"Ini bayimu, Victor."

Victor membelalak tak percaya.

Detik berikutnya, tawa keras meluncur dari bibirnya seolah Yuuri baru saja menceritakan hal lucu pada dirinya. Menghapus air dari sudut matanya, Victor kemudian menepuk-nepuk punggung Yuuri.

"Kau … bercanda, bukan? Itu tadi lelucon yang bagus."

Yuuri terpaku, tampak air mata menggenang di pelupuk matanya, siap jatuh kapan saja.

Victor tahu bahwa hati seorang figure skater sangatlah rapuh dan ia baru saja menghancurkan salah satunya sampai nyaris berkeping-keping. Tangan Victor terjulur untuk menyentuh bahu Yuuri dan sedikit meremasnya.

"Yuuri? Kau … bercanda, 'kan?'

"Apa aku akan bercanda untuk sesuatu yang hidup dalam tubuhku?" air mata Yuuri meluncur begitu saja tanpa ia minta. Rasanya sakit sekali ketika Victor menganggap kehamilannya adalah sebuah candaan.

Victor diam.

Ia tidak terbiasa melihat seseorang menangis di hadapannya. Lagipula, ini bukan April Mop.


A Victor Nikiforov/Yuuri Katsuki fanfiction
AU, omegaverse

-#-

Heartbeat
[Empat: Stay With Me]

-#-

Yuri! on Ice © Mitsurō Kubo
I don't gain anything from this fanfiction


Entah sudah berapa lama keheningan bertahan di antara kedua figure skater itu. Victor sibuk mencerna setiap informasi yang baru saja diucapkan oleh Yuuri sementara sang omega sibuk dengan bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya usai memberitahukan Victor mengenai bayi yang dikandungnya. Perasaan takut akan dibenci, dikucilkan, tidak diterima, dijauhi, bahkan dipaksa untuk menggugurkan kandungannya begitu menghantui. Yuuri tidak bisa, ini bahkan lebih buruk daripada saat menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang omega.

Bukan beta seperti sang kakak, Mari Katsuki, atau orang-orang yang berada di dekatnya; Minako-sensei, Celestino, Phichit, keluarga Nishigori.

Pelukan pada kedua kakinya ia eratkan sebelum Yuuri menghela nafas dengan berat, menghapus jejak air mata yang tersisa sejak tadi. Matanya memandang kosong ke arah lautan seolah jika setelah ini nyawanya terenggut oleh birunya laut pun bukan menjadi sesuatu yang akan membuat orang-orang di sekitarnya sedih.

Victor hanya membalas dengan sedikit lirikan. Pendengarannya masih berfungsi baik untuk mendengar suara burung camar ekor hitam yang terbang di langit. Rasanya tidak jauh berbeda dari home rink-nya di Saint Petersburg sana. Lokasinya yang memang sama-sama dekat dengan lepas pantai menjadi salah satu faktornya.

"Aku … sama sekali tidak ada maksud untuk meminta pertanggung jawaban darimu. Hal yang sudah terjadi, biar terjadilah. Biar aku saja yang menanggung semuanya," Yuuri akhirnya bicara dengan suaranya yang serak seusai menenangkan isak tangisnya.

Victor tidak menjawab. Cerita bahwa ia telah menghamili seorang omega menjadi sesuatu yang mengejutkan untuknya. Apa yang ia lakukan malam itu? Masih jelas di ingatannya bahwa ia tengah mengobrol dengan Jean Jacques Leroy dan kekasihnya setelah berjabat tangan dengan beberapa orang yang ada di dalam pesta. Tangan kirinya memegang wine karena ia harus menjabat banyak orang yang datang ke sana. Mengucapkan selamat padanya sementara ia membalas dengan terima kasih dan tersenyum sampai pipinya terasa pegal.

Di tengah pesta, matanya menangkap sosok Yuuri Katsuki yang menghindari pandangannya dan tak lama kemudian, keluar dari ruangan. Ia ingat bahwa saat itu, dirinya menyusul figure skater asal Jepang tersebut. Hanya dia satu-satunya orang di dalam ruangan tersebut yang belum memberikannya ucapan selamat ataupun sekedar bertukar sapa untuk sedikit basa-basi.

Lalu apa?

Sang legenda sama sekali tidak bisa mengingatnya. Victor hanya ingat keesokan paginya ia terbangun di dalam kamar dalam keadaan kepalanya yang terasa begitu berputar. Bahkan Yakov tidak bicara apa-apa padanya. Seolah memang tidak ada yang terjadi.

Apakah ia bertemu dengan Yuuri? Atau ia langsung kembali ke kamarnya?

Geraman frustasi, dahi Victor berkerut sangat dalam sebelum ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ingatannya memang sangat buruk, tapi kenapa saat ini otaknya tidak bisa diandalkan?

"Kau menghindariku malam itu. Bahkan ketika mata kita akan bertemu, kau jelas sekali menghindariku, seolah aku ini hanya orang sombong yang tidak ingin kautemui. Bagaimana mungkin aku bisa menghamilimu malam itu?"

Yuuri diam. Rasa panas di pelupuk mata kembali muncul begitu saja tanpa ia minta. Seharusnya ia senang karena Yuri Plisetsky dan Yakov menepati janji usai apa yang terjadi pada malam itu.

Senyuman tipis tergores pada bibir sang bungsu Katsuki. Yuuri menyentuh perutnya yang masih rata sebelum menahan nafasnya. Menahan isak tangis yang bisa tumpah kapan saja. Entah beberapa detik lagi atau lebih lama dari itu.

"Aku ingin percaya padamu, tapi … dengan kenyataan seperti itu, bagaimana aku tahu bahwa kau tidak sedang mengarang cerita? Aku juga tidak ingat apa-apa malam itu, Yuuri."

Yuuri mengepalkan tangan sekuat tenaga hingga buku-buku tangannya memerah. Meremas kaus yang menutupi perutnya sebelum ia memejamkan mata. Mengatur nafasnya yang memburu hebat.

Victor benar, malam itu terjadi karena dirinya.

Kalau saja ia tidak nekat melepaskan kebutuhan seksualnya di toilet hotel pada malam itu, mungkin Victor tidak akan menemukannya dalam keadaan subur karena heat. Kalau saja ia bisa menahan dirinya dan mendorong Victor menjauh saat berusaha menyentuhnya, mungkin tidak akan ada benih yang tertanam dalam dirinya. Kalau saja ia tidak lahir sebagai seorang omega.

Yuuri berdiri dari posisinya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menerima ucapan Victor lebih daripada ini. Ia bisa membahayakan janin yang tengah dikandungnya.

"Akan kuantar kau ke bandara lusa," ucap Yuuri sebelum berbalik dan meninggalkan Victor sendirian.

Lagi. Pembicaraan yang berakhir dengan sebuah penutup yang sama-sama terasa mengganjal baik untuk Victor maupun Yuuri. Tidak terselesaikan dan menggantung begitu saja, sama seperti saat Victor menanyai penyakit Yuuri dan berakhir menemukan fakta bahwa Yuuri tengah mengandung.

Apa sebegitu sulitnya memahami seorang omega?

Meski Victor tidak memungkiri bahwa dirinya memang sering menjadi pusat perhatian dan menarik untuk para fansnya, tapi pengalamannya untuk menjalin hubungan dengan omega adalah nihil. Ia tidak ingin menyakiti siapapun dengan tangannya, karena itu Victor tidak pernah berhubungan dengan siapapun selama membangun karirnya.

Victor menggigiti kuku ibu jarinya, dahinya berkerut dalam. Apa ia harus tanya pada Yakov tentang apa yang terjadi malam itu? Atau haruskah ia tetap meyakini bahwa menghamili Yuuri Katsuki adalah sebuah kemustahilan? Tapi kenapa hatinya jadi terasa begitu mengganjal kalau ia memang yakin tidak melakukannya? Seolah memang ada kepingan ingatannya yang menghilang.

"Tidak tahu, kau saja kemarin di antar ke kamar oleh Yuri. Memalukan. Untung tidak ada media yang melihatmu."

Kedua iris biru Victor membulat sempurna. Yuri Plisetsky mungkin bisa membantu menyelesaikan kepingan ingatan yang ia lupakan pada malam itu.


Victor memandangi aplikasi chat dengan warna hijau itu beberapa saat. Memperhatikan foto profil dari Yuri Plisetsky beserta pilihan untuk menelepon, mengirimkan pesan, atau melakukan blokir. Bagaimana ia harus memulai pembicaraan? Memang ia sering menghabiskan waktu dengan Yuri, tapi memberikan pertanyaan 'pribadi' adalah kali pertama ia lakukan kepada Yuri.

Membulatkan tekadnya, Victor menekan tombol untuk menelepon sebelum menempelkan ponsel ke telinganya dan membiarkan nada sambung khusus memenuhi indra pendengarannya.

"Halo?"

Tidak sampai sepuluh detik dan telepon sudah diterima. Suara kasar Yuri Plisetsky beserta suara meong pelan menjadi hal yang mengisi indera pendengaran Victor. Setelahnya, pria dengan rambut sewarna salju itu mulai membuka suaranya.

"Yaaa, Yuri! Bagaimana kabarmu?"

"Kalau kau meneleponku hanya untuk itu, lebih baik kau kembali ke sini dan menepati janjimu, Victor."

"Huh?"

"…"

"…"

"JANGAN BILANG KAU LUPA, BRENGSEK?"

Victor menjauhkan ponsel dari telinganya ketika tiba-tiba nada suara Yuri meninggi; lebih tepatnya, akan selalu meninggi karena kadar kesabaran Yuri termasuk yang terendah di dunia, tentu saja versi Victor. Pria itu kemudian tertawa tanpa dosa dan mendekatkan ponsel ke arah telinganya lagi.

"Apa aku benar-benar memiliki janji denganmu?"

Tidak ada suara di seberang, hanya helaan nafas dan mungkin elusan dada untuk memahami bahwa Victor pikun. Bahkan pikunnya melebihi dari seseorang yang mengidap penyakit demensia. Rasanya Yuri ingin memberikannya obat penguat ingatan jika pria itu kembali ke Rusia.

"Kau janji akan memberikanku program debut seniorku jika aku memenangkan kejuaran junior tanpa quadruple salchow! Kau lupa?"

Hening beberapa saat lagi. Victor kemudian tertawa tanpa dosa lagi, kali ini membuat bunyi 'krak' terdengar di seberang telepon, seperti sebungkus snack yang diremas tanpa ampun. Victor berharap itu bukan suara tulang kucing kesayangan Yuri yang patah.

"Ah ya, aku benar-benar lupa. Hahahahahaha … kau tahu 'kan kalau aku ini pikun," ucap Victor walaupun ia sendiri tidak ingat jelas kapan dan bagaimana 'perjanjian' itu dibuat.

"Mm. Tapi janji adalah janji! Kembalilah ke Rusia dan tepati janjimu, Victor!" Yuri mulai tidak sabar dengan alasan yang dibuat Victor tersebut.

"Hmm … yah, mungkin aku akan memikirkannya dari sekarang, jadi sekembalinya aku dari sini, aku sudah punya program untukmu, Yuri."

"Tch. Akan kutagih janjimu nanti! Jangan berani-berani kau ingkar dan malah melatih si anak babi itu!" ujar Yuri kemudian mendecakkan lidahnya lagi, "Jadi, untuk apa kau meneleponku?"

Ah, hampir saja terlupa. Victor kemudian berdehem, nada bicaranya berubah menjadi serius, "Yuri, apa kau ingat apa yang terjadi pada saat malam banquet Grand Prix Final musim lalu?"

"Mana mungkin aku lupa? Aku harus mengangkat tubuh beratmu itu seorang diri, tahu! Kau pikir itu mudah?"

"Kau yakin?"

"Huh?"

"Kau yakin bahwa kau mengangkat tubuhku hanya seorang diri?"

Yuri tidak langsung menjawab. Melihat dari tabiat Yuri yang tidak pernah kehabisan bahan bakar untuk bersikap meledak-ledak pada orang lain membuat Victor curiga dengan jeda tersebut. Apa Yuri dan Yakov sebenarnya menyembunyikan sesuatu darinya? Atau justru Yuuri yang berbohong padanya?

"Memangnya siapa lagi yang akan membantuku? Kau muntah di toilet saat aku ke sana, lalu kau berbicara aneh-aneh, mengoceh tidak jelas dan pingsan," ujar Yuri di telepon.

Suaranya lugas dan bahkan tidak ada keraguan dalam cerita itu. Victor dibuat yakin bahwa Yuri tidak mungkin mengarang cerita dengan caranya mengisahkan kejadian malam itu. Ah, ia pernah mengalami ini saat ruth-nya datang. Ia hampir saja menyerang Yakov yang notabene seorang beta. Kalau saja tidak ada bukti rekaman CCTV, mungkin saat itu Victor tidak bisa percaya dengan cerita Yakov.

…CCTV?

Kedua matanya melebar, pasti ada bukti CCTV mengenai kejadian itu. Victor harus mendapatkannya, bagaimanapun caranya.

"—tor, oi, Victor!"

Lamunannya buyar mendengar suara Yuri memanggil di seberang telepon. Victor kemudian tersenyum penuh arti dan mulai membuka suaranya, "Yuri, sepertinya aku akan tinggal lebih lama di Jepang."

"HAH?"


Keesokan paginya, Victor dapat mendengar suara sekop salju dari luar jendela kamarnya. Ditambah dengan suara seorang wanita yang mengatakan 'tidak apa-apa', 'jangan repot-repot', dan juga suara familiar Yuuri Katsuki yang memenuhi pikirannya beberapa hari ini.

Ia datang ke Hasetsu bukan untuk menerima kenyataan bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah, tapi ingin melatih figure skater asal Jepang itu. Semuanya jadi terasa terlalu tiba-tiba dan mengejutkan untuk Victor.

"Yuuri, sudah, masuk sana. Berbahaya berada di cuaca dingin begini. Biar Okaa-san saja yang menyelesaikannya."

Ah, rupanya Hiroko Katsuki.

Victor menggunakan piyamanya kemudian berjalan ke arah ruangan depan, dengan sengaja agar dapat melihat bagaimana respons sang omega; apakah akan menghindarinya atau akan menyapanya. Kemungkinan untuk hal kedua sangatlah kecil mengingat dari sikap Yuuri selama ini padanya.

Benar saja, ketika mata mereka bertemu, Yuuri kemudian menghindarinya, seolah keberadaan Victor di sana hanya sebuah bayangan saja. Yuuri pergi tanpa sempat mengucapkan sepatah katapun padanya.

"Kau benar-benar tidak menginginkan anak itu?"

Yuuri terhenti tepat ketika dirinya akan berjalan menuju ke kamarnya, "Apa maksudmu?"

"Melakukan hal-hal berat di fase awal kehamilan. Kau harusnya tahu, 'kan, bahwa kandungan omega sangat rentan di trimester awal?"

Yuuri hanya menjawab dengan senyum getir sebelum mengelus perutnya, "Seberapapun aku tidak menginginkannya, aku tidak akan setega itu untuk membunuhnya. Maaf, harusnya aku tidak seceroboh itu."

Yuuri kembali berjalan menuju ke kamarnya. Kali ini Victor menahan tangannya dan menatap ke arah Yuuri lekat. Tidak ada balasan berarti dari Yuuri, hanya menatap tangannya yang tengah dipegangi oleh Victor dan itu saja. Lagi-lagi berusaha mengabaikan keberadaan Victor di sana.

Entah apa yang membuat sang living legend bertahan di sana. Padahal di tempat lain, jelas ia dielu-elukan, dipuja, dan bukannya diperlakukan seperti ini. Entah apa yang membuat Victor berjuang untuk melihatnya dan membuka diri padanya. Jikapun Yuuri membuka diri pada Victor, selanjutnya apa? Toh, keputusannya untuk memoles Yuuri karena dirinya sudah mulai menggali kubur sendiri dengan penampilannya yang tak lagi mengejutkan sudah gagal.

"Jika ia lahir, kita harus melakukan DNA."

"Untuk apa? Aku sudah bilang, kau tidak perlu terlibat."

"Aku ingin membukt—"

"Aku sudah bilang, anggap saja bahwa obrolan kita adalah sebuah omong kosong, anggap saja bahwa aku memang bermaksud buruk untuk memerasmu dan menumpang dari ketenaranmu agar namaku juga dilihat dunia. Sudah cukup, kan? Itu 'kan yang ingin kau dengar?" suara Yuuri bergetar, lagi-lagi air mata muncul di pelupuk matanya, siap meluncur jatuh kapan saja.

"Berapa yang kau butuhkan?"

Yuuri tidak pernah ingin membenci Victor sedalam ini tapi detik berikutnya yang terdengar adalah tamparan keras di pipi Victor dan Yuuri yang membanting pintu kamarnya keras-keras.


Victor menghabiskan sisa malamnya di Jepang untuk mencari cara mendapatkan rekaman CCTV pada malam itu. Sochi bukanlah tempat yang jauh untuk disambangi dan dengan kenalannya cukup banyak karena entah sudah ke berapa kalinya pertandingan dilakukan di Sochi. Jadi memiliki kolega salah seorang petinggi di penginapan sudah menjadi salah satu hal yang lumrah bagi Victor.

Beberapa situs gratis di internet menjadi penuntunnya, mencari IP CCTV dari penginapan di Sochi. Setelahnya, ia mencari informasi lebih dari koleganya. Tidak butuh waktu lama, malam sebelum Victor kembali ke Rusia, ia sudah mendapatkan email yang ia butuhkan.

Sebuah rekaman CCTV yang terjadi pada malam itu.

Memang tidak akan diberikan secara cuma-cuma, karena hal itu adalah bagian dari keamanan hotel dan merupakan sebuah privasi tingkat tinggi untuk hotel tersebut. Tapi bagaimanapun, saat ini kenyataan mengenai dirinya yang akan menjadi seorang ayah dipertaruhkan.

Kedua mata Victor membelalak melihat rekaman itu.

Air matanya meluncur begitu saja ketika ia menemukan Yuuri ada di dalam rekaman. Membawanya bersama dengan Yuri Plisetsky ke dalam kamar yang ia tempati pada malam itu. Sang omega tidak berbohong; kemungkinan besar bahwa anak yang dikandung itu adalah anaknya menjadi sangat tinggi.

Yuuri tidak berbohong dan Victor sudah menyakitinya sedalam itu.

"Victor, besok aku akan mengantarmu ke—"

Bruk!

Yuuri terhuyung ketika Victor menerjang dan memeluknya erat-erat hingga ia bisa merasakan punggungnya nyaris menyentuh dinding kalau saja Victor tidak menahan dorongannya.

"Maaf."


-tsuzuku-
[2322 words, 13/1/2019 20:09 © ararancha]


A/N: Maaf karena chapter ini tidak sepanjang chapter kemarin, dan maaf juga kalau agak aneh. Ini saya benar-benar sampai baca beberapa artikel kehamilan dan sampai pinjam buku kehamilan teman saya saking penasarannya bagaimana membangun mood ibu yang sedang mengandung. Mood swing parah (atau bahkan lebih parah) daripada wanita yang sedang PMS. Saya berusaha masih menonjolkan karakter manly dan 'labil'nya Yuuri di sini, serta sifat keras kepalanya Victor. Semoga tidak menjadi OOC.

Nee, mind to RnR, readers?