinya, itu sangat berarti untukku," Victor tersenyum lebar dan mengikuti anjing kesayangannya itu masuk ke kamar tempatnya menginap.
Minako yakin ini tidak akan mudah untuk Yuuri. Jika ada orang yang tepat untuk memberitahukan kabar kehamilan sang omega, orang itu adalah Yuuri sendiri. Tapi wanita itu lebih dari tahu, mengandung bayi tanpa alpha bukanlah hal yang mudah untuk Yuuri. Mungkin setelah heat yang terekam dalam pertandingan di televisi, ada orang asing yang menyusup ke kamar Yuuri? Atau … menilai dari tabiatnya, mungkinkah Yuuri nekat keluar dari hotelnya saat masih dalam masa heat?
Jelas, Minako sendiri ingin tahu, siapa ayah dari bayi yang dikandung Yuuri. Bahkan pada Hiroko pun, Yuuri tidak bilang apa-apa. Padahal sejak kecil, ia sangat bergantung sekali pada ibunya dan manja walupun ia adalah seorang laki-laki.
Namun bagi Minako, saat ini yang perlu tahu soal kehamilan Yuuri adalah Victor. Agar sang calon pelatih memilih untuk mundur dan melanjutkan karirnya.
Ah, Yuuri, andai saja kau sedikit lebih berani.
Angin berhembus lembut kala itu. Meski musim dingin, saat siang hari, Hasetsu berbeda dari St. Petersburg. Bagaimanapun, bagi Victor, Russia jauh lebih dingin daripada Jepang. Makanya ia bisa tidur hanya menggunakan yukata tipis walaupun sedang musim dingin. Rasanya seperti tidur menggunakan pendingin ruangan di apartemennya saja.
Victor melihat Yuuri yang menjauh darinya sejak memilih tempat duduk di sebuah kursi yang terbuat dari batu ini. Pandangannya lurus ke depan, seolah barisan rumah-rumah yang ada di sana jauh lebih menarik ketimbang Victor. Makkachin menggali hamparan salju yang menutupi areal perbukitan itu, mengendus di sana sini kemudian berpindah ke spot lain.
"Aku … minta maaf, aku tidak akan berubah pikiran soal diriku yang akan beristirahat pada musim ini," Yuuri mulai membuka suara, perlahan tangannya ia satukan, membentuk posisi berdoa.
"Kenapa?"
Yuuri menengadahkan kepalanya, mencoba untuk tidak menangis. Ia seharusnya lebih tegar daripada ini; sejak kapan ia jadi cengeng dan sentimental begini hanya karena ingin bicara? Sang omega meremas tangannya sendiri dengan lebih kuat sebelum menarik nafas panjang.
"Aku sakit, tidak bisa lagi melakukan lompatan-lompatan. Bahkan untuk berseluncur saja, kakiku langsung bengkak. Dokter bilang, a-aku terkena virus langka," Yuuri mulai bercerita, tanpa berani menatap mata Victor walau hanya sedetik. Berbohong bukanlah sesuatu yang biasa ia lakukan dengan mudah.
Victor terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia begitu egois dan memaksa Yuuri untuk menjadi muridnya sejak semalam. Datang ke Jepang pun begitu tiba-tiba tanpa ada niatan untuk menghubungi Yuuri ataupun Celestino yang saat ini masih berstatus sebagai pelatih Yuuri.
"Apa menurutmu … aku masih bisa kembali ke ice rink lagi kalau aku sembuh?" Yuuri menoleh, kali ini mendapati Victor yang tiba-tiba saja menyambar tangannya dan meremasnya lembut. Seolah Victor sendiri yang meminta dikuatkan saat itu.
"Bisa," jawab Victor singkat, menunjukkan rasa sayang dengan terang-terangan adalah ciri khas dan kemampuan terbaik Victor, "Kau masih sangat muda dan masa depanmu masih panjang, Yuuri."
Senyuman tipis terlukis di wajah Yuuri, ia menggenggam tangan Victor lembut, "Satu tahun. Dokter memintaku beristirahat untuk masa pemulihan selama itu. Jadi, kupikir lebih baik jika kau kembali ke Russia dan memenangkan grand prix final lagi. Aku akan mendukung Victor," ujar Yuuri dengan wajah memerah.
"Eh? Yah … aku lebih ingin melihatmu berada di ice rink sih, tapi kalau kau mau membawa seluruh posterku yang ada di kamarmu saat aku bertanding nanti, rasanya tidak buruk juga."
"Eh? K-K-Kau melihatnya? A-Aku … m-maaf, maksudku, a-aku," Yuuri salah tingkah, ia menarik tangannya dan buru-buru menutupi wajahnya yang semerah kepiting rebus sekarang. Apa yang Victor pikirkan tentangnya sekarang? Seorang stalker? Fans fanatik? Ah, Yuuri ingin mengubur kepalanya di salju.
"HAHAHAHAHA … Yuuri, wajahmu merah sekali," Victor tertawa puas, ia menepuk punggung Yuuri pelan dan menunjuk ke arah Ice Castle, "Apa di sana tempatmu berlatih? Aku boleh lihat?"
Yuuri menoleh sebelum mengangguk.
Tidak ada salahnya ia menunjukkan Hasetsu pada Victor. Justru jika Yuuri terus-terusan menghindari Victor, sang alpha tentu akan curiga pada penyakit yang dideritanya. Lagipula, kebohongan tentang penyakitnya saja sudah mencurigakan. Memalukan sekali. Virus macam apa yang Yuuri maksud? Bahkan jika Victor menyelidik lebih dalam, ia sudah pasti akan gelagapan.
Helaan nafas berat terdengar ketika Yuuri menaiki tangga terakhir dari Ice Castle. Rasanya dulu ia bisa naik-turun di sini dengan mudah tanpa kehabisan nafas. Apa karena saat ini ia sedang mengandung atau karena ia sudah mulai jarang latihan? Yuuri ingin tahu.
"Kau tidak apa-apa? Kakimu sakit?" Victor tampak khawatir.
"Ah? Eh … ti-tidak apa-apa. Jangan khawatir," Yuuri mengalihkan pandangan selagi mengibaskan tangan.
Victor membencinya.
Victor tidak bisa membaca ekspresi Yuuri saat pria itu mulai mengalihkan pandangan, tidak melihat ke arah matanya. Apakah Yuuri berkata jujur? Apakah Yuuri berbohong? Victor sama sekali tidak tahu saat pria itu berusaha menutupi wajahnya dan berkata bahwa ia baik-baik saja.
Ia tidak suka ketika orang-orang mulai menyembunyikan sesuatu darinya, seolah ia anak kecil yang tidak seharusnya tahu.
"Sumimasen."
"Hai! Aku Victor Nikiforov, hari ini aku akan berlatih di sini."
"HEEEEE? SERIUS? JADI RUMOR ITU BENAR?" keluarga Nishigori dengan kompak terkejut dan langsung menghampiri Victor yang saat ini berdiri di pintu depan dengan menjinjing sebuah tas yang berisi sepatu skating pribadinya.
"Anoo, Victor akan meminjam ice rink sebentar, apa boleh?" Yuuri membuka suara setelah keterkejutan keluarga Nishigori agak mereda.
"Te-Tentu saja boleh! Aku akan berjaga-jaga," Yuuko menyetujui tanpa berpikir dua kali.
"Ng! Aku juga," Takeshi juga turut menyetujui seperti sang istri.
"Kami siap untuk merekam!" Lutz ikut angkat bicara.
"Hey! Ini bukan konsumsi publik!" Yuuri buru-buru melarang.
"Hahahahaha … kalian sangat akrab, ya," Victor tertawa lagi.
Yuuri dikelilingi orang-orang yang mendukungnya secara penuh. Apalagi yang harus ia khawatirkan? Hal apa yang membuat Yuuri tidak percaya diri?
Berbeda dari dirinya yang dulu harus berjuang saat mendalami dunia figure skating, Yuuri jelas tidak memiliki hambatan berarti dari lingkungannya. Ayah dan ibunya terlihat mendukung penuh. Wanita bernama Minako juga turut menjadi motivator. Belum lagi dukungan tempat latihan seperti Ice Castle. Pantas saja ia bisa menjadi rival yang potensial dibawah polesan Celestino.
Victor meluncur di atas es setelah Yuuko dan Takeshi membuka ice rink untuk dirinya seorang. Perlakuan spesial yang akan ia terima dimanapun ia berada. Termasuk di Hasetsu.
Bagi Victor, semua terasa mudah semenjak ia memenangkan figure skating tingkat junior dengan rekor skor tertinggi beberapa tahun yang lalu. Ia menerima perlakuan spesial dan semua orang seolah mencintainya karena kemampuannya berlagi di atas ice rink.
"Kau sudah memberi tahu soal kehamilanmu, Yuuri? Menurut berita, Victor datang karena ingin melatihmu," Takeshi berbisik pada Yuuri selagi menonton Victor yang meluncur di atas es. Membuat gerakan-gerakan indah yang sepertinya akan menjadi free program Victor berikutnya.
Yuuri menggeleng, "Aku bilang … kalau aku sakit, tapi Victor sepertinya percaya, ia akan kembali ke Russia," ujar Yuuri lirih, menumpukan dagunya pada pinggir ice rink.
Yuuko tersenyum simpul, menepuk pundak Yuuri pelan, menguatkannya. Sang omega membenamkan wajah pada punggung tangannya sendiri sebelum menghela nafas berat.
Kami-sama, tolong biarkan Victor melatihku pada musim depan.
"Yuuri, apabila kau ingin aku melatihmu pada musim depan, jangan lupa turunkan berat badanmu, ya. Jangan sering-sering makan katsudon," Victor tersenyum santai selagi meluncur di atas es dan melakukan quadruple toe loop.
Saat sang ratu malam sudah kembali ke singgasananya, Yuuri memutuskan untuk kembali ke rumahnya; masih bersama Victor yang tidak berhenti mengikutinya sejak pagi. Menapaki jalan yang berada di pinggir laut, membiarkan angin meniup rambut mereka lembut.
"Yuuri, kalau boleh tahu, virus apa yang kau maksud? Kurasa aku akan berhati-hati dengan virus itu," Victor memasukkan tangannya ke saku celana dan menoleh.
Lagi, Yuuri menghindari pandangan matanya, seolah keramik yang sedang mereka tapaki lebih menarik daripada Victor.
"E-Eh? A-Aku lupa namanya, nanti akan kucek lagi untuk memastikan."
"Apa tidak ada pada berkas pemeriksaan medis?"
"Mu-Mungkin ada."
"Seharusnya ada, Yuuri, pasien 'kan juga perlu tahu, akan kubantu kau untuk mengeceknya."
"TIDAK! JANGAN BERANI-BERANI KAU MELIHATNYA!" Yuuri yang panik tanpa sengaja membentak Victor dan membuat kedua matanya membelalak. Menutup mulutnya, Yuuri buru-buru berjalan lebih cepat menuju ke Yu-topia Katsuki.
"Yuuri? Maaf, aku tidak akan melihatnya. Aku tidak bermaksud—Yuuri?"
Yuuri sudah beberapa langkah di depannya.
Victor hapal jalanan menuju ke Yu-topia dan bukan masalah untuknya pergi ke sana seorang diri. Namun Victor tidak hapal hal apa saja yang tidak disukai Yuuri. Mungkin pembicaraan mengenai sakit yang sedang ia derita menjadi salah satunya.
Victor menghabiskan tiga hari dengan Yuuri yang terus-terusan mencoba menghindarinya setelah itu. Jika Victor berada di ruang tengah, Yuuri akan kembali ke kamarnya, mengurung diri dan tidak akan keluar sampai Victor berjalan-jalan di sekitar Hasetsu. Jika Victor kembali, Yuuri akan terlihat membantu keluarganya, namun saat mereka bertemu pandang, Yuuri buru-buru kembali ke kamarnya. Bahkan saat makan pun, Yuuri bisa meminta sang ibu membawakan makanan ke kamarnya. Sesuai anjuran Victor, Yuuri tidak lagi memakan katsudon kesukaannya.
Begitu terus-terusan sampai akhirnya Victor gerah.
Siang itu, dengan membawa 'hasil temuan'nya dari dapur keluarga Katsuki, Victor memberanikan diri membuka pintu kamar Yuuri yang tidak terkunci.
"Yuuri, aku yakin bahwa omega yang sedang sakit tulang karena virus, tidak minum susu penguat kandungan, 'kan?"
Bulu kuduk Yuuri berdiri.
Ia tidak bisa lagi membantah dan pada akhirnya, Yuuri mengikuti keinginan Victor, berjalan menuju ke pantai yang ada di Hasetsu.
Lagi-lagi keheningan.
Kali ini Yuuri memeluk lututnya selagi Victor memandangi langit, memperhatikan burung camar ekor hitam yang terbang di langit yang agak mendung siang itu. Rasanya tak jauh berbeda seperti di St. Petersburg. Angin laut meniup helai rambut mereka, hingga rambut Yuuri sedikit berantakan. Victor memainkan pasir di tangannya, menggenggam dan melepaskannya, kemudian mengambil lagi genggaman pasir lainnya.
"Jadi?" Victor mencoba untuk memulai percakapan selagi Yuuri masih terdiam.
Yuuri mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaket yang ia kenakan dan memberikannya pada Victor. Surat dari rumah sakit yang menjelaskan mengenai kondisi kesehatannya saat ini. Victor membacanya dengan seksama. Seolah tiap kata dan angka yang muncul di sana adalah sesuatu yang penting. Seolah jika kurang satu angka saja, Yuuri akan kehilangan nyawanya.
Hingga iris birunya tertuju pada sebuah lambang positif di samping pregnancy.
"Kenapa kau berbohong?"
"Karena … jika aku mengatakannya, itu akan merusak karirmu."
Victor mengernyit.
Yuuri membuka kalung khusus yang biasa ia kenakan, menunjukkan bekas gigitan yang sangat jelas pada belakang lehernya ketika ia sedikit menurunkan posisi jaketnya. Gigitan yang dilakukan oleh seorang alpha untuk menandai omega yang akan menjadi mate-nya.
"Ini bayimu, Victor."
Victor membelalak tak percaya.
-tsuzuku-
[4120 words, 28/12/2017 21:32 © aRaRaNcHa]
A/N: Saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya karena sebenarnya saya sudah menyelesaikan chapter ini nyaris 1 tahun yang lalu. Namun karena ada satu dan lain hal (salah satunya adalah saya pindah kantor), saya benar-benar menelantarkan fiksi saya yang satu ini. Semoga teman-teman berkenan untuk melanjutkan ceritanya ya. Saya sangat berterima kasih karena ada yang mau mampir ke cerita ini. :)
Nee, mind to RnR, readers?
